Blown to Bits; or, The Lonely Man of Rakata
Chapter 1
Pasal 1: Allah yang esa
Kita semua percaya dengan hati, dan mengaku dengan mulut, bahwa ada satu Zat Rohani yang esa dan sederhana, yang kita namakan Allah.
Dia kekal, tidak terpahami, tidak kelihatan, tidak berubah-ubah, tak terhingga, mahakuasa, berhikmat sempurna, mahaadil, mahabaik, dan sumber serba berlimpah segala hal yang baik.
Pasal 2: Sarana-sarana untuk mengenal Allah
Kita mengenal Dia melalui dua sarana.
Pertama, melalui penciptaan, pemeliharaan, dan pemerintahan seluruh alam.
Sebab di depan mata kita alam itu bagaikan buku yang indah, yang di dalamnya segala ciptaan Allah, yang besar maupun kecil, menjadi seperti huruf-huruf yang menyatakan kepada kita apa yang tidak tampak dari Allah, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, menurut perkataan Rasul Paulus dalam Rom 1:20.
Semua itu cukup untuk membuktikan kesalahan manusia sehingga mereka tidak dapat berdalih.
Kedua, Dia memperkenalkan diri kepada kita dengan lebih jelas dan sempurna lagi oleh Firman-Nya yang kudus dan ilahi, yaitu sekadar kebutuhan kita dalam hidup ini, demi kemuliaan-Nya dan demi keselamatan orang-orang milik-Nya.
Pasal 3: Firman Allah yang tertulis
Kita mengaku, bahwa Firman Allah ini tidak disampaikan atau dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah, menurut perkataan Rasul Petrus dalam 2Pe 1:21.
Sesudah itu Allah, karena perhatian-Nya yang khusus kepada kita dan keselamatan kita, menyuruh hamba-hamba-Nya, yaitu Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul, membukukan Firman-Nya yang telah dinyatakan.
Dan Dia sendiri menulis dengan jari-Nya kedua loh batu Taurat.
Oleh karena itu, kita menyebut tulisan-tulisan yang demikian Kitab-kitab Suci dan Ilahi
Pasal 4: Kitab-kitab kanonik
Kita mengelompokkan Kitab Suci menjadi dua buku, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Kedua buku ini adalah kitab-kitab kanonik, yang tidak dapat dibantah.
Kitab-kitab tersebut didaftar di dalam gereja Allah sebagai berikut: Kitab-kitab Perjanjian Lama: kelima kitab Musa, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Kitab Yosua, Kitab Hakim-hakim, Kitab Rut, kedua Kitab Samuel, kedua Kitab Raja-raja, kedua Kitab Tawarikh, Kitab Ezra yang pertama , Kitab Nehemia, Ester, Ayub, Mazmur Daud, ketiga Kitab Salomo, yaitu Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung, Kitab keempat nabi yang besar, yaitu Yesaya, Yeremia , Yehezkiel, dan Daniel, dan selanjutnya kedua belas nabi kecil lainnya yang kecil, yaitu Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.
Perjanjian Baru: Keempat pengarang Kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Para Rasul, Keempat belas Surat Rasul Paulus, yaitu kepada jemaat di Roma, dua kepada jemaat di Korintus, kepada jemaat di Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, dua kepada jemaat di Tesalonika, dua kepada Timotius, kepada Titus, kepada Filemon, kepada orang Ibrani , ketujuh Surat Rasul-Rasul lain, yaitu Surat Yakobus, dua Surat Petrus, tiga Surat Yohanes, Surat Yudas, dan Wahyu kepada Yohanes.
Pasal 5: Dasar kewibawaan Kitab Suci
Hanya semua kitab ini saja kita terima sebagai kitab-kitab suci dan kanonik, agar menjadi patokan, asas, dan penyangga iman kita.
Dan kita percaya akan semua hal yang tercakup di dalamnya, dengan tidak menaruh wasangka.
Bukan hanya karena Gereja menerimanya, dan menganggapnya begitu, melainkan terutama karena Roh Kudus menyaksikan di dalam hati kita, bahwa kitab-kitab ini berasal dari Allah, dan juga karena bukti tentang hal itu terkandung di dalamnya, mengingat orang buta pun dapat meraba, bahwa apa yang dinubuatkan di dalamnya sungguh terjadi.
Pasal 6: Perbedaan antara Kitab-kitab Kanonik dan Kitab-kitab Apokrif
Kita membedakan antara Kitab-kitab Kanonik dan Kitab-kitab Apokrif, yakni kitab Ezra yang ketiga dan keempat, Kitab Tobit, Kitab Yudit, Kitab Kebijaksanaan, Putera Sirakh, Barukh, Tambahan-tambahan pada kisah Ester, Doa ketiga orang dalam perapian, Kisah Susana, Patung Bel dan Naga, Doa Manasye, dan kedua Kitab Makabe.
Gereja memang boleh membaca kitab-kitab ini dan mengambil pelajaran-pelajaran dari dalamnya juga, sejauh isinya sesuai dengan Kitab-kitab Kanonik.
Akan tetapi, Kitab-kitab Apokrif ini tidak mempunyai kekuatan dan kuasa yang begitu rupa, sehingga melalui kesaksian apa saja dari dalamnya orang dapat meneguhkan satu pasal sekalipun dari iman atau dari Agama Kristen.
Lebih-lebih, kitab-kitab itu tidak mungkin mengurangi wibawa kitab-kitab lain, yang suci.
Pasal 7: Kesempurnaan Kitab Suci sebagai satu-satunya patokan bagi iman kita
Kita percaya, bahwa Kitab Suci ini berisi kehendak Allah secara sempurna, dan bahwa segala sesuatu yang harus dipercayai manusia untuk diselamatkan diajarkan di dalamnya dengan secukupnya.
Sebab seluruh cara berbakti yang dituntut Allah dari kita tertulis di dalamnya dengan panjang lebar.
Oleh karena itu, tidak boleh seorang pun, sekalipun ia seorang rasul, membawa ajaran lain daripada yang telah diajarkan kepada kita oleh Kitab Suci, bahkan sekalipun ia seorang malaikat dari surga menurut perkataan rasul Paulus dalam Gal 1:8 Larangan menambahi atau mengurangi Firman Allah (bnd. Ula 12:32) menunjukkan betapa ajarannya sempurna dan lengkap.
Juga tidak boleh tulisan manusia, betapapun sucinya, disamakan dengan Kitab-kitab ilahi.
Pun tidak boleh kebiasaan disamakan dengan kebenaran Allah, (sebab kebenaran melebihi segala sesuatu), atau jumlah besar orang, atau ketuaan, atau suksesi zaman atau orang, atau konsili-konsili, dekrit-dekrit atau keputusan-keputusan.
Sebab sekalian orang adalah sumber dusta dan puncak kesia-siaan (bnd. Maz 62:10).
Oleh sebab itu, kita menolak dengan sepenuh hati segala sesuatu yang tidak sesuai dengan patokan yang tidak dapat bersalah itu, sebagaimana diajarkan kepada kita oleh para rasul, katanya, Ujilah roh-roh, apakah mereka berasal dari Allah( ), begitu juga, jikalau seorang datang kepadamu, dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu( )
Pasal 8: Ketritunggalan Allah yang kudus
Sesuai dengan kebenaran dan Firman Allah itu kita percaya kepada Allah yang esa, yang adalah satu Zat yang tunggal, yang di dalam-Nya ada tiga Pribadi, yang sungguh-sungguh, benar-benar, dan dari kekekalan berlainan menurut sifat-sifat Mereka yang tidak sama-sama Mereka miliki, yaitu Bapa dan Anak dan Roh Kudus.
Bapa adalah sebab, asal, dan awal segala hal, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.
Anak adalah Firman, hikmat, dan gambar Bapa.
Roh Kudus adalah kuasa dan kekuatan yang kekal yang keluar dari Bapa dan Anak.
Akan tetapi, perbedaan ini tidak menyebabkan Allah terbagi tiga, sebab Kitab Suci mengajarkan kepada kita bahwa Bapa dan Anak dan Roh Kudus masing-masing mempunyai wujud-Nya sendiri, yang berbeda karena sifat-sifat-Nya.
Tetapi begitu rupa, sehingga ketiga Pribadi ini hanya merupakan satu Allah yang Esa.
Maka nyatalah Bapa bukan Anak dan Anak bukan Bapa, demikian juga Roh Kudus bukan Bapa dan bukan juga Anak.
Sementara itu, ketiga Pribadi ini, yang berbeda-beda seperti itu, tidaklah terbagi, tidak bercampur, dan tidak terbaur.
Sebab Bapa tidak mengenakan daging manusia, Roh Kudus juga tidak, tetapi hanya Anak saja.
Bapa tidak pernah tinggal sendiri, tanpa Anak-Nya atau Roh-Nya yang Kudus.
Sebab ketiga-Nya sama-sama kekal dalam satu Zat yang sama.
Tidak ada yang lebih dulu, tidak ada yang lebih kemudian, sebab ketiga-Nya satu, dalam kebenaran dan dalam kekuatan, dalam kebaikan dan dalam kemurahan.
Pasal 9: Ketiga Pribadi dalam Allah yang esa
Semua itu kita ketahui baik dari kesaksian-kesaksian Kitab Suci maupun dari karya-karya Mereka, dan terutama dari karya-karya yang kita rasai di dalam diri kita.
Kesaksian-kesaksian Kitab-Kitab Suci, yang mengajari kita percaya kepada Ketritunggalan ini, tertulis dalam banyak nas Perjanjian Lama; nas-nas itu tidak perlu dihitung, tetapi harus dipilih dengan cermat.
Dalam Kejadian Kej 1:26-27 Allah berkata, Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, dst.
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Demikian juga dalam Kej 3:22, Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita.
Dari situ nyatalah ada lebih dari satu Pribadi di dalam Keallahan, bila Dia berfirman, Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar Kita. Selanjutnya Dia menunjukkan kesatuan, bila Dia berfirman, Maka Allah menciptakan. Memang, Dia tidak berkata berapa jumlah Pribadi.
Tetapi, apa yang agak kurang terang bagi kita dalam Perjanjian Lama menjadi sangat jelas dalam Perjanjian Baru.
Sebab waktu Tuhan kita dibaptis di Sungai Yordan, terdengarlah suara Bapa, bunyinya, Inilah Anak yang Kukasihi: Anak tampak di dalam air, dan Roh Kudus menyatakan diri dalam rupa burung merpati.
Juga, untuk Baptisan semua orang percaya Kristus sudah menetapkan formula ini, Baptislah semua bangsa dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus( ) Dalam Injil Luk 1:35, malaikat Gabriel berkata kepada Maria, ibu Tuhan: Roh Kudus akan Turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Begitu juga, Kasih Karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian ( ).
Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam surga, Bapa, Firman, dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu( ) Dalam semua nas itu kita diajari sepenuhnya bahwa ada tiga Pribadi di dalam satu Zat ilahi yang esa.
Meskipun ajaran ini jauh melampaui daya tangkap manusia, namun oleh Firman kita sekarang mempercayainya, sambil merindukan kenikmatan pengetahuan dan hasilnya yang sempurna dalam surga.
Lagi pula, harus dicamkan juga jabatan-jabatan dan karya-karya ketiga pribadi itu terhadap kita.
Bapa dinamakan Khalik kita oleh karena kuasa-Nya; Anak adalah Juruselamat dan Penebus kita oleh karena darah-Nya; Roh Kudus adalah yang menyucikan kita oleh karena hati kita dijadikan-Nya tempat kediaman-Nya.
Ajaran mengenai Ketritunggalan yang kudus ini senantiasa dipertahankan dan dipelihara dalam Gereja yang sejati, sejak zaman para rasul hingga sekarang, melawan orang Yahudi, orang Islam, dan beberapa orang Kristen palsu dan orang sesat, seperti Marcion, Mani, Praxeas, Sabellius, Paulus dari Samosata, Arius, dan lain sebagainya, yang telah ditolak dengan sepatutnya oleh bapa-bapa gereja yang suci.
Oleh karena itu, dalam bidang ini dengan rela hati kita menerima ketiga Pengakuan Iman, yaitu Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea, dan Pengakuan Iman Atanasius.
Dan juga keputusan-keputusan mengenai hal ini yang diambil oleh bapa-bapa Gereja Lama sesuai dengan pengakuan tersebut.
Pasal 10: Yesus Kristus adalah Allah sejati dan kekal
Kita percaya, bahwa Yesus Kristus, menurut tabiat keallahan-Nya, adalah Anak Allah yang tunggal, yang diperanakkan dari kekekalan; tidak dijadikan atau diciptakan (sebab seandainya begitu Dia adalah ciptaan), tetapi se-Zat dengan Bapa, sama kekal, gambar teraan wujud Bapa dan cahaya kemuliaan-Nya( ), dalam segala hal setara dengan Dia ( ).
Dia adalah Anak Allah, bukan hanya sejak Dia mengenakan tabiat kita, melainkan dari kekekalan, sebagaimana diajarkan kepada kita oleh kesaksian-kesaksian ini kalau dibandingkan satu dengan yang lain.
Musa berkata, bahwa Allah telah menciptakan dunia ( ) dan Yohanes berkata, bahwa segala sesuatu dijadikan oleh Firman, yang dinamakannya Allah ( ).
Sang Rasul berkata, bahwa Allah telah menciptakan alam semesta melalui Anak- Nya ( ), begitu pula, bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu melalui Yesus Kristus ( ).
Kesimpulannya ialah, Dia yang dinamakan Allah, Firman, Anak, dan Yesus Kristus sudah ada ketika segala sesuatu diciptakan melalui Dia.
Oleh sebab itu Nabi Mikha berkata, Permulaan-Nya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala ( ).
Dan Sang Rasul berkata, Hari-Nya tidak berawal dan hidup-Nya tidak berkesudahan ( ).
Maka Dia adalah Allah sejati dan kekal, Yang Mahakuasa. Kepada Dia kita berseru, menyembah, dan berbakti.
Pasal 11: Roh Kudus adalah Allah sejati dan kekal
Kita percaya dan mengaku juga, bahwa Roh Kudus dari kekekalan keluar dari Bapa dan Anak.
Dia tidak dijadikan atau diciptakan, ataupun diperanakkan, tetapi hanya keluar dari kedua-Nya itu.
Menurut urutan Dia adalah Pribadi yang ketiga dalam Ketritunggalan, se-Zat, sama agungnya, sama mulianya dengan Bapa dan Anak; Allah sejati dan kekal, sebagaimana diajarkan kepada kita oleh Kitab-kitab Suci.
Pasal 12: Penciptaan segala sesuatu, khususnya penciptaan malaikat-malaikat
Kita percaya, bahwa Bapa, melalui Firman-Nya, yaitu melalui Anak-Nya, telah menciptakan langit, bumi, dan segala makhluk dengan tidak memerlukan bahan apa pun, yaitu ketika Dia berkenan memberi tiap-tiap makhluk wujud, bentuk, dan rupa, dan bermacam-macam tugas untuk melayani Penciptanya.
Kita percaya, bahwa sekarang pun Dia memelihara dan memerintah semua itu, menurut pemeliharaan-Nya yang kekal, dan oleh kuasa-Nya yang tidak terhingga, agar melayani manusia, dengan maksud supaya manusia melayani Allahnya.
Dia telah menciptakan pula malaikat-malaikat dengan baik, agar menjadi utusan-utusan-Nya dan melayani orang-orang pilihan-Nya.
Di antaranya ada yang kehilangan keulungan, yang di dalamnya mereka diciptakan Allah, dan jatuh ke dalam kebinasaan kekal.
Adapun yang lain-lain, oleh rahmat Allah mereka bertahan, dan tetap tinggal dalam keadaan semula.
setan-setan dan roh-roh jahat itu begitu buruk, sehingga mereka menjadi musuh Allah dan musuh segala kebaikan.
Mereka mengincar dengan sekuat tenaga Gereja dan setiap anggotanya bagaikan pembunuh yang akan merusak dan membinasakan segala sesuatu oleh tipu dayanya.
Oleh karena itu, karena kejahatannya sendiri, mereka dijatuhi hukuman kebinasaan kekal, dan sehari-hari mereka menantikan siksaan yang ngeri.
Maka kita menolak dan menjijikkan ajaran sesat orang Saduki dalam hal ini, dan juga ajaran sesat kaum Manikheis, yang mengatakan bahwa setan-setan berasal dari dirinya sendiri, karena kejahatan mereka disebabkan kodratnya sendiri tanpa mengalami perusakan.
Pasal 13: Pemeliharaan dan pemerintahan Allah atas segala sesuatu
Kita percaya, bahwa Allah yang baik itu, setelah menciptakan segala sesuatu, tidak membiarkannya, dan tidak menyerahkannya kepada peruntungan atau kepada nasib.
Sebaliknya, Dia mengendalikan dan memerintah segala sesuatu menurut kehendak-Nya yang kudus, begitu rupa, sehingga dalam dunia ini tidak terjadi sesuatu apa pun tanpa aturan-Nya.
Meskipun demikian, Allah tidak menjadikan dosa yang terjadi, dan Dia tidak bersalah atasnya.
Sebab kuasa dan kebaikan-Nya begitu besar dan tidak terjangkau pengertian, sehingga Dia mengatur dan melaksanakan karya-Nya dengan sangat baik dan adil, sekalipun setan-setan dan orang fasik melakukan ketidakadilan.
Dan mengenai apa yang dilakukan-Nya dengan melampaui pikiran manusia, kita tidak ingin mengusiknya, dengan melewati batas kemampuan kita.
Bahkan kita memuja dengan segala kerendahan hati dan rasa hormat hukuman-hukuman Allah yang adil, yang tersembunyi bagi kita.
Kita menganggap cukup menjadi murid-murid Kristus, untuk sekadar mempelajari apa yang ditunjukkan-Nya kepada kita dalam Firman-Nya, tanpa melewati batas-batas itu.
Ajaran ini memberi kita hiburan yang tak terkatakan, sebab olehnya kita diajar, bahwa apa saja yang menimpa kita tidak terjadi secara kebetulan, tetapi semata-mata oleh ketentuan Bapa surgawi kita yang baik, yang menjaga kita dan mengasuh kita laksana seorang bapak.
Dia memegang segala makhluk-Nya di bawah kuasa-Nya, begitu rupa sehingga tak sehelai rambut kepala kita pun (sebab terhitung semuanya) bahkan seekor burung pipit pun, dapat jatuh ke bumi di luar kehendak Bapa kita ( ).
Di dalamnya kita berteduh, karena kita mengetahui, bahwa Allah mengekang setan-setan beserta semua musuh kita, yang tak dapat merugikan kita di luar izin dan kehendak-Nya.
Dalam hal ini kita menolak ajaran sesat dan terkutuk kaum Epikureis , yang mengatakan, Allah tidak peduli, dan membiarkan semua hal terjadi dengan cara kebetulan.
Pasal 14: Penciptaan dan kejatuhan manusia, dan ketidakmampuan manusia untuk berbuat baik
Kita percaya, bahwa Allah telah menciptakan manusia dari debu tanah, dan menjadikan serta membentuk dia menurut gambar dan rupa-Nya, yaitu baik, benar, dan kudus.
Oleh kehendaknya manusia sanggup menyesuaikan diri dengan kehendak Allah dalam segala hal.
Akan tetapi, ketika manusia sedang mulia ia tidak mempunyai pengertian, dan tidak menyadari keulungannya.
Sebaliknya, dengan rela hati ia takluk kepada dosa, dan oleh karena itu kepada maut dan kutuk, karena membuka telinga untuk perkataan iblis.
Sebab hukum kehidupan yang telah diterimanya itu dilanggarnya, dan oleh dosa ia memisahkan diri dari Allah, yang adalah hidupnya yang sejati.
Ia telah merusak segenap kodratnya, dan dengan demikian ia patut dihukum mati, baik secara jasmani maupun secara rohani.
Oleh karena manusia menjadi fasik dan buruk, serta bejat dalam segala jalannya, maka ia kehilangan semua karunia gemilang, yang telah diterimanya dari Allah, sehingga tiada yang tinggal kecuali hanya sisa-sisa yang kecil saja.
Akan tetapi, sisa-sisa itu cukup sehingga manusia tidak dapat berdalih, karena seluruh terang yang ada di dalam diri kita telah berubah menjadi kegelapan, sebagaimana diajarkan Alkitab kepada kita, yang berbunyi, Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak memahaminya'; di sini Yohanes menamakan manusia 'kegelapan'.
Karena itu, kita menolak segala ajaran yang bertentangan dengan hal-hal itu, seakan-akan manusia memiliki kehendak bebas, sebab manusia tidak lain dari hamba dosa dan tidak dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga. Sebab siapakah yang akan memegahkan kemampuannya untuk berbuat sesuatu yang baik seakan-akan hal itu timbul dari dirinya sendiri, sedangkan Kristus berkata: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku? Siapakah yang akan mengemukakan kehendaknya, sedangkan ia memahami bahwa keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah? Siapakah yang akan menyebut-nyebut pengetahuannya, sedangkan ia melihat bahwa manusia duniawi tidak memahami apa yang berasal dari Roh Allah? Pendeknya, siapakah yang akan mengajukan suatu pikiran, sedangkan ia sadar bahwa dengan diri kita sendiri kita tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kita sendiri, tetapi bahwa kesanggupan kita adalah pekerjaan Allah? Oleh karena itu, benar-benar patut apa yang dikatakan Sang Rasul tetap dianggap teguh dan pasti, yaitu bahwa Allahlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Sebab tidak ada pengertian atau kehendak yang serupa dengan pengertian dan kehendak Allah, kecuali yang dikerjakan Kristus di dalam manusia.
Hal itu diajarkan-Nya kepada kita, kata-Nya, Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
Pasal 15: Dosa turunan
Kita percaya, bahwa oleh ketidaktaatan Adam dosa turunan sudah menjalar kepada seluruh umat manusia.
Dosa turunan itu adalah kerusakan seluruh kodrat, dan cacat turunan.
Kanak-kanak pun sudah dicemari olehnya, bahkan di dalam kandungan ibunya.
Dosa tersebut menghasilkan di dalam manusia bermacam-macam dosa, seolah-olah menjadi akarnya di dalam dirinya.
Oleh karena itu, dosa turunan itu demikian buruk dan keji di hadapan Allah, sehingga sudah cukup untuk menghukum seluruh umat manusia.
Bahkan, oleh baptisan pun dosa turunan itu tidak seluruhnya ditiadakan, dan akarnya tidak dicabut seluruhnya, sebab dosa selalu memancar dari dalamnya bagaikan air dari mata air yang mendatangkan celaka.
Meskipun demikian, kepada anak-anak Allah dosa turunan itu tidak diperhitungkan menjadi sebab penghukuman, tetapi diampuni, oleh rahmat dan kemurahan hati Allah, bukan supaya mereka itu dapat tertidur dengan sentosa di tengah-tengah dosa, melainkan supaya kesadaran akan kerusakan itu membuat orang percaya sering kali berkeluh dan berkeinginan supaya dilepaskan dari tubuh maut.
Dalam hal ini kita menolak ajaran sesat kaum pengikut Pelagius, yang menyatakan bahwa dosa itu hasil tiruan semata-mata.
Pasal 16: Pemilihan Allah yang kekal
Kita percaya, bahwa setelah seluruh keturunan Adam, oleh dosa manusia pertama, takluk pada kebinasaan dan keruntuhan, Allah menyatakan diri-Nya sebagaimana ada-Nya, yaitu penyayang dan adil.
Penyayang, sebab dari kebinasaan itu ditarik-Nya dan dilepaskan-Nya mereka yang dalam rencana-Nya yang kekal dan tidak berubah-ubah telah dipilih-Nya dalam Yesus Kristus, Tuhan kita, hanya karena kebaikan-Nya semata-mata, dengan tiada memperhitungkan sedikit pun perbuatan-perbuatan mereka.
Adil, karena yang lain-lain ditinggalkan-Nya dalam kejatuhan dan kebinasaan tempat mereka telah menghamburkan diri.
Pasal 17: Pemulihan manusia yang telah jatuh
Kita percaya, bahwa Allah kita yang baik, - melihat bahwa dengan demikian manusia sudah menghamburkan diri ke dalam maut jasmani maupun rohani, dan sudah mencelakakan dirinya sama sekali - karena hikmat dan kebaikan-Nya yang menakjubkan, pergi sendiri mencari manusia, ketika manusia itu lari dari-Nya dengan gemetar, dan menghibur dia dengan perjanjian akan mengaruniakan Anak-Nya, yang akan lahir dari seorang perempuan ( ), supaya ia meremukkan kepala ular ( ), dan membahagiakan manusia itu.
Pasal 18: Anak Allah menjadi manusia
Maka dari itu, kita mengaku, bahwa Allah sudah menggenapi janji, yang telah diberikan-Nya kepada bapa-bapa leluhur melalui mulut nabi-nabi-Nya yang kudus.
Dia telah mengutus Anak-Nya sendiri yang tunggal dan kekal ke dalam dunia, pada waktu yang telah ditentukan-Nya.
Dia telah mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, dengan sungguh-sungguh mengenakan tabiat manusia yang sejati dengan segala kelemahannya (kecuali dosa).
Sebab Dia dikandung dalam badan anak dara Maria yang berbahagia, oleh kekuatan Roh Kudus, tanpa perbuatan seorang laki-laki.
Dan Dia mengenakan tabiat manusia, tidak hanya sejauh menyangkut tubuh saja, tetapi juga jiwa manusia yang sejati, supaya Dia menjadi manusia sejati.
Oleh sebab jiwa manusia sama binasa dengan tubuh maka perlu dikenakan-Nya keduanya, agar menyelamatkan keduanya.
Oleh sebab itu, kita mengaku (dengan menolak ajaran sesat kaum Anabaptis yang menyangkal bahwa Kristus menerima daging manusia dari ibu-Nya), bahwa Kristus mendapat bagian dalam daging dan darah anak-anak ( ), bahwa Dia terbit dari sulbi Daud menurut daging ( ), menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud ( ), buah rahim Maria ( ), lahir dari seorang perempuan ( ), tunas bagi Daud ( ), suatu tunas yang keluar dari tunggul Isai ( ), berasal dari suku Yehuda ( ), keturunan orang Yahudi menurut daging ( ), keturunan Abraham, karena Dia telah menerima keturunan Abraham dan disamakan dengan saudara-saudara-Nya dalam segala hal, kecuali hal dosa ( ), Dengan demikian Dia sungguh-sungguh menjadi Imanuel kita, yang berarti: Allah menyertai kita ( ).
Pasal 19: Kesatuan dan perbedaan kedua tabiat Kristus dalam satu Pribadi
Kita percaya, bahwa oleh karena Dia dikandung maka Pribadi Sang Anak disatukan dan digabungkan secara tak terpisahkan dengan tabiat manusia, sedemikian rupa, hingga tidak ada dua Anak Allah, dan tidak juga dua Pribadi, tetapi dua tabiat yang disatukan menjadi satu Pribadi yang tunggal, sedangkan tiap-tiap tabiat keallahan-Nya tetap tinggal tidak diciptakan, dengan harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dengan memenuhi langit dan bumi, begitu juga tabiat kemanusiaan-Nya tidak kehilangan sifat-sifatnya sendiri, tetapi tetap tinggal ciptaan, dengan berawal hari dan dengan bersifat berhingga, dengan tetap memiliki segala sesuatu yang termasuk tubuh yang sejati.