Part 2
Pembaca, siapa yang mengetahui isi fasisme, ia akan tertawa akan keterangan Hitler itu. Sebab sudah dari tahadinya ada plan buat merampas negeri-negeri itu. Sudah dari tahadinya ada susunan pula, satu teori, satu isme yang dinamakan Pan-Germanisme, yang merencanakan perampasan negeri-negeri itu. Bukan sahaja satu taktik atau satu strategi peperangan, – sebab buat menaklukkan Perancis dan Inggeris memang perlu Hitler mendobrak dulu Nederland, dan Belgia tetap nyata ada satu plan peperangan. Meskipun misalnya tidak ada peperangan dengan Inggeris dan Perancis, meskipun dus misalnya tidak ada keharusan menjalankan taktik atau strategi peperangan itu, Nederland dan Belgia toch masuk di dalam plan itu, toch nantinya musti dirampas, toch musti dihilangkan kemerdekaannya. Di manakah ternyata adanya plan ini? Sudah tentu di dalam peti-besinya kaum Nazi, yang dunia-luaran tak dapat rnengetahui isi-isinya. Tetapi dengan terang-terangan pula dipaparkan di dalam bukunya Alfred Rosenberg, "otaknya nasional-sosialisme" yang bernama "Der Mythos des 20 Jahrhunderts", nyata di dalam kitabnya ini, bahwa sebagian besar dari benua Eropah itu harus ditaklukkan oleh. Jerman. Njata di dalam kitab ini, bahwa tujuan nasional-sosialisme yang tertinggi bukanlah sahaja membalas dendamnya Versailles, tetapi juga mendirikan satu kerajaan baru yang amat besar. Pan-Jerman, yang batas-batasnya jauh meliwati batas-batasnya Jerman tahun 1914. Siapa yang membaca kitab Alfred Rosenberg itu, ia mengetahuilah bahwa entah besok entah lusa, entah berapa tahun lagi, Hitler musti mengulurkan tangannya ke negeri-negeri di sekeliling Jerman itu, – ada peperangan atau tidak ada peperangan (satu perumpamaan yang mustahil) dengan Inggeris atau Perancis atau negeri besar yang manapun juga, ada paksaan keharusan taktik atau tidak ada paksaan keharusan taktik. Sebab negeri-negeri itu semuanya dianggap masuk ke dalam lingkungan Lebensraumnya Jerman.
Tahukah pembaca apa arti perkataan "Lebensraum" itu? Lebensraum berarti lapangan buat hidup, lapangan buat tidak menjadi coati. Zonder Lebensraum itu, Jerman merasa tidak bisa hidup, tidak ‘bisa ambil nafas, tidak bisa subur, zonder Lebensraum itu Jerman merasa akan menjadi layu, laksana satu tumbuhan yang akar-akarnya tidak ada tempat buat menjalar, atau laksana seekor sapi yang tidak ada lapangan buat mencari rumput. Jerman butuh kepada bahan-bahan buat punya industri, kepada pasar-pasar buat menjual barang-barang bikinan ia punya industri, kepada gandum dan keju dan mentega dan daging dan sayuran dan buat makanan ia punya penduduk. Jerman butuh kepada barang-barang bekal-hidup dan bekal industri yang negerinya sendiri tidak cukup mempunyainya. Jerman butuh kepada grondstoffen-hegemonie (menggagahi sendiri semua bahan-bahan bekal industri) supaya tidak tergantung kepada negeri lain, dan supaya tidak disaingi pengambilan bekal-bekal itu oleh negeri lain.
Itulah sebabnya ia butuh kepada "Lebensraum" itu. Sebab di negeri-negeri sekelilingnya itulah tempatnya bekal-bekal yang ia butuhkan itu, di negeri-negeri luar-pagar itulah letaknya bahan-bahan yang ia perlukan.
Inilah salah satu "kebutuhan mentah" yang tempo hari saya sebutkan! Itulah salah satu "rauw belang" yang kaum Nazi begitu cakap sekali menyembunyikannya di belakang tabirnya "isme" atau "ideal" yang muluk-muluk. Inilah salah satu isinya semboyan-semboyan-mulia yang terdengarnya begitu mulia dan luhur, terutama tertampaknya begitu indah dan gilang-gemilang. Ya, Hitler c.s. memang cakap sekali menyusun semboyan dan cita-cita yang haibat dan muluk-muluk! Sebagaimana mereka cakap sekali membungkus mereka punya politik penegakkan monopool dengan semboyan dan idealismenya Fiihrer-prinzip (lihatlah artikel tempo hari), maka mereka cakaplah pula membungkuskan politiknya grondstoffenhegemonie ini dengan satu idealisme pula: idealismenya ke-Aria-an yang muluk dan gilang-gemilang.
Bagaimanakah isme ke-Aria-an ini? Pembaca, marilah saya terangkan lebih dulu kepada tuan bahwa Rosenberg-Hitler c.s. berkata, bahwa sesuatu negara hanyalah dapat menjadi kuat, kalau rakyat negara itu terdiri dari orang-orang yang satu "darah", satu-satu ras.
Negara yang rakyatnya satu ras itu sahajalah bisa menjadi negara yang satu kehendak, satu kekuatan, satu cita-cita, satu jiwa, satu nyawa. Negara yang darah rakyatnya bermacam-macam, seperti Perancis yang di situ banyak orang dari Afrika, atau seperti Amerika Serikat yang di situ ada campuran putih dan hitam, negara-negara yang demikian itu menurut Rosenberg-Hitler c.s. tak mungkin menjadi negara yang teguh dan berhati waja. Negara-negara yang demikian itu selalu terpecah-belah jiwanya, terpecah-belah rohani dan jasmaninya, dan tidak boleh tidak akhirnya kelak niscayalah hancur dan gugur. Maka oleh karena itu Jerman harus terdiri dari rakyat satu ras sahaja, satu "darah", tidak boleh dengan campuran "darah" yang lain-lain. Maka oleh karena itu Jerman harus "dicuci" dari "kekotorannya" darah-darah yang masuk ke dalam tubuhnya negara Jerman di zaman yang akhir-akhir. Darah Jerman yang asli sahajalah boleh hidup di Jerman, darah yang lain-lain haruslah dienyahkan, dibasmi, dibinasakan, "ausgerottet" sampai tidak ada sisanya seekorpun juga.
Bagaimanakah darah Jerman yang "asli" itu? Dia adalah darah "Germanen", darahnya bangsa Nordica (utara) yang "rambutnya emas dan matanya biru", yang "tubuhnya besar-besar dan jalannya sigap". Dia adalah darah yang kita kenal sebagai bangsa "kulit bule".
Dia ini sahajalah yang boleh menjadi tubuhnya natie Jerman, dia ini sahajalah yang boleh berkata: aku anaknya Hitler. Dia ini sahajalah yang katanya bercabang dari bangsa Aria, yang katanya dari zaman purbakala ternyata satu-satunya bangsa yang selalu memimpin dunia. Bangsa yang lain-lain, yang bukan "rambut emas dan mata biru", yang bukan bangsa Nordica, yang bukan berdarah Aria yang ash itu, lain-lain bangsa itu semuanya adalah bangsa tempe yang kurang harga dan kurang kwaliteit, yang hanya baik buat dijajah dan diperintah sahaja oleh bangsa Aria-Nordica itu. Terutama bangsa Semiet umumnya, adalah bangsa rosokan dan bangsa bandit: Bangsa kelas rendah, yang tak pernah menjadi penyiar dunia dan penuntun dunia, tetapi sebaliknya selalu menjadi "kayu senggah" dan "penyakit" dunia.
Tahukah tuan sudah, apa yang dinamakan bangsa "Semiet"? Bangsa Semiet adalah bangsa "hidung bengkung" dan "rambut keriting". Bangsa Yahudi adalah bangsa Semiet, bangsa Arab adalah bangsa Semiet. Mereka dikatakan selalu menjadi sampah dunia, parasiet dunia, penyakit dunia, bajingan-bajingannya dunia. Mereka tak mampu mengadakan orang-orang yang luhur dan jempol. Alfred Rosenberg dengan muka yang angker sekali telah mengatakan bahwa misalnya Nabi Isa itu bukanlah bangsa Yahudi, bukanlah bangsa Semiet! Nabi Isa adalah bangsa Aria!
Bangsa Semiet tidak bisa begitu jempol seperti Nabi Isa itu! Orang mengatakan Nabi Isa orang Israil, adalah orang goblok, yang tak pernah menyelidiki rasanya Nabi Isa itu. Dia adalah yang hanya anut-gerubyuk sahaja, orang yang tak pernah menggali dalam-dalam rahasia-rahasianya sejarah. Dia adalah orang yang matanya diabui agama. Bukan, Nabi Isa adalah bukan bangsa Yahudi, dia orang jempol, dia tentu orang Aria! Saya yakin, kalau Rosenberg menyelidiki rasanya Nabi, k – ita Muhammad s.a.w., juga niscaya ia akan mendapatkan "bukti-bukti" juga, bahwa Muhammad bukan ras Arab, tetapi ras Aria Pula!
Nah,- baru jikalau rakyat Jerman hanya terdiri dari orang-orang Aria sahaja, zonder dicampuri darah Semiet atau darah lain setetespun juga, maka Jerman akan dapat menjadi negara yang maha-kuasa.
Yuda verrecke!,—modarlah bangsa Yahudi! semboyan ini didengungkanlah oleh kaum Nazi di mana-mana, dipraktikkan dengan cara yang sangat kejam sekali zonder mengenal ampun. Orang Yahudi ditangkap, dirampas harts miliknya, dikeluarkan dari hak-hak-politik, dirusak dan dibongkar toko-tokonya, dimasukkan penjara concentratie kamp, diusir keluar, dibunuh, – semua itu untuk memurnikan "darah" Jerman supaya menjadi darah Aria yang sebersih-bersihnya. Semua itu atas nama "Blut und Boden", atas nama "Darah dan Tanah-air". Dan bukan orang Yahudi sahadja! Kebencian Hitler kepada tiap-tiap bangsa yang bukan rambut emas dan mata biru adalah tampak nyata-nyata di dalam ia punya buku "Mein Kampf" yang terkenal itu. Benci kepada "kuli China", benci kepada Negeri yang bergaul dengan bangsa kulit putih di Amerika, benci kepada bangsa kulit hitam yang berjalan-jalan dikota Paris.
Tetapi kalau cuma mau mendirikan rakyat Aria di negeri Jerman sahaja, sudahlah. Rosenberg-Hitler mau mendirikan satu negarabesar yang meliputi semua negeri-negeri yang darahnya. darah Nordica Aria! Mereka punya impian ialah satu negara Pan-Jerman yang menjadi rumahnya semua bangsa-bangsa Nordica-Aria itu! Austria, Selesia, Polandia, Denmark, Zwedia, Norwegia, Finlandia, Belanda, Belgia, Swis, Luxemburg, Elzas Lotaringen d.l.s., – semua itu termasuklah ke dalam mereka punya maha-cita-cita Pan-Jerman yang berdiri atas persatuan darah itu! "Inilah pembungkusan" yang muluk dari nafsu mencari grondstoffen-hegemonie long saya ceritalcan itu tahadi! Pembungkusan dari satu kebutuhan-mentah dengan bungkusnya satu idealisme, satu cita-cita, satu supra-nationalisme, satu keyakinan, yang membangunkan semangat dan menggetarkan jiwa.
"Bangunlah Jerman", — Deutschland erwache! -, clirikanlah negara besar yang mempersatukan semua rakyat-rakyat yang berdarah AriaNordica itu, serahkanlah segenap kamu punya jiwa-raga kepada ini ideal maha-maha-tinggi demi keperluannya "Blut und Boden"! Hidupkanlah kembali di dalam kamu punya kalbu itu hati Aria-Nordica yang sejati, yakni hati "Heldentum" alias "Kelaki-lakian" yang selalu menjadi sifatnya hati Aria-Nordica dari zaman purbakala mula. Hitler adalah propagandis yang terbesar dari "Heldentum" itu, dia menurut keterangan Hermann Rauschning adalah mabuk dengan "Heldentum" itu. Ia, putera bangsa Aria, dan rakyat Jerman, rakyat bangsa Aria, – ia dan rakyat Jerman itu akan menentukan jalannya sejarah, sebagaimana memang selamanya bangsa Aria-lah yang menentukan jalannya sejarah. Ia dan rakyat Jerman itu akan mendirikan kembali Kemegahan Kerajaan Nordica dari zaman purbakala! Sebab, katanya bukankah bangsa. Nordica ini yang dulu menjadi cakrawarti dunia?
Cita-cita Pan-Jerman yang terutama sekali Alfred Rosenberg menjadi nabinya dan Adolf Hitler menjadi propagandisnya dan pengikhtiarnya itu, cita-cita Pan-Jerman itu menurut mereka tak lain dan tak bukan hanyalah satu "pengulangan" sahaja dari sejarahnya bangsa Nordica sediakala, satu pembangunan-kembali dari tarichnya itu bangsa "laki-laki" dari Utara yang mata biru dan rambut emas yang katanya di zaman purbakala telah menyebar dan membanjir ke selatan dark ke barat dan ke timur membawa kegagahan, kelaki-lakian, kecerdasan, kesopanan, membawa "Kultur" yang sehingga zaman sekarang masih berdiri berseriserian di sebagian besar dari benua Eropah. Kata mereka, – bukan bangsa Timur, bukan bangsa Azia, bukan bangsa Yahudi, bukan bangsa Chaldaea, bukan bangsa Hindu, bukan bangsa Mesir, bukan bangsa Arab, bukan bangsa-bangsa yang kitab-kitabnya sejarah biasanya disebutkan bangsa-bangsa pemegang Kultur dan penanam Kultur, tetapi putera-putera Maha-Dewa Nordica yang datang dari Utara itulah yang memberi Kultur kepada dunia, Putera-putera Maha-Dewa dari Nordica itulah yang dulu membuat manusia menjadi beradab, berkesopanan, berkultur.
Tetapi, ah, alangkah hinanya perdamaian Versailles buat bangsa Jerman putera Maha-Dewa Nordica itu! Heldentum (kelaki-lakian) tidak bisa, tidak mau, tidak boleh memikul penghinaan-penghinaan yang datang kepadanya sejak tahun 1918 itu. Heldentum itu harus dibangunkan kembali, dibangkitkan kembali, didinamiskan kembali, – dikobarkan kembali sampai menyala-nyala menjilat langit. Hitler cakap sekali membakar semangat rakyat, guna membangunkan "Heldentum" itu. Ia bukan sahaja satu jago kerongkongan yang ulung, ia juga satu meester dramatik. Ia dramatisirkan, perhaibatkan, segala hal yang perlu untuk menyalakan Heldentum itu. Ia tiup-tiupkan segala bahaya dari luaran menjadi malapetaka dari luaran, ia perhaibatkan segala kekalahan Jerman menjadi satu percobaan dari musuh hendak menumpasbinasakan ras Jerman, bangsa Jerman, darah Jerman.
Ras Jerman,- bangsa Jerman, darah Jerman, – dengarkanlah benar-benar; hai rakyat Jerman: bangsa dan darah Jerman! – sekarang di dalam bahaya, hendak dibasmi sama sekali oleh kaum demokrasi, kaum sosialisme dan bolsyewisme, kaum Yahudi dengan mereka punya kekuasaan uang. Angkatlah senjata, putera-putera Aria-Nordica, kumpulkanlah semua bedil dan meriam, kumpulkanlah semua keberanian, kumpulkanlah semua kelaki-lakian, sebab bangsa dan darah Jerman mau dibasmi orang! Maka menyala-nyalalah karena dramatik ini segala nasionalisme menjadi kemabukan bangsa dan kemabukan darah, menyala-nyalalah kebencian kepada orang luaran, kepada semua bangsa yang bukan turunan "Utara".
Heldentum, kelaki-lakian, semangat jago, manusia gemblengan, darah Nordica, darah, Aria, itu semua menjadi obat-pemabuknya hati yang luka dan malu karena kekalahan-kekalahan sejak 1917. Buku-bukunya Heinrich von Treitschke yang mengajarkan bahwa hanya "laki-laki sahaja membuat sejarah", buku-bukunya Nietzsche yang mengagung-agungkan "blond beest" dan "oppermens" (makhluk rambut emas dan manusia atasan), buku-bukunya Muller ban den Bruck yang mengunggul-unggulkan Germanendom (ke-Jerman-an) dari zaman purbakala,- buku-buku itu menjadilah kitab-kitab keramatnya kaum Nazi.
Cita-cita dan kenang-kenangannya "Pan Germaanse Liga" yang di dalam tahun 1891 didirikan oleh Heinrich Class, yang mau mengganti imperialisme-biasa (mencari kekayaan) dengan "missie van verovering voor macht en glorie" (mencari kemegahan dan kebesaran) dihidup-hidupkanlah lagi sampai kembali menyala-nyala. Heinrich Class inilah yang di dalam tahun 1891 buat pertama kali mengeluarkan semboyan "Deutschland Erwache!",
"Bangunlah Jerman!".
Tetapi tidakkah sudah saya katakan bahwa Hitler adalah seorang meester dramatik? Sebelum ia memegang pemerintahan, ya sebelum ia muncul di gelanggang politik, partai-partai chauvinis dan militeris sudahlah mempropagandakan "semangat kejagoan" dan "semangat kelaki-lakian". Tetapi Adolf Hitler, yang sejak dari mulanya mau menjadi cakrawarti sendiri di lapangan politik itu, Adolf Hitler Meester Dramatik itu telah dramatisir secara berlebih-lebihan mereka semua. Adolf Hitler telah chauvinisir kaum chauvinis, militairisir secara berlebih-lebihan kaum militeris, fanatisir secara berlebih-lebihan kaum fanatik. Adolf Hitler-lah yang akhirnya memegang monopoli menjadi penyebar semboyan "Deutschland Erwache!" itu.
Deutschland Erwache! Jerman bangunlah! Dan bangunlah "dengan bersenyum". Sebab Bapak Hitler telah berkata bahwa Jerman boleh bersenyum, karena sebenarnya tidak kalah di dalam perjoangan 1914-1918 itu. Mana bisa darah Aria-Nordica kalah? Kalau tidak "ditikam dari belakang" di dalam tahun 1918 oleh kaum Semiet dan kaum Marxis, kalau tidak didurhakai oleh itu "bajingan-bajingan-November", kata mereka, maka Jerman tak mungkin patah. Dan bukan sahaja "bajingan-bajingan" ini mengerjakan satu pengkhianatan pada November 1918 itu, mereka juga terus-menerus mendurhakai darah Aria-Nordica tiap-tiap waktu, merobek-robek tubuh Jerman tiap-tiap saat, mematahkan kemauan Jerman tiap-tiap detik. Mereka, bajingan-bajingan. Jahudi Marxis itu, yang menerima sahaja penghinaan membayar uang-kerugian perang, mereka membiarkan pendudukan daerah Ruhr, mereka selalu menerima perlucutan senjata, mereka selalu menerima mati akan keinginan balas-dendam dengan kejinakannya propaganda "perdamaian dunia", mereka mendurhakai panggilannya darah dan bangsa itu dengan propagandanya internasionalisme. Karena itu basmilah lebih dulu semua pendurhaka-pendurhaka Yahudi-Marxis itu habis-habisan!
Ya, Jerman tidak kalah perang! Tidakkah oleh karenanya satu kenistaan, satu kehinaan, satu penghinaan, bahwa Jerman dan putera-putera Jerman turunan Maha-Dewa Nordica itu dikungkung dan dibelenggu, dihisap dan ditindas? Tidakkah satu penghinaan dan satu ketidak-adilan jang menyakar langit, bahwa bangsa yang berdarah jempolan itu diperlakukan sebagai bangsa yang hina-dina, diperlakukan sebagai budak-budak?
Tidak! Bapak Hitler telah berkata, bahwa Jerman dan putera-putera Jerman tidak kurang derajatnya dari negeri-negeri yang dinamakan menang di dalam peperangan 1914-1918 itu! Jerman dan putera-putera Jerman harus, musti, wajib diberikan kembali "persamaan derajat" dengan negeri-negeri lain itu, wajib diberikan "Gleichberechtigung" dengan bekas-bekas musuhnya dari 1914-1918 itu. Jerman wajib diberi lagi hak menentukan sendiri ia punya nasib, wajib diberi kembali tanah-tanah miliknya yang dahulu, wajib diberi kembali koloni-koloninya di seberang laut, wajib dibiarkan menentukan sendiri ia punya "Lebensraum". Jerman wajib dibiarkan menyelesaikan ia punya cita-cita Pan-Jerman, yang akan mempersatukan semua negeri-negeri yang rakyatnya darah Aria-Nordica!
Pan-Jerman! Kaum Nazi sendiri mengerti, bahwa Kerajaan ini tak mungkin bisa datang, tak mungkin bisa selesai, ya tak mungkin bisa dimulai, zonder persetujuan negeri-luaran, atau – zonder perang dengan negeri luaran. Persetujuan dengan negeri luaran, atau perang dengan negeri luaran, – perang yang akan menumpahkan darah! –, lain pilihan tidak ada, lain "lobang" tidak ada. Tetapi,- buat apa takut perang? Buat apa menjauhi peperangan? Tidakkah putera-putera Jerman justru turunan dari laki-laki Nordica, yang dulu justru menjadi kuat, menjadi cerdas, menjadi tinggi-Kultur karena peperangan? Tidakkah peperangan itu satu-satunya gelanggang, di mana sesuatu bangsa bisa digembleng semangatnya, digembleng tekad dan iradatnya, digembleng waja jiwanya? Tidakkah begitu juga perkataan Mussolini! Tidakkah peperangan, tidakkah perjoangan satu-satunya yang membawa jalan kepada hak dan keadilan? Hak tak dapat diperoleh dengan minta-minta secara mengemis, hak harus direbut dengan perjoangan, begitulah Hitler berkata.
Dan kalau perjoangan itu membawa kekalahan? Kalau perjoangan itu membawa kekalutan? Ai, kekalutan! Heldentum tak takut kekalutan! Lebih baik berakhir dengan kekalutan, daripada kekalutan yang tiada akhirnya.
Siapa takut akan ujungnya ia punya perbuatan-perbuatan, siapa menghitung-hitung untung-ruginya ia punya tindakan-tindakan, dia tak adalah Heldentum sedikitpun jua mengalir di dalam ia punya darah, dia tidak pantas bernama orang Aria, dia adalah seorang penjual ubi dan ikan asin! Dia tidak ada keinsyafan sebesar kumanpun jua bahwa hanya dengan Heldentum, – Heldentum yang tidak menghitung-hitung, Heiden-turn yang tiada ferduli apa-apa di luar pagar bahwa hanya dengan Heldentum yang demikian itu Jerman dan kehormatan "Blut und Boden" bisa terbela. "Eropah – seluruh dunia – boleh terbakar. Kita tidak ferduli! Jerman musti hidup, musti merdeka", begitulah tangan kanan Hitler yang dulu, Ernst Rohm, berkata di dalam ia punya kitab "Geschichte eines Hoehverraters".
Ya, Heldentum yang dengan tidak ferduli apa-apa, Heldentum yang dengan "Brrrrutalitat" menuntut hak-haknya Blut und Boden. Memang bangsa Nordica tak pernah takut-takutan. Memang bangsa Nordica sebagai yang dikatakan oleh Hitler kepada Otto Strasser pada 21 Mei 1930 "mempunyai hak memerintah seluruh dunia". Kita harus memakai hakini sebagai bintang penuntunnya kita punya politik luaran. Dan negeri-negeri yang tertindas tidak bisa kembali di atas pangkuannya Kerajaan yang satu (Pan-Jerman!) dengan protes-protes sahaja yang menyala-nyala, melainkan hanyalah dengan pedang yang "maha-kuasa" … Sebab "ukuran bagi kekuatan sesuatu bangsa adalah selamanya dan melulu ia punya kesediaan buat berperang" (Rosenberg) dan "alat satu-satunya yang dipakai buat menjalankan politik-luaran ialah tak lain daripada pedang" (Goebbels). Fasisme adalah "pedang"!
Dan pedang itu kini sudah mengkilat! Pedang itu sudah menghantam Polandia, Denmark, Norwegia, Nederland, Belgia, Perancis, menghantam kekanan-kekiri, membelah apa yang tahadinya satu, menghancur-luluhkan apa yang tahadinya tegak. Pedang Siegfried telah mengamuk laksana amuknya Rahwana yang terjangkit syaitan. Fasisme adalah peperangan.
Di dalam apinya peperangan-dunia 1914-1918 ia dilahirkan ke dunia. Di dalam apinya peperangan yang sekarang ini ia menunjukkan ia punya "kelaki-lakian". Mungkinkah ia akan mati-terbakar di dalam api peperangan sekarang ini juga?
Pembaca, sudah dua "roman muka" fasisme kita lihat. Pertama Fiihrerprinzip, yang bertentangan sama sekali dengan demokrasi Islam, demokrasi ideologi politik kita, demokrasi Indonesia. Kedua, kesombongan ke-Aria-an atau ke-Nordica-an, yang bertentangan karena tidak "mata biru", tidak "rambut emas" tidak turunan Nordica, tidak darah Aria, tidak memperbeda-bedakan kulit dan darah, dan – tidak mau dianggap bangsa tempe atau bangsa kelas kambing oleh siapapun juga. Kitapun mempunyai rasa kebangsaan, kitapun mempunyai rasa kemegahan nasional, kita anti tiap-tiap isme apa sahaja yang menganggap bangsa kulit sawo sebagai bangsa rosokan yang harus selalu di bawah sahaja.
Indonesia versus Fasisme! Indonesia dan jiwa Indonesia anti faham-faham fasisme yang telah saya uraikan itu. Masih ada lagi faham-fahamnya yang kita anti pula. Di dalam nomor yang akan datang Insya Allah akan saya kupas menurut pengupasan ekonomi yang lebih dalam zonder meninggalkan syarat kepopuleran yang sudah saya janjikan itu.
Sebelum itu, camkanlah apa yang sudah saya uraikan itu.
"Panji Islam", 1940
———