Me-"muda"-kan Pengertian Islam

Part 2

Chapter 23,227 wordsPublic domain (Wikisource)

Apa yang Turki perbuat, tidaklah berbeda dari apa yang negeri­negeri Barat perbuat. Tidak berbeda dari Inggeris, Perancis, Jerman, Italia, Nederland, Belgia dan lain-lain. Juga dinegeri-negeri ini agama diserahkan kepada persoon, – agama dibiarkan menjadi urusan pribadi -, dan tidak diserahkan kepada negara. Tidak diserahkan kepada negara, tidak dijadikan urusan negara, tidak dijadikan agama-negara.

Bagi kita keadaan di Turki itu sebenarnya bukan keadaan asing. Bagi kita perpisahan antara agama dan negara itu sebenarnya, dengan ada perbedaan besar yang saya tidak bicarakan di sini, sedang kita alami. Bagi kita agama Islam adalah urusan kita sendiri, dan bukan urusan pemerintah. Keadaan sama, tetapi motif di sini dan di Turki lain. Apakah motif memisahkan agama dari urusan negara? Dengarkanlah apa yang dikatakan oleh penganjur isteri Turki Chalidah Hanoum (Halide Edib Hanoum) di dalam ia punya buku termasyhur "Turkey faces West".

Indo­nesianya begini:

"Kalau Islam terancam bahaya kehilangan pengaruhnya di atas rakyat Turki, maka itu bukanlah karena tidak diurus oleh pemerintah, tetapi ialah justru karena diurus oleh pemerintah … Umat Islam terikat kaki tangannya dengan rantai kepada politiknya pemerintah itu. Hal ini adalah satu halangan yang besar sekali buat kesuburan Islam di Turki … Dan bukan sahaja di Turki, tetapi di mana-mana sahaja, di mana pemerin­tah campur tangan di dalam urusan agama, di situ ia menjadi satu ha­langan-besar yang tak dapat dienyahkan."

Maka oleh karena itu, menurut pemimpin-pemimpin Turki justru buat kesuburan Islam itu, maka Islam dimerdekakan dari pemeliharaan pemerintah. Yustru buat kesuburan Islam itu, maka kalifat dihapuskan, kantor komisariat Syari'at ditutup. Kode Swiss sama sekali diambil over buat mengganti hukum famili yang tua, bahasa dan huruf Arab yang tidak dimengerti oleh kebanyakan rakyat Turki diganti dengan bahasa Turki dan huruf Latin. Seluruh pergaulan hidup, terutama kedudukan perempuan, dipermoderen oleh negara, oleh karena negara tidak menanya lagi: "dibolehkankah atau tidak, aturan ini oleh syari'at?" Umat, yang tidak lagi takut-takut bertabrakan dengan negara ditentang urusan agama, – oleh karena negara memang tidak campur tangan lagi di dalam urusan agama -, lantas mempermoderen pula agamanya itu. Adzan kini ia dengungkan dengan bahasa Turki. Qur'an sama sekali di-Turki­kan sebagai bijbel di-Belanda-kan atau di-Inggeris-kan, kedudukan perempuan dimerdekakan juga dari ikatan-ikatannya kekolotan.

Apa sebab Turki berbuat begitu? Apa sebab agama diputuskan dari negara? Apa sebab tidak sebagai di negeri Mesir: mencari perakuran semua aturan negeri dengan syari'at, mencari "balans-persetujuan" antara hervorming negeri dengan agama? Turki punya kedudukan adalah berbeda dari kedudukan Mesir. Turki adalah satu negeri yang merdeka, tetapi muda. Sesudah ia mendapat pukulan-pukulan di dalam peperangan dunia, terpaksalah ia berpukulan lagi dengan negeri Yunani. Sebenarnya seluruh benua Eropah adalah berhadapan dengan dia, seluruh dunia Barat ia punya musuh. Kalau ia tidak jaga betul-betul, dunia Barat akan terkam kepadanya, membinasakan kepadanya.

Dikonferensi Lausanne ia insyaf akan hal ini betul-betul.

Kembali dari konferensi Lausanne itu, Ishmet Pasha berkata

kepada Mustapha Kemal Pasha: "Tuan adalah benar. Kita musti memperkokoh kita punya negeri. We must ensure our existence." Maka sejak hari itu hanya satu kalimatlah tertulis di atas programma pemerintah Turki: modernisasi Turki secara Barat.

Sejak hari itu Turki memulai ia punya perlombaan dengan negeri-negeri Barat yang mengancam kehidupannya. Negeri-negeri Barat hanyalah bisa disaingi dengan metode-metode Barat. "Rita tidak bisa membikin dunia menjadi tidak seperti dunia"', begi­tulah perkataan salah seorang pemimpinnya yang utama.

Begitulah sebab-sebab politik yang memaksa Turki mem-Barat-kan semua ia punya susunan negara. Tetapi temperamennya rakyat Turki­pun, – rasa-bathinnya, jiwanya, sukmanya, psychenya,- temperamennya rakyat Turki-pun memang memudahkan modernisasi ini. Rakyat Turki bukanlah satu rakyat yang tabiatnya fanatik agama atau gemar kepada filosofi yang dalam-dalam. Rakyat Turki bukanlah misalnya seperti rakyat Arab, yang berdarah-daging dan berurat-sumsum agama, – bukan pula seperti rakyat India yang gemar sekali memfikirkan filosofi-filosofi yang angker-angker.

Rakyat Turki adalah rakyat yang zakelijk, satu rakyat yang praktis. Lagi pula rakyat Turki yang tulen belum lamalah beragama Islam; rakyat Turld yang tulen itu datangnya dari Asia-Tengah, di mana mereka beragama dengan agama yang lain, – bukan Islam.

Rakyat Turki ini, karena sebab-sebab politik internasional dan sebab­-sebab temperamen itu, mudah sekali memutuskan pertaliannya dengan tradisi-tradisi tua, sekalipun tradisi-tradisi itu mengenai agama. Herankah kita, kalau Iran, yang status politiknya hampir sama dengan Turki itu, juga begitu pesat jalannya diatas lapangan modernisasi? Ya, tidak begitu pesat jika dibandingkan dengan Turki, tetapi desakan politik internasional juga tidak begitu mendesak seperti di Turld itu, dan – kekuasaan kaum mollah di Iran yang kolot-kolot itupun menjadi per­timbangan bagi pemerintah Iran, supaya berhati-hati sekali ditentang mengerjakan modernisasi itu.

Kini Turki menjadi satu pusat fikiran di dalam dunia Islam, yang separoh dunia-Islam mengutuknya, dan separoh lagi memuja-mujanya. Agama dimerdekakan dari tanggungan negara. Benarkah ini?

Atau salahkah ini? Mahmud Essad Bey, minister yustisi dulu pada waktu membicarakan pengoperan Civiele Code Swis, berkata:

"Manakala agama dipakai buat memerintah masyarakat-masyarakat manusia, ia selalu dipakai sebagai alat-penghukum di tangannya raja-­raja, orang-orang zalim dan orang-orang tangan-besi. Manakala zaman modern memisahkan dunia dari banyak kebencanaan, dan ia memberikan kepada agama itu satu singgasana yang maha-kuat di dalam kalbunya kaum yang percaya."

Dus alasan seperti tahadi: buat keselamatan dunia, dan buat kesuburan agama, – bukan untuk mematikan agama itu -, urusa:n dunia diberikan kepada pemerintah, dan urusan agama dikasihkan kepada yang menger­jakan agama. "Geef den Keizer wat des Keizers is, en God wat Godes is","- begitulah satu kalimat dari bijbel, yang boleh dipakai juga buat menggambarkan pendirian rakyat Turki itu terhadap pada soal agama dan negara. Benarkah ini? Atau salahkah ini?

Ya,- kini sebenarnya rakyat Turki itu sendiri di dalam ujiannya sejarah. Sejarah menjadi hakimnya nanti. Sejarah akan membenarkan atau menyalahkan pendirian itu nanti. Alasan-alasan buat menyalahkan banyak, tapi alasan buat membenarkanpun banyak. Menya­lahkan atau membenarkan itu pada saat ini adalah tergantung daripada tradisi fikiran masing-masing. Hanya sejarahlah tidak bertradisi fikiran. Sejarah hanya mengenai kenyataan, sejarah hanya mengenai feit. Ke­nyataan inilah, kenyataan di hari depan, yang akan menunjukkan benar atau salahnya tindakan Turki itu.

Saya hanya mengajak meninjau. Meninjau dari atas, – in vogel­vlucht. Meninjau bersama-sama dengan tuan, konklusinya nanti kita tarik bersama-sama pula sesudah kita meninjaunya. Tetapi sudah nyatalah, bahwa kini agama Islam di Turki itu bergantung kepada rakyat Turki sendiri, zonder pemerintahnya, zonder alat-alat negaranya. Dan rakyat Turki-pun menerima hal ini dengan gembira dan besar hati. "Pemerintah sudah menunjukkan jalan kepada kita. Kini kita merdeka dan tanggung-jawab sendiri, buat menentukan apakah kehendak-kehen­dak agama kita yang sebenarnya", begitulah seorang studen Turki berkata dengan gembira.

Ya, memang! Memang kini tergantung kepada rakyat Turki sendiri dengan sistimnya itu, buat membuktikan kepada dunia-luaran, kebesaran Islam sebagai agama yang hidup, geloof yang hidup, pedoman-jiwa yang hidup – api-jiwa yang hidup! -, dan bukan hanya sebagai satu kum­pulan voorschriften belaka, bukan hanya sebagai satu "sistim formil" belaka.

1) Maksudn y a: Berikanlah kepada Keizer apa y ang jadi hak Keizer dan beri­kanlah kepada Tuhan apa y ang jadi hak Tuhan.

Mampu atau tidak mampu, rakyat Turki itu melaksanakan ujian­sejarah ini, – itu tersilah kepada sejarah.

Habis Turki, – kini Mesir! Mesir, di mana begitu banyak pemuda­pemuda kita mencari ilmu Islam! Mesir, yang memang, sebagai pusat fikiran, menduduki tempat yang terkemuka di dalam dunia Islam. Penga­ruh Mesir keluar, adalah melebihi pengaruh Turki keluar. Pemuda­-pemuda dari semua sudut dunia Islam datang di Mesir, untuk mempela­jari Islam. Tidak salah jikalau seorang penulis mengatakan bahwa Mesir "occupies without question a position of religious prominence in Islam", – artinya: menduduki tempat yang terkemuka

di dalam urusan agama Islam.

Mesir adalah satu negeri pertemuan Timur dan Barat, satu negeri pertemuan kolot dan modern. Kota Cairo adalah campur-adukan antara Timur dan Barat, antara kolot dan modern, antara sistim-sistim kuno dan techniek-technieknya zaman modern. Gerobak bersaingan dengan mobil, kaum penjual air bersaingan dengan waterleiding, kendaraan onta dengan kendaraan kapal-udara, rumah-rumah model ketimuran dengan hotel-hotel besar menurut stijl yang paling muda, Cairo, Mesir, adalah satu "perakuran".

– Satu kompromi.

Tradisi fikiran tentang Islam di Mesir adalah satu kompromi pula. Satu kompromi antara agama dan kemajuan, antara syari'at dan kemoderenan, – antara hukum Islam dan perobahan. Turki berkata: faham agama (yang kolot) menghalangi ikhtiar kemoderenan negara, dus agama harus dilepaskan dari negara, – Mesir berkata: faham agama yang kolot menghalangi kemoderenan negara, dus – carilah kompromi antara agama dan kemoderenan. Bukan di dalam persatuan agama dan negara, bukan di dalam sistim yang menentukan Islam menjadi pedoman bagi segala gerak-geriknya negara, terletaknya sebab kemunduran dunia Islam, – begitulah kata Mesir tetapi di dalam salahnya pengertian tentang agama.

Di dalam kesalahan tafsir inilah letaknya sumber segala keben­canaan. Di dalam kesalahan tafsir inilah letaknya segala kesalahan pula. Islam tidak menghalangi kemajuan, Islam hanyalah salah ditafsirkannya, salah diinterpretasikannya. Mesir lantas membuat interpretasi yang mem­buka pintu buat kemajuan itu. Turki berbuat radikal, Mesir berbuat kompromistis.

Dan inipun, sebagai di Turki, adalah buat sebagian disebabkan oleh status politik pula. Di Mesir adalah berdiri dua tradisi. Tradisi pemerintahan yang berpusat kepada monarchi, dan tradisi keagamaan yang berpusat kepada El Azhar. Dua tradisi ini membantu satu dengan yang lain, mengokohkan satu dengan yang lain, coordineren satu dengan yang lain. Maka kombinasi agama dan pemerintahan itu di Mesir menjadilah satu kombinasi yang kuat. El Azhar bersandar kepada monarchi, monarchi bersandar kepada El Azhar adalah satu status quo, monarchi di Mesir adalah satu status quo pula.

Dua status quo ini mencari sandaran yang satu kepada yang lain.

Maka oleh karena itu, tiap-tiap propaganda, yang mau memisahkan agama dan pemerintahan ini, di Mesir adalah dianggap satu kedosaan yang besar. Tiap-tiap propaganda yang demikian itu mendapat hukuman yang keras. Sheik Abd-ar Razik, yang di dalam kitabnya "Al Islam wa usul at hukm", mengeluarkan fikiran-fikiran yang terlalu modern ditentang agama dan negara, dikenakan hukuman berat oleh Majlis Ulama Besar di Cairo. Ia dilepas dari pekerjaannya sebagai hakim. Ya, malahan yang tidak menyinggung-nyinggung urusan negarapun, asal terlalu radikal, dulu mendapat hukuman yang haibat pula. Seorang penganjur sebagai Kasim Bey Amin, yang di dalam ia punya kitab "Tahrir-ul-mar'ah" pada permulaan abad sekarang ini menggasak aturan­-aturan kuno yang mengikat perempuan di dalam perbudakan, mendapatlah bagiannya sebagai semua perintis jalan: ia diseret di muka umum, diberi hukuman berat, dan – dikatakan merusak agama.

Tetapi sekarang? Kasim Bey Amin tidak orang pandang lagi sebagai seorang ekstremis, tidak orang pandang lagi sebagai seorang perusak agama … Kasim Bey Amin kini dianggap sebagai perintis jalan yang ulung … Ya, Mesir sudah berkompromi! Berkompromi antara agama dan kemoderenan. Kini Mesir sedang berikhtiar mencari harmoni antara agama dan kemajuan. Kini Mesir memberi interpretasi

Qur'an dan Hadits, yang seberapa boleh cocok dengan kemajuan itu. Terutama sekali sistim sosial Islam, – dan dari sistim sosial ini terutama sekali pula urusan perempuan – , dengan lambat-laun mendapatkan interpretasi baru, yang menemui (bukan menentang) kemoderenan itu. Hal pengurungan perempuan, hal kudung, hal poligami, hal talak dan fasah, hal pendidikan perempuan, – semuanya itu lambat-laun mendapat her-correctie dan her­orientatie. Kasim Bey Amin! Dulu ia diejek, dicemooh, dimaki, dikatakan perusak syari'at, dilanjrat, dihukum oleh Majlis Ulama Besar di Cairo, – kini ia punya tuntutan-tuntutan lambat-laun orang akui kebenarannya satu persatu!

Satu cermin bagi kita, nasibnya Kasim Bey Amin ini! Janganlah kita lekas marah, kalau ada orang mengeluarkan sesuatu fikiran yang baru, walaupun fikiran-baru itu mengenai syari'at agama!

Buat ini kali, lagi satu negeri, pembaca-pembaca! Lagi satu negeri: negeri Palestina. Tentang negeri Arabia dan India, saya tulis dinomor yang akan datang, dan Insya Allah, di situpun akan saya bicarakan hasil peninjauan kita itu: fatsal-fatsal mana di negeri kita yang perlu kita telaah kembali, her-orienteer, her-correctie.

Tapi buat ini kali masih meninjau satu negeri lagi: Palestina.

Kalau Turki adalah modern-radikalistis, Iran juga modern-radika­listis, Mesir modern-radikalistis, maka Palestina adalah termasuk kolot. Memang dilahirnya sudah berbedaan! Bandingkanlah kota-kota Ankara dan Cairo dengan Yeruzalem, dan tuan akan dengan lantas merasakan perbedaan ini. Bandingkanlah kemoderenan kota Ankara, kemoderenan kota Cairo, dengan kekunoan kota Yeruzalem! Ankara muda remaja, zakelijk tetapi manis, dengan stijl architectuur baru yang bernama "neue Sachlichkeit", – satu kota-modern yang menurut pendapatnya seorang penulis Amerika adalah seperti "seorang pahlawan muda yang menantang dunia kaum tua". Mesir sebuah kota yang setengah modern, yang tokh sering dinamakan orang "Parisnya Azia". Tetapi Yeruzalem! "Siapa yang datang dari Cairo atau Ankara memasuki kota Yeruzalem itu, maka mendapatlah ia perasaan, seakan-akan ia disorot mundur oleh sejarah beberapa abad",

begitulah seorang jurnalis Amerika (Vincent Sheean) berkata.

Dan suasana agama Islam-pun berbeda pula. Vincent Sheean merasa disorot mundur beberapa abad kalau membandingkan keadaan-dlahir Cairo atau Ankara dengan keadaan-dlahir Yeruzalem, – Ruth Frances Woodsman merasa mundur beberapa puluh tahun kalau ia bandingkan suasana agama di Cairo dengan suasana agama di Yeruzalem: "A night's journey from Cairo to Yerusalem gives one the impression of having travelled back in point of time several decades when one compares the religious atmosphere of Egypt and Palestine." Dan mana kekolotan Palestina ini? Islam di Mesir adalah gambarnya satu pekerjaan-bersama antara monarchi dan agama, satu koordinasi antara agama dan negara, satu persatuan antara pemerintah dengan ulama, yang dua-duanya di­ bawah kekuasaan asing. Islam di Palestina adalah gambarnya perpisahan antara bangsa Arab dan bangsa lain-lain, pertentangan antara bangsa Arab dan bangsa Yahudi serta Nasrani, yang ketiga-tiganya di bawah kekuasaan asing.

Lagi pula: Yeruzalem adalah satu "kota-keramat". Tiap-tiap kota­keramat adalah kolot, tiap-tiap kota-keramat memegang teguh kepada perasaan-perasaan kuno yang memuliakan kota itu di atas kota-kota sem­barangan yang lain. Tiap-tiap rasa keagamaan di dalam tiap-tiap kota ­keramat adalah seakan-akan diperkeras, dipertajam, diintensifkan, oleh "kekeramatan" kota itu. Dan Yeruzalem bukan sahaja satu kota-keramat dari satu agama, – Yeruzalem adalah satu kota-keramat dari tiga agama! Baik agama Islam, baik agama Yahudi, baik agama Nasrani di Yerusalem itu mendapat "pertajamannya" masing-masing, mendapat "intensificatie­nya" masing-masing, mendapat "pemfanatikannya" masing-masing. Pem­fanatikan ini mengujung kepada kekonservativan yang ekstrim, – kepada kekolotan yang keliwat.

Di Palestina kaum Islam agamanya kolot keliwat, kaum Yahudi agamanya kolot keliwat, kaum Nasrani agamanyapun kolot keliwat.

Persaingan tiga agama di dalam satu kota-keramat itu telah membuat kaum Islam di sana itu menjadi sangat kolot. Dan di atas "persaingan agama" ini, datanglah tambahan lagi status-politiknya kaum Islam. Bukan sahaja mereka berhadapan dengan agama lain, bukan sahaja mereka harus bersaingan dengan agama Yahudi dan agama Nasrani, – mereka harus juga berhadapan dengan politik dua musuh, yang dua-duanya mau menundukkan kepada mereka: politiknya fihak Inggeris, dan politiknya fihak Yahudi dan Nasrani, yang dua-duanya mendapat bantuan dari fihak Inggeris pula.

Herankah kita, kalau mereka, di dalam perjoangan defensif di atas lapangan agama dan politik itu, lantas "mengolot", – lantas menjauhi tiap-tiap kemoderenan yang nanti menipiskan perbedaan antara mereka dengan musuh? Menjauhi tiap-tiap "desarabiering", menjauhi tiap-tiap verwestersing, medjauhi tiap-tiap nivellering di atas lapangnya moderni­sasi? Herankah kita, kalau mereka di dalam keadaan yang demikian itu misalnya lantas fanatik kepada

bahasa Arab karena musuh tidak berbahasa Arab, fanatik

kepada pengurungan perempuan karena musuh memerdekakan perempuanyja, fanatik kepada jubah dan gamis dan sorban dan penutupan muka-perempuan karena musuh berpantalon dan bertopi dan perempuannya berjalan-jalan dengan bobbed-hair dan ke­pala terbuka?

Namun, – kendati begitu! Kendati begitu! Kendati begitu, – kaum muda di Palestina kini sudah banyak yang mulai "memberontak" kepada kekolotan itu. Kaum muda kini sudah banyak yang menganjurkan koreksinya. Persaingan agama dan persaingan politik, kaum muda ini mau teruskan, tetapi hendaklah persaingan itu disertai dan dialati dengan slat-alat yang modern, – agar supaya menang, agar supaya menang se­terusnya!

"Kita mau menang", – begitulah seorang pemuda Palestina yang bernama Muhammad Abdul Qadir berkata – "kita mau menang,

tapi kemenangan kita haruslah kemenangan yang kekal hendaknya. Dengan Islam kita yang menjauhi kemajuan masyarakat itu, kemenangan kita paling mujur adalah kemenangan sementara.

Kalau kita ingin keme­nangan yang kekal, maka kita haruslah menyamai kemasyarakatan musuh kita. Merdekakanlah perempuan, dan merdekakanlah susunan masyarakat kita dari segala ikatan kekunoan."

Begitulah perkataan Muhammad Abdul Qadir. Dengan perkataan Muhammad Abdul Qadir itu saya menyudahi peninjauan negeri Pales­tina itu. Dengan perkataan Muhammad Abdul Qadir itupun saya menyudahi tulisan saya minggu ini. Biarlah perkataannya itu menjadi kata-penutup, kata-pengunci. Sebab perkataannya itu adalah satu per­kataan yang jitu: satu perkataan muda, yang mau mengoreksi apa yang tua.

Zaman baru mengoreksi zaman yang lama!

Sudah saya ajak pembaca-pembaca meninjau sikap umat-umat Islam di Turki, di Mesir, dan di Palestina. Marilah kini kita meninjau negeri India dan Arabia.

Negeri India umat Islamnya adalah sangat kolot, sangat sempit­penglihatan, sangat terikat kepada adat-adat dan tradisi. Kalau dibandingkan dengan Palestina, maka Palestina yang saya katakan kolot itu, masih adalah tampak lumayan sedikit. Di Palestina kekolotan adalah kekolotan-Islam-sahaja, tidak banyak dicampuri dengan racun-racun tahayul dan kemusyrikan. Di Palestina agama Islam berjajaran dengan agama-agama Keristen dan Yahudi, yang dua-duanya pada hakekatnya berdasar kepada monotheisme, kepada ke-Esaan Tuhan. Tidak ia di Palestina itu berdekatan dengan agama-agama tahajul dan agama musyrik.

Tetapi di India!

India memanglah satu negeri yang lain daripada lain! Di India segala-gala barang sesuatu "bau agama". Di India orang-orang jual kuweh di jalan-jalanan berteriak "roti Hindu! roti Hindu!", atau "martabak Islam!" Sampai tukang cukur rambutpun, di India kadang-kadang menuliskan "Islam" atau "Hindu" di atas papannya. Persaingan agama di Palestina "memfanatikkan" kaum Islam di Palestina, di India pem­fanatikan ini adalah lebih-lebih keras lagi. Islam di Palestina adalah hanya berhadapan dengan dua agama-agama lain, di India ia berhadapan dengan berpuluh-puluh firqah agama lain. Ia berhadapan dengan puluhan firqah agama Hindu, berhadapan dengan agama Sikh, berhadapan dengan agama Parsi, berhadapan dengan agama Budha di sana-sini, ber­hadapan dengan agama Keristen yang kini sudah mempunyai 3.000.000 penganut. Ia fanatik di dalam sikap-keluarnya, fanatik di dalam peng­hargaannya kepada agama-agama penyaing tahadi itu, tetapi sendiri tidak merasa, tidak insyaf bahwa banyak ketahayulan, kemusyrikan, keta'asuban agama-agama lain itu telah menular kepadanya. Tidak ada negeri lain, yang Islamnya begitu banyak mengandung zat-zat ketahayulan, keta'asuban, kemusyrikan, kebid'ahdialalahan, seperti negeri India itu. Syaitan dan jin masih ditakutinya dan dicari persahabatannya, azimat-azimat dan tangkal-tangkal masih digemarinya, "keramat-keramat" dan "wali-wall" masih dicari-cari dan dimulia-muliakannya, kekuasaan pir-pir dan ulama­ulama masih tak ada ubahnya daripada zaman purbakala.

Zat-zat agama Hindu dan Parsi dan Sikh yang menular ke dalam tubuh rohani umat Islam di India itu, sebagai tahadi saya katakan, tidak mengurangkan kefanatikan kaum Islam itu. Sebaliknya! Kefanatikan mereka adalah satu kefanatikan defensif, satu kefanatikan yang menerima serangan. Tiap-tiap kefanatikan defensif adalah lebih keras dari kefa­natikan lain-lain, lebih keras dari kefanatikan ofensif, yakni daripada kefanatikan yang menyerang. Agama Islam di India adalah duduk di dalam posisi yang defensif. Tujuhpuluh milyun orang.

Islam berhadapan dengan dua ratus sembilanpuluh milyun orang agama lain!

Maka umat Islam di sana lantas menjalankan kesalahan yang seringkali dijalankan oleh sesuatu bangsa yang menghadapi agama lain. Satu kesalahan, yang lebih nyata salah menurut bukti sejarah. Bukan mereka menerima serangan-serangan musuh itu dengan senjata satu­satunya yang benar: yaitu menunjukkan "geestelijke superioriteit", kelebihan Islam daripada agama-agama lain itu; bukan mereka "meng­hisap" orang-orang agama lain itu seperti di zamannya Nabi atau zaman­nya Islam-muda, tetapi mereka lantas mengurung diri di dalam defensif kejiwaan, di dalam tutupan `aqli dan rohani. Pintu, jendela, semua lobang-lobang dari mereka punya rumah ‘aqli dan rohani itu mereka tutup dan kunci rapat-rapat, malahan mereka kelililingi pula rumah itu dengan tembok kenegatifan yang maha-tinggi. "Musuh datang!" Semua lobang-lobang yang tertutup itu tidaklah mengasih jalan kepada hawa­ segar masuk ke dalam mereka punya rumah, tidak memberi jalan-keluar kepada hawa-hawa busuk yang tersimpan di dalamnya. Elawa agama Islam di India adalah hawa gudang yang telah tertutup berabad-abad: muf dan bedompt, apek dan membuat sesak nafas.

Maka lebih-lebih dari di Palestina, segala hal lantas sengaja dibuat lain daripada dunia musuh.

Persatuan India mau mengadakan bahasa-persatuan, mereka tetap memegang kepada bahasa Urdu. Orang Hindu banyak yang sekolah Inggeris dan menjadi kaum terpelajar dan kaum pemimpin kantor dan perusahaan, mereka pada umumnya menjauhi sekolah-sekolah modern itu. Orang Hindu membiarkan perempuannya kocar-kacir gelandangan ke mana-mana, mereka menutup mereka punya perempuan di dalam purdah yang mendirikan kita punya bulu.

Orang Hindu bersikap nasional di dalam mereka punya politik, mereka sering menjadi rintangan dari pergerakan nasional itu. Pendek-kata segala-galanya:mau "lain", segala­galanya mau "anti", segala-galanya mau ”cap sendiri", zonder diselidiki lebih dalam, mana yang benar mana yang salah.