Pidato Presiden Soekarno Pada Sidang Pleno Pertama Dewan Perant

Chapter 2

Chapter 2952 wordsPublic domain

Tidak bisa lagi kita mendjalankan politik liberalisme jang kita serahkan politik itu kepada, sudah, sak maunja sadja daripada masjarakat. Tidak, raja tadi telah berkata bahwa revolusi kita ini adalah satu revolusi jang multi-kompleks, "a summing up of many revolutions in one generation", jang semuanja membawa pergolakanpergolakan, konflikten. Djikalau tidak diberi pimpinan, tidak memberi planning dimasing-masing bidang dari kompleksitet daripada revolusi ini, maka kita achirnja sebagai tadi sudah saja kata kan, datang kepada kompleksitet kekatjauan. Kita harus mengadakan "planned policy", politik jang terentjana. Dan inilah pokok daripada demokrasi terpimpin. Kita harus mengadakan ekonomi jang terentjana untuk memberi pimpinan kepada revolusi ekonomi. Planned economy, ekonomi terpimpin. Kita harus mengadakan revolusi sosial jang terpimpin, planned political activity, planned economic activity, planned social activity, planned cultural activity, planned mental activity, semuanja planned, semuanja terentjana. Dan kalau Saudara mengerti hal ini, maka Saudara mengerti inti pokoknja, maka diadakan Depernas. Sebab pekerdjaan Saudarasaudara bukan hanja mengurus planning daripada satu bidang sadja. Tidak! Depernas mengadakan "overall planning", planning semesta, planning jang meliputi semua bidang, planning jang mengenai ja ekonomi, ja kulturil, ja mental, planning diatas segala bidang. Planning overall. Maka oleh karena itulah Depernas disusun demikian rupa sehingga dianggap Depernas mampu mengadakan planning overall jang saja maksudkan itu.

Maka djikalau Saudara-saudara mulai bekerdja untuk mengadakan planning jang demikian itu, sebagai tadi saja katakan, seluruh rakjat melihat kepada Saudara-saudara, seluruh rakjat menunggununggu kepada pola pembangunan semesta jang kita djandjikan sebagai basil. daripada Depernas. Seluruh rakjat mengharap agar supaja Saudara-saudara bekerdja dengan tjepat dan tidak bertele-tele. Saja tadi berkata bahwa kita ini menjaksikan rakjat telah berpuluh-puluh tahun berdjoang untuk tjita-tjita kita ini. Didalam beberapa pidato saja katakan, bahwa rakjat sekedar mempunjai angan-angan, sekedar mempunjai tjita-tjita. Didalam beberapa pidato saja katakan, bahwa tjita-tjita rakjat itu sekedar tampak dengan remeng-remeng. Dimuka pandangan rakjat tampak dengan remeng-remeng suatu masjarakat jang adil dan makmur. Dengan remeng-remeng dilihatnja: Ha, didalam masjarakat jang demikian itu aku akan tjukup sandang dan tjukup pangan, didalam masjarakat jang demikian itu anakku tidak lagi menderita, didalam masjarakat jang demikian itu aku tidak lagi basah djikalau hudjan turun, dan tidak lagi kepanasan djikalau matahari terik. Didalam masjarakat jang demikian itu aku mudah sekali bergerak dari suatu tempat kelain tempat.

Didalam masjarakat jang demikian itu aku mudah sekali menghirup segala udara segar daripada kebudajaan jang tinggi. Didalam masjarakat jang demikian itu aku akan hidup bahagia menurut tjita-tjita orang tua djaman dahulu "tata tentrem kerta rahardja". Remeng-remeng dilihatnja, remengremeng dengan maksud -- kata saja — tidak djelas apa jang mendjadi bagian-bagian daripada apa jang mereka lihat itu, Maka sebagaimana jang saja katakan didalam heberapa pidato, orang jang memerlukan atau jang berhadjat membuat rumah pun, biasanja pun tidak tahu dengan djelas bagaimana rupanja rumah itu. Sekedar dengan remeng-remeng didalam tjita-tjitanja orang mengingini suatu rumah tinggal dimana ia dapat hidup dengan anakisterinja, dimana dia bisa bernaung daripada hudjan, dimana ia bernaung daripada teriknja matahari, dimana dia bisa menghadapi hari kemudian dengan tenteram dan sedjahtera. Tetapi djikalau ditanja kepadanja: „He Saudara, apakah engkau mengetahui persis dan bagaimana rumah jang kau tjita-tjitakan itu harus diselenggarakan?” Ia akan mendjawab: „Saja tidak tahu. Saja sekedar berpuluh-puluh tahun mengumpulkan uang untuk nantinja uang ini aku bikinkan rumah bagiku, bagi isteriku, bagi anakku, bagi tjutjuku”. Maka orang jang demikian itu memanggil seorang arsi tek, kataku didalam pidato-pidato jang populer, dan kepada arsitek itu diwadjibkan, diminta, ditugaskan untuk membuat blueprint daripada rumah itu. ,,Saudara arsitek, saja ada uang sekian. Saja ingin dengan uang sekian ini membuat suatu rumah, mempunjai suatu rumah untuk anak saja, untuk isteri saja, untuk tjutju-tjutju saja, untuk hari kemudian saja, rumah jang berisi sekian kamar, bidang tanahnja sekian. Saja tidak bisa membuat rumah jang demikian itu. Saja minta kepada Saudara arsitek untuk membuat blueprint bagi rumah jang demikian itu". Maka sang arsiteklah membuat blueprintnja. Dan djikalau blueprint ini sudah diterima baik oleh sang opdrachtgever, maka blueprint ini harus diselenggarakan. Dan penjelenggaraan blueprint ini tidak dapat berdjalan dengan tanpa pimpinan. Saja sendiri adalah seorang insinjur arsitek. Saja mengetahui bahwa penjelenggaraan sesuatu pola, sesuatu blueprint tidak dapat didjalankan dengan tjara melepaskan sadja semua orang-orang pekerdja. Tidak! Tetapi harus dengan pim pinanku sebagai insinjur-arsitek, dengan pimpinanku atau dengan pimpinan overseer, opseter-opseter. Segala sesuatu diselenggarakan dengan pimpinan agar supaja blueprint ini terselenggara mendjadi suatu rumah jang baik.

Nah, bangsa Indonesia adalah sematjam jang demikian itu, bangsa Indonesia jang 88 djuta sekedar remeng-remeng, remeng-remeng dalam garis-garisnja, tetapi tjahajanja gilang-gemilang, tjahajanja selalu memanggil-manggil ditjakrawala, tjahajanja selalu menarik kepada fantasi dan inspirasi dari kesediaan berkorban daripada rakjat Indonesia itu, tjahajanja gilang-gemilang, sehingga rakjat Indonesia bersedia untuk berkorban mentjapai tjahaja gemilang itu, tetapi garis-garis besarnja remeng-remeng didalam matanja. Ia membutuhkan seorang arsitek. Maka arsitek itu adalah Saudara-saudara. Saja sendiri, terns terang sadja, pun tidak tahu garis-garis presis daripada masjarakat adil dan makmur itu. Saja sekadar mengetahui garis-garis besarnja, raja sekadar sebagai penjambung lidah daripada rakjat, ikut tertarik kepada tjahaja gemilang jang telah berpuluh-puluh tahun bersinar memanggil-manggil ditepi langit. Saja serahkan sekarang kepada Saudara-saudara, dibawah pimpinan Saudara Ketua, Mr Muhammad Yamin, untuk bertindak sebagai arsitek, membuat blueprint daripada masjarakat jang demikian itu, agar supaja blueprint ini nanti djikalau sudah diterima oleh Madjelis Permusjawaratan Rakjat, bisa dilaksanakan, diselenggarakan ioleh seluruh rakjat Indonesia jang 88 djuta, dengan meng-holopis kuntul bariskan segenap ia punja minat dan tenaga pekerdja. Blueprint jang achirnja, Saudara-saudara, harps membawa kita kepada paradiso jang tertulis didalam kitab Divina Commedia-nja Dante Alighieri.

Saudara-saudara, demikianlah amanat seremoniil jang saja berikan kepada Saudara-saudara. Sebagai tadi saja katakan, tjatatan-tjatatan tertulis didalam naskah sudah saja serahkan kepada Ketua Saudara-saudara. Moga-moga Tuhan Jang Maha Esa memberkati pekerdjaan Saudara-saudara. Moga-moga saudara dengan pimpinanNja dapat mengadakan blueprint jang demikian itu, dan nanti djikalau blue-print itu sudah selesai, marilah kita semua, Saudara-saudara, mengerahkan kita punja tenaga agar supaja blueprint itu terselenggara. Kita hidup didalam masjarakat adil dan makmur jang. Saudara saudara rentjanakan.

Sekian. Terima kasih.

Kategori:Pidato Soekarno