Part 3
"Kesopanan" dan "keamanan umum"! Tidakkah kita-ini katanya Rakyat yang masih bodoh dan biadab, yang perlu mendapat guru dan perlu mendapat bapak? Amboi, seolah-olah benar kita pada saat datangnya imperialisme masih bodoh, seolah-olah benar kita zaman dulu Rakyat biadab! Seolah-olah Rakyat kita tidak pernah mempunyai cultuur yang membikin tercengangnya dunia! Jikalau benar stelsel imperialisme tidak buat mentcari rezeki, tidak buat "urusan-fulus", tidak buat memenuhi nafsu perbendaan, jikalau benar stelsel imperialisme dahaga sekali akan "kerja menyopankan", apakah sebabnya stelsel imperialisme datang lebih dulu pada Rakyat-Rakyat yang justru berketinggian cultuur, sebagai Indonesia, sebagai India, sebagai Mesir, dan tidak pergi sahaja ke negerinya bangsa Eskimo yang ada dikutub Utara!
Tidak, memang tidak! Itu "suruhan suci" hanyalah omong-kosong belaka, itu "mission-sacree" hanyalah buat menjaga kedudukannya imperialisme sahaja. Sebab tidak ada satu imperialisme di muka bumi yang
1) Mission-sacree = Suruhan suci.
bisa terus-menerus mengambili rezeki sesuatu Rakyat, sehingga Rakyat itu t a h u dan I n s y a f bahwa rezekinya diambili dan diangkuti; tidak ada satu imperialisme yang "tahan lama", bilamana Rakyat insyaf bahwa badannya adalah sebagai pohon yang dihinggapi kemadean yang hidup daripada ia punya zat-zat-hidup. Maka oleh karena itulah Rakyat lantas di-injeksi tak berhenti-henti, bahwa imperialisme datangnya ialah buat memenuhi suatu "suruhan yang suci" mendidik Rakyat itu dari kebodohan ke arah kecerdasan, mendidik Rakyat itu dari kemunduran ke arah kemajuan.
Dan Rakyat lantas p e r c a y a akan "suruhan suci" itu; imperialisme tidak lagi dipandang olehnya sebagai musuh yang harus dienyahkan selekas-lekasnya, tidak sebagai kemadean yang menghinggapi tubuhnya, imperialisme lantas dipandang olehnya sebagai
s a h a b a t yang harus diminta terima kasih …
Jawaharlal Nehru, itu pemimpin Hindustan yang kenamaan, pernah berkata: "Kebesarannya negeri dan Rakyat kita adalah sudah begitu dalam terbenamnya oleh kabut-kepurbakalaan, dan kebesarannya imperialisme adalah begitu sering kita lihat sehari-hari, sehingga kita lupa bahwa kita bisa besar, dan mengira bahwa hanya kaum imperialisme sahaja yang bisa pandai." Perkataan Jawaharlal Nehru ini, yang menggambarkan kerusakan bathinnya Rakyat Hindustan, satu persatunya bolehlah juga dipakai untuk Rakyat Indonesia sekarang ini. Juga kita lupa bahwa kita bisa menjadi besar, juga kita lupa bahwa kemunduran kita ialah karena kita terlalu lama sekali kena pengaruh imperialisme, juga kita lupa bahwa kemunduran kita itu b u k a n suatu kemunduran yang memang karena n a t u u r, tetapi ialah suatu kemunduran yang karena imperialisme, suatu kemunduran bikinan, suatu kemunduran "cekokan", suatu kemunduran injeksian yang berabad-abad.
Juga kita mengira, bahwa hanya kaum imperialisme sahaja yang bisa pandai, bahwa hanya mereka sahaja yang bisa berilmu, bisa membikin jalan, bisa membikin kapal, bisa membikin listerik, bisa membikin kereta-api dan auto dan bioskop dan kapal-udara dan radio, – dan tak pernah satu kejap mata kita bertanya di dalam bathin, apakah kita kini juga tidak bisa mengadakan semua hal itu, umpamanya kita tidak tigaratus tahun di "sahabati" imperialisme? Ya, juga kita percaya, bahwa kita sekarang ini belum boleh merdeka dan berdiri sendiri …
Bahwasanya, memang sudah "makan" sekali injeksian imperialisme itu. Kita kini sangat gampang dilipat-lipat, – "plooibaar" en "gedwee" – "buntutnya tekanan yang berabad-abad", sebagai Schmalhausen mengatakannya. Kita kini sudah 100% menjadi Rakyat kambing. Kita kini kaum putus-asa, kita kaum zonder keperibadian, kita kaum penakut, kita kaum pengecut Kita kaum berokh budak, kita banyak yang jadi penjual bangsa. Kita hilang samasekali kelaki-lakian kita, kita hilang sama‑sekali rasa-kemanusiaan kita. Oleh karena itu, jika terus-menerus begitu, kita akan binasa samasekali tersapu dari muka-bumi, dan p a n t a s binasa di dalam lumpur perhinaan dan nerakanya kegelapan.
Tetapi … Alhamdulillah, di Timur matahari mulai bercahya, fajar mulai menyingsing!
O b a t tidur imperialisme yang berabad-abad kita minum, yang telah menyerap di dalam darah daging kita dan tulang sumsum kita, ya, yang telah menyerap di dalam rokh kita dan nyawa kita, obat tidur itu pelahan-pelahan mulai kurang dayanya. Semangat-perlawanan yang telah ditidurkan nyenyak samasekali, kini mulai sadar dan berbangkit. Semangat perbudakan mulai rontok, dan timbul semi semangat baru yang makin lama makin besar dan bersirung. Bukan semangat yang mengeluh karena tahu akan kerusakan nasib lahir dan nasib bathin; tetapi semangat yang membangkitkan pengetahuan itu, menjadi kemauan berjoang dan kegiatan berjoang. Bukan semangat yyyyang menangis, tetapi semangat yang terus menitis menjadi w i l, menjadi daad. Memang bukan waktunya lagi kita mengeluh; bukan waktunya lagi kita mengaduh, walaupun kerusakan nasib kita itu seakan-akan memecahkan kitapunya nyawa. Kita tak dapat terlepas dari keadaan sekarang ini dengan mengeluh dan menangis, kita hanyalah bisa keluar daripadanya dengan bercancut-tali-wanda, dengan berjoang, berjoang dan sekali lagi berjoang. Kita harus berjoang habis-habisan tenaga, berjoang walaupun nafas hampir pecat dari kitapunya dada. Kita harus meniru ajarannya itu orang Hindu yang berkata: "Kita sekarang tidak boleh berkesempatan lagi untuk menangis, kita sudah kenyang menangis. Bagi kita sekarang ini bukan saatnya buat lembek-lembekan-hati. Berabad-abad kita sudah lembek hingga menjadi seperti kapuk dan agar-agar. Yang dibutuhkan oleh tanah-air kita kini ialah otot-otot yang kerasnya sebagai baja, urat-urat-saraf yang kuatnya sebagai besi, kemauan yang kerasnya sebagai batu-hitam yang tiada barang sesuatu bisa menahannya, dan yang jika perlu, berani terjun ke dasarnya samodra!"
Alhamdulillah, kini fajar mulai menyingsing! Pergerakan memang pasti lahir, pasti hidup, pasti kelak membanjir, walaupun obat tidur yang bagaimana juga manjurnya, atau walaupun terang-terangan dirintangi oleh musuh dengan rintangan yang bagaimana juga, selama nasib kita masih nasib yang sengsara. Pergerakan memang bukan tergantung dari adanya seseorang pemimpin, bukan bikinannya seseorang pemimpin, pergerakan adalah bikinannya nasib kita yang sengsara. Ia pada hakekatnya adalah usaha masyarakat sakit yang mengobati d i r i s e n d i r i.
Ia ada kalau kesakitan masih ada, ia hilang kalau kesakitan sudah hilang. Ia, sebagai dikatakan oleh seorang pemimpin Jerman "di dalam dunia yang tak adil ini selalu mengikuti musuhnya sebagai bayangan, yang akhirnya meliputi musuhnya itu sehingga mati".
"Tiap-tiap makhluk, tiap-tiap umat, tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti akhirnya berbangkit, pasti akhirnya bangun, pasti akhirnya menggerakkan tenaganya, jikalau ia sudah terlalu-lalu
sekali merasakan celakanya diri yang teraniaya oleh sesuatu daya
yang angkara-murka", – begitulah saya pernah menulis. "Jangan
lagi manusia, jangan lagi bangsa, – walau cacingpun tentu bergerak berkeluget-keluget kalau merasakan sakit!"
Memang; memang! Pergerakan lahir karena pada hakekatnya dilahirkan oleh tenaga-tenaga pergaulan-hidup sendiri. Pemimpinpun bergerak karena hakekatnya tenaga-tenaga pergaulan-hidup itu membikin ia bergerak. Bukan fajar menyingsing karena ayam-jantan berkokok, tetapi ayam-jantan berkokok karena fajar menyingsing …
Tetapi bergerak dan bergerak adalah dua. Benar pergerakan itu pada hakekatnya bikinan nasib kita, bikinan masyarakat kita, bikinan natuur,—tetapi natuur sendiri sering-sering terlalu lambat berjalannya, oleh karena kejadian-kejadian atau proses-proses di dalam natuur itu sering-sering adalah kejadian instinct yang onbewust, yakni kejadian yang "t i d a k insyaf ". Maka pergerakan kitapun akan terlampau lambat jalannya, pergerakan kitapun akan sebagai orang yang pada malam gelap-gulita zonder obor berjalan di atas jalan kecil yang banyak batu dan banyak tikungan, pergerakan kitapun akan "pergerakan instinct" sahaja, jikalau pergerakan kita itu hanya onbewust alias "tidak insyaf", – yakni suatu pergerakan yang "yah … bergerak karena sengsara", tetapi tidak insyaf dengan tajam akan apa yang dituju dan bagaimana harus menuju.
Baru jikalau kita berjalan membawa obor, mengetahui presis apa yang kita tuju, mengetahui presis di mana letaknya jalan yang kencang, mengetahui presis segala apa yang akan kita jumpai; baru jikalau kita tidak seolah-olah lagi di dalam malam yang gelap-gulita, tetapi seolah-olah di dalam siang hari yang terang-benderang, – baru jikalau sudah demikian itu kita bisa mencapai apa yang kita maksud dengan sekencang-kencangnya, selekas-lekasnya, sehatsil-hatsilnya. Oleh karena itulah kita harus mempunyai bentukan pergerakan yang saksama, konstruksi pergerakan yang saksama, – bentukan atau konstruksi pergerakan yang harus cocok dan
s e s u a i dengan hukum-hukumnya masyarakat dan terus menuju ke arah doelnya masyarakat, yakni masyarakat yang selamat dan sempurna.
Dengan bentukan atau konstruksi pergerakan yang saksama itu maka pergerakan kita bukan lagi suatu pergerakan yang onbewust, tetapi suatu pergerakan yang bewust sebewust-bewustnya, insyaf seinsyaf-insyafnya.
Dengan ke-bewust-an dan keinsyafan yang demikian itu, maka pergerakan kita lalu berarti mempercepat jalannya proses natuur, suatu pergerakan yang memikul natuur dan terpikul natuur. Dengan ke-bewust-an dan keinsyafan yang demikian itu pergerakan kita juga lalu menjadi tidak bisa ditundukkan, tidak bisa dipadamkan, onoverwirmelijk,- sebagai natuur!
Ia bisa sebentar dirubuhkan, ia bisa sebentar dibubarkan, ia bisa sebentar seolah-olah dihancurkan, tetapi saban-saban kali ia juga akan berdiri lagi dan berdiri lagi, dan maju terus ke arah maksudnya. Ia sekalisekali seperti binasa samasekali karena terhantam dengan segala kekuatan duniawi yang musuh punya, tetapi kemudian daripada itu ia tokh akan muncul lagi dan berjalan lagi.
Sebagai mempunyai kekuatan rahasia, sebagai mempunyai
kekuatan penghidup, sebagai mempunyai "aji-pancasona" dan
"aji-candabirawa", maka pergerakan yang memikul natuur
dan terpikul natuur itu tak bisa dibunuh, dan malahan ia makin lama makin membanjir. Sebagai natuur sendiri, ia tidak boleh tidak pasti datang pada maksudnya!
Oleh karena itu, kaum Marhaen, besarkanlah hatimu, besarkanlah ketetapan tekadmu, besarkanlah kepercayaanmu akan tercapainya kamu punya cita-cita. Bukan hanya suatu peribahasa sahaja, kalau saya mengatakan fajar telah menyingsing. Pergerakan kita sudah mulai berbentuk, emoh akan haluan yang hanya "cita-cita" sahaja. Pergerakan kita itu sudah mulai jadi pergerakan sebagai yang saya maksudkan di atas tahadi. Garis-garis besar dari bentukan atau konstruksi itu kini terletak di hadapanmu, tergurat di dalam risalah yang kecil ini. Bacalah risalah ini dengan teliti dan saksama, simpanlah segala ajaran-ajarannya di dalam fikiran dan kalbumu, kerjakanlah segala ajaran-ajaran itu dengan ketetapan hati dan ketabahan tekad. Haibatkanlah pergerakanmu menjadi pergerakan yang bewust dan insyaf, yang karenanya akan menjadi haibat sebagai tenaganya gempa.
Fajar mulai menyingsing. Sambutlah fajar itu dengan kesadaran, dan kamu akan segera melihat matahari terbit.
5. GUNANYA ADA PARTAI
Kita bergerak karena kesengsaraan kita, kita bergerak karena ingin hidup yang lebih layak dan sempurna. Kita bergerak tidak karena "ideal" sahaja, kita bergerak karena ingin cukup makanan, ingin cukup pakaian, ingin cukup tanah, ingin cukup perumahan, ingin cukup pendidikan, ingin cukup minimum seni dan cultuur, – pendek kata kita bergerak karena ingin perbaikan nasib di dalam segala bagian-bagian dan cabang-cabangnya.
Perbaikan nasib ini hanyalah bisa datang seratus prosen, bilamana masyarakat sudah tidak ada kapitalisme dan imperialisme. Sebab stelsel inilah yang sebagai kemadean tumbuh di atas tubuh kita, hidup dan subur daripada kita, hidup dan subur daripada tenaga kita, rezeki kita, zat-zatnya masyarakat kita.
Oleh karena itu, maka pergerakan kita janganlah pergerakan yang kecil-kecilan; pergerakan kita itu haruslah pada hakekatnya suatu pergerakan yang ingin merobah samasekali sifatnya masyarakat, suatu pergerakan yang ingin menjebol kesakitan-kesakitan masyarakat sampai kesulur-sulurnya dan akar-akarnya, suatu pergerakan yang samasekali ingin menggugurkan stelsel imperialisme dan kapitalisme. Pergerakan kita janganlah hanya suatu pergerakan yang ingin rendahnya pajak, janganlah hanya ingin tambahnya upah, janganlah hanya ingin perbaikan-perbaikan kecil yang bisa tercapai hari-sekarang, – tetapi ia harus menuju kepada suatu transformatie yang menjungkir-balikkan samasekali sifatnya masyarakat itu, dari sifat imperialistis-kapitalistis menjadi sifat yang sama-rasa-sama-rata.
Pergerakan kita haruslah dus suatu pergerakan yang pada hakekatnya menuju kepada suatu "ommekeer" susunan sosial.
Bagaimana "ommekeer" susunan sosial bisa terjadi?
Pertama-tama oleh kemauannya dan tenaganya masyarakat sendiri, oleh "immanente krachten" masyarakat sendiri, oleh "kekuatan-kekuatan rahasia" daripada masyarakat sendiri. Tetapi tertampak-keluarnya, lahirnya, jasmaninya, oleh suatu pergerakan Rakyat-jelata yang radikal, yakni oleh massa aksi. Tidak ada suatu perobahan besar di dalam riwayat-dunia yang ahir-akhir ini, yang lahirnya tidak karena massa-aksi. Tidak ada transformatie di zaman akhir-akhir ini, yang zonder massa-aksi. Massa-aksi adalah senantiasa menjadi penghantar pada saat masyarakat-tua melangkah ke dalam masyarakat yang baru. Massa-aksi adalah senantiasa menjadi paraji 1 ) pada saat masyarakat-tua yang hamil itu melahirkan masyarakat yang baru. Perobahan di dalam zaman Chartisme di Inggeris di dalam zaman yang lalu, perobahan rubuhnya feodalisme di Perancis diganti dengan stelsel burgerlijke democratie, perobahan-perobahan matinya feodalisme di dalam negeri-negeri Eropah yang lain, perobahanperobahan rontoknya stelsel kapitalisme bagian perbagian sesudah pergerakan proletar menjelma di dunia, – perobahan-perobahan itu semuanya adalah "diparajii" oleh massa-aksi yang membangkitkan sap-sapan daripada Rakyat. Perobahan-perobahan itu dibarengi dengan gemuruhnya banjir pergerakan Rakyat-jelata.
1) Paraji – bahasa Sunda. Artinya dukun beranak.
Maka kitapun, bilamana kita ingin mendatangkan perobahan yang begitu maha-besar di dalam masyarakat sebagai gugurnya stelsel imperialisme dan kapitalisme, kita p u n harus bermassa-aksi.
Kita p u n harus menggerakkan Rakyat-jelata di dalam suatu pergerakan radikal yang bergelombangan sebagai banjir, menjelmakan pergerakan massa yang tahadinya onbewust dan hanya raba-raba itu menjadi suatu pergerakan massa yang bewust dan radikal, yakni massa-aksi yang insyaf akan jalan dan maksud-maksudnya.
Sebab, massa-aksi bukanlah sembarangan pergerakan massa, bukanlah sembarangan pergerakan yang orangnya ribuan atau bermilyunan. Massa-aksi adalah pergerakan massa yang radikal. Dan massa-aksi yang manfaat seratus prosen hanyalah massa-aksi yang bewust dan insyaf; oleh karena itu maka-massa-aksi yang manfaat adalah dus: suatu pergerakan Rakyat-jelata yang bewust dan radikal.
Welnu, bagaimanakah kita bisa menjelmakan pergerakan yang onbewust dan ragu-ragu dan raba-raba menjadi pergerakan yang bewust dan radikal? Dengan suatu partai. Dengan suatu partai yang mendidik Rakyat-jelata itu ke dalam ke-bewust-an dan keradikalan. Dengan suatu partai, yang menuntun Rakyat-jelata itu di dalam perjalanannya ke arah kemenangan, mengolah t e n a g a Rakyat-jelata itu di dalam perjoangannya sehari-hari, –
menjadi pelopor daripada Rakyat-jelata itu didalam menuju
kepada maksud dan cita-cita.
Partailah yang memegang obor, partailah yang berjalan di muka, partailah yang menyuluhi jalan yang gelap dan penuh dengan ranjau-ranjau itu sehingga menjadi jalan terang. Partailah yang memimpin massa itu di dalam perjoangannya merebahkan musuh, partailah yang memegang komando daripada barisan massa. Partailah yang harus memberi ke-bewust-an pada pergerakan massa, memberi kesedaran, memberi keradikalan.
Oleh karena itu, maka partai sendiri lebih dulu harus partai yang bewust, partai yang sedar, partai yang radikal. Hanya partai yang bewust dan sedar dan radikal bisa membikin massa menjadi bewust dan sedar dan radikal. Hanya partai yang demikian itu bisa menjadi pelopor yang sejati di dalam pergerakan massa, dan membawa massa itu dengan selekas-lekasnya kepada kemenangan dan keunggulan. Hanya partai yang demikian itu bisa membikin massa -aksi yang bewust massa-aksi yang dus dengan cepat bisa mengundurkan stelsel yang menjadi buah-perlawanannya.
Orang sering mengira: kita barulah bisa menang kalau Rakyat Indonesia yang 60.000.000 jiwa itu semuanya sudah masuk suatu partai!
Pengiraan yang demikian itu adalah pengalamunan yang kosong, pengalamunan yang mustahil, pengalamunan yang memang tidak perlu terjadi. Jikalau kemenangan baru bisa datang bilamana Rakyat Indonesia yang 60.000.000 itu semuanya sudah masuk suatu partai, maka sampai lebur-kiamatpun kita belum bisa menang. Sebab Rakyat yang 60.000.000 itu tidak bisa semuanya menjadi anggauta partai, mustahil semuanya bisa menjadi anggauta partai.
Tidak! Kemenangan tidak u s a h menunggu sampai semua Rakyat-jelata secindil-abangnya masuk suatu partai! Kemenangan sudah bisa datang, bilamana ada satu partai yang gagah-berani dan bewust menjadi pelopor-sejati daripada massa, yang bisa memimpin dan bisa menggerakkan massa, yang bisa berjoang dan menyuruh berjoang kepada massa, yang perkataannya menjadi undang-undang bagi massa dan perintahnya menjadi komando bagi massa. Kemenangan sudah bisa datang, bilamana ada satu partai yang dengan gagah-berani pandai memimpin dan membangkitkan bewuste massa-aksi!
Lihatlah mitsalnya, perjoangan di Tiongkok-dulu, lihatlah pergerakan di Mesir sepuluh-limabelas tahun yang lalu, lihatlah pergerakan kaum proletar di Eropah. Di semua negeri itu pergerakan tidak berwujud "tiap-tiap hidung menyjadi anggauta", tetapi adalah satu partai pelopor yang berjalan di muka memanggul bendera: di Mesir dulu partai Wafd, di Tiongkok dulu partai Kuo Min Tang,
di dalam pergerakan kaum proletar De Internationale. Partai-partai-pelopor inilah yang menjadi motor-nya massa, pengolahnya massa, kampiunnya massa, komandannya massa. Partai-partai-pelopor inilah yang mengemudikan massa-aksi.
Oleh karenanya, buanglah jauh-jauh itu pengiraan salah, bahwa lebih dulu "tiap-tiap hidung harus menjadi anggauta"! Tidak, bukan lebih dulu "tiap-tiap hidung harus menjadi anggauta", bukan lebih dulu semua Rakyat-jelata secindil-abangnya harus memasuki partai, tetapi Marhaen-Marhaen yang paling bewust dan sedar dan radikal harus menggabungkan diri di dalam suatu partai-pelopor yang gagah-berani! Marhaen-Marhaen yang paling bersemangat, Marhaen-Marhaen yang paling berkemauan, paling sedar, paling rajin, paling berani, paling keras-hati, – Marhaen-Marhaen itulah sudah cukup untuk menggerakkan massa-aksi yang haibat dan bergelora dan yang datang pada kemenangan, asal sahaja tergabung di dalam satu partai-pelopor yang tahu menggelombangkan semua tenaganya massa.
Satu partai-pelopor? Ya, satu partai-pelopor, dan tidak dua, tidak tiga! S a t u partai sahaja yang bisa paling baik dan paling sempurna, – yang lain-lain tentu kurang baik dan kurang sempurna. S a t u partai sahaja yang bisa menjadi pelopor !
Memang lebih dari satu pelopor, membingungkan massa; lebih dari satu komandan, mengacaukan tentara. Riwayat-duniapun menunjukkan, bahwa di dalam tiap-tiap massa-aksi yang haibat adalah hanya satu partai sahaja yang menjadi pelopor berjalan di muka sambil memanggrul bendera. Bisa ada partai lain-lain, bisa ada perkumpulan lain-lain, tetapi partai-partai yang lain itu pada saat-saat yang penting hanyalah membuntut sahaja pada partai-pelopor itu, – ikut berjoang, ikut memimpin, tetapi tidak sebagai komandan seluruh tentaranya massa, melainkan hanya sebagai sersan-sersan dan kopral-kopral sahaja. Pada saat "historische momenten" maka menurut riwayat-dunia adalah satu partai yang dianggap oleh massa "itulah laki-laki dunia, marilah mengikut laki-laki dunia itu"!
Tetapi partai mana yang bisa menjadi partai-partai-pelopor di dalam massa-aksi kita? Partai yang kemauannya cocok dengan kemauan Marhaen, partai yang segala-galanya cocok dengan kemauan natuur, partai yang memikul natuur
d a n t e r p i k u 1 n a t u u r. Partai yang demikian itulah yang bisa menjadi komandannya massa-aksi kita. Bukan partai burjuis, bukan partai ningrat, bukan "partai-Marhaen" yang reformistis, bukanpun . "partai radikal" yang hanya amuk-amukan sahaja, – tetapi partai-Marhaen yang radikal yang tahu saat menjatuhkan pukulan-pukulannya. Seorang pemimpin kaum buruh pernah berkata:
"Partai tak boleh ketinggalan oleh massa; massa selamanya radikal; partai harus radikal pula. Tetapi partai tidak boleh pula mengira, bahwa ia dengan anarcho-syndicalismel ) lantas menjadi pemimpin massa. Partai harus memerangi dua haluan: berjoang memerangi haluan reformis, dan berjoang memerangi haluan anarcho-syndicalist."
Welnu, partai yang digambarkan oleh pemimpin inilah, – yang dus tidak lembek, tetapi juga tidak amuk-amukan sahaja, melainkan konsekwen-radikal yang berdisiplin -, partai yang demikian itulah yang bisa menjadi partai-pelopor. Masyarakat sendiri akan menjatuhkan hukuman atas partai-partai yang tidak demikian: mereka akan didorong olehnya ke belakang menjadi paling mujur "partai-sersan" sahaja, atau akan disapu olehnya samasekali, lenyap dari muka-bumi. Oleh karenanya, Marhaen, awas! Awaslah di dalam memilih partai. Pilihlah hanya itu partai sahaja, yang memenuhi syarat-syarat yang saya sebutkan tahadi!
Partai yang demikian itulah yang menuntun pergerakan Rakyat-jelata, merobah pergerakan Rakyat-jelata itu dari onbewust menjadi bewust,
1) Haluan "amuk-amukan".
memberikan pada Rakyat-jelata b e n t u k a n alias konstruksi daripada pergerakannya, membikin terang pada Rakyat-jelata a p a yang dituju dan bagaimana harus menuju, menjelmakan pergerakan Rakyat-jelata yang tahadinya hanya ragu-ragu dan raba-raba sahaja menjadi suatu massa-aksi yang bewust dan insyaf,-suatu massa-aksi, yang oleh karenanya, segera memetik kemenangan.
Partai yang demikian itulah partai Yang dibutuhkan oleh kaum Marhaen!
6. INDONESIA-MERDEKA SUATU JEMBATAN
Bentukan alias konstruksi! Bentukan yang pertama ialah, sebagai sudah saya kemukakan, bahwa maksud pergerakan kita haruslah: suatu masyarakat yang adil dan sempurna, yang tidak ada tindasan dan hisapan, yang tidak ada kapitalisme dan imperialisme. Kita bergerak, – begitulah tahadi juga sudah saya katakan -, tidak karena "ideal" yang ngalamun, tetapi karena kita ingin
p e r b a i k a n n a s i b. Kita bergerak karena kita tidak sudi
kepada stelsel kapitalisme dan imperialisme, yang membikin kita
papa dan membikin segundukan manusia tenggelam dalam kekayaan dan harta, dan karena kita ingin sama-rata merasakan lezatnya buah-buah dari kita punya masyarakat sendiri. Kita, oleh karenanya, harus bergerak untuk menggugurkan stelsel kapitalisme dan imperialisme!
Dan syarat yang pertama untuk menggugurkan stelsel kapitalisme dan imperialisme? Syarat yang pertama ialah: kita harus