Andreas: The Legend of St. Andrew

Chapter 2

Chapter 2604 wordsPublic domain

Dengarkanlah bagaimana redakturnya "De Vlam", surat bulanannya Stenhuis, mencela akan sikapnya kaum sosialis "yang takut akan luput-tangkap" itu: – luput­ tangkap "memang bisa terjadi pada setiap orang yang menangkap; hanya siapa yang tidak menangkap, tidaklah bisa luput-tangkap. Bagi kita, siapa yang berbuat, dan kadang-kadang luput akan apa yang dimaksudkannya, adalah lebih utama daripada orang yang karena takut akan luput-tangkapnya itu, lantas tidak menangkap sama sekali" … "Aileen wie niet grijpt, kunnen geen misgrepen overkomen. Ons is de doener, die 't wel eens mis heeft liever als degeen, die uit angst om mis to grijpen, het grijpen zelf maar liever laat"

Memang sebenarnya! Siapa yang menangkap dan kadang-kadang luput-tangkapnya, adalah lebih utama daripada siapa yang tidak menang­kap sama sekali, oleh karena takut akan luput-tangkapnya itu.

Kaum sosialis zaman sekarang lupa akan moral ini. Mereka, di dalam adatnya terlampau sekali menghitung-hitung, seringlah lantas jatuh ke dalam soal yang kecil-kecil, seringlah jatuh ke dalam details; mereka, oleh opportunismenya dan possibilismenya, seringlah menjadi terbenam di dalam opportunismenya dan possibilismenya itu.

Mereka oleh karenanya sering pula lalu lupa akan soal yang besar, lupa akan "de grote lijn" … Oleh lupanya akan grote lijn dan terlampau menghitung-hitungnya barang yang kecil-kecil; oleh opportunismenya dan possibilismenya, maka kaum sosialis itu senantiasa berselisihan dengan kaum radikal, berselisihan dengan kaum yang terus sahaja disebut kaum "demonstrasi dan agitasi" olehnya, – bukan sahaja kaum komunis atau bolshevis, tetapi juga kaum sosialis yang radikal, juga kaum nasionalis kiri di mana-mana negeri jajahan. Opportunisme dan possibilisme inilah juga yang pada hakekat­nya menggerakkan pena saudara Mohammad Hatta itu … Kita, kaum nasional Indonesia, tidak mengatakan, bahwa kita harus meremehkan kekuatannya musuh; kita tidak mengatakan bahwa kita harus hamuk-­hamukan sahaja, dengan tidak menimbang-nimbang lebih dulu buah­ hasilnya tiap-tiap tindakan kita.

Kita bukan bolshevis, kitapun b u k a n anarchis. Tetapi kita toch harus ingat, bahwa pertama-tama kita harus mengikuti, "grote lijn" itu, pertama-tama kita harus senantiasa insyaf akan m a k s u d

pertama-tama daripada kita punya pergerakan, yakni Indo­nesia-Merdeka! Ya, tidak kurang dan tidak lebih Indonesia-Merdeka, dengan jalan yang cepat. Dan bukan sahaja mengejar Indonesia­ Merdeka sambil memperbaiki susunan-susunan pergaulan-hidup kita yang morat-marit itu, tetapi pertama-tama mengejar Indonesia-Merdeka untuk memperbaiki kembali; kita punya pergaulan-hidup itu! Kemerde­kaan inilah yang pertama-tama; kemerdekaan inilah yang primair.

Begitulah pemandangan kita atas perbantahan Mohammad Hatta – Stokvis itu. Tak usah kita katakan, bahwa kita tidak bermusuhan dengan tuan Stokvis atau dengan I.S.D.P., dan t i d a k bermaksud memutuskan persahabatan kita dengan Stokvis c.s. itu. Persahabatan ini kita hargakan besar. Kita hanya bermaksud ikut memikirkan soal perbantahan itu. Dan jikalau di dalam tulisan ini ada beberapa bagian yang tidak nyaman didengarkan oleh Stokvis c.s.; jikalau di dalam tulisan ini kita kerap kali "keras perkataan", maka itu hanyalah terjadi oleh perbedaan-azas dan oleh perbedaan-pendirian antara kita dan Stokvis c.s. itu sahaja … Perbedaan-azas dan perbedaan-pendirian memang ada di mana-mana. Oleh perbedaan-perbedaan inilah makanya ada bermacam-macam-partai!

Kaum nasional Indonesia berjalan terus; kaum I.S.D.P.

hendaklah juga berjalan terus. Begitulah harapan kita …

Dan dengan lebih teguh keyakinan kita, bahwa nasib kita ada di

dalam genggaman kita sendiri … ; dengan lebih teguh keinsyafan kita, bahwa kita harus percaya akan kepandaian dan tenaga kita

s e n d i r i dengan menolak tiap-tiap politik opportunisme dan tiap-tiap politik possibilisme, yakni tiap-tiap politik yang menghitung-hitung: ini-tidak-bisa dan itu­ tidak-bisa, maka kita bersama Mahatma Gandhi berkata: ” Siapa mau men c ari mutiara, haruslah berani selam ke dalam laut y ang sedalam-dalamn c a; siapa y ang dengan ke c il-hati berdiri di pinggir sahaja dan takut akan terjun ke dalam air, ia tak akan dapat sesuatu apa ! ”

"Suluh Indonesia Muda", 1928