The Advance of Science in the Last Half-Century

Chapter 1

Chapter 13,312 wordsPublic domain

ME – "MUDA" – KAN PENGERTIAN ISLAM

Di dalam salah satu nomor "Adil" bulan yang lalu Tuan Kiyahi Haji Mas Mansur menulis satu artikel tentang pemuda (juga dimuat dalam majalah kita ini no. 8 bhg artikel: "Memperkatakan gerakan pemuda"). Saya kira banyak kaum Muhammadiyah, terutama kaum Muhammadiyah yang umurnya sudah tua, – dus yang tidak termasuk golongan pemuda – menggaruk-garuk kepala waktu membaca tulisan itu. Sebab di dalam tulisan itu K.H.M. Mansur dengan cara terang-terangan memanggil kaum pemuda kepada rasa cinta tanah-air. Bagi kaum Muhammadiyah yang tua, hal ini adalah membuat mereka menjadi sedikit "cungak-cinguk", sebab mereka hidup di dalam suasana didikan-tua, bahwa cinta tanah-air adalah termasuk dosa "ashabiyah". Lagi pula, – bukan orang sembarangan yang menulis artikel di dalam "Adil" itu. Yang menulis ialah Kiyahi Haji Mas Mansur, Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, salah seorang ulama Indonesia yang paling terkemuka!

Di dalam tulisan saya hari ini, saya tidak akan membicarakan hal pemuda dengan rasa cinta tanah-air itu. Hanyalah perlu saya terangkan di sini, bahwa, kalau saya di atas tahadi mengatakan kaum Muhammadiyah tua menggaruk-garuk kepala, itu bukanlah "omong kosong". D itempat saya sekarang ini, – Bengkulen saya bisa sebutkan nama sedikitnya lima orang Muhammadiyah yang tentu menjadi sedikit "cungak-cinguk" kalau membaca tulisan K. H. M. Mansur itu. Dulu di dalam tahun 1928-1929, di Pekalongan, pernah "dihalalkan" saya punya nyawa oleh salah seorang Muhammadiyah, karena saya dikatakan penganjur ashabiyah! Saya ceri­takan hal-hal ini, tidak dengan rasa dendam atau buat menertawakan mereka, tidak buat membuat malu kepada mereka, – tidak buat "leedver­maak", tetapi hanyalah buat menyebutkan kenyataan, buat menyatakan feit, bahwa adalah kaum Muhammadiyah yang benci kepada rasa cinta tanah-­air, jadi, yang tentu "cungak-cinguk" kalau membaca artikelnya mereka punya Ketua Pengurus Besar itu sendiri.

Malah saya ada pengiraan: K.H.M. Mansur menulis artikel itu tahadi sewajarnya bukan buat adres yang disebutkannya, bukan buat pemuda, tetapi buat itu "bagian-tua" di kalangan Muhammadiyah yang pada bathin­nya ada sedikit "memberontak" kepada beliau oleh karena beliau tidak menetapi haluan-tua lagi. Kita ingat akan keributan kaum tua di kalangan Muhammadiyah, waktu beliau masuk. Kita ketahui ketidak-senangan kaum tua ini, waktu beliau membawa Muhammadiyah ke dalam Kongres Rakyat Indonesia. Kita ketahui pula, bahwa kaum tua ini. pada bathinnya tetap "membangkang", tetap "membandel", terhadap kepada putusan-pu­tusan K.H.M. Mansur yang disetujui oleh mereka punya Pengurus Besar itu.

Sudahlah, – saya tidak akan meneruskan pembicaraan saya tentang hal ini. Saya mau membicarakan hal me-"muda"-kan pengertian Islam. Saya mau membicarakan "permudaan" itu dalam umumnya. Saya mau menerangkan kepada pembaca, bahwa kini herorientatie-umum adalah perlu, amat-amat perlu. Kita kini perlu memikirkan kembali kita punya pengertian tentang Islam, menyelidiki kembali apakah sudah benar semua kita punya faham-faham tentang Islam, dan apakah tidak ada faham-faham yang perlu dikoreksi. Janganlah kita berpendirian kepala batu sebagai itu Sheikh di padang-pasir Trans Yordania, yang waktu ditanya oleh Miss Ruth Frances Woodsman: apakah ada perobahan faham tentang hal agama, lantas menjawab dengan sengit: "Kita tidak perlu bicarakan agama. Di dalam agama tidak bisa ada perobahan."

Seolah-olah tarikh tidak menunjukkan bukti-bukti, bahwa selalu ada perobahan di dalam pengertian-pengertian tentang agama itu! Seolah-olah tarikh tidak menunjukkan, bahwa ada kalanya faham tua diganti oleh pengertian yang lebih baru, – bahwa pengertian yang salah, dikoreksi oleh pengertian yang lebih benar. Seolah-olah tarikh misalnya tidak menye­butkan pengoreksian tentang faham talqin, faham faham taglid, faham tauhid, faham hijab, faham bunga pinjaman, faham perempuan, faham menterjemahkan Qur'an, dan seribu-satu faham yang lain-lain!

Panta rei, kata Heraclitus, – segala hal mengalir, segala hal selalu berobah, segala hal mendapat perbaharuan. Di dalam pengertian tentang ajaran-ajaran agamapun "panta rei", di dalam pengertian tentang hal-­hal inipun selalu ada perobahan. Pokok tidak berobah, agama tidak berobah, Islam-sejati tidak berobah, firman Allah dan sunah Nabi tidak berobah, tetapi pengertian manusia tentang hal-hal inilah yang berobah. Pengoreksian pengertian itu selalu ada, dan musti selalu ada. Pengorek­sian itulah hakekatnya semua ijtihad, pengoreksian itulah hakekatnya semua penyelidikan yang membawa kita ke lapang kemajuan.

Kita menamakan, kita kaum pro-ijtihad. Kita menamakan, kita anti taqlid. Maka kita tidak mau menyelidiki kembali kita punya faham­-faham sendiri? Kita tidak mau "mengijtihad" kembali kita punya pengertian-pengertian sendiri, dan mau berkepala batu sahaja menetap­kan bahwa kita punya pengertian-pengertian itu sudah benar dan tak perlu diselidiki kembali? Kalau kita mau bersikap demikian, maka kita mau bersikap demikian, maka kita sendirilah mencekek mati kita punya kecerdasan dengan cara lambat-laun. Kita sendirilah yang mengoper pekerjaan kaum taglid, yang menyudahi tiap-tiap majikan akan menye­lidiki kembali dengan kata:

maukah engkau melebihi imam yang empat?

Kita sendirilah yang menurut perkataan penulis Essad Bey di dalam ia punya kitab tarikh Nabi yang gilang-gemilang, ikut-ikut berdosa menu­tup pintu-gerbang ijtihad, ikut-ikut berdosa "Schlieszung des Bab el Itschtihad" sehingga oleh karenanya datanglah keruntuhan segala ke­hidupan-akal, segala kehidupan-rohani, segala kebesaran dan kemegahan, segala keadaban dan peradaban. Dengarkanlah kata Essad Bey itu: "Gleichzeitig begann auch der Verf all des Geisteslebens. Der Anfang war die bertihmte sogenannte "Schlieszung des Bab el Itschtihad", der Pforte der Erkenntnis. Die muslimischen Gelehrten stellten fest, dasz sie den Gipfel des Erfaszbaren erreicht hatten, weiteres Forschen erschien ihnen ilberfliissig. Damit begann der rapide Verfall der Wissenschaften. Die Araberherrschaft war zu Ende. Wilde Volker, Berber im Westen, Turken im Osten, fiihrten den Islam."

Begitulah vonnis Essad Bey kepada penutupan penyelidikan itu: penutupan pintu ijtihad membinasakan semua peradaban. Dan kita kini mau mengulangi lagi dosa-besar ini? Akh, janganlah kita berkepala batu. Janganlah kita lekas marah, kalau ada orang minta diperiksa kem­bali sesuatu hal di dalam pengertian-pengertian agama kita. Janganlah misalnya kita sebagai itu penulis dari kalangan Tarbiyatul Islamiyah tempo hari, yang marah kepada saya karena saya membuka masalah tabir, dan melemparkan perkataan-perkataan yang tidak zakelijk kepada kepala saya.

Janganlah kita tutup kita punya mata, tidak mau melihat, bahwa di luar Indonesia kini seluruh dunia Timur sedang asyik "rethinking of Islam" (perkataan Frances Woodsman), yakni memikirkan kembali maksud-maksud Islam yang sewajarnya, – rethinking of Islam, di Mesir, di Turki, di Irak, di Sirya, di Iran, di India, di negeri-negeri Islam yang lain. Atau beranikah kaum yang jumud, di dalam bathinnya menetapkan, bahwa misalnya soal tabir soal yang sudah, soal pendidikan pada gadis­ besar soal yang sudah, soal kudung soal yang sudah, soal "perempuan" pada umumnya soal yang sudah, soal bunga bank soal yang sudah, soal kebangsaan soal yang sudah, soal agama dan negara soal yang sudah, soal co-educatie soal yang sudah, soal rationalisme soal yang sudah?

Akh, sekali lagi, janganlah kita berkepala batu. Marilah kita mau, suka, ridla kepada penelaahan kembali itu. Hasilnya, – itu bagaimana nanti. Tetapi keridlaan kepada penelaahan kembali dan her-orienteering, itulah syarat tiap-tiap kemajuan.

Kita misalnya, (karangan K.H.M. Mansur mengenai pemuda), selalu mengeluh, apakah sebabnya kaum pemuda intelektuil jauh kepada agama. Kita dengan lantas sahaja sedia dengan jawaban: kaum pemuda intelektuil itu mendapat didikan anti agama. Kita malahan dengan lantas saha­ja menyalahkan pula kepada kaum pemuda itu.

Tetapi, adakah kita pernah menanya kepada dia sendiri, dengan sesuci-sucinya kita punya rokh: barangkali "ada apa-apa" dengan kita punya pengertian agama ini, maka kaum pemuda menjauhi kita? Adakah kita pernah menanya kepada kita sendiri, barangkali kita punya penger­tian agama itu perlu di-her-orientatie, ditelaah, dikoreksi kembali, difi­kirkan kembalI, "di-ijtihadkan" kembali, – dipermudakan?

Adalah satu peribahasa Belanda yang tiap-tiap orang pergerakan pernah mendengar: "wie de jeugd heeft, heeft de toekomst",

"Siapa yang memegang pemuda pada hari sekarang, dia juga akan memegang hari kemudian". Saya balikkan peribahasa ini, saya putarkan peribahasa ini 180 derajat! Bukan sahadja "wie de jeugd heeft, heeft de toekomst", tetapi saya berkata: "wie de toekomst heeft, heeft de jeugd". Siapa yang menggenggam hari-kemudian di dalam tangannya, dialah yang digemari pemuda pada hari sekarang.

Camkanlah perkataan saya ini: kalau kita punya pengertian agama pengertian yang benar, kalau pengertian kita itu pengertian yang mengan­dung harapan buat hari-kemudian, dan bukan satu pengertian yang tokh akan mati di zaman sekarang ini karena salahnya, – maka pemuda akan gemar kepada kita dan akan menghubungkan dia dengan kita. Sebalik­nya, kalau pemuda pada zaman sekarang ini menjauhi kita, kalau mereka itu tidak senang kepada agama kita, maka nyatalah "ada apa-apa" dengan agama kita itu. Nyatalah pengertian kita itu tidak mengandung harapan akan hari-kemudian. Nyatalah pengertian kita itu menyalahi hukum-sejarah "wie de toekomst heeft, heeft de jeugd". Nyatalah datang kini saatnya, kita disuruh berani menyelidiki pengertian kita sendiri, disuruh berarif mencari "apa-apa" yang saya maksudkan tahadi itu. Nyatalah kini datang saatnya, kita disuruh berani kepada zelf-correctie!

Tidak ada ukuran yang lebih tajam daripada pemuda itu di dalam pergerakan sejarah. "Wie de toekomst heeft, heeft de jeugd", adalah satu alat-peninjau-hari-kemudian, satu barometer untuk hari-kemudian yang tidak pernah salah. Tinjaulah tuan punya hari-kemudian dengan barometer ini. Sebab pemuda memang hidup di dalam hari-kemudian, kaum tua hidup di dalam zaman yang silam. Instinctief, dengan panggilan mereka punya sukma sahaja, zonder dikaji betul dengan mereka punya akal, kaum pemuda merasakan,

apa yang mengandung benih bagi mereka punya alam-kemudian, dan apa yang tidak. Yang mengandung benih bagi mereka punya alam-kemudian itu mereka gemari, yang tidak, mereka jauhi.

Ukurlah tuan punya hari-kemudian, tuan punya pengertian agama, dengan barometer pemuda ini.

Lihatlah bukti sejarah dunia, bukti-bukti kebenaran hukum sejarah yang berbunyi "wie de toekomst heeft, heeft de jeugd" itu. Lihatlah falsafatnya Aristoteles dan Socrates. Falsafat Aristoteles dan Socrates itu sedari lahirnya sudah boleh diramalkan akan mempengaruhi akal ­manusia beratus-ratus tahun, menilik gemarnya pemuda mempelajarinya, begitu gemar, sehingga Socrates dihukum mati karena dituduh merusak fikirannya pemuda. Lihatlah pergerakan kultur Erasmus mempro­pagandakan missi-kebudayaan-nya di Italia, Jerman dan Negeri Inggeris, maka pemudalah yang lebih dulu menerimanya, dan missi-kebudayaannya itu hiduplah menyemangati kultur Eropah buat sangat lama sekali. Lihatlah pergerakan "Oxford", lihatlah agama Nabi Isa, lihatlah hervormingnya Maarten Luther, yang semuanya berusia panjang.

Pergerakan Oxford itu mula-mulanya berpusat kepada pemuda di bawah pimpinan pemuda Welsley dan Whitfield: sahabat-sahabat Nabi Isa rata-rata adalah umur muda; pemudalah yang mengerumuni Luther di Wittenberg.

Tidakkah pergerakan sosialis banyak digemari kaum muda Pula?

Dan, – contoh yang sangat bagus -, lihatlah kepada agama Islam di zaman Islam di zaman Nabi kita sendiri! Ilmu tarikh telah menetapkan, bahwa banyak sekali pemuda-pemuda di kalangan umat Islam di zaman Nabi kita itu. Sayidina Ali muda, Chalid bin Walid muda, Saad bin Waqqas muda, Zubair muda, Umar bin Chattab muda,- sebagian besar dari para tenaga-tenaga dinamis di zaman itu adalah umur muda. Dige­mari pemuda, karena memang mengandung benih buat hari-kemudian. Digemari juga, karena memang menggenggam hari-kemudian.

Nah, marilah sekarang kita lihat dunia Islam kita sekarang. Sedari dulu kita hanyalah kenal satu keluhan: di manakah kita punya pemuda intelektuil?

Sedangkan di dalam kalangan organisasi-organisasi pemuda Islam-pun kita selalu mendengar satu keluhan itu: di manakah kita punya pemuda intelektuil? Lebih dari itu: organisasi-organisasi pemuda Islam itu sen­diri yang "sakit-sakitan"; organisasi-organisasi pemuda Islam itu sendiri banyak yang "kurang darah".

Semua orang mengetahui, bahwa misalnya soal "pemuda" inilah

salah satu daripada "heavy problems"-nya Pengurus Besar Muhamrnadiyah. Dan pemudi-pemudi? Soal pemudi malah menjadi "heavy problem"nya seluruh dunia Islam di negeri kita, bukan dari Muhammadiyah sahaja! Benar-benar: bukan sahaja kurang digemari kaum pemuda intelektuil, bukan sahaja kurang digemari kaum "didikan ke-Barat-an", tetapi kaum pemuda "biasa"-pun umumnya dingin. Siapa mengenal "tintelend Leven"-nya kaum pemuda dari semua lapisan di negeri Mesir umpamanya, siapa mengenal "rokh hidup" yang menyala-nyala di kalangan itu,- dia akan mengakui, bahwa benar-benar Indonesia suram tampaknya! Maka lantas timbullah pertanyaan: apa sebab? Apa sebab di kalangan dunia Islam Indonesia seumumnya, kaum muda terutama yang intelektuil, kurang cinta Islam, kurang bersemangat Islam?

Apa sebab?

Akh, janganlah tuan menjawab, bahwa sampai lebur-kiamat kaum intelektuil tidak akan mau mendekati dan memeluk Islam. Janganlah

tuan menjawab begitu, sebab di negeri-negeri lain kaum intelektuil banyak yang Islam. Dan janganlah kita puas dengan alasan-alasan murah sebagai: kurang propaganda, kurang pemimpin muda yang cakap, kurang perhatian orang tua kepada didikan rohani, kurang benarnya stelsel onderwijs yang hanya memberi ilmu pengetahuan sahaja, dan lain-lain sebagainya.

Alasan-alasan yang demikian itu, di dalam kemurahannya memang ada mengandung juga kebenaran, tetapi marilah kita lebih prinsipiil, marilah kita selami soal ini sampai kepada . hakekatnya, marilah kita selami sampai kepada sebab yang sedalam-dalamnya. Marilah kita berani menanya: "Tidakkah berangkali "ada apa-apa" dengan kita punya pengertian sendiri tentang agama? Saya berani membuat soal ini men­jadi soal prinsipiil begini, oleh karena saya melihat, bahwa

di negeri Islam luaran orang juga telah agak lama mengerjakan "rethinking of Islam". Marilah kita berani pula "rethink"

kita punja Islam!"

Professor Farid Wadjdi pernah berkata: "Agama Islam hanyalah dapat berkembang betul, bilamana umat Islam memperhatikan benar­-benar akan tiga buah sendi-sendinya: kemerdekaan rokh, kemerdekaan akal, kemerdekaan pengetahuan."

Marilah kita memerdekakan kita punya rokh, kita punya akal dan kita punya pengetahuan dari ikat-ikatannya kejumudan. Hanya dengan rokh, akal, dan pengetahuan yang merdekalah kita bisa mengerjakan penyelidikan kembali, her-orientatie, zelf-correctie yang sempurna. Dan bukan sahaja itu: sebelum pengertian kita tentang agama itu benar-benar bersendi kepada rokh merdeka, akal merdeka, dan pengetahuan merdeka, sebelum kita tanamkan tiga sendi yang disebutkan oleh Professor Farid Wadjdi itu kepada keagamaan kita sendiri, maka janganlah kita meng­harap pemuda-pemuda intelektuil kita itu mendekati kita dan memper­satukan diri dengan kita. Sebab alam-perasaan, alam-fikiran, alam­-ideologi, alam-jiwa pemuda intelektuil kita itu ialah, berkat intelektuil pengajaran yang mereka dapat, alam yang merdeka pula; alam yang critisch, alam yang tidak mau menerima, sebelum dikaji dengan rasa dan fikiran yang merdeka; alam yang tidak mau mengiakan, sebelum memuaskan mereka punya critische zin yang merdeka; alam yang tidak mau menelan, sebelum dikunyah halus-halus oleh mereka punya intellect yang merdeka.

Maka oleh karena itu, sekali lagi: marilah kita memberanikan kita punya diri, meridlakan kita punya hati, kepada her-orientatie, penyelidikan kembali, her-correctie yang nyata perlu.

Janganlah kita ketinggalan, sebab seluruh dunia Islam di luar Indonesia sudahlah asyik kepada "rethinking of Islam"!

Sedikit tentang fatsal-fatsal yang perlu kita her-orientatie, kita selidiki kembali, dan kita her-correctie itu, Insya Allah akan saya bicarakan di dalam nomor yang akan datang.

Sayid Amir Ali, penulis kitab gilang-gemilang "The Spirit of Islam", – kitab yang mana menjadi salah satu kitab yang fundamentil bagi kaum-­kaum intelektuil di Eropah dan Asia yang mempelajari Islam -, menulis d idalam kitab itu:

"The elasticity of laws is their great test and this test is preeminently possessed by those of Islam. Their compatibility with progress shows their founder's wisdom."

"Hukum yang jempol haruslah seperti karet, dan kekaretan ini adalah teristimewa sekali pada hukum-hukum Islam.

Hukum-hukum Islam itu bisa cocok dengan semua kemajuan.

Itulah kebijaksanaan yang membuatnya."

Maka dengan alasan kekaretan ini (dalam arti yang baik), jumudlah kita, kalau kita mau berkepala batu memegang teguh kepada pengertian­-pengertian ulama dari seribu tahun yang lalu, atau dari lima ratus tahun yang lalu, atau dari dua ratus tahun yang lalu, waktu keadaan sekarang. Islam bisa cocok dengan semua kemajuan, karena hukum-hukumnya "seperti karet", – begitulah Sir Syed Ameer Ali berkata. Dan perkataan beliau ini adalah benar. Islam tidak akan bisa hidup hampir seribu empat ratus tahun, kalau hukum-hukumnya tidak "seperti karet". Islam tidak akan bisa meninggalkan suasananya abad pertama, tatkala manusia tak kenal lain kendaraan melainkan onta dan kuda, tak kenal lain senjata melainkan pedang dan panah, tak kenal lain alam melainkan alamnya padang-pasir, – kalau hukum-hukumnya tidak "seperti karet". Zaman beredar, kebutuhan manusia berobah, — panta rei!—, maka pengertian manusia tentang hukum-hukum itu adalah berobah pula. Dan siapa tidak mau merobah, siapa tidak mau ikut zaman, siapa tidak mau ikut ber­"panta rei", – ia akan ditinggalkan oleh zaman itu, zonder ampun, zonder kasihan, zonder harapan.

"Kekaretan" hukum-hukum Islam itulah yang menjadi sebabnya kultur Islam selalu berobah corak. Kultur Omayah adalah lain corak dari kultur Abbassyah, kultur Abbassyah lain corak dari kultur Usmaniyah. Kultur Islam Arabia adalah lain dari kultur Islam Sepanyol, kultur Islam Sepanyol lain lagi dari kultur Islam sekarang. Ya, malahan di zaman sekarangpun kita melihat perbedaan-perbedaan pengertian tentang isi dan maunya hukum-hukum Islam itu. Di zaman sekarangpun, kita melihat pertingkat-tingkatan di dalam modern atau kolotnya penger­tian agama itu di pelbagai negeri-negeri Islam. Apakah ini hanya karena otaknya ulama Fulan lain daripada otaknya ulama:Fulun, pengertian ulama Fulan tidak sama dengan pengertian ulama Fulun? Tidak! Sebab kita melihat, bahwa perbedaan-perbedaan pengertian ini bukanlah perbedaan-perbedaan antara ulama dan ulama sahaya, bukanlah perbedaan antara anggapan persoon dan anggapan persoon, tetapi dapatlah kita bahagikan pula di dalam anggapan-anggapan daerah atau anggapan-ang­gapan negeri.

Kita melihat "anggapan Mesir" lain dari "anggapan Turki", "anggapan India" lain dari "anggapan Palestina". Kita melihat satu negeri sama sekali lebih modern interpretasinya Islam dari lain negeri sama sekali pula, satu negeri sama sekali lebih radikal mengoreksi anggapannya dari lain negeri sama sekali pula. Kita melihat "mazhalb Mesir" berlainan dengan "mazhab Palestina", "mazhab Palestina" berlainan dari "mazhab Turki". Kini melihat perbedaan faham yang demikian itu, maka kita tanya: apa sebab? Karena berlainan otak ulama-ulama sahaja? Karena tidak ada dua orang yang satu fikiran? Tidak! Sebabnya ialah oleh karena kebanyakan hukum-hukum Islam itu boleh diinterpretasikan menurut ke­hendak masa. Sebabnya ialah oleh karena satu negeri lebih sempat dan mampu mengajar masa daripada negeri yang lain, lebih "cakap" menga­jar masa daripada yang lain, lebih cakap "mengkaretkan" pengertiannya kepada masa, daripada yang lain.

Marilah kita tinjau "dari udara", – in vogelvlucht negeri-negeri

Islam itu. Peninjauan ini sangatlah perlu bagi kits, agar supaya kita buat sejurus waktu bisa melepaskan diri kita dari anggapan kita sendiri. Umumya manusia adalah egosentris di dalam anggapan-anggapannya: anggapan sendiri sahaja yang benar, anggapan orang lain adalah salah. Anggapan orang lain dianggap "tempe". Orang keluaran Mesir "menggenuki" anggapan Mesir, orang keluaran Aligarh "menggenuki" anggapan Aligarh. Padahal apakah yang saya peringatkan di dalam tulisan saya minggu yang lalu?

Dengan mentanfidzkan pengajaran Professor Farid Wadjdi saya berkata: merdekakanlah tuan punya fikiran, tuan punya rokh, tuan punya ilmu. Lepaskanlah tuan punya fikiran dan ilmu itu buat sejurus waktu dari ikatannya tradisi fikiran sendiri, lepaskanlah tuan punya fikiran dari ikatannya "mazhab-fikiran sendiri". Hanya dengan cara demikianlah tuan bisa ridla menerima ajakan akan "rethinking of Islam". "Orang Mesir" lepaskanlah sejurus waktu tuan punya fikiran dari Mekkah, "orang pesantren Indonesia" lepaskanlah tuan punya fikiran dari tradisi fikiran pesantren Indonesia.

Marilah kita meninjau bersama-sama, agar supaya kita mengetahui, bahwa di luar tradisi fikiran kita sendiri itu adalah pula aliran-aliran lain. Dengan begitu, kita kemudian lantas dapat membandingkan tradisi fikiran kita sendiri itu dengan pendapatan orang lain.

Mana yang benar nanti? Yang benar ialah yang cocok dengan kita punya akal,- asal akal kita itu akal yang merdeka. Akal yang masih terikat pada tradisi fikiran sen­diri, akal yang belum akal merdeka, tak dapatlah kita pakai sebagai penyuluh untuk mencari kebenaran di dalam rimbanya kegelapan. "Agama adalah bagi orang yang berakal", begitulah Nabi bersabda. Orang yang berakal hanyalah orang yang bisa menggunakan akalnya itu dengan mer­deka. Orang yang akalnya masih terikat bukanlah orang yang berakal. Orang yang demikian itu adalah orang yang mengambing kepada tradisi fikiran sendiri.

Orang yang demikian itu adalah "kuddemenscli".

Nietzsche berkata.

Marilah kita tinjau. Kita melihat beberapa pusat fikiran Islam.

Kita melihat pusat fikiran di Turki-Iran, pusat fikiran di Mesir,

pusat fikiran di Palestina, pusat fikiran di Arabia, pusat fikiran di India. Lima pusat fikiran inilah – secara schematisch menggambarkan corak fikirannya seluruh dunia Islam.

Masing-masing pusat fikiran mem­pengaruhi sendiri, warna sendiri, ragam sendiri. Dan perhatikanlah nanti: Corak, warna, ragam itu bergantung kepada posisi masing-masing pusat di dalam peri-kehidupan sehari-hari dan peri-kehidupan internasional. Bergantung kepada keadaan dan kebutuhan. Bergantung kepada keca­kapan ‘rakyatnya masing-masing membarengi masa, atau tidak membarengi masa.

Pertama adalah pusat fikiran di Turki, Iran mengikutinya.

Pusat fikiran di sinilah yang paling modern dan paling radikal.

Di sini agama dipisahkan dari negara.

Di dalam tahun 1928 maka kalimat di dalam konstitusi, bahwa Islam adalah agama-negara, dihapuskanlah. Agama dijadikan urusan perseorangan. Bukan Islam itu dihapuskan oleh Turki, tetapi Islam itu diserahkan kepada manusia-manusia Turki sendiri, dan tidak kepada negara. Maka oleh karena itu salahlah kita, kalau kita mengatakan bahwa Turki adalah anti-agama, anti-Islam. Salahlah kita, kalau kita samakan Turki itu dengan, misainya, Rusia.

Frances Woodsmall juga berpendapat begitu:

"The attitude of modern Turkey toward Islam has been anti-orthodox, Dr anti-ecclesiastical, rather than anti-religious … The validity of Islam as a personal belief has not been denied. There has been no zessation of the services in the mosque, or rather religious observances."

"Turki modern adalah anti-kolot, anti "gereja", tetapi tidak anti­ agama. Islam sebagai kepercayaan persoon tidaklah dibantah. Sembahyang-sembahyang dimasjid tidak diberhentikan, malahan aturan-­aturan agamapun tidak dihapuskan "