Part 1
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang Mulia para Duta Besar dan Kepala Perwakilan negara-negara sahabat serta Pimpinan organisasi-organisasi internasional,
Yang saya hormati, para Menteri dan Anggota Kabinet Indonesia bersatu II,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Dengan terlebih dahulu memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, saya sungguh gembira karena dapat kembali berjumpa dengan Saudara-saudara, Yang Mulia para Duta Besar, para Kepala Perwakilan, dan para Pimpinan organisasi internasional yang bertugas di Indonesia.
Saya ingin pula mengucapkan terima kasih kepada Saudara Menteri Luar Negeri yang bisa menyelenggarakan pertemuan yang penting ini. Tentu, saya amat berterima kasih kepada Saudara-saudara yang berkenan hadir untuk memenuhi undangan Menteri Luar Negeri pada hari ini. Dan meskipun sudah lewat, saya ingin pula mengucapkan selamat tahun baru, tahun 2012 kepada Saudara semua. Semoga tahun 2012 membawa kebaikan bagi dunia dan bagi bangsa dan negara kita masing-masing.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Pertemuan yang penting ini akan saya gunakan untuk menjelaskan perkembangan dan dinamika terkini yang ada di Indonesia, sekaligus untuk menyampaikan tantangan-tantangan yang kami hadapi, dan kebijakan serta langkah-langkah yang telah dan sedang kami ambil untuk mengatasi permasalahan-permasalahan itu, dan selanjutnya melanjutkan pembangunan di negeri ini menuju masa depan yang lebih baik.
Pertemuan ini juga saya harapkan bisa membuka pikiran-pikiran baru, inspirasi bagi kita semua untuk lebih meningkatkan lagi hubungan, kerja sama, dan kemitraan di antara kita. Dan, saya telah berpesan kepada Menteri Marty Natalegawa agar pertemuan seperti ini bisa dilaksanakan setiap tahun sebagai annual meeting, sehingga saya bisa berkomunikasi langsung dengan Bapak-Ibu sekalian.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Saya ingin memulai, dan ini sebenarnya semacam review atau mengingatkan kembali atas apa yang Bapak-Ibu ketahui bahwa di abad ke-21 ini, negara kami, Indonesia, mengusung yang saya sebut dengan all-direction foreign policy. Ada slogan yang kami angkat: million friends and zero enemy. Indonesia, seraya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kini telah menjadi regional power, dengan tentunya global responsibilities dan global interests. Kami akan selalu akan selalu aktif menguatkan hubungan, kerja sama, dan kemitraan dengan negara sahabat manapun, tentu atas dasar kepentingan nasional dan kepentingan bersama kita (common interest) di antara kita semua.
Kita sama-sama menyaksikan bahwa keadaan dunia kita, dunia di awal abad 21 ini, penuh dengan dinamika dan perubahan. Kita masih menghadapi dan nampaknya makin menghadapi isu-isu yang critical dan fundamental. Tanpa saya uraikan one by one apa yang saya maksudkan dengan critical and fundamental issues tadi, saya kira Saudara sependapat dengan saya bahwa yang kita perlukan untuk mengatasi isu-isu global itu tiada lain adalah global collaboration, partnership, and cooperation diantara kita semua. Tentu, kita punya semangat, kita punya energi, dan kita juga punya tekad, dengan kolaborasi global itu, kita berbuat bersama-sama untuk membangun dunia, dunia kita, yang lebih aman dan lebih damai, yang lebih adil dan membawa kemakmuran bagi semua (peace, justice, and prosperity for all).
Saudara-saudara,
Saya hanya mengungkapkan secara sangat singkat tentang perkembangan dunia kita karena tentunya Yang Mulia para Duta Besar, para Kepala Perwakilan, dan para pimpinan organisasi internasional sudah sangat memahaminya, dan bahkan bersama-sama kita mengelolanya. Justru yang ingin saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini adalah menyangkut perkembangan dan dinamika di Indonesia. Saya yakin bahwa Hadirin sekalian memahami bahwa Indonesia sekarang ini masih berada dalam proses transformasi, reformasi, dan bahkan demokratisasi untuk menuju demokrasi yang matang, yang berkualitas, sekaligus bermartabat, lebih dari sekedar a consolidated democracy. Juga, kami tengah dan terus melakukan pembangunan kembali ekonomi kami, ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat setelah kurang lebih 1,5 dekade yang lalu Indonesia mengalami krisis ekonomi yang dahsyat, yang luar biasa.
Krisis dan perubahan politik yang dramatis, yang terjadi pada tahun 1998, dan kemudian tentu berpuncak atau memuncak pada tahun-tahun berikutnya, sebagai sebuah refleksi, saya ingin menggambarkan bahwa Indonesia memang waktu menghadapi situasi yang sangat sulit. Bahkan, terus terang, negara kami menghadapi ancaman disintegrasi. Ekonomi kami collapsed. Terjadi guncangan politik, guncangan sosial, dan gangguan keamanan dan ketertiban publik yang meluas di hampir seluruh penjuru negeri kami. Sungguh berat, sungguh sulit apa yang kami hadapi di waktu itu.
Tetapi, kami sungguh bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, dan tentunya dengan bangga berterima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia, dengan bekerja keras dan penuh keyakinan, akhirnya kami bisa mengatasi krisis itu, dan Indonesia selamat, masih tegak berdiri sebagai negara yang berdaulat dan terus membangun masa depannya.
Yang terang, Indonesia banyak mengambil hikmah dan memetik pelajaran dari masa lalu kami, termasuk ketika terjadi krisis dan perubahan situasi politik yang dramatis pada waktu itu. Dan dengan memetik pelajaran itu, seraya memahami amanah para founding fathers dan juga cita-cita konstitusi kami, maka sekarang ini Bapak-Ibu menyaksikan bahwa kami terus melakukan berbagai perubahan dan pembaharuan, menuju Indonesia yang tentu harapan kami makin maju, makin damai, makin demokratis, dan makin sejahtera.
Tetapi, saya harus berterus terang, sebagaimana juga pengalaman yang dialami oleh bangsa-bangsa lain ketika melakukan reformasi dan transformasi, termasuk demokratisasi, pengalaman kami, perubahan yang kami lakukan ini painful, banyak sekali pasang surutnya (ups and downs), kadang-kadang terjadi kemunduran atau setback, muncul social disorder, ada semacam kegelisahan, kegamangan, atau sikap yang disoriented, termasuk perlawanan atau resistance dari mereka yang menolak perubahan dan reformasi yang kami jalankan. Hal ini kami alami bertahun-tahun sejak awal krisis terjadi, meskipun alhamdulillah situasinya tahun-tahun terakhir ini sudah bertambah baik.
Hadirin sekalian,
Mekarnya demokrasi, kebebasan, termasuk kemerdekaan pers (freedom of the press), pemenuhan hak-hak asasi manusia, dan keterbukaan atau openness, yang berlangsung cepat dan berskala besar di Indonesia, disamping ini membawa energi dan keteguhan kami untuk terus melaksanakan reformasi dan pembangunan negeri kami menuju masa depan yang lebih baik, tapi juga ada ekses yang sering mengganggu stabilitas politik dan bahkan ketertiban serta keamanan publik. Fenomena dan kejadian yang para Duta Besar, Kepala Perwakilan, dan para Pemimpin organisasi internasional akhir-akhir ini, misalnya, itu tiada lain menyangkut atau bagian atau konsekuensi dari reformasi dan penataan kembali kehidupan bernegara di Indonesia ini.
Tapi, saya yakin dan percaya bahwa, karena menganggap itu wajar bagi sebuah perubahan yang berdimensi luas, berskala besar, dan berlangsung cepat, keyakinan saya, itu akan bisa kami lalui. Dan kami yakin lima sampai sepuluh tahun mendatang, reformasi, demokratisasi, dan pembangunan kembali ekonomi Indonesia yang banyak sekali tantangan dan masalah yang harus kami atasi akan menghasilkan capaian yang signifikan.
Saya secara pribadi juga perlu menyampaikan bahwa di tengah kebisingan demokrasi ataupun hingar-bingar dan kegaduhan politik yang memang menyertai perubahan besar yang Indonesia lakukan sekarang ini, saya tetap fokus dan saya tidak distracted dalam menjalankan mandat saya untuk mencapai sasaran strategis pembangunan negeri ini di tahun-tahun mendatang.
Saya ingin menyampaikan, Hadirin yang saya muliakan, bahwa dalam kurun waktu lima tahun ini, 2009-2014, kami memiliki prioritas dan agenda besar, yaitu melakukan percepatan pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Itu yang pertama. Yang kedua adalah kami ingin benar membangun demokrasi yang lebih matang dan lebih berkualitas. Sedangkan yang ketiga, kami berupaya dengan sekuat tenaga untuk menegakkan hukum dan keadilan di negeri ini, keadilan bagi semua, justice for all.
Saya kira, kolega-kolega saya yang sedang menjalankan roda pemerintahan dan menjalankan kehidupan bernegara sekarang ini tidak pernah tergoda untuk meninggalkan jalan demokrasi, meskipun penuh tantangan, very noisy, dan kemudian lantas kembali ke era otoritarian. Mengapa? Karena kami yakin kebenaran atas pilihan rakyat kami, bangsa kami mengawali reformasi yang berlangung sejak sekitar 13 tahun yang lalu. Dan, saya melihat sisi lain dari hingar-bingar demokrasi dan politik di Indonesia sekarang ini, bahwa pada saatnya nanti semua itu akan memberi penguatan dan sense of belonging yang lebih tinggi, yang lebih kuat dari rakyat Indonesia terhadap apa yang dilakukan oleh negara dan pemerintah untuk membangun negeri kami menuju hari esok yang lebih baik.
Saya memulai ketika menjelaskan perkembangan dan dinamika yang ada di Indonesia ni dengan sedikit flashback, dan apa yang terjadi sekarang ini sebagai bagian atau aliran dari proses besar yang kami lakukan, yang kami mulai pada tahun 1998 yang lalu.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Izinkan saya sekarang untuk, secara singkat dan secara garis besar, menyampaikan capaian dan sekaligus tantangan yang kami hadapi, apa saja yang telah kami capai dan hasilkan dalam proses reformasi dan demokratisasi ini, termasuk pembangunan kembali ekonomi kami, sekaligus nanti tantangan, permasalahan, dan apa saja yang belum sepenuhnya dapat kami capai. Tentu ada raport biru dan masih ada pula raport merah. Saya harus akui seperti itu, dan sepenuhnya saya pertanggungjawabkan karena melaksanakan reformasi, membangun sebuah bangsa bagi sebuah negara berkembang tentu bukan proses sekali jadi, tidak berjalan ibaratnya di bawah bulan purnama, semuanya serba lunak, tetapi mesti ada tantangan, permasalahan, dan hambatan.
Yang Mulia,
Hadirin sekalian,
Saya ingin memulai yang pertama dulu, dengan syukur dan bangga, saya ingin menyampaikan apa saja capaian dan hasil yang telah kami dapatkan. Ini antara lain, pertama—dan ini menjadi bagian dari sejarah—bahwa krisis besar yang dulu kita cemas kalau tidak bisa kita lalui, telah kami lalui dan Indonesia selamat.
Yang lain, ekonomi Indonesia, sungguhpun dulu dari pertumbuhan 6 sampai 7% jatuh pada -30% dengan berbagai keruntuhan fundamental ekonomi yang ada di negeri ini, kini tumbuh kembali dengan fundamental yang makin kuat, sekalipun dunia mengalami krisis-krisis baru, utamanya krisis 2008-2009 dan krisis 2011-2012.
Capaian yang lain, ancaman terhadap internal security, seperti dulu konflik Aceh yang telah berlangsung lebih dari 30 tahun, lantas konflik komunal di Poso, di Ambon, dan di beberapa tempat dengan skala yang besar, telah kami selesaikan.
Yang lain, meskipun masih menjadi tantangan dan pekerjaan rumah kami yang harus kami selesaikan, kemiskinan terus menurun, pengangguran terus menurun, bahkan debt-to-GDP ratio yang menjadi perhatian dunia ketika banyak negara mengalami kesulitan ekonomi karena debt dan deficit problems, Indonesia mengalami perbaikan.
Saya masih ingat, tujuh tahun yang lalu ketika saya memulai memimpin negeri ini, debt-to-GDP ratio Indonesia berjumlah 56%, dan kemudian kami turunkan sekarang ini tinggal sekitar 25%. Kami ingin terus melakukan pembaikan atau perbaikan fiskal kami, untuk menuju ke situasi yang lebih sehat, berimbang, dan tentu membangun peluang untuk perekonomian kami.
Yang lain, sebagaimana Bapak-Ibu saksikan, kami, setelah pada saat Indonesia mengalami krisis absen dalam peran internasional yang lebih mengemuka, kami kembali aktif dalam forum-forum internasional, mulai dari ASEAN sampai G20, sebagai kontribusi kami, kontribusi Indonesia terhadap dunia.
Itu sejumlah hal yang dengan rasa syukur dan bangga saya sampaikan kepada Bapak-Ibu sekalian.
Yang kedua, saya katakan tadi, masih ada kekurangan kami, masih ada hal-hal yang belum dapat kami capai sepenuhnya, masih banyak pekerjaan rumah. Saya ingin menyebut beberapa contoh. Meskipun kami melakukan kampanye antikorupsi yang paling agresif dalam sejarah Indonesia—Bapak-Ibu bisa memeriksa perjalanan sejarah pemerintahan dan kenegaraan kami sejak merdeka—dan dengan tanpa pandang bulu, kami melakukan penindakan bagi kejahatan korupsi, termasuk ratusan pejabat negara telah kami adili. Ada menteri, ada gubernur, ada bupati, ada wali kota, ada anggota parlemen. Pendek kata, semua yang ternyata dinyatakan bersalah oleh pengadilan, sebagai yang melaksanakan tindak pidana korupsi.
Namun, kasus-kasus korupsi masih terjadi. Bottlenecking dan birokrasi yang belum baik juga masih ada. Meskipun Indeks Persepsi Korupsi, bagaimana dunia, dari lembaga internasional melihat kami, tujuh tahun terakhir ini Indonesia dinyatakan membaik, ada progress yang signifikan, tetapi saya menyadari bahwa masih panjang yang harus kami lalui, masih banyak yang harus kami lakukan untuk sampai tingkatan yang membuat kami lega dan nyaman.
Tantangan dan permasalahan lain: masih ada benturan sosial dan aksi-aksi kekerasan yang berangkat dari konflik antaridentitas, dan ini memang konsekuensi dari kemajemukan kami. Kemajemukan, di satu sisi, adalah anugerah dan kekayaan. Tapi di sisi lain, adalah sumber perselisihan, konflik, dan pertentangan. Identitas ini bisa agama, suku, etnik, daerah, dan lain-lain. Ini, saya analisis, antara lain akibat ekses dan kesalahan dari sebagian anggota masyarakat kami terhadap makna hak dan kebebasan.
Tantangan lain yang kami hadapi: pembangunan yang belum merata di seluruh Indonesia. Bapak-Ibu menyaksikan keadaan geografi negara kami, jumlah resminya, meskipun saya belum pernah menghitung satu per satu, 17 ribu lebih pulau di Indonesia ini. Tantangan tersendiri bagi pemerintahan: transportasi, ekonomi, semuanya. Maka, kami menyadari sekarang bahwa memang masih ada kebelummerataan dari pembangunan kami. Akibatnya, ada daerah yang angka kemiskinannya lebih tinggi dibandingkan daerah yang lain. Ada daerah yang infrastrukturnya memang sangat kurang dibandingkan daerah yang lain, dan tentu ini menjadi pekerjaan rumah dan tugas kami.
Sebenarnya, tahun-tahun terakhir ini, kami telah meningkatkan upaya, termasuk mengalirkan anggaran yang lebih besar untuk mengatasi semua itu, termasuk kami lakukan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi across the region, across the country dengan satu masterplan yang telah kami jalankan sekarang ini, serta kami juga menjalankan upaya percepatan dan perluasan penurunan kemiskinan, dengan masterplan juga. Hasilnya mulai nampak, namun saya harus jujur mengatakan bahwa, lima sampai sepuluh tahun mendatang, tantangan ini masih akan kami hadapi, dan tentunya untuk kami jawab dan kami selesaikan.
Tantangan-tantangan lain, Yang Mulia, adalah misalnya menjaga keberlanjutan pembangunan di Aceh pascatsunami dan Aceh pascakonflik, yang alhamdulillah telah dapat kami selesaikan. Juga mengelola persoalan di Papua, bertumpu pada kebijakan otonomi khusus, otonomi yang luas, yang telah menjadi pilihan negara kami.
Saya juga harus mengatakan, khusus ini, sekali-kali terjadi, ini kejadian yang mencerminkan disharmoni antara umat beragama di beberapa tempat dan di beberapa keadaan, yang ini tentu menjadi perhatian kami yang sungguh-sungguh.
Dan, satu lagi, patut saya kedepankan di hadapan forum yang terhormat ini, isu lingkungan hidup, utamanya yang menyangkut pengelolaan hutan yang ada di Indonesia.
Dari mapping out dan identifikasi, baik capaian dan tantangan atau pekerjaan rumah tadi, saya ingin melakukan elaborasi atas beberapa hal untuk mendapatkan pengertian serta pemahaman dari para Duta Besar, Kepala Perwakilan, dan Pimpinan organisasi internasional, dengan mengangkat lima fundamental issues, berikut kebijakan dan tindakan yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia dan sebagian tentunya oleh negara Indonesia.
Yang pertama, saya akan berbicara khusus tentang good governance, reformasi birokrasi, dan kampanye antikorupsi.
Yang kedua, saya akan mengangkat isu disharmoni antarumat beragama dan konflik komunal.
Yang ketiga, saya juga akan menyampaikan kebijakan dan langkah-langkah pengelolaan Papua dan Aceh yang kedua-duanya bertumpu atau berdasarkan pada otonomi khusus atau otonomi yang luas.
Yang keempat adalah isu lingkungan hidup, khususnya upaya kami untuk mengelola hutan.
Dan yang kelima atau yang terakhir adalah prioritas dan upaya kami untuk terus mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran di negeri tercinta ini.
Saya ingin memulai dari yang pertama perihal good governance, reformasi birokrasi dan kampanye antikorupsi. Saya mengetahui bahwa Bapak, Ibu memiliki kepedulian tentang ini. Para investor, partner kami dari luar negeri kalau ingin bekerja sama dengan Indonesia juga sangat berkepedulian tentang hal ini, maka saya ingin menjelaskan pada forum yang baik ini.
Hadirin sekalian,
Sebenarnya telah terjadi banyak perubahan dan perbaikan dari tahun ke tahun. Saya bisa mengatakan seperti itu karena tahun 2005 misalnya, saya mengindentifikasi banyak sekali masalah yang berkaitan dengan ini. One by one sebenarnya sebagian telah mengalami perbaikan yang signifikan, sebagian not much, sebagian memang belum banyak berubah.
Sungguhpun ada capaian-capaian tentu kami sendiri belum puas dan bertekad untuk ke depan ini, barangkali dalam kurun waktu 5 sampai 10 tahun mendatang akan bekerja dengan gigih, dengan sungguh-sungguh, all out untuk bisa melakukan perbaikan yang lebih signifikan.
Perubahan yang kami lakukan, pertama, bersifat struktural, itu lebih mudah. Yang kedua, cultural, itu lebih sulit. Dimensi yang kami pilih untuk membangun good governance, melaksanakan reformasi birokrasi dan pencegahan, serta penindakan korupsi adalah pencegahan, semampu mungkin kita cegah dengan kejelasan sistem, dengan instrumen pengawasan, dengan menaikkan kesejahteraan dan sebagainya. Tetapi tentu harus ada penindakan demi keadilan.
Sistem desentralisasi dan otonomi daerah, saya kira sebagian Bapak, Ibu mulai mengenalnya. Itu juga menambah kompleksitas permasalahan yang kami hadapi ketika kami menyentuh urusan good governance, reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi.
Semua ini, kita jalankan dengan memerankan banyak pihak yang kami pandang tepat untuk menjadi penjuru dalam tugas besar ini. Misalnya KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi bekerja sangat aktif dan produktif, tentu penegak hukum yang lain. Yang kedua, NGO, baik NGO dalam maupun luar negeri, pers, dan juga masyarakat luas.
Sistem reward and punishment makin kami galakkan untuk ya memotivasi dan memberikan ucapan terima kasih bagi yang benar-benar menjadi contoh dalam good governance dan pemerintahan yang bebas dari korupsi. Sebaliknya punishment harus kami berikan bagi pada mereka yang lalai dan mereka yang memang melakukan kesalahan.
Dan penyelamatan aset dan keuangan negara sebenarnya amat nyata. Suatu saat Jaksa Agung, Kapolri, KPK, Menteri Hukum dan HAM bisa menjelaskan ke hadapan Bapak, Ibu sekalian our achievement di dalam penyelamatan aset dan keuangan negara.
Kami juga menyadari gaji dan kesejahteraan pegawai yang rendah, tentu membuat mereka mudah tergoda untuk melaksanakan tindakan penyimpangan dan korupsi. Itulah secara sangat serius tahun demi tahun, sesuai dengan kemampuan negara, kami tingkatkan gaji dan kesejahteraan abdi negara.
Pengakuan dan laporan masyarakat, kami respon. Saya sendiri membuka kotak pengaduan melalui SMS maupun melalui surat yang sangat baik bagi saya mengetahui, manakala ada penyimpangan, bahkan kejahatan. Sebagian laporan dari masyarakat yang masuk ke kantor saya benar. Sebagian setelah kita kita investigasi tidak akurat, tidak benar.
Kesimpulannya memang masih diperlukan waktu untuk meneruskan pekerjaan besar ini. Namun saya juga selalu mengajak semua penyelenggara negara, para pejabat pemerintah untuk terus gigih dan meningkatkan efektivitas kita dalam mengatasi masalah ini.
Berkaitan dengan ini, saya kira baik bagi saya untuk mengedepankan dua hal yang terkait dengan topik ini, upaya kami untuk membangun good governance, melanjutkan reformasi birokrasi, dan pemberantasan korupsi. Kita pernah dengar ada istilah power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely.
Di era otoritarian dulu, kekuasaan berpusat di Jakarta, sentralistik-konsentrik. Oleh karena itu, kasus-kasus korupsi hampir sebagian besar terjadi di Jakarta.
Di era demokrasi ini, ketika kekuasaan didistribusikan, kekuasaan Presiden telah dilucuti melalui empat kali amandemen undang-undang dasar kami, sekaligus dengan mendistribusikan kekuasaan di tempat-tempat yang lain, misalnya di daerah, pada tingkat gubernur, bupati dan walikota, di parlemen. Maka kasus-kasus korupsi di era demokrasi ini, ternyata terjadi di banyak tempat, di pusat masih ada, di daerah sekarang menjadi ada, bahkan di parlemen.
Saya yakin bahwa kalau kita ingin menyentuh semuanya, ya sentuhlah semua kepada power holders di negeri ini untuk bersama-sama membikin negeri kita ini makin bersih, makin baik. Itu isu yang berkaitan dengan topik ini.
Isu yang kedua, saya tahu, setiap saya menerima delegasi dari negara sahabat, termasuk para investor selalu masih ada hal-hal yang belum pas menyangkut investment climate, menyangkut business climate, menyangkut birokrasi kami. Meskipun karena saya sering menerima sejak tahun 2005 sudah berkurang keluhannya itu, sudah berkurang kritiknya, tapi di sana, sini masih ada. Dan saya tahu memang masalah ini menjadi salah satu hambatan investasi, meskipun sebagian sudah kami atasi dan para investor sendiri mengakui ada perbaikan dan perubahan, tapi akan terus kami lanjutkan untuk benar-benar membikin investment climate di Indonesia ini makin tinggi dan memberikan kenyamanan bagi kerja sama kita.
Sementara, ketika ada concern terhadap investment climate dan kami bekerja terus-menerus untuk memperbaikinya. Saya kira dunia juga tahu bahwa banyak peluang untuk kerja sama dengan Indonesia, banyak opportunities di investasi kami.
Indonesia, alhamdulillah, ekonomi kami tahun lalu tumbuh 6,5% dengan GDP kami tembus 800 billion US Dollars lebih. Inflasi di bawah 4% dan tengah berkembang ekonomi di daerah, paduan dari sumber daya alam dan sumber daya manusia, dan other opportunities, saya yakin tidak perlu merintangi keinginan atau semangat untuk bekerja sama dengan kami di bidang investasi. Dengan keyakinan Bapak, Ibu, kami akan terus bekerja untuk memperbaiki iklim investasi di Indonesia. Pertama itu.
Yang kedua, saya katakan disharmoni antarumat beragama dan konflik komunal yang sekali-kali masih terjadi di Indonesia.
Bapak, Ibu, sebenarnya yang mengikuti sejarah reformasi Indonesia, Indonesia sejak krisis 1998, keadaan yang sekali-kali terjadi di Indonesia ini tidak seburuk apa yang terjadi ketika kami mengalami tahun-tahun berat di waktu krisis yang lalu. Tidak seburuk yang dibayangkan pula dan juga tidak seburuk barangkali yang terus diberitakan oleh media massa.
Meskipun masih terjadi konflik dan benturan, harus saya akui di beberapa tempat, tetapi secara umum, secara nasional, kerukunan sosial dan kerukunan antarumat beragama masih terjaga dan dalam keadaan baik. 240 juta lebih rakyat Indonesia bermacam-macam agama, etnis, suku, daerah, kerukunan secara nasional sebenarnya masih terjaga dan masih baik.
Kebijakan pemerintah dalam hal ini untuk menjaga kerukunan antarumat beragama, sekaligus mencegah dan menanggulangi kekerasan di antara mereka sangat jelas. Kami firm kebebasan beragama dan menjalankan ibadahnya dijamin, tidak ada diskriminasi yang mengalir dari undang-undang dasar maupun kebijakan pemerintah, dan tidak ada pembiaran, tidak ada pembiaran.