Life's Progress Through the Passions; Or, The Adventures of Natura

Chapter 2

Chapter 23,271 wordsPublic domain

Agar supaya sesuatu bangsa, rakyat suka membeli, koopwil dan koopkracht bangsa itu tidak boleh dimatikan sama sekali. Kemauan membeli dan kemampuan membeli. Rakyat India dibuat, dijadikan satu bangsa tidak mati kutunya sama sekali, sebab kalau mati kutunya sama sekali tidak bisa membeli. Karena itulah imperialisme Inggris di India pagi-pagi sudah mengadakan sekolahan, bahkan pagi-pagi telah mengadakan University. Saudara-saudara dapat membaca di dalam kitab sejarah India, bahwa waktu kita di sini belum mendengar nama sekolah tinggi dan nama university, di India, Inggris sudah buka beberapa university. Koopkracht dan Koopwil daripada rakyat India tidak dimatikan sama sekali, tetapi saudara-saudara, India adalah satu bangsa yang telah mempunyai satu kelas pertengahan dan kelas borjuis yang hendak tumbuh. Kelas pertengahan dan kelas borjuis yang hendak tumbuh ditimpa oleh barang-barang hasil daripada overproductie Inggris. Padahal kelas pertengahan dan kelas borjuis India ini ingin mencari laba, membikin uang, cari uang daripada penjualan barang-barang bikinan kelas pertengahan dan kelas borjuis India sendiri. Jadi yang paling merasa mendapat saingan dari handels-imperialisme Inggris itu, ialah justru kelas pertengahan dan kelas borjuis, yang opkomend dari India ini. Oleh karena itu gerakan menentang imperialisme Inggris ini, mula-mula terutama sekali keluarnya dari kelas inilah. Yang kemudian membentuk di India itu Indian National Conggress tahun 1885. Pemimpin-pemimpinnya ialah kaum kapital. Saya tidak bicara tentang Gandhi, itu belakangan, tetapi pemimpin-pemimpin India yang mula-mula itu, ya semuanya kapitalis-kapitalis. Semuanya pengusaha-pengusaha. Orang-orang kaya dari gerakan ini dibantu oleh milyuner-milyuner, misalnya Tata. Tata yaitu satu pengusaha milyuner, membantu keras kepada gerakan ini, oleh karena Tatapun merasa mendapat saingan hebat daripada produksi besi dari Inggris. Tata ialah pengusaha besi. Pabriknya besar di Jamsithpoor. Dia membikin barang besi, membikin gunting, membikin pisau, membikin meja dari besi, bikin ini bikin itu. Lhoo ini impor dari Inggris, terutama sekali dari Birmingham. Wah, dus Tata ya sangat merasa mendapat saingan. Tata membantu kepada gerakan ini. Begitu pula milyuner Birla, membantu keras kepada gerakan ini, bahkan Birla itu sahabat karib daripada Mahatma Gandhi. Bahkan Mahatma Gandhi ini ditembak orang di rumahnya Birla. Saya tadi menceriterakan bahwa gerakan daripada kaum pertengahan dan borjuis India ini menunggangi rakyat India. Coba saudara-saudara lihat, semboyan daripada gerakan di sana itu, terutama sekali apa? Semboyan ekonomisnya, ialah Swadesi. Yah, tentu gerakan swadesi itu mempunyai harga-harga moril yang tinggi sekali bagi bangsa.

Ya, tentu gerakan Swadesi itu adalah baik bagi bangsa. Sebab dianjurkan kepada bangsa untuk membuat sendiri keperluan hidupnya. Swa artinya sendiri, desi dari perkataan desa; desa yaitu negeri sendiri. Swadesi artinya dari desa sendiri, dari negeri sendiri. Sebagai slogan memang baik sekali. Tetapi tidak baiknya gerakan Swadesi ini ialah ia punya kekolotan. Artinya kekolotan, tidak mau kepada kemodernan. Memang keadaan rakyat India yang hendak dipergunakan oleh kaum pertengahan dan kaum bordjuasi ini tidak bisa diajak kepada kemodernan, tidak bisa menggerakkan rakyat berpuluh-puluh, beratus-ratus milyun: ayo kita bersama-sama mengada-kan pabrik modern. Ayo kita bersama-sama mengadakan listrik. Tidak! Tidak bisa usaha mengadakan pabrik modern, mengadakan listrik, mengadakan kereta api, mengadakan kapal udara, segala modern. Hanya bisa oleh sekelompok orang yang banyak uang, yaitu kapitalisten atau oleh organisasi negara. tetapi mengajak rakyat jelata untuk modernisme, tidak bisa.

Nah, inilah salah satu cacat daripada gerakan Swadesi. Oleh karena gerakan swadesi itu di bawah pimpinan Mahatma Gandhi yang tidak mau kepada kemodernan. Bahkan Gandhi memberi kepada rakyat satu falsafah anti mesin. Dikatakan bahwa mesin itu bikinan setan. Ya, ini perkataan Gandhi, devilswork. Gandhi tidak mau kepada mesin, sebab dia melihat mesin di Eropa Barat menjadi alat penindasan manusia. Memang dipergunakan oleh kapitalisten di Eropa Barat sebagai alat penindasan. Maka oleh karena itu Iantas Gandhi berkata: jangan pakai mesin, mesin adalah devilswork. Buatan Setan. Dia anti kepada segala kemodernan. Ia punya cita-cita adalah satu cita-cita sosial yang kolot. Gandhi tidak mempunyai politik ideologi, tidak punya cita-cita politik yang jelas. Kalau ditanya kepada Gandhi: Gandhi ji, apakah cita-cita politik daripada tuan? Apakah Republik, apakah monarki, apakah Negara Kesatuan, apakah Federalisme? Gandhi tidak bisa menjelaskan dengan tegas. Paling-paling ia menjawab: Swa radj, Swa artinya sendiri, radj artinya raja, pemerintah. Swa radj artinya pemerintah sendiri. Paling-paling itu, kita mesti mengejar swa radj, swa radj. Cita-cita politiknya tidak tegas. entah Republik entah monarki, entah Negara Kesatuan, entah negara Federal entah dominan status, tidak tegas. Swa radj, segala swa radj, sebaliknya ia mempunyai cita-cita sosial. Jadi cita-cita kemasyarakatan. Dan apa yang ia cita-citakan yaitu satu masyarakat yang di situ tidak ada penindasan, yang di situ tidak ada pengisapan, tetapi juga yang di situ tidak ada mesin-mesin, tidak ada pabrik-pabrik. Ia punya cita-cita sosial yaitu manusia dengan manusia hidup tenteram, rukun, tiap-tiap orang mempunyai sebidang tanah kecil, tanam makanan rakyatnya sendiri, tanam pohon kapasnya sendiri, memintal ia punya benang sendiri, menenun sendiri. Tidak perlu lokomotif, tidak perlu ini itu. Rakyat harus hidup dalam satu suasana tenteram.

Nah, ini yang saya namakan kolotnya gerakan swadesi. Tetapi pada hakekatnya gerakan swadesi ini adalah satu penentangan terhadap kepada imperialisme, sebab di dalam praktiknya gerakan swadesi bukan sekadar positif dari segi positifnya menanam kapas sendiri, memintal benang, menenun sendiri. Tidak! Tetapi juga mempunyai bidang negatifnya, yaitu tidak mau membeli barang bikinan Inggris. Yang dinamakan boycot action. Tidak boleh rakyat ter-utama sekali anggota-anggota dari Indian National Conggress membeli barang-barang buatan Inggris. Bahkan eksesnya barang-barang buatan Inggris kadang-kadang diserbu, dibawa ke luar, ditumpuk, ditimbun, dibakar. Seperti yang terjadi di Chouri Chora. Dengan gerakan swadesi ini maka handels imperialisme Inggris menjadi lumpuh. Karena seluruh rakyat tidak mau membeli barang-barang buatan Inggris itu, padahal doel daripada handels imperialisme Inggris ialah agar supaya rakyat India membeli barang-barangnya. Ditentang oleh gerakan swadesi, diboikot barang-barang Inggris, dan rakyat India mengadakan gerakan swadesi positif, membikin barang sendiri. Tetapi di dalam bidang kaum pertengahan dan kaum borjuasinya ia memakai mesin-mesin pula. Saudara-saudara kalau datang di Bombay misalnya, sekarang, di Calcuta, saudara akan melihat pabrik-pabrik tenun yang hebat. Tata yang begitu membantu dengan uang kepada gerakan Gandhi, ia adalah industriil besi yang besarnya hanya dikalahkan oleh industriil Jepang Yawata Kaisha.

Dus, saudara-saudara, jelas, gerakan India adalah satu gerakan yang sebenarnya daripada kaum pertengahan dan kaum borjuasi yang timbul dengan mempergunakan rakyat jelata. Ada baiknya saya di sini menerangkan kepada saudara hal kenapa gerakan India itu tidak mempergunakan kekerasan? Memang saudara-saudara, situasinya lain daripada kita. Kita mempergunakan kekerasan, mengadakan physical revolution, karena kita pada bulan Agustus menghadapi imperialisme yang hendak kembali, dan pada waktu itu ada kesempatan baik sekali untuk merampas senjata dari tangan Jepang. Bahkan di waktu pendudukan Jepang, dan tidak boleh saudara-saudara lupakan, kita tiga setengah tahun mendapat mendapat kesempatan baik untuk melatih kita punya diri mempergunakan senjata. Di India tidak. Kesempatan yang sedemikian itu tidak ada, bahkan sekali lagi Gandhi keluar dengan ia punya falsafah, yang bukan saja menentang devils-work yang berupa mesin, berupa segala hal yang modern, tetapi juga menentang penggunaan kekerasan. Ia punya falsafah ialah apa yang dinamakan Ahimsya, tidak boleh mempergunakan kekerasan dan bikin saja kekerasan pisik. Bahkan mempergunakan kekerasan batin juga tidak boleh. Jangan menyakiti hati orang lain, begitu pula jangan menyakiti badan orang lain. Ahimsya! Yang di dalam pemunculan bidang politiknya, berupa gerakan Satyagraha, ekonomis bikin barang sendiri, jangan beli barang Inggris, ekonomis. Bidang politik-nya, yang keluar daripada falsafah Ahimsya ini, ialah Satyagraha. Satyagraha artinya setia kepada kebenaran. Bagaimana setia kepada kebenaran? Tidak mau ikut atau membantu kepada yang salah. Tidak mau ikut tidak mau membantu kepada yang salah, dus, di dalam bidang politiknya jangan kerjasama dengan pihak Inggris, sebab pihak Inggris itu salah.

Dus, non cooperation. Lha ini perkataan yang termasyhur, non cooperation. Jangan kerjasama dengan pihak yang salah. Mau jadi ambtenar Inggris keluarlah, letakkan kau punya jabatan. Dan kalau engkau tetap jadi ambtenar Inggris, engkau ikut juga punya kesalahan. Jangan menjadi hakim di kehakiman Inggris, jangan menjadi guru di sekolahan Inggris, jangan menjadi anggota dari sesuatu dewan yang dibikin oleh Inggris. Satyagraha dan sekalikali jangan memperguna-kan kekerasan, membandellah, hambalela. Membandel, jangan ikut, jangan mau dan jikalau kau ditangkap, ya sudah. Biarlah, masuk di dalam penjara, biarlah, jangan melawan. Dipukuli polisi-polisi di sana itu, pada zaman itu sama dengan polisi Belanda di sini, mem-punyai pentung, yang namanya lathi, meskipun engkau punya kepala hampir pecah kena pukulan lathi, jangan membantah, membandellah, hambalela. Beribu-ribu, berpuluh-puluh ribu, pada satu saat, 76.000 kaum gerakan Satyagraha ini dimasukkan di dalam penjara. Itu adalah bidang politiknya, non cooperation. Bidang ekonomisnya, swadesi.

Nah, begitulah asal mulanya gerakan India, oleh karena menghadapi handels-imperialisme. Kita bagaimana? Kita sekarang mulai menguraikan kita sendiri. Persatuan daripada tiap golongan, sedang di India kaum pertengahan dan kaum borjuis yang merasa mendapat saingan dan pukulan hebat daripada impor handelsimperialisme, yang menentang kepada handels- imperialisme Inggris ini, dengan mempergunakan rakyat India agar rakyat India tidak mau membeli barang-barang bikinan Inggris, swadesi, satyagraha, memang akhirnya berhasil. Pihak imperialisme Inggris kewalahan dan pada tahun 1947, India diberi kemerdekaan yang mempunyai Dominion-Status dan di dalam tahun 1950 tanggal 26 Januari oleh rakyat India Dominion Status ini diganti dengan Republik India, tetapi masih di dalam Commonwealth. Indonesia bagaimana? Indonesia tidak menghadapi hanya handels-imperialisme. Apa sebabnya? Sebabnya ialah negeri Belanda adalah satu negeri yang miskin, yang kekurangan basis grondstoffen. Saudara saudara tahu sejarah daripada imperialisme Belanda di Indonesia. Mula-mula, dan kalau saudara membaca "Indonesia Menggugat", mula-mula orang Belanda itu datang di sini sekadar untuk membeli barang-barang seperti cengkeh, pala, beli ini beli itu, hasil-hasil pertanian di sini. Kalau ditinjau sejarah yang lebih tua, begini: dulu, di abad XV, XVI, orang Eropa sudah mengenal cengkeh, pala, sutera bikinan Tiongkok dan sebagainya. Tetapi barangbarang ini pala, cengkeh, sutera bikinan Tiongkok ada juga cat merah dan lain-lain sebagainya, didatangkan ke Eropa ini tidak seperti sekarang. Jalannya dulu ialah barang-barang dari Indonesia, pala, cengkeh, barang-barang dari India, barang-barang dari Tiongkok dan lain-lain sebagainya, semuanya boleh dikatakan dikumpulkan di Tiongkok lebih dulu. Dari Tiongkok lalu melalui ialan jalan karavan, kafilah-kafilah, melalui Sentral Asia, Asia Tengah, padang pasir Gobi, muncul di Midden Oosten, Middle East, yaitu di Libanon. Dari situ di bawa ke kota di sebelah laut Adriatic, Venesia. Dari kota Venesia diambil oleh perahu-perahu, kapal-kapal pedagang dari Inggris, dari Belanda, dari negerinegeri lain-lain, dus, pada waktu itu, Venesia adalah satu kota transito. Barang-barang dari Tiongkok melalui Sentral Asia, pergi ke Libanon ke Venesia, dari Venesia disebarkan ke Eropa Barat. Pada waktu itulah Venesia naik dia punya kedudukan. Pada waktu itu Istana-istana di Venesia yang indah, yang sampai sekarang menjadi kekaguman orang, dibuat. Kalau saudara datang ke Venesia sekarang, saudara melihat Istana dari marmer, itu buatan zaman itu. Gereja San Marco buatan dari zaman itu. Istana Togen, buatan dari zaman itu. Abad XIV, XV, XVI, dan belakangan ini tukang mengambil cengkeh, pala dan lain-lainnya itu, mempunyai hasrat untuk mencari sendiri jalan pengambilan barang-barang ini. Lantas dikirimlah orang-orang untuk mencari jalan. Saudara tahu sejarah Vasco de Gama, Bartolomeus Diaz, sejarahnya Cornelis de Houtman dan lain-lain itu, mereka itu mencari jalan ke tempat cengkeh, pala, merica, sutera ini. Mencarinya jalan ada yang ke Barat terus dan dia terdampar di Amerika yaitu Columbus, dan dia bertepuk dada, merasa menemukan Amerika. Padahal tidak. Lebih dulu daripada Columbus ialah Amerigo Vesvucci yang menemukan Amerika, – kalau boleh memakai perkataan menemukan, – sebagian ke Barat, sebagian dari negeri Belanda dan Spanyol, mengelilingi Tanjung Harapan, ujung paling selatan dari Afrika, masuk Lautan Hindia, ketemulah tempat-tempat merica dan cengkeh itu. Nah, dus, bisa ketemu jalan ini, saudara-saudara, – belum ada terusan Suez, – datanglah apa yang di dalam kitab saya, saya namakan imperialisme Belanda kuna.

Dus, sekadar mengambil bahan-bahan ini tadi, mengambil cengkeh, merica, pala dan lain-lain sebagainya, dibawa ke Eropa, melewati Tanjung Harapan, dibawa ke Eropa, dijual di Eropa dengan banyak laba. Di situ negeri Belanda mulai naik, sehingga pada abad XVII negeri Belanda mengalami abad keemasan. Orang Belanda sendiri menamakan abad XVII itu de gouden eeuw. Yaitu laba daripada pengambilan sini, pulang dijual, berangkat lagi, pulang, jual. Nah, uang laba ini, saudara-saudara, sebetulnya bertumpuk-tumpuk. Dibawa kemana uang laba ini? Apakah op potten, dicelengi terus, di negeri Belanda? Tidak. Terutama sekali kelihatan di Inggeris kapitalisme timbul, di Jerman kapitalisme timbul, uang ini dibawa ke Indonesia kembali, dan ditanamkan di Indonesia. Inilah asal mula daripada imperialisme Belanda modern di Indonesia. Uang ditanamkan di Indonesia dalam pelbagai obyek. Ada yang dijadikan pabrik gula, ada yang kebun-kebun teh, ada yang kebun-kebun karet, ada yang dijadikan tempat pertambangan dan sebagainya. Dus, imperialisme modern di Indonesia adalah imperialisme penanaman uang. Di dalam ilmu ekonomi uang yang demikian ini dinamakan finanz kapital. Dus imperialisme Belanda di Indonesia adalah imperialismenya finanz kapital. Indonesia oleh imperialisme finanz kapital ini dijadikan tempat pengambilan basis grondstoffen untuk kapitalisme di negeri Belanda. Uang ditanamkan di sini, misalnya di dalam kebun karet atau dalam kebun kelapa sawit dan sebagainya. Ini kelapa sawit atau karet, ini menjadi basis grondstoffen. Misalnya minyak kelapa sawit dibawa ke negeri Belanda, minyak ini menjadi salah satu basis grondstof untuk pabrik sabun dan lain-lain sebagainya. Hasil daripada produksi ini dengan bahan kelapa sawit, dibawa lagi ke Indonesia, dijual di Indonesia. Jadi akhirnya menjadi tempat pengambilan bahan-bahan untuk kapitalisme di negeri Belanda, juga menjadi tempat-tempat penjualan produksi di negeri Belanda itu. Tetapi yang paling mendalam di dalam peri-kehidupan kita, ialah terutama sekali penanaman modal. Di sini dibangunkan perkebunan, industri-industri tetapi semuanya perkebunan-perkebunan dan industri-industri imperialisme, dengan uang ini tadi, finanz kapital. Nah, agar supaya perkebun-an atau industri-industri itu tadi bisa berjalan dengan sebaik-baiknya, harus dipenuhi beberapa hal yang berbeda sekali daripada syarat-syarat berkembangnya handels-imperialisme.

Handels-imperialisme, saya ulangi lagi, bisa berkembangbiak kalau rakyatnya mempunyai koopwil dan koopkracht. Handels-imperialisme dengan sendirinya mampus, kalau rakyatnya tidak bisa dan tidak mau beli. Tetapi finanz kapital mempunyai eisen lain. Mau menanamkan modal di sini, dijadikan onderneming. Onderneming pegunungankah atau onderneming di tanah datarkah. Mau tanam tembakau di daerah Yogyakarta atau Solo. Mau tanam tebu di lembah sungai Berantas misalnya. Bagaimana bisa tanam tebu di lembah sungai Berantas? Atau bisa tanam tembakau di lembah Bengawan Solo? Sekitar Solo dan Yogyakarta dan sebagainya.) harus menyewa tanah, sebab tanah milik daripada rakyat. Agar supaya sewa tanah ini dimungkinkan, diadakannya ordonansi yang dinamakan grondhuurordonnantie, pada pertengahan abad ke-19, yang memberi kesempatan kepada pengusaha asing menyewa tanah daripada rakyat untuk ditanami tebu, untuk ditanami tembakau, untuk ditanami apapun, agar supaya laba bisa tinggi, sewa tanahnya jangan mahal. Agar supaya sewa tanah tidak mahal, levensstandaard daripada rakyat ditekan, handels-imperialisme malahan agak menaikkan levens-standaard, artinya dipiara, koopwil en koopkracht. Finanz kapital imperialisme malahan menekan supaya sewa tanah tidak terlalu tinggi. Sewa tanah itu ditentukan oleh levensstandaard, standar hidup daripada rakyat. Rakyat yang standar hidupnya rendah akan sudah senang menerima sewa yang murah. Kecuali sewa tanah, finanz kapital yang menanamkan modalnya di sini itu memerlukan kaum buruh. Juga kaum buruh ini harus kaum buruh yang upahnya rendah. Kalau kaum buruh itu upahnya tinggi, labanya kurang bagi kaum imperialis.

Dus, diusahakan dengan segala macam agar supaya kaum buruh upahnya rendah. Sampai kita pernah mengalami satu waktu, upah kaum buruh 8 sen, satu orang sehari. Dihitung-hitung hidupnya rakyat Indonesia bahkan pernah segobang seorang sehari. Tetapi upah buruh pernah di suatu tempat itu 8 sen sehari, 12 sen seorang sehari. Paling-paling 25 sen seorang sehari. Minimumloon, rakyat Indonesia dijadikan minimum-leidster, ini istilah daripada seorang Belanda sendiri, daripada orang yang selalu saya sitir yaitu Dr. Uwender, yang mengata-kan bahwa rakyat Indonesia itu adalah minimum-leidster, segalanya itu minimum, kebutuhan-kebutuhannya ya minimum, kebutuhan makanannya minimum, pakaian minimum, segala-nya minimum, upahnyapun minimum sehingga konklusinya ialah yang sering saya katakan rakyat Indonesia adalah een volk van koelies en een koelie onder de natie. Inilah efek dan usaha daripada finanz kapital imperialis. Jangan diajarkan kepada rakyat kebutuhan-kebutuhan yang bukan-bukan. Sekolah-sekolah jangan lekas-lekas diberi, paling-paling sekolah yang sudah paling minimum. Di India tidak, kata saya tadi, pada tahun 1865 kalau tidak salah, Universitas yang pertama dibuka. Kita, saudara-saudara, sampai permulaan abad sekarang ini, tidak mengenal akan universitas. Sekolahnya sekolah rendah semuanya, sekolah menengah hanya untuk orang Belanda sendiri atau puteraputera daripada pegawai Indonesia. Dan sistemnya nyata, sistem membikin kita menjadi kaum buruh. Saya pernah duduk di dalam sekolah rendah.

Permulaan abad sekarang ini, padahal waktu itu sudah tahun 1915, sebagai murid daripada sekolah rendah itu saya masih diajar ilmu ukur dengan meetketting, rante ukur itu, kita murid-murid harus bisa mengukur halaman, mengukur sebidang tanah, tak lain tak bukan agar supaya nanti bisa menjadi mandor ukur. Jadi standar hidup direndahkan sekali, saudara-saudara. Bahkan demikian jauhnya usaha merendahkan levenstandaard kita ini, sehingga dulu, kelas pertengahan kita dan kelas borjuasi dulu sama sekali akhirnya juga padam. Dulu misalnya kita membikin bahan pakaian kita sendiri.

Saudara kalau baca di dalam kitab-kitab yang ditulis oleh komisi minderwelvaarkomisi atau kitab yang ditulis oleh Kroevaart, saudara masih bisa membaca bahwa di dalam abad ke-18, kita ini masih selfsupporting di dalam lapangan tekstil. Ya bukan tekstil mesin, tetapi tekstil tenunan. Sebagaimana saudara lihat di pulau-pulau Indonesia Timur sekarang, masih ada di sana selfsupporting barang tenun sendiri, misalnya di Sumba, di pulau Kisan dan lain-lain. Itu masih selfsupporting, tetapi sebagai tadi saya katakan sebagian daripada laba finanz kapital ini, dijadikan industri di negeri Belanda antara lain industri tenun Twente, oleh industri tenun ini saudara-saudara, matilah sama sekali minddenstand kita yang tadinya bisa membuat tekstil. Jadi meskipun di satu pihak finanz kapital ini merendahkan standar hidup rakyat, oleh karena memang demikianlah eisen daripada finanz kapital tetapi sebaliknya handels kapital Belanda yang datang di sini membawa tekstil daripada Twente mematikan kelas pertengahan kita dan kelas borjuis. Bisa mematikan oleh karena impor yang dibawa ke sini adalah impor yang amat murah sekali tidak sebagai impor Inggris di India. Impor di India itu mengenali kwaliteiten, ada kualitet yang hebat-hebat, sebagaimana sampai sekarang saudara mengetahui wol daripada Inggris kualitet tinggi, untuk menjual barang kualitet tinggi ini memerlukan koopwil dan koopkrahct daripada rakyat. Impor tekstil dari negeri Belanda ke sini bukanlah tekstil kualitet tinggi bukan tekstil untuk kaum wanita yang berupa bembergzijde, bukan kain wol yang hebat-hebat seperti bikinan Leincheser. Tidak! Impor kebanyakannya berupa blaco, kain mori, paling-paling kain hitam, kain merah, cita-cita yang murah. Saya mengalami saudara-saudara, dulu kain cita yang saya pakai enam sen satu elo.

Dulu ukurannya itu elo, 70 cm. Jadi laage kwaliteiten, dan itu tidak memerlukan satu bangsa yang levensstandaard-nya harus dinaikkan. Cukup dengan satu bangsa yang levens-standaard-nya memenuhi eisen daripada finanz kapital imperialisme itu. Sehingga saudara-saudara, akhirnya kita ini menjadi satu bangsa kelas kecil. Kita tidak mempunyai orang-orang yang kaya, seperti di India. Di India mempunyai Burla, mempunyai Tata, mempunyai famili Nehru, Mothilal Nehru, bapaknya Jawaharlal Nehru itu bukan main dia milyunernya, – orang bilang, – dia cucikan dia setrikakan baju-bajunya itu di London. Tidak mau cucian di Alahabat, meskipun dia diam di Alahabat. Pakaian kotor-kotor dikirim ke London, cuci di London, disetrika di London. Orang kaya di Indonesia tidak ada, semuanya kelas kecil.

Pegawai, kelas kecil, tidak ada pegawai tinggi. Paling-paling yang paling tinggi vaitu Bupati atau Adipati. Tetapi yang lain-lain ialah klerk-klerk, paling-paling opseter-opseter. Dalam tentara KNIL, berapa orang yang jadi kapten? Tidak ada. Satu orang atau dua orang Mayor. Yang lain itu paling-paling sersan. Pendek segala hal yang besar ialah Belanda, yang kecil-kecil Indonesia sampai kepada rakyat jelatanya merupakan minimum leidster. Kaum buruh ada yang mendapat 8 sen sehari, tani ya tani kecil, tidak ada tani besar. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus mempunyai grootbezit, tidak, tetapi saya hanya mengatakan bahwa rakyat Indonesia itu hanyalah rakyat kecil.

Berhubung dengan itu saudara-saudara, maka aksi untuk meruntuhkan imperialisme itu haruslah terdiri dari gabungan semuanya yang kecil ini. Di India bisa dipergunakan kekuatan dari kaum borjuis dan middenstand. Di Amerika kekuatan dari borjuis dan middenstand, yang bisa mengadakan satu Angkatan Perang. Saudara tahu bagaimana di Amerika permulaan revolusi itu? Yaitu di waktu beberapa orang pedagang teh melemparkan tehnya di dalam laut oleh karena impor teh harus membayar pajak. Itulah meletusnya revolusi di Amerika, ialah membuang teh di dalam laut, yang dimulai oleh kaum pengusaha. Di India gerakan nasional bertulang punggung kepada kaum borjuasi nasional. Kita tidak. Kita tidak mempunyai borjuasi nasional. Sudah tidak mempunyai. Dulu di dalam abad ke-16, 17, 18 kita mempunyai borjuasi nasional yang bisa selfsupporting di atas lapangan tekstil misalnya, tetapi di dalam abad ke-20 akhir 19 tidak ada kelas borjuasi nasional ini.