The Ramrodders: A Novel

Chapter 3

Chapter 3901 wordsPublic domain

Pada hakekatnya Tridharma ini tiada ubahnya dari papa "Tiga Kewajiban" yang sudah sering saya sebutkan dalam pidato-pidato saya yang terdahulu; pertama menyempurnakan kemerdekaan sesuai dengan cita-cita nasional, kedua mengisi kemerdekaan sesuai dengan cita-cita sosial, ketiga menyelamatkan kemerdekaan dalam gelora internasional. Dan perinciannya kewajiban-kewajiban itupun sekarang makin lama makin jelas: Organisasi Pemerintahan harus diperkuat. Kawibawan Gezag harus ditanam: Pengacauan harus lebih giat dibasmi. Angkatan Perang harus segera pulih kembali menjadi Pasupatinya Negara; produksi makanan-rakyat dan produksi kebutuhan rakyat lain-lain harus ditambah sebanyak-banyaknya; pembangunan lain-lain harus dipergiat; pemilihan umum harus lekas diselenggarakan; keuangan harus dipersehatkan; hubungan Indonesia-Belanda harus lekas diganti dengan hubungan diplomatik yang biasa; Irian Barat harus lebih aktif diperjoangkan; segala hasil-hasil K.M.B. yang merugikan kita, hapusnya harus kita usahakan; Negara Nasional barulah Negara Nasional kalau ia sudah merdeka bulat politik, ekonomis, dan kulturil! Negara Nasional tak mungkin didirikan di atas dasar-dasar atau corak-corak yang masih kolonial!

Pekerjaan ini berat. Tetapi memang kita harus bekerja berat.

Sejak kapan ada Negara kuat dan masyarakat sehat zonder bekerja berat? Dan – berat menjadi ringan kalau kita kerjakan bersama-sama dalam persatuan, dan berat menjadi ringan pula kalau kita senang kepada pekerjaan itu.

Adakah di antara kita yang tidak senang lagi kepada pekerjaan itu, dan merasa jemu, sambil berkata: "Sudah satu windu bernegara, kok masih begini saja"?

Ya, sudah satu windu kini kita bekerja sejak kita ikrarkan Proklamasi, tetapi berapa lamakah satu windu kalau kita bandingkan dengan perjoangan yang berpuluh-puluh tahun, dan apa arti satu windu kalau kita tempatkan dalam perhitungannya Sejarah? Pernah dulu kutirukan perkataan Lincoln manakala ia berkata: "We cannot escape history", – "kita tak dapat melepaskan diri dari sejarah". Wahai, juga kita, juga engkau, juga aku, juga seluruh bangsa Indonesia, tak dapat melepaskan diri dari sejarah, – Sejarah, yang dalam abad keduapuluh ini makin nyata makin tampak menunjukkan coraknya dan arahnya. Ialah corak dan arah bangkitnya golongan-golongan-manusia yang tertindas dan bangkitnya bangsa-bangsa yang terjajah, corak-dan-arah Revolusi Kemanusiaan dan Revolusi Kebangsaan, corak-dan-arah matinya perbudakan dan matinya penjajahan, corak-dan-arah berdirinya negara-negara di dunia Timur, corak-dan-arahnya persamaan manusia dan persamaan bangsa.

Dan memang kita bangsa Indonesia di waktu yang lampau telah benar-benar ikut berjalan dalam corak-dan-arahnya Sejarah itu, ikut berjalan dalam Maha-Iramanya Sejarah itu, naik gunung turun gunung, naik gelombang turun gelombang, naik badai turun badai, naik taufan turun taufan, sampai akhirnya kita datang kepada tempat yang sekarang ini. Tetapi Sejarah tidak berhenti, Sejarah tidak pernah berhenti, ia berjalan terus, berjalan terus dengan mengiramakan Maha-Iramanya yang dahsyat itu, dan lagi-lagi kita "cannot escape history", – lagi-lagi kita tak dapat melepaskan diri dari jalannya Sejarah itu.

Hayo bangsa Indonesia, dengan jiwa yang berseri-seri mari berjalan terusl Jangan berhenti, Revolusimu belum selesai! Jangan berhenti, sebab siapa yang berhenti akan diseret oleh Sejarah, dan siapa yang menentang corak-dan-arahnya Sejarah, tidak ferduli ia dari bangsa apapun, ia akan digiling-digilas oleh Sejarah itu samasekali. Kalau fihak Belanda menentangnya, dengan misalnya tetap tidak mau menyudahi kolonialismenya di Irian Barat, satu hari akan datang entah besok atau lusa, yang ia pasti digiling-gilas oleh Sejarah, tetapi sebaliknyapun, kalau engkau menentangnya, engkaupun akan digiling-gilas oleh Sejarah. Terutama sekali engkau, hai pemuda-pemudi Indonesia, engkau dari generasi yang sekarang, yang mungkin belum pernah dengan sedar mengalami ikut berjalan dalam perjalanan Sejarah itu, sudahkah engkau menginsyafi bahwa segera akan datang saatnya yang engkau juga harus ikut berjalan? Dan engkau pemuda-pemudi yang sudah ikut berjalan, sudahkah engkau berasa-berfikir-bertindak sedemikian rupa, sehingga engkau merasakan dirimu itu seolah-olah hidup dalam obsesi, merasakan dirimu itu alat-alat Sejarah, alat-alat yang berjiwa, yang dengannya Sejarah itu menggempur kekolotan dan ketamakan, menggempur perbudakan dan penjajahan, menggembleng Dunia-Baru buat bangsamu sendiri dan Dunia-Baru buat sekalian bangsa? Sudahkah engkau semua pemuda-pemudi Indonesia tidak mengutamakan kepelesiran lagi, sebagai kumintakan kepadamu dua tahun yang lalu?

Revolusi kita belum selesai, Revolusi mematikan kolonialisme belum selesai, Revolusi Pembangunan belum selesai. Mari kita semua bangsa Indonesia yang 80.000.000 dari Sabang sampai ke Merauke berjalan terus.

Dalam satu barisan yang utuh, tidak terpecah-pecah oleh persengketaan politik, yang akibat-buruk-akibat-buruknya tertampak nyata dalam pengalaman-pengalaman kita masa yang lalu, marilah berjalan terus. Berjalan terus, bekerja terus, membanting tulang terus! Membanting tulang secara dinamikanya Revolusi! Jangan kita hendak membangun Negara modern dan Masyarakat modern dengan kecepatan pedati dan pengetahuan yang didapatnya tiga puluh tahun yang lalu, pada hal sekarang ini adalah zamannya kapal-udara-yet dan bom atom!

Jiwa uler-kambang dan jiwa inlander itulah racun yang menghinggapi kita di tahun-tahun yang akhir ini. Jikalau ingin merdeka sejati-jatinya-merdeka, milikilah Jiwa yang Merdeka, milikilah Jiwa yang Besar!

Buktikanlah memiliki jiwa besar itu, Jiwa Merdeka itu, Jiwa yang tak segan bekerja dan memberi. Jiwa dynamis yang bisa berdiri sendiri di atas kaki sendiri dari hasil usaha sendiri – bukan jiwa yang meminta, merintih, mengemis saja ke kanan dan ke kiri, sambil bermimpi dapat mencapai derajat-penghidupan yang makmur dengan seboleh-bolehnya tidak bekerja samasekali. Kita tidak hidup di alam impian, kita hidup di alam kenyataan. Kita tidak hidup di alam sorga, kita hidup di alam dunia. Di alam dunia itu, untuk semua makhluk besar-kecil, tiada undang-undang lain melainkan undang-undang yang berbunyi:

"Jikalau mau hidup, harus makan; yang dimakan hasil-kerja; jika tak bekerja, tidak makan; jika tidak makan pasti mati"!

Inilah undang-undangnya dunia. Inilah undang-undangnya hidup. Mau tidak mau, semua makhluk harus menerima undang-undang ini. Terimalah undang-undang itu dengan jiwa yang besar dan merdeka, jiwa yang tidak menengadah, melainkan kepada Tuhan. Sebab kita tidak bertujuan bernegara hanya satu windu saja, kita bertujuan bernegara seribu windu lamanya, bernegara buat selama-lamanya.

Jer basuki mawa beya. Sekali merdeka, tetap merdeka! Merdeka, merdeka buat selama-lamanya! Terima kasih!

Kategori:Pidato Soekarno‎