Kidung Lakbok

Chapter 1

Chapter 12,159 wordsPublic domain (Wikisource)

KIDUNG LAKBOK (LAGU/ KISAH LAKBOK)

KiDung Lakbok. Itulah cerita legenda beserta Rawa Lakbok, dari naskah ramalan Aki Ranadijangga, Ma'lim yang menjelma menjadi Buja Putih.

» PAMERMES - MAKNA « (Bagian 1)

1. Membubung asapnya ke langit, mengepul ke angkasa, berbau wangi kesturi, menyatu dengan minyak putih, sesajen dan persembahan, puncak manik (mustika) penunjuk angin, tempat berkumpulnya para petapa, yang datang dari Kahyangan. 2. Semoga agung pengampunannya, semoga luas maafnya, kepada Luhur Sang Pendahulu, kepada Batara dan Batari, kepada Batara Nagaraja, para dedemit, enam jenis siluman, Sang Pramesti Utipati. 3. Mohon diri hendak bersandar (memohon izin), Kidung Lakbok yang dulu, cerita dari masa lampau, legenda asal mulanya, Lakbok itu sebuah negara, yang disumpahi oleh dewa, dikenal sebagai "Bandjarpatroman", negara besar, subur makmur. 4. Kampung dikelilingi gunung, muaranya hanya ke laut, pantang bertengkar dengan saudara, menyebabkan panas (pertikaian) dan pembunuhan, Sang Ratu Ineung Buana, memperebutkan ibu kota Patroman, dengan Ratu Agung Tambakbaya. 5. Yang bertarung di Patutunggalan, ada yang jatuh ke "Pataruman", Pataruman tempat bertarung, ya saling memukul di Lakbok, berguling-guling di Pasir Djengkol, memikirkan akal, melayang-layang di Batulawang (Batu Lebar). 6. Saling dorong di Cikawung, saling tendang di Kokoplak, saling seret di Kawasen, tempat mengadu kesaktian, ramainya yang sedang perang, saling junjung, saling angkat, saling geser, saling hantam. 7. Saling tendang, saling sepak, saling sepak dengan kacau, saling tinju, saling pukul, saling tikam, saling serobot, saling tampar, saling cekik, saling injak, saling tumbuk, saling tubruk, saling tampar dan tempeleng. 8. Saling pukul dengan golok, saling tebas dengan pedang, saling lempar, saling seret, saling remas, saling pukul dengan pentung, saling irik (sejenis pukulan), saling pukul, saling putar, saling tenggok, salin duduk, saling cubit, salin jembel. 9. Bertarung dengan berjingkat-jingkat, perangnya saling berjaga, sama-sama takut kalah, punya rasa malu, malu harus diusung dengan usungan, malunya yang kalah perang, penyesalan sebesar gunung, malu seukuran sapu. 10. Yang perang tak ada hentinya, ini berani, itu berani, sama-sama enggan kalah, tak ada satu pun yang tekun, lompat-lompat ke "Djelat", diburu ke Ciporoan, mundur mengumpet ke "Citanduy", terhuyung-huyung di "Randegan". 11. Berhenti sejenak, sambil berteriak dan menangis, bingung, pusing, melongo (lagu pengisi), pura-pura tak takut, ... meringkuk di Gagajonan, mengintai di "Gunung Cupu", saling mengadu nasib di "Cikotok", timbul rasa sayang dan menyesal. 12. Menyesal bertarung dengan saudara, memperebutkan tulang tanpa isi (hal sia-sia), yang jelas menyusahkan orang lain, menyebabkan malu pada tetangga, nafsu yang menyebabkan penyesalan, badan yang terkena dampak, hancur lebur, porak-poranda, negara rusak karena diri sendiri. 13. Orang tua menanggung malu, bingung campur susah, memikirkan yang jadi anak, tak henti-hentinya yang bertarung, Bertarung mengadu senjata, sabuk bandring gemerincing, gendewa tak kuat, gemerisik, berhamburan (bunyi senjata dan pakaian). 14. Berhamburan bertarung di jalan, bukit pasir terbelah dua, sama-sama gagahnya, namun gaib yang mendampingi, putra malu pada ayahnya, rasa sudah berubah pikiran, menghindari rasa malu dan sesal, ya bersembunyi di "Gunung Sangkur". 15. "Gunung Sangkur" tempat bersembunyi, berdiam diri di "Gunung Tumpeng", berlindung di alang-alang, "Ciigolentrak" ikut bersorak, menyemangati yang mengadu kekuatan, perang tanding dengan saudara, akhirnya kena sumpah, lenyap/ menghilang di "Citamiang". 16. Gelap-gulita bumi dan langit, gunung runtuh, laut bergolak, gempa tak henti-hentinya, suara-suara aneh bergemuruh, pertanda kebinasaan, menyaksikan sumpah dewa, yang tersisa sama-sama berduka, yang meninggalkan hanya merana. 17. Yang muda hanya tinggal termenung, keharuan bercampur sedih, bahwa negara "Bandjarpatroman", berubah wujud, berubah rupa, bekas ibu kota jadi hutan, bekas gedung yang kokoh, dijadiin sarang babi hutan, jadi hutan tempat anjing-anjing hutan. 18. Situ kesayangan yang indah, jadi rawa-rawa yang angker, panjaniti (tempat suci) musnah hilang, bangunan melongo kosong, yang angker jadi tempat menakutkan, tempat hewan buas, tempat siluman-siluman, para dedemit tukang mengganggu. 19. Batu karut (batu keramat?) mencuat, Cimerut (nama tempat) merasa ditinggalkan, melongo hanya bengong, negara menjelma rawa, gedong-gedong jadi pulau, pulau putri "Pulo Erang", manusia jadi hewan, lele, betok, belut, sidat. 20. Tumenggung (pejabat) menyusup/menjadi lutung (sejenis monyet), Korawa menjadi owa (kera), Si Lengser mati meleser, "Bandjarsari" hilang kecantikan/kesuburannya, terbawa yang menghilang, Ratu Agung Tambak Baya, yang ada hanya "Sindangjaya", "Sindanghayu" yang rahayu. 21. Batu petir (nama tempat) yang sekarang, Batu karut yang dahulu, membelakangi/menjauhi "Gunung Sangkur", berkumpul dengan "Batulawang", Batulawang yang menanti, mendampingi ke "Gunung Cupu", wadah mustika astagina, Batu peti yang memupuskan (mengakhiri?). 22. Suara gugur (gemuruh) di ketujuh, suara gelap (petir) di kesembilan, ada suara tanpa rupa, menjaga di zaman akhir, akan ada yang meruwat (menyucikan/ memulihkan), "Lakbok" kembali ke asalnya, ya jatuh tegak lurus ke pangkal, kerbau pulang ke kandangannya (peribahasa: kembali ke asal/semula). 23. Raja di Gunung Galunggung, bangsawan pecahan dari Geusan Ulun, oleh sebab itu tiba-tiba, negara menjadi selamat, musnah khayal, muncul insan, banyak orang yang berbahagia, dedemit, setan, siluman, menjadi manusia yang tunduk. 24. Palungpung (nama tempat) terganti jadi kampung, tegal yang melandai jadi sawah, ya raja berkuasa sendiri, jalan panjang disaungan (diberi nama?), "Langen" jadi "Kalangenan", berganti menjadi "Sri Manganti", tempat raja melihat, memandang ke Batulawang. 25. Terakhir berdiri sebagai Tumenggung (bupati), bawahan tanah sebelah timur, entah dimana tepatnya, hanya disebut "KERTADJAGA", berjaga kata orang dulu, negara kembali ke asal, kembali seperti semula? lebih baik dari semula? [Bagian ini ambigu: "Kapulih manan birahi, Kapunah batan baheula" - bisa berarti kembali melebihi keinginan, atau hancur lebih parah dari dulu] 26. Begitu cerita petuah, sekarang sudah sangat nyata, seperti Sri Baginda Pangeran (pemimpin), yang meruwat "Lakbok" ini, hingga jadinya begini, seperti negara mini (tiruan), namun kekurangan/ kekacauannya, akan terus hingga kiamat.

» MENAK NGAPUNG « (Bangsawan Terbang)

Puisi: Daweung Menak Padjajaran (Ilustrasi pakaian klasik)

1. Sambil berteriak dan menangis galau, Raja di Gunung Galunggung, Bangsawan pecahan Geusan Ulun, Melihat ke tanah timur, Negara Bandjarpatroman, Tanah datar dulu membujur ke utara, ke timur ke selatan jatuh ke laut, titisan Garuda Ngupuk (mungkin nama raja atau lambang). 2. Melihat, tampak ragu/terkejut, teringat pada zaman dahulu, kata tutur nenek moyang, mengingat kembali riwayat sejarah. Geusan Ulun (leluhur) cucu indung (nenek), yang menjadi bekal bisa (kesaktian/ kemampuan), yang meruwat rawa Lakbok, keturunan Raja Galunggung. 3. Rongheuap (gelar?) teringat akan tuntutan, oleh riwayat dan sejarah, Sejarah Bandjarpatroman, dulu terkenal negara, negara makmur subur, banyak ketan (makanan?) banyak keton (tanda? bukti?), Rajanya tinggi ilmunya, adil dan sabar dermawan. 4. Elang terbang ke manggung, Bangsawan mengepakkan sayap di angkasa (terbang), yang dimaksud hendak meruwat, Rawa Lakbok yang sekarang, ingat akan kewajiban, membela negara yang gugur, asal negara jadi hutan, terowongan-terowongan (bekas gedung?) penuh air. 5. Semakin tinggi terbangnya, semakin lepas kepakan sayapnya, berlomba dengan elang, berkejaran dengan burung hantu, memburu berburu dengan rangkong (sejenis burung), meliuk ke arah bawah, tampak gunungnya, Gunung Galunggung yang Agung. 6. Gunung Galunggung dahulu, menghadap ke Bandjarpatroman, Gunung-gunungnya berjejer, "Gunung Tumpeng" yang berdiam, "Gunung Sangkur" seperti membelakangi, "Babakan" berdiri tegak melirik, bukit pasir panjang berjajar, seperti benteng penahan bahaya. 7. Terlihat dari angkasa, Laut selatan bergelombang sabar, Berjalan sekulit angin, terhalang induk malam, terlewati mega putih, terlewati mega hitam, sawahnya seperti belang-belang (teratur), membentang sedang hijau subur. 8. Terseret angin lada (angin kencang), angin barat bertiup sepoi-sepoi, berdesir seperti karinding (alat musik), suara gemuruh menggema, suara petir menggelegar, beradu kencang dengan suara bedil, lubang hidung (penciuman) mencium bau, lubang telinga mendengar suara... 9. Banyak kampung yang terlewati, kampung-kampung berbondong-bondong, rumah-rumahnya tinggi jangkung, karena takut oleh binatang buas, macan, meong (harimau kumbang?), badak, laut selatan membentang putih, terlihat sejauh mata memandang, laut selatan (Samudra Hindia) membangkitkan rasa haru. 10. Tak lama Raden tiba, tiba di mega mendung (awan tebal), sebentar Raden berhenti, di atas kota Randegan, melihat sambil menoleh ke kiri kanan, ke timur, selatan, dan utara, tampak Kelapa Tunggal, terbentangnya Bandjarpatroman. 11. Berhamburan di awan, melayang-layang di angkasa, berjejer sebesar capung, terbentang sebesar pepatung (layang-layang?), serempet seperti burung walet, bersinar seperti candika (sejenis permata?), candika mengikuti lintasan, seperti anjing pemburu mengejar muncrat (atau mondok?). 12. Seperti burung walik menuju lereng, menuju tujuannya, seperti burung ciung menuju gunung, menuju tempat berlindungnya, menjejak di awan mendung, terbang di awan kuning, banyaknya awan yang lewat, dua puluh lima simpangannya. 13. Simpangannya dari Kahyangan, datang ke tundjung buna (mungkin titik bawah), ke puncak matahari, bertengger ke jurus galur (silsilah), menutup ke bagal bulan, Aki (kakek) geleng Pangantjingan, Pangantjingan langit ketujuh, memohon izin akan meruwat.

» SAGED MENAK ANU DANGDAN « (Heningnya Bangsawan Yang Berdandan)

1. Bangsawan Aria sedang berdandan, selepas memakai tali wodo (ikat pinggang), yang mendung (warna gelap?) memakai pengikat (lancingan) wulung (hitam), yang nyigi (sejenis hiasan) memakai lancingan panji, ujung marong (hiasan kepala) memakai bandong kancatnya, tali cawe (ikat pinggang) dibakutet (diikat kuat?), riap (rambut?) sabuk tali datu, sabuk pelangi satu. 2. Bukan (untuk) ladang berpindah, bukan ladang jual beli, ladang (garis?) senyum pipir lisung (pelataran lumpang), pamalangan (tempat suci/awet) untuk bertambangan (menambang?), ladang senyum pertemuan, tempat datangnya kembang jayanti (bunga sakral), cet-cet (corak?) kamboja sutra. 3. Tiga suku dan cakutnya, sereal (sejenis rotan?) dengan naratajan (ornamen), satu tempuhannya (bagian yang ditempuh?), tarolop gagang pangotnya (alat potong), parantos (sudah) njotjo (mengkilap?) yang bentol, saranka (tempat?) seuntai, pelepah daun muda ki jolang (sejenis tanaman), landean (alas?) cula bungalan. 4. Pusaka bertatah emas gemerlap, ukiran emas hasil tempa, tatahan (ukiran) ganggong (bambu hias) sepotong, ukiran patra gumelar (ukiran daun melata), di samping bermata walik (bolak-balik), di belakang dilacak (dilapisi?) mentrang (mengkilap), di depan dikuda njeungseung (mungkin hiasan di dahi). 5. Berdandan Bangsawan yang rupawan, berdandan seperlunya, pas dan layak pada tempatnya, semu (bersih?), teduh (selesai?), atau pamulu (dicat?), teureuh (bersih) ke wajah, tampan dan pantas pada gagahnya, gagah dan tangkas, manis budi pekerti, pertentang (jelasnya?) keturunan eyang, Bismillah memulai memuji, kepada Tuhan Yang Maha Suci, Hamba Tuhan Yang Maha Suci, Hamba Tuhan memohon izin, memohon maaf hendak meruwat, Rawa Lakbok yang sekarang, sedekah (sajian) sesuai pantes, sebelum siang benar-benar datang, sebagai penangkal dan pemusnah bala.

» BANDJAR BAKAL BANDJIR « (Bandjar Akan Banjir)

Menurut yang dikisahkan dalam Babad Lakbok, mengikuti jejak sejarah Bandjarpatroman, menelusuri garis keturunan leluhur, sebagaimana yang diceritakan orang tua dahulu... "Bandjar itu akan banjir" katanya. Bahkan bagi mereka yang masih muda sekarang yang sudah sama-sama mengalami di zaman ini, sudah menjadi kepastian... "Bandjar Banjir". Lumayan ada peribahasa "Wong tua gawe wiwitan sing enom darma ngelakoni" (Orang tua membuat permulaan, yang muda harus menjalankannya). Artinya: Orang tua yang memulai, yang muda tinggal melanjutkan. Akhirnya ada juga istilah "Tuturut munding" (Mengikuti kerbau). Entah benar atau tidak, dan inikan "Bandjar bakal banjir"? ...."Banjir karena apa?" "Banjir karena air atau banjir karena darah?" "Wallohu 'Alam Bissawab" (Hanya Allah yang tahu kebenarannya) kata yang menjawab. "Tapi menurut perenungan saya, tentu semuanya juga telah mengetahui bahwa ILMU itu KANJAHO (mungkin : kenyataan), jangan hanya sesemet (mungkin: perkiraan/angan-angan) hingga... Wallohu 'Alam Bissawab" sajalah, karena harus sampai pada "Alam Aenal Yakin" (Pengetahuan yang yakin).

Jangan "kabar Yakin" karena zamannya adalah zamannya... "kenyataan". "Kenyataan yang mana?" Kenyataan yang itu, yang nyata, yang yakin, yang dipahami oleh pikiran, yang dirasakan oleh rasa, yang dikejar oleh akal, yang terasa oleh bahasa.

Bahasa alam berpikirlah sampai dimengerti, dapat diukir (dipahami) oleh pikiran. Bahasa alam dirasakan sampai terasa dengan jelas. Bahasa alam berbicara sampai bahasanya, serta iramanya. Mengerjakan harus tepat pada langkahnya, dalam menekan/ menjalankan batin. Jangan asal mencoba tanpa perhitungan, nanti longsor tak karuan, jatuh tak terasa; longsor membawa akibat yang jatuh ikut terbawa... Seolah-olah genteng jangan putus.

Lalu mengapa "Bandjar bakal banjir" itu?... Apakah sudah terasa, sudah dialami atau belum?! Taaaaaah... Sekarang mari kita bahas, kita ulas, jangan hanya angan-angan belaka dan jangan hanya kira-kira saja.

Kata orang yang menyebutkan Bandjar akan banjir karena air, itu benar, karena sudah sama-sama mengalami, pada tanggal 2 Juli 1950, bertepatan dengan tanggal 16 bulan puasa (Ramadhan) 1349 Hijriah, tahun Wau malam Ahad Manis (dalam kalender Jawa), sudah terjadi Banjir Bandjar yang paling besar, kata orang yang baru mengalaminya.

Banjir yang pertama, yang sudah saya alami, kira-kira tahun 1928, jika tidak salah, karena catatannya hilang. Tidak terlalu besar, hanya sekedar merusak persawahan, palawija, dan rumah-rumah yang ada di kampung Cikadu, Kalapa Nunggal, Randegan, dan Citapen. Namun Banjir yang kedua kalinya, ya itulah yang terjadi pada tanggal 2 Juli 1950, yang disebut tadi di atas, saya pun baru mengalaminya. Dan bisa disebut banjir yang paling besar. Karena air di sekitar Lapang Sudarsono dan di pemukiman,... tingginya kurang lebih 2 meter. Bagi yang tidak tahu banjir di Bandjar, bisa membayangkan atau melihat dengan mata batinnya. Betapa hebatnya dan berapa banyak korbannya, yang sama-sama menderita rusak rumahnya, mengungsi, dan bergantung pada rumah tetangga.

Peralatan rumah tangga dan hewan peliharaan sudah tak terhitung; ayam, itik, soang, entok, kuda, kerbau, sapi, kambing, banyak yang hanyut terapung-apung di Citanduy. Korban manusia pun ada.

Yang mengalami kejadian itu adalah yang terletak di sisi sungai; Cisaga, Cigerendeng, Cikulak, Parung Lesang, Parung Sari Bodobatu, KP. Pasar, Kp. Gudang, Cikadu, Kalapa Nunggal, Randegan dan Citapen, yaitu kampung-kampung yang dekat dengan bantaran Citanduy.

Dengan begitu jelas dan pantas bagi yang menyebutkan Bandjar Banjir karena air, karena itulah yang sudah dialami.

» UCAPAN ORANG TUA DAHULU «

Kejadian-kejadian yang sudah dialami oleh kita, juga sesuai dengan ucapan orang tua yang bunyinya begini: "Anak-anak nanti di zaman akhir, dimana Gunung Babakan sudah kawin dengan Gunung Sangkur, Bandjar akan banjir. Ada cerita, (seperti) beunteur (sejenis hewan/ikan) menghisap kembang kelapa, masuk ke langit yang terbuka, naik bertengger di sela-sela pelepah kelapa. Itu adalah Bandjar menjadi lautan".

Setelah itu, Bandjar menjadi negara...** Setelah Bandjar menjadi negara, Bandjar akan menjadi sebutan: Bandjarpatroman_ Bandjar Aman.**

SELESAI