Narrative and Miscellaneous Papers

Chapter 2

Chapter 22,685 wordsPublic domain

Istilah berafiks pemberdaya, pemberhenti, pembelajar yang mengacu kepada pelaku dan pemberdayaan, pemberhentian, pembelajaran yang mengacu ke perbuatan dibentuk dari verba memberdayakan, memberhentikan, membelajarkan yang dibentuk dari berdaya, berhenti, belajar yang berasal dari bentuk dasar daya, henti, dan ajar. mem-persatukan persatuan mempersatukan pemersatu pemersatuan

Istilah berafiks pemersatu, pemeroleh, pemelajar yang mengacu kepada pelaku dan pemersatuan, pemerolehan, pemelajaran yang mengacu ke perbuatan atau proses serta persatuan, perolehan, pelajaran yang mengacu ke hasil dibentuk dari verba mempersatukan, memperoleh, mempelajari yang dibentuk dari bersatu, beroleh, belajar yang berasal dari bentuk dasar satu, oleh, ajar.

III.2.3 Paradigma Bentuk Berkonfiks ke—an ke—an saksi kesaksian ke—an bermakna kebermaknaan ke—an terpuruk keterpurukan ke—an seragam keseragaman

Istilah berkonfiks ke—an yang mengacu ke hal atau keadaan dibentuk dari pangkal yang berupa bentuk dasar atau bentuk yang berprefiks ber-, ter-, se-, seperti saksi, bermakna, terpuruk,dan seragam.

III.2.4 Paradigma Bentuk Berinfiks –er-, -el-, -em-, in- Sabut - serabut Tunjuk - telunjuk Kelut - kemelut Kerja - kinerja gigi - gerigi gembung - gelembung getar - gemetar sambung - sinambung

Istilah berinfiks –er-, -el-, -em-, -in- seperti serabut, gerigi, telunjuk, gelembung, kemelut, gemetar, kinerja, sinambung yang mengacu ke jumlah, kemiripan, atau hasil dibentuk dari dasar sabut, gigi, tunjuk, gembung, kelut, getar, kerja dan sambung.

III.3 Istilah Bentuk Ulang

Istilah bentuk ulang dapat berupa ulangan bentuk dasar seutuhnya atau sebagiannya dengan atau tanpa pengimbuhan dan pengubahan bunyi.

III.3.1 Bentuk Ulang Utuh

Istilah bentuk ulang utuh yag mengacu ke kemiripan dapat dilihat pada contoh berikut Ubur-ubur paru-paru anal-anal kunang-kunang Undur-undur kanak-kanak langit-langit kuda-kuda

III.3.2 Bentuk Ulang Suku Awal

Istilah bentuk ulang suku awal (dwipurwa) yang dibentuk melalui pengulangan konsonan awal dengan penambahan ‘pepet’ dapat dilihat pada contoh berikut: Laki - lelaki Tangga - tetangga Jaring - jejaring buku - bebuku rata - merata tikus - tetikus

III.3.3 Bentuk Ulang Berafiks

Istilah bentuk ulang dengan afiksasi dibentuk melalui paradigma berikut: Daun - dedaunan Pohon - pepohonan Rumput - rerumputan

Istilah bentuk ulang dedaunan, pepohonan, rerumputan yang mengacu ke berbagai macam, keanekaan dibentuk dari dasar daun, pohon, dan rumput yang mengalami perulangan.

III.3.4 Bentuk Ulang Salin Suara

Istilah bentuk ulang salin suara dibentuk melalui pengulangan dengan perubahan bunyi. Perhatikan contoh berikut. Sayur - sayur-mayur Beras - beras-petas Serta - serta-merta warna - warna-warni teka - teka-teki balik - bolak-balik

Dari segi makna, perulangan dengan cara itu mengandung makna ‘bermacam-macam’.

III.4 Istilah Bentuk Majemuk

Istilah bentuk majemuk atau kompositum merupakan hasil penggabungan dua bentuk atau lebih, yang menjadi satuan leksikal baru. Gabungan kata itu berupa (1) gabungan bentuk bebas dengan bentuk bebas, (2) bentuk bebas dengan bentuk terikat, atau (3) bentuk terikat dengan bentuk terikat.

III.4.1 Gabungan Bentuk Bebas

Istilah majemuk bentuk bebas merupakan penggabungan dua unsur atau lebih, yang unsurunsurnya dapat berdiri sendiri sebagai bentuk bebas. Gabungan bentuk bebas meliputi gabungan (a) bentuk dasar dengan bentuk dasar, (b) bentuk dasar dengan bentuk berafiks atau sebaliknya, dan (c) bentuk berafiks dengan bentuk berafiks.

III.4.1.1 Gabungan Bentuk Dasar

Istilah majemuk gabungan bentuk dasar merupakan penggabungan dua bentuk dasar atau lebih. Garis lintang Masa depan Rawat jalan kereta api listrik rumah sangat sederhana

III.4.1.2 Gabungan Bentuk Dasar dan Bentuk Berafiks

Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan bentuk berafiks dan bentuk berafiks atau sebaliknya. Proses berdaur Sistem pencernaan menembak jatuh tertangkap tangan

III.4.1.3 Gabungan Bentuk Berafiks dan Bentuk Berafiks

Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan bentuk berafiks dan bentuk berafiks. Misalnya: Kesehatan lingkungan Perawatan kecelakaan Pembangunan berkelanjutan

III.4.2 Gabungan Bentuk Bebas dengan Bentuk Terikat

Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan dua bentuk, atau lebih, yang salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri. Ada sejumlah bentuk terikat yang dapat digunakan dalam pembentukan istilah yang berasal dari bahasa Jawa Kuno dan Melayu. Misalnya:

adi- adikarya - masterpiece adikuasa - superpower

aneka- anekabahasa - multilingual anekawarna - multicolored

antar- antarkota - intercity antarbangsa - international

awa- awaair - dewater awalengas - dehumidity

catur- caturwulan - quarter caturlarik - quatrain

dasa- dasawarsa - decade dasalomba - decathlon

dur- durhaka - rebellious dursila - unethical

dwi- dwimingguan - biweekly dwibahasa - bilingual

eka- ekamatra - unidimension ekasuku - monosyllable

lajak- lajaklaku - overaction lajakaktif - overactive

lewah- lewahumur - overage lewahbanyak - abundant

lir- lirintan - diamondike lirruang - spacelike

maha- mahatahu - omniscient maharatu - empress Mahakuasa - omnipotent

nir- nirlaba - non-profit nirgelar - nondegree

panca- pancamuka - multifaceted pancaragam - variegated

pasca- pascapanen - postharvest pascasarjana - postgraduate

pra- prasejarah - prehistory prasangka - prejudice

pramu- pramugari - stewardess pramuniaga - salesperson pramuwisata - touristguide

purba- purbawisesa - absolute power purbakalawan - archeologist

purna- purnawaktu - full-time purnabakti - retirement

su- sujana - man of good character susila - good morals

swa- swasembada - self-reliance swalayan - self-service

tak- taksa - ambiguous takadil - unjust

tan- tansuara - soundless tanwarna - colorless

tri- trilipat - threefold triunsur - triadic

tuna- tunahargadiri - inferiority tunakarya - unemployed

Sementara itu, bentuk terikat yang berasal dari bahasa asing Barat, dengan beberapa perkecualian, langsung diserap bersama-sama dengan kata lain yang mengikutinya. Contoh gabungan bentuk asing Barat dengan kata Melayu-Indonesia adalah sebagai berikut: Globalization - globalisasi Modernization - modernisasi

Gabungan bentuk bebas dan bentuk terikat seperti –wan dan –wati dapat dilihat pada contih berikut: Ilmuwan - scientist Seniwati - woman artist

III.4.3 Gabungan Bentuk Terikat

Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan bentuk terikat, dan bentuk terikat unsur itu ditulis serangkai, tidak diberi tanda hubung. Misalnya: Dasawarsa - decade Swatantra - selfgovernment

III.5 Istilah Bentuk Analogi

Istilah bentuk analogi bertolak dari pola bentuk istilah yang sudah ada, seperti berdasarkan pola bentuk pegulat, tata bahasa, juru tulis, pramugari, dengan pola analogi pada istilah tersebut dibentuk berbagai istilah lain. Misalnya: Pegolf (golfer) Tata graha (housekeeping) Juru masak (cook) Pramuniaga (salesperson) peselancar (surfer) tata kelola (governance) juru bicara (spokesman) pramusiwi (baby-sitter)

III.6 Istilah Hasil Metanalisis

Istilah hasil metanalisis terbentuk melalui analisis unsur yang keliru. Misalnya: Kata mupakat (mufakat) diuraikan menjadi mu + pakat; lalu ada kata sepakat. Kata dasar perinci disangka terdiri atas pe + rinci sehingga muncul istilah rinci dan rincian.

III.7 Istilah Bentuk Singkatan

Istilah bentuk singkatan ialah bentuk yang penulisannya dipendekkan menurut tiga cara berikut. Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih yang dilisankan sesuai dengan bentuk istilah lengkapnya. Misalnya: cm yang dilisankan sentimeter l yang dilisankan liter sin yang dilisankan sinus tg yang dilisankan tangen Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih yang lazim dilisankan huruf demi huruf. Misalnya: DDT (diklorodifeniltrikloroetana) yang dilisankan de-de-te KVA(kilovolt-ampere) yang dilisankan ka-ve-a TL (tube luminescent) yang dilisankan te-el Istilah yang sebagian unsurnya ditanggalkan. Misalnya: Ekspres yang berasal dari kereta api ekpres Kawat yang berasal dari surat kawat Harian yang berasal dari surat kabar harian Lab yang berasal dari laboratorium Info yang berasal dari informasi Demo yang berasal dari demonstrasi Promo yang berasal dari promosi

III.8 Istilah Bentuk Akronim

Istilah bentuk akronim ialah istilah pemendekan bentuk majemuk yang berupa gabungan huruf awal suku kata, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf awal dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata. Misalnya: Air susu ibu - asi Bukti pelanggaran - tilang Pengawasan melekat - waskat Peluru kendali (guided missile) - rudal Cairan alir (lotion) - calir

III.9 Lambang Huruf

Lambang huruf ialah satu huruf atau lebih yang melambangkan konsep dasar ilmiah seperti kuantitas dan nama unsur. Lambang huruf tidak diikuti tanda titik. Misalnya: F - gaya N - nitrogen Hg - raksa (kimia) m - meter NaCl - natrium klorida Rp - rupiah $ - dolar

III.10 Gambar Lambang

Gambar lambang ialah gambar atau tanda lain yang melambangkan konsep ilmiah menurut konvensi bidang ilmu yang bersangkutan. Misalnya: ≅ - kongruen (matematika) ≡ - identik (matematika) Σ - jumlah beruntun (matematika) ~ - setara (matematika) ♂ - jantan (biologi) ♀ - betina (biologi) Х - disilangkan dengan; hibrida (biologi) ↓ - menunjukkan endapan zat (kimia) ◊ - cincin benzena (kimia) ✶ - bintang (astronomi) ☼ - matahari; Ahad (atau) bulan; Senin (astronomi) З - dram; 3.887 gram (farmasi) f° - folio (ukuran kertas) 4° - kuarto (ukuran kertas) U - pon (dagang) & - dan (dagang) pp - pianissimo, sangat lembut (musik) f - forte, nyaring (musik) * - asterisk, takgramatikal, bentuk rekonstruksi (linguistik) 12 || T || tera- || terahertz |- | 10 9 || G || giga- || gigawatt |- | 10 6 || M || mega- || megaton |- | 10 3 || k || kilo- || kiloliter |- | 10 2 || h || hekto- || hektoliter |- | 10 1 || da || deka- || dekaliter |- | 10 -1 || d || desi- || desigram |- | 10 -2 || c || senti- || sentimeter |- | 10 -3 || m || mili- || milivolt |- | 10 -6 || µ || mikro- || mikrometer |- | 10 -9 || n || nano- || nanogram |- | 10 -12 || p || piko- || pikofarad |- | 10 -15 || f || femto- || femtoampere |- | 10 -18 || a || ato- || atogram |}

III.13 Sistem Bilangan Besar

Sistem bilangan besar di atas satu juta yang dianjurkan adalah sebagai berikut.

{| |- | 10 9 || biliun || jumlah nol 9 |- | 10 12 || triliun || jumlah nol 12 |- | 10 15 || kuadriliun || jumlah nol 15 |- | 10 18 || kuintiliun || jumlah nol 18 |- | 10 21 || sekstiliun || jumlah nol 21 |- | 10 24 || septiliun || jumlah nol 24 |- | 10 27 || oktiliun || jumlah nol 27 |- | 10 30 || noniliun || jumlah nol 30 |- | 10 33 || desiliun || jumlah nol 33 |}

Sistem yang tersebut di atas antara lain juga digunakan di Amerika Serikat, Rusia, dan Prancis. Di samping itu, masih ada sistem bilangan besar yang berlaku di Inggris, Jerman, dan Belanda seperti dibawah ini.

{| |- | 10 9 || miliar || jumlah nol 9 |- | 10 12 || biliun || jumlah nol 12 |- | 10 18 || triliun || jumlah nol 18 |- | 10 24 || kuadriliun || jumlah nol 24 |- | 10 30 || kuintiliun || jumlah nol 30 |}

III.14 Tanda Desimal

Sistem Satuan Internasional menentukan bahwa tanda desimal boleh dinyatakan dengan koma atau titik. Dewasa ini beberapa negeri, termasuk Belanda dan Indonesia, masih menggunakan tanda koma desimal. Misalnya

{| |- | 3,52 || atau || 3.52 |- | 123,45 || atau || 123.45 |- | 15,000,000,00 || atau || 15.000.000,00 |}

Bilangan desimal tidak dimulai dengan tanda desimal, tetapi selalu dimulai dengan angka. Misalnya:

{| |- | 0,52 || bukan || ,52 |- | 0.52 || bukan || .52 |}

Jika perlu, bilangan desimal di dalam daftar atau senarai dapat dikecualikan dari peraturan tersebut di atas. Misalnya:

{| |- | ,550 234 || atau || .550 234 |- | ,552 76 || atau || .552 76 |- | ,554 051 || atau || .554 051 |- | ,556 1 || atau || .556 1 |}

Bilangan yang hanya berupa angka yang dituliskan dalam tabel atau daftar dibagi menjadi kelompok-kelompok tiga angka yang dipisahkan oleh spasi tanpa penggunaan tanda desimal. Misalnya:

{| |- | 3 105 724 || bukan || 3,105,724 || atau || 3.105.724 |- | 5 075 442 || bukan || 5,075,442 || atau || 5.075.442 |- | 17 081 500 || bukan || 17,081,500 || atau || 17.081.500 |- | 158 777 543 || bukan || 158,777,543 || atau || 158.777.543 |- | 666 123 || bukan || 666,123 || atau || 666.123 |}

Catatan: dengan mengingat kemungkinan bahwa tanda desimal dapat dinyatakan dengan tanda koma atau titik, penulis karangan hendaknya memberikan catatan cara mana yang diikutinya.

IV. Aspek Semantik Peristilahan

IV.1 Pemberian Makna Baru

Istilah baru dapat dibentuk lewat penyempitan dan peluasan makna kata yang lazim dan yang tidak lazim. Artinya, kata itu dikurangi atau ditambah jangkauan maknanya sehingga penerapannya menjadi lebih sempit atau lebih luas.

IV.1.1 Penyempitan Makna

Kata gaya yang mempunyai makna 'kekuatan' dipersempit maknanya menjadi 'dorongan atau tarikan yang akan menggerakkan benda bebas (tak terikat)' dan menjadi istilah baru untuk padanan istilah inggris force. Kata kendala yang mempunyai makna 'penghalang', 'perintang' dipersempit maknanya menjadi 'pembatas keleluasaan gerak', yang tidak perlu menghalangi atau merintangi, untuk dijadikan istilah baru bidang fisika sebagai padanan istilah Inggris constraint. Kata tenaga yang mempunyai makna 'kekuatan untuk menggerakkan sesuatu' dipersempit maknanya untuk dijadikan istlah baru sebagai padanan istilah energy dan kata daya menjadi padanan istilah power. Kata ranah dalam bahasa Minang, yang mempunyai makna 'tanah rata, dataran rendah' dipersempit maknanya menjadi 'lingkungan yang memungkinkan terjadinya percakapan yang merupakan kombinasi antara partisipan, topic, dan tempat' sebagai padanan istilah domain.

IV.1.2 Perluasan Makna

Kata garam yang semula bermakna 'garam dapur' (NaCl) diperluas maknanya sehingga mencakupi semua jenis senyawaan dalam bidang kimia. Kata canggih yang semula bermakna 'banyak cakap, bawel, ceretwet' diperluas maknanyauntuk dipakai di bidang teknik, yang berarti 'kehilangan kesedarhanaan asli (seperti sangat rumit, ruwet, atau terkembang)'. Kata pesawat yang semula bermakna 'alat, perkakas, mesin' diperluas maknanya di bidang teknik menjadi 'kapal terbang'. Kata luah yang berasal dari bahasa Minang, dengan makna '(1) rasa mual; (2) tumpah atau limpah (tentang barang cair)', mengalami perluasan makna menjadi 'volume zat cair yang mengalir melalui permukaan per tahun waktu'. Kata pamer yang semula dalam bahasa Jawa bermakna 'beraga, berlagak' bergeser maknanya dalam bahasa Indonesia menjadi 'menunjukkan (mendemonstrasi) sesuatu yang dimiliki kepada orang banyak dengan maksud memperlihatkan kelebihan atau keunggulan'.

IV.2 Istilah Sinonim

Dua istilah atau lebih yang maknanya sama atau mirip, tetapi bentuknya berlainan, disebut sinonim. Di antara istilah sinonim itu salah satunya ditentukan sebagai istilah baku atau yang diutamakan. Misalnya: gulma sebagai padanan weed lebih baik daripada tumbuhan pengganggu hutan bakau sebagai padanan mangrove forest lebih baik daripada hutan payau mikro- sebagai padanan micro- dalam hal tertentu lebih baik daripada renik partikel sebagai padanan particle lebih baik daripada bagian kecil atau zarah

Meskipun begitu, istilah sinonim dapat dipakai di samping istilah baku yang diutamakan. Misalnya:

{| |- ! Istilah asing !! Istilah yang diutamakan !! Istilah sinonim |- | absorb || serap || absorb |- | acceleration || percepatan || akselerasi |- | diameter || garis tengah || diameter |- | frequency || frekuensi || kekerapan |- | relative || relatif || nisbi |- | temperature || suhu || temperatur |}

Berikut kelompok istilah sinonim yang menyalahi asas penamaan dan pengistilahan Misalnya: zat lemas dihindarkan karena ada nitrogen saran diri dihindarkan karena ada autosugesti ilmu pisah dihindarkan karena ada ilmu kimia ilmu pasti dihindarkan karena ada matematika

Sinonim asing yang benar-benar sama diterjemahkan dengan satu istilah Indonesia. Misalnya: average, mean - rata-rata (rerata, purata) grounding, earthing - pengetanahan

Sinonim asing yang hampir bersamaan sedapat-dapatnya diterjemahkan dengan istilah yang berlainan. Misalnya: axiom - aksioma law - hukum postulate - postulat rule - kaidah

IV.3 Istilah Homonim

Istilah homonim berupa dua istilah, atau lebih, yang sama ejaan dan lafalnya, tetapi maknanya berbeda, karena asalnya berlainan. Istilah homonim dapat dibedakan menjadi homograf dan homofon.

IV.3.1 Homograf

Istilah homograf ialah istilah yang sama ejaannya, tetapi berbeda lafalnya. Misalnya: pedologi ← paedo - ilmu tentang hidup dan perkembangan anak pedologi ← pedon - ilmu tentang tanah teras - inti teras - lantai datar di muka rumah

IV.3.2 Homofon

Istilah homofon ialah istilah yang sama lafalnya, tetapi berbeda ejaannya. Misalnya: bank dengan bang massa dengan masa sanksi dengan sangsi

IV.4 Istilah Polisem

Istilah polisem ialah bentuk yang memiliki makna ganda yang bertalian. Misalnya, kata kepala (orang) 'bagian teratas' dipakai dalam kepala (jawatan), kepala (sarung). Bentuk asing yang sifatnya polisem diterjemahkan sesuai dengan arti dalam konteksnya. Karena medan makna yang berbeda, suatu istilah asing tidak selalu berpadanan dengan kata Indonesia yang sama.

Misalnya (cushion) head - topi (tiang pancang) head (gate) - (pintu air) atas (nuclear) head - hulu (nuklir) (velocity) head - tinggi (tenaga kecepatan) (detonating) fuse - sumbu (ledak) fuse - sekering to fuse - melebur, berpadu, melakur, terbakar.

IV.5 Istilah Hiponim

Istilah hiponim ialah bentuk yang maknanya terangkum dalam hiperonim, atau subordinatnya, atau superordinatnya, yang mempunyai makna yang lebih luas. Kata mawar, melati, cempaka, misalnya, masing-masing disebut hiponim terhadap kata bunga yang menjadi hiperonim atau superordinatnya. Di dalam terjemahan, hiperonim atau superordinat pada umumnya tidak disalin dengan salah satu hiponimnya, kecuali jika dalam bahasa Indonesia tidak terdapat istilah superordinatnya. Kata poultry, misalnya diterjemahkan dengan unggas, dan tidak dengan ayam atau bebek. Jika tidak ada pasangan istilah hiperonimnya dalam bahasa Indonesia, konteks situasi atau ikatan kalimat suatu superordinat asing akan menentukan hiponim Indonesia mana yang harus dipilih. Kata rice, misalnya, dapat diterjemahkan dengan padi, gabah, beras, atau nasi, bergantung pada konteksnya.

IV.6 Istilah Taksonim

Istilah taksonim ialah hiponim dalam sistem klasifikasi konsep bawahan dan konsep atasan yang bertingkat-tingkat. Kumpulan taksonim membangun taksonimi sebagaimana takson membangun taksonomi. Berikut ini adalah bagan taksonomi makhluk.

Makhluk Bakteri hewan mamalia anjing pudel herder sapi burung unggas itik ayam manuk ikan teri tongkol serangga semut capung tumbuhan

yang dimaksud dengan hubungan antara kelas atasan dan kelas bawahan dalam bagan di atas ialah hubungan makhluk dengan bakteri, hewan, damn tumbuhan atau hubungan hewan dengan mamalia, burung, ikan, dan serangga. Sementara itu, hubungan kelas bawahan dan kelas atasan ialah hubungan bakteri, hewan dan tumbuhan dengan makhluk, atau hubungan mamalia, burung, ikan, dan serangga dengan hewan.

IV.7 Istilah Meronim

Istilah Meronim ialah istilah yang maujud (entity) yang ditunjuknya merupakan bagian dari maujud lain yang menyeluruh. Istilah yang menyeluruh itu disebut holonim. Berikut ini adalah bagan meronimi tubuh.

Tubuh kepala rambu dahi mata hidung telinga mulut lidah gigi bibir bibir atas bibir bawah leher dada lengan tungkai

bagan di atas memperlihatkan kata yang mengandung makna keseluruhan yang memiliki kedudukan lebih tinggi daripada kata bagiannya atau makna keseluruhan dianggap meliputi makna bagian. Kata tubuh mengandung makna keseluruhan yang mencakupi makna dada, lengan, dan tungkai. Hubungan antara tubuh dan bagiannya disebut hubungan kemeroniman. Hubungan kemeroniman dibedakan atas hubungan tubuh dengan bagiannya, hubungan kumpulan dengan anggotanya, serta hubungan antara massa dengan unsurnya tubuh adalah keseluruhan yang terjadi dari keutuhan seluruh bagiannya; kumpulan adalah keseluruhan yang terjadi dari gabungan seluruh anggotanya; massa merupakan keseluruhan yang terjadi dari peleburan seluruh unsurnya.

Kategori:Standar dan pedoman Kategori:Bahasa Indonesia