Part 7
Tambahnja kesengsaraan diharapkan buat tambahnya radikalisme? Pemimpin-bejat, buat saya, lemparkanlah kalau perlu semua radikalisme ke dalam samodra, asal kesengsaraan Rakyat hilang! Pemimpin bodoh, – mengira bahwa kesengsaraan sahaja sudah bisa melahirkan radikalisme massa! Radikalisme massa tidak bisa lahir dengan hanya kesengsaraan sahaja, tidak bisa subur dengan hanya kemelaratan s a h a j a. Radikalisme massa adalah lahir daripada perkawinannya kesengsaraan massa dengan didikan massa, perkawinannya kemelaratan massa dengan perjoangan massa! Jikalau kesengsaraan s a h a j a sudah cukup buat melahirkan radikalisme massa, amboi, barangkali seluruh Rakyat Indonesia kini sudah radikal mbahnya radikal, ya barangkali Indonesia sudah merdeka! Tetapi tidak! Kesengsaraan sahaja tidak cukup! "Kesengsaraan memang benar melahirkan radikalisme massa, tetapi hanya kalau massa itu t i d a k memikul kesengsaraan itu dengan diam-diam nrimo, melainkan berjoang habis-habisan melawan kesengsaraan itu saban hari",- begitulah Liebknecht pernah berkata. 1 Hanya jikalau kesengsaraan itu dibarengi dengan didikan massa, dibarengi dengan perjoangan massa, dengan perlawanan massa, dengan aksi massa menentang kesengsaraan itu, maka kesengsaraan bisa melahirkan dan menyuburkan radikalisme di antara kalangan massa. Maka oleh karena itu, dengan kesengsaraan yang s e k a r a n g ini sahaja, – zonder harus mengharapkan lagi tambahnya, sebagai kaum Wanhoopstheorie partai-pelopor sudah bisa membikin seluruh massa menjadi satu lautan radikalisme yang bergelombang-gelombangan, asal sahaja ia pandai membuka mata massa dan pandai mengolah tenaga massa melawan kesengsaraan itu!
Dan kaum Wanhoopstheorie memberi bukti tidak bisa mengerjakan hal yang belakangan ini. Terkutuklah mereka kalau lantas mendo'akan tambahnya kesengsaraan Rakyat! Audzhubillah himinasj syaitonirrodzjim! Tetapi kaum partai-pelopor yang sejati, kamu harus bisa mengerjakan syarat itu! Adakanlah propaganda di mana-mana, adakanlah kursus di mana-mana, adakanlah perlawanan di mana-mana, adakan anak-anak‑organisasi, adakan vakbond-vakbond, adakan sarekat-sarekat-tani, – ya terutama vakbond dan sarekat-tani -, adakan majallah‑majallah dan pamflet-pamflet dan risalah-risalah, pendek-kata adakanlah aksi di mana-mana, dan massa yang tahadinya tidur seakan-akan tergendham oleh japa-mantramnya imperialisme, niscaya akan bangunlah tertiup oleh angin-hangatnya aksimu itu. Kamu sanggup bekerja, – wahai bekerjalah menurut perjanjianmu. Bekerjalah dengan segala organisatie talentmu, bekerjalah sepuncak keuletanmu, bekerjalah memeras tenagamu menyusun dan membangkitkan partai beserta vakbondvakbond dan s a r e k a t -t a n i sekali lagi terutama vakbond dan sarekat-tani! -, bekerjalah pula dengan penamu, dengan mulutmu, dengan gurungmu, dengan lidahmu!
Ya, di dalam massa-aksi ada faedahnya juga banyak bergembar-gembor! Gemborkanlah juga gurungmu sampai suaramu memenuhi alam, gerakkanlah juga penamu sampai ujungnya menyala-nyala. Kaum reformis mengejekkan kamu, bahwa kamu terlalu banyak bergembar-gembor? Haha, itu kaum ngalamun! Tidak mengetahui bahwa tiap-tiap massa-aksi di tiap-tiap waktu pergolakan adalah berupa banyak mengorganisasi d a n banyak bergembar-gembor, banyak menyusun, banyak mendirikan, banyak krachten-constructie dan-fonnatie dan-combinatie, tetapi juga banyak bergembar-gembor dengan mulut dan dengan pena. Biar mereka mengejek, biar mereka terus ngalamun, merekapunya politik toch segera akan kedinginan di dalam kabut-pengalamunannya itu. Dan mereka menyebutkan kita kaum "destructief", yakni kaum yang "hanya bisa merusak sahaja", katanya tidak "constructief" seperti mereka, yang "politik"nya ada "buktinya" yang berupa rumah-sakit atau warung-koperasi atau bank atau rumah anak-yatim?
1) Die Verelendung wird zu ether Ursache der Radikalisierung der Massen, aber nur deshalb, weil die Massen die wachsende Verelendung nicht passiv ertragen, sondern einen taglichen Kampf gegen die Verelendung fiihren.
0, perkataan jampi-jampi, o, perkataan peneluh, o, perkataan mantram, o, tooverwoord "constructief" dan "destructief", – begitulah saya pernah marah-marah dalam S.I.M. 1) dan F.R. 2 Sebagian besar daripada pergerakan Indonesia kini seolah-olah kena dayanya tooverwoord itu, sebagian besar daripada pergerakan Indonesia seolah-olah kena gendhamnya mantram itu! Sebagian besar daripada pergerakan Indonesia mengira, bahwa orang adalah "constructief" hanya kalau orang mengadakan barang-barang yang boleh d i r a b a sahaja, yakni h a n y a kalau orang mendirikan warung, mendirikan koperasi, mendirikan sekolah-tenun, mendirikan rumah anak-anak-yatim, mendirikan bank-bank dan lain-lain sebagainya sahaja, pendek-kata hanya kalau orang banyak mendirikan badan-badan sosial sahaja! -, sedang kaum propagandis politik yang sehari-ke sehari "cuma bitcara sahaja" di atas podium atau di dalam surat-kabar, yang barangkali sangat sekali menggugahkan k e i n s y a f a n politik daripada Rakyat-jelata, dengan tiada ampun lagi diberinya cap "destructief" alias orang yang "merusak" dan "tidak mendirikan suatu apa"!
Tidak sekejap mata masuk di dalam otak kaum itu, bahwa semboyan "jangan banyak bicara, bekerjalah!" harus diartikan di dalam arti yang luas. Tidak sekejap mata masuk di dalam otak kaum itu, bahwa "bekerja" itu tidak hanya berarti mendirikan barang-barang yang boleh dilihat dan diraba sahaja, yakni barang-barang yang tastbaar dan materiil. Tidak sekejap mata kaum itu mengerti bahwa perkataan "mendirikan" itu juga boleh dipakai untuk barang yang abstract, yakni juga bisa berarti mendirikan semangat, mendirikan keinsyafan, mendirikan harapan, mendirikan ideologi atau geestelijk gebouw atau geestelijke artillerie yang menurut sejarah-dunia akhirnya adalah salah satu artillerie yang haibat buat menggugurkan sesuatu stelsel. Tidak sekejap mata kaum itu mengerti bahwa terutama sekali di Indonesia dengan masyarakat yang merk-kecil dan dengan imperialisme yang industriil itu, ada baiknya juga kita gembar-gembor, di dalam arti membanting kitapunya tulang, mengucurkan kitapunya keringat, memeras kitapunya tenaga untuk membuka-bukakan matanya Rakyat-jelata tentang stelsel-stelsel yang menyengkeram padanya, menggugah-gugahkan keinsyafan-politik daripada Rakyat-jelata itu, dibarengi dengan menyusun-nyusunkan segala tenaganya
di dalam organisasi-organisasi yang sempurna tekniknya dan sempurna disiplinnya, mitsalnya vakbond dan sarekat-tani, – pendek-kata menghidup-hidupkan dan membesar-besarkan massa-aksi daripada Rakyat jelata itu adanya!
1) "Suluh Indonesia Muda".
2) "Fikiran Rakyat".
Kita boleh mendirikan warung, kita boleh mendirikan koperasi, kita boleh mendirikan rumah-anak-yatim, kita boleh mendirikan badan-badan ekonomi dan sosial, ya, kita ada b a i k n y a mendirikan badan-badan ekonomi dan sosial, asal sahaja mengusahakan badanbadan-ekonomi dan sosial itu sebagai tempat-tempat pendidikan persatuan radikal dan sepak-terjang r a d i k a 1. Kita ada b a i k n y a mendirikan badan-badan-ekonomi dan sosial itu, asal sahaja kita tidak "me n g g e n u k i" pekerjaan-ekonomi dan sosial itu menjadi pekerjaan yang pertama, sambil melupakan bahwa Indonesia-Merdeka hanyalah bisa tercapai dengan politieke m a s s a a k t i e daripada Rakyat Marhaen yang haibat dan rad i k a l. Pendek-kata ada baiknya mendirikan badan-badan-ekonomi dan sosial itu, asal sahaja kita mengusahakan badan-badan ekonomi dan sosial itu sebagai alat-alat daripada politieke massa-aktie yang haibat dan radikal itu! Kita, kaum massa-aksi, kita jangan terkena "constructivisme" yang menjuruh kita h a n y a mendirikan warung-warung dan kedai-kedai s a h a j a. Kita harus insyaf, bahwa constructivisme kita bukanlah constructivismenya kaum reformis yang warung-warungan dan kedai-kedaian itu, tetapi ialah constructivismenya radikalisme: constructivisme yang tiap-tiap hal yang ia dirikan, baik wadag maupun halus, baik benda maupun semangat, adalah dengan tertentu bersifat radicaal-dynamisch membongkar tiap-tiap batu-alasnya gedung stelsel imperialisme dan kapitalisme.
Constructivisme yang mendirikan!
Tetapi juga constructivisme yang membongkar!
Dan kaum reformis boleh terus mengejek atau menggerutu!
9. DI SEBERANGNYA JEMBATAN EMAS
Ya, kaum reformis boleh terus mengejek dan menggerutu, sebagai kaum reformis India mengejek dan menggerutu, tapi kemudian kedinginan di dalam kabut-pengalamunannya, tatkala Jawaharlal Nehru di dalam National Congress yang ke 44 menjatuhkan vonnis maha-berat di atas pundak mereka dengan kata-kata: "Saya seorang nasionalis. Tetapi saya juga seorang sosialis dan republikein. Saya tidak percaya pada raja-raja dan ratu-ratu, tidakpun pada susunan masyarakat yang mengadakan raja-raja-industri yang berkuasa lebih besar lagi dari raja-raja di zaman sediakala Saya seorang nasionalis, tetapi nasionalisme saya adalah nasionalisme radikal daripada si melarat dan si lapar, yang bersumpah membongkar susunan masyarakat yang menolak padanya sesuap nasi!" Memang tiap-tiap orang, yang di dalam abad keduapuluh ini masih berani bernasionalisme ngalamun-ngalamunan dan takut akan nasionalisme radikal yang mentah-mentahan, akhirnya akan kedinginan tertinggal oleh hangatnya proses natuur sendiri, ia akhirnya binasa tertinggal oleh hangatnya proses natuur sendiri. Memang natuurnya abad keduapuluh bukanlah pengalamunan yang manis sebagai di zaman wayang-wayangan, – natuurnya abad keduapuluh adalah rebutan hidup cang mentah-mentahan. Memang Marhaen bergerak, – begitulah di atas telah saca kemukakan tidak karena "ideal-idealan", tidak karena "cita-citaan", Marhaen bergerak ialah tak lain tak bukan buat mencari hidup dan mendirikan hidup. Hidup kerezekian, hidup kesosialan, hidup kepolitikan, hidup kekulturan, hidup keagamaan, – pendek-kata hidup kemanusiaan yang leluasa dan sempurna, hidup-kemanusiaan yang secara manusia dan selayak manusia.
Adakah Indonesia-Merdeka bagi Marhaen menentukan hidup-kemanusiaan yang demikian itu? Indonesia-Merdeka sebagai saya katakan di atas adalah menjanjikan tetapi belum pasti menentukan bagi Marhaen hidup kemanusiaan yang demikian itu. Perjanjian itu barulah menjadi ketentuan, kalau Marhaen mulai sekarang sudah awas dan waspada, sedar dan prayitna, menjaga pergerakannya dan menyaring-nyaring maksud-maksud pergerakannya itu jangan sampai kemasukan zat-zat yang sebenarnya racun bagi Marhaen dan merusak pada Marhaen. Perjanjian itu barulah menjadi ketentuan, kalau Marhaen sedari sekarang sudah insyaf seinsyaf-insyafnya bahwa Indonesia-Merdeka hanyalah suatu jembatan, – sekalipun suatu jembatan emas! – yang harus dilalui dengan segala keawasan dan keprayitnaan, jangan sampai di atas jembatan itu Kereta-Kemenangan dikusiri oleh lain orang selainnya Marhaen.
Seberang jembatan itu jalan pecah jadi dua: satu ke Dunia Keselamatan Marhaen, satu kedunia kesengsaraan Marhaen; satu ke Dunia Sama-rata sama-rasa, satu ke dunia sama-ratap-sama-tangis. Cilakalah Marhaen, bilamana Kereta itu masuk ke atas jalan yang kedua, menuju kealamnya kemodalan Indonesia dan keburjuisan Indonesia! Oleh karena itu, Marhaen, awaslah awas! Jagalah yang Kereta Kemenangan nanti tetap di dalam kendalian kamu, jagalah yang politieke macht nanti jatuh di dalam tangan kamu, di dalam tangan besi kamu, di dalam tangan baja kamu!
Kamu sekarang mendengar dari kanan-kiri semboyan kerakyatan. Kaum radikal bersemboyan kerakyatan, kaum reformis bersemboyan kerakyatan, kaum banci bersemboyan kerakyatan, ya kaum burjuis dan ningratpun bersemboyan kerakyatan. Kamu sering mendengar semboyan demokrasi, tetapi apakah satu-satunya demokrasi yang bagi Marhaen dan dari Marhaen? Apakah satu-satunya demokrasi yang oleh partai-pelopor harus dituliskan dengan aksara-aksara api di atas benderanya, sehingga terang bisa terbaca di saat terang, dan lebih terang lagi di saat rintang-rintangan yang gelap gulita? Di dalam revolusi Perancis-pun orang berteriak-teriak demokrasi, berpekik dan bersemboyan demokrasi, bergembar-gembor dan bersumpah demokrasi, tetapi adakah Marhaen Perancis, yang ikut-ikut berteriak demokrasi dan membeli dengan darahnya kedatangan demokrasi itu, akhirnya mendapat demokrasi yang sebenar-benarnya, – tidakkah Marhaen Perancis itu sendiri ditelan habis-habisan oleh demokrasi itu yang sampai kini saban-saban menghantam anak cucunya dan menelan turun-turunannya?
Ya, marilah kita ingat akan pelajaran revolusi Perancis itu. Marilah ingat akan bagaimana kadang-kadang palsunya semboyan demokrasi, yang tidak menolong Rakyat-jelata bahkan sebaliknya mengorbankan Rakyat-jelata, membinasakan Rakyat-jelata sebagaimana telah terjadi di dalam revolusi Perancis itu. Marilah kita awas, jangan sampai Rakyat-jelata Indonesia tertipu oleh semboyan "demokrasi" sebagai Rakyat-jelata Perancis itu, yang akhirnya ternyata hanya diperkuda belaka oleh kaum burjuis yang bergembar-gembor "demokrasi", – kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan – , tetapi sebenarnya hanya mencari kekuasaan sendiri, keenakan sendiri, keuntungan sendiri! Riwayatnya penipuan Perancis ini?
Sebelum silamnya abad kedelapanbelas, maka negeri Perancis adalah negeri yang feodal dengan cara-pemerintahan otokrasi: Kekuasaanpemerintahan adalah di dalam tangannya seorang-orang raja, yang tiap perkataannya menjadi wet, tiap pendapatnya menjadi hukum, tiap titahnya menjadi nasib seluruh negeri. Ia memandang dirinya sebagai wakil Allah di dunia, memandang kekuasaannya sebagai gantinya kekuasaan Allah di muka bumi, ia berkata bahwa sebenarnya "staat" tidak ada, – staat adalah dia sendiri. Dan kekuasaan seorang-diri ini, yang Rakyat-jelata samasekali tidak mendapat bagian seujung kukupun jua, kekuasaan ini ia bentengi dengan kesetiaannya kaum ningrat dan kaum penghulu-agama, ia bentengi dengan ketuhanannya kaum adel dan kaum geestelijkheid. Teguh maha-teguhlah tampaknya feodalisme ini di tengah-tengah lautan masyarakat Eropah, berdiri seakan-akan batu-karang ditengah lautan itu lebih dari sepuluh abad lamanya, sampai … sampai pada waktu silamnya abad kedelapanbelas lautan itu sekonyong-konyong bergelombang-gelombangan dan berarus-arusan, bergelombang membanting di atas karang itu dan memecahkan segala bagian-bagian dari karang itu.
Apa yang telah terjadi? Dari dalam dasar-dasarnya lautan masyarakat feodal itu lambat-laun timbullah satu golongan-manusia baru, satu kelas baru, satu elemen baru yang penghidupannya ialah dari mengusahakan tenaga orang lain: kelas baru atau elemen baru daripada kaum burjuis. Mereka punya perusahaan, merekapunja perniagaan, mereka punya pertukangan, mereka punja arti-ekonomi mulai timbul. Tetapi tidak bisa subur perusahaan dan perniagaan ini dan pertukangan ini, selama cara pemerintahan masih cara feodal, selama semua kekuasaan-pemerintahan masih digenggam si otokrat raja, – selama bukan kaum burjuis sendiri yang mengemudi perahu pemerintahan. Sebab merekalah, hanya merekalah, dan bukan kelas lain, – bukan kelas ningrat, bukan kelas penghulu agama, bukanpun raja sendiri hanya merekalah yang lebih tahu mana hukum-hukum, mana aturan-aturan, mana cara-pemerintahan yang paling baik buat suburnya mereka punya perusahaan dan mereka punya perniagaan. Oleh karena itu maka mereka lalu bersedia-sedia merebut kekuasaanpemerintahan dari tangannya raja, menggugurkan stelsel feodalisme
yang menghalang-halangi suburnya mereka punya perusahaan dan perniagaan itu dari singgasananya yang ia duduki lebih dari sepuluh abad itu!
Tetapi, akh, kaum burjuis tidak mempunyai kekuatan. Kaum burjuis tidak mempunyai cukup kekuatan untuk menghancurkan sitiinggilnya otokrasi yang dibentengi dengan kesetiaannya kaum ningrat dan kaum penghulu-agama itu. Ha, jatuhlah merekapunya mata pada Rakyat jelata yang milyun-milyunan itu. Sejak puluhan tahun kaum burjuis itu memang saban-saban mendengar guruh pelan-pelan yang keluar dari kalangan Rakyat-jelata itu, gemertaknya gigi Rakyat-jelata yang marah karena nasib yang kelewat sengsara. Memang di zaman feodalisme itu Rakyat-jelata ditindas habis-habisan, diperas semua kepunyaannya, dirampas semua hak-haknya sehingga tinggal hak-menurut dan hak-mengambing belaka. Memang Rakyat-jelata sudah lama sekali kesal akan nasib yang lebih jelek daripada nasib binatang itu. Tidakkah gampang kalau kaum burjuis di dalam usahanya merebut politieke macht daripada raja dan ningrat, memakai tenaga Rakyat-jelata itu? Tokh Rakyat-jelata tidak sedar, tokh Rakyat-jelata tidak bewust, tokh Rakyat-jelata tidak akan tahu-menahu bahwa ia hanya disuruh "mengupas nangka" dan "kena getah" sahaja, – burjuis nanti yang "makan nangkanya"!
Dan burjuis lalu menjalankan kecerdikan ini! "Hiduplah demokrasi!", "hiduplah kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan!", "hiduplah liberte, egalite dan fraternite !", – semboyan-semboyan ini ia dengung-dengungkan sehingga memenuhi angkasa, semboyan-semboyan ini ia kobar‑kobarkan di kalangan Rakyat-jelata. Sebagai simum Rakyat-jelata lantas bergerak, api-kehaibatan pergerakannya sampai menjilat langit, bung dan angkasa Perancis gemetar dan pecah seakan-akan Krishna bertiwikrama. Lautan masyarakat Perancis yang tenang berabad-abad kini menjadi bergelombang-gelombangan molak-malik, – lautan mendidih yang hantaman-hantamannya membikin remuknya batu-karang feodalisme: Raja runtuh, kaum ningrat runtuh, kaum penghulu-agama runtuh, otokrasi runtuh, diganti dengan cara-pemerintahan baru yang bernama demokrasi. Di negeri diadakan parlemen, Rakyat "boleh mengirimkan utusan-utusannya ke parlemen itu", – diikuti oleh negeri-negeri Eropah Barat dan Amerika, yang semuanya kini juga meniru bersistim "demokrasi".
Ya, Inggeris kini mempunyai parlemen, Jerman kini mempunyai parlemen, negeri Belanda kini mempunyai parlemen, negeri Amerika, negeri Belgia, negeri Denemarken, negeri Zweden, negeri Swis, – semua "negeri sopan" kini mempunyai parlemen, semua "negeri sopan" kini bersistim "demokrasi" …
Tetapi … di semua "negeri-negeri sopan" itu kini hidup dan subur dan merajalela hantu kapitalisme! Di semua "negeri-negeri sopan"
itu kini Rakyat-jelata tertindas hidupnya, nasib Rakyat-jelata nasib kokoro, jumlahnya kaum penganggur yang kelaparan melebihi bilangan manusia. Di semua "negeri-negeri sopan" itu Rakyat-jelata tidak selamat, bahkan sengsara-keliwat-sengsara! Inikah hatsil "demokrasi" yang mereka keramatkan itu? Inikah "kerakyatan" yang di negeri Perancis mereka beli dengan ribuan mereka punya nyawa, dengan ribuan merekapunya bangkai, dengan ribuan pula kepalanya raja
dan kaum ningrat?
Akh, kaum burjuis! Kaum burjuis telah menipu mereka, memperkudakan mereka, mengabui mata mereka. Demokrasi yang mereka rebut dengan harga nyawa yang begitu mahal itu, demokrasi itu bukanlah demokrasi kerakyatan yang sejati, melainkan suatu demokrasi burjuis belaka, – suatu burgerlijke demokrasi yang untuk kaum burjuis dan menguntungkan kaum burjuis belaka. Akh, parlemen! Tiap-tiap kaum proletar kini namanya bisa ikut memilih wakil dan ikut dipilih jadi wakil ke dalam parlemen itu, tiap-tiap kaum proletar kini namanya bisa "ikut memerintah". Ya, tiap-tiap kaum proletar kini namanya bisa mengusir minister-minister, menjatuhkan minister-minister jatuh terpelanting dan kursinya. Tetapi pada saat yang ia namanya bisa menjadi "raja" di dalam parlemen itu, pada saat itu-juga ia sendiri bisa diusir dari pekerjaan di mana ia bekerja menjadi buruh dengan upah-kokoro, diusir dilemparkan di atas yjalan-rayanya pengangguran, yang basah karena airmata bini dan anak-anak yang kelaparan! Pada saat yang ia namanya bisa menjadi "raja" di dalam parlemen, pada saat itu-juga ia tak berkuasa sedikitpun jua menuntut upah-perkulian yang agak pantas, tak berkuasa sedikitpun menghalangi, yang stelsel kapitalisme menelan segenap ia punya badan dan segenap ia punya nyawa!
Bahwasanya, kaum Rakyat-jelata yang tahadinya dipakai tenaganya oleh kaum burjuis untuk merebut "demokrasi", tetapi yang kemudian ternyata kecele telah mendatangkan demokrasinya kapitalisme, kaum Rakyat-jelata itu kini pantas berbalik menolak demokrasi-palsu itu dengan perkataan-perkataan Jean Jaures, pemimpin kaum buruh Perancis, yang berbunyi: "Kamu, kaum burjuis, kamu mendirikan republik, dan itu adalah kehormatan yang besar. Kamu membikin republik teguh dan kuat, tak boleh dirobah sedikitpun jua, tetapi justru karena itu kamu telah mengadakan pertentangan antara susunan politik dan susunan ekonomi. Karena algemeen kiesrecht, karena pemilihan umum, kamu telah membikin semua penduduk bisa bersidang mengadakan rapat yang seolah-olah rapat daripada raja-raja. Merekapunya kemauan adalah sumbernya tiap wet, tiap hukum, tiap pemerintahan; mereka melepas mandataris, mereka melepas wetgever dan minister. Tetapi pada saat yang si buruh menjadi tuan di dalam urusan politik, pada saat itu juga ia adalah budak-belian di atas lapangan ekonomi. Pada saat yang ia menjatuhkan minister-minister, maka ia sendiri bisa diusir dari pekerjaan zonder ketentuan sedikit juapun apa yang esok harinya akan ia makan. Tenaga-kerjanya:hanyalah suatu barang belian, yang bisa dibeli atau ditampik semau-maunya kaum majikan. Ia bisa diusir dari bingkil, karena ia tak mempunyai:hak ikut menentukan aturan-aturan-bingkil, yang saban hari, zonder dia tapi buat menindas dia, ditetapkan oleh kaum majikan menurut semau-maunya sendiri.
Sekali lagi: inikah "demokrasi" yang orang keramatkan itu?
Bolehkah ini demokrasi menjadi impian kita? Tidak, dan sekali lagi tidak! Ini tidak boleh menjadi demokrasi yang harus kita tiru, tidak boleh menjadi demokrasi yang dengan aksara api harus dituliskan di atas bendera-bendera partai-pelopornya massa-aksi Indonesia.
Saba !) "demokrasi" yang begitu hanyalah "demokrasi" parlemen sahaja, "demokrasi" politik sahaja. Demokrasi-ekonomi, kerakyatan-ekonomi, kesama-rasa-sama-rataan-ekonomi tidak ada, tidak adapun bau-baunya sedikit juga.
Ya, demokrasi politik itupun hanya bau-baunya sahaja! Bukan? –
Di negeri-negeri modern itu benar ada parlemen, benar ada "tempat perwakilan Rakyat", benar Rakyat namanya "boleh ikut memerintah", tetapi akh, kaum burjuis lebih kaya daripada Rakyat-jelata, mereka dengan harta-kekayaannya, dengan surat-surat-kabarnya, dengan buku-bukunya, dengan midrasah-midrasahnya, dengan propagandis-propagandisnya, dengan bioskop-bioskopnya, dengan segala alat-alat kekuasaannya bisa mempengaruhi semua akal fikiran kaum pemilih, mempengaruhi semua jalannya politik. Mereka rnitsalnya membikin "kemerdekaan pers" bagi Rakyat-jelata menjadi suatu omongan kosong belaka, mereka menyulap "kemerdekaan fikiran" bagi Rakyat-jelata menjadi suatu ikatan fikiran, mereka memperkosa "kemerdekaan berserikat" menjadi suatu kejustaan publik. Mereka punya kemauan menjadi wet, mereka punya politik menjadi politiknya staat, mereka punya perang menjadi peperangannya "negeri". Oleh karena itu, benar sekali perkataannya Caillaux, bahwa kini Eropah dan Amerika ada di bawah kekuasaannya feodalisme baru: "Tetapi kini kekuasaan feodal itu tidak digenggam oleh kaum tanah sebagai sediakala, kini ia digenggam oleh perserikatan-perserikatan industri yang selamanya bisa mendesakkan kemauannya terhadap kepada staat." Benar sekali juga perkataan de Brouckere, bahwa "demokrasi" sekarang itu sebenarnya adalah suatu alat kapitalisme, suatu kapitalistische instelling, suatu kedok bagi dictatuur van het kapitalisme! "Demokrasi" yang demikian itu harus kita lemparkan ke dalam samodra, jauh dari angan-angan dan keinginan massa!