Chapter 3
Di dalam pidato saya 17 Agustus 1958, saya berkata ada golongan yang ketiga, yaitu golongannya bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang tidak ikut ini tidak ikut itu, tetapi golongan yang hendak mendirikan tanah airnya sendiri menurut kepribadian sendiri-sendiri. Tetapi nyata ini dua golongan yang besar, pengikut komunistis manifest, pengikut falsafah Thomas Jefferson, yang – sedikitnya profesor-profesor itu harus mengetahui ini, mengetahui itu. Ya apa tidak? – pengikutnya itu bukan puluhan manusia, tetapi ribuan, j uta manusia. Saya tanya kepada profesor di sana itu, bukan di Gajah Mada: "Saudara apa sudah pernah baca komunistis manifest? Belum! Masya Allah! Belum pernah membaca komunistis manifest yang telah membelah dunia menjadi satu golongan yang besar. Tetapi ia menjawab: "Ya, saya belum membaca komunistis manifest, tetapi saya membaca Kranenburg". Aduh, babak bunyar saya.
Nah, kepada mahasiswa di Bandung dan sekarang juga kepada mahasiswa di Yogyakarta, saya menganjurkan: jangan-lah mau kepada snobisten; jangan! Berpikirlah bebas, mencari cara menyumbang kepada penyelenggaraan daripada blue print ini. Oleh karena blue print ini memang amanat daripada penderitaan Bangsa Indonesia yang telah berpuluh-puluh tahun, amanat yang sepedih-pedihnya. Tujuan yang satu-satunya daripada revolusi kita yaitu suatu masyarakat adil dan makmur, berdasarkan keadilan sosial.
Engkau, di dalam mengisi engkau punya otak, mengisi engkau punya pengalaman, kataku di Bandung, jangan menderita penyakit purbasangka, jangan prejudice, jangan berpenyakit prejudice. Sebab ada purbasangka itu. Purbasangka kepada satu golongan wetenschap, pada satu golongan ilmu. Dikatakan bahwa semua ilmu yang dari Timur, yaitu dari golongan Sovyet, tabu, tidak baik. Dibilang juga, ilmu yang dari Amerika cs, tidak baik. Dua-duanya menderita penyakit purbasangka. Padahal kita yang hendak membangun, yang hendak menyelenggarakan blue print ini, kita membutuhkan pengalaman-pengalaman, kita membutuhkan, membutuhkan kepandaian, membutuhkan keprigelan, human skill, material investment, mental investment, technical and managerial know-how, kataku, kita membutuhkan segala hal ini. Dan menurut teori Fasensprung kita harus melihat, mengambil oper pengalaman-pengalaman daripada bangsa-bangsa lain yang berguna bagi kita. Pergilah melihat bangsa-bangsa lain itu, tanpa prejudice, tanpa purbasangka. Tidak perduli darimana, ambil oper mana yang baik. Yang dari Amerika, baik, ambil oper, yang dari Sovyet uni baik, ambil oper.
Kita yang di dalam zaman yang sekarang ini, harus dengan lekas bekerja, harus dengan lekas menyusun masyarakat adil dan makmur itu, bahkan di Bandung dan di Jakarta sata katakan. di dalam dua tiga tahun ini, dua tiga tahun ini, kita harus sudah mencapai suatu momentum konkret, meskipun minimal di atas lapangan pembangunan ekonomi. Entah momentum konkret di lapangan produksi padi yang sekarang kita masih selalu harus mengimport, entah momentum konkret di lapangan membuat bahan pakaian, entah momentum konkret di dalam lapangan membuat bahan-bahan keperluan hidup yang kecil-kecil sehingga saya di Jakarta tempo hari memberi semboyan baru kepada bangsa Indonesia, agar supaya kita di dalam dua tiga tahun ini mencapai satu momentum konkret meskipun minimal.
Di atas lapangan ekonomi saya beri semboyan: tiap-tiap keluarga satu produksi aparat, tiap-tiap keluarga sekarang ini harus menjadi salu produksi aparat. Sebab banyak sekali keluarga-keluarga kita ini yang tidak menjadi produksi aparat. Di daerah Garut, padahal nyata kita ini membutuhkan misalnya tutup botol, kataku di Jakarta. Kita beli tutup botol itu dari luar, kurk, gabus dari luar, dari Yunani. Devisen kita habis. Banyak sekali membeli tutup botol dari Yunani yang berupa gabus. Kita ini rakyat karet! Apa tidak bisa bikin tutup botol dari karet. Lho, itu mesti ada paberik yang besar! Tidak perlu membikin tutup botol dan karet dengan pabrik yang besar. Tiap-tiap rumah tangga itu sebetulnya itu bisa dengan lattex membuat tutup botol. Hendaknya tiap-tiap keluarga di daerah karet menjadi produksi aparat membuat tutup botol.
Hak-hak sepatu ini, 60% dari hak-hak sepatu ini kita beli dari luar. padahal kita ini bangsa karet! Maka oleh karena itu semboyan saya: tiap-tiap keluarga hendaknya menjadi satu produksi aparat. Dengan demikian di dalarn tempo dua tiga tahun kita sudah bisa mencapai satu momentum konkret meskipun minimal di atas lapangan pembangunan ekonomi.
Saudara-saudara kalau engkau mengerti keharusan masyarakat keadilan sosial, jikalau engkau mengerti bahwa masyarakat keadilan sosial itu adalah amanat daripada leluhurmu yang telah menderita, amanat daripada semua pejuang-pejuang yang telah mangkat lebih dahulu termasuk di dalam doa daripada ananda Lina, – yang tadi mengatakan: arwahnya harus kita peringati, -jikalau engkau mengerti bahwa segenap rakyat Indonesia sekarang ini gandrung kepada masyarakat adil dan makmur sebagai yang kita ajarkan kepada mereka berpuluh-puluh tahun, jikalau engkau hidup di dalam suasana yang demikian itu: Aku, aku, aku ingin menyumbang-kan tenagaku kepada penyelenggaraan masyarakat yang demikian ini, alangkah nyamannya engkau punya hidup zaman sekarang ini. Tidak seperti zaman dulu, tatkala pemuda dan pemudi tidak mempunyai cita-cita. Lho saya ini tadinya kecil sekali; habis sekolah itu apa? Urut galengan, mencari jangkrik. Yang diperdebatkan dengan kawan-kawan cuma hal jangkrik: jangkrik itu kalau sutangnya begini, bukan main, menangan!
Tapi kamu sekarang, coba bandingkan: zamanmu dengan zamanku tatkala aku masih kanak-kanak.
O, lain sekali! Engkau sekarang ini: blue print cita-cita keadilan sosial, terasa engkau bertanggung jawan kepada hari kemudian, bertanggung jawab kepada Tuhan sevagai dianatankan oleh Saudara Lina: Nanti engkau punya arwah akan ditanya akan kepemimpinanmu: merasa bertanggung jawab, bukan saja merasa bertanggung jawab sebagai satu beban, tetapi merasa bertanggung jawab sebagai satu tugas yang mulia, a glorious task, a glorious historical task, daripada pemuda-pemudi zaman sekarang; jikalau bisa semangat hidup di dalam kalbumu, yang demikian itu, tidak ada istilah: E, hari kemudian kita gelap gulita. Tidak! Engkau akan selalu melihat hari kemudian tanah air kita dan bangsa kita itu cemerlang; di tepi langit engkau melihat suryanya kebesaran, suryanya masyarakat adil dan makmur makin lama makin naik! Tatkala saya melantik Duta Laili Rusyad, wanita yang pertama saya lantik menjadi wakil kita di luar negeri, saya telah mensitir ucapan seorang pemimpin besar bangsa lain yang berkata kepada pemuda dan pemudi: "He, pemuda dan pemudi, engkau pembina hari kemudian. Orang katakan bahwa engkau itu adalah pupuk hari kemudian". Jangan mau terima sebutan sekadar pupuk hari kemudian! Jangan terima! Kita ini bukan sekadar pupuk, sekadar pupuk hari kemudian tok. Tidak! Kami lebih daripada pupuk! Sebab di dalam kami tumbuh pula bibit. Di dalam bahasa asingnya: "Wij zijn niet enkel mest; ook in ons ontkiemt het aar; kami bukan sekadar pupuk, pupuk mati yang dimasukkan di dalam tanah, kemudian tanah itu yang menjadi subur untuk membangkitkan tanam-tanaman. Kami bukan sekadar pupuk, di dalam kalbu kami, dada kami, rokh kami, jiwa kami bergelora: di dalam jiwa kami tumbuh pula masyarakat yang baru itu; di dalam jiwa kami tumbuh segala apa yang menjadi cita-cita bangsa kita. Ook in ons ontkiemt het aar
Ini adalah saya punya permintaan kepada mahasiswa-mahasiswa, seluruh mahasiswa-mahasiswa Indonesia, seluruh cendekiawan Indonesia, seluruh pemuda-pemudi Indonesia, supaya kita bersama-sama maju ke muka, membawa sumbang-an, berupa apa saja kepada sanggul konde Ibu Pratiwi yang kita cinta. Engkau dapat menyum-bangkan bunga menur, berikan bunga menur kepada ibu Pratiwi. Engkau bisa menyumbangkan bunga melati, berikan bunga melati kepada Ibu Pratiwi. Engkau bisa menyumbang bunga mawar, berikan bunga mawar kepada Ibu Pratiwi. Engkau bisa menyumbang bunga cempaka.. berikan bunga cempaka kepada Ibu Pratiwi. Tetapi marilah kita semuanya memberikan kepada Ibu Pratiwi barang kita masing-masing dan di bawah pimpinan blue print, kita bersama-sama mengagungkan lbu Pratiwi itu.
Kita bersama-sama mengeluarkan satu lagu yang merdu, yang di Surakarta ada orang tanya kepadaku: Bagaimana bunyinya lagu itu? Bunyinya lagu itu adalah di bawah pimpinan blue print ini, di bawah pimpinan dirigent itu dengan permainan daripada segenap rakyat Indonesia yang menyumbang, lagu itu berbunyi: Sosialisme Indonesia, sosialisme Indonesia, sosialisme, sosialisme, adil makmur, adil makmur. Lagu yang merdu, yang memang menjadi cita-cita bangsa kita, sejak berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun.
Inilah harapanku kepadamu sekalian.
Sampai sekian saja.
Terima kasih.