Mencapai Indonesia Merdeka

Part 4

Chapter 43,350 wordsPublic domain (Wikisource)

m e r d e k a. Kita harus merdeka agar supaya kita bisa leluasa bercancut-taliwanda menggugurkan stelsel kapitalisme dan imperialisme. Kita harus mer­deka, agar supaya kita bisa leluasa mendirikan suatu masyarakat baru yang tiada kapitalisme dan imperialisme. Selama kita belum merdeka, selama kita belum bisa leluasa menggerakkan kita punya badan, kita punya tangan, kita punya kaki, selama kita dus masih terhalang di dalam segala kita punya gerak-bangkit,- tidak bisa "kiprah" sehaibat-haibat­nya selama itu maka kita tidak bisa habis-habisan-tenaga menghanjut stelsel kapitalisme dan imperialisme. Selama itu maka kapitalisme dan imperialisme akan tetap sebagai raksasa yang maha-shakti bertakhta di atas singgasana kerezekian Indonesia, tidak bisa digugurkan daripada singga­sana itu hingga mati menggigit debu. Dapatkah Ramawijaya mengalah­kan Rahwana Dasamuka, jikalau Ramawijaya itu mitsalnya terikat kaki dan tangannya, tak dapat mementangkan ia punya jemparing dan tak dapat melepaskan ia punya senjata?

Rakyat yang tidak merdeka adalah Rakyat yang sesungguh-sungguhnya tidak-merdeka. Segala gerak-bangkitnya adalah tidak-merdeka. Segala kemauannya, segala fikirannya, ya segala Rokhnya dan Nyawanya adalah tidak-merdeka. Mau ini tidak leluasa, mau itu tidak leluasa. Mau ini ada ranjau, mau itu ada jurang.

Mau mengeluarkan kritik, ada artikel 154 sampai 157 dari buku hukum siksa; mau menganjurkan kemerde­kaan, ada artikel 153 bis ter; mau menggerakkan kaum buruh, terancam artikel 161 bis; mau mengadakan aksi radikal, gampang dicap "berbahaya bagi keamanan umum"; mau memajukan perniagaan ada rintangan bea, mau memajukan sosial ada macam-macam "syaratnya", – pendek-kata:

mau ini ada duri, mau itu ada paku.

Oleh karena itu, maka kemerdekaan adalah s y a r a t yang maha penting untuk menghilangkan kapitalisme dan imperialisme,

s y a r a t yang penting untuk mendirikan masyarakat yang sempurna. Gedung Indonesia Sempurna, di mana semua Rakyat-jelata bisa bernaung dan menyimpan dan memakan segala buah-buah kerezekian dan kekulturan sendiri, di mana tidak ada kepapa-sengsaraan pada satu fihak dan keraja-beranaan pada lain fihak, Gedung Indonesia Sempurna itu hanyalah bisa didirikan di atas buminya Indonesia yang Merdeka. Gedung Indonesia Sempurna itu hanya­lah bisa didirikan jikalau pandemen-pandemennya tertanam di dalam tanahnya Indonesia yang Merdeka.

Tetapi, … Gedung Indonesia Sempurna itu juga hanyalah bisa didirikan oleh Marhaen Indonesia, bilamana Marhaen adalah leluasa mendirikannya, – tidak terikat oleh ini, tidak terikat oleh itu, – yakni bilamana Marhaen, dan tidak fihak lain, mempunyai kemerdekaan gerak-bangkit yang tak terhalang-halang. Oleh karena itu, maka Marhaen tidak sahaja harus mengikhtiarkan Indonesia Merdeka, tidak sahaja harus mengikhtiarkan kemerdekaan-nasional, t e t a p i juga h a r us menjaga yang di dalam kemerdekaan-nasional itu kaum Marhaenlah yang memegang kekuasaan,- dan bukan kaum burjuis Indonesia, bukan kaum ningrat Indonesia, bukan kaum musuh-Marhaen bangsa Indonesia yang lain-lain. Kaum Marhaen­lah yang di dalam Indonesia Merdeka itu harus memegang teguh-teguh politieke macht, jangan sampai bisa direbut oleh lain-lain golongan bangsa Indonesia yang musuh kaum Marhaen.

Lihatlah ke negeri Belanda, lihatlah ke negeri Perancis. Lihatlah ke negeri Jerman, Inggeris, Amerika, Italia dan lain-lain. Semua negeri­-negeri itu adalah negeri yang merdeka, semua negeri-negeri itu adalah berkemerdekaan nasional. Semua negeri-negeri itu adalah bebas dari pemerintahan asing. Tetapi tidakkah kaum Marhaen di negeri-negeri itu berat sekali perjoangannya ingin menggugurkan kapitalisme, tidakkah kaum Marhaen di negeri-negeri itu maha-sukar sekali usahanya mendong­kel akar-akarnya kapitalisme, – tidakkah kaum Marhaen di situ sudah hampir satu abad boleh dikatakan sia-sia bermandi keringat, ya, kadang‑kadang bermandi darah, ingin menjebol kapitalisme yang menyengsarakan mereka? Tidakkah kaum Marhaen disitu sampai kini masih bongkok, punggungnya diduduki oleh kapitalisme yang mengingkel-ingkel mereka, mengentrog-entrog mereka, memperbudakkan mereka, – memperbina­tangkan mereka sampai ke dasar-dasarnya neraka kesengsaraan dan meraka­ kelaparan?

Apakah sebabnya begitu? Sebabnya ialah, bahwa kaum Marhaen di negeri-negeri itu sampai kini belum memegang politieke macht, belum memegang kekuasaan negeri, belum memegang kekuasaan pemerintahan. Politieke macht sampai kini adalah di dalam tangannya kaum kapitalisme sendiri, di dalam tangannya kaum burjuis sendiri, di dalam tangannya justru itu kaum yang menjadi tulang punggungnya stelsel yang mereka lawan itu. Segenap apparatnya politieke macht itu adalah dipakai senjata oleh kaum burjuis untuk memagari stelsel kapitalisme dan untuk menghantam aksinya kaum Marhaen yang mau meruntuhkan kapitalisme. Banjirnya pergerakan kaum Marhaen itu saban-saban men­jadi uablah samasekali karena panasnya angin-simum yang keluar dari politieke machtnya kaum burjuis. Maka oleh karena itulah, semboyan pergerakan-radikal daripada kaum Marhaen di negeri-negeri itu kini adalah: "naar de politieke macht!", "ke arah kekuasaan-pemerintahan!" Kekua­saan-pemerintahan itulah yang kini lebih dulu mereka kejar, kekuasaan­ pemerintahan itulah yang kini lebih dulu mau mereka rebut dari tangannya kaum burjuis. Dengan kekuasaan-pemerintahan di dalam tangan sendiri, dengan senjata-pamungkas di dalam tangan sendiri, maka kaum Marhaen Eropah akan gampang membinasakan stelsel kapitalisme, memelantingkan kapitalisme dari pundaknya yang telah berabad-abad diperkudakan itu.

Kaum burjuis yang tangannya hampa,- yang politieke machtnya direbut oleh kaum Marhaen Eropah kaum burjuis yang demikian itu akan menjadi seperti singa yang hilang giginya dan hilang kukunya, hilang guruhnya dan hilang perbawanya, hilang tenaganya dan hilang kuasanya, lemah, lemas, dan mati semua kutu-kutunya, tak kuasa sedikit juapun melindungi dan mempertahankan stelsel kapitalisme yang mereka sembah dan mereka puja!

Nah, kaum Marhaen Indonesia p u n , oleh karenanya, harus insyaf, bahwa mereka punya perjoangan akan tak perlu mereka perpanjangkan, kalau pada saat datangnya Indonesia Merdeka itu politieke macht jatuh ke dalam tangannya kaum burjuis atau kaum ningrat Indonesia. Kaum Marhaen Indonesia p u n harus insyaf,

bahwa mereka baru bisa segera menjatuhkan stelsel kapitalisme

dan imperialisme, hanya jikalau pada saat berkibarnya bendera kemerdekaan nasional, m e r e k a l a h yang menerima warisan politieke macht dari overheersing asing. Kaum Marhaen Indonesia pun dus harus menjaga, jangan sampai politieke macht itu jatuh ke dalam tangannya fihak burjuis dan ningrat Indonesia.

Menjadi: mereka harus membanting-tulang mendatangkan kemerdekaan-nasional, membanting-tulang menjelmakan kemerdekaan negeri Indonesia, tetapi dalam pada membanting-tulang mendatangkan kemerdekaan negeri Indonesia itu, mereka harus

a w a s dan sekali lagi a w a s, jangan sampai gedung yang mereka dirikan itu kaum burjuis atau ningratlah yang memasukinya.

Dalam pada berjoang habis-habisan mendatangkan

Indonesia Merdeka itu, kaum Marhaen harus menjaga, jangan

sampai nanti mereka yang "kena getah", tetapi kaum burjuis atau ningrat yang "memakan nangkanya".

0, memang, pekerjaan-berat mendatangkan Indonesia Merdeka buat sebagian besar hanya kaum Marhaenlah yang bisa melaksanakan, peker­jaan-berat itu buat sebagian besar hanya kaum Rakyat-jelatalah yang bisa menyelesaikan. Pekerjaan-berat itu memang adalah mereka punya "pekerjaan-riwayat", mereka punya "kewajiban-riwayat", mereka punya "bagian-riwayat". Pekerjaan-berat itu memang merekapunya "h i s t o r i s c h e t a a k ". Memang di atas sudah saya katakan, bahwa semua perobahan-perobahan-besar di dalam riwayat-dunia yang akhir-akhir ini adalah dihantarkan oleh massa-aksi, diparajikan oleh massa-aksi, – arti­nya: diparajikan oleh aksinya Rakyat-jelata yang berkobar-kobaran semangat menyundul langit. Tetapi riwayat-duniapun telah memberi contoh-contoh, — mitsalnya di negeri Perancis , – bahwa Rakyat-jelata itu, karena kurang awasnya, kurang bewust, kurang pimpinannya suatu partai Rakyat-jelata yang sejati, akhirnya kecele menjadi "pengupas nangka" belaka, yang "kena getah, tetapi tidak ikut merasakan nangkanya". Moga-moga Rakyat-jelata Indonesia jangan sampai menambah contoh-contohnya riwayat-dunia itu dengan satu contoh lagi yang baru! Moga-moga Rakyat-jelata Indonesia dus selamanya awas, awas, dan sekali lagi a w a s!

Klassenstrijd? Adakah dus saya kini mengutamakan klassenstrijd? Saya belum mengutamakan klassenstrijd antara bangsa Indonesia dengan bangsa Indonesia, walaupun tiap-tiap nafsu kemodalan di kalangan bangsa sendiri kini sudah saya musuhi. Saya seorang nasionalis, yang selamanya buat mencapai Indonesia Merdeka memusatkan per­joangan kita di dalam perjoangan nasional. Saya selamanya meng­anjurkan, supaya semua tenaga nasional yang bisa dipakai menghantam musuh untuk mendatangkan kemerdekaan-nasional itu, haruslah dihan­tamkan pula.

"D e s o c i a 1 e tegenstellingen worden in onvrije landen in nationale vormen uitgevochten", "pertentangan s o s i a l di negeri­-negeri yang tak merdeka diperjoangkan secara national", begitulah juga Henriette Roland Holst berkata. Tetapi kemerdekaan-nasional hanyalah suatu jembatan, suatu syarat, suatu strijdmoment.

Di belakang Indonesia Merdeka itu kita kaum Marhaen masih harus mendirikan kita­ punya Gedung Keselamatan, bebas dari tiap-tiap macam kapitalisme. Oleh karena itu, maka apa yang saya tuliskan di atas, adalah berarti mengan­jurkan supaya Marhaen awas.

Saya menganjurkan jangan sampai Marhaen nanti menjadi "pengupas nangka", yang hanya mendapat bagian getahnya sahaja.

Saya menganjurkan supaya buah politieke macht, yang dengan

habis-habisan-tenaga terutama oleh Marhaen dipetiknya, juga nanti oleh Marhaen dipegangnya dan dimakannya. Saya seorang nasionalis, tetapi seorang nasionalis Mar haen yang hidup dengan kaum Marhaen, mati dengan kaum Marhaen.

Nah, saya dus bisa menutup bagian 6 dari tulisan ini dengan mengulangi apa sarinya. Mengulangi: bahwa pertama tujuannya pergerakan Marhaen haruslah suatu masyarakat zonder kapitalisme dan imperialisme, bahwa kedua jembatan ke arah masyarakat itu adalah kemerde­kaan negeri Indonesia, bahwa k e t i g a Marhaen harus menjaga, yang di dalam Indonesia Merdeka itu Marhaen lah yang menggenggam politieke macht, menggeng­gam kekuasaan pemerintahan.

Inilah bentukan-bentukan dari kita punya pergerakan, yang harus sangat kita perhatikan.

7. SANA MAU KE SANA, SINI MAU KE SINI

Tetapi sekarang timbul pertanyaan: bagaimana kita melaksanakan, menjelmakan, merealisasikan tiga bentukan itu? Bagaimana kita mendatangkan masyarakat yang bebas dari kapitalisme-imperialisme, bagai­mana kita yang mewaris politieke macht, bagaimana, lebih

d u l u, kita mencapai Indonesia Merdeka?

Untuk bisa mencapai Indonesia Merdeka, kita lebih dulu harus mengetahui hakekatnja kedudukan antara imperialisme dan kita, hakekat kedudukan antara sana dan sini. Hakekat kedudukan sana-sini itulah nanti yang menentukan azas-azas-perjoangan kita, azas-azas-sepak­-terjang kita, azas-azas-strategi kita, azas-azas-taktik kita. Hakekat kedudukan itulah yang nanti harus menentukan "houding" kita terhadap pada kaum sana itu adanya.

Bagaimana hakekat kedudukan itu? Hakekat kedudukan itu boleh kita gambarkan dengan satu perkataan sahaja: pertentangan.

Per­tentangan di dalam segala hal. Pertentangan asal, pertentangan tujuan, pertentangan kebutuhan, pertentangan sifat, pertentangan hakekat. Tidak ada perbarengan, tidak ada persamaan sedikitpun antara sana dan sini.

Tidak ada p e r s e s u a i a n antara sana dan sini. Antara sana dan sini ada pertentangan sebagai api dan air, sebagai serigala dan rusa, sebagai kejahatan dan kebenaran.

Memang riwayat-dunia selamanya menunjukkan pertentangan antara dua golongan. Memang riwayat-dunia selamanya menunjukkan adanya suatu golongan "atas" dan adanya suatu golongan "bawah", yang berten­tangan satu sama lain, ber-antitese satu sama lain:

di zaman feodal golongan ningrat dengan golongan "kawulo",

di zaman kapitalisme golong­an kemodalan dengan golongan proletar, di zaman kolonial golongan si penjajah dengan golongan si terjajah. Maka antitese alias perten­tangan yang belakangan inilah yang menguasai segenap sifat hakekatnya perhubungan antara sana dan sini, segenap "wezen-nya" perhubungan antara sana dan sini, sehingga sana dan sini selamanya adalah ketabrakan satu sama lain. Antitese inilah yang oleh kaum Marxis disebutkan d i a l e k t i k-nya sesuatu keadaan, dialektik-nya sesuatu bagian dari­pada riwayat, d i a 1 e k t i k-nya sesuatu bagian di dalam gerak-bangkitnya alam.

Maka oleh karena itu buta dan justalah tiap-tiap orang yang mau memungkiri atau menutupi antitese itu, buta dan justa jugalah tiap-­tiap siapa sahaja yang mau menipiskan pertentangan antara dua fihak itu. Buta dan justalah siapa sahaja yang mau "mengakurkan" fihak sana dengan fihak sini. Tidak! Sana dan sini tidak bisa diakurkan, sana dan sini tidak bisa dipungkiri atau ditipiskan antitesenya, – sana dan sini walau sampai ke zaman kiamatpun akan selamanya berhadap-hadapan satu sama lain sebagai singa dengan mangsanya. Sana dan sini akan selamanya bertabrak-tabrakan satu sama lain, berantitese satu sama lain, sehingga akhirnya sana hilang dari hadapan sini samasekali. Tidakkah sana senang akan terusnya penjajahan Indonesia sampai ke zaman akhirnya alam, tidakkah sana senang akan terusnya kecakrawartian di atas semua bagian daripada masyarakat Indonesia, tidakkah sana hidup justru daripada sini? Tidakkah sebaliknya sini mau selekas-lekasnya merdeka, tidakkah sini mau selekas-lekasnya menyakrawarti masyarakat sendiri?

Buta, sekali lagi butalah siapa sahaja yang mau memungkiri adanya pertentangan ini, tabrakan ini, antitese ini,- yang memang sudah karena dialektiknya alam. Tetapi kita, yang justru membentuk pergerakan yang memikul alam dan terpikul alam, memikul natuur dan terpikul natuur, kita yang tidak mau buta, harus justru mengambil antitese ini sebagai uger-ugernya semua kita punya azas perjoangan dan semua kita punya taktik. Kita harus justru mengalaskan segala kitapunya sepak-ter­jang di atas dialektik ini, mengalaskan segala kita punya "houding" di atas d i a 1 e k t i k ini. Kita harus dengan sekelebatan mata sahaja sudah mengerti, bahwa dialektik ini adalah menyuruh kita selamanya ingkar daripada kaum sana itu, tidak bekerja bersama­s ama dengan kaum sana itu, sebaliknya mengadakan perlawanan z o n d e r damai terhadap pada kaum sana itu,- sampai kepada saat keunggulan dan kemenangan. Kita harus dengan sekelebatan mata sahaja mengerti, bahwa oleh adanya antitese ini, kemenangan hanya­lah bisa kita capai dengan kebiasaan sendiri, tenaga sendiri, usaha sendiri, kepandaian sendiri, keringat sendiri, keberanian sendiri.

Inilah yang biasanya kita sebutkan politik "p e r c a y a pada kekuatan sendiri", politik "self-help dan non-cooperation": politik menyusun kitapunya masyarakat secara positif dengan tenaga dan usaha sendiri, politik tidak mau bekerja bersama-sama dengan kaum sana di atas semua lapangnya perjoangan politik, politik memboikot dewan-dewan kaum sana, baik yang ada di sini maupun yang ada di negerinya kaum sana sendiri. Tentang politik ini tempohari saya pernah menulis:

"Non-kooperasi adalah salah satu azas perjoangan (strijd­beginsel) kita untuk mencapai Indonesia Merdeka. Di dalam perjoangan mengejar Indonesia Merdeka itu kita harus senantiasa ingat, bahwa adalah pertentangan kebutuhan antara sana dan sini, antara kaum yang menjajah dan kaum yang dijajah, antara overheerser dan overheerste. Memang pertentangan kebutuhan inilah yang menjadi sebabnya kita punya non-kooperasi. Memang pertentangan kebutuhan inilah yang memberi keyakinan kepada kita, bahwa Indonesia Merdeka tidaklah bisa tercapai, jikalau kita tidak menjalankan politik non-kooperasi. Memang pertentangan kebutuhan inilah yang buat sebagian besar menetapkan kita punya azas-azas­perjoangan yang lain-lain, – mitsalnya machtsvorming, massa-aksi, dan lain-lain.

Oleh karena itulah, maka non-kooperasi b u k a n 1 a h hanya suatu azas perjoangan "tidak duduk di dalam raad-raad pertuanan" sahaja. Non-kooperasi adalah suatu actief beginsel, tidak mau bekerja bersama-sama di atas s e g a 1 a

l a p a n g a n politik dengan kaum pertuanan, melainkan mengadakan suatu perjoangan yang tak kenal damai, suatu onverbiddelijkestrijd dengan kaum pertuanan itu. Non-kooperasi tidak berhenti di luar dinding-dindingnya raad-raad sahaja, tetapi non-kooperasi adalah meliputi semua bagian-bagian daripada kita punya perjoangan politik. Itulah sebabnya, maka non-kooperasi adalah berisi radikalisme, impliceren radikalisme,- radi­kalisme hati, radikalisme fikiran, radikalisme sepak-terjang, radikalisme di dalam semua innerlijke dan uiterlijke houding. Non-kooperasi meminta kegiatan, meminta radicale activiteit. 1)

S a l a h satu bagian daripada kita punya non-kooperasi

adalah tidak mau duduk di dalam dewan-dewan kaum pertuanan. Sekarang apakah Tweede Kamer juga termasuk dalam dewan-dewan kaum pertuanan itu? Tweede Kamer adalah termasuk dalam dewan­dewan kaum pertuanan itu. Sebab justru Tweede Kamer itu bagi kita adalah suatu "belichaming", suatu "pembadanan", suatu "penjelmaan" daripada koloniserend Holland, suatu "penjelmaan" daripada kekuasaan atau macht yang mengungkung kita menjadi Rakyat yang tak merdeka. Justru Tweede Kamer itu adalah suatu "symbool" daripada koloniserend Holland, suatu "symbool" daripada keadaan yang menekan kita menjadi Rakyat taklukan dan sengsara. Oleh karena itulah maka non-kooperasi kita sudah di dalam azasnya harus tertuju juga kepada Tweede Kamer khususnya dan Staten Generaal umumnya, ya, harus ditujukan juga kepada semua "belichaming-belichaming" lain daripada sesuatu sistim yang buat mengungkung kita dan bangsa Azia, mitsalnya Volkenbond dan lain sebagainya.

Anarchisme? Toch Tweede Kamer suatu parlemen? Memang,

Tweede Kamer adalah suatu parlemen; tetapi Tweede Kamer adalah suatu parlemen Belanda. Memang kita adalah orang anarchis, kalau kita menolak s e g a 1 a keparlemenan. Memang kita orang anarchis, kalau mitsalnya nanti kita menolak duduk di dalam parlemen Indonesia, yang nota bene hanya bisa berada di dalam suatu Indonesia yang M e r d e k a, dan yang akan memberi jalan kepada demo­krasi politik d a n demokrasi ekonomi. Memang! Jikalau seorang. Inggeris memboikot parlemen Inggeris, jikalau seorang Jerman tidak sudi duduk dalam parlemen Jerman, jikalau seorang Perancis meno­lak kursi dalam parlemen Perancis, maka ia boleh jadi seorang anarchis. Tetapi jikalau seandainya mereka menolak duduk di dalam suatu parlemen daripada suatu negeri yang mengungkung negeri mereka, – jikalau kita bangsa Indonesia sudah di dalam azasnya menolak duduk dalam parlemen Belanda maka itu bukanlah anarchisme, tetapi suatu azas perjoangan n a s i o n a l i s

­n o n -k o o p e r a t o r yang sesehat-sehatnya!

Lihatlah riwayat perjoangan non-kooperasi di negeri-negeri lain. Lihatlah mitsalnya riwayat non-kooperasi di negeri Ierlandia,- salah satu sumber daripada perjoangan non-kooperasi itu. Lihat‑ lah di situ sepak-terjangnja kaum Sinn Fein. "Sinn F e i n" adalah mereka punya semboyan, Sinn fein, yang berarti "kita sendiri".

1) Tidak semua orang yang tidak duduk dalam raad atau tidak kerja pada gupermen (mitsalnya tukang soto), ada orang "non"

"Kita sendiri!", itulah gambarnya mereka punya politik; politik tidak mau bekerja bersama-sama dengan Inggeris, tidak mau kooperasi dengan Inggeris, tidak mau duduk di dalam parlemen

I n g g e r i s. "Janganlah masuk ke Westminster, tinggalkanlah Westminster itu, dirikanlah Westminster sendiri!", adalah propaganda dan aksi yang dijalankan oleh Sinn Fein. Adakah mereka itu kaum anarchis? Mereka bukan kaum anarchis, tetapi kaum nationalis­non-kooperator yang prinsipiil. Nah, non-kooperasi kita haruslah non-kooperasi yang prinsipiil pula.

Orang menganjurkan duduk di Tweede Kamer buat menjalankan politiek-oppositie dan politiek-obstructie, dan memperusahakan Tweede Kamer itu menjadi m i m b a r per­joangan. Politik yang demikian itu boleh dijalankan, dan memang sering dijalankan pula oleh kaum kin, sebagai kaum 0.S.P., kaum komunis, atau kaum C. R. Das cs. di Hindustan yang juga tidak anti parlemen Inggeris. Tetapi politik yang demikian itu tidak boleh di­jalankan oleh seorang nasionalis-non-kooperator. Pada saat yang seorang nationalis-non-kooperator masuk ke dalam sesuatu dewan kaum pertuanan, ya, pada saat yang ia di dalam azasnya suka masuk ke dalam sesuatu dewan kaum pertuanan itu, sekalipun dewan itu berupa Tweede Kamer Belanda atau Volkenbond, – pada saat itu ia melanggar azas, yang disendikan pada keyakinan atas adanya

p e r t e n t a n g a n k e b u t u h a n antara kaum pertuanan itu dengan kaumnya sendiri. Pada saat itu ia menjalankan politik yang tidak prinsipiil lagi, menjalankan politik yang pada hakekatnya melanggar azas n o n – kooperasi adanya!

Kita harus menjalankan politik non-kooperasi yang prinsipiil, – menolak pada a z a s n y a kursi di Volksraad, di Staten Generaal, di dalam Volkenbond. Dan sebagaimana tahadi telah saya terangkan, maka perkara dewan-dewan ini hanyalah s a 1 a h s a t u b a g i a n sahaja daripada non-kooperasi kita. Bagian yang terpenting daripada non-kooperasi kita adalah: dengan mendidik Rakyat percaya kepada

"kita sendiri", untuk meminjam perkataan kaum non-kooperasi

Ierlandia -, menyusun dan menggerakkan suatu massa-­aksi, suatu machtsvorming Marhaen yang haibat dan kuasa!"

Pembaca telah ingat: ini adalah sebagian daripada tulisan saya di dalam bertukaran fikiran dengan sdr. Mohammad Hatta. Pendirian sdr. Mohammad Hatta, yang masih suka masuk parlemen negeri Belanda itu, memang kurang benar, memang menyalahi azas. Partai Sarekat Islam Indonesia pun di dalam kongresnya yang akhir-akhir ini menolak sesuatu kursi di dalam parlemen negeri Belanda itu!

Tetapi bagaimanakah jelasnya "kesendirian" yang saya sebutkan di atas tahadi? Bagaimanakah jelasnya politik "segala-gala sendiri", yakni politik "kemampuan sendiri, tenaga sendiri, usaha sendiri, kepandaian sendiri, keringat sendiri, fi'il-fi'il keberanian sendiri" itu tahadi?

Bagaimana jelasnya? Jelasnya ialah, bahwa "kesendirian" itu haruslah keperibadian, dan bukan kedirian. Jelasnya ialah, bahwa kita, harus berpolitik keperibadian, dan jangan berpolitik kedirian. Teka-teki? Memang, terdengarnya seperti teka-teki. Terdengarnya seperti kemikan pat-pat-guli-pat. Marilah saya terangkan yang agak jelas: Tentang politik "kesendirian" itu di waktu yang akhir-akhir ini banyak sekali orang yang salah faham. Mereka yang salah faham itu tentu sahaja orang-orang yang masih hijau di atas lapangan politik, orang-orang yang tua bangka tapi kurang makan garamnya politik, orang-orang yang tiada "benul" sedikitpun tentang urusan politik. Mereka berkata, bahwa kita, karena kita berazas "kesendirian", tidak boleh mencari perhubungan samasekali dengan lain-lain bangsa. Mereka pernah mengeritik saya, karena saya di dalam sidang pembantu majalah "Suluh Indonesia Muda" telah memasukkan dua orang Tionghoa, yakni saudara Kwee Kek Beng dan saudara Dr. Kwa Tjoan Siu. Mereka menuduh saya telah melanggar azas "kesendirian" itu!

Mereka dengan tuduhan ini telah membuktikan, bahwa mereka adalah "salah wissel" samasekali, salah faham samasekali, tersesat samasekali. Amboi, – tidak boleh mencari perhubungan samasekali: dengan lain-lain bangsa! Inilah "kesendirian" yang sebenarnya kedirian yang setulen-­tulennya. "Kesendirian" yang demikian itu, yang mau melepaskan semua perhubungan dengan dunia luaran, yang mau "bersarang" di dalam dunia sendiri, yang mau menutup diri sendiri dengan rasa puas-puas dari segala pengaruhnya dunia sekelilingnya, "kesendirian" yang demikian itu adalah sangat berbau butek seperti baunya hawa gudang yang senantiasa tertutup.