Chapter 2
Memang! Tambah giatnya pihak kita mencari hubungan keluar di masa itu m e m a n g disebabkan oleh kekhawatiran yang nyata, bahwa lambat-laun Belanda musti berbalik. Musti berbalik, – jarum sikapnya telah menunjukkan ke arah itu. Tiada hentinya mereka mendatangkan tentaranya ke Indonesia, tiada hentinya mereka menyelundupkan mata-mata-militernya ke daerah Republik. Dikatakan olehnya, bahwa kedatangan tentara-tentara-baru itu ialah untuk mengganti tentara-tentara yang perlu dipulangkan. Saya menanya: berapa jumlah tentara yang mereka telah pulangkan?
Maka di hadapan muka bahaya ini, untuk memperkuat langsung kedudukan kita, kita mengirimkan wakil Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim melawat ke negeri-negeri Arab.
Suasana politik makin lama makin gelap. Dari pihak Belanda sudah banyak terdengar ucapan, bahwa tidak dapat dihindarkan penyelesaian soal dengan jalan yang tidak damai. Dikatakan bahwa mereka akan mencoba, "buat penghabisan kali" mencari penyelesaian, yakni sesudah dari pihak ke tiga dikeluarkan pikiran bahwa jalan yang sedang ditempuh oleh Belanda itu adalah jalan buntu, dan perlu dicari formule lain untuk ke luar dari impasse. Oleh pihak Indonesia telah dikemukakan semacam badan untuk seluruh Indonesia, yang dapat menguasai segala kesulitan yang pada masa itu timbul. Memang pikiran demikian rupanya juga telah lahir dalam kalangan Belanda, dan hal itupun telah jadi rundingan antara Perdana Menteri Beel dan Menteri Jonkman. Kedua-duanya tiba di Indonesia bukan karena hal lain, melainkan karena kenyataan, bahwa politik Belanda di Indonesia, – baik di Borneo, maupun di Sulawesi, di mana mereka terus-menerus menghadapi gerakan-kemerdekaan, maupun terhadap kepada Republik -, tidak mampu lagi mendatangkan keberesan dan tidak memuaskan hati rakyat. Kita ketahui, bahwa pada waktu Beel dan Jonkman ada di Jakarta, pada waktu itu sudah dibicarakan di kalangan Belanda, kemungkinan menyelesaikan soal Indonesia dengan kekerasan senjata!
“Percobaan penghabisan" itu disampaikan kepada kita pada tanggal 27 Mei. Di dalam tempo 14 hari kita diharuskan menjawab! Kalau jawaban kita tidak memuaskan mereka, maka soal Indonesia-Belanda akan “diserahkan kepada pemerintah Belanda kembali!"
Bagi Republik arti pernyataan ini sudah terang. Kemungkinan bahwa Belanda akan mempergunakan tanknya dan meriamnya dan bomnya dan kapal-terbangnya, sudah terang. Dengan teliti dapat kita ikuti segala usaha persediaan mereka, – persediaan hendak perang -, baik di pulau Jawa, maupun di pulau Sumatera. Dan segala alat-propaganda mereka, mereka kerahkan pula untuk menciptakan suasana perang.
Sungguh, bagi Republik situasi pada saat itu sudah terang. Tetapi Republik tidak gugup melihat sikap Belanda itu. Dengan tenang, dengan terang, Kementerian Pertahanan menyampaikan rencana pembelaan kepada Dewan Menteri. Dewan Menteri mengsyahkannya, dan dengan segala kegiatan, segala keikhlasan, segala kecintaan kepada kemerdekaan, dilakukanlah persiapan di segala lapangan untuk mempertahankan Negara.
Jawaban atas Nota Belanda 27 Mei itu disusun sebaik-baiknya, dan disampaikan kepada Pihak Belanda di waktu tepat. Sejarah Republik Indonesia sesudah tanggal penyerahan jawaban itu berjalan dengan amat cepat. Tetapi seluruh rakyat bersatu di dalam hal menghadapi Belanda. Seluruh rakyat telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Meskipun demikian, lagi-lagi Pemerintah mencoba mengelakkan peperangan. Pada waktu kelihatan oleh Pemerintah Syahrir, bahwa peperangan tidak dapat dihindarkan lagi, masih dicoba oleh pihak kita untuk mengadakan pembukaan jalan berunding lagi, tetapi sekali lagi dibuktikan oleh pihak Belanda bahwa mereka tidak suka mencari kata-sepakat. Segala tuntutan mereka, tetap harus dipenuhi!
Justru di dalam saat yang amat sukar ini, terjadilah krisis kabinet Syahrir. Mengingat kegentingannya keadaan, maka dengan persetujuan kabinet, kuasa Negara diserahkan kepada Presiden kembali. Betapa sukarnya membentuk kabinet baru, tidak usah saya terangkan lagi di sini. Dan betapa beratnya tanggungjawab kabinet baru di bawah pimpinan Amir Syarifuddin, Setiajit dan Adnan Gani, tidak perlu pula saya gambarkan.
Tetap mereka ini melakukan politik damai. Tetap mereka ini membatasi tuntutan Indonesia hanya kepada kekuasaan de facto Republik sebagai Republik saja. Di luar daripada ini, boleh dikatakan hampir semua tuntutan Belanda disetujuinya. Dengan demikian, dengan tegas mereka ini sedia mengambil risiko bahwa di dalam negeri akan timbul oposisi lagi, sebagai yang menjatuhkan kabinet Syahrir. Tetapi putusan itu mereka ambil dengan saksama, sesudah menimbang segala bahaya, menimbang segala kemungkinan-kemungkinan, menimbang segala anjuran-anjuran, baik dari luar, maupun dari dalam.
Tetapi, walaupun demikian, Belanda tidak merasa puas. Tidak mau merasa puas! Sebaliknya, – mereka malahan menambah persoalan, menggeserkan persoalan-yang-sebenarnya, kepada hal-hal yang lain-lain. Mula-mula hanya tinggal soal gendarmerie-bersama saja yang masih menjadi perselisihan, tetapi kemudian kita dipaksa pula menghentikan permusuhan, – menghentikan permusuhan sendiri saja! Seolah-olah Belanda tidak pernah mulai menembak! Seolah-olah Belanda, dengan mengkonsentrir semua tank-tanknya dan semua senjata-beratnya di garis-demarkasi, dan dengan semua persediaan-perangnya yang lain-lain, tidak menjalankan permusuhan!
Segala percobaan kita untuk membela perdamaian, yang kita usahakan dengan jujur dan ikhlas, gagal. Pada tanggal 21 Juli 1947, pada permulaan Bulan Suci, meriam Belanda mulai menggeledek dan mengguntur! Pada tanggal 21 Juli itu, jam 02.30, Perdana Menteri Beel menyatakan bahwa akan diadakan “tindakan kepolisian", dan pagi-pagi Dr. van Mook pun menyatakan yang demikian pula. Tetapi beberapa jam sebelumnya, kita telah diserang. Tentara Belanda yang berlapis waja dan bersenjata hebat itu, telah melangkahi garis-demarkasi. Serangan kepada kemerdekaan kita itu, sungguhpun sudah lama kita duga akan datangnya, adalah serangan yang sekonyong-konyong. Dari Pihaknya sendiri Belanda menyatakan, bahwa mereka tidak terikat lagi kepada perjanjian gencatan-perang dan perjanjian lain.
Di dalam pidato saya pada hari 21 Juli itu, saya katakan bahwa Belanda sebenarnya menyerang perikemanusiaan, menyerang keadilan. Mereka melepaskan diri dari perjanjian-perjanjian, yang sebenarnya ialah perjanjian peri-kemanusiaan. Perjanjian antara dua bangsa yang mengutamakan damai, perjanjian antara dua bangsa yang berkebudayaan. Pihak Belanda kini melepaskan kebudayaan itu. Kebudayaan ialah: cinta kepada kemerdekaan-sendiri dan kepada harga-diri-sendiri, tetapi juga menghormat milik, pikiran, perasaan, jiwa orang lain! Pihak Belanda bersikap tidak berkebudayaan lagi!
Kita diserang, sudah tentu kita melawan! Berpuluh-puluh kali, barangkali beratus-ratus kali, kita selalu mengikhtiarkan perdamaian. Tetapi pernah pula kita katakan, bahwa perdamaian ini bukan perdamaian at any cost.Pernah pula saya sendiri katakan, bahwa manakala adagium imperialisme berbunyi “eet, of word gegeten", maka adagium kita ialah “eet niet, en word niet gegeten."
Kita tidak mau dimakan. Dus kita melawan! Suatu ketidakadilan yang kecil dapat dihapuskan dengan minum anggur bersama-sama, tetapi ketidak-adilan yang besar hanyalah dapat dilawan dengan pedang, – demikianlah Confucius berkata. Yah, kita yang cinta damai itu, kita pada tanggal 21 Juli itu dipaksa mulai beranggar mati-matian mempertaruhkan darah dan jiwa kita. Apa boleh buat! Sejarah nyata menghendaki demikian! “Kita tidak dapat melepaskan diri dari sejarah", – W e cannot escape history – demikianlah perkataan Lincoln.
Satu fase baru dalam perjoangan-kebangsaan kita, telah mulai!
Perang telah mulai! Ya, saya katakan perang, sebab tidak ada kata-kata lain. Belanda mengatakan bahwa ini ialah satu aksi polisionil, tetapi mereka mengetahui bahwa ini ialah satu perang. Dan kita kata: perang kolonial, perang penjajahan, perang imperialis, dengan segala kebuasannya, dengan segala kekejiannya, dengan segala ketidakadilannya! Saya mengucapkan syukur, – syukur kepada Engkau, ya Allah Robbulalamin! – bahwa di dalam peperangan ini kita bersatu. Saya ketahui, bahwa belum segala-galanya telah sempurna di dalam usaha pertahanan kita. Masih ada orang-orang yang belum mengerti betul-betul, bahwa perang ini menentukan hidup-matinya Republik yang mereka cintai. Masih ada orang-orang, yang belum sedar benar-benar, bahwa Republik kita ini ialah satu-satunya jalan, – dan tidak ada jalan lain -, untuk mencapai kesejahteraan dan kemerdekaan bagi seluruh bangsa Indonesia. Baiklah mereka itu merenungkan hal ini sedalam-dalamnya dulu!
Tetapi Alhamdulillah, pada umumnya, tentara kita dan rakyat kita telah membuktikan bahwa kita insyaf akan arti perjoangan kita sekarang ini. Rakyat mengerti, dan oleh sebab itupun rakyat membantu usaha pertahanan dengan semangat yang sebaik-baiknya.
Saya minta kepada semua orang yang bertanggungjawab, kepada pegawai-pegawai sipil, kepada orang-orang tentara, kepada pemimpin-pemimpin, supaya insyaf benar-benar, bahwa sebagai rakyat yang berperang, kewajiban kita bertambah besar dan bertambah berat. Bukan saja karena kita harus memasangkan segenap tenaga untuk pertahanan, memeras tiap-tiap tetes keringat untuk pertahanan, tetapi juga bertambah berat dan bertambah besar oleh karena kita, di dalam peperangan itu, tetap harus menjamin keamanan jiwa dan keamanan benda dari semua penduduk, kalau benda itu memang tidak perlu kita ambil atau kita binasakan guna keperluan pertahanan. Dengan istimewa saya tandaskan di sini, bahwa kita sebagai satu bangsa yang sopan, tetap berkewajiban menjamin keselamatan jiwa dan benda segala penduduk itu, – baik penduduk bangsa Indonesia, maupun penduduk bangsa Tionghoa, maupun penduduk bangsa lain. Tiap-tiap perang membawa penderitaan, tiap-tiap perang adalah penderitaan, tetapi kita musti sedia meringankan, – bukan menambah dengan tidak perlu -, penderitaan penduduk itu. Buat apa kita berperang? Justru buat membela keselamatan negara, membela keselamatan penduduk, membela keselamatan rakyat! Ingatlah kepada apa yang saya katakan tentang arti kebudayaan di muka tadi. Maukah kita berkebudayaan? Ingatlah kepada Tuhan. Carilah pimpinan Tuhan. Bangsa yang tidak dipimpin Tuhan, diperintah oleh orang-orang yang zalim! "Men must be governed by God or they will be governed by tyrant".
Ingatlah akan hal ini, setiap waktu!
Dua tahun kini usia Republik kita, dan sebelum genap usianya dua tahun tercapai, sudahlah ia harus beradu-tenaga mati-matian, “adu uleting kulit atosing balung", dengan Blitzkriegnya satu tentara imperialis yang bersenjata lengkap, beralatkan tank, meriam, bom, dinamit, kapal-perang, kapal-terbang, mobil-mobil yang berlapis waja. Keadilan berhadapan dengan ketidakadilan yang bersenjata sampai ke ujung-ujung rambutnya! Demokrasi berhadapan dengan fascisme!Tetapi jalannya peperangan tidak mengecewakan kita, walaupun di beberapa tempat ada kurang hati-hati di Pihak kita. Bahwa musuh dengan persenjataannya yang hebat, dengan motorisasinya yang cepat, dengan kapal-terbangnya dan armada-lautnya yang tidak dapat kita ganggu itu, dapat menduduki kota-kota-besar, – itu memang sudah kita ketahui lebih dahulu. Kita tidak usah malu-malu mengakui hal ini. Yang harus malu ialah Pihak Belanda, yang menyombong-nyombongkan tank-tanknya dan meriam-meriamnya itu, – sama dengan kaum Nazi yang juga menyombong-nyombongkan bahwa mereka dengan persenjataannya yang menggempakan-bumi dapat menyapu-bersih negeri Belanda dalam tempo empat hari saja.
Tetapi didudukinya kota-kota oleh tentara Belanda itu tidak berarti, bahwa tenaga-perang kita telah patah! Jauh daripada itu! Tenaga T.N.I. buat 98% masih wutuh. Tidak ada satu pertempuran, di mana sesuatu pasukan T.N.I. dibinasakan. Garis-perhubungan tentara Belanda, kecuali yang di laut dan di udara, dapat kita kuasai atau kita serang saban waktu. Semangat kemerdekaan kita masih menyala-nyala, love of liberty kita masih berapi-api. Dan kita mempertahankan kemerdekaan kita dengan jalan apa saja yang oleh hukum-hukum boleh dijalankan. Kalau kita tidak dapat terbang, kita merayap! Wien geen vleugels was sen, moet kruipen! Hasil yang diharapkan oleh Belanda, yaitu mendirikan susunan perekonomian kolonial kembali, untuk sementara waktu, buat sebagian besar telah kita tiadakan dengan menjalankan bumi-hangus, dan akan tetap kita tiadakan dengan terus-menerus mengepung mereka dalam kota-kota yang mereka duduki.
Alangkah salah Pikiran Belanda, alangkah salah rabaan mereka, dengan melakukan peperangan kolonial ini! Kedudukan Belanda merosot samasekali di luar negeri! Kaum buruh, kaum agama, kaum pemuda, kaum progresif aneka-warna, di berbagai-bagai negeri telah menjatuhkan hukuman berat atas tindakan agresi Belanda itu. Dan bukan saja hukuman berat! Bukan saja hantaman moreel yang hebat! Tindakan-tindakan rieel, seperti misalnya boikot, dikerjakan oleh mereka untuk membantu kita. Dan bukan saja perkumpulan-perkumpulan atau gerombolan-gerombolan yang membantu kita! Negara-negarapun menjatuhkan hukuman pahit kepada Belanda, memberikan sokongannya kepada kita, menyeleng-garakan tindakan-pencegahannya kepada agressi yang sewenang-wenang itu. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan resolusi untuk menghentikan permusuhan dan untuk mencapai jalan damai. Kitapun minta komisi arbitrage internasional didatangkan di sini.
Dan kitapun membukakan pintu kita, buat siapapun yang hendak meninjau keadaan di sini. Kita dalam kebenaran, kita tidak khawatir ditinjau oleh siapapun juga. Yang segan ditinjau, yang khawatir ditinjau, hanyalah Pihak yang bersalah. “Siapa mempunyai penyakit busuk, malu kepada dokter". Demikianlah peribahasa Tionghoa.
Sungguh, bantuan moreel dan bantuan rieel dari luar-negeri, amat banyaknya. Atas nama Republik, atas nama segenap Rakyat Indonesia, saya mengucapkan terima kasih kepada semua mereka itu, kepada semua pemerintah negara, kepada semua kaum buruh, kepada semua golongan dan perserikatan, kepada semua pemuda, yang dengan jitu dan tepat telah menghukum agresi Belanda itu dan bertindak pula menurut azas penghukuman itu.
Anjuran Dewan Keamanan untuk menghentikan permusuhan telah kita setujui dan telah kita kerjakan; akan tetapi kitapun telah mengetahui bahwa tentara Belanda selalu akan mencari jalan untuk meniadakan putusan Dewan Keamanan itu. Kejadian-kejadian sesudah 4 Agustus pukul 24.00 menyatakan dengan tegas, tidak tunduknya tentara Belanda terhadap perintah yang telah diberikan oleh Dr. van Mook.
Kita tidak akan berhenti mempertahankan kemerdekaan kita. Kita benar, kita di pihak keadilan. Apa saja akan kita kerjakan, untuk membela kebenaran dan keadilan itu. Dan segala usaha kita untuk menyelesaikan soal Indonesia itu, tetap akan kita lakukan di dua front, – front di dalam Republik, dan front di luar Republik. Pertikaian belum selesai, dan kita berhak mempertahankan hidup kita sebagai Negara, terhadap siapapun juga. Tidak seorangpun di dunia ini berhak melarang kita cinta kepada kemerdekaan dan membela kepada kemerdekaan, dengan jalan apapun juga. Segala usaha, yang menurut hukum-umum boleh kita lakukan, akan kita lakukan, dengan segiat-giatnya, setangkas-tangkasnya, sehebat-hebatnya. Sekali kita telah merdeka, tetap kita harus merdeka!
Seluruh Rakyat Indonesia, baik di daerah Republik, maupun di luar daerah Republik, seluruh Rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Irian, seluruh Rakyat Indonesia yang merantau di manca-negara, saya panggil kamu, untuk meneruskan perjuangan kita mempertahan-kan Republik sebagai pelopor daripada perjuangan seluruh bangsa Indonesia, sebagai lambang kemenangan revolusi Indonesia terhadap imperialis Belanda.
Yakinlah, saudara-saudara di luar Jawa dan Sumatera dan Madura, – dengan hilangnya Republik akan hilang pula dibasmi oleh Belanda pergerakan kemerdekaan di luar Republik. Kita yang 70.000.000 jiwa ini, kita bangsa yang satu. Dan kita bangsa yang satu ini mempunyai cita-cita-bangsa, mempunyai cita-cita-kebangsaan bersama-sama: ialah, supaya bangsa yang satu ini hidup sebagai bangsa yang merdeka, tersusun di dalam satu Negara yang merdeka, bernaung di bawah satu Bendera Sang Merah Putih yang Merdeka. Empat puluh tahun hampir, kita bersama-sama berjuang, bersama-sama menderita, bersama-sama berkorban, untuk mencapai cita-cita-kebangsaan kita itu. Dan hasil pertama yang besar daripada perjuangan-bersama, penderitaan-bersama, pengurbanan-bersama kita itu ialah Republik Indonesia ini! Republik Indonesia, yang kini hendak dihancurkan oleh Belanda.
Republik adalah milik kita bersama, milik seluruh bangsa Indonesia. Republik bukan miliknya orang Indonesia yang berdiam di Jawa dan Sumatera saja, Republik adalah juga milik saudara-saudara yang berdiam di Borneo, di Sulawesi, di kepulauan Sunda-Kecil, di Maluku, di Irian. Darah saudara-saudara ikut membasahi tanah, tatkala kita menjelmakan Republik ini! Republik harus kita anggap sebagai modal kita sekalian, untuk meneruskan perjuangan kita mengejar cita-cita-kebangsaan kita, yakni Negara Kesatuan Indonesia. Peliharalah modal ini, belalah modal ini, pertahankanlah modal ini!
Adalah beberapa orang bangsa kita, yang berkuasa atas saudara-saudara, yang menyetujui tindakan Belanda ini, – mereka adalah berkhianat kepada cita-cita-kebangsaan Indonesia. Sebab sekali lagi saya katakan: Republik adalah milik kita bersama, modal kita bersama, untuk meneruskan perjuangan kita bersama, guna mencapai cita-cita kebangsaan kita bersama, yaitu Negara Kesatuan Indonesia yang merdeka.
Marilah kita semua, semua, seluruh bangsa Indonesia, mem-pertahankan keselamatannya Republik ini. Jangan sampai modal ini hancur! Jangan sampai agresi Belanda berhasil! Jangan sampai Republik tenggelam! Apakah yang akan terjadi, jikalau Republik tenggelam? Jikalau Republik tenggelam, maka akan tinggal hanya negara-negara-kecil saja buatan Belanda, negara-negara-kecil boneka, yang diperintah oleh segerombolan kecil orang-orang bangsa kita yang menjadi kaki-tangan penjajah Belanda, sedang Rakyat tidak dibawa-bawa. Dan sebagai yang tepat setahun yang lalu di dalam pidato-ulang-tahun Republik yang pertama juga sudah saya katakan: Jikalau Republik binasa, maka keadilan akan binasa, maka demokrasi akan binasa, maka moral akan binasa, maka keamanan-dan-ketenteraman akan binasa, maka kesejahteraan akan binasa, maka perekonomian-dunia akan binasa! Dan sebagai gantinya, akan datang kekacauan terus-menerus.
Karena itu, pertahankanlah keselamatan modal ini! Dan di front luar Indonesia pun, kita akan berjuang terus, dan saya berseru kepada semua kawan di luar negeri: – tolonglah, tetap tolonglah perjuangan kita yang adil ini!
Kita ketahui, pihak Belanda dan alat-alatnya akan menentang hal ini dengan segala jalan yang dapat mereka pakai. Pengalaman tentang hal ini telah ada pada kita: Kapal-terbang seorang sahabat dari India, dikemudikan oleh sahabat dari Australia dan sahabat dari Inggeris, yang membawa obat-obatan sebagai tanda-kasih kepada sesama manusia yang menderita, ditembak jatuh oleh Belanda, dan masih berani mereka berkata, bahwa kapal-terbang itu tidakditembak jatuh oleh mereka, melainkan hanya diberi “tembakan peringatan" saja!
Paduka Tuan Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat! Seluruh bangsaku yang kucintai!
Pertikaian kita dengan Belanda belum selesai. Ceasefire sudah saya perintahkan, tetapi pertikaian kita dengan Belanda belum selesai! Pada hari ulang-tahun Republik yang sekarang ini, kita menyatakan tekad kita-bersama yang laksana waja, untuk meneruskan, sekali lagi: meneruskan perjuangan kita ini sampai cita-cita kita tercapai. Sudah beribu-ribu pahlawan kita sejak 17 Agustus 1945 mati di medan pertempuran, sudah beribu-ribu pemuda kita ditangkap dan disiksa oleh Belanda, sudah berpuluh-puluh ribu rakyat kita di Sulawesi Selatan dibunuh secara kejam, sudah ratusan ribu rakyat kita terusir dari halaman perumahannya. Kepada pahlawan-pahlawan kita yang gugur itu, dan kepada rakyat kita yang dibunuh itu, kita menyatakan hormat kita yang sedalam-dalamnya, terima kasihnya bangsa yang abadi. Moga-moga Tuhan yang Maha-Penyayang memberikan kelapangan kepada mereka di akhirat selama-lamanya.
Kita berjuang terus. Jalan lain tidak ada. Kita, yang memang pencinta damai itu, kita sedia kepada perdamaian, – tetapi perdamaian yang atas dasar kebenaran, atas dasar kehormatan, atas dasar satu Republik yang cukup mem-beri jaminan bagi perjoangan kita untuk menyelesaikan revolusi Indonesia.
Apa, apakah yang dikehendaki Belanda itu dengan agresinya, kalau tidak untuk menguasai daerah-daerah Republik yang paling kaya, yang paling gemuk, dengan bruut geweld? “Kepolisian" untuk mendatangkan “keamanan"? Tidak ada keamanan, tidak ada ketenteraman, kalau kemerdekaan kita dilanggar. Bayonet adalah baik sekali untuk bertempur, tetapi bayonet tidak baik untuk duduk di atasnya. Seluruh rakyat Republik sudah tahu rasanya merdeka dua tahun, seluruh rakyat Republik akan tetap berikhtiar dengan jalan apapun juga untuk merebut kembali kemerdekaan itu sepenuh-penuhnya. Dan sebelum kemerdekaan ini terdapat kembali sepenuh-penuhnya, – tidak ada keamanan, tidak ada ketenteraman, tidak ada perdamaian!
Tidak ada perdamaian, sebelum ada damai di hati kita! Dan hati kita itu akan tetap tidak damai, akan tetap memberontak, selama kemerdekaan negara kita belum kembali sepenuh-penuhnya. Belanda dapat merampas tanah kita dengan tank dan meriamnya, dapat merampas rumah kita, dapat merampas kekayaan kita, ya, dapat merampas jiwa kita, membunuh kita, tetapi ia tidak dapat merampas hati kita yang cinta kepada kemerdekaan itu. Kemerdekaan adalah bersemayam dalam hati manusia, – freedom dwells in the hearts of men –, dan tidak ada satu senjata duniawipun dapat menaklukkan dia di tempat itu!
Ya tentu, Belanda dapat memaksa rakyat di tempat-tempat yang didudukinya, dengan ujung bedil dan ujung bayonet, untuk menuruti perintah-perintahnya dan untuk mengindahkan larangan-larangannya. Alva pun berbuat demikian, Seys Inquart pun berbuat demikian. Tetapi tanah yang diinjak oleh Belanda itu, berisi kawah-api di dalamnya! Keamanan dan ketenteraman masih ada lain lagi daripada mentaati beberapa “gij zult nieten"!
Saudara-saudara di tempat-tempat yang diduduki oleh Belanda hari ini tidak boleh merayakan hari-ulang-tahun kemerdekaan kita. Kalau memang tidak mungkin mengadakan perayaan terang-terangan, rayakanlah hari ini di dalam hati saudara-saudara! Di sana perayaan itu aman, di sana Belanda tidak dapat mengganggu, di sana perayaan itu disaksikan oleh Maha-Saksi yang memberi berkat kepadanja. Di sana perayaan itu disaksikan Tuhan. Percayalah, Insya Allah subhanahu wa ta’ala, satu hari pasti akan datang, yang Tuhan akan memerdekakan kepada saudara-saudara.
Rakyat Indonesia yang kucintai! Peliharalah persatuan! Sesudah Belanda menggempur kita dengan bom dan meriamnya, sesudah ia menyerbu beberapa daerah kita, sesudah ia membunuh, mengedrel pemuda-pemuda kita, maka segera mulailah ia dengan politiknya divide et impera, politiknya memecah-mecah, politiknya verdeel en heers!, – politiknya verdeel en beheers! Negara-negara-boneka kecil hendak didirikannya, kaki-tangan-kaki-tangannya telah tersedia laksana serigala menunggu daging. Jagalah persatuan, sekali lagi jagalah persatuan! Jangan kena diabui mata oleh kaki-tangan-kaki-tangan imperialis itu! Ingatlah kepada pesanan yang telah kusampaikan ratusan, ribuan kali kepada segenap rakyat Indonesia: Manakala pihak imperialis menjalankan politik memecah-belah, manakala mereka bersemboyan divide et impera!, verdeel en heers!, verdeel en beheers!, maka kita bangsa Indonesia yang 70.000.000 itu harus bersemboyan “vereenig en regeerl",: "bersatu, dan berkuasa!“, dan menjalankan apa yang disemboyankan itu dengan cara yang setabah-tabahnya.