Part 4
Bagaimana hasil usaha kita dalam tahun yang lalu? Dalam satu tahun yang lalu, maka luas daerah yang dikuasai dahulunya oleh gerombolan-gerombolan, terutama di luar Jawa, telah banyak berkurang. Terutama sekali di Sumatera Utara, di Sumatera Tengah, di Kalimantan Selatan, di Sulawesi Selatan, dan di Sulawesi Utara. Jumlah gerombolan yang dieliminir (ditewaskan) dalam pertempuran-pertempuran adalah ± 11.000 orang, dan jumlah yang kembali ke pangkuan Republik adalah ± 18.000 orang. Kegiatan subversif mereka sebagian besar telah dipatahkan. Subversif "Manguni" telah dipatahkan, subversif "Kobra" telah digulung. Akan tetapi perlu tetap diingat, bahwa selama masih ada P.R.R.I., selama masih ada Permesta, selama masih ada D.I.-T.I.I., dan lain sebagainya, selama itu, akan masih tetap ada subversifnya dan perang-urat-sarafnya, untuk merusak kita dari dalam dan dari belakang.
Dengan hasil-hasil tersebut, saya mengucapkan penghargaan dan terimakasih kepada alat-alat-Negara, dan Rakyat yang telah ikut membantu usaha-usaha keamanan itu di berbagai bidang dan di berbagai daerah. Penghargaan dan terimakasih saya itu adalah sungguh-sungguh! Sebab saya mengetahui betapa banyaknya kesulitan-kesulitan yang telah diderita oleh alat-alat-Negara dan Rakyat: kesulitan-kesulitan yang berupa penderitaan pribadi yang pedih-pedih; kesulitan-kesulitan materiil-personil-finansiil; kesulitan-kesulitan keluarga yang terpisah berbulan-bulan; kesulitan-kesulitan perasramaan; kesulitan-kesulitan sosial; kesulitan-kesulitan kekurangan ini kekurangan itu sehari-hari dan seribu-satu kesulitan-kesulitan lagi. Bahkan prajurit-prajurit kita sejak saat Proklamasi limabelas tahun yang lalu sampai sekarang masih belum pernah mengenal istirahat yang sebenarnya sedikitpun, karena panggilan tugas yang terus-menerus dan tiada berhenti!
Namun, ya namun!, kita belum boleh puas dengan hasil-hasil yang telah tercapai. Kita masih perlu mengerahkan segenap urat-urat dan segenap otot-otot lagi, kita masih perlu lebih giat dan lebih hebat memaksimumkan semua usaha, agar dalam waktu dua tahun lagi Insya Allah tercapailah keamanan di seluruh wilayah Republik.
Ya! kita harus terus membantras pengacau-pengacau itu! Mereka sekarang melansir apa yang mereka menamakan "perdamaian nasional", sebagai yang dikemukakan oleh kaki-tangan-kaki-tangan mereka Sam Karundeng, Daniel Maukar, Sukanda Bratamenggala, dan lain-lain lagi. Saya tandaskan di sini sekali lagi dengan suara yang setandas-tandasnya, sesuai dengan isi Manifesto Politik bab keamanan:
Tiada kompromis dengan D.I.-T.I.I.!
Tiada kompromis dengan P.R.R.I.-Permesta!
Tiada kompromis dengan R.M.S.!
Terhadap yang tetap membangkang, akan kita teruskan operasi-operasi militer dan polisionil yang semakin hebat lagi!
Terhadap yang tetap membangkang, penggempuran akan berjalan terus!
Tetapi terhadap yang insyaf kembali, terhadap yang benar-benar menyerah tanpa syarat, terhadap yang ingin kembali ke pangkuan Republik dengan cara yang benar-benar ikhlas dan bukan untuk belakangan menggarong Republik lagi, terhadap mereka itu diadakan "politik pintu terbuka". Mereka akan diterima dengan baik, dan akan diperlakukan dengan wajar. Setiap jalan yang mempercapat keamanan dan mengurangi korban-korbun, harus kita pergunakan!
Saudara-saudara! Sekarang bagian ketiga daripada program Kabinet Kerja: Perjoangan Anti-imperialisme, perjoangan Irian Barat.
Perjoangan menentang imperialisme adalah salah satu jiwa pokok daripada Revolusi kita, dan malahan juga daripada pergerakan Nasional sebelum kita mengadakan Proklamasi. Salah satu unsur daripada Amanat Penderitaan Rakyat, – penderitaan yang telah berpuluh-puluh tahun, dan tidak hanya 15 tahun saja – salah satu unsur itu ialah justru mengnyahkan imperialisme dari seluruh wilayah tanah-air Indonesia. Maka sudah barang tentu, juga sesudah kita memiliki Republik ini, perjoangan di dalam negeri melawan imperialisme berjalan terus. Tetapi dalam hubungan kita dengan dunia luarpun perjoangan ini kita teruskan.
Dalam hubungan Republik dengan dunia luarpun, tetap kita memegang teguh kepada jiwa-pokok Revolusi, yaitu menghimpun segala kekuatan Nasional dan Internasional untuk menentang, dan akhirnya membasmi menyapu bersih imperialisme dan kolonialisme itu di manapun juga dan dalam bentuk apapun juga. Secara khusus kita meletakkan titikberat kepada perjoangan memerdekakan Irian Barat, karena di Irian Barat imperialisme-kolonialisme menancap di tubuh darah-daging kita sendiri.
Alhamdulillah, di luar negeri itu perjoangan ini berjalan sengit! Telah saya katakan sejak tahun yang lalu, bahwa ¾ umat manusia kini berada dalam Revolusi, antara lain Revolusi menentang penjajahan. Jiwa revolusioner merasa berhati-besar melihat Revolusi mondial itu. Jiwa revolusioner berhati-besar melihat perjoangan menentang penjajahan berhasil baik di beberapa negeri. Di Tunis, di Konakry, di Bukarest dan di Budapest saya tempohari dengan semangat mengatakan, bahwa Afrika kini adalah laksana kancah yang berkobar menyala-nyala, – bahwa "Africa is ablaze like a burning fire"! Mesiu telah meledak di sana, kena cetusan "Semangat Bandung"! Sekarang saya mengulangi lagi salam dan do'a selamat saya atas nama bangsa Indonesia kepada para pemimpin dan bangsa-bangsa Afrika yang baru saja hidup-kembali ke dalam alam Kemerdekaan. Salam-kemerdekaan dan salam revolusioner kepadamu, hai Saudara-saudara di Afrika! Salam hangat dan do'a selamat kepada Kamerun, kepada Togo, kepada Federasi Mali, kepada Konggo, kepada Somali, kepada Malagasi, kepada Pantai Gading! Dan saya yakin: tidak lama lagipun kepada bangsa-bangsa Afrika yang lain, yang juga pasti menang, pasti menang, dalam perjoangan kemerdekaannya. Dan saya yakin pula, bahwa seperti juga Bangsa Indonesia, dengan segala keteguhan, dengan segala ketabahan hati, dengan segala kebulatan tekad untuk meneruskan perjoangan mati-matian, Saudara-saudara kita di Afrika itu akhirnya akan dapat mematahkan segala rintangan, menghancur-leburkan segala halangan, baik dari dalam maupun dari luar. Berjoanglah terus, hai Saudara-saudara di Afrika, kemenanganmu pasti nanti datang! Kami di Indonesia sendiri masih mengalami berbagai kesulitan, tetapi secara sederhana kami bersedia memberi bantuan sedapat mungkin bilamana dibutuhkan. Saudara-saudara tidak berdiri sendiri dalam perjoangan Saudara-saudara menentang imperialisme dan kolonialisme! Kemenangan Saudara-saudara adalah kemenangan kami, kemenangan kami adalah kemenangan Saudara-saudara!
Dan bukan hanya untuk menghimpun segala kekuatan Nasional dan Internasional menentang imperialisme dan kolonialisme sajalah politik luar negeri kita itu. Politik luar negeri kita, juga kita tujukan kepada persahabatan dengan semua bangsa, sesuai dengan ajaran Pancasila. Ia kita tujukan kepada menyumbang kepada terwujudnya perdamaian dunia, sesuai pula dengan ajaran Pancasila. Ia, sebagai semua orang telah mengetahui, berwujud satu politik luar negeri yang di luar negeri orang manakan ”independent policy” atau ”policy of non-alignment”. Kadang-kadang orang di luar negeri menamakannya juga ”policy of neutralism”, – satu politik yang netral. Sebutan yang belakangan itu adalah sebutan yang salah dan melését, samasekali. Sebab kita tidak netral, kita tidak penonton-kosong daripada kejadian-kejadian di dunia ini, kita tidak tanpa prinsipe, kita tidak tanpa pendirian. Kita menjalankan politik bebas itu tidak sekadar secara ”cuci tangan”, tidak sekadar secara defensif, tidak sekadar secara apologetis. Kita aktif, kita berprinsipe, kita berpendirian! Prinsipe kita ialah terang Pancasila, pendirian kita ialah aktif menuju kepada perdamaian dan kesejahteraan dunia, aktif menuju kepada persahabatan segala bangsa, aktif menuju kepada lenyapnya exploitation de l’homme par l’homme, aktif menentang dan menghantam segala macam imperialisme dan kolonialisme di manapun ia berada.
Pendirian kita yang ”bebas dan aktif” itu, secara aktif pula setapak demi setapak harus dicerminkan dalam hubungan ekonomi dengan luar negeri, agar supaya tidak berat-sebelah ke Barat atau ke Timur. Manakala pada saat sekarang ini keberatsebelahan itu nampaknya masih ada, maka usaha kita ialah untuk menghilangkan keberatsebelahan itu. Hanya jikalau kita tidak berat-sebelah, maka kita benar-benar boleh menuliskan Pancasila di atas dada kita, dan kita dipercaya orang dalam usaha kita mendamaikan dunia. Hanya jikalau kita benar-benar tidak ”pilih kasih”, maka kita bisa menghindarkan yang tanah-air kita yang cantik-molek, kaya raya, strategis ini, dijadikan padang perebutan pengaruh politik internasionalm dijadikan arena perang-dingin dan mungkin arena perang-panas dari dunia luaran!
Sampai-sampai dalam hal memperjoangkan bebasnya Irian Barat-pun kita menjalankan Pancasila! Bertahun-tahun lamanya kita sesuai dengan Pancasila itu menjalankan politik "ajakan manis" kepada Belanda. Bertahun-tahun lamanya kita mencoba meyakinkan Belanda bahwa tuntutan kita adalah adil. Bertahun-tahun lamanya kita mencoba mempengaruhi public opinion di negeri Belanda, dan juga public opinion di dunia, untuk memberi desakan kepada Belanda. Sebenarnya sedari tadinya kita harus sudah mengerti bahwa politik "ajakan manis" itu niscaya tidak akan berhasil. Juga dalam pergerakan nasional kita dahulu, dalam mana pemimpin-pemimpin kita dua puluh tahun lamanya menjalankan politik mohon-mohonan, rekés-rekésan, yakin-yakinan, cooperatie-cooperatiean dengan Belanda, terbuktilah bahwa "politik ajakan manis" itu tidak diréwés. Baru sesudah kita mendengungkan politik non-cooperation, baru sesudah kita memformulir dengan tegas bahwa politik kita harus berupa "'machtsvorming dan machtsaanwending", baru sesudah kita menyemboyankan dengan cara yang menyundul-langit bahwa kita harus menuju kepada Indonesia Merdeka 100% lepas dari Belanda dengan menggerakkan revolusionnaire massa-actie yang tidak nyembah-nyembah dan tidak bercooperatie-cooperatiean dengan Belanda, baru sesudah pergerakan nasional kita itu benar-benar berdiri atas dasar belangentegenstellingen dan machtstegenstellingen dengan Belanda, – baru sesudah itulah matahari-kejayaan kita mulai menyingsing.
Dan juga pengalaman kita sesudah Proklamasi, antara 1945-1950, yaitu pengalaman kita dalam physical revolution, bahwa dengan fihak Belanda tak dapat dicapai kata-sepakat atas dasar "give and take", sebenarnyapun harus telah memberi pengajaran kepada kita bahwa kita harus menempuh jalan lain dalam usaha mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik. Tetapi tidak. "Jalan lain" itu tidak segera kita ambil! Penyakit tidak mempunyai konsepsi yang tepat dan tegas, juga merajalela di antara kita bertahun-tahun lagi mengenai persoalan Irian Barat ini, sebagaimana penyakit ini juga menjadi kanker dalam tubuh-fikiran kita bertahun-tahun sesudah physical revolution di bidang lain-lain.
Tetapi akhirnya, eindelijk, e-i-n-d-e-l-i-j-k, beberapa tahun yang lalu merantak-rantaklah fajar menyingsing dalam politik-Irian Barat kita itu. Eindelijk, beberapa tahun yang lalu kita merobah sifat perjoangan kita, dari "mengajak Belanda secara manis" untuk mengembalikan Irian Barat kepada kita, menjadi satu politik konfrontasi antara segala kekuatan nasional kita terhadap Belanda dalam mas'alah Irian Barat.
Saat itulah saat lahirnya istilah "jalan lain" dalam politik-Irian Barat kita. Saat itu saatnya kita menemukan-kembali kesadaran, bahwa perjoangan nasional adalah soal kekuatan, soal "machtsvorming en machtsaanwending", soal perjoangan, dan bukan soal pengemisan. Saat itu adalah saat "rediscovery of our struggle", yang kemudian disusul samasekali oleh "rediscovery of our Revolution". Ya!, kita sekarang tidak mau lagi meminta-minta berunding dengan Belanda mengenal Irian Barat, kita akan terus menjalankan politik "jalan lain" itu sampai Irian Barat masuk kembali ke dalam wilayah kekuasaan Republik. "Man bettelt nicht um ein Recht, um ein Recht kämpft Man!", – "Hak tak dapat diperoleh dengan mengemis, hak hanya dapat diperoleh dengan perjoangan!", – demikianlah ajaran yang kita dapat dari alam perjoangan.
Saya mengucap banyak terimakasih kepada Dewan Pertimbangan Agung, bahwa Dewan ini pada tanggal 21 Juli beberapa pekan yang lalu telah mengusulkan kepada Pemerintah tentang "Kebijaksanaan Politik Pembebasan Irian Barat". Usul Dewan Pertimbangan Agung itu amat berharga sekali, lebih-lebih lagi oleh karena usul Dewan Pertimbangan Agung pun berdiri di atas prinsipe konfrontasi segenap kekuatan Nasional kita terhadap fihak imperialis-kolonialis Belanda, konfrontasi antara nationale macht kita terhadap imperialistis-koloniale macht Belanda. Maka Pemerintah akan memberikan perhatian sepenuhnya kepada usul Dewan Pertimbangan Agung itu.
Di dalam pidato 17 Agustus tahun yang lalu saya berkata: "Khusus mengenai perjoangan Irian Barat, saya menyatakan di sini bahwa benar Pemerintah tidak akan memasukkan soal Irian Barat itu ke P.B.B. tahun ini. Tetapi ini tidak berarti bahwa Pemerintah kendor dalam perjoangannya mengenai Irian Barat. Tidak! Samasekali tidak! Sebaliknya! Pemerintah memperhebat perjoangan Irian Barat itu di lapangan lain daripada P.B.B. Pemerintah memperhebat perjoangannya itu di lapangan ekonomi. Pemerintah mengakui bahwa perjoangan Irian Barat harus dilakukan di segala lapangan, ya di dalam negeri ya di luar negeri, tetapi buat tahun ini Pemerintah mengkonsentrir perjoangannya melawan Belanda itu di lapangan ekonomi. Ingatlah kepada pemindahan pasar ke Bremen, Ingatlah kepada keputusan kita untuk tidak mengakui ada hak eigendom Belanda lagi (sekarang semua hak-hak agraris Belanda dihapuskan), ingatlah kepada ucapan saya bahwa jika Belanda tetap membandel dalam persoalan Irian Barat, maka akan habis-tamatlah samasekali riwayat semua modal Belanda di bumi Indonesia. Coba lihat nanti, fihak Belanda dan konco-konconya imperialis tentu akan gégér-marah oleh keputusan-keputusan kita ini, dan kegegeran mereka itupun harus dan akan kita layani di dunia Internasional. Pemerintah berpendapat lebih baik mengkonsentrir enersinya di luar negeri pada pelayanan kegégéran inilah, dan tidak memecah-mecah enersinya itu antara pelayanan kegégéran ini + perjoangan di P.B.B. Dan bagi P.B.B. sendiripun, sikap kita sekarang ini (untuk tidak memasukkan Irian Barat dalam acara P.B.B.), harus diberi arti yang langsung mengenai P.B.B. Saya harap P.B.B. dengan sikap kita sekarang ini mengerti, bagaimana perasaan kita terhadap P.B.B.!"
Demikian tahun yang lalu. Bagaimana tahun yang sekarang? Tahun yang sekarang, kita tetap mengambil "jalan lain" itu, malahan memperkuat, memperhebat, memperdahsyat "jalan lain" itu. Dewan Pertimbangan Agung sendiri dalam salah satu kalimat penjelasan usulnya itu menulis: (boleh saya ungkap sedikit): "Berdasarkan pengalaman-pengalamnn politik pembebasan Irian Barat dari Kabinet-Kabinet yang lalu, di samping kenyataan sikap kepalabatu kolonialis Belanda yang makin memperkuat pendudukan militernya di Irian Barat, dan berhubung dengan penemuan kembali Revolusi Indonesia pada garis U.U.D. '45, maka adalah satu keharusan, bahwa Kabinet Kerja melaksanakan politik pembebasan Irian Barat secara revolusioner menurut bahasa tersendiri Revolusi Nasional Indonesia".
Ya!, pengalaman-pengalaman Kabinet-kabinet yang lalu sudah jelas. Ya!, kolonialis Belanda makin bersikap kepalabatu! Ya!, Belanda malahan mengirim Karel Doorman ke Irian Barat. Tetapi juga ya!, kita sekarang sudah benar-benar menemu-kembali perjoangan kita dan menemu-kembali Revolusi! Karena itu, ya!, benar sekali anjuran Dewan Pertimbangan Agung supaya kita melaksanakan politik pembebasan Irian Barat secara Revolusioner, menurut bahasa tersendiri Revolusi Nasional Indonesia! Belanda makin berkepalabatu.
Belanda malahan mengirimkan Karel Doorman-nya. Satu negara rentenier kecil yang sebenarnya sudah jatuh seperti Nederland itu, yang masih bernafsu kolonialisme, sekarang mencoba mengirimkan deurwaardernya, yang bemama Karel Doorman!
Sekarang dengarkan Saudara-saudara! Dalam keadaan yang demikian itu, tidak ada gunanya lagi hubungan diplomatik dengan negeri Belanda. Tadi pagi telah saya perintahkan Departemen Luar Negeri memutuskan hubungan diplomatik dengan negeri Belanda.
Itu negatifnya! Positifnya kita mempertinggi kekuatan Nasional kita yang kita harus konfrontir dengan kekuatan imperialis Belanda itu. Sekali lagi dengan tegas saya katakan di sini, bahwa kekuatan Nasional itulah yang menentukan, kekuatan Nasional yang berupa satu totalitas daripada semua tenaga politik, ekonomis, sosial, sipil, militer dalam bangsa dan Negara yang dalam ketotalannya kita konfrontir dengan kekuatan imperialis Belanda! Sebab di dalam konfrontasi itulah nanti akan ternyata siapa yang kuat, siapa yang menang!
Dalam mempertinggi kekuatan Nasional itu, Front Nasional menduduki salah satu tempat yang penting. Dalam usul Dewan Pertimbangan Agung tadi itu antara lain diusulkan: (saya ungkapkan lagi sedikit): "menggalang persatuan rakyat revolusioner berupa Front Nasional anti imperialis di bawah pimpinan Bung Karno, sebagai landasan untuk membangkitkan aksi-aksi massa".
Dan di dalam Manifesto Politik tempohari saya berkata: "Ide Front Nasional sebenarnya keluar daripada prinsip Gotong Royong "Ho-lopis Kuntul-baris". Seluruh tenaga Rakyat harus digalang dan dijadikan satu gelombang-tenaga yang mahasyakti, menuju kepada terbangunnya satu masyarakat adil dan makmur, – menuju kepada penyelesaian Revolusi. Dan penggalangan itulah tugasnya Front Nasional. Menjadi Front Nasional itu adalah satu hal yang prinsipiil-fundamentil: sebab pembangunan semesta tak mungkin berhasil tanpa mobilisasi tenaga semesta pula. Revolusi tak mungkin berjalan penuh tanpa ikut-ber-Revolusinya seluruh Rakyat. Front Nasional nanti diadakan untuk menggalang seluruh tenaga daripada seluruh Rakyat. Ia harus menggalang seluruh kegotongroyongan Rakyat. Front Nasional itulah dus yang harus menggalang semangat dan tenaga latent dikalangan Rakyat, dijadikan satu gelombang "ke-ho-lopis-kuntul-barisan" untuk menyelesai-kan Revolusi".
Saya mengulangi bagian pidato Manifesto Politik yang mengenai penggalangan tenaga dan semangat massa Rakyat ini in extense (dengan lengkap), oleh karena masih banyak orang-orang dalam kalangan aparatur Negara, orang-orang kwalitas ndoro-ndoro dan juragan-juragan, wanita-wanita yang kwalitet dén-ajeng dén-ajeng dan dén-ayu dén-ayu -, yang tidak mengerti artinya tenaga massa dan semangat massa, bahkan menderita penyakit massa-phobi dan Rakyat-phobi, yaitu takut kepada massa dan takut kepada Rakyat. Jiwa ndoro dan jiwa dén-ayu itu harus kita cuci samasekali dan harus kita kikis samasekali, agar supaya Revolusi dapat berjalan benar-benar sebagai Revolusi Rakyat, dan oleh karenanya berjalan seefisien-efisiennya pula!
Sebagai di muka telah saya katakan, beberapa hari yang lalu sudah selesai saya bentuk pucuk pimpinan daripada Front Nasional itu. Tinggal sebentar lagi benar-benar kita menggerakkan Front Nasional itu: Ho-lopis-kuntul-baris!, – menuju pembangunan semesta, menuju pembebasan Irian Barat, menuju lenyapnya imperialisme dari bumi Indonesia, menuju kemerdekaan penuh, menuju sosialisme Indonesia, menuju pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakyat!
Saudara-saudara!
Lambat-laun datanglah saatnya saya harus mengakhiri pidato saya ini. Tetapi saya tidak mau mengakhirinya, sebelum saya menandaskan beberapa hal kepada Saudara-saudara.
Banyak telah kita kerjakan dalam tahun yang lalu. Kita telah meretool badan legislatif dan membentuk D.P.R.G.R. Kita sedang meretool dunia-kepartaian, dan telah memerintahkan pembubaran partai-partai yang anti-revolusioner. Kita telah mempersiapkan Landreform, salah satu bagian mutlak daripada Revolusi. Kita telah menyusun Majelis Permusyawaratan Rakyat. Kita telah menyusun pimpinannya Front Nasional. Kita telah memecahkan sedikit persoalan Sandang-Pangan. Kita telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda. Kita telah membasmi sebagian yang lumayan daripada gerombolan-gerombolan pengacau. Kita telah membangun Bank Pembangunan, sedang membangun Bank Koperasi, Tani dan Nelayan, sedang membangun Bank-bank Pembangunan Daerah. Kita telah mulai membangun beberapa industri-dasar, dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Pendek-kata: kita telah ini, kita telah itu! Tetapi sekali-kali janganlah menjadi puas karena kita telah-ini telah-itu. Banyak sekali hal-hal investment yang masih harus kita kerjakan. Misalnya belum semua warganegara bisa membaca dan menulis, meski jumlah yang melek-huruf sekarang sudah lebih dari 60%, padahal di masa penjajahan hanya 6%.
Dapatkah sosialisme diselenggarakan oleh bangsa yang buta-huruf? Saya komandokan sekarang, supaya buta-huruf itu habis samasekali pada akhir tahun 1964! Dan saya komandokan kepada semua sekolah-sekolah dan Universitas-universitas, supaya semua murid mahasiswa di-USDEK-kan dan di-Manipol-kan!
Sekali lagi saya tandaskan di sini, bahwa masih banyak sekali hal-hal investment yang masih harus kita kerjakan. Dan percayalah: bulan purnama masih beratus-ratus kali lagi harus bersinar, tahun masih harus berkali-kali lagi berganti tahun, sebelum kita boleh berkata bahwa sebagian besar karya investment telah kinarya. Masih lama lagi kita harus membanting-tulang, masih lama lagi kita harus memeras keringat, masih lama lagi kita harus berjoang habis-habisan, kalau perlu berjoang mati-matian. Apa yang sudah kita kerjakan itu barulah sekadar pucuk dari permulaan saja, sekadar "the beginning of the beginning", paling-paling "the end of the beginning"! Tetapi masih tetap the beginning, masih tetap permulaan! Ya tentu, kita bangga telah mempunyai Manifesto Politik.
Tetapi Manifesto Politik hanyalah satu Manifesto, satu pernyataan, satu Konsepsi, satu ideologi, – katakanlah satu pembakar semangat. Sebagai pembakar semangat ia boleh ditempatkan dalam trilogi kita yang termasyhur: semangat nasional – kemauan nasional – perbuatan nasional, sehingga trilogi itu menjadi caturlogi yang berbunyi:
Semangat nasional
Konsepsi nasional
Kemauan nasional
Perbuatan nasional
Tetapi program atau pernyataan, konsepsi atau ideologi, – yang menentukan ialah pelaksanaannya. Mengenai pelaksanaan ini, Dewan Pertimbangan Agung dengan tepat berkata: "Walaupun Manifesto Politik adalah sangat penting karena telah menjawab persoalan-persoalan pokok Revolusi, dan telah mengemukakan usaha-usaha-pokok untuk menyelesaikan Revolusi Indonesia, tetapi realisasinya sangat tergantung pada orang-orang yang diberi tugas untuk melaksanakannya".
Benar sekali: tergantung pada orang-orang yang harus melaksanakan! Khususnya orang-orang yang diberi tugas, umumnya orang-orang 90.000.000 jiwa yang bernama Rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. "Ten slotte beslist de mens", inilah sitat dari Fritz Sternberg yang saya gemar sekali mensitirkannya. "Pada akhirnya, manusialah yang menentukan".
Oleh karena itulah maka orang-orang yang diberi tugas tapi tidak berhati-penuh atau tidak becus untuk melaksanakan Manifesto Politik-USDEK, harus diretool! Tetapi Saudara-saudara juga, Saudara-saudara dari kalangan Rakyat, Saudara-saudara pun tak luput dari memikul kewajiban! Saudara-saudara yang sudah sadar, harus aktif menyumbangkan tenaga kepada realisasi Manipol-USDEK itu. Saudara-saudara yang belum sadar, yang tidak mengerti sedikitpun tentang Manipol-USDEK, apalagi pelaksanaan Manipol-USDEK, Saudara-saudara yang demikian itu harus diindoktrinasi, harus disadarkan, harus dikocok-dihoyag-hoyag, ditempa, di-gemblèng, sampai betul-betul mereka menjadi sadar, dan menjadi orang-orang yang menyumbang secara aktif, menyumbang secara dinamis-revolusioner!