Part 8
Bagaimana dan demokrasi yang harus dituliskan di atas bendera kita, – yang harus kita adakan di seberang jembatan-emas? Demokrasi kita haruslah demokrasi baru, demokrasi sejati, demokrasi yang sebenar-benarnya pemerintahan Rakyat. Bukan "demokrasi" a l a Eropah dan Amerika yang hanya suatu "portret dari pantatnya" demokrasi-politik sahaja, bukanpun demokrasi yang memberi kekuasaan 100% pada Rakyat di dalam urusan politik sahaja, tetapi suatu demokrasi politik dan ekonomi yang memberi 100% kecakrawartian pada Rakyat-jelata di dalam urusan politik dan urusan ekonomi. Demokrasi politik dan ekonomi inilah satu-satunya demokrasi yang boleh dituliskan di atas bendera partai, – ditulis dengan aksara-aksara-api sebagai di atas saya katakan, agar supaya menyala-nyala tertampak dari ladang dan sawah dan bingkil dan paberik di mana Marhaen berkeluh-kesah mandi keringat mencari sesuap nasi.
Dengan demokrasi-politik dan demokrasi-ekonomi itu, maka nanti di seberangnya jembatan-emas masyarakat Indonesia bisa diatur oleh Rakyat sendiri sampai selamat, – dibikin menjadi suatu masyarakat yang tiada kapitalisme dan imperialisme. Dengan demokrasi-politik dan ekonomi itu, maka nanti Marhaen bisa mendirikan staat Indonesia yang tulen staatnya Rakyat, suatu staat yang segala urusannya politik dan ekonomi adalah oleh Rakyat, dengan Rakyat, bagi Rakyat. Bukan sistim feodalisme, bukan sistim mengagungkan raja, bukan sistim constitutioneel monarchie yang walau memakai parlemen tokh masih memakai raja, bukanpun sistim republik yang sebagai di Perancis-sekarang atau di Amerika-sekarang yang sebenarnya suatu sistim-republik daripada "demokrasinya" kapitalisme, – tetapi sistim politiek-economische republiek yang segala-galanya tunduk kepada kecakrawartian Rakyat. Urusan politik, urusan diplomasi, urusan onderwijs, urusan bekerja, urusan seni, urusan kultur, urusan apa sahaja dan terutama sekali urusan ekonomi haruslah di bawah kecakrawartian Rakyat itu: Semua perusahaan-perusahaan-besar menjadi miliknya staat, – staatnya Rakyat, dan bukan staatnya burjuis atau ningrat semua hatsil-hatsil perusahaan-perusahaan
itu bagi keperluan Rakyat, semua pembahagian hatsil itu di bawah pengawasan Rakyat. Tidak boleh ada satu perusahaan lagi yang secara kapitalistis menggemukkan kantong seseorang burjuis ataupun menggemukkan kantong burgerlijke staat, tetapi masyarakatnya Politiek-Economische Republik Indonesia adalah gambarnya satu kerukunan Rakyat, satu pekerjaan-bersama daripada Rakyat, satu kesama-rasa-sama-rataan daripada Rakyat.
Inilah demokrasi sejati yang kita cita-citakan, dan yang saya sebutkan dengan nama-baru sosio-demokrasi. Inilah demokrasi-tulen yang hanya bisa timbul dari nasionalisme Marhaen, dari nasionalisme yang di dalam bathinnya sudah mengandung kerakyatan-tulen, yang anti tiap-tiap macam kapitalisme dan imperialisme walaupun dari bangsa sendiri, yang penuh dengan rasa-keadilan
dan rasa kemanusiaan yang menolak tiap-tiap sifat keburjuisan dan keningratan,—nasionalisme-kerakyatan yang saya sebutkan pula dengan nama-baru sosio-nasionalisme. Hanya sosio-nasionalisme bisa melahirkan sosio-demokrasi, nasionalisme lain tidak bisa dan tidak akan melahirkan sosio-demokrasi. Siapa yang berkemak-kemik "sosio-demokrasi" tetapi dadanya masih berisi sifat-sifat keburjuisan atau keningratan walau sedikitpun jua, ia adalah seorang munafik yang b e r muka dua!
Nasionalisme partai-pelopor hanyalah boleh satu: sosio-nasionalisme, dan tidak lain! Lemparkanlah jauh-jauh nasionalisme keburjuisan dan nasionalisme keningratan, bantingkanlah menjadi debu nasionalisme keburjuisan dan nasionalisme-keningratan itu di atas siti bantala-nya kerakyatan massa! Pembaca belum tahu nasionalisme-keburjuisan, belum mengerti nasionalisme-keningratan? Amboi, masih banyak sekali orang-orang di antara nasionalisten kita, yang saban hari bercita-cita "menasionalismekan" negeri kita menjadi "negeri-besar" seperti Jepang atau Amerika atau Inggeris, kagum melihat armadanya yang ditakuti dunia, kota-kotanya yang haibat, bank-banknya yang tersebar di seluruh dunia, benderanya yang berkibar
di mana-mana, – kagum ingin moga-moga negeri Indonesia kelak juga menjadi "negeri-besar" semacam itu. Akh, ini kaum nasionalis-burjuis! – Mereka tak terkena hati bahwa baring yang dinamakan haibat-haibat itu adalah hatsilnya kapitalisme, alat-alatnya kapitalisme, dan bahwa Rakyat-jelata di negeri-negeri yang disebutkan "negeri jempol" itu adalah tertindas dan sengsara. Memang mereka punya nasionalisme bukanlah nasionalisme kemanusiaan, bukan nasionalisme yang ingin keselamatan massa, mereka punya nasionalisme adalah nasionalisme burjuis yang paling jauh hanya ingin Indonesia-Merdeka sahaja, dan tidak mau merobah susunan masyarakat sesudah Indonesia-Merdeka. Mereka bisa juga revolusioner, tetapi burjuis-revolusioner, tidak Marhaenistis-revolusioner, tidak sosio-revolusioner! 1)
Dan nasionalisme-keningratan? Haha, itu juga masih banyak sekali pengikutnya. Mereka pengikut nasionalisme ini memang biasanya kaum ningrat, yang darahnya ningrat, adatnya ningrat, hatinya ningrat, segala jasmani dan rokhaninya ningrat. Mereka masih hidup di dalam keadatan feodalisme, angler di dalam tradisi feodalisme, yang
m e r e k a menjadi "kepala-kepalanya" Rakyat, dan m e r e k a menjadi "pohon beringin" yang melindungi Rakyat. Mereka biasanya setia sekali pada kaum pertuanan, setia sekali pada kaum yang di atas, – okh, juga di zaman feodalisme mereka setia-tuhu kepada Sang Nata tetapi ada di antara mereka yang ngalamun Indonesia-Merdeka. Tetapi menurut cita-citanya, di dalam Indonesia-Merdeka itu merekalah yang harus menjadi "kepala", m e r e k a- lah yang tetap harus menjadi kaum yang memerintah, m e r e k a !, yang sejak zaman purbakala, sejak feodalisme-Hindu dan sejak feodalisme ke-Islam-an tokh sudah menjadi "pohon beringin" yang melindungi kaum "kawulo".
Awas, kaum Marhaen, awas dengan nasionalisme-keburjuisan dan nasionalisme-keningratan itu! Ikutilah hanya itu partai sahaja yang benderanya menyala-nyala dengan semboyan sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi, teriakkanlah semboyan sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi itu dengan suara yang mendengung menggetarkan langit, gemuruh sebagai guruhnya guntur. Dengungkanlah sampai melintasi tanah-datar dan gunung dan samodra, bahwa Marhaen di seberangnya jembatan-emas akan mendirikan suatu masyarakat yang tiada keningratan dan tiada keburjuisan, tiada kelas-kelasan dan tiada kapitalisme.
Dan bukan sahaja mendengungkan suara! Partai-pelopor harus dari kini mendidik massa itu ke dalam "prakteknya" sosio-demokrasi dan sosio-nasionalisme, "menyediakan" massa untuk laksananya janji sosio-demokrasi dan sosio-nasionalisme. Partai-pelopor harus dari kini sudah menebar-nebarkan benih kesama-rata-sama-rasaan di dalam kalbunya massa, menebar-nebar-pula benih "gotong royong" di dalam hatinya massa, agar supaya massa yang berabad-abad kena penyakit individualisme 2) itu, sudah dari kini mulai menjadi "manusia baru" yang merasa dirinya "manusia masyarakat" yang selamanya mementingkan keselamatan umum. Partai-pelepor harus mendidik teorinya dan prakteknya "kemasyarakatan"
itu dengan tak jemu-jemu menunjukkan kejahatan individualisme, membongkar-bongkar kejahatannya kapitalisme, menganjurkan dan memfiilkan pekerjaan bersama, mendirikan dan menjalankan koperasi-koperasi yang radikal, mendirikan dan memperjoangkan vakbond-vakbond dan sarekat-sarekat-tani radikal,— terutama koperasi-radikal, vakbond radikal, sarekat tani radikal ! -, pendek-kata mulai sekarang dengan cara radikal menjelmakan Insan-manusia-masyarakat di dalam tiap-tiap perjoangannya, di dalam tiap-tiap sepak-terjangnya, di dalam tiap-tiap politiknya.
1) Buat arti "revolusioner" lihatlah saya punya pleidooi.
2) Individualisme = perseorangan diri.
Strijdprogram dan staatprogram partai-pelopor itu harus strijdprogram dan staatprogramnya Manusia-masyarakat, strijdprogram dan staatprogram itu haruslah suatu oorlogsverklaring alias penan tanganperang kepada segala macam individualisme. Segala azasnya partai, segala azas-perjoangannya partai, segala taktiknya partai, segala perjoangannya partai, – perjoangan mendatangkan Indonesia-Merdeka, perjoangan memberantas aturan-aturan yang jelek, perjoangan buat perbaikan-perbaikan-ini-hari d.1.s. -, segala gerak-bangkit jasmani dan rokhaninya partai itu haruslah suatu hantaman kepada individualisme, suatu malapetaka kepada individualisme, untuk keprabon Insan Manusia-masyarakat.
Bahagialah partai-pelopor yang demikian itu!
Bahagialah massa yang dipelopori partai yang demikian itu!
Hiduplah sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi!
10. MENCAPAI INDONESIA-MERDEKAI
Sekarang, kampiun-kampiun kemerdekaan, majulah ke muka, susunlah pergerakanmu menurut garis-garis yang saya guratkan di dalam risalah ini. Haibatkanlah partainya Marhaen, agar supaya menjadi partai-pelopornya massa. Hidupkanlah semua semangat yang ada di dalam dadamu, haibatkanlah semua kecakapan-mengorganisasi yang ada di dalam tubuhmu, haibatkanlah semua keberanian banteng yang ada di dalam nyawamu, tumpahkanlah semangat dan kecakapan-mengorganisasi dan keberanian-banteng itu ke dalam tubuhnya partai, tumpahkanlah kelaki-lakian itu ke dalam badannya massa, agar supaya massa seolah-olah ketitisan kembali oleh segala kelaki-lakiannya dari zaman sediakala, ketitisan pula oleh kelaki-lakian baru daripada moderne massa-aksi. Kamu kampiun-kampiunnya pena, gerakkanlah penamu setajam udung Jemparingnya Rama, kamu kampiun-kampiun organisator, susunlah bentengnya harapan Rakyat menjadi benteng yang menahan gempa, kamu kampiun-kampiunnya mimbar, dengungkanlah suara-bantengmu hingga menggetarkan udara.
Tumpahkanlah segenap jiwa-ragamu ke dalam partainya massa, tumpahkanlah segenap jasmani dan rokhanimu ke dalam perjoangannya massa, tumpahkanlah segenap nyawamu menjadi api-kesedaran dan api-kemauan massa.
Hidupkanlah massa-aksi, untuk mencapai Indonesia-Merdeka!
Catatan kaki
Pranala luar https://archive.org/details/soekarnomentjapaiindonesiamerdeka/