Chapter 1
Nisan
Bukan kematian benar menusuk kalbu Keridlaanmu menerima segala tiba Tak kutahu setinggi itu atas debu Dan duka maha tuan bertakhta.
Penghidupan
Lautan maha dalam Mukul dentur selama Nguji tenaga pematang kita
Mukul dentur selama Hingga hancur remuk redam Kurnia Bahgia Kecil setumpuk Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk.
Dipo Negoro
thumb
Di masa pembangunan ini Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti Sudah itu mati.
300px|thumb
MAJU
Bagimu Negeri Menyediakan api.
Punah di atas menghamba Binasa di atas ditinda
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai.
Maju. Serbu. Serang. Terjang.
Tak Sepadan
Aku kira: Beginilah nanti jadinya Kau kawin, beranak dan berbahgia Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.
Dikutuk-sumpahi Eros Aku merangkaki dinding buta Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padami Unggunan api ini Karena kau tidak 'kan apa-apa Aku terpanggang tinggal rangka.
Sia-Sia
Penghabisan kali itu kau datang Membawa kembang berkarang Mawar merah dan melati putih Darah dan Suci Kau tebarkan depanku Serta pandang yang memastikan: untukmu.
Lalu kita sama termanggu Saling bertanya: apakah ini? Cinta? Kita kedua tak mengerti
Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
Pelarian
Tak tertahan lagi Remang miang sengketa di sini.
Dalam lari Dihempaskannya pintu keras tak berhingga.
Hancur-luluh sepi seketika Dan paduan dua jiwa.
Dari kelam ke malam Tertawa-meringis malam menerimanya Ini batu baru tercampung dalam gelita "Mau apa? Rayu dan pelupa, Aku ada! Pilih saja! Bujuk dibeli? Atau sungai sunyi? Mari! Mari! Turut saja!"
Tak kuasa — terengkam Ia dicengkam malam.
Sendiri
Hidupnya tambah sepi, tambah hampa Malam apa lagi Ia memekik ngeri Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya
Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu? Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!
Suara Malam
Dunia badai dan topan Manusia mengingatkan "Kebakaran di hutan"
Jadi ke mana Untuk damai dan reda?
Mati.
Barangkali ini diam kaku saja Dengan ketenangan selama bersatu Mengatasi suka dan duka Kekebalan terhadap debu dan nafsu. Berbaring tak sedar Seperti kapal pecah di dasar lautan Jemu dipukul ombak besar.
Atau ini.
Peleburan dalam Tiada. Dan sekali akan menghadap cahaya. ................................... Ya Allah! Badanku terbakar — segala samar. Aku sudah melewati batas. Kembali? Pintu tertutup dengan keras.
----
Semangat
250px|thumbnail|"Aku" di Kernstraat 17a (zijgevel), Leiden
Kalau sampai waktuku 'ku tahu tak seorang 'kan merayu Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu!
Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meredang-menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari Berlari
Hingga hilang pedih dan peri.
Dan aku akan lebih tidak peduli Aku mau hidup seribu tahun lagi.
Hukum
Saban sore ia lalu depan rumahku Dalam baju tebal abu-abu
Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul.
Bungkuk jalannya — Lesu Pucat mukanya — Lesu
Orang menyebut satu nama jaya Mengingat kerjanya dan jasa
Melecut supaya terus ini padanya
Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga
Pekik di angkasa: Perwira muda Pagi ini menyinar lain masa
Nanti, kau dinanti-dimengerti!
Taman
Taman punya kita berdua Tak lebar luas, kecil saja Satu tak kehilangan lain dalamnya. Bagi kau dan aku cukuplah Taman kembangnya tak berpuluh warna Padang rumputnya tak berbanding permadani Halus lembut dipijak kaki. Bagi kita itu bukan halangan. Karena Dalam taman punya berdua Kau kembang, aku kumbang Aku kumbang, kau kembang. Kecil, penuh surya taman kita Tempat merenggut dari dunia dan 'nusia
Lagu Biasa
Di teras rumah makan kami kini berhadapan Baru berkenalan. Cuma berpandangan Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam
Masih saja berpandangan Dalam lakon pertama Orkes meningkah dengan "Carmen" pula.
Ia mengerling. Ia ketawa Dan rumput kering terus menyala Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi Darahku terhenti berlari.
Ketika orkes memulai "Ave Maria" Kuseret ia ke sana .........
Kupu Malam dan Biniku
Sambil berselisih lalu Mengebu debu.
Kupercepat langkah. Tak noleh ke belakang Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang
Barah ternganga
Melayang ingatan ke biniku Lautan yang belum terduga Biar lebih kami tujuh tahun bersatu
Barangkali tak setahuku Ia menipu.
Penerimaan
Jika kau mau, kuterima kau kembali Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Jika kau mau, kuterima kau kembali Tapi untukku sendiri
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
Kesabaran
Aku tak bisa tidur Orang ngomong, anjing menggonggong Dunia jauh — mengabur Kelam mendinding batu Dihantam suara bertalu-talu Di sebelahnya api dan abu
Aku hendak berbicara Suaraku hilang, tenagaku terbang Sudah! Tidak jadi apa-apa: Ini dunia enggan disapa, ambil peduli Keras-membeku air kali Dan hidup bukan hidup lagi.
Kuulangi yang dulu kembali Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang musti tiba
Ajakan
Menembus sudah caya Udara tebal kabut Kaca hitam lumut Pecah pencar sekarang Di ruang legah lapang Mari ria lagi Tujuh belas tahun kembali Bersepeda sama gandengan Kita jalani ini jalan
Ria bahgia Tak acuh apa-apa Gembira girang Biar hujan datang Kita mandi basahkan diri Tahu pasti sebentar kering lagi.
Kenangan
Kadang Di antara jeriji itu-itu saja Mereksmi memberi warna Benda usang dilupa Ah! Tercebar rasanya diri Membumbung tinggi atas kini Sejenak Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang Hancur hilang belum dipegang Terhentak Kembali di itu-itu saja Jiwa bertanya: Dari buah Hidup 'kan banyakan jatuh ke tanah? Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia
Hampa
Sepi di luar, sepi menekan-mendesak Lurus-kaku pohonan. Tak bergerak Sampai ke puncak. Sepi memagut. Tak suatu kuasa-berani melepas diri Segala menanti. Menanti-menanti. Sepi. Dan ini menanti penghabisan mencekik Memberat-mencekung punda Udara bertuba Rontok-gugur segala. Setan bertempik.
Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti.
Perhitungan
Banyak gores belum terpupus saja Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya
Langit bersih- cerah dan purnama raya...... Sudah itu tempatku tak tentu di mana.
Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran
Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran Hambus kau aku tak peduli, ke Bandung, ke Sukabumi.......!? Kini aku meringkih dalam malam sunyi.
Rumahku
Rumahku dari unggun-timbun sajak Kaca jernih dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala Di pagi terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun-unggun sajak Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang Aku tidak lagi meraih petang Biar berleleran kata manis madu Jika menagih yang satu.
Kawanku dan Aku
Kami jalan sama. Sudah larut Menembut kabut. Hujan mengucur badan.
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.
Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.
Siapa berkata?
Kawanku hanya rangka saja Karena dera mengelucak tenaga.
Dia bertanya jam berapa!
Sudah larut sekali Hingga hilang segala makna Dan gerak tak punya arti.
Di Mesjid
Kuseru saja Dia Sehingga datang juga
Kami pun bermuka-muka.
Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada. Segala daya memadamkannya
Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda.
Ini ruang Gelanggang kami berperang
Binasa-membinasa Satu menista lain gila.
Aku
Melangkahkan aku bukan tuak menggelegak Cumbu-buatan satu biduan Kujauhi ahli agama serta lembing katanya
Aku hidup Dalam hidup di mata tampak bergerak Dengan cayar melebar, barah bernanah Dan kadang satu senyum kukucup-minum dalam dahaga.
Cerita
Di pasar baru mereka Lalu mengada-menggaya.
Meningkat sudah kesal Tak tahu apa dibuat
Jiwa satu teman lucu Dalam hidup, dalam tuju.
Gundul diselimuti tebal Sama segala berbuat-buat.
Tapi kadang pula dapat Ini renggang terus terapat
Bercerai
Kita musti bercerai Sebelum kicau murai berderai.
Terlalu kita minta pada malam ini.
Benar belum puas serah menyerah Darah masih berbusah-busah.
Terlalu kita minta pada malam ini.
Kita musti bercerai Biar surya 'kan menembus oleh malam diperisai
Dua benua bakal bentur-membentur. Merah kesumba jadi putih kapur.
Bagaimana? Kau IDA, mau turut mengabur Tidak samudra caya tempatmu menghambur.
Selamat Tinggal
Aku berkaca Bukan buat ke pesta
Ini muka penuh luka Siapa punya?
Kudengar seru-menderu — dalam hatiku? — Apa hanya angin lalu?
Lagu lain pula Menggelepar tengah malam buta
Ah............!!!
Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal............
Selamat tinggal...............!!!
Dendam
Berdiri tersentak Dari mimpi aku bengis dielak
Aku tegak Bulan bersinar sedikit tak nampak
Tangan meraba ke bawah bantalku Keris berkarat kugenggam di hulu
Bulan bersinar sedikit tak nampak
Aku mencari Mendadak mati kuhendak berbekas di jari
Aku mencari Diri tercerai dari hati
Bulan bersinar sedikit tak nampak
Merdeka
thumb
Aku mau bebas dari segala Merdeka Juga dari Ida
Pernah Aku percaya pada sumpah dan cinta Menjadi sumsum dan darah Seharian kukunyah — kumamah
Sedang meradang Segala kurenggut Ikut bayang
Tapi kini Hidupku terlalu tenang Selama tidak antara badai Kalah menang
Ah! jiwa yang menggapai-gapai Mengapa kalau beranjak dari sini Kucoba dalam mati.
(Kita Guyah Lemah)
Kita guyah lemah Sekali tetak tentu rebah Segala erang dan jeritan Kita pendam dalam keseharian
Mari tegak merentak Diri — sekeliling kita bentak Ini malam purnama akan menembus awan.
?
Jangan kita di sini berhenti Tuaknya tua, sedikit pula Sedang kita mau berkendi-kendi Terus, terus dulu..........!!!
Ke ruang di mana botol tuak banyak berbaris Pelayannya kita dilayani gadis-gadis O, bibir merah, selokan mati pertama O, hidup, kau masih ketawa??
(Mulutmu Mencubit di Mulutku)
Mulutmu mencubit di mulutku Menggelegak benci sejenak itu Mengapa merihmu tak kucekik pula Ketika halus-perih kau meluka??
Kepada Peminta-Peminta
Baik, baik aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku.
Jangan lagi kau bercerita Sudah tercacar semua di muka Nanah meleleh dari luka Sambil berjalan kau usap juga.
Bersuara tiap kau melangkah Mengerang tiap kau memandang Menetes dari suasana kau datang Sembarang kau merebah.
Mengganggu dalam mimpiku Menghempas aku di bumi keras Di bibirku terasa pedas Mengaum di telingaku.
Baik, baik aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku.