Essai sur la littérature merveilleuse des noirs, suivi de Contes indigènes de l'Ouest africain français - Tome premier

Chapter 2

Chapter 23,279 wordsPublic domain

Vcrwantschapsfamilie ini mula-mula hidup di dalam satu rumah yang panjang sekali, besar; anaknya, cucunya, segalanya hidup di situ dengan berpusatkan seorang wanita. Kemudian bertambah besar, bertambah besar menjadi suku, yang dus pada asalnya suku itu adalah pertumbuhan daripada verwantschapsfamilie. Kemudian beberapa suku manusia, berhubung dengan pencarian hidup, datang berkumpul di dalarn satu daerah, hidup di satu daerah. Nah, jikalau manusia-manusia yang banyak yang tadinya verwantschapsfamilie, lebih menggabungkan lagi di dalam eenheden yang lebih besar: suku, suku, suku, jikalau jumlah manusiamanusia yang banyak ini mengalami pengalaman-pengalaman yang sama sehingga dia punya karakter-trekken menjadi sama pula – ingat definisi Otto Bauer: Eine Nation ist eine aus Schicksal Gemeinschaft erwachsene Charakter Gemeinschaft, bangsa adalah satu persatuan watak yang tumbuh daripada persatuan pengalaman-pengalaman, – jikalau manusia-manusia yang banyak, gerombolan-gerombolan manusia yang terdiri mula-mula daripada verwantschapsfamilie kemudian suku-suku, sudah mencapai persatuan watak yang demikian itu, mempunyai rasa ingin hidup bersatu, Ernest Renan, "le desir d'etre ensemble", baru pada saat itulah lahir apa yang dinamakan bangsa; bangsa yang kemudian di mana-manapun terjadi: bangsa, bangsa.

Tapi dus sudah nyata bahwa adanya bangsa Indonesia, adanya bangsa India, adanya bangsa Jepang, adanya bangsa yang lain-lain itu, pada mulanya adalah berasal daripada kemanusiaan yang kecil jurnlahnya, tapi berkembang biak via verwantschapsfamilie, via suku-suku, via pertumbuhan seterus-nya. Dan kita menginjak abadabad yang kita kenal sebagai abad-abad yang bersejarah. Kita mengenal pertumbuhan daripada apa yang dinamakan bangsabangsa ini, yang dulu sudah saya katakan, dulu tidak ada bangsa Jermania, dulu cuma ada bangsa kecil Pruisen, bangsa kecil Beieren, bangsa kccil Saksen, bangsa kecil Mecklenburg dan lain-lain tumbuh berkembang menjadi bangsa besar Jermania.

Uulu di Italiapun demikian, tumbuh menjadi satu bangsa besar Italia, di Jepang demikian pula tumbuh, akhirnya menjadi satu bangsa besar. Maka duniapun yang sekarang terdiri daripada bangsa-bangsa itu di dalam pertumbuhan selanjutnya akan makin Iama makin menghilangkan batas-batas tajam antara bangsa dan bangsa. Inilah yang saya namakan tempo hari di dalam salah satu kursus saya paradok historis daripada abad yang kita alami. Historis paradok daripada abad yang kita alami ialah, politik: kita melihat terjadinya bangsa-bangsa, terjadinya negara-negara nasional, terjadinya batas-batas yang melingkari bangsa-bangsa dan negara-negara nasional, tetapi sebagai paradok daripada itu pertumbuhan sebagai akibat daripada perkembangan teknik terutama sekali, justru menghapuskan setapak demi setapak adanya batas-batas bangsa itu. Di satu pihak terjadinya negara-negara nasional dan bangsa-bangsa, di lain pihak perhubungan yang makin rapat antara manusia dan manusia dan antara bangsa dan bangsa.

Saudara-saudara, sehingga jikalau kita mau berdiri sendiri sebagai bangsa tak rnungkinlah, dunia telah menjadi demikian. Maka oleh karena itu kitapun di dalam Republik Indonesia ini yakin di dalam tekad kita bahwa kita ini tidak hanya ingin mengadakan satu bangsa Indonesia yang hidup dalam masyarakat yang adil dan makmur. Tidak. Tapi kita di samping itu bekerja keras pula untuk kebahagiaan seluruh umat manusia.

Tergambar jelas di dalam Pancasila, misalnya kalau kita menyebut keadilan sosial. Keadilan sosial yang nanti akan kita adakan bukan sekadar keadilan sosial di dalam lingkungan bangsa Indonesia, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Maka oleh karena itulah misalnya, kita mengadakan politik bebas dan aktif. Bahkan kita vakin masyarakat adil dan makmur tak mungkin kita dirikan hanya di dalam lingkungan bangsa Indonesia saja. Masyarakat adil dan makmur pada hakekatnya adalah sebagian daripada rnasyarakat adil dan makmur yang mengenai seluruh kemanusiaan. Tentang hal ini, Saudara-saudara, saya mau menceritakan kepada Saudara-saudara sebagai satu contoh untuk mempertajam Saudara punya pengertian, sebagai satu ilustrasi:

Perjuangan yang hebat atau katakanlah gedachtestrijd yang hebat di Sovyet Uni beberapa puluh tahun yang lalu, yaitu gedachtestrijd yang hebat sekali antara golongan yang dikepalai oleh Trotsky dan golongan yang dikepalai oleh Stalin. Dua golongan ini hebat memperdebatkan soal ini, sehingga akhirnya menjadi pertikaian politik, bahkan menjadi pertikaian kekuasaan, yang akhirnya Trotsky dikalahkan oleh Stalin.

Bagaimana, Saudara-saudara, duduknya perkara?

Baik Trotsky maupun Stalin menghendaki satu masyarakat adil dan makmur ala Rusia. Kita selalu mengatakan kita menghendaki masyarakat adil dan makmur ala Indonesia. Merekapun mempunyai cita-cita satu masyarakat yang adil dan makmur, katakanlah komunisme. Dua-duanya menghendaki komunisme, dua-duanya menghendaki hilangnya stelsel kapitalisme, duaduanya menghendaki manusia tidak dihisap oleh manusia yang lain, dua-duanya mau meniadakan exploitation de 1'homme par 1'homme, dua-duanya ingin mengadakan masyarakat sama rata sama rasa tanpa kapitalisme. Tapi toh ada perdebatan, bentrokan kemudian yang hebat sekali.

Apa kata Trotsky? Trotsky berkata: "musuh kita, kapital-isme, tidak bersarang di Rusland saja. Musuh kita kapitalisme adalah sudah mencapai tingkatan internasional kapitalisme. Musuh kita telah mencapai internasional imperialisme, yang dus tidak bercokol di sesuatu negeri saja, tapi bercokol di seluruh dunia. Kita telah berhasil mengadakan revolusi di tanah air kita, yaitu di Rusland. Kita tak dapat mendirikan satu masyarakat sosialis atau komunis di Rusland saja, jikalau kita tidak pula menumbangkan kapitalisme di lain-lain negeri". Oleh karena itu Trotsky minta dan menuntut supaya revolusi yang diadakan di Sovyet Uni itu diteruskan di negeri-negeri yang lain, dijadikan satu revolusi internasional. Dan bukan saja dijadikan satu revolusi internasional, tapi Trotsky berkata bahwa penumbangan kapitalisme, bahwa perjuangan menghilangkan stelsel kapital-isme itu bukanlah satu perjuangan daripada setahun dua tahun, sedetik dua detik.

Perjuangan menumbangkan kapitalisme adalah perjuangan terus-menerus, perjuangan tiap hari. Perjuangan menentang segala sifat-sifat, perjuangan menentang segala uitingen daripada stelsel kapitalisme itu, adalah perjuangan tiap hari terus-menerus dengan tiada berhenti.

Tidak cukup perjuangan sekadar pada satu saat merebut politieke macht, tampuk pimpinan Pemerintah direbut oleh kaum proletariat. Tidak cukup. Tapi perjuangan tiap hari, sekarang merebut tampuk pimpinan pemerintahan, besok merebut kekuasaan di dalam alam itu, besok lusa merebut kekuasaan di dalam alam itu, besok lusa lagi di alam itu, plus, bukan hanya di Sovyet Rusia, tapi di seluruh muka bumi.

Oleh karena itu Trotsky berkata: "Kita punya revolusi haruslah satu revolusi permanen, revolusi terus-menerus dan memusatkan perhatian kepada revolusi terus-menerus itu. Jangan sebentarpun mengadakan satu adem pauze, jangan sebentarpun mengadakan pemusatan pikiran kita kepada apa yang dinamakan pembangunan. Tidak! Terus gempur, gempur, di segala lapangan, di segala hari, di segala negeri. Revolusi sosialis adalah satu revolusi permanen, kalau sosialisme hendak tercapai". Revolusi ini oleh Trotsky dinamakan permanente revolutie. Trotsky mengeluarkan ia punya teori: permanente revolutie. De theorie van de permanente revolutie, teori yang amat dikenal oleh barisan kaum sosialis-komunis beberapa puluh tahun yang lalu.

Stalin, Saudara-saudara, berpendapat lain. Stalin dan Trotsky itu dua nama pedengan. Trotsky sebenarnya ia punya nama asli ialah Leon Bronstein. la adalah orang Yahudi. Di dalam gerakan revolusioner ia memakai nama pedengan: Trotsky atau Leon Trotsky.

Stalin dia punya nama asli ialah Jugas Villi. Dia ambil nama pedengan Stalin, orang yang terbuat dari baja. Ia adalah orang dari Georgia, dilahirkan di kota Tbilisi (Tiflis); namanya Jugas Villi. Masuk di dalam gerakan pada umur sangat muda dan terus memakai nama pedengan Stalin.

Stalin berpendapat lain. Ia berkata: "Kalau kita mau terus-terusan menjalankan teori permanente revolutie, Revolution in permanent, tidak akan bisa kita mencapai sosialisme di dalam jangka waktu umur beberapa generasi. Tapi marilah kita lebih dahulu menyusun satu benteng proletariat. Benteng itu sudah di dalam tangan kita, yaitu Rusland atau lebih tegas lagi yang dinamakan Sovyet Uni. Buatlah Sovyet Uni menjadi satu citadel daripada perjuangan seluruh proletariat dunia nanti untuk menjalankan sosialisme.

Tapi perkuatlah citadel ini lebih dahulu. Jangan terlalu engkau memikirkan revolusi di negeri-negeri lain, jangan terlalu engkau membuang energi 100% kepada revolusi di Inggris, revolusi di Italia, revolusi di Jerman, revolusi di Perancis, revolusi di Amerika Selatan, revolusi di Amerika Utara, revolusi di Kanada". Tidak, kata Stalin. "Pusatkan engkau punya perhatian lebih dulu kepada pemerkuatan benteng yang telah di dalam tangan kita. Jadikan Sovyet Uni citadel van het wereld proletariaat. Dan agar supaya bisa membuat Sovyet Uni ini citadel daripada wereld proletariaat, bangunkanlah Sovyet Uni sehebat-hebatnya". Malahan Stalin berkata: "Mungkin, het is mogelijk mendirikan satu masyarakat adil dan makmur di dalam satu negeri".

Trotsky berkata: "Tidak bisa mendirikan sosialisme di dalam satu negeri sebelum kapitalisme di seluruh dunia gugur. Sosialisme hanyalah bisa berdiri di semua negeri bersama. Tidak bisa satu negeri sosialistis". Stalin berkata: "Neen, mogelijk, bisa mengadakan sosialisme di satu negeri, yaitu di sovyet Uni. Oleh karena Sovyet Uni cukup bahan-bahannya, cukup mineralen, cukup luasnya tanah, cukup penduduk, cukup ini cukup itu, cukup material. baik material pisik maupun material yang berupa benda, maupun material batin".

Saya sendiri selalu berkata, bahwa kita misalnya harus mengadakan mental investment.

Stalin berkata: "Cukup material di Sovyet Uni ini untuk merealisir sosialisme hanya di Sovyet Uni dahulu, dan perkuat-kan Sovyet Uni menjadi citadel daripada seluruh proletariat sedunia".

Dan oleh karena dia berkata: cukup Sovyet Uni saja, mungkin, mogelijk untuk mendirikan sosialisme di dalam satu negeri saja, maka ia menjalankan politik isolationist. Ia tutup batas Sovyet Uni itu sampai dunia luaran mengatakan bahwa Sovyet Uni adalah seperti di belakang tembok besi Tiada ada orang bisa melihat apa yang terjadi di belakang tembok besi itu, hermetis ditutupnya.

Dua paham ini bentrokan satu sama lain. hebat perdebatan-nya, sampai menjadi de strijd om de macht pula. Bukan strijd om de idee, tapi juga strijd om de macht, yang akhirnya Trotsky kalah. la dibuang oleh Stalin ke Alma Ata, kemudian diper-bolehkan ke luar negeri, cari tempat exil di luar negeri.

Akhirnya mendapat exil di Mexico. Tapi di Mexico iapun masih terus mengajarkan ia punya teori permanente revolusi dan terus ia menyerang pada Stalin. Pada suatu hari orang pengikut Stalin atau alat Stalin menghabisi ia punya jiwa dengan membacok ia punya kepala dari belakang.

Saudara-saudara, dua idee yang bertentangan satu sama lain, bertempur satu sama lain, berebutan kekuasaan satu sama lain, yang akhirnya satu kalah. Sesudah kalah satu ini, maka Sovyet Uni memasuki periode yang dikenal oleh dunia luar: periode Stalinisme, periodc penutupan, periode isolasi, periode mem-perkuat benteng di dalarn lingkungan pagar besi itu. Periode pemerkuatan benteng ini melalui fase-fase pembersihan, fase-fase penangkapan, fase-fase kalau perlu pendrelan dan pembunuhan.

Datanglah akhirnya reaksi terhadap kepada periode ini.

Reaksinya ialah periode yang kita alami sekarang, yang Sovyet Uni sekarang mulai membuka ia punya pintu, yang Sovyet Uni sekarang sendirinya menginguk ke luar negeri dan membolehkan orang luar negeri menginguk pula ke dalam, yang Sovyet Uni mencari hubungan sebanyak-banyaknya dengan luar negeri.

Kita bagaimana Saudara-saudara? Sebagai tadi pada permulaan telah saya katakan, kita tidak dapat menyelenggarakan satu masyarakat adil dan makmur di dalam negeri kita ini jikalau kita menjalankan politik isolationisme pula. Kita harus mencari hubungan dengan bangsa-bangsa atas dasar persamaan, atas dasar daulat sama daulat, atas dasar mutual benefit, menguntungkan dan diuntungkan. Ini adalah satu politik yang tegas kita jalankan, yang pada inti jiwanya ialah politik yang berdiri atas beginsel kebangsaan, tapi juga atas beginsel perikemanusiaan. Apalagi kita yang masih di dalam periode nationale revolutie menumbangkan imperialisme yang kita mengetahui bahwa imperialisme adalah imperialisme inter-nasional yang di dalam waktu yang akhir-akhir ini berhubung dengan adanya subversi asing dan intervensi asing kita aan den lijve ondervinden bahwa imperialisme yang harus kita tumbangkan bukan hanya imperialisme Belanda, tapi antek-antek dan kawan-kawan daripada imperialisme Belanda itu pula, artinya yang kita aan den lijve ondervinden bahwa kita menghadapi pula internasional imperialisme, tak dapat kita melepaskan diri kita daripada bekerja sama dengan bangsa-bangsa yang juga menentang imperialisme itu.

Oleh karena itulah Indonesia menjadi salah satu sponsor daripada Konferensi Asia Afrika. Oleh karena itulah pula maka Indonesia dengan terang-terangan memberi bantuan kepada perjuangan bangsa-bangsa yang lain. Oleh karena itulah Indonesia pula mencari bantuan dari bangsa-bangsa yang lain.

Hal yang saya ceritakan ini adalah mengenai bidang politik, bidang perjuangan. Tapi sila Perikemanusiaan bisa juga kita terangkan daripada bidang-bidang yang lain. Bukan sekadar bidang politik, perjuangan politik menuntut kita bekerja sama dengan bangsa-bangsa lain -bukan saja itu -bukan saja keyakinan bahwa kita tak mungkin mengadakan satu masyarakat sosialisme ala Indonesia, sosialisme Pancasila, jikalau kita mengadakan isolasionisme, tidak mau berhubungan dengan bangsa-bangsa yang lain, tapi juga dari sudut apapun, rnaka nasionalisme Indonesia harus disegari pula oleh Peri-kemanusiaan. Tatkala saya mengusulkan Pancasila sebagai dasar negara dalam bulan Juni 1945, saya telah berkata: "Nasionalisme hanyalah dapat hidup subur di dalam taman sarinya internasionalisme. Internasionalisme hanyalah dapat hidup subur jikalau berakar di buminya nasionalisme. Dua ini harus wahyu-mewahyui satu sama lain".

Apalagi jikalau kita, sebagai tempo hari telah saya katakan kepada Saudara-saudara, ingat, bahwa kita ini adalah satu bangsa yang tidak boleh tidak harus religius. Saya berkata tidak boleh tidak, oleh karena sosiologis kita ini adalah satu bangsa yang buat sebagian besar masih hidup di dalam alam agraris dan tempo hari saya terangkan kepada Saudara-saudara bahwa tiap-tiap bangsa yang masih hidup dalam alam agraris, tidak boleh tidak adalah religius.

Saya ulangi apa yang saya katakan tempo hari, bangsa agraris selalu mencantumkan ia punya harapan juga kepada faktor-faktor gaib. Bangsa agraris yang sudah menyangkul ia punya tanah sudah mendeder ia punya bibit, menunggu sang bibit ini tumbuh dan kemudian berkembang dan kemudian berbuah sambil mohon. mengharap-harap hujan jangan terlalu banyak, kering jangan kering, memohon ibaratnya daripada bintang-bintang dan Tuhan agar supaya tumbuhnya ia punya tanaman ini diberkati oleh hujan, diberkati oleh sinar matahari dan lain-lainnya. Bangsa yang agraris tidak boleh tidak mesti hidup di dalam religiositet. Apalagi jikalau kita ingat akan hal itu, maka faktor perikernanusiaan amat menonjol kepada kita. Tiap-tiap bangsa yang agraris tebal ia punya rasa Peri-kemanusiaan.

Agama, Saudara-saudara, agarna apapun, semuanya menghendaki rasa perikemanusiaan. Kalau saya kupas agama yang besar-besar, mulai dengan agama yang disebarkan oleh Nabi Musa, de Godsdienst van Israel, hanya agama Musa itulah yang masih tebal ia punya kebangsaan. Namanya juga sudah Godsdienst van Israel. Coba baca sejarah daripada agama Israel, katakanlah agama Yahudi. Tampak benar ini adalah satu nationale religie, satu agama untuk menyelamatkan bangsa Israel. Sifat kebangsaan, sifat nasionaliteit masih tebal di Agama Musa ini. Ia memimpin ia punya bangsa, bangsa Israel keluar daripada penindasan di Mesir di bawah pemerintahan Firaun. Musa berjalan di hadapan puluhan mungkin ratusan ribu rakyat Yahudi ini sebagai pemimpin bangsa Yahudi, mencoba membawa mereka kepada satu daerah yang dinamakan Het beloofde land, tanah yang telah dijanjikan oleh Tuhannya ialah tanah Israel, tanah yang akan memberikan kebahagiaan kepada mereka.

Saudara-saudara kenal akan cerita dia dikejar-kejar oleh laskar Firaun. Kenal bahwa ia menyeberangi laut yang menurut ceritera agama ialah dengan ia punya tongkat, laut itu dipecahkan airnya sehingga satu bagian kering dan dia dengan ia punya rakyat Israel itu tadi melalui bagian kering itu. Pihak Wetenschap berkata: Bagian laut itu memang kadang-kadang mengalami pasang surut yang sangat rendah sekali sehingga memang kebetulan pada waktu itu pasang surutnya demikian rendahnya dan lamanya, lautan itu memang lautan kering dan Musa bisa mclewati dasar lautan itu.

Bagaimanapun juga Saudara-saudara, agama Musa masih menunjukkan corak nasional yang tebal, Godsdienst van Israel untuk memberi kebahagiaan kepada rakyat Israel, yang dasar inilah sampai sekarang dipakai oleh partai agama di Negara Israel yang didirikan beberapa tahun yang lalu. Di Israel itu ada partai Sosialis, ada partai Komunis yang kecil, ada juga partai yang dinamakan partai ortodox yang sama sekali berdiri di atas ajaran ini "dit land van Israel is ons beloofde land" dan menurut kitab-kitab, kita akan mengalami kebahagiaan di tanah ini.

Agama Musa jelas mempunyai sifat-sifat yang tebal kebangsaan. Tidak demikian agama-agama yang lain. Ambil kronologis agama Budha sebagai yang diajarkan oleh Budha Sakya Muni. Sidarta namanya pada waktu ia masih muda, anak Raja Kapilawastu Sidarta. Sidarta akhirnya bertapa, berjuang mencari kebenaran. Akhirnya ia dinamakan Budha Sakya Muni. Agama daripada Budha Sakya Muni ini dengan tegas tidak berdiri atas dasar kebangsaan, hanya berdiri di atas pembersihan kalbu, begeerteloosheid. Agama Israel tidak, istimewa untuk orang Israel, untuk bangsa Israel, berdiam di tanah di kanan-kirinya sungai Yordan. Budha tidak. Setengah manusia bisa mencapai kebahagiaan. "Aku", kata Budha, "tidak akan membawamu kepada sesuatu tanah sebagai Musa. Aku tidak berhadapan dengan bangsa India, aku berhadapan dengan tiap-tiap manusia yang ingin mencapai kebahagiaan dan jalannya ialah membunuh begeerte, membunuh nafsu. Bunuhlah engkau punya nafsu, dengan sendirinya engkau masuk Nirwana. Bunuhlah engkau punya nafsu-nafsu, dengan sendirinya engkau akan mencapai kebahagiaan".

Oleh karena itu tempo hari saya berkata di dalam salah satu pidato: agama budha tidak mengenal begrip Tuhan. Agama lain mempunyai begrip Tuhan: Ya Allah atau Ya Tuhan atau Ya God atau Yehova, mohon, mohon; ada tempat permohonan. Budha berkata tidak ada, tidak perlu engkau mohon-mohon, cukup engkau bersihkan engkau punya kalbu daripada nafsu dan dia sebut delapan nafsu. Bunuhpadamkan delapan nafsu ini, dengan sendirinya engkau masuk di dalam Sorga; artinya engkau akan mencapai kebahagiaan, engkau akan masuk Nirwana. Agama Budha pada orisinilnya Saudara-saudara, inilah, dan ini yang dinamakan Budhisme Hinayana. Tiap-tiap manusia bisa langsung masuk ke dalam alam Nirwana. Engkau bisa, engkau bisa, asal engkau bisa membunuh delapan macam nafsu itu.

Delapan nafsu ini bunuhlah, oleh karena nafsu itulah sumber daripada semua ketidakbahagiaan. Jikalau engkau bisa membunuh delapan nafsu ini, sekaligus dengan langsung engkau bisa masuk dalam Nirwana. Agama Budha asli ini dinamakan Hinayana. Hina artinya kecil, Yana artinya kereta; kereta kecil. Naiklah kereta kecil ini, engkau masuk dalam nirwana. Kereta kecil ini apa? Pernbunuhan nafsu yang delapan.

Di samping itu Saudara-saudara, sesudah Budha Sakya Muni meninggal dunia, sebagaimana tiap-tiap agama, pengikut-nya lantas diperdalam, diperlebar, diperdalam, diperlebar, timbul pahampaham yang lebih daripada itu. Lihat agama Kristen, lihat agama Islam. Pada mulanya lsa menghendaki satu, bukan? Tetapi pengikutnya kemudian mengadakan bermacam-macam ini-itu, ini-itu. Bertengkar ini dan itu, timbullah cabang-cabang. Ada cabang agama Kristen ini ada cabang agama Kristen itu. Islam juga begitu. Muhammad menghendaki satu agama, tapi belakangan pengikut-pengikutnya sesudah ia meninggal, debat ini-debat itu, tambah ini-tambah itu, sampai terjadi macam-macam aliran, sampai pada satu saat sudah tidak bisa diperdebatkan lagi saking sama-sama pinternya. Sampai lantas diadakan permufakatan: sudah, jangan debat-debat diteruskan, kita akui saja semuanya ini benar. Engkau Malik benar, engkau Hanafi benar, engkau Syafii benar, engkau Hambali benar; akui semua mazhab. Mazhah itu tidak ada zaman Muhammad, Saudara-saudara! Belakangan, demikian, ada mazhab Maliki, Syafii, Hambali, Hanafie; bahkan belakangan ada macam-macam aliran lagi, ada Akhmadiah Qadian, Akhmadiah Lahore. Ada macam-macam tarikah: tarikah Tijaniyah, Kadiriyah, Subandiyah, ini dan itu.

Demikian pula agama Budha, ditambah-tambah, lantas menjadi manusia itu tidak bisa satu kaligus dalam satu hidup. Sekarang hidup lantas disucikan batin daripada 8 nafsu, masuk Nirwana. Tidak bisa! Manusia itu harus melalui siklus bersambung-sambung, dilahirkan – mati – inkarnasi di dalam makhluk lain. Hidup – mati – inkarnasi lagi di dalam makhluk yang lain. Nah, makin lama kalau untung makin lama makin tinggi, kalau celaka makin lama makin turun. Manusia kalau dia bisa mengekang ia punya nafsu, bisa berbuat bijak dan bajik, mati -inkarnasi dalam satu makhluk manusia yang lebih tinggi. Hidup berpuluh-puluh tahun, mati, inkarnasi dalam makhluk yang lebih tinggi ia punya taraf kej iwaan. Demikian sambung-bersambung, sambung-bersambung melalui siklus berpuluh-puluh beratus-ratus, beribu-ribu, akhirnya tercapai tingkat yang tertinggi-sempurna, masuklah ia dalam Nirwana. Tapi kalau kita tidak bisa mempersucikan kita punya diri, siklus ini garisnya menurun. Lebih dulu manusia, kemudian bisa menjadi kerbau, kemudian menjadi babi, kemudian menjadi ini, kemudian menjadi itu.

Budhisme yang ini dinamakan Budhisme berkereta besar. Tadi dinamakan Budhisme kereta kecil, Budhisme Hinayana. Tapi Budhisme yang siklus-siklus itu dinamakan Budhisme Mahajana. Hinayana dan Mahayana. Tapi baik Hinayana mau-pun Mahayana tidak berdiri di atas dasar kebangsaan, langsung menuju kepada manusia-manusia dan manusia satu sama lain harus hidup seperti saudara dengan saudara.

Kronologis, masuk ke alam Isa. Juga Nabi Isa tidak terutama sekali berdiri di atas kebangsaan. ia punya ajaran ditujukan kepada semua manusia. Malah dcngan tegas ia menganjurkan: cintailah sesama manusia. Tuhan di atas segala hal, tapi sesama manusia seperti engkau mencintai diri sendiri. Heb God lief boven alles en Uw naasten gelijk U zelf. Cintailah Tuhan di atas segala hal dan cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Isa membasirkan ia punya ajaran bukan kepada kebahagiaan bangsa, tetapi kepada cinta dan kasih, liefde. Liefde terhadap Tuhan, liefde terhadap sesama manusia.

Kronologis: masuk di dalam alam – kronologis sebetulnya agama Hindu lebih dulu, bahkan lebih dulu daripada Budha Sakya Muni, Prins Sidarta – agama Hindupun tidak terutama sekali ditujukan kepada bangsa, tetapi kepada perikemanusiaan, yang ini di dalam tiap-tiap pidato saya tandaskan salah satu adagium daripada Hinduisme ialah Tat Twam Asi. Tat Twam Asi yang berarti: aku adalah dia, dia adalah aku. Yang dus pada hakekatnya tidak ada perbedaan dan pemisahan antara dia dan aku, bahkan tidak ada perbedaan dan perpisahan antara manusia dan alam semesta ini, bahwa segala isi alam semesta itu pada hakeka.tnya satu, berhubungan satu sama lain, rapat.