Ketentuan Ketentuan Tentang Berlakunya Dan Peralihan Perundang

Chapter 2

Chapter 21,523 wordsPublic domain

Pasal 68. Wali-wali yang diangkat sebelum berlakunya perundang-undangan baru dan menerima perwalian yang diberikan itu, tidak tunduk kepada ketentuan-ketentuan tentang mengadakan jaminan yang dimuat dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata. (Ov. 54; KUHPerd. 335.)

Pasal 69. Ketentuan-ketentuan pelarangan, yang termuat dalam pasal 9 Reglemen Organisasi Peradilan dan Kebijaksanaan Justisi dan dalam ayat terakhir pasal 379 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, tidak berlaku terhadap perwalian, yang sebelum berlakunya perundang-undangan baru, menurut undang-undang diperintahkan dan diterima. (Ov. 54.)

Sub. 7. Penguasaan Balai Harta Peninggalan Dan Juru Harta Peninggalan.

70. Dianggap gugur karena pengumuman Instruksi balai harta peninggalan S. 1872-166.

Pasal 71. Pengawasan dan pengumuman terhadap orang dan benda, berdasarkan apa pun, yang sebelum berlakunya perundang-undangan baru diterima oleh balai harta peninggalan, dilanjutkan terus dan akhirnya tunduk kepada ketentuan-ketentuan perundang-undangan yang terdahulu. Ketentuan-ketentuan yang ada tentang penguasaan dan pengesahan harta peninggalan orang, yang masuk angkatan darat dan angkatan laut, sementara dipertahankan. (S. 1872-208; S. 1874-147; S. 1876-91; S. 1879-219 dan 220; S. 1919-298.)

Pasal 72. Peraturan-peraturan yang ada tentang penguasaan balai harta peninggalan, juru harta peninggalan atau pegawai-pegawai lain yang untuk itu diangkat atau perwakilan-perwakilan yang mengurus harta peninggalan orang Indonesia dan orang-orang yang disamakan dengan itu, tetap berlaku, sampai untuk itu ditentukan ketentuan-ketentuan lebih lanjut. (S. 1818-72; S. 1819-20 pasal 34; S. 1825-37; S. 1828-46; S. 1832-76; S. 1845-15; S. 1924-516; S. 1924-556; pasal I, A, sub c, 2c.)

Sub. 8. Wasiat Timbal Balik Dan Wasiat Lisan, Penetapan Di Bawah Tangan Tentang Testamen Atau Codicil Dan Penunjukan Waris Tak Langsung.

Pasal 73. Surat-surat wasiat yang diberi tanggal yang tetap dan oleh dua orang atau lebih dalam akta yang sama di bawah perundang-undangan yang lama, dibuat menurut undang-undang dan setelah berlakunya perundang-undangan baru diperkuat dengan kematian, tentang bentuknya tetap mempunyai kekuatan. (Ov. 55, 57; KUHPerd. 930.)

Pasal 74. Wasiat lisan yang dibuat sebelum saat berlakunya perundang-undangan baru hanya dapat bertahan, apabila sebelum saat itu diperkuat dengan kematian. (T. XIII-377.)

Pasal 75. Semua yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan perundang-undangan lama mengenai wasiat di bawah tangan atau codicil yang dibuat sebelum berlakunya Kitab Undang-undang Hukum Perdata dan berkeinginan agar tetap berlaku, berkewajiban dalam satu tahun setelah berlakunya perundang-undangan baru untuk menyerahkannya kepada notaris untuk disimpan, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata tentang peraturan penyimpanan wasiat yang ditulis sendiri. Kalau hal itu tidak dilakukan, maka penetapan-penetapan semacam itu hanya berlaku, bila pewaris meninggal dalam satu tahun setelah berlakunya perundang-undangan baru. Penetapan di bawah tangan atau codicil semacam itu, yang dibuat di bawah perundang-undangan yang lama, akan tetapi tidak disimpan menurut ketentuan-ketentuan yang ada, akan tetap berlaku, apabila orang-orang yang sama membuatnya pada waktu berlakunya perundang-undangan yang baru atau dalam waktu satu tahun setelah berlakunya perundang-undangan, karena gila atau lain-lain keadaan yang memaksa tidak dapat melakukan penyimpanan seperti yang dimaksud. Dari ketentuan-ketentuan ini dikecualikan penetapan-penetapan yang dimuat dalam pasal 935 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. (KUHPerd. 932 dst.)

Pasal 76. Penunjukan waris tak langsung yang diperkuat dengan kematian pada saat berlakunya perundang-undangan baru, tentang sifat-sifat yang dilarang oleh Kitab Undang-undang Hukum Perdata, tetap berlaku dan berjalan terus menurut perundang-undangan lama dan tidak bertentangan dengan akta-akta dalam kelembagaan yang sama. (s.d.t. dg. S. 1939-58.) Menyimpang dari yang ditentukan dalam ayat (1), Gubernur Jenderal dapat menentukan bahwa penunjukan waris tak langsung sebagaimana dimaksudkan dalam ayat tersebut berakhir pada saat yang ditentukan olehnya. Pada saat itu selesailah kekuatan penunjukan waris semacam itu dan ahli waris atau penerima hibah wasiat yang dibebani, tidak berkewajiban lagi menyimpan barang warisan bagi yang menerimanya. (KUHPerd. 879 dst., TK. XIII-378.)

Sub. 9. Utang Yang Didahulukan.

Pasal 77. Ketentuan-ketentuan yang termuat dalam titel kesembilan belas buku kedua Kitab Undang-undang Hukum Perdata tidak mengganggu hak-hak para penagih yang hak-hak istimewanya melekat pada utang, yang telah ada sebelum berlakunya perundang-undangan baru. Hak mendahului dalam hak istimewa itu, baik satu sama lain, maupun terhadap gadai dan hipotek, diatur menurut perundang-undangan lama. (KUHPerd. 1131 dst.)

Sub. 10. Hipotek.

Pasal 78. Peringatan, pemberitahuan dan semua surat-surat juru sita lainnya, yang menurut ketentuan-ketentuan perundang-undangan baru harus atau dapat dilakukan kepada penagih-penagih hipotek, tentang hipotek mereka mengenai pilihan tempat tinggal yang diadakan sebelum berlakunya perundang-undangan baru, harus atau dapat dilakukan kepada penagih hipotek secara pribadi atau di tempat tinggal mereka yang nyata-nyata. (Ov. 37; KUHPerd. 1194, 1211.)

Sub. 11. Pembatalan Perkara-perkara Yang Merugikan.

Pasal 79. Gugatan tentang pembatalan perkara-perkara yang merugikan dalam suatu penjualan, yang terjadi sebelum berlakunya perundang-undangan baru, akan dipertimbangkan menurut ketentuan-ketentuan perundang-undangan yang berlaku pada saat pembelian itu ditutup. (KUHPerd. 1450.)

Sub. 12. Upah Yang Diberikan Kepada Balai Harta Peninggalan, Wali, Pelaksana Testamen Dan Pemberi Tugas.

Pasal 80. Balai harta peninggalan, wali, pelaksana testamen dan penerima tugas tentang kelanjutan pengurusan yang diterima sebelum berlakunya perundang-undangan baru, tidak boleh memperhitungkan upah lain atau lebih, karena setelah saat berlakunya perundang-undangan baru melakukan pekerjaan selain dari yang diatur dalam perundang-undangan baru; dengan catatan, sepanjang wali partikelir, pelaksana dan penerima kuasa, dalam hal dalam akta pengangkatan mereka nyata-nyata diberi upah lebih tinggi. (Ov. 22, 93; KUHPerd. 411, 466, 1021; 1794; F. 69.)

Sub. 13. Bukti Dalam Perkara-perkara Perdata.

Pasal 81. Apakah alat-alat bukti dalam perkara-perkara perdata akan dapat diterima atau tidak diizinkan, tergantung pada ketentuan-ketentuan yang berlaku pada saat timbulnya hak-hak dan kewajiban-kewajiban. (ov. 56; KUHPerd. 1815 dst.)

Pasal 82. Keperseroan perniagaan di bawah satu firma dan perseroan terbatas perniagaan di Indonesia, pada saat berlakunya Kitab Undang-undang Hukum Dagang, sepanjang akta-akta pendiriannya tidak pernah diumumkan oleh pemerintah, berkewajiban dalam waktu enam bulan setelah berlakunya perundang-undangan untuk memenuhi ketentuan-ketentuan kitab undang-undang tersebut mengenai pendaftaran dalam register-register yang diperuntukkan dan pengumuman tentang akta perseroan; dan dengan ancaman hukuman tentang akibat-akibat yang dikaitkan oleh ketentuan-ketentuan perundang-undangan dalam hal tidak mendaftarkan dan tidak mengumumkan akta-akta demikian itu. Apabila akta-akta ini ditulis tanpa bermeterai atau tidak ditulis di atas kertas bermeterai sebagaimana mestinya, maka kelalaian ini masih dapat diperbaiki, kecuali yang berlawanan dengan ketentuan-ketentuan yang ada, dengan menggunakan meterai, sebesar yang seharusnya digunakan untuk akta asli, dan tidak akan dikenakan denda, juga tidak akan ada tuntutan hukum. (KUHD 23 dst., 29, 31, 38, dst.)

Sub. 15. Tagihan Pendapatan Negara Dan Sewa dan Pelaksanaan Langsung (Parate Executie), Tentang Harga Dan Rampasan Dan Pencabutan Hak Milik Untuk Kepentingan Umum.

83. Dicabut dg. S. 1890-72.

Sub. 16. Perkara Yang Bergantung.

84 s/d 89. Dianggap gugur.

Sub. 17. Putusan Hooggeregtshof, Tunduk Karena Upaya Naik Banding Hogen Raad Negeri Belanda.

90. Gugur; S. 1851-4 jo. S. 1872-12; S. 1887-152; S. 1901-319.

Sub. 18. Pelaksanaan Akte Pengadilan Dan Akte Notaris.

Pasal 91. Ketentuan-ketentuan dalam perundang-undangan baru pada salinan pertama akta hipotek dan surat utang notarial, pada bagian pokok ditulis: atas nama Raja, diberi kekuatan yang sama seperti yang ada pada putusan-putusan pengadilan, akan berlaku juga terhadap akta-akta demikian itu yang dibuat sebelum berlakunya perundang-undangan baru. (Rv. 440; IR 224.)

Sub. 19. Sandera.

92. Dianggap gugur.

Sub 20. Kantor Lelang.

93. Gugur; S. 1908-189.

Sub. 21. Pengawasan Terhadap Notariat, Gaji Dan Ganti Rugi.

94. Gugur: Reglemen Jabatan Notaris di Indonesia 50.

95. Gugur: Lihat Tarieven S. 1851-27; S. 1874-9 (sekarang S. 1931-498) dan selanjutnya.

Sub. 22. Hukum Meterai, Pewarisan Dan Peralihan Dan Pajak Menurut Persentase Perkara-perkara Peradilan.

96. Gugur: S. 1885-131 dan seterusnya; S. 1901-471.

97. Gugur.

Sub. 23. Pegawai-pegawai Pengadilan.

98. Dianggap gugur.

BAB V. KETENTUAN-KETENTUAN TENTANG BEBERAPA HAL, YANG PENGATURANNYA ADA HUBUNGAN DENGAN BERLAKUNYA PERUNDANG-UNDANGAN BARU.

99. Gugur: S. 1916-42, 46, dimuat setelah Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

Pasal 100. Untuk melakukan penyegelan, dalam hal yang menurut ketentuan perundang-undangan baru harus atau dapat dilakukan, dengan mengingat pengaturan yang akan datang, ditugaskan: di tempat yang terdapat Raad van Justitie, panitera pada dewan tersebut, atau juga, tetapi hanya dalam hal panitera tidak ada atau berhalangan, panitera-pengganti; (s.d.u. dg. S. 1925-435 jo. S. 1926-495.) Di tempat-tempat lain (di mana tidak ada Raad van Justitie), ditugaskan sekretaris wilayah, kalau ia tidak ada, sekretaris afdeeling dan kalau ia juga tidak ada atau berhalangan, setiap pegawai Eropa lainnya, yang ditunjuk oleh kepala wilayah atau kepala afdeeling. (Untuk luar Jawa dan Madura, karesidenan sebagai pengganti wilayah, untuk daerah gubermen di Jawa dan Madura karesidenan sebagai pengganti afdeeling, lihat S. 1938-370 jo. 264, S. 1939-288.) Pegawai yang melakukan penyegelan, demikian pula dalam pelepasan segel, untuk itu dibantu oleh dua orang saksi. (KUHPerd. 386, 464, 1009, 1041; F. 90; Rv. 55-1, 652 dst.; Weesk. 61 dan 64.)

Pasal 101. Pegawai yang melakukan penyegelan, apabila ia di luar itu ditugaskan mewakili fungsi notaris, juga dapat bekerja dalam harta peninggalan, dan juga dapat membuat akta perincian harta yang diharuskan.

Pasal 102. Pemberian nama Kitab Undang-undang Hukum Perdata dan Kitab Undang-undang Hukum Dagang, yang ada dalam perundang-undangan baru, selalu menunjukkan Kitab Undang-undang Hukum Perdata dan Kitab Undang-undang Hukum Dagang untuk Indonesia.

Pasal 103. Dengan nama residen dan kepala pemerintahan setempat dalam perundang-undangan baru, diartikan juga asisten residen yang tidak di bawah residen dan penguasa-penguasa Eropa lainnya yang diberi kekuasaan yang sama seperti residen. (S. 1925-497, pasal 1; S. 1931-168, 373, 423.) 1 bl. 233; S. 1931-168, 373, 423.)

Pasal 104. Dalam nama notaris yang digunakan dalam perundang-undangan baru termasuk juga semua pegawai yang oleh atau karena kuasa Gubernur Jenderal, melakukan pekerjaan yang ada hubungannya dengan notaris. (Not. 2).

Pasal 105. Dengan nama "Officieel Nieuwsblad " yang terdapat dalam perundang-undangan baru, diartikan "Javasche Courant ". (S. 1832-39; S. 1859-99; S. 1871-105; Cf LN. 1950-32.)

Kategori:Peraturan perundang-undangan Indonesia era kolonial