The Last Reformation

Chapter 2

Chapter 2561 wordsPublic domain

Ia juga terkejut. Tapi lebih dari terkejut, tiba-tiba dirasakannya suatu pembebasan. Kini disadarinya bahwa segala yang diyakininya tentang Sukarno, segala yang dipercayainya tentang revolusi, semua itu hanyalah khayalan yang naif. Kata ajaib “revolusi” itu, yang dulu pernah dicobanya untuk mengerti artinya, mendadak tidak ajaib lagi: kata itu tinggal kata yang tanpa definisi. Dan sebagaimana setiap kali kata tanpa definisi dipakai untuk menentukan hukum, maka yang terjadi adalah kesewenang-wenangan. Ia jadi tahu dusta itu. Dan ia jadi tahu, betapa tersesatnya ia telah terjebak oleh dusta yang sedemikian besar. Kesadaran ini memberinya dasar untuk bertahan. Perlawanan pun mulai.

Namun di hari-hari setelah pelarangan Manifes itu tak ada cara perlawanan lain selain diam. Bukan saja koran dan majalah-majalah takut untuk memuat tulisannya, karena ia adalah seorang penandatangan Manifes yang sudah dikutuk, tetapi juga karena bahasa yang dipakai oleh rezim yang berkuasa tak bisa dipercayainya lagi. Tiga tahun kemudian ketika rezim tersebut telah terguling, dituliskannya apa yang jadi perasaannya mengenai “pembebasan” itu.

Ketika Manifes Kebudayaan dilarang, pembebasan mulai. Apa yang nampaknya paradoksal menjadi nyata dalam pengalaman: bahwa kemerdekaan sebenarya waktu itu adalah kemerdekaan dalam pengucilan, kemerdekaan dalam diam.

“Ini tidak berarti, bahwa negeri ini kemudian menjadi sebuah negeri tanpa kata-kata. Justru sebaliknya: pre-1967, inilah Republik paling hingar-bingar sebelum revolusi kebudayaan terjadi di RRC. Soalnya ialah bahwa pada hakikatnya, kita tengah berada di bawah kekuasaan suatu bahasa yang tak jelas”.

“Demikianlah situasi kita dewasa itu: bahasa resmi kita, sarat dengan neologisme tanpa kamus tapi penuh retorik, telah menjadi bahasa di mana batasan-batasan tak lagi penting. Orang lebih condong kepada baik buruknya konotasi daripada kepersisan definisi. Hampir satu dekade lamanya kita mendengarkan dan mengucapkan kata-kata ini: revolusi, manipolis, kanan, kiri dengan kefasihan luar biasa dan dengan ambiguitas luar biasa.

Hampir satu dekade kita seperti kena pesona, hingga akhimya sampai pada suatu krisis: seluruh perwujudan sekitar kita hanyalah bangunan klise-klise, suatu “bahasa otomatik” yang dimaksudkan Ionesco, dengan apa pembicaraan dari hati ke hati menjadi sulit, dengan apa diskusi menjadi kandas, dengan apa telaah perundang-undangan hampir mustahil. Tidak terlalu mengerikan: kita telah berada di ambang situasi, di mana kesusastraan, ilmu, hukum — semuanya adalah soal-soal yang irrelevan. Yang ada cuma 1 Revolusi, 1000 slogan dan 0 puisi”.

“Tapi apa lagikah yang tinggal apabila kata “kontra-revolusioner” yang tak jelas pengertiannya itu sudah cukup untuk membunuh seseorang? Tragedi bahasa yang bermain di sekitar kita adalah juga tragedi suatu kehidupan kita”.

“Maka kemerdekaan kita dalam diam adalah bekal terakhir dan oleh sebab itu paling berharga dalam situasi semacam itu. Ia membersihkan kita dari teror ketidak-jelasan itu. Ia melindungi kita, semacam perisai antiseptik, dari wabah bahasa resmi, untuk mempertahankan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya. Ia menegaskan kembali bahwa hidup kebudayaan adalah kerja, bukan menggonggongóseperti yang dilakukan mereka yang tentu mencipta, meskipun dari bawah-tanah dan penjara”.

“Kemerdekaan kita, dalam diam, sekaligus telah menjadi perlawanan. Dan demikianlah seluruh kegiatan kebudayaan yang fitri merupakan perlawanan, walaupun cuma sepotong sajak. Apa yang nampaknya paradoksal telah kita alami: bahwa sebaik Manifes dinyatakan terlarang, kemerdekaan mulai….”.

Dalam pembebasan itu, dalam perlawanan itu, berangsur-angsur rasa cemas dan rasa bersalah karena pendiriannya yang “asing” bagi lingkungannya menjadi lenyap, meskipun bukannya tak pemah singgah mengganggunya kembali. Bagi seorang yang telah dikutuk, bagi seorang yang telah jadi batu, ada hal-hal yang menjadi keras dan tidak menarik. Pemberontakan pun mengandung hal yang keras dan tak menarik semacarn itu. Tapi jika misalnya tidak ada jalan pulang sekalipun, masih ada yang berharga, yakni kemerdekaan.

Kategori:Esai GM Kategori:Esai