Pancasila Dasar Negara 1

Part 3

Chapter 32,256 wordsPublic domain (Wikisource)

Dus gerakan melawan imperialisme itu adalah gerakan daripada segala golongan yang kecil. Sifatnya sudah lain, saudarasaudara. Di sana borjuasi nasional yang menunggangi rakyat jelata, di Indonesia tidak bisa berjalan yang demikian itu. Di Indonesia gerakan nasionalnya ialah gerakan daripada rakyat jelata tok. di dalam segala macam. Ambtenar-ambtenar kecil duduk di dalamnya. Dari pihak pengusaha-pengusaha ada duduk di dalamnya, tapi kecil. Semuanya kecil. Gerakan Sarikat Islam misalnya, Sarikat Dagang Islam yang diadakan mula-mula oleh Kiai Samanhudi, di dalam tahun 1910 begitu setelah Budi Utomo, yah, Sarikat Dagang Islam ya pedagang-pedagang yang kecil bukan pedagang-pedagang seperti Tata, seperti Birla, seperti Nehru. Bapaknya Nehru itu bukan pedagang tetapi advokat besar yang mempunyai andil di dalam beberapa perusahaan. Sarikat Dagang Islarn pun, saudara-saudara, gerakan daripada pedagang kecil bahkan yang kemudian diubah menjadi Sarikat Islam yang bukan saja pedagang yang masuk di dalamnya tetapi tani kecil, buruh kecil, semuanya yang kecil masuk di dalamnya. Ini yang menjadi kekuatan kita, siap di seluruh Indonesia, golongan kecil, ya buruh, ya tani, ya pegawai, ya daripada pihak pedagang, ya nelayan, ya kusir, ya tukang bengkel, ya semuanya, kita himpun kekuatannya. Dus, kita perlukan bagi menangnya gerakan kita satu hikmat persatuan. Kita menghadapi soal ini, saudara-saudara, bagai-mana bisa menumbangkan imperialisme. Yah, kita harus bisa bersatu, mempersatukan tenaganya yang kecil ini, ya tenaganya kaum buruh, ya tenaganya kaum tani, tenaga kaum buruh untuk menghadapi industri-industri daripada finanz-kapital itu, tenaga-tenaga kaum tani kita butuhkan untuk menentang perkebunan-perkebunan baik di tanah datar maupun di pegunungan, kita butuh- kan segenap tenaga daripada rakyat Indonesia.

Pada satu waktu saya sampai kepada satu saat yang saya memerlukan satu nama umum bagi sernua yang kecil-kecil ini. Ya buruh, ya tani, ya pegawai, ya nelayan dan lain-lainnya ini, semuanya tidak ada yang besar, melainkan kecil-kecil semua-nya, lantas saya beri nama kepada semuanya ini Marhaen. Tidak bisa disebutkan proletar, kataku. Sebab apa yang dinama-kan proletar? Barangkali saudara-saudara sudah mendengar uraian ini, tetapi baiklah sava uraikan sekali lagi. Apa yang dinamakan proletar? Pak, proletar itu kaum buruh. Tidak jelas! Marilah kita tanya kepada Karl Marx sendiri, dia yang mengadakan perkataan, terkenalnya perkataan proletar, menurut Marx proletar adalah orang yang menjualkan tenaganya kepada orang lain dengan tidak ikut memiliki alat produksi, ini defenisi Marx. Proletar adalah orang yang menjualkan tenaganya kepada orang lain dengan tidak memiliki alat produksi. Sekadar menjual tenaga tok. Tidak ikut memiliki alat produksi. Apa alat produksi? Kereta api adalah alat produksi. Bahkan gergaji, palu dan lain-lain sebagainya adalah alat-alat produksi. Jikalau engkau menjualkan tenagamu di dalam sesuatu perusahaan tetapi engkau tidak ikut memiliki alat produksi, tidak ikut memiliki pabrik, tidak ikut memiliki mesin, tidak ikut memiliki martil-martil, palu-palu, gergaji-gergaji di dalam pabrik itu, kamu cuma menjual tenagamu saja, engkau adalah proletar. Dan ini definisi mengenai semua yang menjual tenaga. Kaum intelektuil pun, insinyur yang menjualkan tenaganya kepada satu perusahaan besar, perusahaan Philips, Unilever apapun, engkau hanya menjual tenagamu sebagai insinyur, dengan tidak ikut memiliki pabrik Unilever, atau pabrik Krupp, engkau adalah proletar, tetapi namanya intelektuil proletar, proletar intelektuil. Padahal, ya rumah, gedung, rumah yang didiami, engkau pergi ke pekerjaan dengan mobil yang mengkilap, engkau adalah insinyur, engkau adalah doktor, engkau adalah ahli kimia, oto yang mengkilap, tidak miskin, tetapi yang engkau jual hanya tenagamu, pikiranmu, tidak ikut memiliki alat produksi, engkau adalah proletar.

Dus, si insinyur proletar, si doktor ilmu kimia yang bekerja kepada Bayer misalnya, proletar, cuma ya intelektuil proletar. Saya memerlukan satu istilah buat ini, si kecil-kecil semuanya itu tadi. Buruh kecil ya proletar, dia masuk di dalam golongan yang saya carikan istilah tani kecil yang perlu juga istilah bagi si tani kecil ini tetapi si tani kecil ini bukan proletar. sebab ia punya alat produksi milik sendiri, si nelayan kecil masuk di dalam golongan yang saya carikan istilah tetapi dia bukan proletar, alat produksi milik dia sendiri. Si tukang gerobak kecil, gaji, ya tidak punya gaji, gerobaknya dia punya sendiri, kudanya yang kurus itu dia punya sendiri. Lha ini namamya apa, saya carikan pada suatu ketika, untuk semua rakyat Indonesia yang kecil-kecil ini, Ceriteranya ialah pada suatu hari saya berjalan di sebelah selatan kota Bandung, kalau saudara mau tahu desanya, nama desanya Cigereleng. Di Cigereleng saya berjalan jalan di sawah. Pada waktu itu saya memimpin Partai, saya jalan jalan di sana, saya melihat seorang laki-laki sedang menggarap sebidang tanah. Saya tanya: bung, ini tanah siapa?

Gaduh abdi. Pacul ini siapa punya, Gaduh abdi, artinya gaduh abdi itu, saya punya. Gubuk ini siapa punya? Gaduh abdi. Engkau kalau sudah tanam padi ini, hasil padi ini untuk siapa? Buat abdi. Wah engkau kaya? Tidak. Miskin. Maklum cuma begini, dan meskipun tanah punya saya sendiri, pacul saya punya sendiri, hasilnyapun saya punya sendiri, tetapi saya miskin, paling miskin. Coba lihat gubuk itu sudah reyot. Orang ini bukan proletar. Miskin, tetapi proletar, sebab alat produksi milik dia sendiri. Sebaliknya sebagai tadi saya katakan meski-pun mobil mengkilat kalau alat produksi tidak dimilikinya dan dia cuma menjual tenaganya saja, adalah proletar. Orang ini bukan proletar, tetapi miskin, seperti 95% daripada rakyat Indonesia adalah miskin. Saya tanya kepadanya: nama bung siapa? Marhaen, jawab dia. Timbul ilham, kalau begitu semua rakyat Indonesia yang miskin ini saya namakan Marhaen, ya, yang proletar ya yang bukan proletar, ya yang buruh, ya yang tani, ya yang nelayan, ya tukang gerobak, ya yang pegawai, pendeknya yang kecil-kecil ini semua, Marhaen.

Ini bahan kita untuk digerakkan bersama untuk menumbangkan imperialis, tidak memiliki borjuasi nasional, tidak memiliki tenaga Angkatan Perang seperti sekarang.

Dulu tidak ada Angkatan Perang kita, revolusi Amcrika segera setelah Thomas Jefferson, Thomas Paine, George Washington dan Paul Rellier mengatakan: hayo kita melepas-kan diri dari Inggris, terus dibentuknya Angkatan Perang bahkan George Washington menjadi Panglima Besar daripada Angkatan Perang yang kemudian dipilih menjadi Presiden.

Kita tidak mempunyai Angkatan Perang, kita tidak mempunyai borjuasi nasional, kita harus dan mutlak harus hanya bisa mempergunakan tenaga daripada rakyat jelata sebagai satu verzamelnaam yang saya namakan Marhaen, dus, sejak daripada mulanya atau lebih tegas sejak fase revolusioner, daripada gerakan nasional kita, kita harus bisa memegang panji persatuan. Sejak daripada fase revolusioner, jangan kira, tadi sudah saya peringatkan bukan, perkataan revolusioner jangan dihubung-hubungkan dengan kekerasan senjata. Sejak dari fase revolusioner, jikalau saya boleh mempergunakan istilah yang saya ucapkan pada pidato 20 Mei, sejak angkatan penegas yang dengan tegas berkata: Indonesia merdeka, itulah satu umgestaltung von grundauf, sejak daripada fase itu kita meng-hadapi persoalan mempersatukan semua revolutionnaire krachten, semua tenaga-tenaga revolusioner, yaitu tenaga-tenaga dari segenap Marhaen, Marhaen di dalam arti, sebagai tadi saya katakan ya buruh, ya tani, ya pegawai, ya tukang gerobak, ya tukang nelayan, ya tukang pedagang, semua rakyat Indonesia yang 95% Marhaen.

Jadi alat kita hanyalah persatuan, jikalau kita tidak berdiri di atas dasar ini, mungkin gerakan kita tidak berhasil. Di Sovyet Uni lain saudara-saudara, di sana ada kelas kapitalis, kelas proletar dan tani, bersama-sama proletar dan tani ini menumbangkan kelas kapitalis. Kita terdiri daripada macam-macam golongan tetapi kecil semuanya, ini harus kita gabung, yaitu menentang imperialisme yang pada hakekatnya ialah finanz-kapital imperialisme, tetapi saudara-saudara. untuk mempersatukan segenap golongangolongan Marhaen ini, yang terdiri dari elemen buruh, elemen tani. elemen pedagang, elemen tukang gerobak, elemen nelayan dan sebagainya itu, kita tentu menghadapi beberapa persoalan. Persoalan kepentingan daripada golongan, persoalan rasa daerah, kepentingan rasa agama, kepentingan lain-lain. Karena itu sejak mulanya di dalam ide mempersatukan marhaen sudah dimasukkan terutama sekali elemen keaslian Indonesia ialah gotong royong. Gotong royong yang memang salah satu sendi daripada masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu, dan dianjurkan kepada semua golongan ini bahwa kita hanyalah bisa menumbangkan imperialisme itu kalau kita bersatu dan berdiri di atas dasar revolusioner. Diterangkan kepada kaum marhaen terutama sekali kepada kaum marhaen yang menjadi anggota partai saya, sebab kaum marhaen ini di mana-mana, saya bicara secara wetenschappelijk, jangan mengira Bung Karno memakai perkataan marhaen itu karena mengingat PNI dahulu, tidak.

Saya tadi ‘kan berkata, marhaen itu meliputi semua, dus, di dalam partai-partai yang sekarang ini dinamakan PKI ya ada Marhaen, di dalam partai Masyumi ya ada Marhaen, di dalam partai Nahdlatul ‘Ulama ya ada Marhaen, di dalam Gerwani ya ada Marhaen, Marhaen di dalam arti rakyat Indonesia dari segala golongan yang kecil itu tadi, yang tidak bisa diberikan nama kepadanya proletar.

Saya mencari satu istilah baru untuk menggambarkan kekecilan daripada rakyat Indonesia ini, meskipun jumlahnya jutaan tetapi ekonominya kecil, saya carikan satu perkataan, satu istilah yaitu istilah Marhaen. Di dalam arti yang demikian itu, saya pakai perkataan marhaen itu tidak dengan ingatan kepada sesuatu partai. Marhaen daripada semua golongan ini harus dipersatupadukan, karena itu sejak daripada semula Angkatan penegas berkata: harus berdiri di platform revolusioner. Apa yang dinamakan revolusioner, revohsioner di dalam arti umgestaltung von grund auf, perubahan radikal revolusioner di dalam arti cukup dengan kehendak zaman yang cepat revolusioner di dalam arti menentang kepada imperialisme. Semua golongan yang ikut aliran zaman yang cepat semua golongan yang hendak menumbangkan imperialisme, semua golongan itu adalah revolusioner. Ya dari buruh, ya dari tani, ya dari golongan apapun.

Dus istilah revolusioner saudara-saudara, jangan saudara campurkan kepada, misalnya revolusioner harus proletar, atau revolusioner harus orang yang berdiri di atas taraf, di atas platform demokrasi formil, atau revolusioner harus orang sosialis. Sosialis di dalam arti, bukan PSI, tetapi di dalam arti menghendaki masyarakat sama rata sama rasa tanpa kapital-isme. Jangan dihubungkan dengan tiga hal ini. Revolusioner tidak harus hanya orang proletar saja, tidak harus hanya orang sosialis saja, tidak harus hanya orang yang berdiri di atas dasar demokrasi formil. Revolusioner adalah tiap-tiap orang yang menentang imperialisme, revolusioner adalah dus tiap-tiap orang yang mengikuti kehendaknya zaman yang cepat. Misalnya kalau saudara-saudara berkata: tidak, revolusioner harus proletar. Tidak klop, saudara-saudara, sebab ada juga golongan-golongan proletar yang tidak revolusioner, misalnya gerakan kaun buruh di Inggris yang telah saya ceriterakan, gerakan kaum buruh di Inggris yang terdiri dari proletar-proletar, saudarasaudara.

Sejak daripada pemimpinnya entah yang namanya Mac Donald, sebutlah pemimpin Labourparty Inggris Atlee, sampai kepada anggotanya, taxi driver, atau machineworker atau dockworker, semuanya proletar. Atlee dahulu kaum proletar, Mac Donald adalah kaum buruh pertambangan batubara, proletar. Begitu pula anggota-anggotanya, semuanya proletar tetapi sama sekali tidak revolusioner, sebab misalnya menentang kepada kemerdekaan penuh daripada bangsa-bangsa, menentang kepada gerakan anti kolonialisme 100%, menentang kepada memberi kemerdekaan penuh pada India. Atlee memberi kemerdekaan kepada India, kalau boleh dipakai perkataan memberi, sebab kemerdekaan India adalah hasil keringat rakyat India sendiri, di dalam bentuk dominion status, belakangan kataku tadi wet 1947 dominion status, tahun 1950 oleh perjuangan rakyat India sendiri, dirubah menjadi Republik masih di dalam gabungan commonwealth. Dus proletar Inggris saudara-saudara, tidak revolusioner, dus tidak klop bahwa perkataan revolusioner harus proletar. Demikian pula saudara-saudara akan berkata: revo-lusioner itu harus sosialis, di dalam arti tadi masyarakat sama rasa sama rata tanpa kapitalisme. Tidak klop lagi. Misalnya gerakan dari rakyat Mesir, revolusioner yang sekarang memun-cak kepada gerakan di bawah pimpinan Gamal Abdul Nasser, revolusioner tetapi mereka tidak terdiri dari kaum sosialis.

Bahkan aku pernah membaca satu uraian yang menamakan gerakan Amanullah Khan dari Afganistan itu revolusioner, Amanullah Khan adalah seorang raja Afganistan yang di dalam tahun 1926 mencoba menumbangkan imperialisme Inggris. Tetapi gagal. Amanullah Khan sama sekali bukan proletar, sama sekali bukan sosialis, bahkan namanya Khan, kalau bahasa Indonesia Khan itu barangkali Raden Mas Panji Ario. Amanullah Khan di dalam tulisan ini yang ditulis oleh seorang pemimpin besar revolusi. Dus tidak klop kalau kita berkata: revolusioner harus sosialis. Demikian pula tidak klop kalau dikatakan revolusioner harus orang yang berdiri di atas platform demokrasi formil. Apa demokrasi formil itu? Demokrasi yang menghendaki parlemen, pungut suara, stem-steman itulah yang dinamakan formele democratie. Dengan cara Parlemen yang begini, jangan berkata bahwa orang revolusioner hanyalah orang yang berdiri di atas platform parlemen-parlemenan, pungutan suara, demokrasi formil, tidak. Seperti Amanullah Khan itu tadi, yang bukan seorang demokrat formil, dia bahkan orang Khan, orang raja yeng memerintah tidak dengan parlemen tetapi toh oleh seorang penulis revolusioner ini dinamakan revolusioner. Nah ini saudara, masukkan di dalam gerakan rakyat, bahwa semua harus revolusioner, artinya semuanya harus menentang imperialisme, sebab siapa menentang imperialisme, buruhkah, tanikah, pegawaikah, orang dari golongan agamakah, sosialis-kah, proletarkah, demokrasi formilkah, bukan proletarkah, bukan sosialiskah, bukan demokrasi formilkah, siapa yang menentang imperialisme ada-lah revolusioner. Ini adalah satu slogan mempersatu daripada segenap kaum kecil Indonesia yang tadi kuterangkan.

Dus, gerakan rakyat Indonesia ialah yang akhirnya bisa berhasil menggerakkan 17 Agustus 1945, sebagai yang sudah saya gambarkan pada pidato 20 Mei, demikian pula sejak 17 Agustus 1945 sampai pengakuan kedaulatan tahun 1950 ternyata satu gerakan persatuan.

Berlainan sekali dengan gerakan India yang pada hakekat-nya ialah gerakan kaum pertengahan dan borjuis menunggangi kaum proletar, berlainan sekali dengan gerakan revolusi Perancis, berlainan dengan gerakan revolusi Amerika. Kita adalah satu gerakan dari seluruh rakyat dengan dasar persatuan dan revolusioner. Nah, saudara-saudara mengerti sekarang background daripada pahampaham ini, dengan background inilah saudara-saudara dicarikan kemudian formulering sebagai weltanschauung agar supaya kita dapat meletakkan negara yang akan kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 itu di atasnya, yaitu Pancasila, Pancasila kecuali satu weltanschauung adalah alat pemersatu, dan siapa tidak mengerti perlunya persatuan, siapa tidak mengerti bahwa kita hanyalah dapat merdeka dan berdiri tegak merdeka, jikalau kita bersatu, siapa yang tidak mengerti itu, tidak akan mengerti Pancasila.

Kejadian-kejadian yang akhir-akhir ini, saudara-saudara, membuktikan sejeias-jelasnya bahwa jikalau tidak di atas dasar Pancasila kita terpecah belah, membuktikan dengan jelas bahwa hanya Pancasilalah yang dapat tetap mengutuhkan Negara kita, tetap dapat menyelamatkan Negara kita. Oleh karena itu saya harap saudara-saudara nanti kalau saya sudah menguraikan Pancasila ini selalu ingat kepada background yang pada malam ini saya berikan kepada saudara-saudara, bahwa kita membutuhkan persatuan dan bahwa Pancasila adalah kecuali satu weltanschauung adalah satu alat pemersatu daripada rakyat Indonesia yang aneka warna ini.

Sekarang saudara-saudara telah pukul 10 lebih 3 menit, saya kira sudah cukuplah sebagai inleiding. Insya Allah dua pekan lagi akan saya mulai mengupas Pancasila, sila per sila.

Sekian.