Essai sur la littérature merveilleuse des noirs, suivi de Contes indigènes de l'Ouest africain français - Tome premier

Chapter 1

Chapter 13,152 wordsPublic domain

__NOTOC__ __NOEDITSECTION__

PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA IV Kursus Presiden Soekarno Tentang Pancasila di Istana Negara, Tanggal 22 Juli 1958.

Saudara-saudara sekalian, ini malam hendak saya kupas – Insya Allah – di hadapan Saudara-saudara Sila Perikemanusiaan sebagai salah satu sila yang tidak boleh dipisahkan daripada sila yang lain-lain. Sebagaimana yang telah berulang-ulang saya katakan, maka Pancasila kelima-lima silanya adalah satu kesatuan yang tak boleh dipisah-pisahkan satu sarna lain atau diambil sekadar sebagian daripadanya.

Saudara-saudara, lihatlah lambang Negara kita di belakang ini. Alangkah megahnya, alangkah hebat dan cantiknya. Burung Elang Rajawali, garuda yang sayap kanan dan sayap kirinya berelar 17 buah, dengan ekor yang berelar 8 buah, tanggal 17 bulan 8, dan yang berkalungkan perisai yang di atas perisai itu tergambar Pancasila. Yang di bawahnya tertulis slogan buatan Empu Tantular "Bhinneka Tunggal Tka", Bhina Ika Tunggal Ika, "berjenisjenis tetapi tunggal".

Pancasila yang tergambar dengan di pusat bintang cemer-lang atas dasar hitam, sinar cermerlang abadi daripada Ketuhanan Yang Maha Esa. Pohon beringin lambang Kebangsaan. Rantai yang terdiri daripada gelang-gelangan persegi dan bundar, persegi dan bundar yang bersambung satu sama lain dalam sambungan yang tiada putusnya, Peri-kemanusiaan. Banteng Indonesia lambang Kedaulatan Rakyat. Kapas dan padi lambang kecukupan sandang pangan, Keadilan Sosial.

Lihatlah sekali lagi, aku berkata indahnya lambang Negara ini, yang menurut pendapat saya lambang Negara Republik Indonesia ini adalah lambang yang terindah dan terhebat daripada seluruh lambang-lambang Negara di muka bumi ini. Saya telah melihat dan mempelajari lambang-lambang negara yang lain-lain, tapi tidak ada satu yang sehebat, seindah, scharmonis seperti lambang Negara Republik Indonesia. Lambang yang telah dicintai oleh rakyat kita sehingga jikalau kita masuk ke desa-desa sampai ke pelosok-pelosok yang paling jauh dari dunia ramai, lambang ini sering dicoretkan orang di gardu-gardu, di tembok-tembok, di gerbang-gerbang, yang orang dirikan, jikalau hendak menyatakan sesuatu ucapan selamat datang kepada seseorang tamu.

Lambang yang dernikian telah terpaku di dalam kalbunya rakyat Indonesia, sehingga lambang ini telah menjadi darah daging rakyat Indonesia dalam kecintaannya kepada Republik, sehingga bencana batin akan amat besarlah jikalau dasar negara kita itu diubah jikalau Dasar Negara itu tidak ditetapkan dan dilanggengkan: Pancasila. Sebab, lambang negara sekarang yang telah dicintai oleh rakyat Indonesia sampai ke pelosok-pelosok desa itu adalah lambang yang bersendikan kepada Pancasila. Sesuatu perubahan daripada Dasar Negara membawa perubahan daripada lambang negara.

Saya mengetahui bahwa jikalau lambang negara ini diubah, sebagian terbesar daripada rakyat Indonesia akan menolaknya. Cinta rakyat Indonesia kepada lambang ini telah terpaku sedalamdalamnya di dalam jiwanya, berarti cinta sebagian terbesar daripada rakyat Indonesia kepada Pancasila.

Ini malam saya hendak menguraikan kepada Saudara-saudara akan sila Perikemanusiaan. Lihatlah betapa dalamnya cara kita menggambarkan sila Perikemanusiaan itu di atas perisai yang dikalungkan kepada lehernya Garuda Indonesia. Rantai yang pergelang-gelangannya tiada putus-putusnya, persegi bundar, persegi bundar, persegi bundar terus tiada putus-putusnya, sebagai lambang daripada tiada putus-putusnya perhubungan antara laki dan perempuan. Persegi lambang wanita, bundar lambang pria. Wanita pria, wanita pria, tiada putus-putusnya, de onverbreekbare keten der mensheib, rantai yang tiada terputus-putus daripada kemanusiaan dan perikemanusiaan. Bahkan sudah pernah saya uraikan di hadapan khalayak ramai bahwa bendera kitapun merah putih sebenarnya melukiskan pula hal terjadinya manusia itu, wanita dan laki-laki. Merah Putih dasar bendera kita bukan saja sekadar merah lambang keberanian, putih kesucian. Bukan pula pengertian yang kita miliki beribu-ribu tahun yang lalu tatkala kita masih mengagungkan matahari dan bulan, surya dan candera yang pada waktu itu kita kira bahwa matahari adalah sumber sekalian hal, demikian pula isteri matahari juga sumber sekalian hal, sehingga termasuk di dalam pengagungan kita kepada matahari dan bulan itu yang matahari kita lambangkan dengan warna merah, bulan kita lambangkan dengan warna putih, sehingga sejak daripada zaman dahulu kita telah memuliakan warna merah dan putih, meskipun belum berbentuk bendera, tetapi telah dalam ingatan kita, perlambangan kita, merah putih surya dan candera asal daripada sekalian alam. Demikianlah pengertian kita beribu-ribu tahun yang lalu. Bukan sekadar itu Saudara-saudara, demikian saya katakan di muka umum beberapa kali, bukan hanya surya dan candera, bukan hanya merah adalah keberanian, putih adalah kesucian, tetapi merah putih adalah pula lambang terjadinya manusia. Maaf, jikalau boleh saya katakan: merah lambang wanita, putih lambang pria.

Sekali lagi saya mengundang Saudara-saudara melihat akan indahnya perlambangan kita daripada sila Perikemanusiaan di atas perisai itu. Laki perempuan, laki perempuan, dalam satu rantai yang tidak putus-putus. Tetapi ini rantai Saudara-saudara, persegi bundar, persegi bundar, yang tiada putusnya bukan pula hanya melambangkan, melukiskan tiada putusnya hubungan laki-laki dan perempuan, dus tiada putus-putusnya rantai kemanusiaan; manusia beranak, anak beranak lagi, sang anak ini beranak lagi, sang anak ini beranak lagi atau kalau dikembalikan – saudarasaudara – sampai jutaan tahun yang lalu, keten inipun tidak terputus-putus. Orang beranak kemudian bercucu, kemudian berbuyut, kemudian bercanggah, kernudian berwareng, kemudian bergantung siwur, kemudian berudeg-udeg, tiada putusnya, ini keten ini rantai. Bukan sekadar demikian, tetapi rantai yang kita lukiskan di atas perisai sang Garuda Indonesia ini juga melukiskan hubungan antara bangsa dengan bangsa.

Kita maksudkan bahwa kita daripada Republik Indonesia merasakan bahwa kita ini bukanlah satu bangsa yang berdiri sendiri, tetapi adalah satu bangsa dalam keluarga bangsa-bangsa. Bahwa memang umat manusia sekarang ini yang terdiri daripada pelbagai bangsa-bangsa pada hakekatnyapun adalah satu rantai yang tiada terputus-putusnya. Terutama sekali di dalam abad keduapuluh ini tak dapat kita membayangkan adanya sesuatu bangsa yang dapat hidup dengan tiada hubungan dengan bangsabangsa yang lain. Tak dapat kita bayangkan mungkin hidupnya suatu bangsa yang sama sekali terasing daripada bangsa-bangsa lain.

Saudara-saudara, saya tadi berkata keadaan di dalam abad keduapuluh adalah demikian. Demikian pula di dalam beberapa abad yang terdahulu, apalagi di dalam abad-abad yang akan datang. Tiada manusia dapat berdiri sendiri, manusia adalah satu makhluk masyarakat, manusia adalah suatu homo socius. Demikian pula bangsa tak dapat hidup sendiri, bangsa hanyalah dapat hidup di dalam masyarakat umat manusia, di dalam masyarakatnya bangsa-bangsa.

Pada mulanya memang tidak ada yang dinamakan bangsa itu, Saudara-saudara. Bangsa adalah hasil daripada satu pertumbuhan. Zaman dahulu, dahulu sekali tidak ada bangsa, tidak ada yang dinamakan bangsa Indonesia, tidak ada yang dinamakan bangsa Jerman, tidak ada yang dinamakan bangsa Jepang, tidak ada yang dinamakan bangsa Inggris. tidak ada yang dinamakan bangsa Perancis, tidak ada yang dinamakan bangsa Amerika dan demikian seterusnya. Bahkan di dalam kursus saya yang lalu, saya telah uraikan kepada Saudara-saudara bahwa misalnya bangsa Amerika itulah baru berdiri beberapa abad saja yang dahulu tiada ada bangsa Amerika itu, yang dahulu benua Amerika itu didiami oleh suku-suku yang sekarang dinamakan suku Indian; ada suku Sioux, ada suku Apache. Macam-maeam suku Indian yang belum berbentuk bangsa. Tetapi kemudian Amerika diserbu dimasuki oleh emigran-emigran dari Eropa, emigran-emigran dari Jerman, emigran-emigran dari Hongaria, emigran-emigran dari Italia, dari Norwegia, dari Irlandia dan lain-lain negeri. Kemudian emigranemigran ini menjadi satu konglomerat, percampuran manusiamanusia, yang dinamakan bangsa Amerika. Meskipun sebagai yang saya uraikan di dalam kursus saya yang lalu, bahasanyapun sampai kepada saat sekarang ini belum benar-benar terkonglomeratkan menjadi satu bahasa Inggris. Tempo hari saya ceritakan kepada Saudara-saudara bahwa di Amerika masih ada orangorang yang tak dapat berbahasa Inggris, melainkan masih memakai bahasa aslinya, Jerman, Italia, Hongaria dan lain-lain. Dus, Saudara-saudara melihat bahwa begrip, paham bangsa adalah hasil daripada satu pertumbuhan. Apa maksud saya menguraikan hal ini? Maksud saya menguraikan hal ini ialah untuk menerangkan kepada saudara-saudara bahwa walaupun ada satu rantai yang tak putus-putus antara laki perempuan, laki perempuan, walaupun ada satu rantai yang tak terputus dalam hal kemanusiaan, dalam hal de wording van de mens, bangsa-bangsa adalah hasil daripada pertumbuhan kemudian.

Labih dulu saya mau menerangkan kepada Saudara-saudara bahwa dengan sengaja kita selalu memakai perkataan kemanusiaan dan perikemanusiaan. Kemanusiaan adalah alam manusia ini, de mensheid. Perikemanusiaan adalah jiwa yang merasakan bahwa antara manusia dengan lain manusia adalah hubungannya, jiwa yang hendak mengangkat membedakan jiwa manusia itu lebih tinggi daripada jiwa binatang.

Kalau saya memakai perkataan asing, kemanusiaan adalah mensheid, perikemanusiaan adalah menselijkheid. Kemanusia-an adalah alam manusia, sehingga kita boleh berkata dunia ini berkemanusiaan 2700 juta jiwa, perikemanusiaan adalah lain. Jikalau kita berbuat sesuatu yang rendah yang membikin celaka kepada manusia lain, kita berkata kita melanggar peri-kemanusiaan, kita melanggar hukum menselijkheid.

Saudara-saudara, mensheid, kemanusiaan itu memang dari dulu ada. Rasa perikemanusiaan adalah hasil daripada pertumbuhan rohani, hasil daripada pertumbuhan kebudayaan, hasil daripada pertumbuhan dari alam tingkat rendah ke taraf yang lebih tinggi. Perikemanusiaan adalah hasil daripada evolusi di dalam kalbunya manusia. Kemanusiaan ada sejak zaman dulu. Zaman dulu sekali Peri-kemanusiaan belum seperti yang kita kenal sekarang, bahkan tadi saya berkata perikemanusiaan hasil daripada evolusi. Dulu manusia hidup dalam alam yang masih tingkat rendah, juga bukan saja tingkat rendah materiilnya tapi juga tingkat rendah batinnya. Bahkan di dalam pertumbuhan rasa perikemanusiaan itu adalah sebagai tiap-tiap pertumbuhan apa yang dinamakan pada sesuatu saat ini adalah sesuai dengan perikemanusiaan, di lain waktu sudah tidak dikatakan lagi ini adalah sesuai dengan perikemanusiaan. Apa yang pada satu saat dikatakan baik, di lain waktu dikatakan jahat. Apa yang pada sesuatu saat dikatakan jahat mungkin di lain waktu dikatakan baik. Rasa ini mengalami evolusi. Perikemanusiaan mengalami evolusi, tapi kemanusiaan sejak zaman dulu ada. Jumlahnya kemanusiaan itu sudah barang tentu dulu jauh lebih kecil daripada sekarang.

Sekarang kemanusiaan berjumlah 2.700 juta manusia. Dahulu kalau mengambil daripada pendirian beberapa orang agama yang kolot. dikatakan berasal dari dua manusia: Adam dan Hawa. Adam dan I Iawa ini lantas mulai de onverbreekbare keten der mensheid itu tadi, laki perempuan, laki perempuan, laki perempuan, makin lama jumlahnya makin banyak. Tapi meskipun tidak mengambil pandangan daripada pendapat beberapa orang agama yang kolot, melainkan mengambil pandangan daripada pendapat ilmu pengetahuan, kemanusiaan pada mulanya berjumlah kecil, tidak sekonyong-konyong dunia ini didiami oleh 2.700 juta manusia. Mula-mula jumlah yang kecil sekali. Jikalau kita mengambil teori evolusi, saya tidak akan kupas lebih dalam – artinya tidak saya ketengahkan, benar atau tidaknya teori evolusi ini, bahwa manusia adalah hasil daripada pertumbuhan makhluk yang mula-mula eencellige wezens, makhluk-makhluk yang hanya terdiri daripada sel-sel tunggal. Kemudian evolusi menjadi binatang; evolusi lagi menjadi semacam kera; evolusi lagi menjadi manusiasebagai yang kita kenal manusia sekarang ini, yang ilmu ini sebagai tiap-tiap ilmu pengetahuan tentu sedapat mungkin mengeluarkan buktibukti penyokong pendapatnya, bukti-bukti yang berupa fosil-fosil. Fosil yaitu entah tanaman, entah binatang, entah tulang yang telah menjadi batu. Bukti-bukti fosil-fosil yang membuktikan: lihat iizi bukan kera, tetapi inipin belum manusia sempurna; dus ini fosil menunjukkan satu langkah antara kera dan manusia sempurna yang kita kenal sekarang ini. Misalnya kalau mengenai tanah air kita fosil yang tempo hari diketemukan oleh Prof Du Bois di desa Trinil dekat Ngawi sebelah utara dari Madiun, di lembahnya Bengawan Solo, fosil yang dengan tegas menunjukkan makhluk ini setengah kera setengah manusia dan ia sudah berdiri, melihat susunan tulangnya, sehingga oleh Du Bois disebutkan makhluk ini adalah – tempo hari sudah saya sebutkan – Pithecanthropus erectus. Pithecus = kera; anthropus = manusia. Pithecanthropus = kera manusia atau manusia kera, tetapi ia sudah erectus, sudah berdiri tegak. Pithecanthropus erectus ini terdapat di dalam zat geologis yang ditaksir umurnya 1 /2 juta tahun. Dus oleh karena fosil ini terdapat di dalam zat geologis, material geologis yang menurut ilmu geologi ilmu batu, usianya ditentukan 1 /2 juta tahun. Du Bois mengambil konklusi, pithecanthropus erectus hidupnya 1/2 juta tahun yang lalu. Mula-mula barangkali pithecanthropus erectus itu mati terbenam di dalam lumpurnya Bengawan Solo. Sang lumpur ini makin lama makin keras makin lama makin membeku, akhirnya menjadi batu. Nah, batu ini oleh ilmu geologi ditetapkan umurnya 1 /2 juta tahun. Dus makhluk pithecanthropus erectus ini hidupnya 1/2 juta tahun yang lalu.

Saya ulangi: kemanusiaan, baik ditinjau dari sudut agama yang berkata atau sudut beberapa orang agama yang berkata, bahwa kemanusiaan berasal daripada dua manusia Adam dan Hawa yang beranak bercucu berbuyut seterusnya, maupun ditinjau dari sudut ilmu pengetahuan, pada mulanya kemanusiaan ini berjumlah kecil.

Dan memang demikian, berjumlah kecil, hidupnya belum berhukum, belum beraturan. Hal ini sudah saya terangkan kepada Saudara-saudara tatkala saya menggambarkan pertumbuhan daripada cara manusia mencari makan, yang berhubungan dengan itu pertumbuhan daripada ia punya cara berpikir dan cara percaya. Fase pertama hidup daripada memburu, mencari ikan hidup dalam goa. Fase kedua dari peternakan. Fase ketiga daripada pertanian. Fase keempat daripada kerajinan tangan. Fase kelima daripada industrialisme yang pertumbuhan alam pikirannya adalah sesuai dengan itu. Fase pertama menyembah bulan, angin, batu, sungai. Fase kedua menyembah binatang. Fase ketiga menyembah dewidewi yang membawa hasil pertanian: Dewi Sri, Saripohaci dan lain-lain. Fase keempat Tuhannya telah digaibkan. Akal yang membuat adat-adat daripada kerajinan itu, akal itu berkata: Tuhan gaib, oleh karena akal adalah gaib, tidak bisa dipegang, tidak bisa dilihat. Akhirnya di dalam alam industrialisme ada orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, meniadakan adanya Tuhan. Ini sudah saya terangkan kepada Saudara-saudara.

Tetapi ditinjau daripada sudut hidup bebrayan, hidup socius, hidup berkemanusiaan di dalam masyarakat, ada juga pertumbuhan-pertumbuhan. Dahulu, saya tadi berkata: jumlah kecil, zonder hukum, seperti binatang liar yaitu zaman goa, zaman hidup di pohon-pohon. Bahkan rantai laki perempuan, laki perempuan, laki perempuan yang kita lukiskan dengan demikian indahnya, terwujudkan dalam cara hidup promiscuiteit. Belum ada yang dinamakan perkawinan, belum ada yang dinamakan paringshuwelijk, hidup suami isteri seperti sekarang. Hidup dalam alam promiscuiteit, campur aduk. Hubungan antara persegi dan bundar itu tadi campur aduk, laki dengan perempuan semaumaunya; perempuan dengan laki semau-maunya, sama dengan binatang di dalam rimba. Ada, waktu-waktu sebentar pasangan, itu ada, sebagaimana juga anjing serigala di dalam waktu ia birahi sebentar selalu anjing laki A sebentar selalu dengan anjing perempuan B, tapi beberapa hari beberapa pekan putus, nanti sudah berhubungan lagi dengan anjing lain. Sebentar berpasangan, tapi kemudian putus hubungan itu, pindah kepada wanita anjing lain atau pindah kepada pria anjing lain.

Manusia di dalam tingkatan yang pertama juga demikian. Ini yang dinamakan hidup promiscuiteit, belum ada hukum.

Tetapi sebagai tempo hari saya katakan di dalam salah satu kursus, kita pantas mendirikan patung kepada wanita, oleh karena wanita inilah yang pertama-tama, kataku, mendapatkan ilmu. Ilmu membuat barang untuk menutup badan. Sudah saya jelaskan dulu, wanita de eerste ontdekster van cultuur. Kultur yang berupa pakaian yang amat sederhana, terbuat dari kulit-kulit binatang yang disambung satu sama lain. Wanitalah, yang pertama-tama membuat alat seperti periuk terbuat daripada tanah. Wanita yang ditinggalkan oleh sang laki promiscue ini tadi untuk mencari binatang, makanan. Tetapi wanita yang karena hamil atau mempunyai anak kecil terpaksa terpaku di satu tempat. Wanita ini yang pertama-tama mendapat pikiran: biji benih sesuatu tanaman kalau dimasukkan dalam tanah, tumbuh menjadi tanaman dan kemudian bisa berbuah. Wanita de eerste ontdekster van de landbouw.

Demikian pula wanita adalah makhluk pertama yang membuat hukum, wanita de eerste wetgeefster. Hukum apa? Hukum keturunan! Hidup promiscuiteit itu tadi persegi bundar, persegi bundar yang tiada putusnya; sebagai tadi saya katakan dari persegi bundar datang anak. Nanti anak ini, juga persegi bundar, datang cucu. Itulah rantai yang tidak putus-putusnya. Tapi tadinya zonder hukum. Tidak bisa dikatakan dia itu anak siapa. Bagaimana bisa dikatakan dia anak si itu, kalau hidupnya tadinya promiscuiteit. Tapi wanita, Saudara-saudara, yang telah mendapatkan ilmu pertanian, wanita yang telah mendapatkan ilmu membuat gubuk untuk melindungi anaknya yang kecil, sebagai tempo hari saya katakan, ia mula-mula membuat gubuk terbuat daripada daundaunan, kemudian daripada bahan-bahan yang lebih baik, wanita ini makin lama makin menjadi orang yang penting. Wanita ini makin lama makin menjadi produsen. Produksi makin lama makin di dalam tangannya. Orang laki pergi berburu, mendapatkan binatang, entah menjangan, entah rusa, entah apa, tapi wanita yang dengan ia punya ontdekking yang bernama pertanian misalnya, wanita ini makin lama makin penting kedudukannya di dalam alam produksi. Ia makin lama makin penting kedudukannya di dalam masyarakat yang masih liar itu. Dia menjadi pusat daripada manusia, dialah yang memberi makan kepada anak-anak kecil dari ia punya hasil tanaman. Dialah yang bisa conserveren, menyimpan, ikan-ikan di dalam periuk, dia yang membagi-bagikan ikanikan itu kepada anak-anak. Dia menjadi manusia penting. Dan oleh karena dia ekonomis penting. maka akhirnya dia menjadi wetgeefster. dia yang mengadakan aturan. Dia, manusia itu anakku. dia, manusia itu anak dia, dia manusia itu ana, dia, dia anak dia. Dan selalu yang ditunjuk dia itu, dia sekarang yang berbaju hijau, dia yang sekarang berbaju biru, dia sekarang yang berbaju jambrut, dia sekarang yang berbaju merah, dia sekarang yang berbaju merah muda, dia sekarang yang berbaju hijau pupus yang ditunjuk itu selalu wanita. Manusia disebutkan anak si Fulan dan si Fulan itu selalu wanita. Oleh karena memang yang bisa dibuktikan dengan tegas dan jelas dan exact ialah ibunya. Ibu mengeluarkan anak. Tiap manusia bisa melihat: O ya, si A keluar dari itu dia, keluar dari wanita itulah, si B keluar dari wanita itulah, si C keluar dari wanita itulah. Bapaknya siapa? Duka teuing, tidak tahu! Yang jelas ialah ibunya. Sampai sekarang Saudara-saudara, tentang soal siapa bapaknya itu ‘kan duka teuing? Ada seorang ahli masyarakat yang berkata hal siapa bapak itu sebetulnya cuma bersandar atas "goeten Glauben". Artinya ik geloof ‘t wel, percayalah, si Anu itu bapaknya si Anu. Tapi kalau disuruh membuktikan dengan exact?

Tapi ibunya jelas siapa.

Nah, wanita mengadakan hukum. Hukurn yang kemudian dinamakan hukum matrilineaal, hukum peribuan. Manusia anak si Fulan dan si Fulan itu wanita, yaitu ibunya. Saya menyimpang sebentar, sebagai ilustrasi, bahwa hukum matrilineaal diambil garis dari ibu itu, memang hukum dari zaman dahulu ternyata dari cerita-cerita kuno yang restannya sampai sekarang masih ada di beberapa daerah. Di India, suku Nair, masih hidup sekarang ini memakai hukum matrilineaal.

Sedikit menyimpang dari hukum matrilineaal yang exact yaitu kita masih mendapatkan juga di Minangkabau yang dinamakan matriarchaat, restan daripada zaman dahulu. Ada juga orang yang berkata – ini sekadar saya sitir daripada sesuatu tulisan di dalam suatu kitab ilmu pengetahuan – kalau di dalam Agama Islam Isa dinamakan Isa ibnu Maryam, Nabi Isa anaknya Maryam. itu, kata sebagian daripada orang agama, tidak membuktikan bahwa Isa tidak mempunyai bapak, sebab sebagian lagi daripada kaum agama berkata: Isa tidak mempunyai bapak.

Manusia itu ada yang tidak mempunyai bapak, seperti Isa; ada yang tidak mempunyai ibu. Di dalam mythologie Yunani ada misalnya Adonis dikatakan tidak mempunyai ibu; dia keluar daripada sang bapak. Ya, di dalam mythologie itu macam-macam. Seperti Karna, Adipati Basukarna di dalam cerita wayang, maka ia dinamakan Karna ialah oleh karena menurut mythologie ia itu mempunyai ibu, tetapi tidak keluar dari jalan yang biasa; keluarnya daripada telinga. Ibunya namanya Kunti. Keluar daripada telinga, maka itu dinamakan Karna; karna adalah telinga.

Saya tadi ceritakan hal Isa. Kalau – ini kata sebagian daripada pihak agama -, kalau Isa disebutkan di dalam kitab agama Al Qur'an Isa Ibnu Maryam, itu bukan satu bukti bahwa Isa tidak mempunyai bapak, melainkan bahwa Isa dilahirkan di dalam zaman matrilineaal. Di dalam zaman matrilineaal memang yang disebutkan itu ibunya. Jadi, kalau saya umpamanya hidup di dalam zaman matrilineaal, ibu saya namanya Ida Nyoman Rai, ya Sukarno ibnu Ida Nyoman Rai, bukan Soekarno ibnu Sosrodiharjo, tapi Sukarno ibnu Ida Nyoman Rai.

Nah, saya kembali lagi kepada kemanusiaan. Hidup promiscuiteit dengan tiada hukum, tapi wanita akhirnya mengadakan hukum peribuan. Pada waktu itu belum ada bangsa, manusia hidup dalam gerombolan dengan wanita sebagai pusat, wanita yang berkuasa. Sociologis ialah oleh karena wanitalah produsen, oleh karena hidup manusia di dalam tangan wanitalah. Manusia mendapat makan dari wanita, wanita yang bercocoktanam, wanita yang menghasilkan padi dan gandum, wanita yang menjadi wetgeefster, wanita berkedudukan penting, mengepalai satu famili besar sekali. Pada waktu itu belum ada yang dinamakan suku, belum ada yang dinamakan bangsa. Pada waktu itu manusia hidup di dalam satu famili yang di dalam ilmu pengetahuan disebut: verwantschapsfamilie.