Cham et Japhet, ou De l'émigration des nègres chez les blancs considérée comme moyen providentiel de régénérer la race nègre et de civiliser l'Afrique intérieure.

Chapter 2

Chapter 22,653 wordsPublic domain

Berpikir politik: jangan raja ikut-ikut, biar kami berpikir politik, biar kami mempunyai keyakinan pikiran sendiri, mempropagandakan pikiran kami sendiri. Politik "liberalisme". Kami mau mengadakan partai-partai, biar partai corak A, biar partai corak B, biar partai corak C dan seterusnya: politik "liberalisme".

Maka terjadilah desakan dari klas yang ke-3. Tadinya ini klas bangsawan dengan raja sebagai pimpinannya. Nomor dua klas gereja, tweede stand. Ada klas baru yang menyebutkan dirinya klas ke-3, ialah klas pengusaha, yang di dalam kursus saya pertama, saya namakan "bourgeois", tatkala saya berkata India mempunyai "National bourgeois" atau lebih tegas "National bourgeois" yang ada di India tidak dihancurbinasakan oleh imperialisme Inggris. Maka pergerakan Nasional India sebagian daripada dia punya "motorische kracht", ialah kekuatan daripada kekuatan "Nasional bourgeois" di India.

Klas ke-3 ini yang sebenarnya yang menjadi peniup daripada revolusi Perancis. Rebut kekuasaan daripada tangannya raja! Rebut kekuasaan daripada tangannya kaum feodal! Rebut kekuasaan daripada tangannya stand ke-2!

Tetapi klas ke-3 ini juga merasa kalau harus merebut kekuasaan itu dengan tenaga sendiri tidak bisa. Kekuasaan feodal dan kekuasaan gereja ini terlalu kuat. Kaum pengusaha sendiri tidak kuat. Karena itu lantas kaum klas ke-3 ini, pengusaha, mempergiatkan tenaga rakyat jelata, yang oleh mereka dinamakan klas ke-4, Eerste stand feoctal, tweede stand gereja, derde stand opkomende hougeois, vierde stand rakyal.

Vierde stand ini yang dipergiatkan. Vierde stand ini yang dibakar hatinya dengan semboyan-semboyan. Vierde stand ini yang dibakar hatinya dengan revolusi Perancis yang termasyhur. Liberte! Egalite! Fraternite! Kemerdekaan! Persamaan! Persaudaraan!

Pada waktu pertama kita memang melihat pengusaha itu berpeluk-pelukan di jalan di Paris, dansa-dansa di muka gereja indah Notre Dame. Di lapangan itu diadakan musik. Kita melihat pengusaha-pengusaha itu berdansa-dansa dengan yang dinamakan rakyat jembel. Liberte! Egalite! Fraternite!

Rakyat yang terbakar ini menjadi kuda daripada tenaga revolusi Perancis, yang pada hakekatnya ialah revolusi untuk merebut kekuasaan dari tangannya stand ke-1 dan stand ke-2 ke dalarn tangannya stand ke-3. "Leuze", semboyan Liberte, Egalite, Fraternite, di dalam bidang politik diselenggarakan sebagai "parlementaire democratie". Semua orang boleh masuk dalam parlemen. Semua orang boleh bicara. Sekarang kita tidak lagi mengadakan hukum secara feodal oleh satu orang manusia.

Semua harus ikut, sekarang harus dengan bermusyawarah.

Dan "liberale politiek" boleh tiap-tiap orang mengusulkan, boleh tiap-tiap orang pidato, boleh tiap-tiap orang dipilih.

Kelanjutan daripada revolusi Perancis, rakyat jelata terpukul. Saudara-saudara akan bertanya: kalau begitu bagaimana, pengusaha-pengusaha itu ‘kan kalah dengan rakyat jelata? ‘Kan maksudnya pengusaha-pengusaha ini mau mengadakan hukumhukum, peraturan-peraturan, wet-wet, yang cocok dengan kepentingan pengusaha, mau mengadakan hukum-hukum, peraturan-peraturan, wet-wet, untuk menjadi bumi bumi subur bagi "Kapitalismus im aufstieg". Tapi kalau rakyat jelata semuanya diperbolehkan masuk parlemen, boleh memilih dan dipilih, ‘kan kalah "stem" kaum pengusaha?

Tidak Saudara-saudara, di dalam praktiknya mereka telah mengetahui lebih dulu, bahwa pemilihan parlemen itu selalu dengan "campagne", dengan "propaganda", dan mereka sudah tahu: kami yang mernegang alat-alat propaganda, kami yang bisa membiayai surat-surat kabar, kami yang bisa membiayai segala alat-alat yang lain. Bahkan kami kaum pengusaha itu membiayai sekolahsekolah, universitas-universitas.

Kaum pengusaha, terutama sekali kaum pengusaha yang sedang timbul ini, adalah satu golongan kaum yang betul-betul mempunyai rasa percaya kepada diri sendiri yang amat kuat; "zelf vertrouwen" yang amat besar sekali. Tidak takut mengadakan parlementaire democratie. Tokh nanti lihat utusan-utusan di dalam parlemen itu sebagian besar antek-antek kami. Sebagian besar akan berpikir secara kami, oleh karena kamilah yang membiayai universitas-universitas, membiayai sekolah-sekolah menengah. Oleh karena kamilah yang mencetak buku-buku, oleh karena kamilah yang mengeluarkan surat-surat kabar dan majalah. Kami kaum pengusaha, kami menguasai "beheersen het politieke en het intellectuele leven van het volk".

Dan di dalam praktiknya demikian Saudara-saudara, semua parlemen-parlemen yang baru lahir, yaitu di pertengahan abad ke-19 revolusi Perancis, sebentar diikuti oleh satu periode yang menentang, tetapi kemudian dalam tahun 1848 datang lagi satu revolusi. Malahan yang lebih tegas "met parlementaire rechten" di Eropa, sebagian lain ada yang 1852 ada yang tahun 1856. Tetapi pertentangan di abad ke-19 itulah terselenggara apa yang dinamakan "parlementaire democratie". Dan atas dasar hasil daripada parlementaire democratie ini kapitalisme di Eropa Barat berkembang biak benar.

Jadi jelaslah bahwa parlementaire democratie adalah ideologi politik daripada "Kapitalisme im Aufstieg".

Tatkala kita mengadakan pergerakan nasional, dengan sekaligus kita berkata bahwa kita menghendaki demokrasi pula. Tetapi kita mengetahui bahwa parlementaire democratie atau politik demokrasi saja bukan membawa kebahagiaan kepada rakyat, tetapi sebaliknya tumbuhnya kapitalisme sebagaimana yang kita lihat di Eropa, yang kendati berjalannya parlementaire democratie, sejak pertengahan abad ke-19, kita melihat kapital-isme menjadi kuat. Kita melihat ": kartel-kartel" dan "trust-trust" makin lama makin hebat. Sebaliknya kita melihat rakyat jelata menjadi kaum "proletar" yang papa sengsara.

Dengan sekaligus kita berkata pada waktu kita mengadakan Gerak Nasional, kita tidak menghendaki hanya demokrasi politik, tetapi kita menghendaki pula demokrasi ekonomi. Parlementaire demokrasi adalah hanya demokrasi politik, parlementaire demokrasi memberikan "kans" yang sarna secara demokratis kepada semua orang di bidang politik, itupun "zogenaamd". Sebab dalam praktiknya si pemegang uanglah yang bisa merbiayai surat kabar, membiayai propaganda etc. etc. Tetapi pada teorinya, sernuanya di bidang politik sama: engkau boleh dipilih, engkau boleh memilih, semua orang boleh memilih, semua orang boleh berpaham, berpendapat sendiri dan sernua boleh mengutarakan pikirannya itu, sama tidak ada perbedaan. Tetapi di bidang ekonomi, tidak! Tidak ada kesamarataan di bidang ekonomi! Kita melihat si kaya, si miskin, si milyuner, si proletar – dalam arti si jembel, bukan dalam arti marxis yang tulen, yang tempo hari sudah dikatakan proletar adalah orang yang menjual tenaganya, dengan tidak ikut memiliki alat produksi, itu "definisi proletar". Jadi di bidang ekonomi tidak ada sama rata sama rasa. Ini yang pernah digugat oleh pemimpin-pemimpin kaum buruh di Eropa, yang juga dengan tegas mengatakan: kami ini tidak mau cuma demokrasi politik tok. Di dalam tahun 1870 lebih hebat lagi dan pada permulaan abad ke-20 digembar-gemborkan oleh pimpinan kaum buruh di Eropa Barat.

Kita baru sekarang berani mencela: hanya demokrasi politik tok. Kita baru sekarang berani berkata: verrekt met parlementaire democratie tok. Kita terbelakang, paling sedikit 50 tahun!

Di alam Eropa, tadi saya berkata sudah mulai tahun 1860, '70, ‘ 80, permulaan abad ke-20, orang-orang seperti Adler, Liebknecht menjatuhkan vonnis yang sama sekali vernietigend terhadap parlementaire demokrasi tok.

Orang-orang seperti Juarcz. Liebknecht, seperti Adler, menghendaki apa yang mereka namakan politik ekonomische dmokrasi. Dus bukan hanya demokrasi politik tetapi juga demokrasi ekonomi. Sama rasa di dalam lapangan politik, tetapi juga sama rasa di dalam lapangan ekonomi.

Dan politiek economische democratie inilah yang sebagai saya katakan di dalam kuliah terhadap mahasiswa-mahasiswa di Yogyakarta, oleh Adler dinarnakan sosial demokrasi.

Sosialisme itu mempunyai macam-macam aliran. Ada aliran sosial demokrasi, ada aliran religieus socialisme, ada aliran "anarkhisme Bakunin", ada aliran komunisme daripada lenin. Salah satu aliran dalam sosialisme bernama sosial demokrasi. Adler yang menghendaki politik ekonomische demokrasi ini dalam satu perkataan sociale democratie; bahasa Indonesia-nya demokrasi sosial. Juarez juga begitu, malahan Juarez, – saya selalu gemar sekali kalau menyebutkan dia punya nama, – di dalam parlemen di Perancis itu pidatonya selalu dengan perkataanperkataan yang indah. Ia berkata: "Di dalam parlementaire democratie tiap-tiap orang bisa menjadi raja. Tiap-tiap orang bisa memilih, tiap-tiap orang boleh dipilih. Tiap-tiap orang bisa memupuk kekuasaan untuk menjatuhkan menteri-menteri dari singgasananya". Dan memang, di dalam parlementaire democratie, menteri yang sudah kuasa itu, di dalam parlementaire democratie bisa dijatuhkan oleh si jembel, wakil-wakilnya yang duduk dalam parlemen itu. Menteri yang berkuasa dijatuhkan oleh anggota-anggota parlemen.

Di bidang politik tiap-tiap kita adalah laksana raja. Tetapi di bidang ekonomi tidak demikian. Si kaum buruh yang pada hari ini di dalam parlemen adalah seorang raja, besok pagi di dalam pabriknya ia bisa dilempar keluar dari pabriknya itu menjadi menjadi orang yang tiada kerja. Si kaum buruh vang menjadi anggota parlemen ini hari bisa menjatuhkan menteri, tetapi kembali di dalam pabrik dia adalah buruh di bawah kekuasaan sang majikan, bisa dilepas bisa dijadikan orang yang "op de keuen", hidup sengsara. Oleh karena itu, Juarez pada permulaan abad ke-20 itu, tahun 1903, dia sudah menjatuhkan "vonnis" kepada demokrasi parlementer. Ia menghendaki politiek economische democratie; demikian pula Liebknecht, demikian pula banyak pemimpinpemimpin lain.

Kalau kita pada hari sekarang ini tahun 1958 juga mengeritik parlementaire democratie, ada yang mengatakan: "Dia itu kominis! Dia itu mau memblinerkan kita kepada satu alam yang salah". Saya dikatakan demikian pula: "Lihat Bung Karno dengan demokrasi terpimpin. Kapan dia keluarkan perkataan demokrasi terpimpin itu sesudah Bung Karno pulang dari Sovyet Uni, sesudah Bung Karno pulang dari RRT.

Marilah saya terangkan sekarang sedikit tentang fasisme. Begini: Di dalam alam kapitalisme, kapitalisme itu kecuali hidupnya seperti yang sudah saya gambarkan, juga mempunyai penyakit. Dan penyakitnya itu saban-saban datang, yaitu penyakit yang dinamakan krisis. Kapitalisme Amerika sekarang ini sedang mengalami krisis sedikit. Krisis sejak tahun yang lalu mulai berjalan, malah Saudara-saudara tahu pabrik-pabrik mobil sekarang sedang distop.

Tahun 1929 tempo hari krisis hebat, – yang kita kenal di sini dengan perkataan malaise. Kapitalisme itu mempunyai satu penyakit yang "inhaerent"; artinya sudah pembawaan daripada kapitalisme sendiri. Selalu kapitalisme itu diganggu krisis, periodiek mesti ada krisisnya.

Nah, saat kapitalisme banyak untung, datanglah saat krisis. Pada saat kapitalisme hidup lagi, datanglah lagi krisis. Hidup lagi, banyak untungnya, krisis lagi. Periodeiek up and down. "Up"-nya ini dinamakan dalam ilmu ekonomi periode conjuncture. Conjuncture artinya krisis. Sekarang saya hendak menggambarkan bagaimana rupanya kapitalisme yang sedang naik yang melalui beberapa conjuncture-conjuncture. Krisis itu terjadi beberapa puluh tahun sekali, tetapi yang dinamakan "im aufstieg" itu adalah meliputi periode yang lama dari abad ke-18 sampai abad ke-20.

Jadi selama "Aufstieg" itu ada conjuncturekrisis – conjuncturekrisis. Tetapi garis besarnya pada pokoknya terus naik. Kemudian di situ saat kapitalisme menurun, "Niedergang". Inilah beberapa garis yang saya tarik. Garis ini pada saat-saat krisis. Krisis naik, conjuncture naik; daripada satu ketika krisis lagi, naik lagi, diatasi lagi krisis itu, conjuncture lagi, diatasi lagi, krisis lagi, conjuncture krisis, conjuncture krisis.

Bagaimana caranya mengatasi zaman conjuncture? Apa coraknya?

Barang produksi banyak dan juga laku, sehingga meerwaarde yang masuk di dalam kantong sang pengusaha banyak sekali. Produksi tinggi dan selalu bisa habis terjual, ini namanya conjuncture. Memang kapitalisme membuat barang untuk dijual, kapitalisme tidak membuat barang untuk individuele consumptie. Sang kapitalis membuat barang itu tidak untuk dirinya.

Kapitalis pembikin kueh-mari misalnya, membikin itu bukan untuk dimakan sendiri; tidak, tetapi untuk dijual dengan untung. Untung itu ialah sebagian daripada meerwaarde yang masuk di dalam kantongnya. Ini adalah sifat daripada kapitalisme: produceren untuk dijual dengan untung.

Nah, pada satu saat produksi-produksi laku, tetapi sampai kepada satu tingkat yang tidak bisa habis dijual, itu dinamakan overproductie. Itu adalah satu paham relatif, artinya asal barang tidak bisa dijual dinamakan overproductie. Di sini tercapai satu ketika yang barang tidak bisa dijual lagi, produksi mandeg atau terpaksa diperkecil. dikurangi. Datanglah krisis, banyak kaum buruh di-ontslag enz. enz.

Tetapi pada satu ketika krisis ini yang sudah mencapai dasarnya yang paling rendah, dengan beberapa usaha bisa naik lagi. Usahanya itu apa, kok bisa naik lagi? Perbaikan daripada sistem produksi: perbaikan mesin-mesin; cara kerja yang lebih efisien; propaganda daripada produksinya yang lebih menarik kepada rakyat; penekanan daripada tenaga kaum buruh yang georganiseerd di dalam serikat-serikat sekerja, etc. etc.. Naik lagi. Produksi bisa bertambah laku pula. Conjuncture pada satu saat tercapai lagi, maximum. Di situ krisis, yaitu tidak terjual, dus kalau terus produksi rugi nanti, tidak terjual. Tetapi dengan caraperbaikan lagi, disempurnakan cara produksi etc. etc.; naik lagi, krisis, naik lagi.

Tetapi pada satu ketika timbullah puncak maksimum, puncak maksimum daripada kecakapan manusia untuk mem-perbaiki alatalat. Mesin-mesin sudah tidak bisa dipergunakan lagi. Sistem bedrijf sudah geperfectioneerd. Di balik itu tenaga daripada kaum buruh makin lama makin sempurna diorganisir. Di sini gerakan kaum buruh mulai tumbuh dan makin lama makin kuat.

Jadi meskipun sistem produksi, sistem bedrijf diperbaiki, sampai pada satu saat tidak bisa diperbaiki lagi, maksimum capasiteit toh tidak bisa terus conjuncture, oleh karena tuntutan dari kaum buruh kekuasaan kaum buruh juga makin naik. Meerwaarde yang masuk di dalam kantong si kapitalis makin lama makin kecil dan ditentang oleh kaum buruhnya itu.

Tadi dengan saya punya contoh kueh, tepung dengan gula 100 menjadi kueh 200, meerwaardenya 100. Ini 50 masuk kantongnya kaum buruh sebagai upah, 50 masuk kantongnya sang kapitalis. Itu pada fase permulaan tatkala kaum buruh belum diorganisir secara kuat.

Tetapi Saudara-saudara mengetahui organisasi kaum buruh makin lama makin sempurna. makin lama makin kuasa.

Dari 100 meerwaarde ini yang tadinya diberikan kaum buruh hanya 50, belakangan menjadi 60 buat kaum buruh, dituntut 60. Sudah 60 dituntut lagi 70. Hanya 30 masuk di kantong si kapitalis. Tuntut lagi 80 masuk di kantong kaum buruh, tinggal 20 buat si kapitalis. Tuntutan lagi 90 masuk dalam kantong kaum buruh, tinggal 10 masuk kantong si kapitalis.

Dus "marge" keuntungan pengusaha makin lama makin kecil. Seperti Saudara-saudara lihat di Amerika sekarang ini, pabrikpabrik Mobil Detroit misalnya sekarang ini mandeg, Royter pemimpin kaum buruh, dia yang "voorschrijven": sekarang engkau pengusaha mobil, aku yang menentukan berapa mobil yang harus diprodusir, berapa yang tidak. Chrysler sementara tutup. Bagian Ford Continental tutup. Krisis.

Nah, demikian pula ini Saudara-saudara. Pada satu ketika tercapailah "het absolute maximum", krisis, coba lagi, conjuncture-conjuncture, krisis lagi, coba dengan macam-macam lagi. Bahkan nanti tenaga atom dikerjakan juga yang dipakai untuk menjalankan pabrik, untuk menjalankan mesin-mesin. Tenaga atom itu sudah geperfectioneerd, tetapi sistemnya salah, yaitu sistem meerwaarde. Dan sebagian daripada meerwaarde itu masuk kantong daripada pengusaha. Itu sistem kapitalis.

Meskipun, dus, mesin-mesin, bedrijf dan lain-lain sebagainya, geperfectioneerd secara teknis, oleh karena sistemnya salah maka selalu hukum krisis itu datang pula. Di-perfectioneer, krisis lagi. Saudara lihat garis umum ini naik, garis umum ini menurun, inilah "Niedergang". "Kapitalismus im Aufstieg", "Kapitalismus im Niedergang".

Secara alam pikiran politik, di sini parlementaire democratie akan membahayakan kepada Kapitalismus im Niedergang. Parlementaire democratie yang memberikan kesempatan kepada semua orang untuk ikut bermusyawarah, meskipun alat propaganda, alat surat kabar, alat sekolah etc. etc. sebelumnya sudah di tangan mcrcka. Toh, tadinya, di alam ini, tatkala tenaga kaurn buruh belum terorganisir seperti sekarang, mereka masih selalu bisa "beheersen" parlemen. Tetapi di sini tidak bisa lagi, sebab alam parlementaire democratie tidak bisa lagi.

Nah, di sinilah kapitalisme lantas berkata: Tidak berjalan parlementaire democratie. Di sinilah kapitalisme memperguna-kan "luuisle reddingspoging van het kapitalisme ", yaitu fasisme.

Tidak diberi kesempatan kepada semua orang untuk menjalankan dernokrasi; tidak diberi kesempatan kepada si kaum buruh untuk mengirimkan wakihlya, di dalam parlemen; tetapi kekuasaan di dalam tangannya si diktator. Entah diktator namanya Hitler, entah diktator namanya Mussolini, Franco atau apapun, tetapi itu adalah corak daripada kapitalisme im Niedergang.

Historis materialisme ini jelas bahwa dus alam pikiran manusia, alam pikiran politik juga ditentukan oleh sociaal economische factoren. Alam pikiran fasisme ditentukan oleh sociaal economische factoren. Pada satu ketika seluruh rakyat Jerman itu cinta kepada Hitler. Pada satu ketika, umpamanya terjadi di Timur, juga ludah Hitler dijilat oleh rakyat. Coba terjadi di dunia Timur, pada satu ketika juga air cucian tangan Hitler juga akan berharga 1.000 pound. Alam pikiran daripada rakyat pada waktu itu sama sekali ditentukan oleh sociaal econornische verhoudingen. Historis materialisme.

Nah, dus Saudara-saudara, kita yang melihat segala cacat-cacat daripada productiewijze daripada kapitalisme, melihat daripada cacat-cacat parlementaire democratie, kitalah yang sebaliknya, sebagai amanat penderitaan daripada bangsa Indonesia, memikul kewajiban untuk menyelenggarakan satu masyarakat yang bukan masyarakat kapitalisme, tetapi masyarakat yang adil dan makmur. Sekarang ini saya mengundang untuk berpikir sesuai dengan amanat penderitaan itu. Saya mengundang agar supaya meninggalkan alam demokrasi liberal. Saya mengundang agar supaya meninggalkan cara berpikir ala parlementaire democratie yang politik demokrasi tok. Saya mengundang agar supaya rakyat Indonesia itu dalam menyusun ia punya demokrasi menaruhkan segala sesuatu di atas kepribadian bangsa Indonesia sendiri.

Maka oleh karena itu saya berkata: Demokrasi yang harus kita jalankan adalah demokrasi Indonesia, membawa kepribadian Indonesia sendiri. Jikalau kita tidak bisa berpikir demikian itu, kita nanti tidak dapat menyelenggarakan apa yang menjadi amanat penderitaan daripada rakyat itu.

Saya ulangi lagi: Demokrasi bagi kita bukan sekadar alat teknis; memang benar bahwa demokrasi adalah alat teknis untuk mencapai sesuatu hal, sebagaimana nasional sosialisme adalah satu alat teknis, sebagaimana diktatur proletariaat adalah satu alat teknis. Demokrasi bagi kita sebenarnya bukan sekadar satu alat teknis, tetapi satu alam jiwa pemikiran dan perasaan kita. Tetapi kita harus bisa meletakkan alam jiwa dan pemikiran kita itu di atas kepribadian kita sendiri, di atas penyelenggaraan cita-cita satu masyarakat yang adil dan makmur, yang sudah jelas tidak bisa dengan demokrasi secara ini.

Oleh karena itulah, di waktu yang akhir-akhir ini saya menganjurkan dijalankannya demokrasi terpimpin.

Sekian.