Blown to Bits; or, The Lonely Man of Rakata
Chapter 2
Meskipun oleh kebangkitan-Nya Dia memberinya ketidakfanaan, tidak diubah-Nya keaslian tabiat kemanusiaan-Nya, sebab keselamatan dan kebangkitan kita tergantung juga pada keaslian tubuh-Nya itu.
Akan tetapi, kedua tabiat itu disatukan menjadi satu Pribadi sedemikian rupa, hingga oleh kematian-Nya pun keduanya tidak diceraikan.
Jadi, apa yang diserahkan-Nya ke dalam tangan Bapa-Nya waktu mati, ialah nyawa kemanusiaan yang sejati, yang keluar dari dalam tubuh-Nya.
Sementara itu, tabiat keallahan-Nya tetap bersatu dengan tabiat kemanusiaan, bahkan ketika Dia terbaring dalam kubur sekalipun.
Dan Keallahan tidak berhenti berada di dalam-Nya, sebagaimana berada di dalam-Nya waktu Dia kanak-kanak, meskipun selama beberapa waktu tidak menyatakan diri-Nya demikian.
Oleh sebab itu, kita mengaku, Dia adalah Allah sejati dan manusia sejati.
Allah sejati, agar maut dikalahkan-Nya oleh kekuatan-Nya; manusia sejati, supaya Dia dapat mati bagi kita menurut kelemahan daging-Nya.
Pasal 20: Allah menyatakan keadilan dan kemurahan-Nya dalam Kristus
Kita percaya, bahwa Allah, yang mahamurah dan mahaadil, telah mengutus Anak-Nya, untuk menerima tabiat yang di dalamnya ketidaktaatan itu telah dilakukan, supaya dalam tabiat itu dijalani dan ditanggung-Nya hukuman atas dosa-dosa, yaitu oleh sengsara dan kematian-Nya yang amat pahit.
Dengan demikian, Allah telah menyatakan keadilan-Nya terhadap Anak-Nya, karena Dia mempertanggungkan dosa-dosa kita kepada-Nya, dan mencurahkan kebaikan dan kemurahan-Nya atas kita yang bersalah dan patut menderita kebinasaan.
Dia menyerahkan Anak-Nya bagi kita, untuk dibunuh, oleh kasih yang amat sempurna, dan Dia membangkitkan-Nya Dia demi membenarkan kita, supaya melalui Dia kita miliki ketidakfanaan dan hidup yang kekal.
Pasal 21: Pelunasan oleh Kristus, Imam Besar kita satu-satunya, untuk dosa kita
Kita percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Imam Besar untuk selama-lamanya, dengan sumpah, menurut peraturan Melkisedek, dan bahwa Dia telah menghadap Bapa-Nya atas nama kita, untuk mendamaikan murka-Nya dengan memberi pelunasan penuh.
Dia mengorbankan diri di kayu salib, dan menumpahkan darah-Nya yang mahal demi membersihkan segala dosa kita, seperti yang telah dinubuatkan oleh para nabi Sebab tertulis, Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita, ditimpakan kepada Anak Allah, dan bahwa oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh, bahwa Dia dibawa ke pembantaian seperti anak domba, dan terhitung di antara orang-orang durhaka( ).
Oleh Pontius Pilatus Dia dihukum sebagai seorang pejabat, meskipun ia sudah menyatakan-Nya tidak bersalah.
Demikianlah Dia telah mengembalikan apa yang tidak dirampas-Nya ( ), dan menderita, Dia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar ( ), yaitu baik dalam tubuh maupun dalam jiwa-Nya.
Dia telah merasakan hukuman mengerikan yang patut menjadi ganjaran bagi kita atas dosa kita, sehingga peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
Dia telah berseru, Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? ( ).
Dan semua itu di derita-Nya demi pengampunan dosa kita.
Oleh sebab itu tepatlah kita mengatakan bersama Paulus, bahwa kita tidak mengetahui apa-apa selain Kristus, yaitu Dia yang disalibkan ( ); segala sesuatu kita anggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhan kita, lebih mulia daripada semuanya ( ).
Kita mendapat segala penghiburan dalam luka-luka-Nya, dan tidak perlu lagi mencari atau memikirkan jalan lain apapun untuk memperdamaikan kita dengan Allah, selain satu korban ini yang dipersembahkan satu kali saja, yang olehnya orang percaya disempurnakan untuk selama-lamanya ( ).
Itulah juga sebabnya oleh Malaikat Allah Dia dinamakan Yesus, artinya Juruselamat, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka ( ).
Pasal 22: Pembenaran kita oleh iman kepada Yesus Kristus
Kita percaya, bahwa, agar kita memperoleh pengetahuan yang benar tentang rahasia itu, Roh Kudus menyalakan di dalam hati kita iman yang benar, yang memeluk Yesus Kristus bersama segala jasa-Nya, menjadikan Dia sebagai milik kita, dan tidak lagi mencari barang apa pun di luar Dia.
Sebab hanya ada dua kemungkinan: dalam Yesus Kristus tidak terdapat segala sesuatu yang perlu untuk keselamatan kita, atau, kalau semua itu terdapat di dalam Dia, maka barang siapa memiliki Yesus Kristus oleh iman mempunyai seluruh keselamatannya.
Jadi, jikalau orang berkata bahwa Kristus tidak mencukupi, tetapi masih perlu apa-apa di samping Dia, maka hal itu merupakan hujat yang keterlaluan.
Sebab kesimpulannya ialah, Yesus Kristus merupakan setengah Juruselamat saja.
Oleh karena itu, dengan sesungguhnya kita berkata bersama Paulus, bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman, atau oleh iman tanpa perbuatan ( ).
Akan tetapi, kita tidak beranggapan seolah-olah iman sendirilah yang membenarkan kita dalam arti yang sesungguhnya.
Sebab iman itu sekadar alat, yang dengannya kita memeluk Kristus, yang adalah kebenaran kita.
Akan tetapi, Yesus Kristus, yang memperhitungkan kepada kita semua jasa-Nya dan begitu banyak perbuatan suci yang telah dilakukan-Nya bagi kita dan sebagai ganti kita, Dialah kebenaran kita, sedangkan iman adalah alat, yang membuat kita tetap berada bersama Dia dalam persekutuan dengan segala harta-Nya.
Setelah menjadi milik kita, harta itu lebih dari cukup agar kita dibebaskan dari dosa-dosa kita.
Pasal 23: Pembenaran kita terdiri dari pengampunan dosa karena Kristus
Kita percaya, bahwa kebahagiaan kita terletak dalam pengampunan dosa kita karena Yesus Kristus, dan pengampunan dosa itu merangkum kebenaran kita di hadapan Allah.
Demikianlah yang diajarkan kepada kita oleh Daud dan Paulus, yang menyatakan manusia berbahagia bilamana Allah menganggapnya terbilang orang benar tidak berdasarkan perbuatan ( ) Dan Rasul itu juga berkata, bahwa kita telah dibenarkan dengan cuma-cuma atau oleh kasih karunia, karena penebusan yang ada dalam Yesus Kristus ( ).
Oleh sebab itu, kita senantiasa berpegang pada asas ini, dengan mempersembahkan segala pujian kepada Allah, seraya merendahkan diri kita dan mengaku keadaan kita sebagaimana adanya, tanpa berangan-angan mengenai diri kita sendiri atau jasa-jasa kita.
Dan kita hanya bertumpu pada ketaatan Kristus yang disalib itu, dan semata-mata bernaung di dalamnya, yang menjadi kepunyaan kita jika kita percaya kepada Dia.
Ketaatan itu cukup untuk menutupi segala kejahatan kita, membebaskan hati nurani kita dari rasa takut, gentar dan ngeri, dan memberi kita keberanian untuk menghampiri Allah, tanpa berbuat seperti bapa leluhur kita yang pertama, yaitu Adam, yang dengan gemetar mau menutupi dirinya dengan daun pohon ara.
Dan sesungguhnya, sekiranya kita harus menghadap Allah dengan bertumpu, betapapun sedikitnya, pada diri kita sendiri atau pada makhluk apa pun yang lain, maka - sial sekali - kita tidak bisa tidak ditelan.
Oleh karena itu, setiap orang wajib berkata bersama Daud; Tuhan, janganlah berperkara dengan hamba-Mu ini, sebab di antara yang hidup tidak seorangpun yang akan benar di hadapan-Mu ( ).
Pasal 24: Pengudusan manusia dan perbuatan-perbuatan baik
Kita percaya, bahwa iman yang sejati itu, yang dihasilkan dalam hati manusia oleh pendengaran akan Firman Allah dan oleh pekerjaan Roh Kudus, membuat manusia lahir kembali dan menjadi manusia baru, membuatnya hidup dalam kehidupan yang baru dan memerdekakannya dari perhambaan dosa.
Oleh sebab itu, iman yang membenarkan itu sekali-kali tidak mengurangi gairah manusia untuk hidup saleh dan suci.
Sebaliknya, tanpa iman itu manusia tidak akan berbuat sesuatu apa pun oleh kasih kepada Allah, tetapi hanya oleh kasih kepada diri sendiri dan karena takut di hukum.
Jadi, mustahil iman kudus itu menganggur dalam diri manusia, mengingat kita tidak berbicara tentang iman yang hampa, tetapi tentang iman yang oleh Alkitab disebut iman yang bekerja oleh kasih ( ).
Iman ini menggerakkan manusia agar mengupayakan perbuatan-perbuatan yang diperintahkan Allah dalam Firman-Nya.
Perbuatan-perbuatan itu baik dan berkenan kepada Allah jika bertumbuh dari akar iman yang baik, karena semuanya telah dikuduskan oleh kasih karunia-Nya.
Dalam pada itu, perbuatan-perbuatan itu tidak masuk perhitungan untuk membenarkan kita, sebab oleh iman kepada Kristus maka kita dibenarkan, bahkan sebelum kita melakukan perbuatan-perbuatan itu baik, sebagaimana tidak mungkin buah pohon dapat menjadi baik sebelum pohon itu baik.
Jadi, kita melakukan perbuatan, tetapi bukan dengan maksud memperoleh upah, - sebab upah apa yang yang layak kita peroleh?- tetapi kita malah wajib berterima kasih kepada Allah atas perbuatan baik yang kita lakukan, dan bukannya Dia yang harus berterima kasih kepada kita, karena Dialah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya( ).
Maka baiklah kita memperhatikan apa yang tertulis, Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan ( ).
Sementara itu, kita tidak hendak menyangkal bahwa Allah mengganjar perbuatan-perbuatan baik.
Akan tetapi,oleh kasih karunia-Nya dimahkotai-Nya pemberian-Nya.
Lagi pula, meskipun kita melakukan perbuatan baik, kita tidak akan menjadikannya dasar keselamatan kita, sebab kita tidak dapat melakukan satu perbuatan pun yang tidak dicemari oleh daging kita dan patut mendapat hukuman.
Dan jikalau sekalipun kita dapat menunjukkan satu perbuatan yang baik, namun kenangan pada satu dosa pun sudah cukup untuk menyebabkan Allah menolak perbuatan itu.
Oleh karena itu, kita selalu bimbang, terombang-ambing, tanpa kepastian apa pun, dan hati nurani kita yang malang selalu tersiksa, jika tidak bertumpu pada jasa yang terdapat dalam sengsara dan kematian Juruselamat kita.
Pasal 25: Penggenapan hukum upacara
Kita percaya, bahwa dengan kedatangan Kristus maka upacara-upacara dan lambang-lambang hukum Taurat telah berhenti, dan bahwa segala bayangan sudah berakhir, sehingga pemakaiannya di tengah orang Kristen harus dihapuskan.
Namun, sebab semua itu mendapat penggenapannya di dalam Dia, maka kebenaran dan hakikatnya tinggal tetap bagi kita dalam Kristus Yesus.
Dalam pada itu, kita tetap memakai kesaksian-kesaksian yang diambil dari hukum Taurat dan dari para Nabi, supaya olehnya kita makin diteguhkan dalam Injil, dan mengatur hidup kita dalam segala kesopanan, demi kemuliaan Allah, menurut kehendak-Nya.
Pasal 26: Kristus menjadi satu-satunya Pembela dan Jurusyafaat bagi kita
Kita percaya, bahwa kita tidak beroleh jalan masuk kepada Allah selain oleh satu-satunya Pengantara dan Jurusyafaat kita, Yesus Kristus, Yang benar.
Dia telah menjadi manusia, dengan mempersatukan tabiat ilahi dan tabiat kemanusiaan, supaya kita, manusia, beroleh jalan masuk kepada Kemuliaan Allah; jika tidak demikian, maka jalan masuk itu tertutup bagi kita.
Akan tetapi, janganlah pengantara ini, yang telah dianugerahkan kepada kita oleh Bapa menjadi Pengantara antara diri-Nya dengan kita, membuat kita terkejut oleh keagungan-Nya, sehingga kita mencari seorang pengantara lain, menurut kesukaan kita.
Sebab tidak ada makhluk apa pun, di surga maupun di bumi, yang mengasihi kita lebih daripada Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang manusia dan seorang hamba guna kita, dan segala hal menjadi sama dengan saudara-saudara-Nya( ).
Jadi, andaikata kita harus mencari seorang pengantara lain, yang mengasihi kita, maka siapakah yang akan kita dapati yang mengasihi kita lebih daripada Dia, yang telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, ketika kita masih seteru-Nya ( )? Dan andaikata kita mencari seorang pengantara yang berkuasa dan berkehormatan, maka siapakah yang memiliki kuasa dan kehormatan sebanyak Dia, yang duduk di sebelah kanan Bapa-Nya, dan yang mempunyai segala kuasa di surga dan di bumi (Mat 28:18).
Dan siapakah yang akan lebih mudah dikabulkan daripada Anak Allah yang kekasih itu sendiri? Maka hanya karena kurang percaya dimasukkanlah kebiasaan ini, yang menistakan orang kudus alih-alih menghormati mereka, yang melakukan apa yang tidak pernah mereka lakukan ataupun kehendaki bahkan mereka sama sekali telah menolak hal itu, sesuai dengan kewajiban mereka, sebagaimana dinyatakan oleh karangan-karangan mereka.
Dalam hal ini orang tidak perlu mengemukakan ketidaklayakan kita, sebab di sini artinya bukan bahwa kita memanjatkan doa-doa kita berdasarkan kelayakan kita.
Sebaliknya, kita hanya memanjatkannya berdasarkan keulungan dan kelayakan Tuhan kita Yesus Kristus, yang kebenaran-Nya menjadi kepunyaan kita oleh iman. Oleh sebab itu, Sang Rasul, yang ingin mencabut rasa takut yang bebal, atau lebih tepat, ketidakpercayaan itu dari kita, berkata, Yesus Kristus telah menjadi sama dengan saudara-saudara-Nya dalam segala hal, supaya dia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia, untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Sebab oleh karena Dia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Dia dapat menolong mereka yang dicobai( ).
Dan selanjutnya ia berkata, hendak menambahkan kebenaran kita untuk menghampiri- Nya, Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Dia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia, untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya ( ).
Rasul yang sama juga berkata, bahwa oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus. Karena itu, katanya, marilah kita menghadap Allah dengan keyakinan iman yang teguh, dst. ( ).
Begitu pula, Kristus memegang imamat yang tetap untuk selama-lamanya. Karena itu, Dia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Dia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka ( ).
Apalagi yang kurang, karena Kristus sendiri mengujar, Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku ( ).
Dengan maksud apa kita hendak mencari seorang pembela yang lain, karena Allah memang berkenan menganugerahkan Anak-Nya menjadi Pembela kita? Jangan kita meninggalkan Dia untuk menerima orang lain, atau, lebih tepat, untuk mencari orang lain dengan tidak pernah mendapatinya.
Sebab waktu Allah menganugerahkan Dia, memang diketahui-Nya bahwa kita orang berdosa.
Oleh karena itu, sesuai dengan perintah Kristus, kita berseru kepada Bapa Surgawi melalui Kristus, satu-satunya Pengantara kita, sebagaimana kita diajar dalam Doa Bapa Kami, dengan penuh keyakinan bahwa segala sesuatu yang kita minta kepada Bapa dalam nama-Nya, akan diberikan kepada kita ( ).
Pasal 27: Gereja Kristen yang Am
Kita percaya dan mengaku satu Gereja yang Katolik atau Am, yang adalah perkumpulan kudus orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, yang mengharapkan segenap keselamatan mereka dalam Yesus Kristus, yang telah dicuci oleh darah-Nya, yang dikuduskan dan dimeteraikan oleh Roh Kudus.
Gereja ini sudah ada sejak awal dunia dan akan ada sampai akhir zaman, mengingat Kristus adalah seorang Raja yang kekal, yang tidak bisa memiliki rakyat.
Dan gereja yang kudus ini dipelihara atau dipertahankan Allah terhadap amukan seluruh dunia, meskipun kadang-kadang selama beberapa waktu waktu Gereja itu tampak sangat kecil di mata orang, bahkan rupanya sudah punah.
Begitu pula pada masa gawat waktu pemerintahan Ahab itu, Tuhan meninggalkan bagi diri-Nya tujuh ribu orang yang tidak pernah sujud menyembah Baal.
Tambahan lagi, Gereja yang Kudus ini tidak terletak, tidak terikat atau terbatas pada tempat tertentu, atau pada pribadi-pribadi tertentu, tetapi Gereja itu tersebar dan terserak di seluruh dunia.
Namun, Gereja itu dikumpulkan dan dipersatukan, sehati sekehendak, dalam satu Roh yang sama, oleh kuasa iman.
Pasal 28: Kewajiban semua orang untuk bergabung dengan gereja yang sejati
Kita percaya, karena perkumpulan yang kudus ini adalah perhimpunan orang-orang yang diselamatkan, dan karena di luarnya tidak ada keselamatan, maka tidak seorang pun - bagaimanapun tingkat dan kualitasnya - patut mengasingkan diri untuk berdiri sendiri dengan seenaknya.
Sebaliknya, mereka semua harus bergabung dengan perkumpulan ini dan bersatu dengannya, seraya memelihara kesatuan Gereja, tunduk kepada pengajaran dan disiplinnya, dan menundukkan tengkuknya di bawah kuk Yesus Kristus, Mereka harus melayani pembinaan saudara-saudara, menurut karunia-karunia yang dianugerahkan Allah kepadanya, sebagai orang yang bersama-sama menjadi anggota satu tubuh.
Supaya hal ini dapat dipegang dengan lebih baik lagi, maka menurut Firman Allah semua orang percaya wajib melepaskan hubungan dengan orang yang tidak termasuk Gereja, dan bergabung dengan perkumpulan ini, di mana pun Allah menempatkannya, sekalipun penguasa-penguasa dan ketentuan-ketentuan raja-raja menentangnya, dan sekalipun mereka harus menderita hukuman mati atau siksaan tubuh apapun karenanya.
Oleh sebab itu, semua orang yang memisahkan diri dari Gereja ini, atau tidak bergabung dengannya, melawan perintah Allah.
Pasal 29: Perbedaan antara Gereja yang sejati dan gereja yang palsu serta ciri-ciri
masing-masing
Kita percaya, bahwa orang patut berupaya dengan seksama dan cermat dengan berdasarkan Firman Allah, agar mengenali Gereja yang sejati, sebab segala bidat yang dewasa ini terdapat di dunia bersembunyi di bawah nama Gereja.
Di sini kita tidak berkata-kata tentang golongan orang munafik, yang di dalam Gereja tercampur dengan orang-orang yang baik namun tidak termasuk di dalamnya, meskipun mereka secara jasmani berada di dalamnya.
Akan tetapi, kita berkata bahwa patutlah orang membedakan antara tubuh serta persekutuan Gereja yang sejati dan segala bidat, yang menamai dirinya Gereja.
Ciri-ciri pengenal Gereja yang sejati ialah, jikalau Gereja memakai pemberitaan Injil yang murni, jikalau Gereja memakai pelayanan sakramen-sakramen yang murni sebagai mana ditetapkan Kristus, jikalau diselenggarakan disiplin gereja, untuk menghukum dosa.
Pendeknya, jika orang bertindak sesuai dengan Firman Allah yang murni dengan menolak segala sesuatu yang bertentangan dengannya, seraya memandang Yesus Kristus sebagai satu-satunya Kepala.
Melalui hal-hal itu orang dapat mengenali Gereja yang sejati dengan pasti, dan tidak seorang pun diperbolehkan memisahkan diri darinya.
Adapun orang-orang yang termasuk Gereja itu dapat dikenali dari ciri-ciri orang Kristen, yaitu dari iman, dan jikalau mereka, setelah menerima satu-satunya Juruselamat Yesus Kristus, menjauhi dosa dan mengejar kebenaran, mengasihi Allah yang sejati dan sesamanya manusia, tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, dan menyalibkan dagingnya serta segala perbuatannya.
Namun, hal itu tidak berarti bahwa tidak ada lagi kelemahan besar pada mereka.
Akan tetapi mereka berjuang melawan kelemahan itu oleh Roh, dalam setiap hari- hari kehidupannya, sambil berlindung terus-menerus pada darah, kematian, sengsara, dan ketaatan Tuhan Yesus.
Di dalam-Nya mereka beroleh pengampunan dosa oleh iman kepada-Nya.
Adapun gereja yang palsu menganggap dirinya dan peraturannya lebih berkuasa dan berwenang daripada Firman Allah, dan tidak mau tunduk pada kuk Kristus; ia tidak melayankan sakramen-sakramen dengan cara yang ditetapkan Kristus dalam Firman-Nya, tetapi mengurangi dan menambahinya dengan semau-maunya.
Gereja yang palsu itu lebih bertumpu pada manusia dibandingkan pada Kristus.
Gereja palsu itu menganiaya orang yang hidup suci menurut Firman Allah dan yang menegurnya karena cacatnya, keserakahannya, dan karena menyembah berhala- berhala.
Kedua gereja ini dengan mudah dikenali dan dibedakan satu sama lain.
Pasal 30: Pemerintahan gereja oleh jabatan-jabatan gerejawi
Kita percaya, bahwa Gereja yang sejati itu harus diperintah menurut tatanan rohani yang diajarkan Tuhan kepada kita dalam Firman-Nya, yaitu, bahwa harus ada pelayan-pelayan atau gembala-gembala, untuk memberitakan Firman Allah dan melayankan sakramen-sakramen; bahwa harus ada pula penilik-penilik dan diaken-diaken, untuk bersama para gembala menjadi majelis gereja, dan dengan cara itu memelihara agama yang benar serta memajukan ajaran yang benar, juga supaya para pelanggar dihukum dan dikendalikan dengan cara rohani, dan orang miskin dan sudah ditolong serta dihibur sesuai dengan keperluan masing-masing.
Dengan sarana ini segala sesuatu dalam Gereja akan berlangsung dengan sopan dan teratur, asal saja yang dipilih adalah orang-orang yang setia, dan asal pemilihannya diadakan menurut peraturan yang diberikan Rasul Paulus dalam Surat kepada Timotius.
Pasal 31: Para Pelayan, Penatua, dan Diaken
Kita percaya, bahwa para Pelayan Firman Allah, para Penatua, dan Diaken harus dipilih untuk jabatan mereka oleh pemilihan gerejawi yang sah, dengan memanggil nama Allah, dan dengan memakai aturan yang baik, sebagaimana diajarkan oleh Firman Allah.
Jadi, setiap orang harus berhati-hati jangan sampai menyusup masuk dengan cara- cara yang tidak patut.
Sebaliknya, harus dinantikannya saat ia dipanggil Allah, supaya ia mempunyai kesaksian tentang panggilannya, sehingga ia merasa pasti dan yakin, bahwa panggilannya berasal dari Tuhan.
Adapun para Pelayan Firman, di mana saja mereka berada, kuasa dan wewenang yang mereka miliki sama, karena mereka semua adalah hamba Yesus Kristus, yang adalah satu-satunya Uskup Am dan satu-satunya Kepala gereja.
Tambahan pula, supaya jangan peraturan Allah yang kudus dilanggar atau dihinakan, maka kita berkata, bahwa setiap orang harus menghormati secara istimewa para Pelayan Firman dan para Penatua Gereja, oleh karena pekerjaan yang mereka lakukan, dan sedapat mungkin memelihara damai dengan mereka, tanpa sungut, pertengkaran atau perselisihan.
Pasal 32: Tata gereja dan disiplin
Dalam pada itu, kita percaya, memang berguna dan baik adanya, bahwa mereka yang memerintah Gereja menetapkan dan mempertahankan secara bersama tata gereja yang tertentu, guna pemeliharaan tubuh gereja.
Namun, haruslah mereka berhati-hati agar jangan sampai menyimpang dari apa yang diperintahkan kepada kita oleh Kristus, satu-satunya Guru kita.
Oleh karena itu, kita menolak segala rekaan manusiawi dan semua undang-undang yang hendak dimasukkan orang untuk melayani Allah, dan untuk mengikat serta mengekang hati nurani, dengan cara apapun juga.
Jadi, kita hanya menerima apa yang berguna demi memelihara dan menjaga persekutuan dan persatuan, dan untuk mengasuh semuanya dalam ketaatan kepada Allah.
Untuk itu dibutuhkan pengucilan atau pengasingan dari gereja, yang terjadi menurut Firman Allah, bersama segala sesuatu yang bersangkut-paut dengannya.
Pasal 33: Sakramen-sakramen
Kita percaya, bahwa Allah kita yang baik, dengan memperhatikan kebodohan dan kelemahan kita, telah menetapkan sakramen-sakramen bagi kita, untuk memeteraikan perjanjian-Nya pada kita, dan agar menjadi petaruh-petaruh kemurahan dan kasih karunia Allah terhadap kita, dan juga untuk memupuk serta memelihara iman kita.
Sakramen-sakramen ini ditambahkan Allah pada Firman Injil, supaya dengan lebih jelas lagi diperlihatkan-Nya kepada indera kita yang lahiriah baik apa yang diterangkan-Nya kepada kita melalui Firman-Nya, maupun apa yang dikerjakan-Nya secara batin di dalam hati kita.
Dengan demikian diberlakukan-Nya secara batin di dalam hati kita.
Dengan demikian diberlakukan-Nya dan diteguhkan-Nya dalam diri kita keselamatan yang dikaruniakan-Nya kepada kita.