Why the Chimes Rang: A Play in One Act
Chapter 2
Saudara-saudara. Dengan menoleh ke belakang dan menggali kembali ingatan kita tentang kiprahnya baik-buruk, kiprahnya plus-minus, kiprahnya hasil positif-kerugian negatif, yang kadang-kadang berganti-ganti, kadang-kadang campuraduk berbarengan laksana hamuknya elemen-elemen di dalam putaran angin puyuh, maka sebagai historicus dan politicus saya berpendapat bahwa kiprah ini akan berjalan terus, plus-minus, oleh karena perjuangan revolusi memang pada hakekatnya adalah kiprah hebat antara baik dan buruk, antara positif dan negatif, antara aksi dan reaksi. Di dalam bahasa falsafah ini adalah rantai these-antithese-synthese, dan demikian seterusnya – satu rantai yang tiada putusnya sampai ke akhir zaman.
Karena itu, hai bangsaku, teguh, teguhlah dalam imanmu, teguhlah dalam batinmu, meski badai topan yang bagaimanapun juga, untuk meneruskan perjuangan kita yang masih jauh ini!
Saudara-saudara sekalian,
Dalam melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945, dalam mewujudkan pengejawantahan isi jiwa kita yang sedalam-dalamnya, maka pokok intisari mandat, pokok intisari mandat, yang saya terima dari MPRS ialah membangun bangsa (nation building) dari kemerosotan zaman kolonial untuk dijadikan satu bangsa yang berjiwa, yang dapat dan mampu menghadapi semua tantangan, satu bangsa yang merdeka dalam abad ke 20 ini.
Itulah intisari pokok daripada mandat MPRS kepada saya.
Sesungguhnya, toh, bahwa membangun suatu negara, membangun ekonomi, membangun teknik, membangun pertahanan, adalah pertama-tama dan pada tahap utamanya membangun jiwa bangsa! Bukankah demikian? Sekali lagi, bukankah demikian?
Tentu saja keahlian adalah perlu! Tetapi keahlian saja tanpa dilandaskan pada jiwa yang besar, tidak akan dapat mungkin akan tercapai tujuannya.
Inilah perlunya, sekali lagi mutlak perlunya, nation and character building Tentu saja usaha ini pun memakan ongkos, memerlukan biaya, tetapi hasilnya sungguh berlipat-lipat ganda lebih besar dibandingkan dengan pengeluarannya.
Memberikan self respect kepada bangsa sendiri, memberikan self confidence kepada diri bangsa sendiri, memberikan kesanggupan untuk Berdikari, adalah mutlak perlu bagi tiap-tiap bangsa, di sudut dunia manapun, di bawah kolong langit yang manapun!
Lihatlah contoh-contohnya. Lihatlah kepada bangsa Amerika, lihatlah kepada bangsa Jepang, lihatlah kepada bangsa Soviet Uni!
Amerika baru menjadi bangsa yang besar sesudah mengalami perang saudara yang hebat dan dua kali peperangan dunia. Jepang baru menjadi bangsa yang besar setelah mengalami perang dengan Rusia, perang dengan Tiongkok, dan dua kali perang dunia. Soviet Uni baru menjadi bangsa yang besar sesudah mengalami burgeroorlog yang dahsyat dari lima penjuru yang dikobarkan oleh kaum imperialis, dan dua kali perang dunia! Dan Indonesia tidak perlu dan insya Allah tidak usah mengundang peperangan, tetapi gemblengan jiwa adalah mutlak perlu untuk membangun bangsa dan negara kita.
Indonesia yang kita cita-citakan tidak dapat dan tidak mungkin dapat dibangun atas warisan atau sisa-sisa jiwa kolonialisme. Sisa-sisa jiwa kolonialisme ini harus kita bongkar sama sekali.
Oleh sebab itu saripati daripada proyek-proyek Mandataris itu dapat dipertanggung-jawabkan, karena maksud dan tujuannya adalah tidak lain tidak bukan untuk memberikan jiwa kepada bangsa dan rakyat Indonesia yang merdeka! Proyek-proyek Mandataris adalah tidak lain dan tidak bukan sekadar alat, alat untuk menanamkan dan menumbuhkan kebesaran jiwa daripada bangsa dan rakyat kita.
Satu contoh lagi.
Terus terang saja, yang menghebatkan inflasi bukanlah pelaksanaan proyek Mandataris itu, akan tetapi pengeluaran-pengeluaran kita buat ABRl, untuk pembebasan lrian Barat dan untuk pengembalian keamanan. Untuk mengongkosi perjuangan pembebasan Irian Barat dan usaha penyelesaian keamanan, kita telah menggunakan lebih dari 80 persen daripada budget negara di tahun-tahun itu. Tetapi aku bertanya, apakah pembebasan lrian Barat salah? Apakah pemulihan keamanan salah? Tidak! Tidak salah, melainkan malahan perlu, perlu, perlu, sekali lagi, perlu!
Pendek kata, hasil politis, hasil ekonomis, hasil moneter, prestige, respect dunia internasional kepada kita, nation building, character building, selfrespect dan selfconfidence, semangat Berdikari, semua, semua ini dapat dipertanggungjawabkan sebagai kebijaksanaan yang saya jalankan sejak tahun 1959 itu untuk opknappen warisan jahat yang saya sebut tadi.
Bahwa perjuangan kita belum selesai, dan bahwa rakyat terutama sekali para buruh dan pegawai belum dapat hidup secara layak, itu memang benar! ltu saya akui, memang benar! Tetapi dasar-dasar kebangsaan dan dasar-dasar kenegaraan dengan jiwa baru sudah tertanam.
Sudah terang, Gestok kita kutuk, dan saya, saya mengutuk pula! Dan seperti yang sudah kukatakan berulang kali dengan jelas dan tandas, yang bersalah harus dihukum! Untuk itu kubangunkan Mahmillub!
Tetapi kenapa kita sesudah terjadinya Gestok itu harus robah haluan? Kenapa kita sesudah terjadinya Gestok itu harus melempar jauh beberapa hal yang sudah nyata baik? Tidak! Pancasila, Panca Azimat, Trisakti, harus kita pertahankan terus, malahan harus kita pertumbuhkan terus!
Pancasila – adalah seperti yang seringkali telah kukatakan – satu hogere optrekking daripada Declaration of Independence Amerika dan Manifesto Komunis. Bahkan lebih jauh daripada itu saya telah sering berkata, Revolusi Indonesia adalah satu verbeterde editie, dan insya Allah satu laatste editie daripada revolusi-revolusi di dunia sekarang ini.
Lihatlah revolusi-revolusi lain! Revolusi Amerika sudah tinggal hanya menjadi satu historis moment dan satu historis monumen saja, atau dalam bahasa asingnya, De Amerikaanse Revolutie is maar een historisch moment en een historisch monument geworden! Kenapa? Revolusi Amerika terjadi hampir dua abad yang lalu.
Revolusi Perancis sudah tinggal hanya menjadi satu historis moment dan satu historis monumen saja, atau dalam bahasa asingnya, De Franse Revolutie is maar een historisch moment en een historisch monument geworden! Kenapa? Revolusi Prancis terjadi hampir dua abad yang lalu.
Revolusi Soviet pun sudah lamat-lamat mungkin nanti menuju kepada menjadi satu historis moment dan satu historis monumen saja, atau De Soviet Revolutie, mogelijk, dreigt later ook slechts een historisch moment en een historisch monument te worden! Kenapa? Revolusi Soviet pecah setengah abad yang lalu. Atau kalau kita hitung dari tahun 1905, yang oleh Lenin dikatakan generale repetitie daripada revolusi, sudah 60 tahun yang lalu.
Sudah tentu kita mengambil keuntungan-keuntungan besar dari revolusi-revolusi tersebut. Akan tetapi Revolusi Indonesia tidak bisa dan tidak boleh hanya didasarkan atas pengalaman-pengalaman dan hasil-hasil Revolusi Amerika, Revolusi Perancis, atau Revolusi Soviet itu saja.
Cita-cita dan isi serta konsepsi daripada revolusi kita harus merupakan penggalian daripada tuntutan-tuntutan seluruh umat-umat manusia umumnya dan rakyat Indonesia sendiri pada khususnya pada waktu itu, yaitu dalam abad ke-20 ini! Bukan dua abad yang lalu seperti Revolusi Amerika, bukan dua abad yang lalu seperti Revolusi Perancis, bukan hampir tigaperempat abad seperti Revolusi Soviet. Tetapi Revolusi Indonesia haruslah mencerminkan revolusi umat manusia dan Revolusi Bangsa Indonesia sendiri pada waktu ini, pada abad ke-20.
Saya berkata bahwa Nasakom atau Nasasos atau Nasa apapun adalah unsur mutlak daripada pembangunan bangsa Indonesia.
Nasionalisme, Ketuhanan, Sosialisme (dengan nama apapun) adalah merupakan tuntutan daripada tiap jiwa manusia, tiap bangsa, tuntutan seluruh umat manusia.
Oleh sebab itu, ini harus kita pertumbuhkan secara konsekuen, tanpa dipengaruhi oleh pikiran atau doktrin yang sudah lapuk, baik dari ekstrem kanan maupun dari ekstrem kiri.
Jiwa Pancasila dan jiwa Nasasos atau Nasa apapun harus menjadi Leit-Star daripada revolusi modern sekarang ini, yaitu revolusinya umat manusia. Oleh sebab itu maka saya selalu peringatkan kepada bangsa dan rakyatku, jangan gontok-gontokan, jangan sembelih-sembelihan! Sebab, hal itu akan memecahkan kesatuan dan persatuan bangsa, memecahkan inti hakiki daripada revolusi kita. Dan kecuali daripada itu, maka ratusan ribu pembunuhan, ratusan ribu penahanan, malahan akan menjadi masalah sosial politik yang panas, yang makin meningkatkan pertentangan-pertentangan saja.
Persatuan dan kesatuan bangsa masih tetap merupakan syarat mutlak bagi kehidupan nasional kita, masih tetap merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan serta pembangunan dalam bidang materiil atau idiil apapun.
Lihatlah ke belakang! Tidakkah pada masa yang lampau, yaitu sebelum kita merdeka maupun sesudah kita merdeka, fakta-fakta menunjukkan dengan jelas bahwa perpecahan hanyalah membawa kita pada keruntuhan semata?
Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca benggalanya daripada masa yang akan datang.
Hasil-hasil positif yang sudah dicapai di masa yang lampau jangan dibuang begitu saja. Membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau tidak mungkin. Sebab, kemajuan yang kita miliki sekarang ini adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan di masa yang lampau, yaitu hasil-hasil macam-macam perjuangan dari generasi nenek moyang kita sampai kepada generasi yang sekarang ini. Sekali lagi saya ulangi kalimat ini, membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau, hal itu tidak mungkin, sebab kemajuan yang kita miliki sekarang ini adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan-perjuangan di masa yang lampau.
Seorang pemimpin yaitu Abraham Lincoln berkata, one cannot escape history, orang tak dapat melepaskan diri dari sejarah. Saya pun berkata demikian. Tetapi saya tambah, bukan saja one cannot escape history, tetapi saya tambah, never leave history, janganlah sekali-kali meninggalkan sejarah! Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! Jangan meninggalkan sejarahmu yang sudah, hai bangsaku, karena jika engkau meninggalkan sejarahmu yang sudah, engkau akan berdiri di atas vacuum, engkau akan berdiri di atas kekosongan, dan lantas engkau menjadi bingung, dan perjuanganmu paling-paling hanya akan berupa amuk, amuk belaka! Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap.
Dalam pidatoku pada 17 Agustus 1953 telah kunyatakan bahwa kita semua tanpa perkecualian tidak dapat melepaskan diri dari sejarah-sejarah yang dalam abad ke-20 ini makin nyata dan makin tampak menunjukkan coraknya dan arahnya. Kita bangsa Indonesia di waktu yang lampau telah benar-benar ikut berjalan dalam corak dan arahnya sejarah itu, tetapi akhirnya kita datang kepada tempat yang sekarang ini. Tetapi sejarah tidak berhenti, sejarah tidak pernah berhenti, sejarah selalu berjalan terus – dan kita hendak berhenti, kita hendak mengingkari sejarah kita yang lampau, kita hendak putar haluan? Mari kita berjalan terus dengan sejarah itu, dan jangan berhenti, sebab siapa yang berhenti toh akan diseret oleh sejarah itu sendiri sama sekali.
Dengan berpegang terus kepada sejarah itu, maka dengan kekuatan baru, dengan selalu bertambah semangat baru, dengan selalu bertambah mantap dan kokoh keyakinan, bertambah cerah harapan-harapan baru, mari kita menggembleng terus persatuan dan kesatuan untuk perjuangan kita selanjutnya. Dan pada waktu sekarang ini juga untuk menyelesaikan Dwi Dharma dan Catur Karya-nya pemerintah, yang baru saja telah saya bentuk bersama-sama Jenderal Soeharto sesuai dengan perintah MPRS dalam Ketetapannya No XIII/1966.
Ya, masih bertumpuk-tumpuk tugas-tugas yang terletak di hadapan kita. Menggunung pekerjaan yang harus kita selesaikan. Tidak mungkin tugas-tugas itu diselesaikan oleh pemerintah sendiri tanpa ikutsertanya secara aktif membantu dari seluruh kalangan rakyat, dari semua suku, dari semua golongan, dari semua corak partai, dari semua isme yang ada.
Pelaksanaan program stabilisasi politik dan stabilisasi ekonomi yang telah diperinci menjadi 4 program – a. Memperbaiki peri-penghidupan rakyat, terutama di bidang sandang-pangan; b. Melaksanakan Pemilihan Umum selambat-lambatnya pada tanggal 5 Juli 1968; c. Melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif untuk kepentingan nasional; d. Melanjutkan perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, – adalah merupakan tantangan bagi pembantingantulang daripada seluruh rakyat kita di bawah pimpinan Kabinet Ampera sekarang ini, dan entah kabinet apa yang kemudian. Sekali lagi, berhasil dan tidaknya pelaksanaan empat program itu bukanlah semata-mata merupakan tantangan terhadap kepada pemerintah saja, tetapi pada hakekatnya adalah merupakan tantangan bagi seluruh rakyat kita yang berjuang dari Sabang sampai Merauke.
Dengan selalu secara konsekuen menumbuhkan dan mengembangkan jiwa Pancasila dan jiwa revolusi besar kita, rakyat Indonesia harus menjadi rakyat yang kuat, rakyat yang besar, untuk dapat melaksanakan darma baktinya kepada Ibu Pertiwi dan seluruh umat insani. Darstellung daripada kita punya deepest-inner-self dalam Dwi Tunggal Proklamasi dan Deklarasi adalah kongruen dengan kesadaran sosialnya insani di seluruh muka bumi. Kongruen dengan social conscience of man, demikian kataku berulang-ulang. Oleh sebab itu, segala usaha, segala gerak-gerik perjuangan kita untuk melaksanakan tuntutan hati dan jeritan jiwa kita itu, pasti selalu berkumandang di antero muka bumi.
Untuk melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945 secara konsekuen, kita akan segera menyempurnakan susunan lembaga-lembaga negara kita menjelang terlaksananya Pemilihan Umum. Dan berdasarkan Ketetapan-ketetapan MPRS hasil Sidang Umum ke-4 yang baru lalu, kita akan melangkah maju dalam menyesuaikan dan menyempurnakan hidup kehukuman kita, serta mengatur pembagian wewenang serta tempat kedudukan lembaga-lembaga negara kita secara konstitusional.
Dengan Keputusan-keputusan MPRS di bidang ekubang, kita akan meletakkan dasar-dasar pokok untuk menguatkan hidup sosial ekonomi kita. Bahwa tuntutan akan kesejahteraan, kebahagiaan, hidup layak, hidup enak adalah tuntutan insani yang universal, itu adalah jelas! Apalagi buat bangsa kita yang berabad-abad lamanya, terutama sekali di bawah pemerintahan kolonial, selalu menderita itu. Maka juga pemerintah kita dan rakyat Indonesia harus bertekad memeras keringat dan memutar otak untuk menggali dan mengolah kekayaan-kekayaan nasional kita guna memenuhi keperluan dan tuntutan sendiri, di samping akan disumbangkan pula hasilnya kepada seluruh umat manusia di muka bumi.
Dengan tetap berpegang teguh dan tidak boleh melepaskan kepada mahkota kemerdekaan kita yang berwujud prinsip Berdikari, kita mengusahakan dan mencari kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan dengan kawan-kawan di seluruh dunia – terutama sekali kawan-kawan bangsa seperjuangan – untuk memper-kembangkan dan memajukan kehidupan sosial ekonomi kita. Hendaknya kita selalu ingat bahwa prinsip Berdikari menolak kebijaksanaan minta-minta, menolak kebijaksanaan mengemis, apalagi mengemis kepada musuh yang hanya akan merendahkan martabat dan harkat kebangsaan kita sebagai rakyat yang merdeka! Ya! Go to hell adalah tetap semboyan kita menghadapi tantangan tindakan-tindakan kaum monopoli dunia dengan taktik-taktiknya yang kotor, misalnya menjatuhkan harga daripada beberapa produk ekspor kita di pasaran dunia.
Dalam usaha pemerintah untuk segera dapat memenuhi kebutuhan pokok sandang-pangan kita, kita akan menggerakkan dan memperkembangkan terutama usaha produksi sendiri. Di samping itu kita juga akan mengusahakan tambahan-tambahan dari luar, manakala produksi sendiri itu belum mencukupi. Memperbesar dan memperkembangkan produksi dalam negeri itulah dasar dan sumber kemakmuran yang harus kita wujudkan. Sebab, memang usaha memperbesar produksi sendiri itulah kunci, kunci untuk menyehatkan perekonomian kita memberantas inflasi. Dalam usaha untuk segera dapat meringankan beban hidup kita sehari-hari, kita harus memusatkan segala perhatian dan segala kemampuan pemerintah serta rakyat kepada sektor-sektor usaha pangan dan sandang, dengan antara lain usaha-usaha penertiban dan pengaturan kembali serta rehabilitasi infrastruktur kita, yang di waktu-waktu belakangan ini kadang-kadang malah kita rusak sendiri.
Simultan, serentak bersama-sama, simultan dengan usaha-usaha kita untuk memenuhi kebutuhan material itu, pemerintah dan rakyat kita akan bertekad untuk memenuhi tuntutan Pemilihan Umum dalam jangka waktu 2 tahun yang akan datang. Berulang-ulang kali saya sendiri tandaskan bahwa Pemilihan Umum ini harus kita adakan secepat mungkin, karena justru Pemilihan Umum itulah alat demokrasi satu-satunya untuk mengetahui kehendak rakyat, untuk mengetahui hati nurani rakyat, untuk menjernihkan dan memurnikan tuntutan-tuntutan yang dicetuskan "atas nama rakyat", dan untuk menyempurnakan lembaga-lembaga negara kita yang sekarang.
Dalam pada itu pagi-pagi saya telah mengeluarkan peringatan kepada bangsa dan rakyat akan bahaya gontok-gontokan dan jegal-jegalan dalam menyelenggarakan Pemilihan Umum.
Dalam segala hal, dalam segala situasi yang bagaimanapun juga, peliharalah dan pegang teguhlah prinsip perjuangan kita: persatuan dan kesatuan bangsa. Menjelang dan dalam Pemilihan Umum, janganlah kita lupa daratan! Jangan kita sengit-sengitan! Jangan kita fitnah-fitnahan! Jangan kita jegal-jegalan! Jangan kita gontok-gontokan! Musuh revolusi selalu menghendaki ini, musuh dari luar, ya musuh dari dalam juga.
Memandang perkembangan dunia internasional dewasa ini dengan jiwa Proklamasi dan Deklarasi Kemerdekaan, mau tidak mau kita harus merasa sedih dan cemas melihat meningkatnya kebiadaban imperialisme terhadap rakyat-rakyat dan negara-negara yang menjadi korban kebuasannya atau hendak dijadikan korban kebuasannya. Misalnya di benua Afrika. Misalnya di benua Arab. Misalnya di Vietnam.
Oo, Vietnam! Betapa buasnya imperialisme di Vietnam itu! Dengan hak apa imperialis berbuat demikian di Vietnam itu? Dengan hak apa mereka membunuh, membakar, mengebom, meracun, membinasakan segala apa yang kumelip di beberapa daerah di sana itu? Dan jika dunia tidak waspada, jika bangsa-bangsa yang cinta damai tidak bersatupadu bertindak menentang kejahatan di sana itu, maka pastilah dunia nanti mengalami bencana yang lebih luas dan lebih ngeri lagi. Mungkin dunia akan mengalami perang atom antar-benua. Bulu romaku berdiri jikalau aku membayangkan malapetaka yang demikian itu – malapetaka tabula rasa kiamat untuk seluruh kemanusiaan. Apakah ini artinya kata-kata Injiliah; Beware, beware, after us the fire? Awas, sesudah kami akan datangkan api!
Beware, after us the fire!! Apakah ini arti perkataan Injiliah itu? Apakah ini yang dinamakan perang armageddon?
Apa gunanya Proklamasi, apa gunanya Deklarasi Kemerdekaan, apa gunanya kata-kata indah dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar kalau kita tinggal bungkam terhadap kebiadaban di Vietnam itu? Apa gunanya Mukadimah Undang-Undang Dasar atau Deklarasi Kemerdekaan kalau kita tidak tanpa tedeng aling-aling memprotes, ya lebih dari memprotes, mengutuk perang Amerika di Vietnam itu?
Apalagi perang Vietnam mempengaruhi dan melemparkan akibatnya secara langsung kepada sendi-sendi tata keamanan di seluruh Asia Tenggara, dan dengan sendirinya dus juga berpengaruh kepada keamanan di Indonesia sendiri.
Saya dengan hati bersih berseru kepada Amerika:
Amerika, keluarlah dari Vietnam!
Please America, please get out of Vietnam!
Tuan tidak akan bisa menyelesaikan soal Vietnam dengan cara yang Tuan jalankan itu. Tuan nanti yang akan babak bundas! Tuan nanti yang akan babak belur. Tuan nanti yang akan bertanggungjawab atas malapetaka dunia yang dahsyat. Kembalilah kepada Persetujuan Geneva! Atau, pakailah Soekarno-Macapagal Doctrine; Asian problems to be solved by Asian themselves, the Asia way. Soal-soal Asia dipecahkan oleh bangsa-bangsa Asia sendiri, dengan cara-cara Asia sendiri. Indonesia di sini menawarkan dirinya, menawarkan dirinya dengan jujur dan ikhlas, kalau diminta, untuk ikut menyelesaikan persoalan Vietnam itu atas dasar Soekarno-Macapagal Doctrine.
Dalam rangka mempertahankan keamanan di Asia Tenggara itu, maka perjuangan kita melawan kolonialisme dan neokolonialisme, – sesudah Irian Barat masuk kembali ke dalam kekuasaan Republik – telah mencapai puncaknya lagi seperti dikenal di dunia dalam wujud konfrontasi dengan Malaysia.
Tiga tahun kita menjalani konfontasi. Tiga tahun perjuangan yang gigih. Tiga tahun aku dimaki-maki oleh musuh dan oleh setengah orang dalam negeri sendiri. Dikatakan aku suka kepada permusuhan. Padahal Deklarasi Kemerdekaan kita sendiri mengatakan bahwa kita harus menghapuskan (dus harus berjuang menentang) kolonialisme. Padahal MPRS sendiri memerintahkan kita melanjutkan perjuangan anti imperialisme "dalam segala bentuk dan manifestasinya". Padahal Konferensi Asia Afrika sendiri menghendaki kita menentang imperialisme "in all its forms and manifestations". Dan tidakkah Malaysia satu British Neo-Colonialist project? Dus salah satu "bentuk dan manifestasi" kolonialisme, satu "form and manifestation" daripada si trouble maker, si tukang rewel – si war-monger! Tetapi syukur alhamdulillah, menjelang Hari Ulang Tahun Republik ke-21 ini telah dicapai persetujuan dengan Kuala Lumpur untuk menandatangani Persetujuan Bangkok yang disempurnakan. Saya berkata, alhamdulillah menjelang Hari Ulang Tahun Republik ke-21 ini telah dicapai persetujuan dengan Kuala Lumpur untuk menandatangani persetujuan Bangkok yang disempurnakan, yang akan menjadi sarana untuk mengakhiri konfrontasi secara damai atas dasar Manila Agreement.
Saudara-saudara,
Perhatikan kataku tadi;
Persetujuan Bangkok yang disempurnakan!
Sekali lagi, Persetujuan Bangkok yang disempumakan.
Apa itu yang disempurnakan?
Terus terang saja beginilah.
Bangkok yang pertama, dengarkan, Bangkok yang pertama – Bangkok hasil pembicaraan Saudara Adam Malik dengan Tun Abdul Razak tempohari – Bangkok yang pertama itu saya tidak mau terima. Dan Kogam pun tidak mau terima. Bangkok yang pertama itu masih berisi hal-hal yang bisa menjebloskan Republik. Waktu itu, dus pada waktu orang dengan gembira berkata, konfrontasi akan berakhir! Hure, perdamaian dengan Malaysia akan datang! Pada waktu itu saya dan Kogam berkata, tidak, konfrontasi berjalan terus! Geger dan gempar pada waktu itu orang-orang yang tidak mengerti! Dalam pada itu, karena kita memang lebih senang kepada penyelesaian secara damai, saya tugaskan kepada Saudara Jenderal Soeharto untuk mengadakan kontak dengan pihak Kuala Lumpur, mencari penyelesaian damai atas dasar Manila Agreement – salah satunya dasar yang bisa kita pakai untuk penyelesaian damai itu.
Jenderal Soeharto mulai bekerja. Setapak demi setapak ia mencapai hasil, sehingga ia sebagai duta perundingan, yaitu sebagai peace negotiator, berkata "optimis" dan "bahwa tidak lama lagi penyelesaian secara damai akan tercapai"
Datanglah petir halilintar yang menyambar. Kok Soekarno pada waktu itu mencak-mencak!
Dunia gempar, kok dalam merantaknya fajar perdamaian antara Malaysia dan Indonesia itu Presiden Soekarno masih berkata, konfrontasi berjalan terus! Saya malah tambah dicap lagi, dicap lagi sebagai si gila perang. Saya dinamakan oleh surat kabar imperialis "lalat di dalam salep", the fly in the ointment. Satu surat kabar di Bangkok malah menyebut saya the angry old man – "itu orang tua bangka yang marah-marah".
Ha-ha, bagaimana sih duduknya perkara? Lha ini barangkali Saudara-saudara ingin tahu.
Duduknya perkara adalah begini. Saya memerintahkan Jenderal Soeharto mencari penyelesaian secara damai atas dasar Manila Agreement. Jenderal Soeharto mulai bekerja. Dan tadi saya berkata, setapak demi setapak mencapai hasil. Tapi dari laporan-laporan yang saya terima, dari beliau juga, ternyata bahwa pihak Kuala Lumpur pada perundingan itu alot sekali menerima usul-usul kita untuk memenuhi Manila Agreement itu, alot sekali menerima usul-usul dari pihak kita sesuai dengan Manila Agreement itu. Kumaha ieu, bagaimana ini?