Part 1
__NOTOC__ __NOEDITSECTION__
PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA III Kursus Presiden Soekarno Tentang Pancasila di Istana Negara, Tanggal 5 Juli 1958.
Saudara-saudara sekalian, saya ikut bergembira bahwa Saudara-saudara meski malam ini adalah malam Minggu dan di beberapa tempat di Jakarta hujan, Saudara-saudara toh memerlukan datang dalam kursus ini.
Malam ini hendak saya kupas sila Kebangsaan.
Urut-urutan yang biasa saya pakai untuk menyebut kelima sila daripada Pancasila itu ialah: Ketuhanan Yang Maha Esa; Kebangsaan nomor dua; Perikemanusiaan nomor tiga; Kedaulatan Rakyat nomor empat; Keadilan Sosial nomor lima. Ini sekadar urut-urutan kebiasaan saya.
Ada kawan-kawan yang mengambil urut-urutan lain yaitu meletakkan sila Perikemanusiaan sebagai sila yang kedua dan sila Kebangsaan sebagai sila ketiga. Bagi saya prinsipiil tidak ada keberatan untuk mengambil urutan-urutan itu. Saya sendiri biasa menyebut sila Kebangsaan itu sebagai sila yang kedua dan Perikemanusiaan sebagai sila yang ketiga.
Saudara-saudara, saya ulangi bahwa Pancasila adalah dasar negara. Hal ini saya tandaskan oleh karena kadang-kadang justru mengenai Kebangsaan ada pihak-pihak yang berkata: "Kami tidak memerlukan paham atau pendirian kebangsaan". Misalnya di kalangan kaum internasionalis Marxis, yang menurut anggapan saya; yang kurang mengerti betul tentang Marxixme. Saya ulangi, di kalangan internasionalis Marxis yang menurut anggapan saya kurang mengerti betul akan Marxisme, ada yang berkata: "Kebangsaan atau paham kebangsaan adalah salah, adalah bertentangan dengan internasional-isme, bertentangan dengan idee persaudaraan umat manusia sedunia. Kebangsaan, paham kebangsaan adalah satu paham yang salah, paham yang telah membangunkan pertentangan-pertentangan dalam dunia umat manusia, paham yang kadang-kadang sampai menjadi sebab daripada peperangan-peperangan". Demikianlah maka mereka yang belum dalam di dalam pengertian tentang Marxisme itu ada yang menentang hal kebangsaan itu.
Ada pula golongan-golongan daripada pihak agama, misalnya, kadang-kadang dari pihak agama ada orang-orang berkata: "Agama tidak mau menerima paham kebangsaan. Apalagi agama Islam, tidak mau menerima paham kebangsaan. Agama Islam hanya mengenal umat manusia. Maka karena itu agama Islam menolak paham kebangsaan. Di dalam agama Islam, siapapun, dari bangsa apapaun, asal dia taat taqwa kepada Tuhan, itulah kita punya saudara. Meski kulitnya hitam, meski kulitnya putih, meski kulitnya kuning, meski kulitnya merah-sawo, kami tidak membuat perbedaan antara bangsa dengan bangsa. Kami hanya membuat perbedaan antara taqwa kepada Tuhan atau tidak taqwa kepada Tuhan".
Saudara-saudara, itulah sebabnya maka tadi saya dengan segera menandaskan kepada Saudara-saudara bahwa Pancasila, dus kebangsaan, paham kebangsaan adalah dasar Negara. Dus ada perbedaan yang tegas antara "keperluan Negara sebagai Negara" dan "urusan Agama".
Saya terangkan sebagai berikut: Saudara melihat di dalam jumlah umat manusia di dunia ini yang jumlahnya 2.600 atau 2.700 juta manusia. Saudara melihat 2.600 atau 2.700 juta manusia itu terbagi dalam golongan-golongan, golongan-golongan yang besar yang berwarna-warna kulitnya. Ada golongan besar yang berkulit putih, ada golongan besar yang berkulit hitam, ada golongan besar yang berkulit kuning, ada golongan besar yang berkulit merahsawo dan lain sebagainya. Bahkan ada golongan-golongan yang lebih kecil yang dinama-kan oleh kita suku-suku.
Ini adalah satu fact. satu kenyataan yang tidak bisa dibantah oleh siapapun juga. Di atas dasar fact ini kita tidak boleh tidak harus mengakui adanya bangsa dan kebangsaan. Ditinjau dari sudut apapun. Baik ditinjau dari sudut politik, maupun ditinjau dari sudut agama, fact ialah bahwa umat manusia ini bergolong-golong dalam beberapa macam bangsa, bahkan bergolong-golong dalam beberapa macam suku. Agama boleh, dan factnyapun begitu. Agama bercita-citakan persaudaraan seluruh manusia, bercita-citakan persaudaraan antara si kulit hitam dengan si kulit putih, dengan si kulit kuning, dengan si kulit merah-sawo. Demikian pula persaudaraan antara golongan besar si kulit putih dengan golongan besar si kulit hitam atau golongan besar si kulit kuning dan merah-sawo. Tetapi dalam pada itu agama itu juga mengakui fact bahwa ada orang kulit hitam, bahwa ada orang kulit putih, bahwa ada orang kulit kuning, bahwa ada orang kulit merah-sawo. Demikian pula agama tak dapat memungkiri adanya fact golongan-golongan itu tadi.
Negara, Saudara-saudara, adalah lain urusan. Negara sebagai tempo hari saya terangkan: Negara adalah satu machts-organisatie, satu organisasi kekuasaan; atau sebagai yang saya sebutkan di dalam amanat saya kemarin dulu pada waktu PNI memperingati usia 3 1 tahunnya: Negara adalah satu alat, alat perjuangan. Alat atau alat perjuangan organisasi. Machts-organisatie yang diorganisirkan di atas satu wilayah, yang di atas wilayah itu ada manusiamanusianya.
Negara tidak bisa diorganisirkan di langit. Negara tidak bisa diorganisirkan tidak di atas satu wilayah, tidak dengan manusiamanusia yang berdiam di atasnya. Karena itu bagi tiap-tiap student, mahasiswa-mahasiswa dalam Ilmu Negara sudah bukan satu teka-teki lagi, bahwa syarat mutlak daripada negara antara lain ialah wilayah, territoor yang tegas nyata batas-batasnya. Demikian pula syarat mutlak daripada negara antara lain adalah rakyat yang berdiam di atas wilayah itu. Negara yang tidak mempunyai wilayah yang tegas batas-batasnya, pada hakekatnya bukan ncgara, meskipun di atas wilayahnya itu ada rakyat. Misalnya di padang pasir, Saudara-saudara menemukan juga manusiamanusia, tetapi manusia-manusia itu hidupnya nomadis, tidak tentu tempatnya. Daripada nomaden-nomaden yang hidupnya tidak tentu tempatnya itu tak mungkin disusun satu Negara.
Karena itu ilmu kenegaraan, saya ulangi lagi: syarat mutlak pertama ialah territoor yang dapat tegas digambarkan di atas peta. Nomor dua rakyat; bahkan jikalau hendak sempurna rakyatnya itu harus satu bangsa, satu volk-nation. Ini dua syarat.
Syarat yang ketiga mutlak pula untuk bernama negara ialah pemerintah. Pemerintahan pusat, satu pemerintahan yang ditaati oleh seluruh rakyat yang berdiam di atas territoor yang jelas terbatas itu. Ini adalah tiga syarat mutlak daripada negara. Ditambah dalam ilmu negara modern sebagai tempo hari pun diterangkan oleh Saudara Prof. Muhammad Yamin: negara modern harus mempunyai syarat yang keempat pula, yaitu tujuan. Kita mempunyai Negara memenuhi akan yang keempat ini, yaitu yang kita namakan Pancasila.
Tujuan kita ialah realisasi daripada Pancasila. Karena itu saya ulangi lagi berkata: Pancasila adalah dasar Negara.
Agama boleh berkata tidak mengenal Kebangsaan. Tetapi negara, jikalau ia hendak sempurna harus berdasarkan atas volknation sebagai tadi saya katakan. Demikian pula di dalam pengertian Marxisme. Memang tujuan daripada perjuangan sosialisme ialah kesejahteraan semua manusia, persaudaraan sernua manusia atau dengan istilah tertentu dinamakan internasionalisme. Tetapi justri Marxisme yang sejati, artinya Marxisme yang sebenarbenarnya, berdiri di atas analisa-analisa yang obyektif dan dalam analisa yang obyektif ini Marxisme mengakui adanya bangsabangsa. Maka oleh karena itu di dalam realisasi daripada masyarakat sosialis. sebagai yang di dalam zaman sekarang dijalankan oleh beberapa negara, fakta adanya bangsa-bangsa initidak pernah dipungkiri bahkan diterima sebagai satu realiteit objectief.
Saudara-saudara, saya ulangi, apalagi kita, yang kita ini mendirikan satu negara yang modern, satu negara yang sempurna – hendaknya sempurna -, bagi kita yang bercita-citakan negara yang sempurna itu tidak boleh tidak kita harus mempergunakan sebagai dasar salah satu daripada lima ini, yaitu Kebangsaan.
Terutama sekali bagi satu golongan manusia yang berabadabad mengalami persamaan penderitaan dan pengalaman, bagi golongan manusia yang demikian itu, in casu yaitu rakyat kita, rasa kebangsaan bukan lagi satu cita-cita, tetapi satu fakta obyektif.
Segerombolan manusia yang, bagi kita, jumlahnya 82 juta – 85 juta, yang mengalami penderitaan-penderitaan bersama, pengalaman-pengalaman bersama, gerombolan manusia yang banyak ini laksana mempunyai jiwa yang sama. Jiwa yang sama itu antara lain berupa rasa kebangsaan.
Saya sudah beberapa kali di dalam kuliah-kuliah atau ceramah-ceramah mensitir ucapan Ernest Renan, mahaguru dari Universitas Sorbonne di Paris yang berkata, bahwa bangsa adalah satu jiwa une nation est un ame. Artinya: bangsa adalah jiwa. Di lain tempat Renan berkata: une nation est un grand solidarite, satu bangsa adatlah satu solidariteit yang besar. Menurut teori Renan, bangsa atau kebangsaan tidak bergantung daripada persamaan bahasa. Tidak usah sesuatu bangsa itu bahasanya satu.
Kalau bahasanya satu, lebih kuat rasa kebangsaannya. Tetapi bahasa satu itu bukan mutlak bagi bangsa. Saya ulangi: kalau bahasanya satu lebih hebat rasa kebangsaannya, seperti kita ini. Kita ini amat berbahagia bahwa kita itu mempunyai bahasa satu.
Di India sulit sekali hal bahasa ini. Sampai sekarang ada pertikaian hebat di kalangan pemimpin-pemimpin India, apa yang harus dijadikan bahasa satu ini di India.
Shri Jawaharlal Nehru berkata: "Marilah kita angkat bahasa Hindustani menjadi bahasa yang satu ini". Tetapi banyak sekali daerah-daerah yang rakyatnya tidak paham bahasa Hindustani. Ada lagi lain golongan yang berkata: "Marilah kita angkat bahasa Urdu sebagai bahasa satu daripada Negara India". Tetapi ditentang oleh banyak daerah-daerah yang tidak mengerti bahasa Urdu, melainkan berbahasa Hindu. Urdu itu adalah satu modifikasi daripada bahasa Arab. Soal bahasa satu ini demikian sulitnya di India. Saudara-saudara, sampai salah seorang pemimpin besar India yaitu Raja Gopalachari, yang dahulu tatkala India menjadi dominion, tahun 1947, India, Benua India pecah menjadi dua: India dan Pakistan.
Dua-duanya dominion status, dua-duanya dikepalai oleh Gubernur Jenderal. Gubernur Jenderal yang pertama daripada India ialah Shri Raja Gopalachari. Dan dia memang seorang pemimpin yang sudah tua, lama di dalam pergerakan kebangsaan, pengikut mati-matian dari Mahatma Gandhi – Raja Gopalachari sekarang ini sedang di dalam perjuangan hebat berhadap-hadapan dengan Shri Jawaharlal Nehru tentang bahasa. Nehru menghendaki bahasa Hindustani sebagai bahasa yang satu.
Raja Gopalachari berkata: "Tidak mungkin, tidak mungkin Hindustani dijadikan bahasa satu, tidak mungkin Urdu dijadikan bahasa yang satu bagi bangsa India". Raja Gopalachari berkata: "Satu-satunya bahasa yang bisa dipakai sebagai bahasa yang satu itu ialah bahasa Inggris. Perjuangan ini adalah perjuangan hebat yang mulai pecah sejak tahun 1956 – 1957, sekarang ini sedang berkobar dengan hebatnya. En toh, meskipun soal bahasa belum terpecahkan, artinya orang India ada yang bicara Urdu, ada yang bicara Hindustani, ada yang bicara Tamil, ada kaum intelligensia yang hanya memakai bahasa Inggris, en toh kebangsaan India ada, ialah oleh karena itu tadi, une nation est un ame, bangsa adalah jiwa.
Atau ambil Swis. Swis adalah satu bangsa. bahasanya tiga kalau tidak empat. Ada satu golongan Swis bicara Perancis, satu golongan lagi bicara Jcrman, satu golongan lagi bicara Italia. Amerika yang terdiri daripada imigran-imigran tadinya, imigranimigran ada yang berasal dari daerah Jerman, ada yang berasal dari daerah Inggris. ada yang berasal dari daerah Italia, ada yang berasal dari daerah Perancis, ada yang berasal dari daerah Skandinavia. Bahasa yang dipakai di Amerika, ya sebagian besar sudah lnggris, tetapi saya sendiri sering berjumpa dengan orang Arnerika, waktu saya di Amerika, tidak bisa bicara Inggris. Masih memakai bahasa asalnya dari Eropa. Jadi sudah nyata, bahwa natie, bangsa tidak tergantung daripada persatuan bahasa. Demikian pula tidak tergantung daripada persatuan agama. Lihat saja kita. Kita ada yang beragama Islam, ada yang beragama Kristen. Lihat di Mesir. Di Mesir ada yang beragama Islam, ada yang beragama Kristen. Lihat di RRT, ada yang beragama Islam, ada yang beragama Budha. Lihat di negeri lain-lain. Jadi menurut Ernest Renan, mutlak bangsa tidak memerlukan persatuan bahasa, tidak memerlukan persatuan agama, bahkan tidak memerlukan persatuan turunan. Contoh baik Amerika, kataku Amerika itu terjadi daripada macam-macam imigran-imigran. Turunan daripada beberapa bangsa pergi ke situ, tetapi menjadi satu bangsa. Dus bangsa adalah satu jiwa.
Apakah yang mengikat manusia itu menjadi satu jiwa? Kalau rnenurut Ernest Renan, yang menjadi pengikat itu ialah kehendak untuk hidup bersama. Dalam bahasa Perancisnya: Le desir d' etre ensemble. Le desir yaitu kehendak, d' etre ensemble, berkumpul. Le desir d' etre ensemble, artinya kehendak supaya berkumpul bersama, kehendak untuk hidup bersama. Jadi gerombolan manusia meskipun agamanya berwarna macam-macam, meskipun bahasanya bermacam-macam, meskipun asal turunannya bermacam-macam, asal gerombolan manusia itu mempunyai kehendak untuk hidup bersama. itu adalah bangsa. Itu kata Ernest Renan.
Di dalam pidato-pidato, kuliah-kuliah saya mengenai hal natic, saya scring juga mensitir seorang ahli ilmu lain, yaitu teoritikus marxis. Di dalam ilmunya, ia marxis, tetapi di dalam sepak terjangnya ia adalah haluan kanan. Yaitu marxis dari Austria. Saya ceriterakan menyimpang sedikit. Marxis Austria itu di dalarn istilah gerakan buruh di Eropa dikatakan: "kaum internasional dua setengah". Dahulu kaum buruh Eropa Barat tergabung di dalam Internasionale 11. Mula-mula Internasionale I, yang dibangunkan oleh Marx, Engels dan pemimpin-pemimpin tua. Internasionale I pada suatu ketika surut, bubar. Dibangunkan lagi Internasionale baru, yaitu ikatan-ikatan daripada gerakangerakan kaum buruh daripada beberapa negara. Ini dinamakan Internasionale 11. Kemudian sesudah di Sovyet Unie berdiri Sovyet Unie, didirikanlah Internasionale III yang haluannya terkenal sebagai haluan bolsjewik atau komunis. Kaum marxis Austria berdiri di tengah-tengah antara kaum sosialis internasionale 11 dan kaum internasionale 111. Maka oleh karena itu dicemooh oleh kedua pihak dan dikatakan: "Kamu adalah kaum Internasionale dua setengah".
Pemimpin-pemimpin daripada kaum "Internasionale dua setengah" ini banyak yang teoritis. Kupasan-kupasannya secara akademis mendalam, tetapi di dalam tindakan-tindakannya sering sekarang di sini, sekarang di situ. Oleh karena itulah dia berdiri di tengah-tengah Internasionale II dan Internasionale III. Pemimpinpemimpin mereka, theoretisi daripada "Internasionale dua setengah" ini antara lain ialah Fritz Adler, antara lain pula Otto Bauer. Adler terkenal dengan kupasannya tentang demokrasi, yang malahan sering saya tirukan ucapan Adler ini: "Demokrasi yang kita kejar janganlah hanya demokrasi politik saja, tetapi kita harus mengejar pula demokrasi ekonomi". Dan Adler lah yang memberi istilah kepada demokrasi politik ekonomi ini, yang saya pakai di dalarn kuliah saya di Yogyakarta di hadapan para mahasiswa. yaitu sociale democratie. Dus Adler berkata sociale democratie adalah politiek economische democratie, sama rata sama rasa di dalam lapangan politik dan dalam lapangan ekonomi. Ucapan Adler yang sering saya sitir ialah bahwa demokrasi politik saja tidaklah cukup. "Men kan de honger van een bedelaar niet stillen door henl een grondwet in de hand te stoppen". Orang tidak bisa menghilangkan rasa laparnya seorang pengemis dengan hanya memberikan padanya Undang-Undang Dasar. Undang-Undang Dasar itu adalah politieke democratie. Menurut UUD engkau sama dengan engkau. Menurut UUD engkau sama-sama mempunyai hak memilih. Menurut UUD engkau sama-sama mempunyai hak dipilih. Menurut UUD engkau boleh sama-sama mengeluarkan engkau punya pikiran. Menurut UUD engkau boleh menjadi menteri, engkau boleh menjadi hakim, engkau boleh menjadi apapun. Sama rata sama rasa menurut UUD.
Ini adalah demokrasi politik. Dalam kenyataannya, ondanks Undang-Undang Dasar ini, si kaya tetap mengeksploitir si miskin. Dalam kenyataannya tidak ada demokrasi ekonomi, tidak ada sama rasa sama rata di lapangan ekonomi. Karena itu Adler berkata: "Men kan de honger van een bedelaar niet stillen door hem een grondwet in de hand te stoppen". Orang tidak bisa menghilangkan laparnya seorang pengemis dengan memberi Undang-Undang Dasar di dalam tangannya. Maka ia berkata: harus ada demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Dan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi ini dicakup di dalam satu perkataan "sociale democratie". Perbedaan dengan arti "sosial demokrasi" yang tempo hari di dalam kuliah di Yogyakarta saya terangkan, sosial demokrasi adalah satu aliran dalam sosialisme. Sosialisme itu bermacam-macam corak: ada relegieus sosialisme, kataku, ada utopistis sosialisme, ada bolsjewisme atau komunisme, ada sosial demokrasi.
Di kuliah saya di Yogyakarta sudah saya tegaskan. sosial demokrasi bcrpendapat bisa menggugurkan kapitalisme dengan "uithollingstactiek". Pihak kiri berkata: "neen, kapitalisme tidak bisa gugur dengan uithollingstactiek, tetapi harus digugurkan pada suatu ketika dengan aksi, directe actie, greep naar de macht dari pada kaum buruh".
Ini menyimpang sebentar menceritakan hal Adler. Adler itu dalam teorinya baik, tetapi di dalam aksinya selalu satu kali di sana, lain kali di situ, satu kali di sini lain kali di situ.
Lain teoretikus ialah Otto Bauer. Otto Bauer di dalam kupasannya terutama sekali mengenai persoalan bangsa. Adler mengenai persoalan demokrasi. Otto Bauer, persoalan bangsa ia kupas di dalam kitabnya yang termasyhur: Die Nationalitaten Frage und die sociale Demokratie. Ia kupas apa yang dinamakan bangsa sebagaimana juga Ernest Renan mengupas apa yang dinamakan bangsa itu. Bauer berkata, – saya sitir dulu ucapannya: "Eine Nation ist eine aus schicksal Gemeinshaft erwachsene charakter Gemeinschaft". Bahasa Belandanya dulu: wat is een natie? Een natie is een karakter-gemeenschap dat geboren is uit een natie? Een natie is een karakter-gemeenschap dat geboren is uit een gemeenschap van lotgevallen. Natie adalah satu karaktergemeenschap dat goberon is uit een gemeenschap van lotgevallen. Eine aus Schicsal Gemeinschaft erwachsene charakter Gemeinschaft. Bahasa Indonesianya: "Bangsa adalah satu persamaan, satu persatuan karakter, watak, yang persatuan karakter atau watak ini tumbuh, lahir, terjadi karena persatuan pengalaman". Een karakter-gemeenschap sama karakternya, dat goberon is uit een gemeenschap van lotgevallen. Karakter-gemeenschap geboren daripada Schicksal-Gemeinschaft, – Schicksal itu artinya lotgeval, nasib, pengalaman. Satu persatuan, persamaan watak atau karakter yang timbul, tumbuh, terjadi daripada persatuan pengalaman, persatuan nasib. Ini definisi daripada Otto Bauer. Dus sesuai dengan Ernest Renan. la membantah mutlak perlunya persatuan bahasa, membantah mutlak perlunya persatuan agama, membantah mutlak perlunya pcrsatuan warna kulit, membantah mutlak perlunya persatuan keturunan. Tidak, meskipun agamanya berlain-lainan, meskipun warna kulitnya berlain-lainan, meskipun bahasanya berlain-lainan asal ia tadinya, yaitu gerombolan manusia itu, mengalami bertahun-tahun, berpuluh-puluh, beratusratus tahun rnungkin mengalami nasib yang sama, maka karena rnengalami nasib yang sama itu akan tumbuh persatuan watak dan persatuan watak inilah yang menentukan sifat bangsa.
Memang sebagai yang saya sering sudah di dalam pidato-pidato saya katakan, bangsa itu adalah satu individualiteit. Sebagaimana individu mempunyai karakter sendiri-sendiri. Bung Akhmadi mempunyai karakter sendiri, Overste Pamu mempunyai karakter sendiri, Pak Ahem Erningpradja mem-punyai karakter sendiri, Saudara Widarbo mempunyai karakter sendiri, Rochmuljati mempunyai karakter sendiri, Saudara Gontha mempunyai karakter sendiri, tiap-tiap manusia mem-punyai watak sendiri-sendiri. Demikian pula bangsa mem-punyai watak sendirisendiri.
Tempo hari sudah saya katakan hal itu di dalam kursus saya, – kalau tidak salah – bangsa Italia, karakternya artistik, corak jiwanya itu artistik. Bangsa India, karakternya, wataknya, corak jiwanya religieus. Ini bangsa Italia dan India. Bangsa Inggris karakternya haus kepada kekuasaan. Ya, power, power, bahkan ia mempunyai ik-heid selalu di atas. Orang Inggris tidak mau menulis I (ik) dengan, leter i (kecil), tapi leter I (besar). Bangsa Perancis tenlpo hari saya katakan karakternya suka pada pakaian ginding. Sampai kepada salam dan lain-lain – di sini, entah rapat apa tempo hari itu – saya katakan kalau orang Inggris berkata, bertanya: "Hoe are you?" Bagaimanakah engkau? Individualiteitmu? Orang Belanda berkata: "Hoe vaart u?" Oleh karena karakternva suka belajar. Orang Perancis berkata. dalam bahasa Pcrancis: "Comment vous portcz vous?" Bagaimana pakaian Tuan? Orang Tionghoa yang selalu menderita bahaya kelaparan, – zaman dulu selalu lapar saja, – bertanya selalu: "Ni hau?" Itu engkau bagaimana, selamatkah apa tidak engkau itu? Bangsa Indonesia yang selalu hidup tidak ada komunikasi: "Apa kabar bung?" Tanya kabar!
Dus, saya ulangi lagi, bangsa adalah satu individualiteit. Mempunyai watak sendiri, mempunyai karakter sendiri. Dan ini yang ditekankan oleh Otto Bauer. Charakter Gemeinschaft, persarnaan watak itu yang menetapkan, menentukan corak bangsa. Itu yang menentukan bangsa atau bukan bangsa.
Saya pernah memikirkan hal ini. Ya, sebagai salah satu usaha penggalian, penggalian mutiara daripada bangsa Indonesia. Bukankah saya selalu berkata: Pancasila itu bukan bikinan saya. Saya gali sudah bertahun-tahun, bahkan mulai tahun 1925, 1926 saya menggalinya. Saya pikirkan, ini teori Renan, teori Otto Bauer, itu betul apa tidak. Dan saya sampai kepada konklusi kurang lengkap! Renan berkata segerombolan manusia yang mempunyai keinginan bersatu, hidup bersama itu bangsa. Tidak kena! Tidak lengkap. Bawa misalnya ke Indonesia. Di Indonesia banyak itu gerombolan manusia, yang bukan main ia punya rasa ingin bersatu, ingin bersama, tetapi bukan itu bangsa. Ambillah misalnya Saudara-saudara, dari Minangkabau. Suku Minangkabau itu bukan main rasa bersatunya. Le desir d'etre ensemble yang dimaksudkan oleh Ernest Renan keinginan, kehendak untuk bersatu bersama, sangat kuat di alam Minangkabau. Tetapi rakyat Minangkabau bukan satu bangsa. Ambil lain daerah. Misalnya daerah Solo sama Yogya. Itu masing-masing mempunyai rasa sendirisendiri. Tetapi saya tidak mau menerima rakyat Solo itu bangsa, rakyat Yogya itu bangsa. Ambil Bugis, rakyat Bugis itupun keras ia punya le desir d'etre ensemble. Atau Minahasa, keras ia punya le desir d'etre ensemble. Kawamia dengan kawanua. wah. kuat itu! Tetapi sayapun tidak mau menerima bahwa rakyat Minahasa itu satu bangsa.
Demikian pula kalau saya rnembawa Otto Bauer yang berkata persatuan, persamaan watak yang dilahirkan karena persamaan nasib. Persamaan watak. Ya Minangkabau wataknya sama, bukan bangsa. Sunda keras persatuan wataknya, tetapi bukan bangsa. Bugis keras ia punya persatuan watak, bukan bangsa. Alam kawanua-kawanua keras ia punya persatuan watak, bukan bangsa. Apa, menurut pendapatan saya, yang dinamakan bangsa itu? Saya lantas menjawab: baik saya menerima, Renan saya menerima, Otto Bauer saya terima. Tetapi saya tambah dengan satu syarat! "Bangsa adalah segerombolan manusia yang – kalau mengambil Renan – keras ia punya le desir d'etre ensemble, – kalau mengambil Otto Bauer – keras ia punya charakter Gemeinschaft, tetapi yang berdiam di atas satu wilayah geopolitik yang nyata satu persatuan. Apa wilayah geopolitik yang nyata satu persatuan, satu kesatuan, itu apa?
Nah, saudara-saudara, geo dari perkataan geografi, peta, gambarnya. Geopolitik ialah hubungan antara letaknya tanah dan air, petanya itu, dengan rasa-rasa dan kehidupan politik.