Me-"muda"-kan Pengertian Islam

Part 3

Chapter 33,242 wordsPublic domain (Wikisource)

Memang sebenarnya beberapa keadaan di dalam dunia Hindu itu perlu "dilaini", perlu dijauhi, karena memang salah, seperti misalnya kebejatan moril terhadap kepada kaum perempuan din kebejatan moril di kalangan perempuan itu sendiri, tetapi "melaini" dan "melaini" adalah dua. Orang Islam di India. pada umumnya melaini prang Hindu itu dengan cara mundur, bukan dengan cara maju, bukan mengoreksi positif, tetapi mengolot, menguno, mengorthodox, menjumud, menutup diri, mengingkari zaman. Mereka punya posisi sebagai minderheid yang defensif, yakni sebagai kaum sedikit yang menghadapi serangan kaum banyak itu, membuatlah mereka menjadi kaum yang selalu mengharap-­harap pertolongan kaum Islam di negeri-negeri lain. Mereka punya ideologi politik tetaplah kepada ideologi politik Pan-Islam, sedang negeri-negeri Islam yang lain di dalam zaman yang akhir-akhir ini karena desakan realiteit sudahlah masuk ke dalam fase ideologi nasional. Turki mengurus din sendiri secara nasional. Mesir mengurus diri sendiri secara nasional, Irak, Sirya, Palestina nasional, Arabia-pun menjalankan politik yang nasional, tetapi umat Islam di India masih tetap setia kepada cita­-cita Pan-Islamisme yang maha-tinggi itu. Marhum Muhammad Ali, pemimpin Islam India yang kenamaan itu, menggambarkan tepat sikap­ rohani umat Islam di India yang mengharap-harap pertolongan dari dunia luaran itu, tatkala beliau berkata: "We feel strongly the need for a link with the rest of the Moslem world, like a poor relative, who brings gifts and wants to be recognized." Artinya:

"Kita sangat sekali ingin mendapat yang lain, sebagai satu keluarga yang miskin, yang mem­bawa bingkisan-bingkisan, dan minta diakui sebagai saudara."

Ya, Muhammad Ali cakap benar meraba-raba ideologi umat Islam di India itu. Betapa haibat kadang-kadang ia punya perjoangan dengan perasaan-perasaan umat India itu! Pemerintah Inggeris-pun kadang­ kadang "kuwalahan" dengan kekolotan yang luar-batas itu, walaupun pada umumnya pemerintah itu cakap benar mengambil untung daripada­lya. Waktu pemerintah itu mau mengadakan Sarda Child Marriage .ct, yang bermaksud melarang perkawinan anak perawan kecil, maka seluruh dunia kaum kolot di India menentanglah kepada undang-undang tu. "Pengertian-Karet" yang bisa mengaturkan syari'at dengan zaman temajuan, sebagai yang dimaksudkan oleh Sayid Amir Ali sama sekali tidaklah ada pada mereka punya fikiran itu. Ya, inipun gampang di­mengerti! India bukan Mesir. Mesir bukan India! Seorang Sheikh di "L'airo adalah berkata kepada Frances Woodsmall: "Mesir adalah di bawah rekuasaan Muslim, India di bawah kekuasaan asing. Satu perundang­-undangan sosial yang berdasarkan reinterpretasi-Koran oleh karenanya adalah lebih mungkin di Mesir daripada di India." Perundang-undangan sosial yang demikian itu sukar diadakan di India, karena di India pemerintahnya bukan pemerintah Islam, tapi pemerintah Keristen. Tetapi, sebagaimana kekolotan kaum Islam di Palestina kini ditentang dengan cara bijaksana oleh kaum muda yang mau membawa Palestina ke lapang kemoderenan, maka di India-pun kekolotan itu ditentang oleh elemen­-elemen pembaharuan. Tidak ada satu hal yang tinggal beku, tidak ada satu ideologi yang tinggal tetap.

Panta rei! Aliran panta rei ini dengan lambat-laun mencuci segala kekolotan dan kejumudan kaum Muslimin di India itu.

Sekarang belum, tetapi di kelak kemudian hari pasti.

Saya tidak akan membicarakan di sini pergerakan-pergerakan politik di kalangan umat Islam India itu, (seperti misalnja All-India Moslem League, atau sayap-Islam dari Indian National Congress), yang lapang­ pekerjaannya terutama sekali terletak di bagian politik, tetapi yang tokh barang tentu sekali ada pengaruh pula di atas lapangan syari'at dan pengertian agama, tetapi saya sebutkan di sini beberapa pergerakan Muslim India yang semata-mata bercorak agama dan yang nyata-nyata menjadi elemen-elemen pembaharuan di atas lapangan, "Moslem out­look" itu. Pergerakan-pergerakan muda inilah yang nyata menjadi gelombang-gelombangnya aliran panta rei yang mencuci "outlook" itu dengan lambat-laun. Orang boleh mufakat, atau tidak mufakat, boleh mengutuk atau tidak mengutuk pergerakan-pergerakan muda ini, tetapi orang tidak dapat membantah kenyataan, bahwa pergerakan-pergerakan ini banyak berjasa mengoreksi keagamaan umat Islam di India, mem­bersihkan kotoran-kotoran faham di dalam dunia Islam di India, melibe­ralkan "outlook"-nya sebagian kaum kolot di India sejak bertahun-tahun.

Pertama "pergerakan Aligarh", kedua "pergerakan Ahmadiyah". Pergerakan Aligarh yang berpusat di Aligarh, dan pergerakan Ahmadiyah yang berpusat di Lahore. Nama yang orang berikan kepada bapak per­gerakan Aligarh itu, – Sir Ahmed Khan – , adalah jitu sekali buat menggambarkan "outlook"-nya pergerakan itu.

Orang namakan Sir Ahmed Khan "The Apostle of Reconciliation",-

"De apostel der Verzoening", "Dutanya perdamaian". Perdamaian

antara kemajuan dan agama Islam, perdamaian antara kemoderenan dan syari'at. Reconciliation, verzoening, perdamaian, … dan bukan tabrakan! Heran­kah kita, kalau kita melihat cara-bekerjanya

kaum Aligarh penuh dengan reconciliation pula? Secara "halus", secara "bijaksana", secara … "perdamaian"? Perdamaian, dan

bukan membongkar men­tah-mentahan faham-faham yang salah, bukan mengadakan pengertian yang baharu, – bukan reinterpretasi yang baru, yang berkata: "inilah interpretasi yang benar, yang lain adalah salah".

Lain sekali dengan metode pergerakan yang kedua, yakni pergerakan Ahmadiyah. Ahmadiyah tidak percaya bahwa bisa ada perdamaian antara salah dan benar. Bukan reconciliation-lah ia punya semboyan, ia punya semboyan ialah reinterpretasi. "Interpretasi yang dulu adalah salah, marilah kita buang interpretasi yang salah itu, marilah kita rnencari interpretasi yang baru." Ahmadiyah adalah besar pengaruhnya, juga di luar India. Ia bercabang di mana-mana ia menyebarkan banyak per­pustakaannya ke mana-mana. Sampai di Eropah dan Amerika orang baca ia punya buku-buku, sampai di sana ia sebarkan ia punya propagandis­propagandis.

Corak ia punya sistim adalah mempropagandakan Islam dengan cara apologetis, yakni mempropagandakan Islam dengan mempertahankan Islam itu terhadap serangan-serangan dunia Nasrani: mempropagandakan Islam dengan membuktikan kebenaran Islam di hadapan kritiknya dunia Nasrani. Ya, … Ahmadiyah tentu ada cacat­-cacatnya, – dulu pernah saya terangkan di dalam surat-kabar ".Peman­ dangan" apa sebab misalnya saya tidak mau masuk Ahmadiyah tetapi satu hal adalah nyata sebagai satu batu-karang yang menembus air laut: Ahmadiyah adalah salah satu faktor penting di dalam pembaharuan pengertian Islam di India, dan satu faktor penting pula di dalam pro­paganda Islam di benua Eropah khususnya, di kalangan kaum intelektuil seluruh dunia umumnya. Buat jasa ini,- cacat-cacatnya saya tidak bicarakan di sini -, ia pantas menerima salut penghormatan dan pantas menerima terima kasih. Salut penghormatan dan terima kasih itu, marilah kita ucapkan kepadanya di sini dengan cara yang tulus dan ikhlas!

Sekarang tinggal kita meninjau tanah Arab. Hawa padang-pasirlah yang kita temui di sini. Hawa padang-pasir yang kering dan bersih, yang terang cuaca sampai ke puncak-puncak langit. Hawa yang murni dan asli, tetapi juga hawa yang … tidak kenal ampun! Yang membakar manusia dan binatang dan tumbuh-tumbuhan. Yang tidak kenal akan angin-angin sejuk yang meniup dari udara-udara yang lain. Yang, menurut perkataannya Captain Armstrong yang lama berdiam di situ, adalah "kadang-kadang membuat orang menangis karena memperingat­kannya kepada Asal, tetapi kadang-kadang pula membuat orang jadi gila karena kekejamannya".

Di dalam udara padang-pasir yang demikian inilah kita, – kecuali agama Islam mesum di bagian Hadramaut menjumpai satu aliran agama Islam yang sifat dan outlook-nya sebagai udara padang-pasir pula: Murni, asli, angker, tak kenal ampun, dan tak menerima tiupan angin Uri udara-udara lain. Di dalam udara ini kita menjumpai Wahabisme, yang sejak bagian kedua dari abad kedelapanbelas, tatkala ia dibangun­tan oleh Imam Abdul Wahab di Hejaz, berkembang di sana-sini dan nenjadi "bunga hantu" bagi banyak ulama-ulama Muslimin. Ya, – di sana-sini tidak di Hejaz sahaja berkembangnya Wahabisme itu. Tapi hampir selamanya padang-pasirlah ia punya tempat-berpusat, hampir selamanya padang-pasirlah ia punya "udara".

Kalau kita kecualikan satu pusat kecil sebagai Bonjol di Sumatera Barat, yang nyata bukan padang-pasir, di mana Tuanku Imam pada per­mulaan abad yang lalu mengembangkan Wahabisme dengan pergerakannya Paderi, maka tinggal padang-padang-pasir sahajalah yang musti kita sebutkan: Pertama di Hejaz sendiri, di mana ia dilahirkan. Kedua di padang-pasir Gobir di Afrika, di mana benderanya berkibar dari tahun 1804 sampai tahun 1900. Ketiga di padang-pasir Kufra, – atau Kufara -, di Afrika pula, di mana ia di dalam tahun 1844 dikibarkan oleh Muhammad All El Sanusi. Dan keempat di Punjab di India Barat-Utara, di mana ia antara 1820 dan 1830 mendirikan satu pusat di Darul Harb,- satu negeri pula, yang sebagai Punjab pada umumnya, adalah setengah­-setengah padang-pasir.

Cobalah pembaca renungkan sebentar "padang-pasir" dan "Wahabisme" itu. Kita mengetahui jasa Wahabisme yang terbesar:

ia punya kemurnian, ia punya keaslian, – murni dan asli sebagai udara padang­ pasir. "Kembali kepada asal, kembali kepada Allah dan Nabi, kembali kepada Islam sebagai di zamannya Muhammad!"

Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu-satu tahayul dan seribu-satu bid'ah. Lemparkanlah jauh­-jauh tahayul dan bid'ah itu, nyahkanlah segala barang sesuatu yang mem­bawa kepada kemusyrikan! Murni dan asli sebagai hawa padang-pasir, – begitulah Islam musti menjadi.

Dan bukan murni dan asli sahaja!

Udara padang-pasir juga angker, juga kering, juga tak kenal ampun, juga membakar, juga tak kenal puisi. Tidakkah Wahabisme begitu juga? Iapun angker, tak mau mengetahui kompromi dan rekonsiliasi. Ia pun tak kenal ampun, – leher manusia ia tebang kalau leher itu memikul kepala yang otaknya penuh dengan fikiran bid'ah dan kemusyrikan dan kemaksiatan.

"Allah berdiam di dalam pedang, tiada kekuasaan dan kekuatan melainkan dari padaNya, terpujilah Ia punya namar, – begitulah

Ibn Saud berkata kepada Yulius Germanus, seorang Islam bangsa Hongaria, penulis buku "Allah Akbar", yang mertamu kepadanya. Allah di dalam pedang! Keangkeran dan kekerasan bukti-bukti-batu padang-pasirlah yang terbayang-bayang, kalau orang mendengar perkataan Wahabisme ini. Padang-pasir yang juga kering, juga tak kenal puisi, juga tak kenal tiupannya hawa-hawa-sejuk yang datang dari lapisan-lapisan udara negeri lain: tiap-tiap kemoderenan, Wahabisme curigai, tiap-tiap ajakan zaman kepada kemajuan ia terima dengan keangkuhan, sebagai raja ­puteri padang-pasir "She" di dalam cerita-romannya Rider Haggard mencurigai dan memusuhi tiap-tiap orang asing yang masuk kenegerinya. Hanya kebijaksanaan Ibn Saud-lah dapat memasukkan sedikit kemo­derenan ke dalam akal-fikiran ulama-ulama Wahabi dan Badui yang angker dan keras-hati itu.

Tiang antenne radio yang dulu mau didirikan dikota Madinah terpaksa dibongkar lagi, lampu listrik yang mau menyinari kota Mekkah lama sekali dicegah masuknya, oleh karena menurut pendapatan mereka itu barang-barang itu tidak ada di

zaman Nabi. Ya, Ibn Saud sendiri dulu pernah marah-marah

kepada orang-orang kawannya yang mengisi rumahnya dengan

kursi dan meja, oleh karena barang-barang itu dikatakannya melemahkan sifat kelaki-lakian.

"Aku benci melihat orang menjadi lemah", – begitulah ia berkata kepada Germanus, "aku tak mau sifat kelaki-lakian di kalangan rakyatku itu didesak oleh sifat keperempuanan."

Bumi kita, padang-pasir kita, jiwa kita adalah laki-laki. Memang laki-laki, – dan kelaki-lakian yang memang mengagumkan! Kelaki-lakian … padang-pasir, yang maha-haibat, tetapi bersahaja. Kelaki­-lakian yang menganggap kursi dan meja satu pelemahan. Kelaki-lakian, yang termaktub di dalam sumbernya seorang Ikhwan Ibn Saud pula, yang tatkala Germanus menanya kepadanya, apakah pedang sahaja sudah cukup buat menolak bom dan meriam, menjawab:

"Di dalam pedang ini berdiam Allah. Kalau Dia mau, maka Dia akan membinasakan kaum kafir dengan meriam-meriamnya dan bom-bomnya itu."

Kelaki-lakian, yang tak mau kenal kompromi dengan zaman, yang seperti dipindahkan begitu sahaja dari zaman Nabi, hampir empatbelas abad yang lalu, ke dalam zaman sekarang.

Perkataannya Sayid Amir Ali, bahwa hukum-hukum Islam dapat dipanjang-pendekkan zaman, per­kataan yang demikian itu akan membuat orang Wahabi tertawa terbahak­-bahak karena "kegilaannya", atau … akan membuatlah ia sebagai kilat menghunus pedangnya dan sebagai kilat pula menebas batang-leher

si orang-kurangajar yang berani mengucapkan perkataan-dosa

yang demikian itu!

Tetapi, walaupun begitu! … Desakan zaman, desakan politik luar-negeri dan dalam-negeri, mempengaruhi pula Ibn Saud, pula ke dalam ideologinya ulama-ulama Wahabi, ikhwan-ikhwan Wahabi, pemuda-pemuda Wahabi, terutama sekali yang dikirimkan oleh Ibn Saud keluar negeri untuk menghisap pengetahuan. Kini Ibn Saud bukan lagi seorang Pahlawan Maha-Haibat yang membenci kursi dan meja, kini ia mempunyai mobil beratus-ratus, tigapuluh lima stasion radio, ber­macam-macam kapal-udara. Listrik, tilpun, bukanlah barang yang asing lagi. Dan, bukan sahaja kemoderenan benda, bukan sahaja kemoderen­an materi. Budi-pekerti, akal fikiran, faham dan anggapan, bathin dan rohani, outlook-nya Wahabisme dengan lambat-laun berobah pula. Wahabisme tahun 1940 bukanlah lagi Wahabisme tahun 1920. Tetes per tetes, detik per detik, langkah per langkah, maha Dewa zaman masuk ke dalam kalbunya. Yulius Germanus yang saya sebutkan namanya tahadi, di lain tempat adalah berkata: "Juga Wahabisme lambat-laun hilang ia punya sifat purisa dari tembok-temboknya faham. Kaum muda yang di sekolahkan Ibn Saud ke negeri luar itu, ternyata "mendurhaka" kepada pusaka Wahabisme yang asli. Kaum muda itu mau membawa Wahabisme kecdunia fikiran modern yang lebih liberal. Saya kira kaum muda inilah yang nanti menang. Mereka punya ucapan adalah: tunggulah gaek-gaek itu mati. Ya, kaum ulama-ulama tua tentu lekas mati. Tapi kaum muda masih menghadapi dunia baru setengah abad."

"Juga di sini!" Juga disini, di dalam dunia Wahabisme yang kereng dan kukuh itu, mulai terdengar ajakan rethinking of Islam. Juga di sini, di gedung ideologi Wahabisme, yang tokh begitu keras sebagai kerasnya bukit-bukit karang di padang-pasir, orang mengetok-ngetok pintu minta membawa masuk tuntutan-tuntutannya zaman Ibn Saud sendiri, itu laki-laki yang maha-haibat, Ibn Saud sendiri adalah ikut berobah. Ibn Saud 1920 bukanlah Ibn Saud 1940. Kini ia, yang dulu benci kepada kursi dan meja, kini ia berkata kepada Germanus:

"Aku tidak menutup diri dari peradaban Eropah, tetapi aku memakainya begitu rupa, sehingga cocok dengan negeri Arab, jiwa Arab, dan kehendak Tuhan. Rakyatku dilahirkan di padang-pasir!"

Ya, sesungguhnya: juga di sini! Panta rei,- segala sesuatu mengalir. Dapatkah aliran sungai kita bendung? Pembaca, meski seratus ideologi yang begitu keras sebagai ideologi Wahabisme-pun, tak akan kuasa mem­bendung aliran air sungai yang bernama zaman itu. Tembok beton dan besi yang bagaimanapun, akan pecahlah karena kekuatan air ideologi­ baru yang mengebah itu. Siapa yang memasang bendungan di sungai zaman, ia adalah orang yang sangat dungu. Orang bijaksana tidak membendung, orang bijaksana menerima dan mengatur. Ibn Saud termasyhur sebagai panglima perang, sebagai prajurit, sebagai prajurit dan pejoang. Tetapi ia termasyhur pula sebagai ahli tata-negara. Dapat­kah ia selalu mengerjakan kebijakan ahli tata-negara terhadap desakan­nya zaman itu?

Sejarah akan membuktikan kelak.

Kini habislah peninjauan kita itu. Kini datang bahagian yang kedua. Kini kita musti mengambil konklusi yang berfaedah bagi

Islam di negeri kita sendiri. Tahadi kita hanya meninjau, melihat, menonton. Kini kita musti memikirkan apa yang kita tonton itu, dan mengeluarkan fikiran-fikiran yang membentuk dan menyusun.

Tak cukup kita hanya berfikir sahaja, kita harus juga mengadakan. Sebab Islam di negeri kita perlu kepada pengadaan itu!

Sayang, ini kali juga, kolom-kolom "Panji Islam" yang disediakan buat saya, sudah penuh. Terpaksa saya minta izin dan kesabaran redaksi serta pembaca, membicarakan konklusi saya itu di nomor yang akan datang.

Tahadinya saya kira cukup dengan seri dua-tiga sahaja, kini ternyata empatlah baru menyukupi.

Saya harap pembaca memaafkan kepanjangan-kata saya itu.

Barang­kali saya menjemukan, barangkali tidak. Entah, – tuan-tuan sendirilah yang lebih maklum.

Tetapi menjemukan atau tidak menjemukan, – tetap saya meminta maaf. Empat kali seri memang bukan aturan!

Kasihlah permaafan itu, tuan-tuan dan saudara-saudara!

Peninjauan kita kenegeri-negeri Islam luaran sudahlah selesai.

Dari atas udara, "in vogelvlucht", kita sudah melihat negeri-negeri Mesir, Turki, Palestina, India dan Arab. Alangkah mentakjubkan peninyauan kita itu! Tampaklah, bahwa lima negeri Islam itu mempunyai corak sendiri-sendiri, warna sendiri-sendiri! Sudahkah saudara pembaca pernah naik kapal-udara? Pemandangan-alam adalah lain tampaknya dari udara yang tinggi itu daripada jika dilihat dari perdirian yang biasa. Dari udara kita tidak melihat barang-barang yang kecil lagi, tidak:melihat rumput-rumput apa, semak-semak apa, puhun-puhun apa, details-details apa lagi, melainkan hanjalah corak-umum, warna-umum, sifat-umum sahaja.

Tampaklah dari udara itu misalnya: satu negeri sifat-umumnya ternyata hijau-tua, satu negeri lagi sifat-umumnya hijau-muda. Satu negeri sifat-umumnya segar, lain negeri sifat-umturmya kering. Penin­jauan dari atas, memberikan kesan-kesan yang fundamentil kepada kita.

Ada peribahasa Belanda: door de bomen ziet men het bos niet.

Kalau kita berdiri di dalam hutan, maka kita tidak melihat hutan itu. Yang kita lihat hanyalah puhun-puhun sahaja.

Daun-daun, dan semak-semak dan kayu dan belukar sahaja yang kita lihat. Hutan-kecil ataukah hutan ­besar, itu tidaklah kita ketahui. Tetapi kalau kita tinjau hutan itu dari atas udara, maka baru tampaklah kepada kita wujud dan sifat hutan itu yang sebenar-benarnya. Tampaklah kepada kita, misalnya – di muka kita hutan luas sekali yang daunnya semua hijau, di belakang kita hutan­ kecil yang daunnya hijau muda, di kanan kita hutan yang puhun-puhunnya gundul, di kiri kita hutan yang semua dawn-daunnya warna kemerahan. Di muka kita rimba-raya yang asli, di belakang kita hutan baru, di kanan kita hutan jati, dikiri kita hutan karet.

Tiada ubahnyalah peninjauan dari udara kepada macam-macamnya agama. Dari atas udara yang tinggi itu, – udara rohaniah – maka kita melihat corak-umum agama di masing-masing negeri yang kita tinjau. Kita tidak melihat detail lagi, kita hanya melihat perbedaan-perbedaan yang pokok, perbedaan-perbedaan yang fundamentil. Sudah kita katakan lebih dulu di dalam bahagian kedua dari seri ini: siapa yang membenamkan diri di Mesir, dia hanyalah melihat Mesirisme sahaja. Siapa yang membenamkan diri di Turki, dia hanya melihat Turkiisme sahaja. Dia lantas terbenam di dalam detail, dan dia lantas "menggenuki" detail itu, zonder merealisirkan, bahwa di luar ia punya dunia-ideologi itu adalah ideologi­-ideologi lain, faham-faham lain, pengertian-pengertian lain. Dia terikat kepada isme di negerinya, terikat oleh tradisi fikiran di negerinya atau di negeri tempat sekolahnya. Dia terikat secara rohaniah, dia tidak mer­deka rokhnya, tidak merdeka akalnya, tidak merdeka pengetahuannya, se­bagai dimaksudkan oleh Professor Farid Wadjdi itu. Dia, secara rohaniah, adalah budak, dan bukan tuan!

Kini kita telah meninjau, dan apakah yang kita lihat? Kita melihat, bahwa baik di Turki, baik di Mesir, baik di Palestina, baik di India, maupun di Arabia, ada pengoreksian pengertian Islam. Semua negeri­-negeri itu membantah pendirian beku, bahwa tiada perobahan ditentang pengertian agama. Sifat-umumnya adalah lain-lain, corak-umumnya adalah berbeda, warna-umumnya adalah tidak sama, tetapi semuanya mengarah kepada satu macam perobahan, – semuanya mengarah kepada satu macam penyelidikan dan pengoreksian kembali.

Turki, muda-­remaja, memerdekakan Islam dari segala ikatan-ikatannya tradisi yang berpusat kepada negara, supaya bisa merdeka 100% mengikuti peredar­annya zaman; Mesir, sedar kepada tuntutan-tuntutan zaman-baru, mencoba mencari "perkawinan" antara syari'atul Islam dengan tuntutan­-tuntutan zaman-baru itu; Arabia, asli dan murni tetapi kuno, mencari pula persetujuan dengan geraknya zaman; India dan Palestina, dua-­duanya kolot dan konservatif, tetapi dua-duanya juga dikikir dan digurinda dan

dicuci oleh kekuatan-kekuatan yang mengajak kepada koreksi dan pengakuran kepada zaman.

Maka apakah motor-hakiki yang menggerakkan aliran pengoreksian ini? Motor-hakiki dari semua "rethinking of Islam" ini ialah kembalinya penghargaan kepada Akal. Kasihan nasibnya akal-manusia itu di zaman yang telah lampau! Oleh Allah Ta'ala ia diberikan kepada manusia untuk menjadi senjata yang paling dahsyat di dalam perjoangan-hidup, – tetapi umat Islam cekekkan ia punja kerongkongan, pijit-mati ia punya nafas. Ia dilemparkan dari singgaasananya kecakrawartian rohani, diseret dari mahligainya kecakrawartian fikir, diikat, diberangus, dibung­kam, ditutup ia

punya nafas, dijejalkan dengan paksa ke dalam kung­kungan yang sempit dan gelap-gulita. Di atas singgasana itu diduduk­kanlah

Dewa "Kepercayaan-sahaja", Dewa Rein Geloof, zonder apitan yang lain, melainkan apitannya "bila kaifa" dan "terima".

Terima sahaja … zonder kajian fikiran lagi, itulah hukum-baru yang musti diperhatikan. Akal, fikiran, rede, reason, dienyahkan dari dunia keagamaan, diganti dengan "percaya sahaja", "geloof sahaja", "terima saha­ja", zonder kajian apa-apa lagi. Rasionalisme diganti dengan "Percaya sahaja". Akal diganti dengan otoritet, aktivitet rohaniah diganti dengan penerimaan rohaniah.

Hampir seribu tahun akal itu dikungkung. Sejak zamannya kaum mu'tazillah, sejak zamannya pahlawan-pahlawan akal seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Baya, Ibn Tufail, Ibn Rushid dan lain-lain, maka akal tidak diperkenankan lagi. Akal yang dipropagandakan oleh kaum itu, yang menjadi senjatanya kaum maha-intelek seperti Ibn Sina c.s. itu, yang menjadi pusakanya kaum ensiklopedis Islam "Ichwan-us-safa" di Basra dengan mereka punya risalah-risalah "Rasaili-Ichwan-us-Safa wa chullan ul-afa", – akal itu dikutuk seakan-akandari syaitan datangnya. Terutama sekali sesudah Abu'l Hasan al-Ash'ari mengembangkan haluan sifatiyah, dan menjadi pelopor dari kehidupan rohaniah, maka akal menjadi terkutuklah di ingatan umat. Ash'ari‑isme inilah yang menjadi nada-dasar semua kehidupan rohani Islam sampai sekarang atau paling tidak, sampai bangkitnya maha-guru Jamaluddin El Afghani, yang memulai dengan pendobrakannya pintu penutupan akal itu. Ash'ariisme inilah pokok-pangkalnya taqlidisme di dalam Islam, pokok-pangkalnya patriotisme (kependetaan) di dalam Islam, Islam bukan lagi satu agama yang boleh difikirkan secara merdeka, tetapi menjadilah monopolinya kaum faqih dan kaum tarikat. Sebagai Essad Bey katakan, maka Ash'ariisme itulah pokok pangkalnya Islam menjadi "membeku", – sebagaimana air membeku karena hawa-dingin di musim winter. Sungai fikiran Islam, yang mengalir dan mengembok di zamannya. Islam‑ Muda, yang turbulent seakan-akan air sungai di pegunungan yang berlari-larian dan berlompat-lompatan dari sela-batu ke sela-batu menuju samuderanya kesempurnaan, – sungai fikiran Islam itu menjadilah beku terkena pukaunya faham Anti-Nasionalisme dari Ash'ariisme tahadi.