Pancasila Dasar Negara 6

Part 1

Chapter 13,279 wordsPublic domain (Wikisource)

__NOTOC__ __NOEDITSECTION__

KULIAH UMUM TENTANG PANCASILA DI DEPAN PARA PESERTA SEMINAR PANCASILA DAN PARA MAHASISWA Pada Tanggal 21 Februari 1959 di Yogyakarta

Saudara-saudara sekalian.

Belum pernah saya begitu gembira, gembira karena setuju seratus persen. Setuju seratus persen dengan apa? Dengan apa yang dikemukakan oleh ananda mahasiswa itu tadi. Ya Saudarasaudara tadi tertawa tebahak-bahak. Dan sekarangpun juga. Tetapi ananda mahasiswi, – yang namanya saya tidak tahu -, kepada mahasiswa-mahasiswa, pemuda-pemuda mahasiswa, saya beritahukan, bahwa namanya mahasiswi itu tadi ialah Lina. Ananda Lina berkata: "Marilah kita mengenangkan arwah-arwah kita".

Nah, itu tepat betul. Ananda Lina tidak berkata, marilah kita mengenangkan arwah-arwah pahlawan-pahlawan kita yang telah mendahului kita ke alam baka. Tidak! Ananda Lina berkata: "Marilah kita mengenangkan arwah-arwah kita", dan sebagai tadi saya katakan itu tepat sekali. Artinya, saudara harus mengenangkan arwahmu, Pak Karno harus mengenangkan arwahnya. Tepat sekali. Barangkali ananda Lina tadi malam mendengar pidato Bapak Presiden. Pada waktu menguji pidato, Bapak Presiden tadi malam berkata, tiap-tiap manusia nanti di akhirat akan ditanya oleh Tuhan akan pimpinannya. Dikatakan di dalam Kitab Suci, bahwa kita ini semua adalah pemimpin atau penggembala. Dan nanti di akhirat kita semuanya ditanya tentang pimpinan kita. Kita ini semua pemimpin, semua penggembala. Misalnya Pak Roeslan Abdulgani, di rumah beliau adalah pemimpin atau penggembala keluarganya, dan dia nanti di akhirat akan ditanya: "Hai Roeslan Abdulgani, bagaimana engkau menjalankan pimpinan di dalam keluarga?" Kecuali itu, Pak Roeslan Abdulgani adalah pemimpin di dalam masyarakat. Tiap-tiap kita ini pemimpin dalam masyarakat. Tukang dokar, pemimpin di dalam kedokarannya. Tukang beca, pemimpin di dalam pembecaannya. Opsir, perwira, pemimpin di dalam ketentaraannya. Ditanya kita semua ini. Bahkan saudari juga pemimpin. Sekarang ini pemimpin di dalam masyarakat, – barangkali ada adik-adik – dan lain-lain ditanya: "Engkau memimpin bagaimana?". Juga pemimpin-pemimpin di kalangan mahasiswa dan mahasiswi ditanya.

Ananda Lina berkata: "Marilah kita semuanya ingat, bahwa kita nanti ditanya tentang pemimpin".

Kita semuanya, tidak terkecuali, bukan saja yang sudah gugur; yang masih hidup sekarang ini nanti ditanya akan kepemimpinannya. Pokoknya akan ditanya antara lain: "Engkau di dalam masyarakat tatkala engkau hidup, apa yang engkau telah perbuat; apakah engkau berbuat kebajikan untuk masyarakat, ataukah telah membuat jahat untuk masyarakat?" Oleh karena itu, maka ucapan saudara Lina itu tepat sekali. Dan kok kebenaran Gajah Mada yang punya mahasiswi begitu itu.

Kemudian, waktu saya melihat ananda Lina memimpin Indonesia Raya, – meskipun ada selipnya sedikit, oleh karena ulangannya cuma satu kali, – tatkala saya melihat caranya memimpin, saya ingat kepada Demokrasi Terpimpin yang harus saya kuliahkan. Sebab pernah ditanya kepada saya: "Pak, Demokrasi Terpimpin itu apa toh Pak?" Saya bicara satu jam dua jam. Terang? Belum! Wah, bagaimana menerangkan ini. Lantas saya menerangkan hal satu konsert dengan ia punya dirigent yang konsert itu terdiri daripada banyak orang, Yang satu memegang biola, yang satu memegang gitar, yang satu memegang trombone, yang satu memegang trompet, yang satu memegang ting – ting – ting, yang satu memegang jidor, dan lain-lain sebagainya.

Meskipun bermacam-macam alat, tetapi oleh karena ada pimpinan, pertama pimpinan daripada satu lembaran kertas, – apa namanya itu noot, bahasa Indonesianya noot. Misalnya, lagu "RlauweDonau" oleh Johann Strauss, sudah nyata lagunya itu dari noot ini. Kemudian dirigent, pemimpin, memimpin orkes itu yang terdiri daripada puluhan bahkan ratusan orang; keluarlah satu suara yang merdu yang berirama, yang harmonis, melukiskan lagu waltz "Blauwe Donau" buatan Strauss.

Kertas noot ini, di dalam Demokrasi Terpimpin inilah blueprint, pola, pola pembangunan yang dibuat oleh Dewan Perancang Nasional, disingkat DPN, tetapi yang oleh Bapak Prof. Mr. Dr. Haji Muhammad Yamin disingkatkan, dengan cara yang romantis sekali, disebutkan DEPERNAS. Pola yang dibuat oleh Depernas ini, itulah kertas nootnya. Penyelenggara dari-pada pola ini, masyarakat ini tadi, yang terutama sekali terdiri daripada tenagatenaga fungsionil, menyelenggarakan pola ini bersama-sama di dalam satu irama yang merdu sehingga terselenggaralah masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila sebagai yang tertulis di dalam Undang-undang pembentukan Depernas.

Lha, ananda Lina tadi, juga begitu Saudara-saudara, dengan sangat mahirnya memimpin.

Di dalam penyelenggaraan masyarakat adil dan makmur semua memberikan tenaganya. Insinyur-insinyur memberi tenaganya, dokter-dokter memberi tenaganya, tukang-tukang gerobak memberi tenaganya, ahli-ahli ekonomi memberi tenaga-nya, ahliahli dagang memberi tenaganya, ahli-ahli pertahanan memberi tenaganya, semua memberi tenaganya. Bercorak macam, tetapi toh menjadi satu harmoni, menyusun satu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Tadi juga demikian, macam-macam suara saya dengar. Tetapi di bawah pimpinan ananda Lina, bukan main merdunya. Saya dengar ada suara bas; saya dengar ada suara laki-laki tetapi sopraan, seperti burung sikatan suara itu. Saya mendengar ada suara yang gemetar, ada suara yang betul-betul bergelora, tetapi semuanya bersama-sama memperdengarkan satu lagu "Indonesia Raya" yang membangkitkan keharuan hati.

Inilah gambar daripada demokrasi terpimpin di dalam esensinya. Contoh ini saya berikan kepada kawan yang bertanya kepada saya: "Apa Bung, demokrasi terpimpin itu? Dan yang sesudah dua jam saya bicara sampai meniren saya punya mulut ini, saya tanya: "Sudah mengerti?" "Belum". Kemudian saya beri contoh hal konsert dengan ia punya kertas noot dan dirigent, sekaligus ia mengerti.

Saudara-saudara, saya di sini diminta memberi kuliah tentang keadilan sosial dan demokrasi terpimpin. Mulai dengan pertanyaan: "Apa toh Bung, keadilan sosial itu?" Kok perlu-perlunya ditanyakan apakah keadilan sosial itu; padahal semua orang sebenarnya di dalam kalbunya sudah mengerti. Keadilan sosial ialah suatu masyarakat atau sifat suatu masyarakat adil dan makmur, berbahagia buat semua orang, tidak ada peng-hinaan, tidak ada penindasan, tidak ada penghisapan. Tidak ada – sebagai yang saya katakan di dalam kuliah umum beberapa bulan yang lalu – exploitation de l'homme par 1'homme. Semuanya berbahagia, cukup sandang, cukup pangan, "gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja". Jelas, nggak perlu diterangkan lagi. Di dalam ilmu ilmiah, di dalam bidang ilmiah timbul pertanyaan, bagaimana mencapai atau terjadinya masyarakat yang demikian itu.

Nah, di sini ada bermacam-macam pendapat. Ada orang yang berkata – dan orang ini mendasarkan kepada teori yang biasa dinamakan teori evolusi, evolutie theorie – yang menurut evolutie theorie ini, masyarakat keadilan sosial atau katakanlah masyarakat sosialis datang lambat laun dengan sendirinya. Dalam bahasa Jermannya "Sozialismus ist eine historische Notwendigkeit".

Suatu keharusan historis, historische Notwendigkeit. Mau tidak mau dengan sendirinya masyarakat bertumbuh, ber-kembang, berbangkit berevolusi ke arah sosialisme.

Oleh karena itu, dikatakan "Sozialismus ist eine historische Notwendigkeit". Garis besar daripada evolutie theorie adalah sebagai berikut: bahwa dunia manusia ini tidak selamanya begini. Bahwa dunia manusia itu bertumbuh, berevolusi, bahwa manusia zaman sekarang lain sekali daripada manusia zaman dulu. Bahwa zaman dahulu manusia itu masih biadab, berdiam di hutan, di rimba-rimba, kemudian lambat laun, bertumbuh, bertumbuh kecerdasannya, berevolusi kecerdasannya, hingga akhirnya tercapainya ujung kecerdasan dan puncak evolusi itu yang berupa satu masyarakat sosialisme. Dikatakan: fase pertama daripada evolutie theorie ini, manusia hidup di dalam gua-gua dan rimba-rimba. Cara pencaharian hidupnya ialah dengan memburu, mencari ikan di sungai atau di laut. Cara yang boleh dikatakan sangat terbelakang, prehistoris, cara amat terbelakang. Dan nanti saya terangkan di dalam pertumbuhan inipun berubah akal pikiran, pandangan-pandangan daripada manusia itu. Akal pikiran adalah pencerminan, refleksi daripada cara manusia mencari makan dan minum.

Mula-mula mencari makan dan minum dengan memburu dan mencari ikan, berdiam di gua-gua, di rimba-rimba, akal pikirannya sesuai dengan keadaan yang demikian itu. Pernah saya kuliahkan mengenai cara religi, bahkan bentuk religinya sesuai dengan cara hidup yang demikian itu. Bagi manusia di tingkat evolusi yang demikian, yaitu orang yang hidup dalam rimba raya, di dalam gua-gua, mencari ikan, berburu, maka ia punya tempat persembahan lain daripada tempat persembahan kita sekarang. Manakala kita sekarang mengenal apa yang dinamakan Tuhan, atau Allah atau Yehovah, atau God, dulu dalam tingkat evolusi sedemikian itu, yang disembah ialah petir, ialah awan yang berarak, ialah sungai yang dahsyat mengalir, ialah angin taufan, ialah pohon rindang yang memberi perlindungan, ialah batu besar yang di belakangnya ia ber-sembunyi. Ini mereka punya Tuhan. Tuhannya berupa petir, gcledek, hujan, angin, awan, pohon, lautan sungai dan lain-lain sebagainya. Di dalam tingkat kehidupan demikian itu misalnya rakyat Skandinavia zaman dahulu, – ini pernah saya ceritakan di dalam pidato saya tatkala memperingati Isyra Mi'radj di Surabaya, – tatkala mereka masih hidup di dalam hutan dan rimba-rimba, zamannya Germanen tijd, yang mereka sembah antara lain ialah Wodan atau Geledek dan Guntur yang mereka beri nama Thor.

Jikalau rnereka mendengar geluduk yang gemeluduk, di dalam angan-angan mereka, mereka melihat raja Thor mengendarai ia punya kendaraan di langit. Rodanya terbuat daripada sinar yang bercahaya dan tiap-tiap kali roda itu mengenai awan melompat dari satu puncak awan ke puncak awan yang lain, keluariah suara geluduk yang dahsyat. Orang Skandinavia zaman dahulu, jikalau mendengar akan geluduk dengan mata yang dahsyat, mereka berkata satu sama lain: "Thor lewat. Thor lewat". Sama dengan orang Yogya. Orang Yogya itu kalau mendengar angin ribut: "lampor, lampor". Tahu nggak lampor? Ya, ada kereta di langit lewat. Malah ada yang keluar dengan lampu, lampunya dicantelkan di muka rumah. "Mas, kok pasang lampu". "Lampor lewat".

Ini adalah tingkat kehidupan manusia menurut evolutie theorie yang pertama. Kemudian manusia berevolusi, akan pikirannya makin lama makin cerdas, meningkat ke tingkat yang kedua, terutama sekali di tanah-tanah, di negeri-negeri yang banyak perumputan. Manusia lantas pindah kepada kehidupan berternak. Evolusioner sangat logis, bahwa daripada memburu di hutan lambat laun menternak, misalnya memburu rusa, memburu kambing, memburu sapi, – sapi zaman dahulu itu di hutan, kerbau zaman dahulu itu di hutan, seperti rusa zaman sekarang di hutan. Memburu kerbau, memburu sapi, akhirnya menangkap juga anak sapi, atau anak kambing. Mereka belajar: ini bisa dipelihara. Lambat laun lantas timbul pikiran: daripada memburu menghadapi bahaya yang begitu banyak, mungkin disambar oleh Thor ini, atau kelelep di dalam sungai, lebih baik ini saja: mengumpulkan anak kambing atau anak sapi. Dipelihara, berkembang biak, menjadi apa yang dinamakan ternak. Berevolusilah ia punya hidup ke arah peternakan. Dan dengan itu berevolusi pula ia punya alam pikiran, bahkan berevolusi ia punya pengertian akan Tuhan.

Tadi yang ditakuti ialah Thor atau menyembah pohon, atau menyembah batu, seperti tersebut di dalam Baghawat Gita. Baghawat Gita itu ajarannya Sri Kresna kepada Arjuna di dalam peperangan Bratayuda. Esensi daripada baghawat Gita ialah bahwa Kresna menceritakan hal ini: Tuhan itu rupa-rupa macammnya.

Nah ini tadi berupa Thor, kemudian lagi berpindah, berpindah rupa. Kresna berkata kepada arjuna: Aku, yaitu Tuhan yang dimaksud dengan perkataan Aku, Aku adalah di dalam geloranya lautan yang membanting di pantai.

Fase pertama Aku adalah di dalam sepoinya angin yang meniup; fase pertama Aku adalah di dalam rindangnya pohon yang memberi perlindungan padamu; Aku adalah di dalam batu di muka mana si – orang – biadab menekukkan lutut; Aku adalah di dalam harumnya bunga; Aku adalah di dalam api; Aku adalah di dalam panasnya api, Aku adalah di dalam bulan pernama; Aku adalah di dalam sinarnya bulan purnama; Aku adalah di senyumnya gadis yang manis. Aku memenuhi semesta alam ini.

Demikian pula manusia sebagai tadi saya katakan yang disembah itu selalu berubah-ubah. Thor, beringin, batu, lautan, sungai dan lain-lain di dalam tingkat pertama menjadi tempat persembahan. Tatkala manusia hidup dari peternakan berpindahlah ia punya "image of worship", Inggerisnya "image of worship" daripada pohon dan petir, angin ribut dan lautan dan sungai kepada binatang-binatang. Oleh karena ia hidup dari binatang, ia mengagungkan, memuliakan, bahkan menyembah binatang. menyembah sapi, yang restannya masih ada kita lihat di Indonesia sekarang. Menyembah gajah, menyembah buaya, menyembah rusa dan lain-lain sebagainya. Berpindahlah lambat laun manusia ini kepada fase evolusi yang ketiga. Fase evolusi ketiga ialah: dari peternakan manusia hidup, belajar hidup dari pertanian. Juga logis. Manusia dari asal mulanya sudah omnivoor; omnivoor artinya hidup dari segala macam makanan. Herbovoor hanya hidup dari tumbuh-tumbuhan, seperti sapi. Carnovoor hanya hidup dari daging-daging, seperti harimau. Manusia adalah omnivoor; makan segala; makan daging, makan ikan tetapi juga makan tumbuh-tumbuhan. Pada waktu di dalam fase pertama dia sudah makan tumbuh-tumbuhan. Juga oleh karena ia adalah omnivoor. Di samping makan daging, ia melihat ada jagung, ia makan jagung. Ia melihat ada padi, ia makan padi, ia melihat ada jipang, ia makan jipang, ia melihat ada labu, ia makan labu. Ia melihat ada buah-buahan di pohon, ia makan buah-buahan di pohon. Ia melihat ada lembayung, ia makan lembayung.

Lambat laun di dalam fase yang kedua itu, ia harus memberi isi perut, bukan saja hanya perutnya sendiri, tetapi isi perut ternaknya, dan ia memberi isi perut ternak itu, rumput. Tetapi juga mencarikan rumput atau daun-daunan untuk ternak itu, sebagaimana orang zaman sekarang juga masih mencari makanan bagi ternaknya. Lambat laun ia belajar, bahwa rumbuh-tumbuhan ini bisa ditanam. Padi bisa ditanam, jagung bisa ditanam dan selalu hasilnya lebih baik daripada hidup liar. Akhirnya ia belajar, lha, tidak perlu ternak-ternakan dan lain sebagainya itu; ini lebih penting. Lebih gampang dan lebih memuaskan hidup daripada jagung, hidup daripada padi.

Oleh karena itu: Ayo sekarang tanam padi, tanam padi, tanam jagung, tanam jagung.

Fase ketiga daripada perikehidupannya ialah ke bidang pertanian. Dan pernah saya tuliskan di dalam kitab saya "Sarinah", di sini kita wajib memberi hormat kepada wanita. Wanitalah "de ontdekster van de landbouw" yang pertama. Wanitalah yang pertama kali menemukan ilmu pertanian ini. Bukanlah laki-laki. Tetapi Wanita! Sebab tatkala laki-laki berburu, tatkala laki-laki mencari ikan di laut atau di sungai, tatkala laki-laki menggembalakan ia punya ternak di dalam fase yang kedua, sebagian daripada wanita itu tinggal di tempat kediamannya yang belum berupa rumah, masih berupa hutan, gua. Tetapi wanita tinggal di situ, oleh karena ia tidak bisa ikut selalu memburu tidak bisa selalu ikut mencari ikan, tidak bisa selalu ikut menggembala oleh karena wanita kadang-kadang hamil dan lain-lain sebagainya. Wanita harus memelihara anak, menggendong anak meskipun belum dengan selendang seperti zaman sekarang. Dengan anak merah ini ia tidak bisa ikut memburu, tidak bisa ikut menangkap ikan, tidak bisa ikut menggembala ternaknya jauh daripada tempat yang menj adi perlin- dungan baginya. Dia tinggal di tempat. Dan tatkala oleh karena ia tinggal di tempat itulah, ia pada waktu menganggur bercocok tanam. Anaknva dibaringkan somewhere. Ditutupi daun-daun dan di atas daun-daun yang lunak, somewhere, ia cokel-cokel tanah, dan ia melihat; he, butiran pada kalau ditanamkan tumbuh, kemudian bisa berbuah. He, butiran jagung kalau ditanamkan tumbuh, kemudian bisa berbuah. Ia lantas semacam zich specialiseren, specialized herself, di dalam hal ini, sehingga dialah yang menjadi promotor daripada pertanian. Oleh karena itu saya katakan: wanita adalah "de eerste ontdekster van de landbouw", pendapat pertanian yang pertama. Kalau tidak salah ini pernah saya kuliahkan pula di sini.

Demikian pula wanitalah yang membuat kebudayaan yang pertama. "De ontdekster van cultuur", wanita. Bukan laki-laki! Wanita yang pertama-tama harus memberi perlindungan kepada babynya. Timbul pikirannya: aduh, kasihan anakku ini; kalau hujan basah, kalau ada matahari ia kering. kasihan. Dengan ranting-ranting ia membuat semacam atap di atas baby itu, ditutup dengan daun-daunan asal permulaan daripada pengertian rumah. Wanita pertama-tama membuat rumah. Wanita yang melihat: "kasihan babynya, dingin kedinginan, hujan basah" timbul pikiran: Kalau kulit binatang, ia sambungkan satu sama lain, dengan dikasih lubang, dengan akar kasih lubang manjahit. Pertama kali saudara-saudara. Satu bagian kulit binatang dengan lain bagian kulit binatang, dihubungkan satu sama lain; dengan duri ia bikin lubang, dan dengan serat ataukah dengan akar yang halus ia sambungkan dua hal ini. Ini sudah permulaan daripada kultur. Permulaan daripada kebudayaan. Kultur berpakaian wanita; de eerste ontdekster, ontdekster van cultuur. Wanita pula yang dari ternak itu harus mengumpulkan air susu. Bukan saja makan dagingnya, susupun berharga sekali buat ia minum, buat ia persembahkan kepada suami, – sekarang ini wanita kadangkadang tidak mau persembahkan apa-apa kepada suaminya -, buat diberikan kepada babynya. Bagaimana ia mengumpulkan susu? Sapinya banyak susunya atau kerbaunya banyak susunya, kambingnya banyak susunya. Ini persetujuan barang kali. Ia timbul pikiran di dalam otaknya untuk membikin wadah buat susu, ia buatnya dari tanah liat. Dari tanah liat ia bikin buat pertama kali periuk. Ia tahu tanah liat itu kok bisa, kalau dibegitu-begitukan menjadi wadah dan wadah yang basah ini dikering-kan. Apalagi kalau dibakar. Kemudian ini penjadi periuk, bisa menjadi tempat susu. Jadi jelas benarlah perkataan saya, bahwa wanita adalah "de eerste ontdekster van cultuur".

Di dalam tingkat hidup yang ketiga ini yang manusia hidup daripada pertanian, terutama sekali, pindah lagi ia punya Godheid, pindah lagi ia punya tempat persembahan, – tadinya guntur, geledek, pohon, air dan lain-lain, pindah kepada binatang-binatang, – sekarang pindah kepada suatu tempat permohonan. Padi di tanam. tetapi kalau hujan. Kalau tidak hujan, kering. Ia mempunyai tempat pemohonan: mohon supaya sang padi ini tumbuh dengan selamat dan baik. Ia mulai memberi bentuk antropomorf kepada ia punya Tuhan. Antropomorf artinya berbentuk manusia. Tadinya berbentuk, terutama sekali, sebagai Thor itu manusia, tetapi kebanyakan masih berbentuk pohon, berbentuk batu, laut dan lain-lain sebagainya. Berbentuk binatang, jelas. Sekarang antropomorf sekali. Dewanya atau dewinya manusia. Di sini timbul begrip Uewi Sri, kataku tempo hari. Antropomorf.. puteri cantik yang bernama Dewi Sri, yang memberi perlindungan kepada pertanian itu. Di tanah Pasundan Saripohaci. Saripohacipun – kalau ditanya bagaimana rupanya Saripohaci? Masya Allah, masya Allah, cantiknya bukan main! Malam-malam di dalam sinar bulan purnama ia turun dari kayangan. Melewati sinar bulan itu. Ia lantas melihat sawah-sawah dan ladang-ladang ini. Ia memberi restu kepada sawah-sawah dan ladang-ladang ini. Antropomorf. Tetapi pusat ia punya persembahan manusia itu, kesitulah.

Pindah lagi evolusinya.

Evolusi yang keempat, ialah manusia, oleh karena bercocok tanam, memerlukan alat. Bercocok tanam tidak bisa dengan tangan saja dikorek-korek. Memerlukan alat-alat untuk garap tanah. Pikiran manusia lantas membuat alat. Membuat semacam linggis, dari batu atau dari kayu. Membuat semacam pacul, membuat semacam garu. Membuat semacam alat pengangkutan, yang mengangkut padi-padi yang banyak itu dari sini ke sana. Mula-mula diseret saja, tetapi lambat laun, lambat laun, timbul ia punya pengalaman: kalau bukan diseret, tetapi dengan barang yang gemelinding, bunder, lebih mudah. Timbullah akal manusia untuk membuat alat. Alat pertanian, alat membuat periuk-periuk, alat membuat rumah-rumah. Rumah itu banyak sekali keperluannya. Membuat tatah untuk mengerjakan kayunya, harus tali-temali. Malahan timbul pikiran: harus dibor, harus dengan pantek, harus dengan ini. harus dengan itu. Alat untuk membuat pakaian yang tadinya dari kulit binatang yang satu dihubungkan dengan kulit binatang yang lain. Lambat laun timbul pikiran, pikiran membuat alat, membuat alat. Akhirnya timbul fase yang keempat, yaitu fase manusia hidup di sampingnya bercocok tanam dengan yang dinamakan kerajinan tangan, nijverheid, industri. Belum industri besar, tetapi huis-industrie, industri kecil, industri rumah. Dan di dalam alam yang demikian ini pikirannyapun lain, tempat persembahannyapun lain. Tadi di dalam fase yang ketiga antropomorf, jelas dikata-kan puterinya cantiknya bukan main! Malahan bisa digambar-kan; rambutnya "ngandan-andan kaya kembang bakung". Ciptaannya itu jelas kelihatan, Antropomorf. Kulitnya mingir-mingir, bibirnya seperti gambir sinigar, lehernya seperti lungnya jagung mantul-mentul, lambehannya seperti macan luwe. Jelas kelihatan. Tetapi di dalam fase yang keempat, lmbat laun hilang gambar antropomorf ini. Lambat laun ia punya Tuhan menjadi Tuhan yang gaib. Gaib artinya tidak bisadilihat, tidak bisa diraba, tidak bisa dicium, tidak bisa dikenali dengan panca indera. Dilihat tidak kelihatan, didengar tidak kedengaran, dijilat tidak terasa dipegang tidak bisa, dicium tidak ada baunya. Hilang ia punya sifat antropomorf. Ia lantas menggaib, hilang, ialah terutama sekali oleh karena manusia di sini cara hidupnya tergantung dari ia punya akal, ketajaman ia punya otak, akalnya, akal memikir mencari alat, alat, alat. Bagaimana bisa membikin alat supaya membuat kain selekas-lekasnya; ini harus ada alat pemintal kapas, Sesudah kapas ini dipintal menjadi benang, harus ada alat untuk menenun; alat membikin gerobak, alat membikin lobang di dalam kayu, yaitu bor.

Alat ini, alat itu. Alat, alat, pikir, pikir. Akal pikiran manusialah menduduki tempat yang pertama di dalam ia punya hidup. Ia punya Tuhan juga menjadi gaib. Kalau ditanya bagaimana Tuhanmu? Kelihatankah? Tidak. Bisa engkau bau? Tidak. Bisa engkau raha? Tidak. Bisa engkau lihat? Tidak. Bisa engkau dengar? Tidak. Di mana Tuhanmu? Tidak kclihatan. Gaib, sebagaimana juga akal manusia adalah gaib. Saudara Roeslan Abdulgani tempo hari berkata di dalam salah satu prasaran, ada yang me ngatakan manusia itu fosfor. Ini ucapan dari Feurbach. la berkata:

"Zonder fosfor, geen mens, geen gedachte, zonder fosfor geen gedachte". Tanpa fosfor tidak ada pikiran. Oleh karena ia berpendapat, pikiran itu timbulnya daripada otak yang makanannya terutama sekali fosfor. Jadi kalau tidak ada fosfor, tidak ada pikiran, tidak ada ini, tidak ada itu. Fosfor pokok daripada segala hidup, terutama sekali hidup mental, hidup spirituil, hidup pikiran, hidup yang di luar daripada kepanca-inderaan.

Oleh karena manusia di dalam fase keempat, terutama sekali tergantung daripada kecerdasan otaknya, ia punya Ketuhanan menjadi gaib, abstrak, tidak lagi riil.

Ini di dalam fase keempat, demikian.