Part 2
Fase keempat bertambah maju lagi menurut hukum evolusi, menjadi fase kelima, yaitu fase yang kita namakan fase industrialisme sekarang ini. Kerajinan di rumah membuat alat-alat, bertumbuh, ontwikkelt zich, developed itself, ke dalam satu kesempurnaan teknologi, ke dalam satu kesempurnaan ilmu teknik, sehingga jadilah apa yang dinamakan industrialisme, yang di dalam zaman dekat ini dikuasai oleh paham-paham kapitalisme. Industrialisme yang membuat alat-alat dan kebutuhan hidup manusia dengan mesin. Industrialisme yang mengenal lokomotif. Industrialisme yang mengenal kapal-kapal udara. Industrialisme yang mengenal kapal-kapal laut. Industrialisme yang mengenal pesawat listrik. Industrialisme yang mengenal radio. Industrialisme yang mengenal alat-alat peperangan yang di luar kekuasaan manusia. Industrialisme yang boleh dikatakan menjadi alat hidup manusia sama sekali.
Di dalam fase yang demikian ini, apa yang tadi dinamakan Tuhan, yang abstrak, – di dalam fase keernpat orang masih bcrkata, adakah Tuhan? Ada. Rupanya bagaimana? Tidak tahu. Rupanya saya tidak bisa mengatakan. Dilihat tidak bisa, dicium tidak ada, didengar tidak ada, diraba tidak ada, dijilat tidak rasa. Di luar panca indera, tetapi Dia ada. Ini fase keempat.
Fase kelima. Oleh karena manusia sudah hidup di dalam alam industrialisme yang ia kuasa membikin segala hal, membikin apa saja yang ia tidak bisa, lha mbok membikin pesawat yang bisa mengirimkan suara dari sini ke Amerika, ia bisa. Alam yang demikian itu, yang merasa dirinya kuasa, kuasa atas segala hal; yang di sini "de ikheid", ego, aku, -ego dengan aku etymologis sama – aku yang berkuasa, aku bercakrawarti. Aku kuasa membuat suara. Aku kuasa membuat sinar yang terang. Aku berkuasa membuat petir. Tempo hari saya ceritakan bahwa Nocolai Tesla bisa membuat petir, dengan mengadakan dua pool yang ia isi voltage bertrilyun-trilyun volt. Kemudian ia lepaskan. Di antara dua pool ini mencetus, menggeledeklah petir. Ia berkata: "Aku bisa membuat petir!"
Orang bertanya mana Tuhanmu? He, Tuhan, tidak ada. Tuhan di sini tidak ada. Tuhan ialah aku. Aku bisa membuat suara, aku bisa membuat petir, aku bisa membuat cahaya, aku bisa membuat segala hal yang diperlukan. Aku, aku, aku! Di sinilah timbul, apa yang orang namakan atheisme, sebagai Feuerbach berkata: "Akh, nonsens dengan agama. Nonsens dengan Tuhan. Fosfor adalah pokok daripada segala gedachte".
Saya ulangi tekanan kata: Alam industrialisme yang di dalam saat-saat belakang kita yang dekat ini, dikuasai oleh paham kapitalisme. Itu merupakan satu kuliah tersendiri. Faham kapitalisme menguasai industrialisme ini. Mempergunakan industrialisme ini untuk membuat kayanya satu bagian daripada manusia, dan membuat sengsaranya sebagian besar daripada manusia. Sistem exploitasi daripada kapitalisme mem-pergunakan industrialisme ini. Di dalam alam keadilan sosial, alam isdustrialisme ini juga dipergunakan. Jangan mengira bahwa keadilan sosial itu mempergunakan alat-alat yang usang dan kuno, bahwa kita dengan alam keadilan sosial ini kembali kepada hidup di dalam rimba atau di dalam gua, bahwa kita di dalam alam keadilan sosial itu kembali kepada hidup hanya daripada ternak saja, atau hanya pada pertanian saja. Atau di dalam alam keadilan sosial itu hanya duduk di rumah, membuat kikir, membuat palu, membuat ini, membuat itu, membuat industri kecil perumahan. Tidak.
Sudah pernah saya katakan bahwa cita-cita kita dengan keadilan sosial ialah satu masyarakat yang adil dan makrnur. Saya tekankan adil dan makmur, makmur dan adil, dengan mempergunakan alat-alat industri, alat teknologi yang sangat modern. Yang membuat celaka manusia bukan mesinnya. Yang membuat celaka manusia ialah caranya kita mempergunakan mesin. Mesin yang tempo hari saya katakan oleh Mahatnla Gandhi dikatakan "devils work", ia tidak senang kepada mesin, benci kepada mesin. Benci kepada kapal udara. Benci kepada lokomotif. Benci kepada derunya mesin-mesin yang dahsyat. Mahatma Gandhi lebih senang kepada hidup "tentrem, adem ayem, adil, siniram banyu wayu sewindu lawase". Mahatma gandhi tidak menyenangi industrialisme modern. Sebaliknya kita senang kepada industrialisme mnodern, asal tidak dikuasai oleh sistem kapitalisme. Tetapi industrialisme modern itu kita pergunakan untuk kepentingan umum. Mesin kita pergunakan untuk kepentingan umum. Segala alat-alat modern kita pergunakan untuk kepentingan umum.
Menurut evolutie-theorie, maka sebagai tadi saya katakan, "Sozialismus ist eine historische Norwendigkeit". Menurut sebagian daripada evolutie-theorie ini, sudah dengan sendirinya manusia itu hidup daripada berburu dan mencari ikan, ke perternakan, ke pertanian, ke perindustrian rumah, ke industrieel kapitalisme, atau kapitalistis industrialisme; nanti dengan sendirinya tumbuh daripada kapitalis industrialisme atau industrieel kapitalisme ini, sosialisme, tumbuh masyarakat adil dan makmur. Malahan orang daripada pihak ini mengatakan: "Tidak hisa engkau lewati fase ini, fase industrieel kapitalisme, fase kapitalistis industrialisme ini; tidak bisa engkau lewati. Malahan ia berkata fase industrieel kapitalisme atau kapitalistie industrialisme ini adalah tempat latihan, tempat pengalaman. Manusia tidak bisa sekonyong-konyong menjadi sosialis, katanya. Manusia tidak bisa sekonyong-konyong mem-pergunakan industrialisme itu untuk kebahagiaan sernuanya. Manusia tidak sekonyong-konyong bisa mempergunakan industrialisme itu sebagai socialistis industrialisme. Tetapi manusia itu harus mendapat latihan berpuluh-puluh tahun. Cara mempergunakan mesin-mesin, menjalankan pesawatpesawat, cara mengetahui management. Ini terutama sekali dikatakan: "Management ini, wah, ini yang paling penting". Tidak bisa orang sekonyong-konyong tahu management, sekonyongkonyong bisa. Meskipun diberi mesin seribu, dua ribu, empat ribu, lima ribu, sepuluh ribu, sekonyong-konyong ia bisa membikin satu masyarakat adil dan makmur, sosialistis. Satu pendirian Saudara-saudara, ia katakan: "Ya, ini dengan sendirinya tumbuh. Reaksi daripada kaum yang di dalam sistem kapitalisme ditindas".
Ingat tempo hari saya memberi kuliah di sini, bahwa di seluruh sejarah manusia itu selalu ada pertentangan. Selalu ada klassenstrijd. Selalu ada pertentangan kelas. Dulu di dalam zaman feodal, pertentangan kelas antara tuan feodal dengan rakyat yang difeodali. Di dalam alam kapitalisme juga ada pertentangan kelas antara kelas kapitalis dengan kelas proletar.
Dengan sendirinya maka kesadaran kelas, klassebewustzijn, kesadaran kelas, makin lama makin tumbuh, makin lama makin tumbuh, sehingga makin bertumbuhnya klassebewustijn daripada kelas proletar ini lama-lama zich organiseren di dalam kekuatankekuatan yang berupa vakvereniging, kumpulan-kumpulan, serikat-serikat, sekerja dan lain-lain sebagainya. Sehingga kekuasaan daripada kaum kapitalis ini lambat laun dirckoti, dikrikiti, digrogoti. Tempo hari saya sebutkan, ini adalah uithollingstheorie. Dengan sendirinya kapitalisme itu uitgehold. Lama-lama dengan sendirinya kapitalisme ini yang uitgehold, tergerogoti, makin lama makin mengkerut, makin lama makin mengkeret. Dengan sendirinya timbullah satu masyarakat sosialisme.
Ini yang dinamakan evolutie-theorie di dalam uiterste konsekwentie. Tanpa perjuangan, boleh dikatakan. Dengan sendirinya "est ist eind historische Notwendigkeit". Sudah, kerja saja biasa, ambillah pengalaman. Dengan sendirinya nanti, nanti, nanti. Dengan sendirinya nanti toh datang alam sosialisme.
Di dalam kuliah saya yang akhir di Yogyakarta, saya sudah katakan bahwa ada teori lain, yang menentang uithollings-theorie ini. Teori yang berkata: kapitalisme tidak bisa mengkeret dengan sendirinya, kapitalisme tidak bisa gugur dengan sendirinya; tidak bisa. Tetapi pada satu saat kapitalisme ini hanya dapat digugurkan. Digugurkan dengan tenaganya kaum proletar yang terhimpun di dalam satu massa-aksi yang hebat. Digugurkan dengan tenaganya kaurn proletar yang merebut kekuasaan daripada tangannya kaum kapitalisme itu. Kemudian diadakan satu sistem oleh kaum proletar sendiri untuk mempergunakan alat-alat industrialisme yang rnodern ini bagi kepentingan kaum proletar.
Inilah yang tenlpo hari saya katakan kepada Saudara-saudara, yang dinamakan "revolutionaire theorie van de directe actie". Teori revolusioner daripada aksi direk, aksi langsung. Bukan menunggu terjadinya sosialisme sebagai satu "historische Nolwendigkeit". Tidak! Tetapi menyusun tenaga, menggempur, menggempur kapitalisme ini. Akhirnya kapitalisme ini gugur, dan hanya kaum proletar yang berkuasa. Siapa yang tidak proletar tidak boleh ikut campur di dalam urusan ketatanegaraan. Di dalam tata ekonomipun, hanya kaum proletar yang mengurus, mengatur, agar supaya alat produksi yang modern ini dipergunakan untuk kepentingan buruh, kaum proletar, tanpa exploitation de 1'homme par l'homme.
Ini dinamakan "theorie van directe actie". Di dalam penyeleng-garaannya ialah diktatur proletar "dictatuur van het proletariaat". Kuasa kaum proletar sendiri menggunakan alat-alat yang modern untuk kepentingan seluruh kaum proletar. Sosialisme proletar "het proletarisch socialisme".
Berhadapan dengan theorie ini lambat laun di dalam abad ke-20 atau lebih tegas permulaan abad ke-20, timbullah suarasuara: "Nee, nee, sosialisme adalah benar suatu unsur Notwendigkeit". Tetapi itu tidak berarti bahwa dus sosialisme itu jatuh dari langit seperti air embun jatuh dari langit di waktu malam. Sosialisme harus diperjuangkan, meskipun ia seribu kali Notwendigkeit, meskipun ia seribu kali "historische Notwendig-keit". Ia hanyalah menjadi satu realiteit dengan perjuangan; satu. Nomer dua, tidak perlu manusia itu, fase pertama dulu, fase kedua dulu, fase ketiga dulu, fase keempat dulu, fase kelima dulu, baru sosialisme. Tidak perlu.
Ini adalah teori baru yang timbul pada permulaan abad ke-20. Pada permulaan abad ke-20 sebetulnya gerakan kaum buruh di Eropa, yang saudara-saudara mengerti bahwa teori-teori ini terutama sekali timbul di dalam gerakan kaum buruh, orang belum mempunyai pengalaman. Pada permulaan abad ke-20 atau akhir abad ke-19 belum ada contoh, bahwa sesuatu bangsa mencoba menyelenggarakan sosialisme. Belum ada. Saudara mengetahui, bahwa negara sosialis yang pertama terjadi di dalam tahun 1917 si Sovyet Uni yang sebagai tempo hari saya katakan, tidak disangka-sangka oleh ahli sejarah, terutama sekali ahli sejarah peperangan dunia pertama. Peperangan dunia pertama mempunyai war-aim, mengalahkan satu pihak, ini mesti kalah, ini mesti menang. Jebul yang timbul dari peperangan dunia yang pertama, bukan menangnya ini. bukan gugurnya ini, tetapi timbul suatu hal yang sama sekali tidak tersangka-sangka, yaitu timbul berdirinya negara sosialis di Rusia yang bernama Sovyet Uni. flingga tempo hari saya sitirkan salah seorang sosialis yang berkata: "War is strange alchemist". Apa yang sebenarnya hendak dibuat tidak jadi.
Tetapi muncullah suatu hal yang sama sekali tidak tersangkasangka. Perang dunia pertama menghasilkan barang yang tidak tersangka-sangka yaitu terjadinya negara sosialis di Sovyet Uni.
Pada permulaan abad ke-20 dan akhir abad ke-19 manusia belum melihat contoh penyelenggaraan sosialisme, sebagai sekarang orang melihat contoh penyelenggaraan sosialisme. "in al zijn schakeringen". Saudara-saudara mengetahui, bahwa sesudah peperangan dunia yang kedua juga timbul hal yang tidak tersangka-sangka.
Peperangan dunia kedua yang kancah-kancahnya berkobarkobar, bernyala-nyala, berapi-api di seluruh dunia, dimaksud-kan untuk menimbulkan kemenangan bagi "Allied Forces", negaranegara sekutu. Hancur leburnya negara-negara yang tergabung di dalam fasisme, Jerman, Italia, Jepang. Apa yang terjadi sebagai peneloran dari peperangan dunia yang kedua ini? Juga, sekali lagi "War is a strange alchemist". Dengan tidak tersangka-sangka timbul negara-negara sosialis yang baru. Sampai sekarang kalau tidak salah terjadi 15 negara sosialis baru di dunia ini, sebagai akibat peperangan dunia yang kedua, sehingga manusia sekarang, lain daripada manusia dulu. Manusia sekarang lain daripada manusia pada permulaan abad ke-20, lain daripada manusia di dalam akhir abad ke-19. Manusia sekarang melihat beberapa contoh "in al zijn schakeringen", ada extreem, ada yang setengah extreem, ada yang lunak, tetapi contoh penyeleng-garaan sosialisme, di dalam segala bentuk, "in al zijn schakeringen". Pada akhir abad ke-19, permulaan abad ke-20 belum ada sesuatu contoh, sehingga pada waktu itu terutama sekali, sebagian besar dari kaum sosialis, mengikuti teori evolusi, "in al zijn konskwenties" itu tadi, "Sozialismus ist eine historische Notwendigkeit", Sosialisme nanti datang sendiri. Ya, biarlah kita mengalami alam kapital-isme ini, sebagai alam latihan, alam pengalaman, alam peng-alaman mempergunakan alat-alat modern. Alam pengalaman hal management, alam untuk mendidik social bewustzijn sedalam-dalamnya di dalam kalangan kaum proletar. Ini adalah satu fase yang perlu. Dikatakan: Perlu! Juga satu fase historisch Notwendegkeit.
Tanpa fase lima ini, tidak bisa engkau mengadakan sosialisme. Tidak bisa engkau "ujung-ujung" dari kelas tiga naik kelas tujuh. Mesti mengalami kelas empat, kelas Iima, kelas enam dulu. Teori ini pada permulaan abad ke-20 mulai ada yang menentang, yaitu yang dinamakan kaum sosialis revolusioner. Antara lain seorang wanita lagi, namanya Rosa Luxemburg, yang berkata: Nee, tidak perlu fase satu dulu, fase dua, fase tiga, fase empat, fase lima kemudian baru sosialisme. Tidak perlu! Boleh dilompati fase kapitalisme ini. Dari fase keempat kita bisa melompat ke fase enam. Luxemburg mengatakan, teorinya itu teori, dalam bahasa asing, Belandanya "fasensprong", pelompat-an fase. "Theorie der Fasensprung", bahasa Jermannya.
Penting sekali teori Rosa Luxemburg ini "theorie der Fasensprung", melompat. Dan teori ini ternyata benar, ternyata benar di dalam alam sekarang, di mana orang mempunyai penglihatan pengalaman-pengalaman. Saudara melihat beberapa negara yang tadinya bobrok sama sekali yang sama sekali lebih mesum daripada kita. Karena ada contoh melihat, sebab ia hidup di dalam alam abad ke-20, melihat contoh di Sovyet Uni begitu, di RRT, begitu, di negara lain begitu: "O, sekonyong-konyong kok bisa dari sini ke sini". Ia bisa presideren Fasensprung ini. Misalnya saya ambil satu contoh: Uzbekistan itu 34 tahun yang lalu, masya Allah, perkara terbelakangnya bukan main! Atau Mongolia yang pernah saya datangi, – Uzbekistan pun pernah saya datangi -, Mongolia dengan ibukotanya Ulanbator tiga puluh tahun yang lalu, masya Allah, terbelakangnya! Maaf, tempo hari saya berkata di Mongolia itu 30 tahun yang lalu wanita-wanita ganti celana satu kali setahun. Tidak ada wanita bisa membaca, bisa menulis, orang laki-lakipun 95% tidak bisa membaca dan menulis. Orang di sana cuma bisa menggembala, menggembala kuda, menggembala sapi, menggembala kambing, Gembal, gembala, gembala. Lha kok sekarang, di dalam tahun 1956 saya datang di Ulanbator, yang di dalam kitabnya Sven Hedin di dalam permulaan abad ke-20 Ulanbator dilukiskan sebagai suatu kota, yang bukan kota, yang rumah-rumahnya tidak ada; cuma tenda, "jurk" namanya, tenda terbuat dari pada kulit onta, kulit kuda atau kulit sapi. Kotor sama sekali. Datang di Ulanbator itu berbulan-bulan melewati padang pasir. Di Ulanbator sendiri sangat terbelakang, tidak ada orang bisa membaca dan menulis. Kemudian didatangi pula oleh Dr Hanina W. Halle, yang menulis buku. Bukunya itu ada barangkali di perpustakaan sini: "De vrouw ini Sovyet Rusland atau ada kitab nomor dua: "De vrouw in het Sovyet Oosten". Mengenai wanita "De vrouw in Sovyet Rusland" atau buku lain "De vrouw in het Sovyet Oosten" Dr Hanina W. Halle mengatakan, pada waktu ia datang di situ keadaan masih mesum sekali. Saya datang di Ulanbator, melihat jalan jalan terbuat daripada aspal, melihat ada pabrik besar, canning industry, membikin makanan dalam blek. Hasil daripada ternak, daging sapi, daging kuda, daging ini, daging itu, dimasak di dalam pabrik itu; keluar dari pabrik itu blek-blek, blek, rasanya nyaman.
Saya melihat Universitas, – yang, waduh, kalau saya melihat Gajah Mada ini! Saya melihat gedung Parlemen bertingkat empat. Saya melihat museum geologi yang masya Allah penuhnya ia punya koleksi daripada batu-batu yang terdapat di Mongolia, ini ada besinya, itu ada tembaganya, itu ada mangaannya, itu ada batunya, ini ada batunya. Di sana ada minyak tanah, ini ada, itu ada, bahkan batu-batu yang berisi fosil-fosil beberapa ratus ribu tahun yang lalu ada juga. Kemajuan bukan main. Dan kemajuan ini berkat penyeleng-garaan teori Fasensprung, teori melompati.
Mongolia tidak perlu mengalami kapitalisme, walaupun dulu masih hidup di dalam fase yang kedua peternakan sekonyong-konyong melompati fase tiga, fase empat, fase lima, menjadi suatu bangsa yang menyelenggarakan Sozialismus.
Kita bangsa Indonesia ini sebenarnya juga di dalam keadaan yang demikian. Kita mengadakan revolusi sudah empat belas tahun. Dan sekarang datanglah saatnya kita menyelenggarakan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila sebagai tertulis dalam Undang-undang pembuatan Depernas.
Apakah perlu kita juga mengalami lebih dahulu fase Kapitalismus? Saudara-saudara barangkali mengatakan: "Ya, kita sudah mengalami kapitalisme, belum 100%". Kita meng-alami imperialisme. Kita mengalami Imperialisme di dalam segala ketidakenakannya. Tetapi kita belum mengalami industri-alisme, industrieel kapitalisme atau kapitalistis industrialisme; belum kita alami. Belum kita alami sebagai rakyat Perancis mengalaminya, rakyat Inggris mengalaminya, rakyat Jerman mengalaminya. Belum! Kita masih sebagian besar hidup dalam fase agraris, ditambah sebagian hidup di dalam fase keempat huisindustrie. Tetapi apakah kita harus mengalami fase industrieel kapitalisme, kapitalistis industrialisme agar supaya kita bisa mengalami atau menyelenggarakan, membina, mengadakan satu masyarakat adil dan makmur, keadilan sosial? Tidak, sama sekali tidak. Pertama, pengalaman bangsa-bangsa lain bisa kita pergunakan. Dan demikianlah yang dipergunakan pula oleh bangsa-bangsa yang setaraf dengan kita. Dipergunakan oleh rakyat India, melihat di negeri-negeri lain. Dipergunakan oleh rakyat Mesir, melihat keadaan di negeri-negeri lain, melihat Yugoslavia, yang dulu juga masih separo-separo hidup di dalam fase keempat. Melihat pengalaman dari mana-mana, sekarang, mereka mencoba dengan hasil yang agak memuaskan, mengadakan sosialisme itu. Kita tidak perlu mengalami fase kapitalisme "in zijn volle konskwenties".
Maka sebagai tadi saya katakan, untuk menyelenggarakan sosialisme ala Indonesia atau sosialisme yang berdasarkan Pancasila itu, kita adalah demokrasi terpimpin, yang essensinya sudah saya gambarkan kepada saudara-saudara, dengan caranya ananda Lina memimpin lagu Indonesia Raya. Semua menyumbangkan ia punya tenaga, baik ahli ini, ahli itu, semuanya menyumbangkan ia punya tenaga, di bawah pimpinan satu blue-print, kitab nootnya, kertas nootnya, di bawah pimpinan seorang dirigent. Dan tidak perlu itu, tidak harus itu bernama Soekarno. Seorang dirigent yang bisa memimpin irama ini. Tetapi dirigent itu sebetulnya juga cuma satu, ya, satu, teknis sebenarnya yang menjadi pemimpin ini, nootnya ini. Apakah dirigentnya itu Torcanini, apakah dirigentnya itu Pak Abdulkarim, apakah dirigentnya itu Raden Ajeng Siti Soemiati, apakah dirigentnya itu seorang lain-lain; yang penting ialah blue printnya ini!
Walta "Die Blaue Donau" dari Johann Strauss, atau "Uben den Rellen" dari Ivanovichi, atau lagi lain-lain. Yang penting: blue print yang dibuat oleh DPN ini.
Maka di dalam hal ini, sebagai saya katakan, semua harus menyumbang tenaganya, terutama sekali daripada engkau sekalian, Engkau sekalian yang beberapa kali, tiap kali saya katakan: "He pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi, engkau diharapkan menjadi kader pembangunan, kader pernbangunan. Tetapi di dalam melatih dirimu menjadi kader, menyusun dirimu, menyiapkan dirimu menjadi kader, bukan sekadar engkau punya otak itu harus diisi dengan pengetahuan; o, teknik harus mengetahui hukum Torki, teknik harus mengetahui hukum Newton, teknik harus mengetahui hukurn Farraday, teknik harus mengetahui moment, teknik harus mengetahui gewapend beton, atau ahli hukum harus mengetahui teori ini, teori itu, atau dokter harus mengetahui virologi atau bacteriologi, atau urologi atau chirugie atau anatomi. Bukan sekadar itu yang diperlukan. Saudara harus mengisi saudara punya otak dengan "technisce vaardigheid" yang secukup-cukupnya. Tetapi di samping itu saudara-saudara harus mengerti blue print ini. Jiwamu harus jiwa blue print ini. Jiwamu harus jiwa ingin menyumbangkan tenagamu di dalam orkes maha besar rakyat Indonesia 85 juta, agar supaya menurut blue print ini di Indonesia terselenggara satu masyarakat adil dan makmur ala Pancasila. Dadamu harus berkobar-kobar dengan hal itu. Ya, barangkali orang-orang tua ada yang tidak mengerti blue print tadi. Ya maklumlahorang tua. Engkau dihidupkan tahun '55, ‘ 56, '57, '58, ‘ 59. Engkau barangkali belum berumur 22 tahun. Engkau bibit muda, hidup di dalam alam sekarang. tetapi orangtua-orangtua itu ada dapurnya itu, dapur pendidikannya itu: alam dulu, alam Belanda, alam Hollands denken. Yang diketuai cuma kitab-kitab bahasa Belanda: Profesor Kan berkata demikian, profesor Kranenburg berkata demikian, bahkan tentang trias politica, Montsque berkata demikian, max Weber berkata demikian, profesor Jung berkata demikian. Dengan bekal hasil dari dapur ini ia pindah ke dalam alam sekarang. Kadang-kadang ia tidak mengerti alam sekarang ini. Maka oleh karena itu saya berkata kepadamu sekalian: He pemuda dan pemudi, engkau punya kewajiban sebagai mahasiswa bukan hanya engkau terima segala apa yang diajarkan, tetapi engkau juga mesti belajar berpikir bebas, berpikir bebas mengalami – bukan liberalisme – berpikir bebas, in zich opnemen, mengertikan suasana baru, ini blue print, ini kitab noot. Berpikir bebas: Bagaimana aku bisa menyumbang. Ini begini sebabnya, begini sebabnya. Maaf, saya tidak mengeritik profesor-profesor; tidak. tetapi, – bukan di Yogyakarta, di Yogyakarta tidak ada -, tetapi di lain tempat ada profesor-profesor yang masih menderita penyakit Hollands denken". Ada profesor-profesor yang menderita penyakit snobisten. Snobisten itu, yaitu "ya-ya-o", wah, tiap-tiap hal ia tanya kepada mahasiswa, apa, quotetionnya apa, sifatnya apa? Ya pak, ini begini, ini begini. Dari kitab mana? Lantas engkau harus bisa quote, dari kitab Jung, pagina sekian.
Wah pinter engkau. Atau sang profesor sendiri kalau memberi kuliah, o, sebentar nama-nama sesuatu kitab ia sebutkan; Kitab Kranenburg, kitab ini, kitab itu yang pernah saya di dalam kuliah di Bandung, saya sinyalir ini ke-Kranenburg-an.
Apa yang saya katakan di Bandung? Saya katakan di Bandung begini, dan saya ulangi pada waktu saya berpidato di hadapan Dies Natalis Universitas Indonesia beberapa hari yang lalu, kenyataan dunia ini, dunia manusia yang 2.800 j uta manusia ini, bukan hanya ribuan, bukan hanya puluhan ribu, bukan hanya ratusan ribu, bukan hanya jutaan, tetapi 2.800 juta manusia, nyata dunia ini terpecah belah menjadi beberapa golongan. Satu golongan besar yang pengikutnya 1.000 juta, pengikut daripada Marx dan Engels, pengikut daripada komunistis manifest. Ada lagi satu golongan besar yang pengikutnya juga hampir 1.000 juta manusia,pengikut daripada falsafah Thomas Jefferson yang telah menulis "Declaration of Independence America". Dikatakan oleh Bertrand Russel, ahli falsafah Inggeris yang kenamaan, bahwa dunia ini terpecah menjadi dua golongan: yang satu golongan pengikut daripada Declaration of falsafah Thomas Jefferson, di satu pihak pengikut daripada komunistis manifest.