Part 5
Hari ini adalah hari memperingati Proklamasi. Pantas kita bangga atas Proklamasi itu. Pantas kita merasa mongkok kitapunya hati kalau ingat kepada 17 Agustus 1945 oleh karena kita pada hari itu menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa kita bukan bangsa budak yang berjiwa tempe yang mau terus ditindas dan dihisap beratus-ratus tahun, melainkan bangsa jantan yang berjiwa banténg. Pantas kita bangga atas Proklamasi itu, karena kita telah menjadi pengambil inisiatif (initiatiefnemer) daripada pernyataan-pernyataan kemerdekaan di lain-lain negeri di Asia, seperti di India, di Pakistan, di Burma, di Vietnam, di Philipina dan lain-lain, yang semuanya menyatakan kemerdekaannya sesudah Proklamasi kitn itu.
Namun demikian, janganlah sekali-kali kita hanya bangga saja, janganlah sekali-kali kita hanya mengagul-agulkan kejantanan kita saja! Sepertinya juga dengan halnya konferensi Asia-Afrika lima tahun yang lalu. Benar kita salah-satu initiatiefnemer dari konferensi itu, benar kita motor daripada Konferensi itu, benar Konferensi itu diadakan di kota Bandung kota Indonesia, tetapi jangan sekali-kali kita selalu menonjol-nonjolkan "Bandung" itu seolah-olah kita ingin melanggengkan jasa. Tidak! Kita bangsa Indonesia, kita pemimpin-pemimpin Indonesia, tidak boleh berhenti, tidak boleh duduk diam bersenyum-simpul di atas damparnya kemasyhuran dan damparnya jasa-jasa di masa yang lampau. Kita tidak boleh "teren op oud roem", tidak boleh hidup dari kemasyhuran yang liwat, oleh karena jika kita "teren op oud roem", kita nanti akan menjadi satu bangsa yang "ngglenggem", satu bangsa yang gila-kemuktian, satu bangsa yang berkarat.
Janganlah kita "ngglenggem" atas kemasyhurannya Proklamasi '45! Dinamikanya Revolusi menuntut, bahwa kemasyhuran dan jasa-jasa yang lampau itu hanyalah merupakan pancatan-pancatan pertama saja dan batu-loncatan-batu-loncatan-pertama saja daripada jasa-jasa dan kemusyhuran-kemasyhuran yang baru. Jasa-jasa baru itu kita butuhkan demi kemajuan nasional, demi progresnya Revolusi, tetapi juga untuk menambah kepercayaan kepada diri sendiri. Selanjutnya terserahlah kepada Sejarah nanti, menonjolkan atau tidak, jasa-jasa atau kemasyhuran-kemasyhuran itu!
Terus-terang saja, saya persoonlijkpun berfalsafah demikian! Siang dan malam kegandrungan saya hanyalah ingin mengabdi kepada Tuhan, mengabdi kepada tanah-air dan bangsa, menyumbang kepada Revolusi, menyumbang kepada pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat. Dicacimaki musuh saya tidak ambil perduli, diagul-agulkan kawan saya tidak membusungkan dada. Saya berjalan terus dengan tenang jika diserang musuh dari kiri dan dari kanan, saya berjalan terus tanpa meminta sanjungan kawan. Saya menolak orang spesial membuat biografi (riwayat-hidup) dari saya, saya menolak orang membuat patung Sukarno atau monumen Sukarno.
Oleh tindakan-tindakan saya di waktu yang akhir-akhir ini, ada orang yang mengatakan bahwa saya telah melakukan satu "coup d'état". Apakah benar saya melakukan "coup d'état"? Ambui, saya dikatakan melakukan "coup d'état"! Siapa orang-orang yang mengatakan demikian itu? Orang-orang yang mengatakan saya melakukan "coup d'état" itu adalah orang-orang yang menentang Konsepsi Presiden dan menentang Manifesto Politik, atau dalam kata-kata "menerima" Manifesto Politik itu, tetapi dalam perbuatannya menentang. Orang-orang yang demikian itu sekadar berlagak!, – berlagak revolusioner, dan berlagak membela demokrasi. Mereka berlagak revolusioner, karena mereka hanya menyebut kata "Revolusi", tetapi menentang Revolusi-Komplit yang kita lakukan, yaitu Revolusi penuh dari atas dan dari bawah, sebagai yang kita lakukan sekarang ini. Dari atas, dengan adanya retooling terhadap aparat dan sistim; dari bawah, karena retooling aparat dan sistim itu dilakukan sesuai dengan desakan Rakyat dan didukung pula oleh Rakyat. Kalau hanya dari atas saja, maka itu bukan revolusinya massa, dus bukan Revolusi; kalau hanya dari bawah saja, maka itu adalah semacam rebelli.
Mereka berlagak membela demokrasi, oleh karena yang mereka bela itu sebenarnya adalah bukan … demokrasi, melainkan sistim liberalisme semata-mata. Mereka berlagak membela demokrasi, oleh karena sebagai yang saya katakan di Tokyo tempohari, justru di kalangan mereka itulah banyak simpatisan-simpatisan dan makelar-makelar-gelap daripada D.I.-T.I.I., P.R.R.I.-Permesta, yang malahan selalu mendurhakai demokrasi, dan selalu mencoba untuk mengadakan "coup d'état" dengan kekerasan senjata. Mereka berlagak membela demokrasi, oleh karena mereka tak pernah dengan terang-terangan menghukum atau mengutuk perbuatan-perbuatan itu yang menyalahi demokrasi.
Dan sekarang mereka mengatakan bahwa saya melakukan coup d'état"? Mereka, yang selalu hendak mencoba mengadakan coup d'état? Mereka, yang selalu menghambat dan merem Revolusi? Mereka, yang berkata bahwa Revolusi sudah selesai, dus tidak boleh ada Revolusi lagi? Saya kok ingat kepada cerita pencuri yang berteriak "maling! Maling! Bangunlah, ada maling!" Alangkah bedanya dengan mereka itu pendapat Mahkamah Agung Republik Indonesia, yang misalnya berkata bahwa Penpres No. 7/1959 (mengenai kepartaian) adalah syah karena "dalam keadaan yang bersifat memaksa ini, maka Kepala Negara berwenang mengambil tindakan yang menyimpang dari segala peraturan yang ada, termasuk juga Undang-Undang Dasar".
Sekali lagi saya bertanya: siapa yang melakukan coup d'état, – sayakah, atau mereka? Sejarah akan menjawab, bahkan Rakyat sekarang telah menjawab, bahwa saya tidak melakukan coup d'état dengan tindakan-tindakan saya yang akhir-akhir ini. Sejarah dan Rakyat itu akan menjawab, bahwa saya bersama dengan kawan-kawan revolusioner malahan telah melakukan penyelamatan daripada Negara, penyelamatan daripada Revolusi. Zonder tindakan-tindakan kami-bersama itu, zonder pembasmian free-fight-liberalism, zonder mengadakan demokrasi terpimpin, zonder pembubaran Konstituante, zonder dekrit 5 Juli 1959 untuk kembali kepada U.U.D, '45, zonder pembubaran D.P.R.-liberal, zonder pembentukan D.P.R.G.R., zonder Manifesto Politik dan USDEK, zonder Pen. Pres. No, 7 yang menyederhana-kan kepartaian, zonder penggempuran habis-habisan kepada kaum pemberontak serta makelar-makelar-gelapnya kaum pemberontak, maka Negara kita sudah lama akan pecah, sudah lama akan berantakan, sudah lama Revolusi akan kandas, Apa yang kami-bersama telah perbuat, bukanlah perebutan kekuasaan, bukanlah coup d'état, melainkan penyelamatan Negara dan penyelamatan Revolusi: Apa yang kami bersama telah perbuat bukanlah coup d'état, melainkan sauvetage d'état, sauvetage de la Revolution!
Saya ulangi lagi: Insya Allah saya berjalan terus. Insya Allah kita-semua berjalan terus tanpa membusungkan dada atas jasa-jasa yang lalu, sekadar sebagai memenuhi kewajiban kita dalam Revolusi, meratakan jalan bagi lanjutnya Revolusi itu, meratakan jalan dan ikut menarik Kereta, agar supaya Kereta itu akhirnya mencapai apa yang menjadi tujuan Revolusi dan kewajiban Revolusi, yaitu (saya mengambil perincian Dewan Pertimbangan Agung):
"Membentuk satu Republik Kesatuan yang demokratis, di mana Irian Barat juga termasuk di dalamnya, di mana Kedaulatan ada di tangan Rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, di mana hak-hak-azasi dan hak-hak-warganegara dijunjung tinggi, dan membentuk masyarakat adil dan makmur, cinta damai, dan bersahabat dengan semua negara di dunia, guna membentuk satu Dunia yang Baru".
Ya!, Saudara-saudara!, panjanglah definisi daripada tujuan dan kewajiban Revolusi kita itu! Revolusi kita memang bukan Revolusi témpé! Revolusi kita, demikian kataku di muka, adalah Revolusi Besar yang lebih Besar daripada revolusi-revolusi lain di lain negeri. Dasar dan jiwanyapun lebih besar daripada dasar dan jiwa revolusi di lain-lain negeri itu. Pancasila adalah lebih memenuhi kebutuhan manusia dan lebih menyelamatkan manusia, daripada Declaration of Independencenya Amerika, atau Manifesto Komunis. Pancasila adalah satu "pengangkatan ke taraf yang lebih tinggi", satu "hogere optrekking", daripada Declaration of Independence dan Manifesto Komunis.
Apa yang ditulis dalam Declaration of Independence, dan apa yang ditulis dalam Manifesto Komunis? Declaration of Independence menuntut "life, liberty, and the pursuit of happiness", yaitu “hak hidup, hak kebebasan, dan hak mengejar kebahagiaan" bagi semua manusia, padahal pursuit of happiness (pengejaran kebahagiaan) belum berarti reality of happiness (kenyataan kebahagiaan), – dan Manifesto Komunis menulis, bahwa jikalau kaum proletar di seluruh dunia bersatu-padu dan menghancurkan kapitalisme, mereka "tak akan kehilangan barang lain daripada rantai-belenggunya sendiri", dan "sebaliknya akan memperoleh satu dunia yang baru".
Kita bangsa Indonesia melihat apa yang terjadi di bawah kolong langit ini dengan Declaration of Independence saja, atau Manifesto Komunis saja. Kita bangsa Indonesia melihat bahwa Declaration of Independence itu tidak mengandung keadilan sosial atas sosialisme, dan kita melihat bahwa Manifesto Komunis itu masih harus disublimir (dipertinggi jiwanya) dengan Ketuhanan Yang Maha-Esa. Duaratus tahun yang lalu, hampir, Declaration of Independence itu dicetuskan oleh penanya Thomas Jefferson, seratus tahun yang lalu, hampir, Manifesto Komunis dicetuskan oleh genialitasnya Karl Marx dan Friedrich Engels. Kedua-duanya adalah umat progresif bagi zamannya masing-masing. Kedua-duanya adalah amat berharga bagi pembebasan nasional di zaman itu, atau pembebasan proletar di zaman itu. Tetapi kita sekarang sudah berada di bagian kedua dari abad ke-XX. Dengan Declaration of Independence saja dan Manifesto Komunis saja, maka kenyataannya sekarang ialah, bahwa dunia-manusia sekarang ini terpecah-belah menjadi dua blok yang hintai-menghintai satu-samalain, “lir angkasa kang hangemu dahana", sebagai juga digambarkan oleh Bertrand Russell tempo hari.
Karena itulah, maka kita bangsa Indonesia merasa bangga mempunyai Pancasila, dan menganjurkan Pancasila itu pada semua bangsa. Pancasila adalah satu dasar yang universil, satu dasar yang dapat dipakai oleh semua bangsa, satu dasar yang dapat menjamin kesejahteraan-dunia, perdamaian-dunia, persaudaraan-dunia. Pancasila, tidak salah lagi, adalah satu hogere optrekking daripada Declaration of Independence dan Manifesto Komunis. Dan Manifesto Politik Republik Indonesia dan USDEK adalah refleksi daripada Pancasila itu, sehingga benarlah konklusi Dewan Pertimbangan Agung, bahwa Revolusi Indonesia "bukanlah Revolusi borjuis model tahun 1789 di Perancis, dan bukan pula Revolusi proletar model tahun 1917 di Rusia". Revolusi Indonesia adalah satu Revolusi yang dasar dan tujuannya "kongruèn dengan Social Conscience of Man", kongruèn dengan Budi Nurani Manusia, sebagai kukatakan setahun yang lalu.
Dan kamu, hai bangsa Indonesia yang sedang dalam Revolusi, kamu yang sedang bekerja keras dan membanting-tulang dibèngkèl-bèngkèl dan diladang-ladang, kamu yang sedang bertempur dan menderita segala kekurangan, kamu yang sedang ditinggalkan suami atau kehilangan suami, kamu hai bangsa Indonesia tua-muda laki-perempuan dari Sabang sampai Merauke, tidakkah kamu – kendati segala kesulitan dan penderitaan itu – merasa hatimu mongkok bahwa Revolusimu adalah mengambil inspirasinya dari Pancasila, bahkan mendasarkan diri kepada Pancasila itu, sehingga sebagai kukatakan tadi Revolusimu itu adalah lebih besar dan lebih luas dan lebih benar daripada revolusi-revolusi bangsa lain, Revolusi Manusia, Revolusi Sejati, yang hendak mendatangkan satu Dunia Baru yang benar-benar berisikan kebahagiaan jasmaniah dan rokhaniah dan Tuhaniah bagi Umat Indonesia, bahkan juga bagi Umat Manusia di seluruh muka bumi?
Sekarang Revolusi kita sudah 15 tahun usianya. Banyak kesalahan-kesalahan yang kita lakukan, banyak penyeléwéngan dan pendurhakaan yang kita derita, tetapi koreksipun kemudian kita adakan. Banyak jasa-jasa yang telah kita kerjakan, dan program Revolusipun kini terpapar dalam Manifesto Politik dan USDEK, tetapi jasa-jasa itu sebagai kukatakan tadi adalah sekadar batu-loncatan saja kepada jasa-jasa yang masih harus berdentam-dentam kita usulkan. Atau hendakkah kamu menjadi bangsa yang "ngglenggem?" Bangsa yang tidak bergerak, tetapi adem-anteng ”teren op oud roem?" Bangsa yang zelfgenoegzaam? Bangsa yang anglér memetèti burung perkutut dan minum tèh nasgitel? Bangsa yang demikian itu pasti nanti hancur lebur terhimpit dalam desak-mendesaknya bangsa-bangsa lain yang berebut-rebutan hidup!, – "verpletterd in het gedrang van mensen en volken, die vechten om het bestaan", sebagai yang dikatakan oleh pemuda-pemuda kita 40 tahun yang lalu.
Ya!, kalau mau hancur lebur, buat apa mengadakan Proklamasi! Kalau mau hancur lebur, buat apa mengadakan Revolusi! Kalau mau hancur lebur, buat apa tidak tunduk saja kepada D.I.-T.I.I., dan kepada P.R.R.I. dan Permesta! Kalau mau hancur lebur, buat apa tidak nurut saja kepada kehendaknya makelar-gelap-makelar-gelap dari mereka itu, yang mau meneruskan sistim bejat liberalisme etc. etc. dalam Negara kita ini?
Saudara-saudara menjawab: "Tidak! Kita tidak mau hancur lebur! Malah kita mau dengan cepat melaksanakan USDEK!"
Benar!, Saudara-saudara, benar! Tetapi Saudara-saudara tahu siapa tidak mau hancur lebur, harus berjoang mati-matian, atau harus membanting-tulang habis-habisan! Karena itu, janganlah setengah-setengah, berjoang membanting-tulanglah seperti "bukan manusia lagi" kata Mazzini, – berjoanglah mati-matian dan membanting-tulanglah habis-habisan seolah-olah kita ini malaekat-malaekat yang menyerbu dari langit!
Bahagialah Dr. Cipto Mangunkusumo dan Dr. Setiabudi, pejoang-pejoang kemerdekaan Indonesia yang sudah mangkat, yang pada waktu berjoangnya bersemboyan dan memesan:
"Serahkanlah jiwa-ragamu mutlak! Sekali lagi serahkanlah jiwa-ragamu mutlak! Sebab Tuhan benci kepada orang yang setengah-setengah!"
"Men moet zich geheel geven: geheel! De hemel verwerpt het gesjacher met meer of minder!"
Ya! Hayo!, marilah kita serahkan jiwa raga kita mutlak!
Moga-moga Tuhan meridhoi kita, karena kita tidak setengah-setengah!
Terima kasih!
Kategori:Pidato Soekarno