Chapter 3
Bahwa pada waktu itu Gezag adalah Gezag yang fascistis, – itu hanyalah mengenai sifat daripada Gezag itu belaka. Tidak hal itu meniadakan kenyataan, bahwa pada waktu itu adalah Kekuasaan, adalah pusat Kawibawan, adalah Gezag.
Demikianlah pesananku yang mengenai keamanan Negara, satu soal yang memang benar terjalin-jalin dengan pelbagai soal-soal lain, tetapi yang pemecahannya nyata menghendaki (antara lain) kembalinya Gezag kepada Kawibawan Gezag. Sebagai Aristoteles pernah katakan pula: "Kemerdekaan adalah kecakapan memerintah dan kecakapan diperintah".
Dengan tidak demikian, akan musnalah kemerdekaan itu.
Sekarang, apa pesananku mengenai soal-soal kita yang lain?
Pidatoku sekarang ini niscaya tak mungkin memberi tempat kepada pesanan-pesanan yang terperinci satu persatu mengenai soal satu persatu.
Waktu tak memberi izin untuk demikian itu. Saya dalam pidato ini sekadar hanya dapat memberi pesanan-pesanan umum. Dan mengenai umum ini saya mulai dengan menunjukkan adanya beda antara harapan-harapan kita pada 17 Agustus 1945, dengan hasil-hasil yang telah kita capai pada 17 Agustus 1952.
Beda itu besar! Benar, sebagai ternyata dari laporan-laporan Kementerian-kementerian, adalah kemajuan di dalam banyak hal-hal detail, tetapi harapan-harapan sebagai yang kita cita-citakan, masih jauhlah belum terlaksana, masih jauhlah belum terdekati. Politik (renungkan) belum; ekonomis (renungkan) belum; sosial (renungkan) belum! Apa sebab? Apa sebab?
Apakah tujuh tahun adalah waktu yang terlalu singkat? Mungkin terlalu singkat, apalagi kalau kita kenangkan bahwa kita ini sebenarnya baru 21/2 tahun saja berkesempatan membangun. Memang pembangunan adalah lebih sukar dari pada pengrusakan.
Memang pelaksanaan faset konstruksi dalam sesuatu revolusi selalu minta lebih banyak waktu daripada pelaksanaan faset destruksinya. Itu kita tahu, hanya saja hal itu sering dilupakan oleh golongan-golongan dalam masyarakat kita yang tidak sabar dan pagi-sore tidak menganjurkan bekerja, tetapi hanya menuntut saja, menuntut, dan sekali lagi menuntut.
Apakah barangkali bukan waktunya yang terlalu singkat, tetapi harapannya terlalu tinggi? Cita-citanya terlalu muluk? Tujuannya terlalu mengawang-awang? Ah, apakah benar cita-cita kita terlalu muluk? Republik Kesatuan yang kuat ke luar dan ke dalam, dan meliputi seluruh Hindia Belanda dahulu, – itukah terlalu muluk? Ekonomi Indonesia yang selfsupporting (ingat, Indonesia kaya raya di lapangan logam, hasil-bumi, kekuatan alam, man-power), – ekonomi Indonesia yang selfsupporting, itukah terlalu tinggi? Hidup kesosialan, hidup kekeluargaan, hidup makmur-dan-adil, hidup dengan tiada kemiskinan dan kecingkrangan (ingat, Indonesia dulu "gudangnya" gotong-royong, dan Indonesia dulu pernah dinamakan "gemah ripah loh jinawi"), – itukah terlalu mengawang-awang? Saya kira tidak, dan beberapa bangsa lainpun ada yang bercita-cita demikian.
Kembali saya bertanya: apa sebab masih ada perbedaan begitu besar antara harapan dan kenyataan, antara ideal dan realiteit, meski pantas diakui bahwa tujuh tahun adalah sekadar satu detik di dalam sejarah sesuatu bangsa? Ah, saudara-saudara, mau tidak mau saya ingat kembali kepada waktu kita masih baru di dalam revolusi. Ah, pada waktu itu tidak ada sesuatu hal yang kita rasakan terlalu tinggi. Apa yang tidak kita laksanakan pada waktu itu? Apa yang tidak kita "uit den grond stampeil" pada waktu itu? Suatu benteng-raksasa kolonial yang tersusun maha-kuat tiga ratus lima puluh tahun lamanya, kita gugurkan dalam tempo beberapa hari. Suatu tentara besar yang sudah dilucuti Jepang pada tanggal 18 Agustus, kita bangunkan kembali dalam tempo beberapa minggu. Tantangan-tantangan maha-besar yang datangnya kadang-kadang seperti lawine hendak menerkam kita, sebagai saya ceriterakan di awal pidato saya tadi, kita atasi dalam beberapa hari. Ya, beberapa hari, – sebab pada waktu itu kita tidak menghitung dengan tahun, tidak dengan bulan, tidak dengan pekan, tetapi dengan hari.
Dan sekarang? Di mana-mana tampak kelesuan. Di mana-mana tampak ketidakpuasan tetapi zonder dinamiknya positivisme. Di mana-mana seperti tidak ada idealisme lagi. Di mana-mana seperti tidak ada perTanah Airan stijl-besar lagi. Di mana-mana "kepentingan sendiri" menjadi dewa yang melambai.
Apa sebab kita sekarang demikian, dan apa sebab kita pada waktu mula-mula revolusi demikian besarnya dalam kita punya statur? Benar sekali jawabmu: pada waktu mula-mula revolusi, bersemayamlah di dalam dada kita Jiwa Proklamasi 17 Agustus 1945. Pada waktu itu menyala-nyala di dalam dada kita, berapi-api di dalam dada kita, berkobar-kobar di dalam dada kita Jiwa Proklamasi 17 Agustus 1945.
Ah, dapatkah kita kembali kepada" Jiwa proklamasi itu? Kembali kepada sari-intinya yang sejati, yaitu pertama jiwa merdeka-nasional yaitu tak mau dihinggapi oleh penjajahan sedikitpun jua, kedua jiwa ikhlas (ikhlas mengabdi cita-cita, sepi hing pamrih rame hing gawe, tak mengenal perkataan "aku", tetapi hanya mengenal perkataan "kita"), ketiga jiwa persatuan (persatuan nasional yang sejati, dan bukan hanya persatuan keluarga saja, atau persatuan golongan), keempat jiwa pembangun (membangun dengan tak mengenal cape, membangun Negara dan masyarakat dari ketiadaan)?
Hanya jikalau kita kembali kepada jiwa yang demikian itulah, dengan menarohkan accenten kepada pembangunan, pembangunan, dan sekali lagi pembangunan, maka kita bisa berjalan lagi dengan zevenmijlslaarzen di kaki kita, bisa berterbang lagi dengan kutang antakusuma di dada kita, – bisa melangkahi dengan cepat perbedaan yang besar antara harapan dan realiteit. Sebab dengan jiwa yang demikian itu, darah tidak kita rasakan sebagai darah, keringat tidak kita rasakan sebagai keringat, penat, cape, lesu, emoh, musnalah dari tubuh kita ini, hukum inertie tidak mempanlah kepada kita sarnasekali. Menjadilah kita satu bangsa yang penuh dinamik, satu bangsa yang "iyeg rumagang hing gawe", satu bangsa yang tidak dengki-mendengki satu sama lain, satu bangsa yang "tebih saking cecengilan, adoh saking laku juti". Menjadilah Negara kita Negara yang memenuhi segala harapan-harapan kita yang masih hidup, dan harapan-harapannya kawan-kawan kita yang telah mati. Menjadilah Rakyat Indonesia Rakyat yang makmur, sebab ia mengerti dan menindakkan, bahwa kemakmuran hanyalah menjelma jika dipanggil dengan panggilannya Gawe.
Hiduplah karena itu Jiwa Proklamasi 17 Agustus 1945, hidup buat selama-lamanya!
Dan merdekalah Indonesia, merdeka buat selama-lamanya pula!
Terutama sekali engkau, hai pemuda dan pemudi, janganlah engkau menodai namamu sebagai angkatan harapan bangsa!
Sekian!
Terima kasih! Kategori:Pidato Soekarno