Blown to Bits; or, The Lonely Man of Rakata

Chapter 3

Chapter 31,917 wordsPublic domain

Karena sakramen-sakramen itu adalah tanda-tanda dan meterai-meterai yang kelihatan tentang hal batin yang tidak kelihatan, dan melaluinya Allah bekerja di dalam diri kita, oleh kuasa Roh Kudus, Maka tanda-tanda ini bukan hampa atau tak berisi, untuk menipu kita, sebab kebenaran yang diungkapkan di dalamnya ialah Yesus Kristus, dan tanpa Dia sakramen-sakramen itu tidak berarti sama sekali.

Selanjutnya, kita berpendapat cukuplah jumlah sakramen yang ditetapkan Kristus, Guru kita, yang jumlahnya tidak melebihi dua, sakramen Baptisan dan sakramen Perjamuan Kudus Yesus Kristus.

Pasal 34: Baptisan Kudus

Kita percaya dan mengaku, bahwa Yesus Kristus, yang adalah kegenapan Hukum Taurat( ), oleh penumpahan darah-Nya sudah menamatkan segala penumpahan darah lain, yang mungkin dapat atau hendak dilakukan orang demi pendamaian dan pelunasan dosa-dosa, dan bahwa Dia, setelah membatalkan surat, yang berlangsung dengan darah, menetapkan sakramen Baptisan sebagai gantinya.

Oleh sakramen itu kita diterima ke dalam Gereja Allah, dan dipisahkan dari semua bangsa lain dan agama asing, supaya kita menjadi milik-Nya seluruhnya yang menyandang tanda pengenal dan panji-Nya.

Baptisan itu menjadi kesaksian bagi kita, bahwa Dialah Allah kita untuk selama-lamanya, sebagai Bapa yang murah hati terhadap kita.

maka Kristus memerintahkan membaptis semua orang milik-Nya dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus ( ), hanya dengan air bersih saja.

Dengan demikian Dia menjelaskan kepada kita, sama seperti air membasuh kotoran tubuh waktu kita disiram air itu, yaitu air yang kelihatan pada tubuh orang yang dibaptis dan yang memerciki dia, begitu juga darah Kristus melakukan hal yang sama secara batin, di dalam jiwa, oleh Roh Kudus, dengan memerciki jiwa dan membersihkannya dari dosa dan dengan melahirkan kita kembali, sehingga dari anak-anak murka menjadi anak-anak Allah.

Memang hal itu tidak dikerjakan oleh materi air, tetapi oleh pemercikan dengan darah Anak Allah yang mahal, yang adalah Laut Merah kita, yang harus kita lintasi untuk luput dari penindasan Firaun, yaitu Iblis, dan untuk masuk Tanah Kanaan yang rohani.

Maka para Pelayan di pihak mereka memberi kita sakramen, dan apa yang kelihatan, tetapi Tuhan kita memberikan apa yang ditandai oleh sakramen, yaitu semua karunia dan anugerah yang tidak kelihatan, sambil membasuh, menyucikan, dan membersihkan jiwa kita dari segala kotoran dan kesalahan, dan membarui hati kita serta memenuhinya dengan segala hiburan.

Dengan demikian diberikannya-Nya kepada kita keyakinan yang sungguh-sungguh akan kebaikan-Nya sebagai seorang Bapa, dan kita dibuat-Nya mengenakan manusia baru serta menanggalkan manusia lama bersama segala perbuatannya.

Oleh sebab itu, kita percaya, bahwa orang yang hendak masuk ke dalam hidup kekal hendaknya dibaptis hanya satu kali saja dengan baptisan yang satu-satunya, dengan tidak pernah mengulanginya, sebab mustahil juga kita lahir dua kali.

Akan tetapi, baptisan itu tidak hanya berfaedah selama air masih ada pada tubuh kita dan selama kita menerima air itu, tetapi sepanjang masa hidup kita.

Oleh karena itu, kita menolak ajaran sesat kaum Anabaptis, yang tidak puas dengan satu baptisan yang pernah diterimanya, dan yang juga menolak keras baptisan anak-anak orang percaya.

Menurut keyakinan kita, anak-anak ini patut dibaptis dan dimeteraikan dengan tanda perjanjian, sama seperti anak-anak orang Israel disunat berdasarkan janji-janji yang sama dengan yang diberikan kepada anak-anak kita.

Sesungguhnya, Kristus tidak kurang menumpahkan darah-Nya untuk membasuh anak- anak orang percaya daripada untuk mencuci orang dewasa.

Oleh sebab itu, patut mereka menerima tanda dan sakramen dari apa yang telah dilakukan Kristus bagi mereka, sebagaimana dalam hukum Taurat Tuhan memerintahkan agar kepada mereka dibagikan sakramen sengsara dan kematian Kristus tidak lama setelah mereka dilahirkan, dengan mempersembahkan seekor anak domba, yang menjadi sakramen Yesus Kristus.

Tambahan pula, apa yang dikerjakan oleh sunat untuk bangsa Yahudi, hal itu juga dikerjakan oleh Baptisan untuk anak-anak kita.

Oleh sebab itu, Rasul Paulus menamakan Baptisan itu sunat Kristus ( ).

Pasal 35: Perjamuan Kudus Tuhan kita Yesus Kristus

Kita percaya dan mengaku, bahwa Juruselamat kita Yesus Kristus telah memerintahkan dan menetapkan Perjamuan Kudus, untuk memberikan makan dan memelihara mereka yang telah dilahirkan-Nya kembali dan yang telah dicangkokkan-Nya menjadi anggota keluarga-Nya, yaitu Gereja-Nya.

Di dalam orang yang telah dilahirkan kembali itu terdapat kehidupan ganda.

Yang satu bersifat jasmani dan sementara; mereka membawanya sejak kelahirannya yang pertama, dan kehidupan itu dimiliki semua orang.

Yang lain bersifat rohani dan surgawi; mereka dianugerahi kehidupan itu pada kelahiran kedua, yang dikerjakan oleh Firman Injil, dalam persekutuan dengan tubuh Kristus.

Kehidupan yang kedua ini hanya menjadi milik orang-orang pilihan Allah semata- mata.

Maka untuk memelihara kehidupan jasmani di bumi ini, Allah telah menetapkan bagi kita roti biasa dari bumi ini, yang berguna untuk kehidupan jasmani dan yang menjadi milik semua orang, sama seperti kehidupan itu sendiri.

Tetapi untuk memelihara kehidupan rohani dan surgawi, yang dimiliki orang percaya, Allah mengutus kepada mereka Roti yang hidup, yang telah turun dari surga, yaitu Yesus Kristus.

Dia mengasuh dan memelihara kehidupan rohani orang percaya waktu Dia dimakan, artinya dijadikan milik dan diterima oleh iman, secara rohani.

Untuk menggambarkan roti rohani dan surgawi itu bagi kita, Kristus telah menetapkan satu roti jasmani yang kasatmata, yang merupakan sakramen tubuh-Nya, dan air anggur, menjadi sakramen darah-Nya.

Maksud-Nya untuk menyaksikan kepada kita, bahwa sama seperti kita menerima sakramen itu dan memegangnya dengan tangan kita serta memakan dan meminumnya dengan mulut kita, sehingga sesudahnya kehidupan kita terpelihara dengannya, begitu juga kita pasti menerima melalui iman (yang merupakan tangan dan mulut jiwa kita) tubuh sejati dan darah sejati Yesus Kristus, satu-satunya Juruselamat kita, untuk kehidupan kita yang rohani.

Jadi, pasti dan tidak dapat diragu-ragukan, bahwa Yesus Kristus tidak sia-sia menganjurkan sakramen-sakramen-Nya kepada kita.

Maka demikianlah dikerjakan-Nya dalam diri kita segala sesuatu yang dihadirkan-Nya di depan mata kita melalui tanda-tanda yang kudus ini, meskipun caranya melampaui akal budi kita dan tidak dapat kita pahami, sebagaimana juga cara kerja Roh Kudus tersembunyi dan tidak terpahami.

Walaupun begitu, tidak keliru kalau kita berkata, bahwa apa yang kita makan dan minum itu adalah tubuh Kristus sendiri, yang asli dan darah-Nya sendiri, tetapi cara kita makan tubuh dan darah itu bukan cara mulut, melainkan cara roh, oleh iman.

Jadi, Yesus Kristus tetap duduk di sebelah kanan Allah Bapa-Nya, di surga, namun hal itu tidak mencegah Dia membagikan diri-Nya kepada kita oleh iman.

Perjamuan ini adalah meja rohani, dan meja itu Kristus membagikan diri-Nya bersama segala harta-Nya kepada kita.

Padanya Kristus membuat kita menikmati diri-Nya maupun jasa sengsara dan kematian-Nya.

Dia mengasuh, menguatkan, dan menghibur jiwa kita yang malang dan putus asa dengan memberi makan, yaitu tubuh-Nya, dan menyegarkan serta menyenangkan jiwa kita dengan minuman, yaitu darah-Nya.

Selanjutnya, meskipun sakramen-sakramen dan hal-hal yang ditandai olehnya digabung menjadi satu hal saja, tidak semua orang menerima sakramen-sakramen itu bersama kedua hal tersebut.

Orang fasik memang menerima sakramen menjadi hukum baginya, tetapi ia tidak menerima kebenaran yang diungkapkan dalam sakramen itu, sama seperti Yudas dan Simon si tukang sihir , yang memang telah menerima sakramen, namun tidak menerima Kristus, yang ditandai olehnya, yang hanya dibagikan kepada orang-orang percaya.

Akhirnya, kita menerima sakramen yang kudus itu di tengah perhimpunan umat Allah, dengan rendah hati dan rasa hormat, dengan mengadakan acara suci peringatan kematian Kristus, Juruselamat kita, disertai pengucapan syukur, dan di situ kita mengikrarkan pengakuan iman kita dan agama Kristen.

Oleh sebab itu, jangan seorang pun menghampiri perjamuan itu tanpa penguji dirinya baik-baik lebih dahulu, supaya jangan, dengan makan roti ini dan minum dari cawan ini, ia mendatangkan hukuman atas dirinya( ).

Pendeknya, oleh pemakaian sakramen yang kudus ini kita digerakkan pada kasih yang menyala-nyala terhadap Allah dan sesama kita manusia.

Oleh karena itu, kita menolak semua unsur campuran dan rekaan terkutuk, yang ditambahkan dan dicampurkan oleh manusia pada sakramen-sakramen itu, karena pada hemat kita unsur-unsur itu menajiskan sakramen-sakramen.

Dan kita berkata, hendaklah orang puas dengan aturan yang diajarkan kepada kita oleh Kristus dan Rasul-rasul-Nya, dan berbicara tentangnya sesuai dengan cara mereka bicara tentangnya.

Pasal 36: Jabatan pemerintah

Kita percaya, bahwa Allah kita yang baik, karena kerusakan keturunan manusia, telah menetapkan raja-raja, pembesar-pembesar, dan lembaga-lembaga pemerintahan, sebab Dia menghendaki dunia diperintah oleh hukum-hukum dan undang-undang, supaya sifat tak terkendali manusia di tekan dan dalam masyarakat segala hal berjalan dengan teratur Dengan tujuan itu, Dia membuat pemerintah menyandang pedang untuk menghukum orang jahat ( ) dan melindungi orang lain.

Jabatannya bukan hanya untuk memperhatikan dan mengawasi urusan pemerintahan.

Juga, jabatan itu meliputi: mempertahankan pelayanan gereja yang kudus, memberantas dan memusnahkan seluruh penyembahan berhala dan agama palsu, menjatuhkan kerajaan Anti-Kristus, dan berikhtiar supaya Kerajaan Yesus Kristus berkembang, berusaha agar Firman Injil dikabarkan ke mana-mana, supaya Allah dimuliakan dan dilayani oleh tiap-tiap orang, sebagaimana diperintahkan-Nya dalam Firman-Nya.

Selanjutnya, tiap-tiap orang, dari pangkat, tingkat, dan kedudukan apa pun, membayar pajak, menghormati dan menjunjung tinggi pemerintah, dan mematuhinya dalam segala hal yang tidak bertentangan dengan Firman Allah, sambil melakukan permohonan dalam doa-doanya kiranya Tuhan membimbingnya dalam segala jalannya dan kiranya kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kesopanan ( ).

Dalam hal ini kita menolak kaum Anabaptis dan pengacau lainnya, dan semua orang pada umumnya yang menolak lembaga-lembaga pemerintahan dan penguasa-penguasa dan ingin menumbangkan hukum, dengan mengadakan persekutuan harta dan merusak tata susila yang ditetapkan Allah dalam masyarakat.

Pasal 37: Hukuman terakhir

Akhirnya kita percaya, menurut Firman Allah, bahwa setelah tiba hari yang ditentukan Allah (yang tidak diketahui makhluk apa pun), dan jumlah orang pilihan sudah genap, maka Tuhan kita Yesus Kristus akan datang dari surga, secara jasmani dan kelihatan, dengan cara yang sama seperti Dia sudah naik ke sana ( ), dengan kemuliaan dan keagungan yang besar, untuk menyatakan diri-Nya sebagai Hakim orang yang hidup dan yang mati, sambil membakar dunia lama ini dengan api, untuk memurnikannya.

Pada waktu itu semua orang akan menghadap Hakim yang Agung itu, baik laki-laki maupun perempuan dan anak-anak, yang telah ada sejak awal dunia ini sampai akhir zaman, dan mereka akan dipanggil menghadap oleh suara penghulu malaikat dan oleh bunyi sangkakala Allah ( ).

Sebab semua orang yang pada saat itu telah meninggal akan bangkit dari dalam tanah, setelah jiwa-jiwa digabungkan dan dipersatukan dengan tubuhnya sendiri, yang di dalamnya mereka pernah hidup.

Adapun orang yang pada saat itu masih hidup tidak akan mati sama seperti orang lain, tetapi mereka akan diubah dalam sekejap mata, dan dari keadaan dapat binasa mereka akan beralih ke keadaan tidak dapat binasa.

Pada waktu itu kitab-kitab (artinya, hati nurani) akan dibuka dan orang-orang mati akan dihakimi ( ), sesuai dengan yang dilakukannya di dunia ini, baik ataupun jahat ( ).

Bahkan orang akan mempertanggungjawabkan setiap kata sia-sia, yang pernah diucapkannya ( ), sekalipun oleh dunia kata itu dianggap hanya permainan anak-anak dan perintang waktu saja.

Pada waktu itu semua rahasia dan kepura-puraan manusia akan dibuka di muka umum.

Oleh karena itu, dengan sewajarnya kesadaran akan hukuman itu menggentarkan dan mengejutkan orang jahat dan fasik, tetapi sangat menggairahkan dan menghibur orang yang saleh dan terpilih, karena pada waktu itu kelepasan mereka yang sempurna akan terlaksana, dan karena di sana akan diterimanya buah perbuatan dan kesusahan yang telah mereka tanggung.

Ketidaksalahannya akan diakui oleh semua orang, dan mereka akan melihat pembalasan yang mengerikan, yang akan dilakukan Allah terhadap orang fasik yang telah mengusik mereka dengan kejam, menindas, dan menyiksa mereka di dunia ini.

Kesalahan orang fasik itu akan dibuktikan oleh kesaksian hati nurani mereka sendiri.

Mereka pun akan mengalami keadaan tidak dapat mati, tetapi begitu rupa, sehingga mereka harus disiksa dalam api yang kekal, yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya ( ).

Sebaliknya, orang-orang percaya dan terpilih akan dimahkotai kemuliaan dan hormat.

Anak Allah akan mengaku nama mereka di hadapan Allah, Bapa-Nya ( ), dan malaikat-Nya yang terpilih, dan segala air mata akan dihapus dari mata mereka ( ).

Perkara mereka, yang kini dihukum banyak hakim dan lembaga-lembaga pemerintah, karena dianggap tersesat dan fasik, akan diakui merupakan perkara Anak Allah sendiri.

Dan sebagai ganjaran yang penuh kasih karunia, Tuhan akan memberi mereka memiliki kemuliaan yang tak terpikirkan oleh hati manusia.

Oleh karena itu, kita menantikan hari agung itu dengan kerinduan besar, agar kita menikmati dengan sepenuhnya janji-janji Allah, dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Catatan

Kategori:Kristen