The works of John Dryden, now first collected in eighteen volumes. Volume 04

Chapter 1

Chapter 13,372 wordsPublic domain

Bab I. Kitab Suci

1. Terang alam dan karya-karya penciptaan serta pemeliharaan memperlihatkan kebaikan hikmat, dan kuasa Allah sedemikian rupa, hingga manusia tidak dapat berdalih. {a}"Namun, semua ini tidak cukup untuk memberi pengetahuan mengenai Allah dan kehendak-Nya yang perlu untuk keselamatan {b}. Oleh karena itu, Tuhan berkenan menyatakan diri dan menampakkan kehendak-Nya itu kepada Gereja-Nya pada berbagai masa serta dengan berbagai cara {c},dan kemudian menyajikannya seluruhnya secara tertulis, dengan maksud supaya kebenaran dipelihara dan disebarkan dengan lebih baik dan supaya Gereja diteguhkan dan dihibur berhadapan dengan godaan daging dan dengan kebencian Iblis serta dunia {d}. Maka itu, Kitab Suci sangat perlu,{e} sebab cara-cara yang dulu Allah pakai untuk menyatakan kehendak kehendak-Nya kepada umat-Nya kini telah berhenti.{f}

a. b. c. d. e. f.

2. Dalam apa yang dinamakan Kitab Suci atau Firman Allah yang tertulis, kini dicakup semua Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yaitu yang ini: Dalam Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-hakim, Rut, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-Raja, 2 Raja-Raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, Ester, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.

Dalam Perjanjian Baru: Injil menurut Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Para Rasul, Surat Paulus kepada jemaat di Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, Filemon, Surat kepada orang Ibrani, Surat Yakobus, Surat Petrus yang pertama dan kedua, Surat Yohanes yang pertama, kedua, dan ketiga, Surat Yudas, Wahyu.

Semua Kitab itu diberikan melalui ilham dari Allah, agar menjadi patokan iman dan kehidupan.{a}

a.

3. Kitab-Kitab yang lazim dinamakan Kitab-Kitab Apokrif tidak diilhami oleh Allah, dan sebab itu tidak termasuk Kanon Alkitab. Oleh karena itu, kitab-kitab tersebut tidak berwibawa dalam Gereja Allah dan seharusnya tidak diterima secara resmi atau digunakan dengan cara lain dari tulisan-tulisan manusiawi lainnya.{a}

a.

4. Wibawa Kitab Suci, yang membuatnya layak dipercayai dan dipatuhi, tidak tergantung pada kesaksian seorang pun atau gereja apa pun, tetapi seluruhnya tergantung pada Allah, Pengarangnya(yang adalah kebenaran sendiri). Oleh karena itu, Kitab Suci itu harus diterima, sebab Kitab itu adalah Firman Allah.{a}

a.

5. Kita boleh saja terdorong dan terbawa untuk memandang tinggi dan menghormati Kitab Suci oleh kesaksian Gereja {a}. Lagi pula, sejumlah alasan lain lagi menghasilkan bukti berlimpah-limpah bahwa Kitab Suci itu Firman Allah, yaitu sifat surgawi isinya, keampuhan ajarannya, keluhuran gaya bahasanya, keselarasan semua bagiannya, tujuan keseluruhannya (yakni memberi segala kemuliaan kepada Allah), disingkapkannya sepenuhnya satu-satunya jalan keselamatan untuk manusia, keunggulannya yang tidak tertandingi dari sejumlah besar segi lain, dan kesempurnaannya yang genap. Kendati demikian, kita yakin dan pasti sepenuhnya tentang kebenarannya yang tidak bisa mengandung kesalahan dan tentang wibawanya yang ilahi, berdasarkan karya Roh Kudus dalam batin kita, yang memberi kesaksian melalui dan bersama Firman itu dalam hati kita {b}.

a. b.

6. Seluruh rencana Allah mengenai segala sesuatu yang perlu demi kemuliaan-Nya sendiri dan demi keselamatan, iman, serta kehidupan manusia, tercantum secara tersurat dalam Alkitab atau dapat dijabarkan dari Alkitab melalui penalaran yang tepat dan tak terelakkan.

Kapan pun, tidak satu pun boleh ditambahkan padanya, apakah oleh wahyu-wahyu baru dari Roh, atau oleh tradisi-tradisi manusia {a}. Meskipun demikian, kami mengakui bahwa diperlukan penerangan batin oleh Roh Allah agar kita memahami hal-hal yang dinyatakan dalam Firman dan dengan demikian memperoleh keselamatan {b}. Kami mengakui pula bahwa dalam ibadah kepada Allah dan dalam pemerintahan oleh Gereja terdapat situasi yang serupa dengan yang pada galibnya muncul dalam urusan manusiawi dan dalam masyarakat umum. Hal-hal seperti itu harus diatur dengan memakai terang kodrati dan kebijaksanaan Kristen, menurut kaidah-kaidah umum dalam Firman, yang senantiasa perlu diperhatikan {c}.

a. b. c.

7. Tidak semua hal dalam Alkitab sama-sama jelas dengan sendirinya, sama-sama terang bagi semua orang {a}. Akan tetapi, hal-hal yang perlu diketahui, dipercayai, dan dipatuhi demi keselamatan dikemukakan dan disingkapkan dengan begitu jelas dalam salah satu bagiannya, sehingga baik orang berpendidikan maupun orang yang tidak berpendidikan, sanggup mencapai pengertian memadai tentangnya {b}.

a. b.

8. Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani(bahasa ibu umat Allah pada zaman dulu) dan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani (yang ada pada masa Perjanjian Baru ditulis umum dikenal bangsa-bangsa) diilhamkan secara langsung oleh Allah. Dia menjaga juga, melalui perhatian dan pemeliharaan-Nya yang khusus, supaya keduanya tetap murni sepanjang zaman. Oleh karena itu, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu autentik {a}, sehingga, bila timbul perselisihan pendapat dalam hal agama, Gereja selalu harus menjadikannya sebagai instansi banding yang tertinggi {b}. Tetapi, bahasa-bahasa asli itu tidak dikenal oleh seluruh umat Allah, padahal umat itu berhak atas Alkitab dan Alkitab itu penting bagi mereka, dan mereka diperintahkan membaca serta menyelidikinya dengan rasa takut kepada Allah {c}. Oleh karena itu, bila Alkitab datang kepada sesuatu bangsa, orang wajib menerjemahkannya ke dalam bahasa rakyat,{e} supaya Firman Allah diam secara berlimpah dalam semua orang, sehingga mereka menyembah Dia dengan cara yang dapat berkenan kepada-Nya dan mempunyai pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.{f}

a. b. c. d. e. f.

9. Yang menjadi kaidah yang tidak dapat keliru dalam menafsirkan Alkitab ialah Alkitab itu sendiri. Oleh karena itu, bila timbul persoalan berkenaan dengan arti yang sebenarnya dan genap salah satu nas Alkitab - arti itu bukannya jamak, melainkan tanggal - maka nas itu harus diselidiki dan dipahami melalui nas-nas lain, yang berbicara lebih jelas.{a}

a.

10. Hakim Tertinggi, yang olehnya semua perselisihan pendapat perihal agama mesti diputuskan, dan semua dekret konsili-konsili, pendapat pengarang-pengarang kuno, ajaran manusia, dan ucapan-ucapan Roh melalui orang-orang perseorangan harus diperiksa, dan yang keputusan-Nya wajib kita terima dengan patuh, tidak lain adalah Roh Kudus, yang bersabda dalam Alkitab {a}.

a.

Bab II. Allah dan Trinitas yang Kudus

1. Hanya ada satu {a} Allah yang esa,yang hidup dan sejati. {b} Zat-Nya dan kesempurnaan-Nya tidak terbatas; {c} Dia adalah Roh yang maha murni {d}.tidak kelihatan, {e} tidak memiliki badan, anggota-anggota badan, {f}atau bernafsu, {g} tidak berubah-ubah; {h} tidak terhingga, {i} abadi, {j} tidak terpahami; {k} mahakuasa, {l} berhikmat sempurna, {m} mahakudus, {n} mahabebas, (O) mahamutlak. {p} Dia menjadikan segala sesuatu demi kemulian-Nya sendiri{q}menurut rencana kehendak-Nya yang tidak berubah-ubah dan mahaadil. {r} Dia mahapengasih, {s} mahamurah, penyayang, panjang sabar, berlimpah kebaikan dan kebenaran-Nya. Dia mengampuni kesalahan, pelanggaran, dan dosa. {t} Dia adalah Pemberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.{u} Tetapi juga mahaadil dan mahadasyat dalam hukuman-hukuman-Nya; {v} Dia membenci segala dosa, {w} dan sekali-kali tidak akan membebaskan orang yang bersalah dari hukuman. {x}

a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. p. q. r. s. t. u. v. w. x.

2. Allah mempunyai seluruh hidup, {a} kemuliaan, {b} kebaikan, {c} kebahagiaan, {d} dari dalam diri-Nya serta tidak memerlukan makhluk apa pun yang telah dijadikan- Nya {e}dan tidak mendapatkan kemuliaan apa pun dari mereka, {f} tetapi hanya memperlihatkan kemuliaan-Nya sendiri di dalam, melalui, untuk dan terhadap mereka. Hanya Dia saja sumber segala sesuatu yang ada. Segala sesuatu adalah dari Dia; oleh Dia, dan kepada Dia, {g} dan Dia berdaulat mutlak atasnya sehingga dapat berbuat olehnya, untuknya, atau terhadapnya apa saja yang berkenan kepada-Nya. {h} Dalam pandangan-Nya semua hal terbuka dan nyata. {i} Pengetahuan-Nya tak mengenal batas, tak dapat keliru dan tidak tergantung pada makhluk,{j} sehingga bagi-Nya tidak ada yang kebetulan atau tak pasti. {k} Dia mahakudus dalam segala perintah-Nya. {l} Kepada-Nya layak diberikan oleh malaikat, atau kepatuhan apa pun yang berkenaan kepada-Nya untuk menuntutnya dari mereka. {m}

a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m.

3. Dalam kesatuan keAllahan ada tiga Pribadi, yang satu dalam hal Zat-Nya, kuasa-Nya, dan kekekalan-Nya, yaitu Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, {a} Sang Bapa tidak berasal dari siapa pun, tidak diperanakkan dan tidak keluar; Sang Anak secara kekal diperanakkan dari Sang Bapa; {b} Roh Kudus secara kekal keluar dari Sang Bapa dan Sang Anak {c}.

a. b. c.

Bab III. Putusan Allah yang Kekal

1. Allah, dari kekal, telah menetapkan segala sesuatu yang terjadi, melalui rencana kehendak-Nya sendiri yang berhikmat sempurna dan mahakudus, dengan bebas dan tidak dapat diubah-ubah. {a} Namun, dengan demikian Allah tidak menjadi Penyebab dosa, {b} kehendak makhluk tidak diperkosa, dan kebebasan atau sifat kebetulan sebab-sebab sekunder tidak dihapuskan, malah diteguhkan. {c}

a. b. c.

2. Meskipun Allah mengetahui segala sesuatu yang akan atau dapat terjadi dalam keadaan apa pun yang dapat diandaikan {a}, Dia tidak memutuskan sesuatu apa pun karena dilihat-Nya lebih dahulu bahwa hal itu bakal berlangsung, atau akan terjadi kalau keadaan ini atau itu berlaku {b}.

a. b.

3. Oleh keputusan Allah, demi pernyataan kemuliaan-Nya, beberapa orang dan malaikat {a} dipredestinasi untuk kehidupan yang kekal, beberapa lagi telah dari semula telah ditentukan untuk kematian yang kekal. {b}

a. b.

4. Malaikat-malaikat dan orang-orang yang telah dipredestinasikan dan dari semula ditentukan dengan demikian itu, ditunjukkan secara khusus dan penunjukan itu tidak mungkin diubah. Jumlah mereka begitu pasti dan definitif, sehingga tidak dapat ditambahkan atau dikurangkan {a}.

a.

5. Anggota umat manusia yang dipredestinasi untuk kehidupan, telah dipilih Allah sebelum dasar dunia diletakkan, menurut maksud-Nya yang kekal dan yang tak dapat berubah-ubah, dan menurut rencana yang tersembunyi serta perkenan kehendak-Nya. Dia telah memilih mereka di dalam Kristus untuk menerima kemuliaan kekal {a},semata-mata berdasarkan rahmat-Nya yang cuma-cuma dan kasih-Nya. Iman, atau perbuatan baik, atau ketekunan dalam iman atau perbuatan baik itu, atau hal lain apapun yang bagaimanapun dilihat-Nya lebih dahulu alam makhluk, tidak mungkin menjadi syarat atau sebab yang mendorong Dia untuk berbuat begitu {b}. Semua itu dilakukan-Nya demi pujian rahmat-Nya yang mulia {c}.

a. b. c.

6. Sebagaimana Allah telah menentukan orang-orang terpilih untuk kemuliaan, begitu pula, oleh maksud kekal dan mahabebas kehendak-Nya, telah ditentukan-Nya dari semula semua sarana untuk itu {a}. Oleh karena itu, orang terpilih, yang telah jatuh dalam diri Adam, ditebus oleh Kristus,{b} dipanggil dengan ampuh untuk percaya kepada Kristus oleh Roh-Nya yang bekerja pada waktu yang tepat, dibenarkan, diangkat menjadi anak, dikuduskan {c}, dan dipelihara oleh kekuatan- Nya melalui iman, hingga menerima keselamatan {d}. Tidak ada yang ditebus oleh Kristus, dipanggil dengan ampuh, dibenarkan, diangkat menjadi anak, dikuduskan, dan diselamatkan selain mereka yang dipilih saja {e}.

a. b. c. d. e.

7. Menurut rencana kehendak-Nya yang tidak terselami, yang membuat Dia mengulurkan atau menahan anugerah menurut perkenan-Nya, demi kemuliaan kedaualatan-Nya atas makhluk-Nya, Allah telah berkenan untuk melewatkan umat manusia selebihnya, dan menentukan agar mereka dikenai keaiban dan murka atas dosa mereka, demi pujian keadilan-Nya yang mulia {a}.

a.

8. Ajaran tentang misteri luhur ini, yaitu predestinasi, harus diuraikan dengan kearifan yang khusus dan sangat hati-hati {a}, supaya orang-orang yang menaruh perhatian kepada kehendak Allah yang dinyatakan dalam Firman-Nya, dan yang mematuhinya, boleh menimba keyakinan akan pemilihan kekal mereka dari kepastian panggilan mereka yang ampuh {b}. Maka itu, ajaran ini akan menyediakan bahan pujian, penghormatan, dan kekaguman terhadap Allah, {c} dan kerendahan hati, kerajinan, dan penghiburan berlimpah bagi semua orang yang sungguh-sungguh taat kepada Injil {d}.

a. b. c. d.

Bab IV. Penciptaan

1. Allah, Bapa, Anak, dan Roh Kudus {a} telah berkenan, demi penyataan kemuliaan kekuasaan, hikmat, dan kebaikan-Nya yang kekal, {b} pada mulanya menciptakan, artinya menjadikan dari yang tiada dunia beserta segala isinya yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, dalam waktu enam hari, dan semuanya sungguh amat baik {c}.

a. b. c.

2. Setelah Allah menjadikan semua makhluk lainnya, Dia menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan, {a} dengan jiwa yang berbudi dan tak dapat mati,{b} diperlengkapi dengan pengetahuan, kebenaran dan kekudusan sejati, menurut gambar-Nya sendiri {c}, dengan isi hukum Allah tertulis dalam hati mereka{d} dan dengan kemampuan memenuhinya {e}. Namun, manusia itu dapat melakukannya sendiri, yang dapat mengalami perubahan. {f} Di samping hukum ini, yang tertulis dalam hatinya, mereka diperintahkan untuk tidak makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Selama dengan mematuhi perintah itu, mereka berbahagia oleh persekutuan dengan Allah,{g} dan mereka berkuasa atas segala makhluk.{h}

a. b. c. d. e. f. g. h.

Bab V. Pemeliharaan

1. Allah, Pencipta Agung segala sesuatu, menopang {a}, mengendalikan, mengatur, dan memerintah semua makhluk, kejadian, dan dalam hal, {b} dari yang paling besar hingga yang paling kecil {c}, melalui pemeliharaan-Nya yang berhikmat sempurna dan mahakudus, {d} menurut pra-pengetahuan-Nya yang tidak dapat keliru, {e} dan menurut rencana kehendak-Nya sendiri, yang bebas dan tak dapat berubah-ubah, {f} agar kemuliaan hikmat, kuasa, keadilan, kebaikan, dan kemurahan dipuji-puji. {g}

a. b. c. d. e. f. g.

2. Dari sudut pandangan pra-pengetahuan dan dekret Allah, yang adalah Penyebab pertama, semua hal berlangsung dengan cara yang tidak dapat diubah atau digagalkan {a}. Namun, oleh pemeliharaan yang sama, ditetapkan-Nya agar semua hal itu terjadi secara mutlak perlu, bebas, atau kebetulan, sesuai dengan sifat sebab-sebab sekunder {b}.

a. b.

3. Dalam pemeliharaan-Nya yang biasa, Allah menggunakan sarana-sarana {a}. Kendati demikian, Dia bebas berkarya di luar {b}. di atas {c}, dan bertentangan dengannya, menurut perkenan-Nya {d}.

a. b. c. d.

4. Kuasa Allah yang mahakuat, hikmat-Nya yang tidak terselami, dan kebaikan-Nya yang tidak terhingga tampak dalam pemeliharan-Nya sedemikian rupa, hingga bahkan juga meliputi kejatuhan pertama dan semua dosa itu dibiarkan saja {b}. Sebaliknya, Dia membiarkan dosa-dosa itu sekaligus membatasinya dengan cara yang berhikmat sempurna dan mahakuat {c}, dan selain itu mengatur dan mengendalikannya, dengan perencanaan yang beraneka ragam, demi tujuan-Nya yang kudus. {d} Sekalipun demikian, sifatnya yang berdosa datang dari makhluk, bukan dari Allah, sebab Dia, yang adalah mahakudus dan mahaadil, tidak mungkin menyebabkan atau membenarkan dosa {e}.

a. b. c. d. e.

5. Allah yang berhikmat sempurna, mahaadil, dan mahamurah itu sering membiarkan anak-anak-Nya untuk sementara waktu menghadapi berbagai godaan dan kerusakan hati mereka sendiri, untuk menghukum mereka atas dosa-dosa mereka di masa lalu atau untuk membuka mata mereka bagi kekuatan tersembunyi kerusakan dan tipu daya hatinya. Maksud-Nya agar mereka dibuat rendah hati, {a} dan untuk membuat mereka semakin erat dan terus menerus tergantung pada sokongan dari diri-Nya, dan semakin waspada terhadap segala kesempatan berdosa yang bakal timbul. Di samping itu, ada lagi berbagai tujuan lain yang adil serta kudus {b}.

a. b.

6. Hati orang-orang jahat dan fasik dibutakan dan ditegarkan Allah, {a} selaku Hakim yang adil, karena dosanya di masa lalu. Dia menahan anugerah-Nya dari mereka, yang sanggup menerangi akal budi mereka dan mempengaruhi hati mereka; {b} adakalanya Dia malah mencabut pemberian yang telah mereka peroleh {c}, dan menghadapkan mereka pada hal-hal yang, karena kerusakan mereka, menjadi alasan untuk berdosa. {d} serta menyerahkan mereka pada hawa nafsu mereka sendiri, godaan dunia, dan kuasa iblis {e}. Oleh karena itu, hati mereka malah bertambah keras, pun sementara mereka berada dalam lingkungan pengaruh sarana- sarana yang Allah pakai untuk memperlunak hati orang-orang lain.{f}

a. b. c. d. e. f.

7. Sebagaimana pemeliharaan Allah secara umum menjangkau semua makhluk, begitu juga dengan cara yang sangat istimewa pemeliharaan itu mengasuh Gereja-Nya dan mengatur segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi Gereja itu {a}.

a.

Bab VI. Kejatuhan manusia, dosa, dan hukuman atas dosa itu

1. Nenek moyang kita yang pertama dibujuk oleh kelicikan dan godaan iblis, dan berdoa dengan memakan buah yang terlarang {a}. Allah berkenan, menurut rencana- Nya yang hikmat dan kudus, membiarkan dosa mereka itu terjadi, sebab dia bermaksud hendak memberinya tempat demi kemuliaan-Nya sendiri {b}.

a. b.

2. Oleh dosa itu mereka jatuh sehingga kehilangan kebenaran mereka yang semula dan persekutuan dengan Allah. {a} Dengan demikian mereka mati dalam dosa {b} dan sama sekali tercemar dalam segala bakat serta bagian jiwa dan tubuh mereka {c}.

a. b. c.

3. Oleh karena mereka adalah cikal bakal seluruh umat manusia maka kesalahan yang disebabkan dosa ini dianggap sebagai kesalahan seluruh keturunannya, {a} yang berasal dari mereka karena diperanakkan dengan cara yang biasa {b}, dan kematian dalam dosa dan kodrat yang rusak itu diteruskan kepada mereka ini.

a. b.

4. Kerusakan semula ini membuat kita sama sekali kehilangan kemampuan dan kekuatan kita serta menentang segala kebaikan {a}, dan dengan senang hati melakukan apa saja yang jahat {b}. Darinya berasal segala pelanggaran nyata {c}.

a. b. c.

5. Selama hidup ini, kerusakan kodrat itu tetap ada dalam diri mereka yang telah dilahirkan kembali. {a} Meskipun kerusakan itu telah diampuni dan dimatikan melalui Kristus, kerusakan itu sendiri dan semua gerak geriknya sungguh-sungguh merupakan dosa dalam arti yang sebenarnya {b}.

a. b. f. g. h.

Bab VII. Perjanjian Allah dengan Manusia

1. Jarak antara Allah dengan ciptaan sangat besar. Makhluk-makhluk berbudi harus mematuhi Dia sebagai Pencipta mereka, namun mereka tidak dapat bersukacita dalam Dia sebagai kebahagiaan dan pahala mereka kecuali karena keramahan Allah yang datang dari kehendak-Nya yang bebas. Sikap ramah itu berkenan diungkapkan-Nya dengan cara perjanjian {a}.

a.

2. Perjanjian pertama yang diikat dengan manusia, adalah perjanjian perbuatan {a}. Di dalamnya, kepada Adam dan dalam dia kepada keturunannya,{b} dijanjikan kehidupan, dengan syarat ketaatan yang sempurna dan perseorangan {c}.

a. b. c.

3. Oleh kejatuhannya, manusia telah membuat dirinya tidak sanggup lagi memperoleh kehidupan melalui perjanjian itu. Maka itu, Tuhan berkenan membuat perjanjian yang kedua {a}, yang lazim disebut perjanjian anugerah. Di dalamnya Dia menawarkan kepada orang-orang berdosa kehidupan dan keselamatan oleh Yesus Kristus, berdasarkan rahmat semata-mata. Tawaran itu disertai tuntutan agar mereka percaya kepada-Nya demi keselamatannya, {b} dan janji akan menganugerahkan Roh Kudus-Nya kepada semua orang yang ditentukan akan memperoleh kehidupan kekal, untuk menjadikan mereka rela dan sanggup percaya {c}.

a. b. c.

4. Perjanjian anugerah itu acap kali dikemukakan dalam Alkitab dengan nama wasiat. Nama itu mengacu pada kematian Yesus Kristus, yang adalah pembuat wasiat itu, dan pada warisan kekal serta segala hal yang termasuk padanya, yang diwariskan di dalam wasiat itu {a}.

a.

5. Perjanjian itu diselenggarakan dengan cara yang berlainan pada masa hukum Taurat dan pada masa Injil {a}. Pada zaman hukum Taurat, perjanjian itu diselenggarakan melalui janji-janji, nubuat-nubuat, kurban-kurban persembahan, sunat, anak domba Paskah, dan kias-kias serta pranata-pranata lain yang diberikan kepada bangsa Yahudi dan yang semuanya merupakan perlambang yang menunjuk kepada Kristus yang akan datang {b}. Untuk masa itu, hal-hal tersebut memadai dan ampuh, sehingga, melalui karya Roh Kudus, dapat mengajarkan dan membina orang-orang terpilih dalam kepercayaan kepada Mesias yang telah dijanjikan. {c} Oleh Dia mereka pun beroleh pengampunan penuh dosa-dosa mereka dan keselamatan kekal. Pada zaman itu, perjanjian tersebut disebut Perjanjian Lama {d}.

a. b. c. d.

6. Pada zaman Injil, ketika Kristus, yang adalah wujudnya {a}, telah diperkenalkan, lembaga-lembaga yang menjadi sarana pelaksanaan perjanjian anugerah itu adalah pemberitaan Firman dan pelayanan sakramen Baptisan dan Perjamuan Tuhan {b}. Jumlahnya memang kurang, dan pelayanannya lebih sederhana dan kurang megah secara lahiriah. Namun, di dalamnya perjanjian itu diperkenalkan secara lebih penuh dan nyata serta dengan keampuhan rohani yang lebih besar {c}, kepada semua bangsa, baik orang Yahudi maupun bangsa-bangsa {d}. Pada zaman itu, perjanjian tersebut disebut Perjanjian Baru {e}. Jadi, tidak ada dan perjanjian anugerah, yang berbeda wujudnya, tetapi satu saja, yang berlainan cara pelaksanaannya. {f}

a. b. c. d. e. f.

Bab VIII. Kristus Pengantara

1. Allah telah berkenan, dalam rencana-Nya yang kekal, memilih dan menetapkan Tuhan Yesus, Anak-Nya yang tunggal, menjadi Pengantara Antara Allah dan manusia, {a} Nabi, {b} dan Raja, {d} Kepala dan Juruselamat Gereja-Nya, {e} Ahli Waris segala sesuatu, {f} dan Hakim dunia. {g} Kepada-Nya diberikan-Nya, dari kekekalan, suatu umat agar menjadi keturunan-Nya {h} dan agar pada waktunya ditebus, dipanggil, dibenarkan, dikuduskan, dan dimuliakan oleh-Nya. {i}

a. b. c. d. e. f. G. h. i.

2. Anak Allah, Pribadi yang kedua dalam Trinitas, yang adalah Allah yang sejati dan kekal, se-Zat dan setara dengan Sang Bapa, setelah genap waktunya mengenakan tabiat manusiawi{a} bersama segala sifat hakiki dan kelemahan umumnya, namun tanpa dosa, {b} ketika Dia di kandung oleh kuasa Roh Kudus dalam kandungan Anak Dara Maria, dari zatnya. Caranya begitu rupa, sehingga dua tabiat utuh, sempurna, dan berbeda, yaitu keAllahan dan kemanusiaan, dipertautkan secara tidak terpisahkan dalam satu Pribadi, tanpa perubahan, pembauran atau pencampuran {d}. Pribadi itu adalah Allah sejati dan manusia sejati, namun satu Kristus, satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia {e}.

a. b. c. d. e.

3. Tuhan Yesus, yang dengan demikian dalam tabiat kemanusiaan-Nya disatukan dengan tabiat keAllahan, dikuduskan dan diurapi dengan Roh Kudus dengan tidak terbatas {a}. Dalam diri-Nya Dia memiliki segala harta hikmat dan pengetahuan {b}. dan menurut perkenan Sang Bapa seluruh kepenuhan harus tinggal di dalam-Nya {c}. Maksudnya supaya Dia, yang kudus, tanpa salah, tanpa noda, penuh kasih karunia dan kebenaran, {d} memiliki seluruh perlengkapan yang perlu untuk menjalankan jabatan Pengantara dan menjadi Jaminan {e}. Dia itu oleh Bapa-Nya, {f} yang menyerahkan segala kuasa dan penghakiman kepada-Nya dan memberi-Nya perintah melaksanakannya. {g}

a. b. c. d. e. f. g.