McGuffey's Eclectic Spelling Book
Chapter 2
Leitstar daripada negara harus bisa realiseren tiga syarat ini. Dus, dasar negara pertama harus bisa menjadi meja statis yang mempersatukan segenap elemen bangsa Indonesia dan dasar negara itu harus bisa merealisir tiga syarat yang saya sebutkan itu agar supaya rakyat dengan alat yang dinamakan negara dapat benar-benar mencapai apa yang dileitstarkan itu. Maka berhubung dengan itu, elemen-elemen daripada dasar ini harus elemen yang tidak asing bagi bangsa Indonesia sendiri. Kalau kita mengambil elemen yang asing, tidak bisa elemen itu menjadi dasar statis. Demikian pula tidak bisa menjadi dasar Leitstar dinamis.
Bangsa atau rakyat adalah satu jiwa. Jangan kira seperti kursi-kursi yang dijajarkan. Bangsa atau rakyat mempunyai jiwa sendiri. Ernest Renan berkata: une nation est une ame, een natie is een ziel. Bangsa itu satu jiwa. Jangan kira bangsa itu adalah jumlah daripada manusia itu dengan manusia itu, seperti kursi-kursi dijajar. Bcnar bangsa itu terdiri dari manusia-manusia yang berjiwa, malahan apalagi bangsa-bangsa itu terdiri dari manusia-manusia yang berjiwa, tetapi kecuali daripada itu, bangsa itu mempunyai jiwa sendiri pula. Ada misalnya kitab Gustave Le Bon yang mengatakan, bahwa bangsa itu mempunyai jiwa sendiri yang tidak het algemeen totaal daripada si Polan, si Polan dan seterusnya. Mempunyai jiwa sendiri. Satu bangsa adalah satu jiwa.
Nah, oleh karena bangsa atau rakyat adalah satu jiwa, maka kita pada waktu kita memikirkan dasar statis atau dasar dinamis bagi bangsa tidak boleh mencari hal-hal di luar jiwa rakyat itu sendiri. Kalau kita mencari hal-hal di luar jiwa rakyat itu sendiri, kandas. Ya bisa menghikmati satu dua, seratus dua ratus orang, tetapi tidak bisa menghikmati sebagai jiwa tersendiri. Kita harus tinggal di dalam lingkungan dan lingkaran jiwa kita sendiri. Itulah kepribadian. Tiap-tiap bangsa mempunyai kepribadian sendiri, sebagai bangsa. Tidak bisa opleggen dari luar. Itu harus latent telah hidup di dalam jiwa rakyat itu sendiri. Susah mencarinya, mana ini elemen-elemen yang harus nanti total menjadi dasar statis dan total menjadi Leitstar dinamis. Dicari-cari, berkristalisir di dalam lima hal ini: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial. Dari zaman dahulu sampai zaman sekarang, ini yang nyata selalu menjadi isi daripada jiwa bangsa Indonesia. Satu waktu ini lebih timbul, lain waktu itu yang lebih kuat, tetapi selalu schakering itu lima ini.
Ada orang berkata: pada waktu Bung Karno mempropagir-kan Pancasila, pada waktu ia menggali, ia menggalinya kurang dalam. Terang-terangan yang berkata demikian dari pihak Islam. Dan saya tegaskan, saya ini orang Islam, tetapi saya menolak perkataan bahwa pada waktu saya menggali di dalam jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia kurang dalam menggalinya. Sebab dari pihak Islam dikatakan, jikalau Bung Karno menggali dalam sekali, ia akan mendapat dari galiannya itu Islam. Kenapa kok Pancasila? Kalau ia menggali dalam sekali, ia akan mendapat hasil dari penggaliannya itu, Islam. Saya ulangi, saya adalah orang yang cinta kepada agama Islam. Saya beragama Islam. Saya tidak berkata saya ini orang Islam yang sempurna. Tidak. Tetapi saya Islam. Dan saya menolak tuduhan bahwa saya menggali ini kurang dalam. Sebaliknya saya berkata: penggalian saya itu sampai zaman sebelum ada agama Islam. Saya gali sampai zaman Hindu dan pra-Hindu. Masyarakat Indonesia ini boleh saya gambarkan dengan saf-safan. Saf ini di atas saf itu, di atas saf itu saf lagi. Saya melihat macam-macam saf. Saf pra-Hindu, yang pada waktu itu kita telah bangsa yang berkultur dan bercita-cita. Berkultur sudah, beragama sudah, hanya agamanya lain dengan agama sekarang, bercita-cita sudah. Jangan kira bahwa kita pada zaman pra-Hindu adalah bangsa yang biadab. Baca kitab misalnya dari Professor Dr. Brandes. Di dalam tulisan itu ia buktikan bahwa Indonesia sebelum kedatangan orang Hindu di sini sudah mahir di dalam sepuluh hal. Apa misalnya? Tanam padi secara sawah sekarang ini, jangan kira itu pembawaan orang Hindu. Tidak. Pra-Hindu. Tatkala Eropa masih hutan belukar, belum ada Germanentum, di sini sudah ada cocok tanam secara sawah. Ini dibuktikan oleh professor Dr. Brandes. Alfabet ha-na-ca-ra-ka-da-ta-sa-wa-la, jangan kira itu pembawaan orang Hindu. Wayang kulit dibuktikan oleh Professor Brandes bukan pembawaan orang Hindu. Orang Hindu memperkaya wayang kulit, membawa tambahan lakone Lakon terutama sekali Mahabarata dan Ramayana. Tetapi dulu kita sudah punya wayang kulit, tetapi belum dengan Mahabarata dan Ramayananya. Sebagian daripada restan wayang kulit kita dari zaman pra-Hindu, yaitu Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Dawala, Cepot dan lain-lain itu. Itu pra-Hindu. Kita dulu mempunyai wayang kulit yang menceriterakan kepahlawanankepahlawanan kita, sejarah para leluhur. Kemudian datang orang Hindu membawa lakon Mahabarata dan Ramayana. Karena kita ini satu bangsa yang bisa menerima segala hal yang baik, lakonlakon itu kita masukkan di dalam wayang sebagai perkayaan daripada wayang kulit kita.
Jadi saya menggali itu dalam sekali, sampai ke saf pra-Hindu.
Datang saf zaman Hindu, yang di dalam bidang politik berupa negara Taruma, negara Kalingga, negara Mataram kesatu, negaranya Sanjaya, negara Empu Sendok, negara Kutei, berupa Sriwijaya dan lain sebagainya. Datang saf lagi, saf zaman kita mengenal agama Islam, yang di dalam bidang politik berupa negara Demak Bintaro, negara Pajang, negara Mataram kedua, dan seterusnya. Datang saf lagi, saf yang kita kontak dengan Eropa, yaitu saf imperialisme, yang di dalam bidang politiknya zaman hancur-leburnya negara kita, hancur-leburnya perekonomian kita, bahkan kita menjadi rakyat yang verpauveriseerd. Jadi empat saf, saf pra-Hindu, saf Hindu, saf Islam, saf imperialis. Saya lantas gogo (gogo itu seperti orang mencari ikan, di lubang kepiting) sedalam-dalamnya sampai menembus zaman imperialis, menembus zaman Islam, menembus zaman Hindu, masuk ke dalam zaman pra-Hindu.
Jadi saya menolak perkataan bahwa kurang dalam penggalian saya. Dalam pada saya menggali-gali, menyelami saf-saf ini, saban-saban saya bertemu dengan: kali ini, ini yang menonjol, lain kali itu yang lebih menonjol. Lima hal inilah: Ketuhanan, Kebangsaan, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan sosial. Saya lantas berkata: kalau ini saya pakai sebagai dasar statis dan Leitstar dinamis, Insya Allah, seluruh rakyat Indonesia bisa menerima, dan di atas dasar meja statis dan Leitstar dinamis itu rakyat Indonesia seluruhnya bisa bersatu padu. Ambil misalnya hal sila yang pertama, Ketuhanan. Salah satu karaktertrek bangsa kita, corak, jiwa kita baik di zaman saf keempat, maupun saf ketiga, saf kedua, saf kesatu, bahwa bangsa Indonesia selalu hidup di dalam alam pemujaan daripada sesuatu hal yang kepada hal itu ia menaruhkan segenap harapannya, kepercayaannya. Bangsa Indonesia pada umumnya, saya ulang-ulangi pada umumnya, sebab sila-sila ini adalah grootste gemene deler dan kleinste gemene veelvoud. Jadi jangan kira tiap-tiap manusia Indonesia itu merasa ber-Ketuhanan, bahwa tiap-tiap orang Indonesia berkobar-kobar rasa kebangsaannya, bahwa tiap-tiap orang Indonesia menyala-nyala kalbunya dengan rasa kemanusiaan, tiap orang Indonesia berkedaulatan rakyat, berkeadilan soaial. Tidak! Tetapi sebagai keseluruhan, grootste gemene deler, kleinste gemene veelvoud, saya menemukan lima corak ini. Ambillah kleinste gemene veelvoud, grootste gemene deler itulah. Het kan niet anders daripada itu, kalau kita secara sosiologis sekarang ini meningkat ke taraf masyarakat Indonesia di dalam pertumbuhan.
Saya dengan tegas mengatakan, ini kupasan sosiaologis yang akan saya berikan. Nanti saya akan tambahkan bukan hal-hal yang sosiologis, tetapi kenyataan. Sosiologisnya bagaimana? Het kan niet anders, tidak bisa lain. Daripada bangsa Indonesia ini hidup di dalam alam Ketuhanan. Di sana ada tempat permohonannnya, tempat kepercayaan.
Mari lebih dahulu saya kupas secara sosiologis pertumbuhan masyarakat manusia dari zaman dulu sampai zaman sekarang. Manusia zaman dulu tidak sama dengan manusia zaman sekarang. Sekarang ada lampu listrik, ada sarung batik, ada kursi, ada selop, ada kacamata, ada kapal udara. Dulu tidak. Dulu manusia hidup di hutan-hutan, di gua-gua. Saya namakan itu fase pertama dari kehidupan manusia di dunia ini. Fase daripada kehidupan manusia sebagai manusia. Sebab, dan ini tidak saya bicarakan lebih lanjut, apakah manusia itu berada di dunia itu sudah menjadi manusia, apakah manusia itu hasil daripada evolusi. Saya cuma menceriterakan saja bahwa ada satu cabang ilmu pengetahuan bahwa manusia itu adalah hasil daripada evolusi. Bahwa tidak manusia itu begitu dilahirkan sudah satu manusia bernama Adam dan satu manusia bernama Eva, kemudian dari dua ini tumbuh manusiamanusia lain, tetapi manusia itu adalah hasil daripada pertumbuhan. Mungkin juga dulu berupa een cellige wezens, sel yang satu. Kemudian evolusi, menjadi ongewervelde dieren. Evolusi, menjadi semacam ikan-ikan. Evolusi lagi, binatang yang merayap tetapi mempunyai kaki. Evolusi lagi, menjadi binatang yang memanjat di atas pohon. Lama-lama timbul yang dinamakan sayap. Lama-lama menjadi binatang yang bisa lari yang meloncat seperti kera. Kera yang merangkak dengan empat kaki menjadi berdiri di atas dua kaki. Evolusi lagi, menjadi manusia yang seperti kita kenal sekarang ini. Mula-muia hidup di dalam hutan dan gua. Evolusi-evolusi, menjadi manusia sekarang. Proses ini makan waktu beratus-ratus ribu tahun. Di tanah air kita sendiri pada satu ketika terdapat salah satu bukti daripada teori ini. Yaitu di dekat kota Ngawi di desa Trinil terdapat tulang-tulang daripada makhluk yang demikian ini. Nyata makhluk manusia, tetapi bentuk masih setengah gorila, tetapi ia sudah berjalan dengan dua kaki. Setengah monyet tetapi sudah berrjalan dengan dua kaki. Maka karena itu dinamakan pithecanthropus erectus. Pithecus itu artinya monyet, anthropus artinya manusia. Tetapi ia berjalan dengan dua kaki, erectus. Pithecanthropus erectus yang ditaksir menurut ilmu biologi, batu yang membungkus tulang-tulang itu, – sebab tulang itu pada suatu hari mungkin terbenam, entah kena lahar, entah kena banjir, entah kena apa -, katakanlah dalam lumpur. Lumpur ini makin lama makin keras, makin membatu, sehingga akhirnya tulang ini terbungkus di dalam batu. Nah, ilmu biologi, ilmu batu, menentukan umur batu ini 550 ribu tahun. Jadi lebih daripada setengah j uta tahun. Dus tulang yang di dalam batu ini asal dari zaman paling sedikit setengah juta tahun yang lalu.
Saya tinggalkan pertikaian dalam hal ini, dan saya mulai dengan cerita bahwa pada satu zaman manusia itu sudah sampai kepada tingkat berupa manusia. Bukan lagi pithecanthropus, tetapi sudah anthropus yang penuh. Cuma hidupnya dalam gua. Itu fase pertama hidup dalam gua, mencari penghidupan dengan memburu dan mencari ikan. Memburunya bukan dengan senj ata Mauser atau Lee & Field. Tidak! Tetapi zaman dahulu dengan batu dan sepotong kayu. Cara hidupnya ini adalah penting sekali. Alam pikiran manusia di segala zaman itu dipengaruhi oleh cara hidupnya, oleh cara ia mencari makan dan minum. Pegang ini, dan jangan lupa akan stelling ini: cara manusia mencari makan dan minum, mencari hidup, mem-pertahankan hidup, memelihara hidupnya, ini adalah penting sekali. Ia mem-pengaruhi alam pikirannya. Tingkat yang pertama ini adalah tingkat demikian. Hidup dalam gua-gua, di bawah pohon-pohon, mencari makan dengan memburu dan mencari ikan.
Evolusi, pertumbuhan. Datanglah lambat laun tingkat yang kedua. Jangan kira, tingkat yang kedua ini datangnya sekonyongkonyong. Tidak. Ini adalah satu pertumbuhan yang evolusioner. Tingkat yang kedua ialah bahwa si manusia yang tadinya hidup dari pemburuan dan mencari ikan, mulai mengerti bahwa ternak bisa dipelihara. Tadinya ia memburu, memburu kijang, sapi hutan, kambing hutan dan lain sebagainya. Lambat laun timbul pengetahuan bahwa binatang-binatang itu bisa ditangkap, diikat, dikurung, anaknya dipelihara, bisa ber-kembang biak. Tingkat yang kedua ialah tingkat cara hidup manusia dengan terutama sekali, – garis besarnya saja: grootste gemene deler dan kleinste gemene veelvoud -, hidup dari peternakan, memelihara binatang.
Lambat laun, dengan pemeliharaan binatang ini, setelah ia meninggalkan adat kebiasaannya memburu dan kemudian menjadi peternak, ia agak lebih terikat kepada tempat, kepada ternaknya. Ia harus memberi makan kepada ternak itu. Bukan saja memberi makan kepada diri sendiri yang berupa daging, tapi ia juga harus memberi makan kepada ternaknya. Lama-lama ia tahu bahwa makanan vang ia perlukan sendiri dan yang ia berikan kepada binatang itu, bisa pula dicocoktanamkan, bisa ditanam. Dulu, kalau ia perlu buah-buahan, ia pergi ambil di hutan. Ketemu jagung di hutan, ambil jagung. Baginya biasa, tanaman begini ini buahnya bisa dimakan. Berjumpa padi di rawa-rawa, tapi padi liar. Ia mengetahui, biasa baginya, bahwa buahnya dapat dimakan dan dapat pula diberikan kepada ternaknya. tetapi lambat-laun ia berpengalaman bahwa tanamanpun bisa ditanam. Tumbuh-tumbuhan yang berupa jagung, padi, gandum, buah-buahan bisa ditanam.
Dan terutama sekali, saudara-saudara, ini adalah tingkat yang ketiga, cara hidup dari pertanian terutama sekali. Di sini kita pantas memberi saluut kepada wanita. Wanitalah makhluk pertama yang mengusahakan tanaman ini. Bukan karena menganggurnya, tetapi merasa harus. Ia melihat bahwa biji jagung yang tidak termakan, tumbuh, dan ia melihat kalau biji jagung ini ditanam lebih dalam, dan tanahnya dikorek-korek menjadi lebih subur dan bisa berbuah. Demikian biji padi dan juga tanam-tanaman yang lain. Salah satu jasa daripada wanita ialah: dialah yang pertama kali memperoleh ilmu pertanian. Sebagaimana juga sebenarnya wanita yang pertama kali mendapatkan ilmu menjahit, membikin pakaian. Wanita yang di rumah, melihat anaknya kedinginan, ditutup badan anaknya itu dengan kulit binatang. Lama-lama ia berpikir: kalau kulit binatang yang satu ini disambung dengan kulit binatang yang lain, barangkali dengan tulang ikan yang tajam dan serat atau akar, dan begitulah timbul ilmu menjahit oleh wanita. Susu ternak, darah, – zaman dahulu itu orang masih makan darah, – harus dikumpulkan. Wanitalah yang pertama-tama menemukan tempat untuk susu atau darah itu, dari buah labu yang tua dikorek-korek. Atau untuk tempat biji-biji yang dikumpulkan dari hutan-hutan. Wanitalah yang pertama kali mempunyai begrip wadah. Bahkan, karena barangkali tidak ada buah labu, wanita yang menggali tanah liat, dibentuknya dengan cara yang amat premitif, akhirnya menjadi semacam periuk.
Wanita vang pertama kali membuat apa yang kita namakan rumah. Belurn rumah seperti sekarang, meskipun rumah desapun. Sangat sederhana. Wanita yang ditinggalkan suaminya ke hutan atau menggembala, tinggal dengan anaknya. Hujan. Kemudian timbul pikiran menyusun daun-daun pisang atau lainnya untuk bernaung di bawahnya. Begrip pertama daripada atap. Jadi wanita adalah makhluk yang pertama yang mendapat-kan apa yang dinamakan civilization, peradaban.
Wanita yang membuat periuk, wanita yang menjahit kulit, wanita yang menganyam serat menjadi tenunan kasar. Wanita yang bercocok tanam mula-mula.
Ini tingkat yang ketiga, cocok tanam. Si laki lama-lama melihat bahwa jagung, padi bisa ditanam. Lama-lama si laki pun meninggalkan cara hidup beternak, cape selalu mencari tempat penggembalaan. Lantas ia menetap juga. Perkataan menetap. Dulu tatkala ia masih hidup memburu, tidak menetap, selalu berpindahpindah, nomade. Tatkala ia beternakpun, tingkat yang kedua, tidak menetap, berpindah-pindah, mencari makanan untuk ternaknya. Nomade. Tetapi ketika pertanian diterima oleh wanita dan juga oleh lelaki, dus manusia cara hidupnya terutama sekali dari pertanian, manusia lantas meninggalkan cara hidup nomadisch menjadi orang-orang yang menetap. Tingkat keempat, juga saudara harus membayangkan evolusi. Pertanian, lama-lama timbul pikiran: tanah ini kalau dicokel-cokel dengan suatu alat, lebih subur. Lama-lama timbul pikiran akan semacam bajak. Timbul pikiran untuk memotong. Timbul pikiran untuk membuat alat. Lama-lama timbul satu kelas: aku tidak ikut bercocok tanam; aku membuat alat, aku membuat bajak, aku membuat cangkul, aku membuat semacam linggis dari kayu. Timbul juga satu pikiran, bahwa untuk mengangkut barang dari satu ke lain tempat harus ada alat yang bisa mengelinding. Lama-lama menjadi begrip gerobak. Gerobak yang sederhana. Wanita yang bikin periuk, timbul pikiran: bikin periuk saja, sehari-hari bikin periuk. Wanita yang bikin tenunan, timbul pikiran mengumpulkan serat-serat untuk menenun. Lantas timbul satu kelas yang sehari-hari mengumpulkan serat-serat untuk menenun. Kelas penenun. Demikianlah seterusnya timbul golongan-golongan manusia yang cara hidupnya membuat alat yang kemudian ditukarkan kepada orang yang bercocok tanam. Aku membuat periuk, aku perlu makan; ambillah periukku dan berilah aku jagungmu atau gandummu, atau padimu. Begrip ruilhandel, tukar-menukar timbul.
Di dalam tingkat keempat ini, akhirnya tumbuh kelas yang terutama sekali hidup daripada apa yang dinamakan nijverheid, kerajinan. Membuat alat, membuat gerobak, membuat pacul, membuat bajak, membuat pedang dan lain-lain. Hidup hanya membuat alat, yang hasilnya ditukarkan dengan hasil pertanian. Ruilhandel.
Evolusi lagi. Akhirnya meningkat menjadi zaman yang sekarang ini, yang dididik di dalam alam yang dinamakan alam industrialisme. Pertumbuhan daripada nijverheid ini, membuat produksi, lantas timbul cara mendidik orang lain dengan perburuhan, dengan terdapatnya mesin uap dan lain-lain. Industrial-isme. Itu adalah sifat yang kita hidup sekarang ini atau kita mengalami, melihat sekarang ini terutama sekali terjadi di dunia barat, di Amerika dan di Eropa. Saya ulangi, dus manusia ini pertumbuhannya melalui lima tingkat, sesudah ia berbentuk dan berupa manusia. Saya tidak bicarakan hal pithecanthropus. Memburu dan mencari ikan, satu. Berternak, dua. Cocok tanam, tiga. Kerajinan, empat. Industrialisme, lima.
Sekali lagi saya ulangi, ini adalah de grootste gemene deler dan de kleinste gemene veelvoud, corak umum daripada masyarakat manusia. Tadi saya menandaskan kepada saudara-saudara, cara hidup manusia mempengaruhi alam pikirannya. Juga mempengaruhi alam persembahannya, kalau boleh saya pakai perkataan ini. Tatkala ia masih hidup di dalam hutan, di dalam guagua, apa yang ia sembah? Pada waktu malam gelap gulita di dalam hutan, ia hidup di dalam alam yang gelap, penuh dengan ketakutan. Ia melihat bulan dan bintang-bintang. Ia sembah bulan dan bintang-bintang itu. Pada waktu hujan lebat, ia takut kepada petir, laksana petir itu menyambarnya. Ia menyembah pada petir. Ia menyembah kepada sungai, yang memberi ikan kepadanyaa la menyembah kepada pohon yang rindang yang ia bisa bernaung di bawahnya. Ia menyembah kepada awan yang berarak. Ia menyembah kepada matahari yang memberi cahaya cemerlang pada siang hari. Ia menyembah kepada barang-barang yang demikian itu. Itulah Tuhannya pada waktu itu. Berupa gunung yang mengeluarkan api, berupa bulan, berupa bintang, berupa matahari. Ia punya Tuhan. Saya tidak mengatakan itu Tuhan yang tepat, tetapi ia punya Tuhan pada waktu itu. Dan ini zaman tidak sebentar, lama sekali. Tuhannya yang berupa guntur dan petir, ia materialisir, ia materikan. Ia mendengar guntur yang menggeludug. Apa itu? O, itu Thor, yang turun dari satu mega ke lain mega. Tiap-tiap kaki mengenai satu mega, keluar suara. Kalau ia mendengar guntur menggeledek itu: Thor sedang berjalan. Thor sedang naik kuda, yang berlompat dari satu awan ke lain awan. la menyembah sungai yang memberi makan kepadanya. Sebagai di alam India yang dahulu, orang masih mengagungkan sungai. Sungai Gangga misalnya.
Sungai Gangga misalnya, bengawan Silugangga kata orang Jawa. Sungai Gangga itu asalnya dari zaman baheula.
Yang menyembah sungai, menyembah petir, menyembah batu yang di dalam Bagawad Gita diceriterakan, pada hakekat-nya yang harus kita kenal dan kita hormati bukan batunya itu, tetapi dia punya jiwa yang menyembah. Di dalam Bagawad Gita Kresna berkata kepada Arjuna: Kau kenal aku. Aku is Ik. Aku adalah hidup, aku adalah angin. Aku tiada mula tiada akhir, aku adalah di dalam geloranya air samudra yang membanting di pantai. Itu juga disembah.
Sang manusia zaman dulu, fase pertama itu, kalau samudra sedang menggelora, membanting di pantai, menekukkan lutut-nya menyembah sebagaimana orang Jawa pantai selatan dulu, kalau mendengarkan Iautan kidul sedang menggelora, berkata: lampor, lampor. Manusia Jawa zaman dahulu, menyembah Iautan Selatan.
Saya kembali kepada Bagawad Gita, Bagawad Gita berkata: aku adalah di dalam geloranya air laut yang membanting di pantai, aku adalah di dalam sepoinya angin yang sedang meniup. Aku adalah di dalam batu yang engkau sembah. Aku ada di dalam awan yang berarak. Aku ada di dalam api, aku di dalam panasnya api. Aku ada di dalam bulan, aku ada di dalam sinarnya bulan. Aku di dalam senyumnya sang gadis yang cantik. Aku yang tiada mula tiada akhir. Bagawad Gita menegaskan bahwa jiwa manusia sejak dari zaman dulu itu ada yang disembah. Tapi yang disembah itulah yang berubah-ubah. Zat yang ia sembah, yang ia tidak kenal, di dalam zaman fase pertama berupa pohon, berupa petir, berupa air laut, berupa sungai sampai dimaterialisir, Thor, dewa daripada donder. Notabene, saudara-saudara, kita punya perkataan guntur. Nama Guntur itu universil, saudara-saudara. Di daerah Skandinavia dewa langit dinamakan Thor, Geluduk, guruh, petir itu, orang Skandinavia zaman dulu mengatakan Kung Thor, King Thor, raja Thor. Perkataan Kung Thor itu sama dengan kita punya perkataan guntur. Ini adalah oleh karena pada hakekatnya manusia di dunia itu adalah satu, mandkind is one. Manusia itu satu sebetulnya. Yang berbeda-beda itu warna kulitnya. The same under the skin kata orang Amerika. Di bawah kulit sama saja. Kalimat itu pernah diucapkan pula, disitir oleh Presiden Eisenhouwer.
Fase pertama itu, Tuhan manusia. Saya ulangi, bukan Tuhan yang sebenarnya, yang tepat. Dia punya begrip itu manusia mengira Tuhan guntur, Tuhan air sungai, Tuhan angin. Contoh dari restan-restan kepercayaan ini tadi saya sebutkan. Di India orang masih menyembah sungai Gangga. Di Jawa lampor. Zaman dulu orang Yogyakarta kalau ada angin dari selatan meniup: lampor, lampor, lampor. Bahkan di kota Yogyakarta orang pasang lentera di luar rumah.
Fase kedua, manusia hidup dari peternakan. Pindah bentuknya ia punya Tuhan, terutama sekali berupa binatang. Oleh karena binatanglah yang memberi susu, daging, kulit kepadanya, oleh karena hidupnya sebagian besar tergantung kepada binatang. Ia punya Tuhan lantas dirupakan binatang. Ia malahan mengatakan kepada orang yang masih menyembah batu: masak batu disembah, pohon disembah, sungai disembah. Ini Tuhan yang betul, berupa binatang. Bangsa Mesir zaman dulu menyembah binatang, sapi yang bernama Apis, atau burung yang bernama Osiris. Bahkan di India sampai sekarang masih ada restan penyembahan binatang. Di daerah yang masih memegang adat kuno, jika saudara mengganggu seekor sapi, saudara dibunuh. Sapi adalah binatang keramat. Begitu keramatnya sampai tahi sapi dikeramatkan. Bukan saja sapi boleh masuk toko, masuk di mana-mana. Orang India yang masih kolot, sakit misalnya, minta tahi sapi yang masih hangat dicampur air, dan airnya dipercikkan kepada orang yang sakit. Wanita India yang masih kolot, tiap pagi sebelum membuat api untuk membuat roti bakar, sekeliling dapurnya disiram dengan air tahi sapi. Yah, oleh karena dia anggap ini keramat. Pagar menolak segala bahaya. Ini adalah restan dari zaman manusia yang masih hidup terutama sekali di alam peternakan.