The works of John Dryden, now first collected in eighteen volumes. Volume 04
Chapter 2
4. Tuhan Yesus mengemban jabatan itu dengan penuh kerelaan {a}. Agar Dia dapat melaksanakannya, Dia dibuat takluk kepada hukum Taurat, {b} Dia menggenapi hukum itu dengan cara paling sempurna {c}, Dia menanggung sengsara yang paling hebat langsung di dalam jiwa-Nya{d} dan penderitaan yang paling menyakitkan di dalam tubuh-Nya {e}. Dia disalibkan dan mati, {f} Dia dikuburkan dan berada dalam kuasa maut, namun Dia tidak melihat kebinasaan. {g} Pada hari yang ketiga Dia bangkit dari antara orang mati, {h} dengan tubuh yang sama seperti yang telah dikenakan- Nya ketika Dia menderita. {i} Dengan tubuh itu juga Dia naik ke surga. Di sana Dia duduk di sebelah kanan Bapa-Nya {j} dan menjadi Jurusyafaat, {k} dan dari sana Dia akan kembali untuk menghakimi manusia dan para malaikat pada akhir dunia. {l}
a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l.
5. Oleh ketaatan-Nya yang sempurna, dan oleh karena Dia telah mempersembahkan diri-Nya sendiri satu kali kepada Allah oleh Roh yang kekal, Tuhan Yesus telah memuaskan sepenuhnya keadilan Bapa-Nya, {a} dan memperoleh pendamaian, bahkan juga warisan kekal dalam kerajaan Surga, bagi semua orang yang telah diberikan kepada-Nya oleh Bapa {b}.
a. b.
6. Karya penebusan baru dikerjakan Kristus secara nyata sesudah inkarnasi-Nya. Namun, kekuatan, keampuhan, dan kebaikan yang dihasilkan oleh karya itu dianugerahkan kepada orang-orang terpilih segala zaman berturut-turut, sejak permulaan dunia, di dalam dan melalui janji-janji, kias-kias, dan kurban-kurban persembahan. Dalam semua itu Dian dinyatakan dan ditandakan sebagai keturunan sang perempuan yang hendak meremukkan kepala ular, dan anak domba yang telah disembelih sejak permulaan dunia, yang tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya {a}.
a.
7. Dalam karya pengantaraan, Kristus bertindak sesuai dengan kedua tabiat-Nya. Melalui tiap-tiap tabiat dilakukan-Nya apa yang cocok dengan sifatnya masing- masing {a}. Akan tetapi, karena kesatuan Pribadi maka dalam Alkitab apa yang cocok dengan sifat satu tabiat kadang-kadang dihubungkan dengan Pribadi yang diberi nama menurut tabiat yang lain {b}.
a. b.
8. Kristus dengan pasti dan ampuh menerapkan dan memberikan penebusan kepada semua orang yang untuknya Dia telah memperolehnya {a}. Dia menjadi Jurusyafaat mereka{b} dan menyatakan kepada mereka rahasia-rahasia keselamatan {c}, dalam dan melalui Firman. Melalui Roh-Nya, Dia mendorong mereka dengan ampuh untuk percaya dan menjadi taat; melalui Firman dan Roh-Nya Dia mengendalikan hati mereka; {d} Dia mengalahkan semua musuh mereka dengan kekuatan dan hikmat-Nya yang mahakuasa, dengan memakai cara dan jalan yang paling sesuai dengan rencana keselamatan-Nya yang patut dikagumi dan yang tidak terselami {e}.
a. b. c. d. e.
Bab IX. Kehendak bebas
1. Allah telah memperlengkapi kehendak manusia dengan kebebasan kodrati yang tidak dipaksa dan tidak ditentukan oleh keharusan alamiah apa pun untuk berbuat baik atau jahat {a}.
a.
2. Ketika masih berada dalam kedudukan tidak bersalah, manusia memiliki kebebasan dan kuasa yang membuatnya mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik dan berkenan dan kepada Allah. {a} Akan tetapi, dalam hal itu ia peka terhadap perubahan, sehingga ia dapat saja jatuh dan kehilangan kemampuan itu {b}.
a. b.
3. Karena jatuh ke dalam keadaan berdosa, manusia sama sekali kehilangan kemampuan menghendaki harta rohani apapun yang menyertai keselamatan {a}. Maka itu, manusia kodrati sama sekali menolak harta itu{b} dan mati dalam dosa {c}, sehingga ia tidak mampu untuk dengan kekuatannya sendiri bertobat atau mempersiapkan diri untuk bertobat {d}.
a. b. c. d.
4. Bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa {a} dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani {b}. Akan tetapi, caranya begitu rupa sehingga, disebabkan kerusakan yang masih tinggal padanya, ia tidak menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, dan hanya itu saja, tetapi menghendaki juga apa yang jahat {c}.
a. b. c.
5. Baru dalam keadaan yang dicapainya setelah dimuliakan, kehendak manusia dikaruniai kebebasan yang sempurna dan tidak peka terhadap perubahan untuk menghendaki apa yang baik semata-mata {a}.
a.
Bab X. Panggilan yang ampuh
1. Allah berkenan memanggil semua orang yang telah dipredestinasikan-Nya untuk beroleh hidup yang, IV-x/1 kekal, dan hanya mereka itu saja, pada waktu yang telah ditentukan dan disetujui-Nya, dengan ampuh {a}, melalui Firman dan Roh- Nya,{b} dari dalam keadaan yang ditandakan dosa dan maut tempat mereka berada menurut kodratnya, menuju ke rahmat dan keselamatan oleh Yesus Kristus {c}. Dia menerangi akal budi mereka dengan cara rohani dan yang menyelamatkan, agar memahami hal-hal yang dari Allah; {d} Dia menjauhkan dari mereka yang keras seperti batu dan memberi mereka hati yang lunak seperti daging; {e} Dia membaharui kehendak mereka dan dengan kekuatan-Nya yang mahakuasa mengarahkan mereka pada apa yang baik; {f} Dia menarik mereka dengan ampuh kepada Yesus Kristus. {g} Namun, hal itu dilakukan-Nya sedemikian rupa, hingga mereka datang dengan sukarela, karena mereka dibuat rela oleh anugerah-Nya. {h}
a. b. c. d. e. g. h.
2. Panggilan yang ampuh itu berasal dari rahmat Allah yang bebas dan khusus semata-mata, bukan dari apa pun yang dilihat lebih dahulu akan ada dalam diri manusia {a}. Dalam hal ini manusia sama sekali pasif, hingga dia, karena dihidupkan dan dibarui oleh Roh Kudus, {b} dijadikan mampu menjawab panggilan itu dan memeluk anugerah yang ditawarkan dan disampaikan didalamnya {c}.
a. b. d.
3. Anak-anak yang terpilih dan yang meninggal dunia waktu masih kanak-kanak, dilahirkan kembali dan diselamatkan oleh Kristus melalui Roh {a} yang berkarya bila, di mana, dan dengan memakai cara yang dikehendaki-Nya {b}). Begitu pula halnya semua orang terpilih lainnya yang tidak dapat dipanggil secara lahiriah melalui pelayanan Firman. {c}
a. b. c.
4. Orang-orang lain, yang tidak terpilih, dapat saja dipanggil melalui pelayan Firman {a} dan mengalami pengaruh umum karya Roh dalam beberapa hal {b}. Namun, mereka tidak pernah datang sungguh-sungguh kepada Kristus dan karena itu mereka tidak dapat diselamatkan dengan cara lain apa pun, betapapun mereka berupaya menempuh kehidupan yang sesuai dengan terang kodrati dan dengan hukum agama yang mereka anut {d}. Menyatakan dan mempertahankan dalil mereka bahwa mereka dapat diselamatkan dengan cara lain adalah perbuatan yang merusak dan menjijikkan {e}.
a. b. c. d. e.
Bab XI. Pembenaran
1. Mereka yang Allah panggil dengan ampuh, dibenarkan-Nya juga dengan cuma- cuma {a}. Mereka tidak dibenarkan dengan cara mencurahkan kebenaran ke dalam diri mereka, tetapi dengan mengampuni dosa mereka dan menganggap serta menerima diri mereka sebagai orang benar. Pun mereka tidak dibenarkan berdasarkan sesuatu apa pun yang telah dikerjakan dalam diri mereka, atau yang dilakukan oleh mereka, tetapi karena Kristus semata-mata. Pun mereka tidak dibenarkan dengan cara memperhitungkan iman sendiri, yakni perbuatan percaya, atau ketaatan injili apa pun yang lain kepada mereka sebagai kebenaran, tetapi dengan cara memperperhitungkan ketaatan Kristus dan pelunasan oleh-Nya kepada mereka, {b} sedangkan mereka Dia dan bertumpu pada-Nya dan pada kebenaran-Nya oleh iman, yang tidak mereka peroleh dari dirinya sendiri, tetapi merupakan karunia Allah {c}.
a. b. c.
2. Iman yang dengan cara demikian menerima Kristus dan kebenaran-Nya serta dan bertumpu pada-Nya itu merupakan satu-satunya sarana pembenaran {a}. Namun, dalam arti orang yang dibenarkan itu iman itu tidak sendiri, tetapi selalu disertai semua anugerah yang menyelamatkan lainnya. Pun iman itu tidak mati, tetapi bekerja oleh kasih {b}.
a. b.
3. Oleh ketaatan dan kematian-Nya, Kristus membayar sepenuhnya utang semua orang yang dibenarkan dengan cara demikian, dan sebagai ganti mereka melakukan pelunasan yang sebenarnya, sungguh-sungguh, dan penuh terhadap keadilan Bapa- Nya {a}. Namun, Dia diserahkan oleh Bapa bagi mereka, {b} dan pelunasan-Nya diterima Bapa sebagai ganti mereka {c}, berdasarkan rahmat, bukan berdasarkan sesuatu apa pun dalam diri mereka sendiri. Karena itu, pembenaran mereka terjadi hanya berdasarkan rahmat yang bebas, {d} supaya baik keadilan Allah yang cermat maupun rahmatnya yang berlimpah dimuliakan olehnya dalam pembenaran orang-orang berdosa {e}.
a. b. c. d. e.
4. Dari kekekalan, Allah memutuskan untuk membenarkan semua orang terpilih {a}, dan setelah genap waktunya Kristus telah mati karena dosa mereka dan bangkit pula demi pembenaran mereka {b}. Meskipun demikian, mereka baru dibenarkan bila Roh Kudus, ketika saatnya tiba, membuat Kristus berhasil guna bagi mereka {c}.
a. b. c.
5. Allah telah mengampuni dosa-dosa mereka yang dibenarkan {a}. Meski mereka tidak mungkin kehilangan kedudukan selaku orang yang telah dibenarkan, {b} mungkin saja karena dosa-dosa mereka Allah bersikap tidak senang bagaikan seorang bapak terhadap mereka; maka wajah-Nya baru akan menyinari mereka kembali bila mereka merendahkan diri, mengaku dosanya, mohon diampuni, dan membaharui iman dan pertobatannya {c}.
a. b. c.
6. Pembenaran orang-orang percaya pada masa Perjanjian Lama dari semua sudut itu sama saja dengan pembenaran orang percaya pada masa Perjanjian Baru {a}.
a.
Bab XII. Pengangkatan sebagai anak-anak
1. Allah sudi memberi semua orang yang telah dibenarkan mengambil bagian dalam karunia pengangkatan sebagai anak {a}. di dalam dan karena Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Oleh karena itu mereka terhisap anak-anak Allah dan menikmati kebebasan serta hak-hak istimewa mereka; {b} nama Allah dan menikmati kebebasan serta hak-hak istimewa mereka; {b} nama Allah tertera pada mereka; {c} mereka menerima Roh yang menjadikan mereka anak Allah; {d} mereka beroleh keberanian dan jalan masuk kepada tahta anugerah; {e} mereka dibuat sanggup berseru, ya Abba, ya Bapa!; {f} Dia mengasihani, {g} melindungi, {h} mengasuh mereka,{i} dan menghukum mereka bagaikan seorang bapak; {j} namun mereka tidak pernah dikucilkan, {k} tetapi mereka dimeteraikan menjelang hari penyelamatan, {l} dan mewarisi janji- janji,{m} selaku ahli waris keselamatan yang kekal. {n}
a. b. c. d. e. f. f. h. i. j. k. l. m. n.
Bab XIII. Pengudusan
1. Dalam diri mereka yang dipanggil dengan ampuh dan dilahirkan kembali, diciptakan hati baru dan roh baru, dan mereka dikuduskan lebih jauh, sungguh- sungguh dan secara perseorangan, oleh kekuatan kematian dan kebangkitan Kristus {a}, melalui Firman dan Roh-Nya yang diam dalam diri mereka {b}. Kuasa seluruh tubuh dosa dihancurkan {e} dan berbagai hawa nafsunya makin hari makin dihidupkan dan diperkuat dalam semua anugerah-yang-menyelamatkan, {e} menuju ke praktik kekudusan yang sejati, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. {f}
a. b. c. d. e. f.
2. Pengudusan itu bersifat menyeluruh dan menyangkut manusia seutuhnya {a}, namun tidak sempurna dalam hidup ini, sebab di semua bagiannya masih tinggal beberapa sisa kerusakan {b}. Dari situlah lahirlah peperangan yang terus menerus dan yang tidak dapat diakhiri dengan pendamaian, sebab keinginan daging berlawanan dengan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan daging {c}.
a. b. c.
3. Dalam peperangan ini, kerusakan yang masih tinggal dapat saja untuk sementara waktu berada di atas angin {a}. Namun, karena Roh Kristus yang menguduskan terus- menerus menyediakan kekuatan baru maka bagian yang telah dilahirkan kembali akhirnya menang {b}. Dengan demikian orang-orang kudus bertumbuh dalam kasih karunia {c} dan menyempurnakan kekudusannya dalam takut akan Allah {d}.
a. b. c. d.
Bab XIV. Iman yang Menyelamatkan
1. Karunia iman, yang membuat orang-orang terpilih sanggup menjadi percaya, demi keselamatan jiwanya {a}, merupakan karya Roh Kristus di dalam hati mereka, {b} dan biasanya dikerjakan melalui pelayanan Firman {c}. Olehnya, dan oleh pelayanan sakramen-sakramen serta doa, iman itu juga bertambah besar dan kuat {d}.
a. b. c. d.
2. Oleh iman itu seorang Kristen percaya bahwa apa pun yang dinyatakan dalam Firman Adalah benar, karena kewibawaan Allah sendiri yang bersabda di dalamnya {a}. Ia menanggapi isi tiap-tiap bagaimana cara yang berbeda-beda. Perintah-perintah ditaatinya; {b} berhadapan dengan ancaman-ancaman ia gemetar; (c) dan janji-janji Allah untuk hidup ini dan hidup yang akan datang dipeluknya. {d} Akan tetapi, perbuatan-perbuatan utama iman yang menyelamatkan adalah, menyambut dan meraih Kristus serta bertumpu pada Dia seorang demi pembenaran, pengudusan, dan kehidupan kekal, yang diperoleh melalui perjanjian anugerah {e}.
a. b. c. d. e.
3. Iman itu berbeda-beda tingkat kekuatannya {a}, dan dapat saja sering dan dengan berbagai cara diserang dan diperlemah, namun beroleh kemenangan {b} dan dalam banyak orang bertumbuh hingga mencapai keyakinan penuh oleh Kristus {c}, yang menciptakan iman kita dan membawanya ke kesempurnaan {d}.
a. b. c. d.
Bab XV. Penyesalan yang membawa ke kehidupan
1. Penyesalan yang membawa ke kehidupan adalah anugerah injili. {a} Ajarannya perlu diberitakan oleh tiap-tiap pelayan Injil, sebagaimana diberitakannya pula iman kepada Kristus {b}.
a. b.
2. Olehnya orang berdosa, yang melihat dan menyadari betapa dosa-dosanya berbahaya, tetapi juga betapa dosa itu kotor serta menjijikkan karena berlawanan dengan kodrat Allah yang kudus dan hukum-Nya yang adil,dan yang mengamati rahmat-Nya dalam Kristus kepada mereka yang menyesal, begitu menangisi dan membenci dosa-dosanya itu, sehingga ia berbalik dari semua dosa itu dan berpaling kepada Allah {a}, dan berniat serta berupaya hendak berjalan bersama Dia dalam semua jalan perintah-perintah-Nya {b}.
a. b.
3. Penyesalan tidak boleh diandalkan seakan-akan merupakan cara melunasi dosa atau salah satu sebab pengampunannya {a}, karena pengampunan itu adalah tindakan rahmat Allah yang bebas di dalam Kristus. {b} Namun, penyesalan itu begitu perlu bagi semua orang berdosa, sehingga tanpa itu tidak seorang pun dapat mengharapkan pengampunan {c}.
a. b. c.
4. Sebagaimana dosa yang paling kecil pun patut diganjar dengan hukuman kekal, {a} begitu pula dosa yang paling besar pun tidak dapat mendatangkan hukuman kematian kekal atas orang-orang yang sungguh-sungguh menyesal {b}.
a. b.
5. Seharusnya orang tidak puas dengan penyesalan yang bersifat umum saja. Sebaliknya, tiap-tiap orang wajib berupaya untuk secara khusus menyesali tiap- tiap dosanya yang khusus {a}.
a.
6. Setiap orang wajib mengaku dosanya secara pribadi kepada Allah sambil berdoa memohon pengampunannya {a}. Bila ia melakukan pengakuan dan menanggalkan dosa- dosa itu, ia akan beroleh anugerah {b}. Begitu pula ia yang menjadi batu sandungan bagi saudaranya atau bagi Gereja Kristus seharusnya bersedia menyatakan penyesalannya kepada mereka yang dilukai hatinya, melalui pengakuan pribadi atau di depan umum dan kesedihan atas dosanya {c}. Lalu mereka itu harus berdamai kembali dengan dia dan menyambut dia dalam kasih {d}.
a. b. c. d.
Bab XVI. Perbuatan baik
1. Yang merupakan perbuatan baik hanya perbuatan yang Allah perintahkan dalam Firman-Nya yang kudus, {a} bukan yang tanpa perintah Firman itu direka-reka oleh manusia, karena fanatisme buta atau dengan dalih mengupayakan sesuatu yang baik {b}.
a. b.
2. Perbuatan baik itu, yang dilakukan dalam ketaatan pada perintah-perintah Allah, adalah buah dan bukti iman yang sejati dan hidup {a}. Olehnya orang percaya menunjukkan rasa terima kasih, {b} menguatkan keyakinan mereka {c}, membangun saudara-saudaranya, {d} menjadikan lebih indah pengakuan mereka tentang Injil, {e} menyumbat mulut kaum lawan, {f} dan memuliakan Allah. {g} Mereka itu buatan Dia, diciptakan dalam Yesus Kristus dengan maksud{h} supaya beroleh buah yang membawa pada kekudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. {i}.
a. b. c. d. e. f. h. i.
3. Kemampuan mereka untuk melakukan perbuatan baik sama sekali tidak datang dari mereka sendiri, tetapi seluruhnya dari Roh Kristus {a}. Supaya mereka dibuat mampu, diperlukan, selain karunia-karunia yang telah mereka terima, pengaruh nyata Roh Kudus itu untuk mengerjakan dalam diri mereka baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya {b}. Namun, seharusnya hal ini tidak menyebabkan mereka menjadi lalai, seakan-akan mereka tidak terikat untuk menunaikan tugas kewajiban apa pun kecuali atas dorongan khusus dari Roh. Sebaliknya, mereka harus berupaya membangkitkan karunia Allah yang ada dalam diri mereka {c}.
a. b. c.
4. Pun mereka yang dalam hal ketaatan telah mencapai tingkat ketaatan tertinggi yang dapat dijangkau dalam kehidupan ini, sama sekali tidak mampu menghasilkan amal berlebih dan berbuat melebihi tuntutan Allah. Mereka malah ketinggalan dalam banyak hal yang sesungguhnya wajib mereka laksanakan {a}.
a.
5. Kita tidak layak memperoleh pengampunan dosa atau hidup kekal dari Allah karena perbuatan kita yang baik pun, karena perbuatan itu sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan datang, dan karena jarak tidak terhingga yang ada antara kita dengan Allah. Alasannya, tidak mungkin melalui perbuatan itu kita membawa manfaat bagi Dia atau melunasi utang dosa kita yang sudah- sudah {a}. Sebaliknya, apabila kami telah berbuat sedapat mungkin, tidak berguna {b}. Lagi pula, sejauh perbuatan itu baik, datangnya dari Roh-Nya {c}, dan sejauh merupakan hasil upaya kita, perbuatan itu tercemar dan tercampur dengan kelemahan dan ketidaksempurnaan begitu rupa, sehingga tidak mungkin perbuatan itu bertahan di hadapan pengadilan Allah yang keras. {d}
a. b. c. d.
6. Meskipun demikian, karena orang-orang percaya sendiri telah diterima oleh karena Kristus maka juga perbuatan baik mereka diterima di dalam Dia {a}. Bukan seolah-olah perbuatan itu dalam hidup ini sama sekali tidak tercela dan tidak pantas ditegur dalam pandangan Allah,{b}tetapi Dia memandangnya dalam diri Anak- Nya dan karena itu berkenan menerima dan mengganjar perbuatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, meskipun disertai banyak kelemahan dan ketidaksempurnaan {c}.
a. b. c.
7. Adapun perbuatan yang dilakukan manusia yang tidak dilahirkan kembali, menurut misterinya dapat saja sesuai dengan perintah Allah dan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain {a}. Akan tetapi, perbuatan itu tidak keluar dari hati yang disucikan oleh iman{b} dan tidak dilakukan dengan cara yang benar seturut Firman {c}, tidak juga tertuju ke tujuan yang tepat, yaitu kemuliaan Allah {d}. Karena itu, perbuatan itu penuh dosa dan tidak mungkin berkenan kepada Allah atau membuat seorang manusia layak menerima anugerah Allah {e}. Namun, kalau orang-orang itu mengabaikannya, mereka bertambah berdosa dan tidak mungkin menyenangkan Allah. {f}
a. b. c. d. e. f.
Bab. XVII. Ketekunan orang-orang kudus
1. Mereka yang telah diterima Allah di dalam Yang Dikasihi-Nya, yang telah dipanggil-Nya dengan ampuh, dan yang telah dikuduskan-Nya oleh Roh-Nya, tidak mungkin jatuh seluruhnya dan untuk seterusnya sehingga mereka kehilangan kedudukan seorang yang telah beroleh rahMat Mereka pasti akan bertekun dalam kedudukan seorang yang telah beroleh rahMat Mereka pasti akan bertekun dalam kedudukan itu sampai pada akhirnya dan akan memperoleh keselamatan kekal {a}.
a.
2. Ketekunan orang-orang kudus ini tidak tergantung pada kehendak bebas mereka sendiri, tetapi pada sifat tak berubah-ubah dekret pemilihan, yang mengalir dari kasih Allah Bapa yang cuma-cuma dan tidak berubah-ubah {a}, dan pada keampuhan jasa dan syafaat Yesus Kristus,{b} diamnya Roh dan benih ilahi di dalam mereka {c}, serta sifat perjanjian anugerah {d}. Semua itu juga menyebabkan ketekunan tersebut pasti dan tidak dapat keliru {e}.
a. b. c. d. e.
3. Meskipun demikian, oleh sebab godaan iblis dan dunia, kekuatan kerusakan yang masih tinggal dalam diri mereka, dan pengabaian sarana-sarana yang bertujuan hendak melindungi mereka, orang kudus dapat jatuh ke dalam dosa gawat {a} dan selama beberapa waktu berkanjang dalam dosa itu {b}. Olehnya mereka mendatangkan ketidaksenangan Allah atas diri mereka {c} dan mendukakan Roh-Nya yang Kudus; {d} mereka sampai tingkat tertentu kehilangan anugerah dan penghiburan yang telah diperolehnya; {e} hati mereka dikeraskan {f} dan hati nurani mereka luka; {g} mereka merugikan orang lain dan menjadi batu sandungan baginya; {h} dan mereka mendatangkan hukuman-hukuman sementara atas diri mereka.{i}
a. b. c. d. e. f. g. h. i.
Bab XVIII. Kepastian tentang anugerah dan keselamatan
1. Orang munafik dan orang lain yang tidak dilahirkan kembali dapat saja menipu diri sendiri dengan pengharapan sia-sia dan dengan anggapan yang bersifat daging seolah-olah mereka telah beroleh anugerah Allah dan kedudukan seorang yang diselamatkan {a}. Pengharapan itu akan musnah {b}. Akan tetapi, mereka yang benar- benar percaya kepada Tuhan Yesus, sungguh-sungguh mengasihi Dia, dan berikhtiar untuk hidup di hadapan-Nya dengan hati nurani yang murni, dapat dalam kehidupan ini merasa pasti telah menerima kedudukan orang yang beroleh rahmat {c}, dan mereka boleh bersukacita dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Pengharapan itu tidak akan mengecewakan mereka {d}.
a. b. d.
2. Kepastian itu bukanlah keyakinan yang bersifat dugaan dan kemungkinan belaka, yang berlandaskan pengharapan yang dapat saja keliru {a}, melainkan kepastian iman, yang tidak mungkin keliru. Dasarnya ialah janji-janji keselamatan, {b} yang benar karena datang dari Allah, kehadiran nyata karunia-karunia yang menjadi pokok janji-janji itu dalam batin, {c} kesaksian Roh yang menjadikan kita anak Allah, yang bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita anak-anak Allah {d}. Roh itulah jaminan warisan kira, dan Dia memeteraikan kita menjelang hari penyelamatan {e}.
a. b. c. d. e.
3. Kepastian yang tidak mungkin keliru itu termasuk hakikat iman. Kendati demikian, mungkin saja seorang yang benar-benar percaya harus menunggu lama dan mengalami banyak kesulitan sebelum mendapat bagian di dalamnya {a}. Namun, karena oleh Roh ia dibuat mampu mengetahui apa yang Allah karuniakan kepadanya dengan cuma-cuma, ia dapat mencapai kepastian itu tanpa wahyu yang luar biasa, dengan memakai sarana-sarana biasa secara tepat {b}. Karena itu, tiap-tiap orang harus sungguh-sungguh berusaha supaya panggilan dan pilihannya semakin teguh {c}, supaya dengan demikian hatinya dilapangkan dengan damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus, dengan kasih dan rasa syukur kepada Allah, dan dengan kekuatan serta kegirangan dalam menunaikan tugas-tugas kewajibannya. Semua itu merupakan buah wajar kepastian itu; {d} jadi, kepastian itu sama sekali tidak membuat manusia cenderung untuk sembrono.
a. b. c. d. e.
4. Pada orang-orang yang benar-benar percaya, kepastian mengenai keselamatan mereka dapat dengan berbagai cara mengalami goncangan dan pengurangan, bahkan untuk sementara waktu menghilang. Sebabnya antara lain kelalaian dalam upaya memeliharanya, kejatuhan dalam dosa berat yang tertentu, atau godaan yang datang tiba-tiba atau yang sangat hebat; kadang-kadang juga Allah menyembunyikan cahaya wajah-Nya dan membiarkan mereka yang takut akan Dia pun berjalan dalam kegelapan dan tidak mendapat terang {a}. Namun, mereka tidak pernah kehilangan sama sekali benih ilahi, kehidupan iman, kasih kepada Kristus dan saudara-saudaranya, ketulusan hatinya, dan kesadaran akan tugas dan kewajibannya, yang sesudah waktu tertentu menjadi pangkal karya Roh Kudus yang menghidupkan kembali kepastian itu {b}. Hal-hal itu juga untuk sementara waktu menjadi sokongan bagi mereka sehingga mereka tidak putus asa {c}.
a. b. c.
Bab XIX. Hukum Allah