Pandangan dan Langkah Partai Rakyat
Part 2
Pertanian Indonesia adalah pertanian industri (landbouw-industri). Di sini pertanian bergabungan rapat dengan industri. Di samping ladang tebu yang dilaksanakan menurut ilmu dan tehnik yang paling modern di dunia didapati pabrik gula, yang berlangsung menurut ilmu dan tehnik yang up to date pula. Angkut mengangkut dari kebun ke pabrik dan dari pabrik ke pelabuhan Indonesia, terus ke pelabuhan ke seluruh dunia dijalankan dengan alat pengangkutan modern pula. Pada satu perusahaan gula, seperti Jatiroto terkumpul lebih kurang 40.000 buruh dan tani di musim giling, ialah sebelum Perang Dunia Kedua. Demikianlah puluhan, pernah 180 buah perusahaan gula tersebar di sebagian besar pulau Jawa. Pada tiap-tiap perusahaan gula, pabrik dan kebun di jaman Hindia-Belanda, sedikitnya terpusat 10.000 buruh tani dan buruh pabrik. Selainnya daripada perusahaan tebu kita mendapatkan lagi perusahaan getah, kopi, kina, sisal dll. yang juga dijalankan secara besar-besaran, yang mengumpulkan ratusan ribu buruh-tani, yang bekerja buat pasar dunia dan mengandung ratusan juta rupiah modal asing.
Ringkasnya, pada perusahaan tersebut pertanian serta perindustrian sudah tergabung rapat sekali. Soal yang terpenting kelak buat masa pembangunan bagi kita Indonesia merdeka ialah mengadakan koordinasi yang rapat antara pekerja tanah ladang atau kebun itu dengan pekerja mesin di dalam pabrik yang bersangkutan di darat, pelabuhan dan lautan.
Soal koordinasi pekerja tanah, pabrik dan lautan itulah kelak yang harus kita selesaikan atas dasar sosialisme. Memangnya soal ini teristimewa sekali jelasnya dan sempurnanya pada masyarakat kita ini. Memecahkan soal itu dengan kepuasan bagi seluruh pihak adalah berarti menyelesaikan salah satu titik berat perekonomian kita di masa sekarang.
Sepintas lalu tampak di depan kita/di depan saya sekarang soal yang mendesak kini dan nanti, ialah bagaimana coraknya koordinasi buruh-tani dan buruh pabrik di sekitar perusahaan gula, kina, getah, sisal kapas, dll. itu. Sepintas lalu nampak pula di depan mata sebuah satuan politik yang bersandar kepada kerja-sama antara buruh dan buruh-tani dan buruh pabrik itu yang mengikat satu rombongan desa. Satu atau lebih pabrik dengan ladang atau kebun di sekelilingnya yang meliputi beberapa desa itulah saya pandangan sebagai sebuah satuan politik pertama. Jadi kalau kita pakai putusan BP KNIP yang baru ini, yang sudah menetapkan kita tingkat pemerintahan daerah, maka saya pikirkan seboleh-bolehnya satuan tesebut di ataslah yang baik dijadikan tingkatan pertama itu. Dalam arti ekonomi kehidupan penduduk dalam satuan tersebut sudah atau hampir self-surporting!
Kongkritnya soal itu bagi Partai Rakyat, ialah dari sekarang berusaha mengadakan koordinasi buruh-tani dengan buruh-pabrik yang dalam perekonomian sudah lama bekerja rapat dan memberikan corak istimewa pada perekonomian kita sekarang.
Seandainya Partai Rakyat memusatkan usahanya pada buruh-tani dan Akoma pada buruh-pabrik yang bersangkutan, memimpin serikat sekerja dan kelasykaran yang bersangkutan dan keduanya (Partai Rakyat dan Akoma) yang bekerja rapat satu dengan lainnya dapat pula mengikat dan mengkoordinir semua atau sebagian besar pertanian-industri kita, maka selesailah sudah sebagian besar dari soal ekonomi, politik, dan kebudayaan masyarakat kita di masa depan. Di sekitarnya penyelesaian itu kelak, kita dapat mengadakan indusrialisasi menurut rencana dengan pengharapan besar lekas tercapainya maksud kita.
Soal Pembagian Pekerjaan
Anggaran Dasar, sudah mengadakan pembagian pekerjaan, ialah: 1. Badan Keuangan, 2. Badan Pengawas, Perencana, 3. Badan Penyelidik, 4. Badan Propaganda. Di sini saya ingin memajukan beberapa sugesti. Dalam pembagian tersebut belum saya lihat badan istimewa mengurus organisasi. Apakah Badan Pengawas termasuk ke situ? Kalau tidak saya harap supaya badan itu didirikan: ialah satu badan yang menetapkan corak organisasi yang baik bagi sesuatu golongan yang disusun (buruh, tani, jembel kota, mahasiswa dll); yang juga mengadakan koordinasi yang efisien bagi segala organisasi di bawah pimpinan kita itu, yang juga berhak mengadakan perubahan dimana dirasa perlu.
Kita semua sudah mengetahui dan berpengalaman bahwa kekurangan bangsa kita dalam hal organisasi itulah yang menjadi sendi kelemahan kita dalam semua cabang kehidupan. Memang sekarang dalam hal organisasi itu kita sudah jauh lebih maju dari sebelumnya Proklamasi, tetapi kekuatan organisasi kita belum lagi sepadan dengan kekuatan yang tersembunyi pada 70 juta rakyat dan kekayaan alam kita. Bukanlah senjata yang terutama sekarang menjadi faktor kekurangan kita, melainkan kelemahan organisasi, sendi terutama bagi organisasi itu saya lihat pada tingkat sekarang ialah disiplin.
Yang pertama sekali berkenaan dengan disiplin itu, ialah kejujuran, dan kegiatan menjalankan putusan yang sudah diambil oleh partai. Kita boleh bertengkar (hendaknya jangan) ketika merundingkan sesuatu soal. Tetapi kalau putusan itu sudah didapat, dengan sah maka bagaimanapun juga pendirian sendiri terhadap putusan itu, putusan itu wajib dijalankan dengan segala kejujuran, kegiatan dan kecakapan. Kepada yang mensabotir putusan itu disiplin wajib dijalankan (kasih peringatan satu dua kali. Kalau tidak harus dischors atau pecat sementara atau selamanya!). Tidak saja anggota, begitupun sesuatu organisasi gabungan, kalau perlu harus dijatuhi disiplin. (Tentulah disiplin itu tak boleh menjadi tongkat pemukul buat memuaskan kebencian seseorang kepada seseorang lain di dalam Partai. Kepentingan partai seluruhnya dan keadilanlah yang harus dipakai sebagai ukuran).
Pendeknya badan organisasi yang saya sebutkan di atas berkewajiban merencanakan sesuatu bentuk organisasi bagi sesuatu golongan, mengawasi koordinasi dari berbagai organisasi gabungan, mengusulkan perubahan bagi satu atau gabungan organisasi, mengusulkan disiplin kepada seorang anggota atau sebuah organisasi gabungan. Dalam masa Partai Rakyat sedang maju pesat ini maka terkandunglah bahaya kesia-siaan kekurangan hati-hati. Di sinilah disiplin harus diperkeras dan di sinilah keberesan organisasi harus diawasi! Lebih baik mempunyai partai kecil yang berdisiplin baja daripada partai besar yang longgar seperti kereta kehilangan sekrup!!!
Sedikit tentang Keuangan
“Gold is de ziel van de negatie!” Uang itu untuk organisasi politikpun tak bisa disingkirkan. Cetak-mencetakpun, mencetak buku, majalah dan harian, kirim-mengirim propagandis dan utusan, sewa-menyewa rumah dll. sebagai banyak memerlukan ongkos. Kadang-kadang keperluan itu mendadak saja datangnya. Berbahagialah sesuatu partai yang mempunyai cadangan (reserve fonds) Reserve fonds takkan didapat kalau tak diadakan tanggung-jawab yang pasti teratur, tentangnya keluar masuknya uang.
Tak kurang dari organisasi/organisator yang ulung, propagandis yang jitu, kita membutuhkan finansir yang hemat cermat serta kerap (streng) yang mencatat setiap sen keluar atau masuknya uang. Yang membelalakkan matanya kalau satu senpun uang dibuang-buang. Karena berhasil atau tidaknya pengiriman seseorang propagandis atau utusan ke tempat penting di waktu acapkali tergantung kepada ada tidaknya uang di kas.
Tanamlah seoang finansir dalam badan keuangan kita! Dan terutama pula berilah kekuasaan kepada finansir itu dan instruksi yang cukup dalam hal mana uang boleh dikeluarkan, supaya dia si finansir bisa menanggung-jawabkan setiap sen yang keluar dan masuk.
Janganlah hendaknya seperti yang sudah lalu, ribuan kalau tak puluhan ribu uang jualan buku kita tersangkut saja entah di mana!
Sedikit tentangan Propaganda dan Keuangan
Dalam majalah, baiklah propaganda kita agak mendalam. Tetapi teori kalau perlu dimajukan, janganlah yang tiada mengenai situasi kita sekarang. Teori yang semata-mata abstrak (niskala), melayang-layang di langit bagi kita di masa revolusi Indonesia ini dan di masa kekurangan kertas ini tak perlu dimajukan.
Begitulah pula hendaknya dalam kursus, ajarkanlah teori yang dapat dipraktekan saja. Dalam surat kabar harian disamping kritik yang penting terhadap lawan di luar dan dalam, dan di samping kritik penjelasan tentangan politik kita, hendaknya dipersoalkan pula keadaan kehidupan buruh, tani, dan jembel (murba) sehari-hari.
Baiklah disediakan suatu kolom yang istimewa mempersoalkan upah, harga-barang, sewa-rumah, pelayanan pabrik, kebun dan kantor, dan hal remeh mengenai murba sehari-hari. Tidak saja harus dimajukan semua kekurangan itu, tetapi majukanlah kritik terhadap siapa saja di mana perlu dan jangan pula dilupakan memajukan penyelesaiannya.
Pendeknya propaganda dan agitasi kita mesti nyata, ialah berdasarkan kehidupan murba sehari-hari. Begitu pula propaganda dan agitasi kita di desa, kebun atau pabrik. Haruslah berdasarkan kehidupan murba sehari-hari. Dari sinilah kita melangkah sampai kepada program yang kita majukan, sebagai alternatif penyelesaian daripada semua kekusutan sekarang.
Selain pandai berbicara di depan tani, buruh dan prajurit itu haruslah si propagandis pula bisa hidup senasib sepenanggungan dengan mereka. Harus pula sanggup memanggul senapan atau bambu runcing seperti seorang prajurit. Barulah propagandis kita akan mendapatkan kepercayaan penuh. Barulah nanti Partai kita mempunya otoritas (didengar katanya) diantara murba.
Ringkasnya propaganda haruslah konkrit, nyata, terasa dan si propagandis haruslah sanggup memberi contoh yang tegas-nyata pula.
Di samping itu hendaklah dijaga supaya semua buku kita sampai kepada orang yang kiranya sanggup menerima dan menjalankan atau menyiarkan isinya. Hendaknya dijaga supaya jangan jatuh ke tangan mereka yang cuma ingin membakarnya atau mencatutnya saja.
Pendeknya, propaganda dalam badan perwakilan dijalankan menurut rencana yang pasti dan diusahakan oleh satu badan teristimewa pula (Fraksi Parlemen)
Alat dan Syaratnya Alat Kita
1) Partai adalah alat untuk mencapai tujuan kita.
2) Partai adalah satu badan untuk melaksanakan idaman, hasrat dan tuntutan rakyat dan yang mengambil inisiatif dan menjadi pelopor rakyat dalam masa pelaksanaan idamana, hasrat dan tuntutan itu.
3) Kongres adalah upaya yang terbaik untuk mempersatukan sikap dan tindakan bagi semua cabang partai dan anggota gabungan partai, setelah meninjau ke belakang dan menengok ke depan dengan maksud memperbaiki yang salah dan memperkokoh yang lemah di masa lampau serta menentukan sikap tindakan yang lebih sempurna di masa depan.
4) Kerja Partai secara illegal atau legal, tersembunyi atau tertutup tiada membawa perbedaan pada isi propaganda dan agitasi, melainkan perbedaan dalam cara melakukan propaganda dan agitasi itu saja. Baik dalam kerja illegal ataupun legal, Partai tetap mempropagandakan isi tuntutan murba umum (massa) dan tetap pula bersandar atas kekuatan massa (murba) Kerja illegal tiadalah bermaksud mempropagandakan perbuatan putsch, melainkan bermaksud memelihara para pemimpin dari mata pengintipannya kaum reaksi, sementara murba penyokong belum lagi insyaf, tersusun dan terpimpin.
5) Partai adalah gudang pengetahuan berdasarkan pengalaman bagi setiap anggotanya; satu asrama kemasyarakatan buat para anggotanya untuk melatih dirinya sebagai pemimpin dalam lapangan politik, ekonomi, kelaskaran, kerevolusioneran dan kebudayaan dan menyiapkan diri sebagai pemimpin dalam semua cabang penghidupan: dari luarah sampai menteri negara, dari pengurus satu serikat sekerja sampai ke gabungan semua serikat sekerja, dari prajurit sampai jendral dan sebagainya.
6) Syarat bagi partai ialah syarat dari tiap-tiap anggotanya.
7) Buruk baiknya partai, cerdas bodohnya partai, rajin malasnya partai tergantung kepada sifat para anggotanya pula. Kepintaran, keyakinan dan ketabahan Partai tergantung kepada kepintaran, keyakinan dan ketabahan seluruhnya anggota Partai pula. Hendaknya partai menjaga persatuan dengan menjaga kerukunan para anggotanya, ialah dengan jalan berterang-terangan, percaya-mempercayai, maaf-memaafkan dan bantu-membantu satu sama lain.
Hendaknya partai kian hari kian kuat-kokoh, dengan menjaga disiplin, mempergunakan tenaga yang cakap dan melenyapkan sifat yang tak baik dan menempatkan tiap-tiap anggota pada jabatan yang paling cocok dengan semangat, kemauan dan kecakapannya.
Hendaknya dicari, bahwa hasil-hasil kerjanya partai adalah hasil kerja bersama dan tiap-tiap anggota merasakan akibatnya kejayaan-kejayaan ataupun kegagalan Partai.
Sekian dulu!
Ditulis tergopoh-gopoh. Kalau-kalau merpati hinggap !
Selamat berkongres! Selamat bekerja!
Merdeka !
Tertanda,
Tan Malaka
Penjara Magelang, tanggal 31 Juli 1948.
P.S. Karena masih ada waktu maka saya sempat menulis Pandangan dan Langkah Partai Rakyat (Nasional) yang saya kirim bersama ini.
Penjara Magelang 2/9-48
T.M.