Part 8
| Pembesar daerah angin membadut dengan para lurah, Diikuti lagu, sambil bertandak memilih pasangan, Solah tingkahnya menarik gelak, menggelikan pandangan, Itulah sebabnya mereka memperoleh hadiah kain. Disuruh menghadap Baginda, diajak minum bersama, Menteri upapati berurut minum bergilir menyanyi, Nyanyian Manghuri Kandamuhi dapat sorak pujian, Baginda berdiri, mengimbangi ikut melaras lagu. Tercengang dan terharu hadirin mendengar swara merdu, Semerbak meriah bagai gelak merak di dahan kayu, Seperti madu bercampur dengan gula terlalu sedap manis, Resap mengharu kalbu bagai desiran buluh perindu. Arya Ranadikara lupa bahwa Baginda berlagu, Bersama Arya Mahadikara mendadak berteriak, Bahwa para pembesar ingin beliau menari topeng, “Ya!” jawab beliau; segera masuk untuk persiapan. Sri Kertawardana tampil ke depan menari panjak, Bergegas lekas panggung disiapkan di tengah mandapa, Sang permaisuri berhias jamang laras menyanyiakan lagu, Luk suaranya mengharu rindu, tingkahnya memikat hati. Bubar mereka itu, ketika Sri Baginda keluar, Lagu rayuan Baginda bergetar menghanyutkan rasa, Diiringkan rayuan sang permaisuri rapi rupendah, Resap meremuk rasa merasuk tulang sungsum pendengar, Sri Baginda warnawan telah mengenakan tampuk topeng, Delapan pengiringnya di belakang, bagus, bergas pantas, Keturunan arya, bijak, cerdas, sopan tingkah lakunya, Itulah sebabnya banyolannya selalu tepat kena. Tari sembilan orang telah dimulai dengan banyolan, Gelak tawa terus-menerus, sampai perut kaku beku, Babak yang sedih meraih tangis, mengaduk haru dan rindu, Tepat mengenai sasaran, menghanyutkan hati penonton. Silam matahari waktu lingsir, perayaan berakhir, Para pembesar minta diri mencium duli paduka, Katanya: “Lenyap duka oleh suka, hilang dari bumi!”, Terlangkahi pujian Baginda waktu masuk istana.
|- valign="top" |92 | Manka tinkahiran/ pamukti sukha riɳ pura tumkani sestiniɳ manah, tatahhan lara dahat/ ndatan malupa riɳ kaparahitan i haywaniɳ praja, anwam/ tapwana kabwatan sira tathapi sugata sakalan/ maharddika, deniɳ jñana wiçesa çudda pamademnira ri kuhakaniɳ duratmaka. Ndatan mahuwusan kawiryyanira len/ wibhawanira dudug/ rin ambara, singih çri girinathamurtti makhajanma ri siran agawe jagaddita, byakta manguh upadrawawihan i sajñanira manasar iɳ samahita, moktan kleça keta katona nuniweh wuwusana tika saɳ sada mark. Nahan hetuni kottaman/ nrpat kaprakaçitaɳ pinujiɳ jagattraya, sakwehniɳ jana madyamottama kanista pada mujaraken/ çwarastuti, anhiɳ sotnika mogha langen atuwuh wukira sira panöbaniɳ sarat, astwanirwa lawas/ bhatara rawicandrama sumelh i bhumimandala.
| Begitulah suka mulia Baginda raja di pura, tercapai segala cita, Terang Baginda sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat dan negara, Meskipun masih muda, dengan suka rela berlaku bagai titisan Buddha, Dengan laku utama beliau memadamkan api kejahatan durjana. Terus membumbung ke angkasa kemashuran dan keperwiraan Sri Baginda, Sungguh beliau titisan Batara Girinata untuk menjaga buwana (bumi), Hilang dosanya orang yang dipandang, dan musnah letanya abdi yang disapa. Itulah sebabnya keluhuran beliau mashur terpuji di tiga jagad, Semua orang tinggi, sedang, dan rendah menuturkan kata-kata pujian, Serta berdoa agar Baginda tetap subur bagai gunung tempat berlindung, Berusia panjang sebagai bulan dan matahari cemerlang menerangi bumi.
|- valign="top" |93 | Sakweh saɳ panditan anyadarani maniket kastawan/ çri narendra, çri buddaditya saɳ bhikswagaway i sira bhogawwali (134a) çloka kirnna, riɳ jambudwipa tongwanira manaran i kañcipuri sadwihara, mwaɳ saɳ wipranaran/ çri mutali sahrdayawat/ stuti çloka çudda. Astam/ saɳ panditeɳ bhumi jawa saha saɳ çastradaksatiwijña, kapwagostyaniket/ çloka hana wacawacan/ ngwanirekin pamarnna, mukya mungwiɳ praçasti stutni nrpati tkap/ saɳ sudarmmopapatti, saɳ wruh rin gita giteniketiran aniket/ stotra lumreɳ puri jro.
| Semua pendeta dari tanah asing menggubah pujian Baginda, Sang pendeta Buddhaditya menggubah rangkaian seloka Bogawali, Tempat tumpah darahnya Kancipuri di Sadwihara di Jambudwipa (India), Brahmana Sri Mutali Saherdaya menggubah pujian seloka indah. Begitu pula para pendeta di Jawa, pujangga, sarjana sastra, Bersama-sama merumpaka seloka puja sastra untuk nyanyian, Yang terpenting puja sastra di prasasti, gubahan upapati Sudarma, Berupa kakawin, hanya boleh diperdengarkan di dalam istana.
|- valign="top" |94 | Ambek saɳ maparab/ prapañca kapitut/ mihat i parakawiçwareɳ pura, milwamarnna ri kastawanrpati dura panikt ika lumra riɳ sabha, anhiɳ stutya i jöɳ bhatara girinatha patnanika mogha sanmatan, tan len/ prartthana haywaniɳ bhuwana mukya ri pageha narendra riɳ praja. Riɳ çakadri gajaryyamaçwayujamasa çubhadiwaça purnnacandrama, nka hingan/ rakawin/ pamarnnana khadigwijayanira narendra riɳ praja, kwehnin deça riniñci donika minustaka manarana deçawarnnana, pangil/ panhwata sanmata nrpati mengeta rin alawas atpadeɳ lanö. Nirwya teki lawasnira çrin aniket/ kakawin awtu bhasa riɳ karas, tembeyanya ça- (134b) kabda pinrwanika lamban i tlas ika parwwa sagara, nahan teki caturtthi bhismaçaranantya nika sugataparwwa warnnana, lambaɳ mwaɳ çakakala taɳ winaluyan gatinikan ameweh turuɳ pgat. Donyan mankana wrddya yan panikete haji kathamapi tan tame lanö, göɳ bhaktyasih anatha hetunikapaksa tumuta san umastawe haji, çloka mwan kakawin kiduɳ stuti nike haji makamuka deçawarnnana, nhiɳ tohnyeki wilajja niçcaya yadin guyuguyun apa deya lampunen.
| Mendengar pujian para pujanggga pura bergetar mencakar udara, Prapanca bangkit turut memuji Baginda, meski tak akan sampai pura, Maksud pujiannya, agar Baginda gembira jika mendengar gubahannya, Berdoa demi kesejahteraan negara, terutama Baginda dan rakyat. Tahun Saka gunung gajah budi dan janma (1287) bulan Aswina hari purnama, Siaplah kakawin pujaan tentang perjalanan jaya keliling negara, Segenap desa tersusun dalam rangkaian, pantas disebut Desawarnana, Dengan maksud, agar Baginda ingat jika membaca hikmat kalimat. Sia-sia lama bertekun menggubah kakawin menyurat di atas daun lontar, Yang pertama “Tahun Saka”, yang kedua “Lambang” kemudian “Parwasagara”, Berikut yang keempat “Bismacarana”, akhirnya cerita“Sugataparwa”, Lambang dan Tahun Saka masih akan diteruskan, sebab memang belum siap. Meskipun tidak semahir para pujangga di dalam menggubah kakawin (puisi, syair), Terdorong cinta bakti kepada Baginda, ikut membuat puja sastra, Berupa karya kakawin, sederhana tentang rangkaian sejarah desa, Apa boleh buat harus berkorban rasa, pasti akan ditertawakan.
|- valign="top" |95 | Purih in awan/ lanenalh in adyah akikuk i dusun, artu kuraɳ prahasana kumul kuna rin ujar arum, dugaduga satya sadu juga sih lalis ika matilar, mapa karikapa don wruh ika riɳ smarawidi wiphala. Karananikanapih wisaya tan/ karaktan in ulah, wuta tuli tan/ wru lagrininalh nin alara katilar, pawarawarah mahamuni duduga rin-gep i hati, pijer aniwö kriyadwaya matanya tan umur atilar. Ikas ika tan/ pahi mwan atapen giriwana manusup, agaway umah pahoman asnöt/ jnek amati tutur, kamala na-(135a) tarnya len asana tanduran ika maruhur, kamalasana ywa nama ni sampun alawas amatek.
| Nasib badan dihina oleh para bangsawan, canggung tingggal di dusun, Hati gundah kurang senang, sedih, rugi tidak mendengar ujar…. manis, Teman karib dan orang budiman meningggalkan tanpa belas kasihan, Apa gunanya mengenal ajaran kasih, jika tidak diamalkan?. Karena kemewahan berlimpah, tidak ada minat untuk beramal, Buta, tuli, tak nampak sinar memancar dalam kesedihan, kesepian, Seyogyanya ajaran sang Mahamuni diserapkan bagai pegangan, Mengharapkan kasih yang tak kunjung datang, akan membawa mati muda. Segera ber-tapa brata di lereng gunung, masuk ke dalam hutan, Membuat rumah dan tempat persajian di tempat sepi dan ber-tapa, Halaman rumah ditanami pohon kamala, asana, tinggi-tinggi, Memang Kamalasana nama dukuhnya sudah sejak lama dikenal.
|- valign="top" |96 | Prapañca pracacah pañca, pracacad/ pocapan/ ceced, prapöɳpöɳ pipi pucce prm, pracoɳcoɳ cet pacehpaceh. Tan/ tata tita tuten, tan tetes/ tan tut iɳ tutur, titik/ tantri tateɳ tatwa, tutun/ tamtam/ titir ttitih.
| Prapanca itu pra lima buah, Cirinya: cakapnya lucu, Pipinya sembab, matanya ngeliyap, gelaknya terbahak-bahak. Terlalu kurang ajar, tidak pantas ditiru, Bodoh, tak menurut ajaran tutur, Carilah pimpinan yang baik dalam tatwa, Pantasnya ia dipukul berulang kali.
|- valign="top" |97 | Samalan/ pu winadaprih, prih dana wipulan/ masa, tama san/ çara riɳ gatya, tyaga riɳ rasa sanmata. Yaça saɳ winadanunsi, sinuɳ dana wisançaya, yan aweh magawe tibra, brati wega maweh naya. Mataruɳ tuhu wanyapraɳ, praɳnya wahhu turuɳ tama, masa lingara çunya prih, prihnya çura galiɳ sama.
| Ingin menyamai Mpu Winada, Mengumpulkan harta benda, Akhirnya hidup sengsara, Tapi tetap tinggal tenang. Winada mengejar jasa, Tanpa ragu uang dibagi, Terus ber-tapa brata, Mendapat pimpinan hidup. Sungguh handal dalam yuda, Yudanya belum selesai, Ingin mencapai Nirwana, Jadi pahlawan pertapa.
|- valign="top" |98 | Yan bwat para kawi maparab/ winadan atapa brata krta juga rin-gep, maitryasih in alulut upeksa riɳ huwus awarsih ariris in ulah, tyage sukha wibhawa yatan katemwa sakahananika nukhani saphala, tatan hunina mihat i solahiɳ para winada cinala ri ni dalm.
| Beratlah bagi para pujangga menyamai Winada, bertekun dalam tapa, membalas dengan cinta kasih perbuatan mereka yang senang, menghina orang-orang yang puas dalam ketenangan dan menjauhkan diri dari segala tingkah, menjauhkan diri dari kesukaan dan kewibawaan dengan harapan akan memperoleh faedah, segan meniru perbuatan mereka yang dicacat dan dicela di dalam pura. |}
Teks dan terjemahan :incubator:Wb/jv/Sastra_Jawa/Sastra_Jawa_Kuna/Kakawin_Nagarakretagama https://oediku.wordpress.com/2017/08/17/kitab-negarakertagama-naskah-asli-dan-terjemahannya/ https://bravijaya.wordpress.com/serat-2/negarakertagama-terjemahan/ https://historynote.wordpress.com/2011/04/28/negarakertagama/ Terjemahan yang lain: http://jejaknusantara.com/terjemahan-nagarakretagama https://archive.org/details/KakawinNagarakertagama/page/n1/mode/2up Terjemahan bahasa Inggris: http://www.spaetmittelalter.uni-hamburg.de/java-history/JavaNagara-Kertagama.html
Teks dengan aksara Jawa :jv:Kakawin Nāgarakṛtâgama
Kategori:Kakawin Kategori:Karya abad ke-14