Pancasila Dasar Negara 4

Part 3

Chapter 31,313 wordsPublic domain (Wikisource)

Rasa kesatuan antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam sernesta ini, segala yang kumelip di dalam alam semesta ini, rasa kesatuan itu dinamakan Advaita. Aku ada hubungan dengan Saudara Ahem, Saudara Ahem ada hubungan dengan aku, aku ada hubungan dengan gunung, ada hubungan dengan awan, ada hubungan dengan laut, ada hubungan dengan udara, ada hubungan dengan burung yang sekarang sedang bercicit, ada hubungan dengan cecak yang saya lihat di sana, ada hubungan dengan isi kumelip daripada alam semesta ini.

Itu adalah Advaita dan inilah Advaita itu yang digambarkan oleh Krishna di dalam ucapannya terhadap pada Arjuna di dalam kitab Baghawad Gita sebagai yang di dalam pidato Kongres Kebatinan saya sentil sedikit. Tatkala Krishna diminta oleh Arjuna "Aku ingin mengetahui engkau itu di mana dan siapa, engkau melihat dirimu – badanmu Krishna, tapi sebenarnya engkau itu di mana, sebenarnya engkau itu siapa". Lantas Krishna menjawab: "Aku, aku adalah di dalam tumbuh-tumbuhan, aku adalah di dalammu, aku adalah di dalam gunung yang membiru, aku adalah di dalam samudera, aku adalah di dalam geloranya samudera, aku adalah api, aku adalah panasnya api, aku adalah di dalam bulan, aku adalah di dalam sinarnya bulan. Aku adalah di dalam angin yang meniup sepoi-sepoi, aku adalah di dalam awan yang bergerak, bahkan aku adalah di dalam batu yang disembah oleh orang yang masih biadab, aku di dalam perkataan keramat Om – Sembahyangan orang Hindu atau orang Budha dimulai dengan perkataan Om. Om itu kalau Islamnya salam, peace atau vrede. "Aku adalah di dalam perkataan Orn, aku adalah di dalam rasa manusia, aku tidak dilahirkan, aku tidak akan mati, aku adalah awal daripada segala hal, aku adalah akhir daripada segala hal, aku adalah di dalam ganda harumnya bunga-bunga, aku adalah di dalam senyumnya gadis yang cantik, aku adalah tak dapat dikatakan kata". Lantas Arjuna menanya: "Bolehkah aku melihat engkau di dalam sifatmu yang sebenarnya ini?" "Arjuna! Aku akan membuat engkau lebih dahulu kuat melihat aku. Sebab engkau jikalau melihat aku di dalam zatku yang sebenarnya, engkau tidak akan kuat, tidak akan tahan jikalau aku tidak membuat engkau lebih dahulu kuat dan tahan".

Sesudah Arjuna dibuat tahan melihat, Krishna lantas berubah dia punya jirim. "Lihat, ini aku!" Arjuna melihat Krishna. Apa yang dia lihat? Bukan gambar manusia Krishna atau Nayarana. Dia laksana melihat sejuta matahari bersinar, dia melihat sernua setan dan jin berkumpul, dia melihat api menyala-nyala di Utara, di Barat, di Timur, di atas, di bawah. Dia melihat angin taufan meniup bergelora, dia melihat pepohonan mengadakan nyanyian, dia melihat lautan di mana-mana, dia melihat mata seperti mata manusia tetapi di mana-mana kelihatan mata. Lantas sesudah demikian, Krishna berkata: "Nah, demikianlah aku. Oleh karena itu. bertindaklah. Aku meliputi segala hal, berjuanglah. Aku ada di dalam perbuatan, aku bukan saja satu zat, tetapi aku ada juga di dalam rasa, di dalam pikiran, di dalam perbuatan manusia. Maka oleh karena itu sudah, kerjakan, kerjakan apa yang saya perintahkan kepadamu, sebab sebenarnya kerjamu dan perbuatanmu itu adalah perbuatanku". "Kerjakan kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitung akan untung dan rugi dan akan akibat, sebab sebenarnya akulah yang berbuat". "Engkau tidak mau membunuh sang Karna, tidak mau membunuh sang Drona, oleh karena sang Drona adalah guruku, sang Karna adalah Saudaraku, dia keluar dari telinga, aku keluar dari goa garba. Jangan ayal, bunuh engkau punya musuh, sebab pembunuhanmu itu sebetulnya perbuatanku. Sebelum engkau membunuh dia, aku sebenarnya telah membunuh dia, engkau sekadar seperti membunuh dia; pada hakekatnya akulah yang membunuh".

Nah, advaita ini Saudara-saudara, persatuan dan kesatuan daripada segala hal yang kumelip di dunia ini, bahkan sampai masuk dalam persatuan segala hal yang dipikirkan orang, segala hal yang dirasakan orang, segala hal yang diperbuat oleh orang. Ini adalah advaita, ajaran daripada agama Hindu. Orang yang mempraktikkan yoga daripada advaita ini, pada suatu saat mencapai tingkat persatuan dan kesatuan itu. Ambillah misalnya guru daripada Pahlawan Viveca Nanda. Saya selalu mensitir Viveca Nanda. Viveca Nanda itu mempunyai guru namanya Rama Krishna. Bukan Krishna dari Baghawad Gita. Tidak. Gurunya Viveca Nanda, namanya Rama Krishna. Rama Krishna duduk di rumahnya di serambi muka. Sedang hujan, duduk di dalam rumahnya tidak akan kena air hujan. Dia melihat orang berjalan kehujanan. Rama Krishna yang menggigil kedinginan. Orang lain yang kena air hujan. dia yang menggigil kedinginan. Persatuan antara si yang berjalan dan Rama Krishna, advaita. Oleh karena itu advaita berkata, paham kesatuan berkata: "Tat Twam Asi, dia adalah aku, aku adalah dia. Dan Tat Twam Asi ini tidak mengenal manusia dengan manusia saja, anjingpun Tat Twam Asi". Saya ceriterakan satu hadis Nabi Muhammad s.a.w. Pada suatu hari ada seorang wanita melihat seekor anjing melet-melet ia punya lidah karena dahaga. Wanita ini menaruhkan rasa belas kasihan kepada anjing itu sehingga memberikan sebagian daripada ia punya air kepada anjing itu. Air di negeri Arab, Iho Saudarasaudara! Sebagian daripada airnya oleh wanita ini diberikan kepada anjing yang sedang melet-melet dahaga. Nabi berkata: "Masya Allah, saya melihat wanita ini masuk Sorga, oleh karena dia merasakan benar bahwa ada hubungan antara dua makhluk ini"

Dus, Saudara-saudara, baik agama Hindu maupun agama Budha maupun agama Islam berdiri kuat di atas dasar perikemanusiaan. Memberi air kepada anjing adalah juga perikemanusiaan. Jangan kira Perikemanusiaan hanya kepada sesama manusia saja, kepada tiap-tiap makhluk yang hidup kita jalankan kebaikan, itu adalah pula perikemanusiaan. Oleh karena itu pula diwajibkan oleh orang Islam untuk memikirkan nasibnya kawankawan Islam yang lain yang sebagai di dalam Kongres Kebatinan saya katakan: ingat kepada ajaran fardhu kifayah di dalam Islam. Ajaran fardhu kifayah di dalam Islam tak lain tak bukan ialah realisasi daripada dasar peri-kemanusiaan.

Saudara-saudara, dus kita di dalam Pancasila dengan tegas mengadakan sila Perikemanusiaan ini dan bolehlah kita bangga bahwa sila Perikemanusiaan ini tidak kita lupakan. Bahwa kita cantumkan sila Perikemanusiaan ini dengan cara yang indah sekali di dalam Pancasila dan dengan cara yang indah sekali di dalam lambang Negara Bhinneka Tunggal Ika. Nasionalisme yang tidak dihikmati pula oleh Perikemanusiaan mengekses menjadi chauvinisme, mcngekses menjadi rasialisme.

Hitler membuat ia punya nasionalisme, nasionalisme yang tidak berperikemanusiaan. Ia punya nasionalisme adalah nasionalisme chauvinis. Dia berkata hanya manusia-manusia turunan Aria-lah manusia sejati, hanya manusia-manusia yang kulitnya putih, rambutnya merah-kuning jagung, matanya biru, hanya manusia yang tegas daripada turunan ini, turunan Nordisch, dari Utara, hanya manusia-manusia itulah manusia yang sejati. Yang tidak daripada turunan Nordisch ini, yang tidak daripada turunan Aria ini, yang tidak rambutnya jagung, matanya biru, bukan manusia sejati. Bahkan manusia yang demikian itu harus dimusnahkan dari muka bumi. Hitler berdiri di atas dasar rasialisme, het nordisch ras, het Arische ras, itu dikatakan ras yang sejati, yang baik; lain-lain ras adalah ras yang rendah derajatnya. Ia membuat ia punya nasionalisme, nasionalisme yang membenci kepada bangsa lain. Ia membuat ia punya nasionalisme, nasionalisme yang gila. Ia membuat ia punya nasionalisme menjadi nasionalisme yang membunuh bangsa Yahudi.

Semua orang Yahudi di negara Hitler dibinasakan, dimasukkan dalam konsentrasi-kamp, dibunuh dengan drelnya mitraliyur atau dibunuh lebih cepat lagi di dalam kamar gas. Bukan seribu, dua ribu, tiga ribu, bukan sepuluh ribu, bukan seratus ribu, satu setengah juta orang Yahudi dibunuh oleh karena rasa rasialisme ini. Dan Hitler bukan saja benci kepada orang Yahudi yang tidak rambutnya jagung, yang tidak matanya biru, yang tidak daripada asal Nordisch. Hitler j uga benci kepada orang Asia. Baca ia punya kitab Mein Kampf. Apa ia sebutkan Tiongkok? Chinese koeli! Ia berkata apakah kita ini turunan orang Nordisch, turunan orang Aria, sama dengan Chinese vuile koeli? Nah, Saudara-saudara, nasionalisme yang demikian ini adalah nasionalisme yang jahat, dan kita Indonesia tidak mau nasionalisme yang demikian. Meskipun kita berpendirian bahwa kebangsaan adalah satu sila yang essensiil untuk membuat bangsa kita ini kuat dan negara kita ini kuat dan untuk menyelenggarakan masyarakat adil dan makmur nanti, kita tidak menghendaki supaya nasionalisme kita menjadi nasionalisme yang chauvinis, tapi nasionalisme yang hidup di dalam suasana perikemanusiaan, nasionalisme yang mencari usaha agar segala umat manusia ini akhirnya nanti hidup dalam satu keluarga besar yang sama bahagianya.

Sekian, Saudara-saudara, saya kira sudah cukup kursus saya pada malam ini. lnsya'Allah lain kali kursus mengenai sila Kedaulatan Rakyat.