Sir John French: An Authentic Biography

Chapter 2

Chapter 23,152 wordsPublic domain

NIPPON akan meninggalkan Indonesia, dalam tiga tahun dibawah pimpinan Tentara Nippon, Indonesia mendapat perubahan yang Maha Hebat. Sejarah Indonesia belum pernah memperlihatkan perubahaan semacam itu. Ekonomi yang dahulu berdasarkan Imperialisme pada waktu damai ( mendapatkan bahan-bahan di Indonesia untuk negara Ibu / Belanda, menjualkan barang-barang pabrik yang didatangkan dari negara Ibu ke Indonesia, menamkan Modal di Indonesia ) sekarang dibelokkan menjadi Ekonomi Perang. Perusahaan barang untuk dikirim keluar negeri ( Gula, Getah, Tea, Kina, Kopi, Arang, Minyak Tanah, Timah dll ) sekarang dipakai untuk keperluan perang. Banyak perusahaan-perusahaan dikurangi karena hasilnya tidak bisa dikirim keluar ( Tea, Kopi, Getah dll ) tetapi perusahaan-perusahaan lainnya diperluas ( Besi, Baja, Mesin, Obat-obatan dan sebagainya serta perusahaan-perusahaan baru didirikan ( Perkapalan ).

Keadaan social mendapat kegoncangan yang luar biasa, berjuta-juta Petani dijadikan Romusha ( Prajurit - Pekerja ) yang dikirim keseberang lautan atau dikerahkan diseluruh pulau Jawa. Hampir tidak ada lagi Pemuda atau Orang Tua kuat yang terlepas dari ikatan atau disiplin perusahaan industri atau pun pertahanan negara ( Seinendan, Heiho, Peta, Kaigoenheiho ). Banyak pula saudagar kecil atau pun bekas juru tulis dan Studen yang menjadi majikan, saudagar, atau “tukang catut”. Dalam jabatan negara banyak sekali posisi pekerjaan yang tinggi yang dahulu dipegang oleh Belanda sekarang dipindahkan begitu saja ketangan orang Indonesia. Jadi dalam tiga tahun saja Petani menjelma menjadi Prajurit Perang dan Pekerja, juru Tulis dan Studen menjadi Pedagang. Bekas Pemimpin Pergerakan dijaman “Hindia Belanda” menjadi pegawai negara tinggi ataupun rendah. Perlu puluhan tahun untuk membuat penjelmaan yang besar itu di masa damai, tetapi hal itu sekarang cuma tiga tahun saja. Inilah panen panca-roba social yang sehebat-hebatnya didalam sejarah Indonesia.

Dalam keadaan begini, maka pada tanggal 17 bulan 8 tahun 1945 Indonesia menyatakan Kemerdekaannya kesekalian Umat Manusia ke dalam dan ke luar Indonesia. Negara Indonesia yang Merdeka itu adalah sebuah Republik kesatuan dan kedaulatannya terletak ditangan Rakyat.

SEKUTU DAN REPUBLIK INDONESIA

Republik Indonesia tadi tiadaklah barang yang direbut dari tangan siapapun juga. Dia didirikan pada saat yang istimewa. Saat yang seolah-olah jatuh dari langit, yakni: Pemegang kekuasaan yang lama akan berangkat ( NIPPON ) tetapi belum lagi rakyat Indonesia mengambil hak yang memang hak-nya sendiri pada saat yang istimewa . Dia ambil haknya, hak tiap-tiap bangsa ketika diambil, maka hak itu terlantar saja, belum direbut oleh yang tidak berhak ( Sekutu yang akan mengambil oper kekuasaan )

Hak itu adalah kemerdekaan yang oleh Filsafat Politik modern sudah diakui sebagai hak mutlaknya, sebagai “Geboorteres” ( Birt-Right ) sesuatu negara, dia ini hak hidup, tidak lebih dan tidak kurang. Selama bangsa Indonesia berada Di tanah Indonesia ini maka menurut hukum Ia berhak sepenuhnya atas tanah dan kemerdekaannya. Bangsa Indonesia Hidup dan Mati bersama dengan Tanah dan kemerdekaan tadi. Hak atas Tanah dan Kemerdekaan tadi tidaklah bisa dipindahkan ketangan bangsa asing atau dibagi-bagikan dengan bangsa asing. Hal ini akan bisa menimbulkan salah satu dari dua akibat:

Pertama: Bangsa Indonesia lambat laun akan musnah seperti bangsa Australia Asli atau bangsa Amerika Asli atau mati kutu, merana dan terdesak seperti bangsa Indonesia di Semenanjung Malaka dan Kalimantan Utara, atau

Kedua: Bangsa Indonesia akan bisa terus bertambah atau berkurang tetapi bercerai berai hidupnya diseluruh pelosok dunia, memang untuk mengambil hak hidupnya kembali, bangsa Indonesia tidak perlu malu atau minta maaf kepada siapapun juga.

Tetapi apakah sekutu akan mengakui Kemerdekaan itu? Apakah Atlantic Charter akan memperdulikan bangsa Indonesia? Inilah pertanyaan yang akan dijawab oleh sejarah dihari depan. Jawabannya itu Cuma sebagian saja terletak di tangan Sekutu tetapi sebagian lagi ada ditangan Rakyat Indonesia sendiri!!!

SUSUNAN SEKUTU

Amat sedikit sebenarnya kita mengetahui keadaan dalam kalangan sekutu adalah Inggris, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Sovyet Rusia. Sampai seberapa erat-kah persekutuan mereka itu? Apakah pertentangan atau bibit pertentangan dalam kalangan mereka itu?

Penerangan tentang sekutu itu amat sedikit sekali yang kita peroleh sejak Indonesia berada dibawah pemerintahan Bala-Tentara Dai NIPPON dalam 3 tahun setengah ini. Penyelidikan yang teliti tidak bisa kita jalankan.

Tetapi percobaan menurut jejak garis besar benang merah tidak ada salahnya kita jalankan. Apakah Inggris itu dari negara pemberi hutang sudah bertukar menjadi negara yang berhutang. Inilah yang belum kita bisa jawab dengan pasti tetapi selama Perang yang berlangsung lebih dari 5 tahun itu semua Export dan Import boleh dikatakan berhenti. Dan pada Export dan Import itulah terutama sumber hidup utama dari Kerajaan Inggris. Daya upaya Inggris dimasa damai pada hari depan tentulah merebut kembali pasar yang hilang. Pasar itu untuk Inggris dalam Perindustrian, Perdagangan, dan dalm hal makanan amat bergantung sekali pada pihak luar negeri. Pabrik di Inggris tidak akan jalan kalau bahan seperti minyak tanah, getah dan kapastidak datang dari luar negeri. Kalau jalan pun, Barang pabrik seperti Kain, Baja, Mesin, Barang obat-obatan dan sebagainya, akan bertumpuk-tumpuk saja kalau pasar diluar negeri tertutup. Uang kontan dari para hartawan Inggris akan tersimpan mati dalam petinya kalau tidak ada negara luar yang mau diterimanya untuk ditanam dan dikembangkan. Perkapalan Inggris yang besar itu akan berhenti kalau tidak ada barang yang diangkut kedalam dan luar negeri dengan jatuhnya perindustrian dan perdagangan Inggris, maka akan merosotlah pula kekuatan membeli bahan dan makanan ( Daging, Gandum, Gula, Tea, Kopi dan lain-lain ). Dari luar negara Eropa yang sekarang dalam keadaan kurus kering itubukanlan satu daerah yang yang memberi pengharapan amat besar sebagai pasar pabriknya seperti sedia-kala. Afrika boleh jadi pula tidak akan memberi harapan kalau Afrika Selatan memajukan perindustriannya sendiri, seperti juga Mesir. Hindustan masih dalam persoalan yang besar. Apakah Hindustan akan Merdeka dan menolak semua atau sebagian besar Modal Inggris ? Inilah beberapa persoalan yang akan menentuka terus atau berhentinya Inggris sebagai negara besar.

Tiongkok yang sudah jemu akan akibat masuknya modal Inggris tentu tidak akan menerima masuknya modal Inggris itu secara leluasa seperti di masa lampau. Australia, Afrika Selatan dan Kanada tentu lebih daripada sebelum perang dunia ke dua ini akan menolak masuknya barang pabrik Inggris yang sudah dihasilkan oleh Kanada sendiri pada masa perang dunia kedua ini. Amerika Selatan yang dalam Perang ini terpaksa lebih rapat kepada Amerika daripada dengan Inggris, barangkali kelak diwaktu damai lebih anti asing daripada lagi daripada yang sudah-sudah.

Memang Indonesia-lah salah satu daerah yang harusnya menjadi kenang-kenangan untuk Inggris. Semenanjung Malaka tentu akan tetap menjadi bulan-bulanannya Imperialisme Inggris itu. Lebih daripada sebelum Perang dunia kedua ini Inggris mengharapkan barang penting dari Indonesia seperti Minyak Tanah, Getah dan lain-lain. Untuk mencoba akan berdirinya kembali sebagai negara kelas satu Inggris akan mencoba mamasuki daerah yang dianggapnya cukup lemah, seperti Indonesia kita.

Partai Pekerja yang memegang tampuk Pemerintahan di Inggris sekarang harusnya berada dalam keadaan kebingungan dan kebimbangan. Dahulu walaupun Sosialisme Inggris sudah dua kali memegang kekuasaan negara. Tidak sanggup ia mengadakan Sosialisme. Sosialisme? Tetapi belum sekarang lagi, demikian kata mereka. “Sosialism but not in our time”. Apakah kelak Sovyet Rusia dan Sosialisme di Eropa Barat, Partai Pekerja di Inggris berani menjalankan Sosialisme di Inggris? Apakah Partai Pekerja di Inggris kelak cukup kuat mencegah perbuatan Imperialisme bangsanya sendiri terhadap Indonesia Merdeka?

Apakah Pekerja Inggris akan membantu Imperialisme negara? Atau mencegah dengan kodrat Murba ( Massa Aksi ) perbuatannya itu? Berdiam diri atau berpura-pura memprotes akan kita dianggap seperti membantu Imperialisme bangsanya. Bagaimana-pun juga hanya waktu saja kelak yang bisa memberi jawaban yang pasti.

Terjerumusnya Amerika kedalam Peperangan dunia yang kedua ini adalah karena gagal dalam usaha menegakkan kembali Kapitalisme yang sudah mau condong dalam negara ibu itu. Old-Dealnya presiden Hoover, atau pun New-Dealnya Presiden Roosevelt tidak bisa mengembalikan lebih kurang 10.000.000 orang penganggur Amerika kedalam perusahaannya. Kekuatan produksi Amerika yang sudah melewati kekuatan daya beli rakyat Amerika sendiri. Lapangan untuk memberi jalan baru kepada modal Amerika yang sudah bertumpuk-tumpuk itu dalam negara Amerika sendiri sudah bertambah sempit. Amerika membutuhkan pasar diluar negaranya sendiri.

Karena Amerika-lah diantara 4 negara bersekutu itu yang sama sekali tidak mendapat kerusakan dalam negaranya, maka pembangunan negara itu kelak untuk Amerika sesudah damai tidaklah berarti mendirikan Rumah, Gedung, Jembatan dan Pabrik seperti Inggris, Eropa Barat, Sovyet Rusia, Tiongkok dan Nippon. Barangkali pada tingkat pertama modal Amerika akan mendapat kesempatan untuk berkembang di beberapa daerah yang sudah disebutkan diatas. Tentu pula ribuan juta dolar perlu dipakai untuk pembangunan didaerah-daerah tersebut. Barang berupa Mesin, Alat Perkakas, Pakaian, Makanan dan lain-lain, perlu didatangkan dari Amerika yang masih segar-bugar itu kalau dibandingkan dengan negara lain. Dalam hal itu pabrik Amerika akan bisa berjalan terus dengan pesat dan denga begitu akan menghisap jutaan Buruh, walaupun dalam waktu yang sementara saja.

Tetapi bagaimanapun juga Minyak Tanah, Getah dan Timah Indonesia bukanlah barang yang tidak diperdulikan oleh Amerika. Inilah bahan yang senantiasa menarik perhatian Amerika ke Indonesia dan inilah pula bahan mentah yang memaksa Indonesia menaruh perhatian terhadap Amerika.

Persoalan Indonesia-Amerika, pendeknya Apakah kelak Amerika akan bersikap keras ingin memiliki dan mengurus sumber Minyak dan kebun Getah di Indonesia? Apakah Amerika akan senang dengan hasil “Minyak” yang dimiliki, diusahakan dan dipekerjakan oleh rakyat Indonesia saja dan mempertukarkan bahan mentah Indonesia dengan hasil pabrik Amerika?

Sovyet Rusia, negara setengah Feodal dalam seper-empat abad saja meningkat menjadi negara industri, dimana kaum Pekerja yang mengurus dan menyelenggarakan segala apa yang berhubungan dengan negara. Sebenarnya Proletar Rusia-lah yang dalam Perang dunia ke II ini yang menahan pukulan Jerman Nazi yang maha dahsyat itu, ketika pukulan dijatuhkan dengan sekuat-kuatnya dan segiat-giatnya ( 1941-1944 ). Tiga tahun inilah yang sebenarnya memeberi keputusan apakah Jerman Nazi ataukah persekutuan Demokrasi-Komunisme yang akan menguasai dunia.

Dengan kekuatan Sovyet Rusia, maka kolektivisme kerja-tolong menolong untuk pertama kalinya menyatakan kepada dunia Kapitalis dan perseorangan di abad ke 20 ini. Boleh jadi kelak para ahli sejarah akan menandai abad ke 20 ini sebagai abad Kolektivisme.

Seberapa jauh sekarang kekuatan produksi Sovyet Rusia, belumlah dapat kita pastikan. Apakah produksi itu Cuma cukup untuk rakyat Sovyet Rusia sendiri saja apakah sudah berlimpah, belumlah kita dapat menjawab karena kekurangan Informasi. Apakah pemakaian dalam negara bisa dipertinggi dan sampai dimana kesanggupannya atau sudah memuncak pula-kah kekuatan produksi itu, sampai rakyat Rusia mendapat daerah yang aman untuk menerima produknya itu? Pertanyaan ini pun tidak bisa dijawab disini begitu saja dengan tiada menunggu pemeriksaan para ahli terlebih dahulu.

Tetapi Republik Indonesia tidak bisa dan perlu untuk menggantungkan dirinya kepada beberapa kemungkinan Sovyet Rusia. Rusia mempunyai kepentingannya sendiri yang Cuma bisa diselesaikan oleh Rusia sendiri. Begitu pula Indonesia mempunyai kepentingan sendiri yang Cuma bisa diselesaikan oleh Indonesia sendiri. Seandainya Indonesia begitu lemah dan menggantungkan dirinya kepada Rusia, maka sikap ini, seandainya Rusia mau menerima pasti tidak akan memberi hasil yang memuaskan untuk Indonesia. Pertama kali:, jarak Indonesia dan Rusia terlalu jauh, Kedua: Diantara Rusia dan Indonesia terletak pula daerah Asia yang bukan menjadi bagian Sovyet Rusia adalah Tiongkok dan Hindustan. Ketiga: Rusia sekarang dan waktu yang lama di depan tidak akan bisa mengadakan armada yang akan menandingi armada Inggris-Amerika yang sekarang menguasai dunia, apalagi Lautan Hindia dan Lautan Teduh. Serta mereka mempunyai banyak sekali pengalaman disemua Lautan dan Samudra. Percobaan Rusia yang sebenarnya menyokong satu pemerintahan Indonesia yang dipimpin dari Moskow tentulah negara akan membawa akibat yang tidak diingini oleh rakyat Indonesia sendiri. Inggris dan Amerika tentulah akan tampil kemuka dengan armadanya untuk “membela” Indonesia yang begitu penting untuk strategi Perang dan untuk segala bahan mentah. Inggris dan Amerika dengan bersitumpu pada golongan Borjuis dan Feodal Indonesia akan memakai Indonesia sebagai medan peperangan untuk memepertahankan kekuasaaanya di Lautan Teduh dan Samudra Hindia. Indonesia pada akhirnya akan menjadi atau jatuh dibawah pengaruh salah satu pihak yang menang.

Ditilik dari padangan ini maka dalam suasana seperti sekarang sedikit sekali kemungkinan Rusia akan mencoba mendirikan atau membantu dengan sebenarnya satu pemerintahan Indonesia yang langsung didipimpin dari Moskow. Apalagi kalau dipikirkan bahwa sebagai negara serikat dari Inggris-Amerika dalam perang dunia ke II, Rusia tentu terikat dengan beberapa perjanjian berhubungan dengan bantuan uang atau mesin yang diberikan oleh Amerika kepada Rusia, ketika Rusia diserang oleh Jerman. Sebaliknya Rusia akan lebih merdeka sikapnya terhadap Indonesia yang berdasarkan kekuatan nasional, yakni terhadap Indonesia yang mendirikan suatu pemerintahan yang berdasarkan kemauan rakyat. Indonesia sendiri dan tidak dibantu oleh negara manapun juga diluar Indonesia. Rusia yang mempusakai dasar Komunisme yang akan membantu kemerdekaan suatu daerah jajahan, sekarang bisa melaksanakan dasarnya itu dengan jalan yang tidak kurang arti dan akibatnya ialah dengan jalan diplomasi. Pengakuan Republik Indonesia dalam suasana Internasional seperti sekarang ini adalah suatu bantuan yang sebesar-besarnya. Bantuan yang lebih daripada itu tidak akan menguntungkan Rusia dan akan mencelakakan Republik Indonesia Merdeka sendiri.

Marilah kita sebentar menoleh ke Tiongkok yang banyak sekali menderita akibat politik Imperialisme dan akibat perang dunia ke II ini. Negara yang begitu luas dengan penduduk yang begitu banyak jumlahnya, pintar dan rajin yang lama sebelum perang dunia kedua ini dalam kekacauan yang disebabkan oleh perang saudara yang berulang-ulang sangat membutuhkan modal dan mesin. Dalam keadaan begini, maka modal Tiongkok yang ada diseluruh ASLIA adalah satu factor yang besar untuk kemajuan Tiongkok. Di Birma, Thailand, Annam, Philipina, Semenanjung Malaka, dan Indonesia Sempit cukup banyak modal Tiongkok untuk langkah pertama dalam daya-upaya memajukan Tiongkok menjadi negara perindustrian, menurut rencana Dr Sun Yat Sen.

Tetapi apakah Tiongkok akan bisa lekas dan langsung memakai modal Tionghoa yang di ASLIA itu tergantung pada beberapa hal modal Tiongkok diseberang lautan ( Overseas Chinese ) tentulah ingin menunggu sampai negara Tiongkok betul-betul aman untuk menanmkan modal dimana-mana. Dimasa lampau sewaktu timbul perang saudara, modal Tionghoa diseberang lautan sangat takut sekali masuk kenegara bapaknya ( Tomsoa ). Sebelum pertikaian Komunis dan Nasionalis belum selesai dan berhubung perang saudara masih mengancam, maka modal Tionghoa diseberang tentu masih akan tinggal mengintip dari jauh saja.

Modal Tionghoa yang ada di Indonesia adalah satu perkara yang bisa mempertemukan Republik Tiongkok Merdeka dengan Republik Indonesia Merdeka. Tiongkok butuh modal orang Tionghoa yang ada di Indonesia dan Indonesia akan mendapatkan mendapat bahagia kalau modal Tionghoa itu dipindahkan dari Indonesia bersama dengan sebagia besar Tionghoa yang berpengalaman yang dibutuhkan oleh Tiongkok Baru. Dengan premufakatan Tiongkok-Indonesia dan bantuan dari kedua belah pihak bisa diadakan tindakan yang akan amat menguntungkan Indonesia dan Tiongkok keduanya.

Selain daripada kepentingan bersama seperti yang sudah disebutkan diatas, keduanya sedang mempertahankan diri terhadap Imperialisme asing. Kalau dipikirkan pula bahwa Tiongkok dan Indonesia mempunyai bentuk negara yang bersamaan yaitu Republik yang berdasarkan kedaulatan rakyat, maka sepantasnyalah kedua negara itu bermufakat dan bersekutu menghadapi musuh bersama.

Akhirnya dalam perhubungan Tiongkok dan Indonesia harus diperhatikan Perasaan Tionghoa terpelajar di Tiongkok terhadap Indonesia tidaklah sama dengan perasaan Hoa Kiau ( Tionghoa – Seberang ), umumnya terhadap Indonesia. Mereka di Tiongkok mempunyai pemandangan yang lebih jauh dan hati yang lebih lapang. Dalam dunia diplomasi satu negara dengan diplomat lain negara, karena banyak persamaan Paham, Adat Istiadat dan Tingkah laku tidak sedikit artinya dalam daya upaya merapatkan negara yang merdeka masing-masing wakil.

Sekian sekedar penyelidikan yang jauh daripada sempurna tentang Sekutu yang akan berhadapan dengan kita.

Sebagai kesimpulan dari penyelidikan diatas yang jauh dari sempurna itu, maka mungkin sekali Inggris dengan bantuan “mulut” dari Pihak Belanda, yang akan mengambil tindakan agresifnya (Ceroboh ) terhadap Indonesia, Untuk Kapitalis dan Imperialis Inggris. Republik Indonesia Merdeka apalagi Semenanjung Malaka dan Kalimantan Utara adalah satu perkara penting untuk pembangunan British Empire dan mempertahankan diri dan “muka” sebagai First Class Power ( Negara Kelas Satu ).

Amerika berada dalam kebimbangan,tetapi tidak mustahil Amerika akan mengakui Republik Indonesia Merdeka kalau Indonesia Sempit bekerja sama serapat-rapatnya dengan Philipina yang oleh Uncle Sam dianggap sebagai Foster Childnya (Anak Angkat ).

Akhir kesimpulan yang barangkali tidak akan jauh dari kebenaran adalah dari pihak Tiongkok dan Rusia, Republik Indonesia boleh mengharapkan bantuan diplomasi yang tetap tegak. Kalau Amerika bisa dihilangkan kebimbangannya, maka semua rencana Inggris-Belanda yang berdasarkan kecerobohan akan berhadapan dengan Rusia, Tiongkok dan Amerika. Diplomasi Republik Indonesia terutama harus dipusatkan pada upaya menarik Amerika kepada kemauan Rusia-Tiongkok.

Indonesia sesudah Perang dunia ke II ini, amat kekurangan benda berupa Mesin, Perkakas, Emas-Intan, Pakaian dan lain-lain. Tetapi masih kaya dalam bahan tersimpan hasil bumi yang keluar selama bumi-nya ada, iklim dengan sungai dan danaunya ada, selama itulah rakyat Indonesia masih satu rakyat yang terkaya dimuka bumi ini, walaupun kekayaan itu masih terpendam saja.

Semiskin-miskinnya Indonesia dalam hal mesin dimasa depan, dengan kepandaian dan pengalaman yang sudah diperoleh ia akan bisa mengadakan hasil yang tiada ternilai harganya dipasar dunia seperti Minyak Tanah, Emas, Arang, Timah, Gula, Tea, Getah, Kina, Kopi, Kopra dan sebagainya. Dengan menjual barang tersebut diluar negeri, Republik Indonesia dengan aman dan sentosa akan bisa mendapatkan mesin yang dibutuhkan. Dengan rencana 3,4,5……………tahun, Indonesia lambat laun bisa menimbulkan Industri berat sebagai jaminan yang pasti untuk kemerdekaannya. Kemerdekaan modern itu terutama berdasarkan industri berat ( Pembuatan Baja, Mesin Auto, Kereta, Kapal Laut, Pesawat, Listrik, Minyak dll ). Sebaliknya Industri berat berdasarkan kemerdekaan pula. Tidak bisa diadakan Industri berat kalau Indonesia Merdeka dihambat-hambat untuk menimbulkan industri yang dirasanya penting untuk kehidupan dan pertahanannya. Kalau Indonesia Merdeka tidak dibolehkan mendirikan “Tarrif-Wall” (Proteksi) untuk melindungi “Infant-Industri” ( Industri Bayi ), seperti bayi manusia atau pohon kecil yang harus dilindungi dari angin dan panas terik, begitu pula industri harus dilindungi dari pemasukan barang-barang luar negeri yang bisa menjadi saingan yang galak. Sesudah industri bayi tadi teguh-tegap karena pengalaman Indonesia sudah cukup, maka perlindungan itu bisa dilenyapkan. Indonesia mempunyai bahan yang banyak sifat dan bilangannya, lalu lintas yang paling bagus ( lautan dan sungai ) disamping pekerja yang dilatih dari jaman Pajajaran ( Pandai ) sampai kejaman Majapahit dan akhirnya Jaman Penjajahan Belanda. Kalau sudah beberapa tahun sudah cukup pengalaman, tidak perlu takut akan persaingan dengan negara manapun juga dimuka bumi ini, baru Kemerdekaan itu aman sentosa. Barulah “Tarrif Wall” bisa dirubuhkan.

PERTAHANAN INDONESIA MERDEKA

Ada Tiga Perkara yang terpenting untuk mempertahankan Republik Indonesia dihari depan:

1. Persatuan yang teguh tegap diantara semua golongan rakyat. Persatuan itu harus tahan uji terhadap serangan dari dalam maupun dari luar negara. Persatuan itu bisa diselenggaraka oleh satu Partai saja, apalagi dimasa Pancaroba yang istimewa, Pemerintah negara yang berdasarkan satu Partai itu lebih cepat mengambil tindakan yang perlu ataupun mengadakan koreksi ( pembetulan ) yang amat perlu. Persatuan rakyat itu juga bisa diselenggarakan oleh gabungan lebih dari satu Partai asal jangan terlalu banyak. Tetapi penggabungan Partai lebih berdasarkan Kerakyatan, lebih sukar pula dikendalikan karena berlainan aliran didalamnya. Memang dimasa Pancaroba yang maha hebat “Diktator Murba” -lah system yang sebaik-baiknya, tetapi harus diambil tindakan supaya Diktator satu Partai terhadap rakyat Murba jangan beralih menjadi Diktator seorang atas Partai. Didalam Partai, diantara anggota dengan anggota mestinya mempunyai kesempatan yang sama untuk mengadakan “Kata Mufakat” yang berdasarkan Kemerdekaan untuk berfikir dan mengusulkan serta disiplin dalam hal mengambil suatu keputusan dan menjalankan keputusan itu.

2. Kemerdekaan yang penuh dan kini juga. Ini sama artinya dengan Persatuan. Kemerdekaan itu bisa diumpamakan satu besi berani yang menggetarkan jiwa rakyat Murba yang tidur lelap itu. Tetapi supaya getar-geraknya itu terus tetap, kemerdekaan itu seperti persatuan tadi, mesti didasarkan keperluan rakyat Murba sehari-hari. Jiwa Murba akan terus tetap menggetar dan bergelora kalau saja jasmani Murba terpelihara ( Makanan, Pakaian dan Perumahan ). Untuk memenuhi keperluan Murba yang memang dalam kekurangan itu, negara Indonesia harus menjalankan ekonomi teratur dengan Rencana, Kebulatan Hati, Tekad dan kegiatan kebulatan tenaga serta akhirnya dengan segera. Kemerdekaan penuh yang bisa menjalankan rencana ekonomi teratur itulah yang bisa menjamin kekokohan Republik Indonesia Merdeka.

3. Jangan dibolehkan modal asing mengganggu kemajuan perusahaan Indonesia. Hal ini pasti akan terjadi kalau modal asing diperbolehkan lagi menyewa tanah dan menguasai bahan Indonesia. Berapapun bagusnya rencana berapapun giat dijalankan selama negara asing dengan perantaraan modal di Indonesia bisa mempengaruhi jalannya produksi dan distribusi kita, maka rencana yang bagus itupun akan kandas juga. Dengan suka cita kita akan menukar hasil perusahaan kita dengan mesin luar negeri, tetapi Tanah-Produksi-Distribusi harus dikuasai oleh negara Indonesia.