Politisasi Hubungan Gender di Indonesia

Part 2

Chapter 22,333 wordsPublic domain (Wikisource)

Harian Rakjat dan berkala Berita Gerwani , lalu kami akan membahas bersama-sama karangan-karangan yang kami kehendaki. Kami hampir tidak pernah membaca Api Kartini , yang tidak berpihak, bebas, dan tidak jelas warnanya. Majalah ini tidak menarik untuk perempuan di desa-desa, atau perempuan-perempuan kampung di kota.

Kami bangga pada organisasi kami. Karena Gerwani telah berjuang untuk perbaikan nasib perempuan, menentang kenaikan harga, dan memperjuangkan kenaikan upah. Sungguh menyenangkan bisa berdiri di barisan depan, dan melihat bahwa sesungguhnya kami bisa berbuat sesuatu. Di kota kita juga sangat giat, khususnya di kalangan kaum buruh. Buruh perempuan biasanya anggota SOBSI, tetapi di kampung kediaman mereka, mereka anggota Gerwani. Banyak di antara mereka itu merangkap keanggotaan. Itu mudah saja. Karena banyak soal-soal tentang nasib buruh perempuan, sehingga memungkinkan kami untuk bekerjasama. Misalnya SOBSI dan Gerwani bekerja sama memperjuangkan hak cuti haid. Jika terjadi buruh perempuan dipecat, karena menuntut hak sah mereka untuk cuti haid, baik Gerwani maupun SOBSI akan tampil bersama membela buruh itu. Gerwani juga sangat giat dalam usaha pemberantasan buta-huruf. Banyak sekali kursus-kursus PBH yang kami selenggarakan. Kami juga memperjuangkan hak-hak politik kaum perempuan, agar lebih banyak lagi perempuan yang menjadi anggota parlemen pusat dan daerah, atau agar mereka bisa dipilih menjadi lurah desa atau menteri, sama mudahnya seperti kaum laki-laki. Tentang hak-hak politik ini, terutama di desa-desa, banyak mengalami tentangan. Banyak golongan Islam yang memandang hal itu sangat menimbulkan perselisihan. Mereka tidak mau memberi hak apa pun bagi perempuan. Juga tak sedikit tuan tanah yang sangat konservatif.

Dalam aksi-aksi sepihak tahun 1960-an kaum perempuan ikut mengambil peranan aktif. Mereka tidak sekedar bersorak-sorai di garis pinggir. Di Kediri dan Jengkol, perempuanlah yang mengadang traktor-traktor tuan tanah, yang berusaha mengusir mereka dari tanah kediaman mereka. Dan perempuan itu jugalah yang mati ditembaki tentara.

Memang benar, aksi-aksi ini banyak tidak disukai di desa-desa. Bahwa begitu banyaknya perempuan yang dibunuh, mungkin inilah sebabnya: orang-orang Gerwani terlalu mandiri. Mereka membenci Gerwani. Mereka menghendaki agar perempuan hanya bergerak di bidang kemasyarakatan. Kadang-kadang mereka mengadakan arisan, bolehlah, seperti halnya semua organisasi perempuan lainnya. Tetapi di dalam Gerwani, perempuan juga giat berpolitik. Ya, itulah hal yang sangat dibenci. Saya sering merasa heran, bagaimana semuanya bisa menjadi serba salah begitu. Satu hal memang jelas. Yaitu bahwa Sukarno tidak konsekuen dalam menangani sisa-sisa feodalisme yang masih ada di dalam masyarakat kami. Itulah sumber malapetaka yang menimpa kami. Kami bekerja bersama dengannya di dalam Front Nasional yang anti-imperialis. Tetapi ia tidak pandai memegang janjinya, misalnya dalam pelaksanaan undang-undang land reform. PKI yang konsekuen, dan dalam hal ini kami bekerja bersama-sama dengannya. Peranan Gerwani dalam aksi-aksi sepihak sangat besar. Tetapi sekarang hampir dilupakan sama sekali. Juga koran-koran ketika itu, tidak banyak yang meliput aksi-aksi kami itu. Kaum laki-laki selalu ingin dilihat sebagai lebih militan dari kaum perempuan. Kami di pihak Sukarno dalam konfrontasi menentang Malaysia. Tetapi sesungguhnya buat kami tidak terlalu menarik. Itu hanya untuk mengalihkan perhatian dari persoalan nasional saja. Karena itu sikap kami mula-mula agak maju-mundur. Tetapi akhirnya dengan bersemangat kami mendukungnya, dan bahkan mengirim sukarelawan. Juga kaum perempuan di dalam PNI, Wanita Marhaen dan Wanita Demokrat,

berbuat sama; begitu pula halnya beberapa organisasi perempuan lainnya. Pada waktu itu saya sendiri tidak di Jawa. Pada tahun 1962 saya, seorang diri, ditugasi di pulau lain. Sering saya merasa sangat kesepian. Karena saya tidak mengerti baik bahasa, masyarakat, maupun kebudayaan setempat. Saya harus berusaha merasa kerasan di tengah-tengah lingkungan yang asing itu. Saya tinggal bersama kader-kader lain, dari PKI dan Pemuda Rakyat, di sebuah rumah yang besar. Seorang pemuda dari Pemuda Rakyat sering membantu saya. Kadang-kadang saya merasa begitu sedih, sehingga ingin menangis. Lalu, di saat-saat begitu, ia datang menghibur saya, menjelaskan hal-ihwalnya kepada saya, dan jika perlu juga membantu saya. Beberapa bulan pertama sering saya merasa sangat sedih, sehingga ingin segera pulang saja ke Jawa. Yang juga membuat terasa berat karena saya, sebagai anak gadis, tidak biasa hidup sendirian di tengah orang-orang laki-laki asing. Orang sangat suka bergunjing. Maka saya selalu harus mempertahankan diri.

Daerah tempat penugasan saya pun daerah sulit. Mempunyai kebanggaan yang besar terhadap sejarah perlawanannya menentang Belanda, dan juga tidak terlalu senang terhadap Jakarta. Islam sangat kuat, laki-lakinya berwatak congkak. Saya perempuan Jawa, orang asing, tidak boleh sekali-kali menonjol-nonjolkan diri. Jangan sekali-kali saya berusaha menampilkan diri sebagai guru yang serba tahu. Jadi saya harus menunggu saja, sampai mereka sendiri datang kepada saya dan mengemukakan persoalan mereka. Kader-kader yang bekerja di daerah ini tidak banyak mendapat pendidikan, dan juga sangat sedikit pengetahuan mereka tentang apa sebenarnya yang dibela Gerwani, dan apa yang dicita-citakannya. Melalui rapat-rapat saya menjadi tahu, siapa-siapa di antara mereka yang paling cerdas. Lalu perempuan itu saya dekati, dan perlahan-lahan saya mencoba menerangkan serba sedikit tentang organisasi, kegiatan-kegiatannya, dan seterusnya dan seterusnya. Tetapi saya sama sekali tidak boleh menampak sebagai pemimpin. Untuk pemimpin haruslah seseorang dari daerah ini sendiri.

Sungguh sangat berat buat saya untuk bisa menyesuaikan diri. Oleh karena saya tidak biasa hidup di tengah daerah yang sangat kuat Islamnya, di mana perempuan tidak bisa bergerak leluasa. Akhirnya saya mendapat jalan untuk lebih memudahkan orang-orang perempuan itu datang menghadiri rapat-rapat kami. Mereka mengenal banyak tari-tarian setempat. Laki-laki melarang istri mereka keluar rumah jika sendiri-sendiri, tetapi tidak jika mereka pergi bersama-sama. Lalu kami membentuk kelompok-kelompok kesenian, menari dan menyanyi, yang tidak terlarang bagi kaum perempuan. Tetapi kami tidak berhenti di situ. Kelompok-kelompok ini lalu kami beri isi. Kami berdiskusi tentang soal-soal sehari-hari bersama mereka. Dengan sangat mudah kita bisa mendidik perempuan tentang soal-soal ekonomi melalui kegiatan arisan. Sekali kita mulai bicara tentang bagaimana yang sebaik-baiknya perempuan membelanjakan uangnya, seketika itu tibalah kita pada soal tentang kenaikan harga-harga. Dari situ lalu bisalah kita bicara tentang siapa yang bertanggungjawab dalam persoalan harga tersebut. Lalu bisalah sudah kita mulai bicara secara langsung tentang pendidikan politik. Sesudah akhirnya mereka mengerti tentang apa cita-cita Gerwani, banyak orang-orang perempuan yang memberi dukungan kuat pada kami, walaupun mereka itu semuanya beragama Islam. Mereka membenci suami mereka yang berpoligami, dan senang menghadiri rapat-rapat kami untuk membahas persoalan itu. Mereka juga sangat senang belajar bagaimana membuat kue-kue, dan membahas masalah situasi politik. Yang paling menarik untuk anak-anak gadis ialah hak menikah atas dasar suka sama suka, sedangkan untuk ibu-ibu khususnya masalah perjuangan melawan poligami. Juga kaum buruh perempuan merasa senang memperoleh dukungan kami untuk tuntutan mereka, agar tersedia balai penitipan anak dengan biaya pembayaran yang rendah. Setahun kemudian anak muda Pemuda Rakyat itu meminta saya kawin dengannya. Dalam kebimbangan, saya minta agar ia mau menunggu. Ia berasal dari Jakarta. Tetapi kedua orangtuanya telah pindah menetap di sini. Saya mencari nasihat dari teman-teman saya. Semuanya berpendapat agar saya menerimanya. Maka dalam tahun 1963 kami pun kawin. Saat itulah tahun-tahun yang paling berbahagia dalam kehidupan saya. Setahun kemudian lahir anak laki-laki kami. Saat-saat menjelang kelahiran anak kami, suami saya mengerjakan semua pekerjaan kerumahtanggaan: menyapu, memasak, mencuci. Sesudah bayi lahir ia pun sering mengganti popok anaknya sebelum berangkat bekerja. Ia selalu membantu saya sebisa-bisanya, sampai saya menjadi cukup kuat untuk bekerja lagi. Tetapi ketika itu sudah bulan Oktober 1965. Saya benar-benar merasa sangat sedih bahwa semua pengorganisasian yang telah kami selenggarakan dengan amat berhati-hati, semua usaha membangun gerakan dari bawah, telah hancur berantakan sama sekali. Saya sudah biasa banyak bepergian, entah dengan kereta api atau bis, jika kendaraan itu ada. Tetapi jika harus pergi ke pedalaman, betapa pun jauhnya, kami harus berjalan kaki. Di dalam kota pun saya berjalan kaki. Kadang-kadang saja saya bersepeda, tetapi umumnya berjalan kaki. Kami sudah biasa hidup dengan semangat berbakti. Tidak pernah kami berangan-angan: ah, besuk harus ada cukup makanan di periuk, atau, ah, saya ingin punya rumah yang bagus. Siang-malam kami sibuk dengan pekerjaan dan pekerjaan. Jika saya harus pergi berkendaraan, cukuplah jika karcis sudah di tangan. Dan di sana nanti sepiring nasi untuk saya sudah selalu akan tersedia.

Pagi-pagi kami masak seadanya, lalu makan, dan kemudian segera berangkat bekerja. Seringkali kami baru di rumah kembali sesudah jam 11 atau 12 tengah malam. Di tengah perjalanan pulang kami membeli makanan apa saja. Tidak pernah saya memikirkan soal lain satu pun, kecuali sejumlah soal yang sudah ada di kepala, dan bagaimana harus memecahkannya. Kami tak banyak berpikir tentang uang, walaupun saya sendiri menjadi kepala balai penitipan anak-anak itu. Tetapi uang sama sekali tidak cukup pada saya, juga pada wakil saya, kepala balai penitipan anak. Karena itu saya mengambil pekerjaan sedikit, sebagai penata-usaha sebuah sekolah.

Saya mengambil kursus lima bulan di Jakarta untuk mendapat ijazah pengelola balai penitipan anak-anak. Walaupun saat itu saya sudah mengepalai balai semacam itu di sini. Saya berangkat ke Jakarta ketika anak kami masih berumur dua bulan. Sekarang ijazah itu tinggal secarik kertas yang mubazir saja. Hubungan dengan Jakarta umumnya sulit. Sekali satu bulan saya mengirim laporan, tetapi jawaban baru datang setelah berbulan-bulan kemudian. Tetapi mereka mengirimi kami segala macam rekomendasi. Misalnya dinasihatkan agar di sekitar tanggal tertentu kami mengorganisasi demonstrasi anti-kenaikan harga, atau mengirim delegasi pada gubernur, apabila kegiatan-kegiatan itu telah direncanakan oleh Jakarta. Sepanjang mengenai persoalan politik nasional, umumnya mereka mengikuti garis Partai. Tetapi untuk persoalan perempuan, mereka merumuskan garis mereka sendiri. Lawan kami yang terpenting ialah orang-orang Muslim fanatik. Diperlukan waktu yang lama untuk bisa meyakinkan orang, terutama jika ia telah berpegangan teguh pada asas-asas agama tertentu. Di dalam Front Nasional ini kami banyak bekerja bersama dengan Perwari dan Kowani. Semuanya ini baru saja hendak mulai tinggal landas, ketika 'peristiwa' itu terjadi. Terjadi dengan sangat tak terduga-duga, juga di tengah-tengah segala-galanya. Ketika kami tahu apa yang telah terjadi di Jawa, kami melarikan diri ke kota yang terdekat. Di sinilah suami saya terbakar hidup-hidup ketika mereka membakar kantor PKI. Dengan membawa anak laki-laki kami, saya melarikan diri ke Jakarta. Kakak perempuan saya janda seorang perwira tentera yang tewas dalam sebuah tugas. Tidak bisa hidup bersandar pada uang pensiun, ia bekerja pada sebuah kantin angkatan darat. Saya pun bisa diterima bekerja di situ. Mereka memperingatkan saya agar kawin lagi. Kamu masih muda, kata mereka. Dan hanya punya anak satu. Orang akan menggunjingkan kamu, kalau kamu tidak mau bersuami lagi. Demikianlah. Demi berjaga-jaga agar tidak menjadi pergunjingan, untuk kedua kalinya saya kawin, walaupun saya tidak mencintai laki-laki yang menjadi suami saya itu. Ketika anak saya dengannya berumur dua tahun, anak perempuan, tiba-tiba suami saya menghilang. Saya tanyakan kepada setiap orang, yang saya kira tahu duduk perkaranya, tetapi tidak pernah lagi saya mendengar kabar beritanya. Kemudian kakak saya menjadi ketakutan bahwa orang akan menjadi tahu tentang kami, dan dia akan kehilangan pekerjaan dan segala-galanya. Lalu kakak itu melaporkan saya. Ketika saya ditahan, anak perempuan saya tinggal bersama kakak di Jakarta. Sedangkan anak laki-laki, yang ketika itu bersama saya, tidak ada seorang pun yang mengurusi. Neneknya sudah terlalu tua dan pikun untuk bisa mengurusi hidupnya dan mengirimnya ke sekolah. Anak itu berusaha menghidupi dirinya dengan menjual koran dan bakso di sepanjang jalan.

Di penjara banyak di antara kami yang diperkosa. Dipukuli, disiksa, disetrum, dan dibakar dengan rokok. Beberapa tahun kemudian, sesudah mendapat kunjungan Palang Merah Internasional, keadaan menjadi sedikit lebih baik. Saya belajar memijit, dan membuat kerajinan tangan yang bisa dijual, untuk membeli sedikit tambahan jatah makan.

Setiap sesama tahanan di penjara tahu, bahwa jika kelak bebas saya harus mencari hidup sendiri dan dua anak saya. Karena itu mereka mengumpulkan apa saja, untuk saya, semampu mereka masing-masing. Beberapa yang telah lebih dahulu bebas, memberi saya beberapa periuk dan kompor. Tetapi saya sedikit-sedikit juga menabung sisa hasil penjualan kerajinan tangan, sehingga selama hari-hari pertama bisa membeli beras sekedarnya. Selama minggu-minggu pertama sesudah bebas, saya hidup dari merajin barang sulaman, sambil mencari pasien yang mau dipijit. Sekarang saya sudah lulus berkali-kali ujian memijit dan tusuk jarum, dan saya punya cukup pasien untuk bisa hidup. Tetapi keprihatinan saya pertama-tama terhadap anak laki-laki saya. Saya keluar pada hari Sabtu. Hari Minggu saya ketahui di mana dia, dan hari Senin ia bersekolah. Tetapi ia sangat tertinggal di sekolah, sehingga saya harus mengirimnya ke asrama. Ia sangat merasa malu, karena dalam umur 19 tahun masih harus bercelana pendek bersekolah SMP. Tahun depan ia akan selesai dari SMP., lalu boleh pulang dari asrama dan masuk SMA, dan memakai celana panjang. Dengan begitu tidak perlu lagi merasa malu dilihat oleh tetangga. Anak saya yang perempuan juga ketinggalan. Sudah berumur dua belas, seharusnya sudah kelas lima, tetapi ia masih di kelas tiga. Tetapi dia akan naik. Sekarang dia maju. Saya senang. Sekarang saya sudah dapat mengatasi, dengan dua anak dan pekerjaan memijit. Tetapi saya masih harus sangat hati-hati. Saya tidak bisa mengambil pasien di rumah sendiri. Teman saya mendengar, ia pernah menjadi pembicaraan kalangan pejabat, karena menerima tamu terlalu banyak. Padahal mereka itu orang-orang sakit! Ia diancam menutup praktik. Karena itu biasanya saya yang pergi, mendatangi rumah pasien-pasien saya.

Walaupun kami sudah dibebaskan, tetapi kami belum warga negara penuh. Saya masih harus selalu melapor setiap waktu. Misalnya, jika saya akan pergi ke Surabaya, saya memerlukan lima setempel di secarik kertas, yang harus saya perlihatkan kepada petugas keamanan di Surabaya. Jika saya melanggar, saya akan dikenai tahanan rumah. Tetapi itu tidak terlalu buruk. Saya masih bisa hidup dengan itu. Yang membuat saya sangat sedih, bahwa di sekolah anak-anak saya diajar hal-hal yang busuk tentang Gerwani. Saya merasa anak laki-laki saya menyembunyikan sesuatu terhadap saya. Akhirnya suatu hari ia mendekat dan bertanya, 'Ma! Mengapa Mama menjadi anggota organisasi begitu, yang begitu bejat akhlaknya, dan menghancurkan negara? Apa Mama juga pelacur? Kata orang-orang semua anggota Gerwani pelacur dan perempuan-perempuan jahat.' Bagaimana saya harus menjelaskan kepadanya, untuk apa kita hidup? Dan apa yang dahulu kita cita-citakan? Saya masih melihat bayangan kebingungan dan rasa malu pada matanya. Apakah ia masih akan mengerti hidup saya, Mamanya? Wajah Ibu Marto mengkerut sedih ketika ia mengucapkan kata-katanya itu. Mendadak jari-jarinya berhenti bekerja ...

Juga perempuan-perempuan lain meminta saya agar mengembalikan sejarah mereka kepada mereka dan saudara-saudara mereka. Mereka tidak mau mati dengan versi masa lalu mereka, yang disusun dalam kampanye teror massal sesudah terjadinya kup. Tetapi sejarah yang menyusul itu bukannya hak perempuan-perempuan 'tua' saja. Generasi muda kaum perempuan dan laki-laki Indonesia, yang telah digiring untuk mempercayai versi militer mengenai kejadian-kejadian itu, dan atas dasar itu pulalah masyarakat di mana mereka hidup disusun, juga mempunyai hak untuk ditunjukkan kepada uraian yang bertujuan menumbangkan sejarah militer Indonesia itu.

Catatan

Kategori:Tesis en:The Politicization of Gender Relations in Indonesia