History of the Division of Medical Sciences United States National Museum Bulletin 240, Contributions from the Museum of History and Technology, paper 43, 1964

Chapter 1

Chapter 11,595 wordsPublic domain

Nisan

Bukan kematian benar menusuk kalbu Keridlaanmu menerima segala tiba Tak kutahu setinggi itu atas debu Dan duka maha tuan bertakhta.

Penghidupan

Lautan maha dalam Mukul dentur selama Nguji tenaga pematang kita

Mukul dentur selama Hingga hancur remuk redam Kurnia Bahgia Kecil setumpuk Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk.

Dipo Negoro

thumb

Di masa pembangunan ini Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti Sudah itu mati.

300px|thumb

MAJU

Bagimu Negeri Menyediakan api.

Punah di atas menghamba Binasa di atas ditinda

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai.

Maju. Serbu. Serang. Terjang.

Tak Sepadan

Aku kira: Beginilah nanti jadinya Kau kawin, beranak dan berbahgia Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

Dikutuk-sumpahi Eros Aku merangkaki dinding buta Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik juga kita padami Unggunan api ini Karena kau tidak 'kan apa-apa Aku terpanggang tinggal rangka.

Sia-Sia

Penghabisan kali itu kau datang Membawa kembang berkarang Mawar merah dan melati putih Darah dan Suci Kau tebarkan depanku Serta pandang yang memastikan: untukmu.

Lalu kita sama termanggu Saling bertanya: apakah ini? Cinta? Kita kedua tak mengerti

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Pelarian

Tak tertahan lagi Remang miang sengketa di sini.

Dalam lari Dihempaskannya pintu keras tak berhingga.

Hancur-luluh sepi seketika Dan paduan dua jiwa.

Dari kelam ke malam Tertawa-meringis malam menerimanya Ini batu baru tercampung dalam gelita "Mau apa? Rayu dan pelupa, Aku ada! Pilih saja! Bujuk dibeli? Atau sungai sunyi? Mari! Mari! Turut saja!"

Tak kuasa — terengkam Ia dicengkam malam.

Sendiri

Hidupnya tambah sepi, tambah hampa Malam apa lagi Ia memekik ngeri Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala

Yang minta perempuan untuk kawannya

Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu? Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!

Suara Malam

Dunia badai dan topan Manusia mengingatkan "Kebakaran di hutan"

Jadi ke mana Untuk damai dan reda?

Mati.

Barangkali ini diam kaku saja Dengan ketenangan selama bersatu Mengatasi suka dan duka Kekebalan terhadap debu dan nafsu. Berbaring tak sedar Seperti kapal pecah di dasar lautan Jemu dipukul ombak besar.

Atau ini.

Peleburan dalam Tiada. Dan sekali akan menghadap cahaya. ................................... Ya Allah! Badanku terbakar — segala samar. Aku sudah melewati batas. Kembali? Pintu tertutup dengan keras.

----

Semangat

250px|thumbnail|"Aku" di Kernstraat 17a (zijgevel), Leiden

Kalau sampai waktuku 'ku tahu tak seorang 'kan merayu Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!

Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meredang-menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari Berlari

Hingga hilang pedih dan peri.

Dan aku akan lebih tidak peduli Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Hukum

Saban sore ia lalu depan rumahku Dalam baju tebal abu-abu

Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul.

Bungkuk jalannya — Lesu Pucat mukanya — Lesu

Orang menyebut satu nama jaya Mengingat kerjanya dan jasa

Melecut supaya terus ini padanya

Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga

Pekik di angkasa: Perwira muda Pagi ini menyinar lain masa

Nanti, kau dinanti-dimengerti!

Taman

Taman punya kita berdua Tak lebar luas, kecil saja Satu tak kehilangan lain dalamnya. Bagi kau dan aku cukuplah Taman kembangnya tak berpuluh warna Padang rumputnya tak berbanding permadani Halus lembut dipijak kaki. Bagi kita itu bukan halangan. Karena Dalam taman punya berdua Kau kembang, aku kumbang Aku kumbang, kau kembang. Kecil, penuh surya taman kita Tempat merenggut dari dunia dan 'nusia

Lagu Biasa

Di teras rumah makan kami kini berhadapan Baru berkenalan. Cuma berpandangan Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam

Masih saja berpandangan Dalam lakon pertama Orkes meningkah dengan "Carmen" pula.

Ia mengerling. Ia ketawa Dan rumput kering terus menyala Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi Darahku terhenti berlari.

Ketika orkes memulai "Ave Maria" Kuseret ia ke sana .........

Kupu Malam dan Biniku

Sambil berselisih lalu Mengebu debu.

Kupercepat langkah. Tak noleh ke belakang Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang

Barah ternganga

Melayang ingatan ke biniku Lautan yang belum terduga Biar lebih kami tujuh tahun bersatu

Barangkali tak setahuku Ia menipu.

Penerimaan

Jika kau mau, kuterima kau kembali Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Jika kau mau, kuterima kau kembali Tapi untukku sendiri

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Kesabaran

Aku tak bisa tidur Orang ngomong, anjing menggonggong Dunia jauh — mengabur Kelam mendinding batu Dihantam suara bertalu-talu Di sebelahnya api dan abu

Aku hendak berbicara Suaraku hilang, tenagaku terbang Sudah! Tidak jadi apa-apa: Ini dunia enggan disapa, ambil peduli Keras-membeku air kali Dan hidup bukan hidup lagi.

Kuulangi yang dulu kembali Sambil bertutup telinga, berpicing mata

Menunggu reda yang musti tiba

Ajakan

Menembus sudah caya Udara tebal kabut Kaca hitam lumut Pecah pencar sekarang Di ruang legah lapang Mari ria lagi Tujuh belas tahun kembali Bersepeda sama gandengan Kita jalani ini jalan

Ria bahgia Tak acuh apa-apa Gembira girang Biar hujan datang Kita mandi basahkan diri Tahu pasti sebentar kering lagi.

Kenangan

Kadang Di antara jeriji itu-itu saja Mereksmi memberi warna Benda usang dilupa Ah! Tercebar rasanya diri Membumbung tinggi atas kini Sejenak Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang Hancur hilang belum dipegang Terhentak Kembali di itu-itu saja Jiwa bertanya: Dari buah Hidup 'kan banyakan jatuh ke tanah? Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia

Hampa

Sepi di luar, sepi menekan-mendesak Lurus-kaku pohonan. Tak bergerak Sampai ke puncak. Sepi memagut. Tak suatu kuasa-berani melepas diri Segala menanti. Menanti-menanti. Sepi. Dan ini menanti penghabisan mencekik Memberat-mencekung punda Udara bertuba Rontok-gugur segala. Setan bertempik.

Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti.

Perhitungan

Banyak gores belum terpupus saja Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya

Langit bersih- cerah dan purnama raya...... Sudah itu tempatku tak tentu di mana.

Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran

Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran Hambus kau aku tak peduli, ke Bandung, ke Sukabumi.......!? Kini aku meringkih dalam malam sunyi.

Rumahku

Rumahku dari unggun-timbun sajak Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-unggun sajak Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang Aku tidak lagi meraih petang Biar berleleran kata manis madu Jika menagih yang satu.

Kawanku dan Aku

Kami jalan sama. Sudah larut Menembut kabut. Hujan mengucur badan.

Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.

Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.

Siapa berkata?

Kawanku hanya rangka saja Karena dera mengelucak tenaga.

Dia bertanya jam berapa!

Sudah larut sekali Hingga hilang segala makna Dan gerak tak punya arti.

Di Mesjid

Kuseru saja Dia Sehingga datang juga

Kami pun bermuka-muka.

Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada. Segala daya memadamkannya

Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda.

Ini ruang Gelanggang kami berperang

Binasa-membinasa Satu menista lain gila.

Aku

Melangkahkan aku bukan tuak menggelegak Cumbu-buatan satu biduan Kujauhi ahli agama serta lembing katanya

Aku hidup Dalam hidup di mata tampak bergerak Dengan cayar melebar, barah bernanah Dan kadang satu senyum kukucup-minum dalam dahaga.

Cerita

Di pasar baru mereka Lalu mengada-menggaya.

Meningkat sudah kesal Tak tahu apa dibuat

Jiwa satu teman lucu Dalam hidup, dalam tuju.

Gundul diselimuti tebal Sama segala berbuat-buat.

Tapi kadang pula dapat Ini renggang terus terapat

Bercerai

Kita musti bercerai Sebelum kicau murai berderai.

Terlalu kita minta pada malam ini.

Benar belum puas serah menyerah Darah masih berbusah-busah.

Terlalu kita minta pada malam ini.

Kita musti bercerai Biar surya 'kan menembus oleh malam diperisai

Dua benua bakal bentur-membentur. Merah kesumba jadi putih kapur.

Bagaimana? Kau IDA, mau turut mengabur Tidak samudra caya tempatmu menghambur.

Selamat Tinggal

Aku berkaca Bukan buat ke pesta

Ini muka penuh luka Siapa punya?

Kudengar seru-menderu — dalam hatiku? — Apa hanya angin lalu?

Lagu lain pula Menggelepar tengah malam buta

Ah............!!!

Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal............

Selamat tinggal...............!!!

Dendam

Berdiri tersentak Dari mimpi aku bengis dielak

Aku tegak Bulan bersinar sedikit tak nampak

Tangan meraba ke bawah bantalku Keris berkarat kugenggam di hulu

Bulan bersinar sedikit tak nampak

Aku mencari Mendadak mati kuhendak berbekas di jari

Aku mencari Diri tercerai dari hati

Bulan bersinar sedikit tak nampak

Merdeka

thumb

Aku mau bebas dari segala Merdeka Juga dari Ida

Pernah Aku percaya pada sumpah dan cinta Menjadi sumsum dan darah Seharian kukunyah — kumamah

Sedang meradang Segala kurenggut Ikut bayang

Tapi kini Hidupku terlalu tenang Selama tidak antara badai Kalah menang

Ah! jiwa yang menggapai-gapai Mengapa kalau beranjak dari sini Kucoba dalam mati.

(Kita Guyah Lemah)

Kita guyah lemah Sekali tetak tentu rebah Segala erang dan jeritan Kita pendam dalam keseharian

Mari tegak merentak Diri — sekeliling kita bentak Ini malam purnama akan menembus awan.

?

Jangan kita di sini berhenti Tuaknya tua, sedikit pula Sedang kita mau berkendi-kendi Terus, terus dulu..........!!!

Ke ruang di mana botol tuak banyak berbaris Pelayannya kita dilayani gadis-gadis O, bibir merah, selokan mati pertama O, hidup, kau masih ketawa??

(Mulutmu Mencubit di Mulutku)

Mulutmu mencubit di mulutku Menggelegak benci sejenak itu Mengapa merihmu tak kucekik pula Ketika halus-perih kau meluka??

Kepada Peminta-Peminta

Baik, baik aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku.

Jangan lagi kau bercerita Sudah tercacar semua di muka Nanah meleleh dari luka Sambil berjalan kau usap juga.

Bersuara tiap kau melangkah Mengerang tiap kau memandang Menetes dari suasana kau datang Sembarang kau merebah.

Mengganggu dalam mimpiku Menghempas aku di bumi keras Di bibirku terasa pedas Mengaum di telingaku.

Baik, baik aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku Nanti darahku jadi beku.