Réflexions sur le sort des Noirs dans nos colonies
Chapter 3
Satu: "Mengkonsolidasikan kemenangan-kemenangan di bidang keamanan dan Irian Barat", ya saya terima!; dua: "Menaggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi dengan mengutama-kan kenaikan produksi", ya saya terima!; tiga "Meneruskan perjuangan melawan imperialisme dan neokolonialisme dengan memperkuat kegotong-royongan nasional revolusioner", ya saya terima!; empat: "Meratakan dan mengamalkan indoktrinasi", ya, saya terima juga!; lima: "Melaksanakan rituling aparatur negara, termasuk bidang pemerintahan dari pusat sampai ke daerah-daerah", ya! Saya terima juga!
Dan sebagai dalam pidato saya di musyawarah besar Front Nasional tempohari, maka di sinipun saya berkata: "Hayo Front Nasional, jalankan Panca Program itu, saya menyetujuinya, – hayo Rakyat Indonesia, jalankan Panca Program itu, saya menyetujuinya!"
Dengan menjalankan Panca Program itu, engkau maju selangkah lagi di atas Rilnya Revolusi, dan engkau akan bertambah menjadi massa revolusioner yang otot-kawat-balung-wesi!
Sedikit mengenai nomor pertama daripada Panca Program Front Nasional itu. Yaitu yang berbunyi: "Mengkonsolidasi kemenangan-kemenangan di bidang keamanan dan Irian Barat".
Punt ini saya ya-kan kataku! Betapa tidak! Musuh-musuh kita masih berat. Musuh-musuh kita masih belum masuk lobang kubur. Ia masih ada, ia masih berdiri, ia masih siap-sedia. Tidak bosan-bosan, – boleh dikatakan sampai mulut saya ini meniren -, saya mencanangkan dari bubungan-bubungan rumah dari puncak-puncaknya pohon, bahwa imperialisme belum mati, bahwa neo-kolonialisme belum mati. Kalau kemenangan-kemenangan kita di bidang keamanan dan Irian Barat tidak kita konsolidasi, maka musuh-musuh kita setiap saat siap-sedia untuk menerkam kembali kemenangan-kemenangan yang telah kita peroleh itu.
Di Irian Barat misalnya, disebar-sebarkan kampanye-bisik-bisik, bahwa katanya "di bawah Republik keadaan adalah mundur dibandingkan dengan di bawah bendera merah-putih-biru", Mundur? Lho, mundur dalam hal apa? Dan kalau kita sudah menanya secara konkrit demikian itu, yaitu pertanyaan-"mundur dalam hal apa?"-, maka ternyata soalnya ialah: bir kaléngan sekarang di Irian Barat kurang! Wah, wah, wah, wah, wah, demikianlah moral kolonial! mengukur harkat sesuatu bangsa dengan banyaknya bir kaléngan!
Saudara-saudara di Irian Barat!, hai saudara-saudara di Irian Barat! Hai saudara-saudara di Kotabaru, di Sorong, di Merauke, – hai saudara-saudara di léréng Gunung Trikora, Gunung Sukarno, Gunung Sudirman, Gunung Yamin!, – Republik memang tidak pernah menjanjikan bir kalengan kepada Rakyat di Irian Barat! Republik Indonesia menjanjikan dan melaksanakan kemerdekaan, Republik menjanjikan dan medatangkan sinar Terang dan Cahaya! Sinar Terang dan Cahaya, – bersama-sama dengan saudara-saudaramu di lain-lain pulau di Nusantara, – bersamaku, bersamamu, bersama kita, bersama seluruh Rakyat Indonesia!
Dan bagaimana sikap musuh mengenai keamanan yang telah kita capai? Bukan? Irian Barat telah kita capai, keamanan telah kita capai, – dari Triprogram Pemerintah tinggal saja Sandang-Pangan yang masih harus kita capai, – bagaimana sikap musuh mengenai keamanan?
Di bidang inipun mereka tidak jera-jera. Kaum reaksi dan kaum kontra-revolusioner memang ulet. Atau lebih tegas: Kaum reaksi dan kontra-revolusioner memang tambeng! Ada saja caranya mereka mengganggu keamanan! Dari subversi-subversi besar-kecil yang berupa pemberontakan-pemberontakan atau bajinganisme-bajinganisme di lapangan ekonomi, sampai menghasut bakar-bakar mobil, bakar-bakar toko, pecahkan jendela-jendela kaca, – sampai percobaan-percobaan pembunuhan, – sampai kampanye-kampanye-bisik-bisik terhadap dirinya Bung Karno, – ini semua mereka jalankan.
Saking jengkelnya kawan-kawan kita melihat ketambengan kaum reaksi dan kaum kontra-revolusi ini, maka kawan-kawan itu mengusulkan supaya Panglima Tertinggi memaklumkan saja lagi berlakunya "SOB". Jalankan kembali SOB, Pak. Saya menjawab:
Tidak! Saya sebagai Panglima Tertinggi tidak akan memaklumkan lagi berlakunya SOB, tetapi saya Panglima Tertinggi Insya Allah akan tidak ragu-ragu memberikan komando supaya setiap kontra-revolusi dibekuk batanglehernya!, – dibekuk batang lehernya, sampai patah samasekali!!
Ada lagi satu punt dari Panca Program Front Nasional yang mau saya teropong.
Yaitu punt kedua: "menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi dengan mengutamakan kenaikan produksi".
Alangkah tepatnya punt ini!
Memang masalah ekonomi meminta perhatian kita sepenuh-penuhnya. Tidakkah sandang-pangan salah satu punt daripada Triprogram Pemerintah? Dan tidakkah "ekonomipun" salah satu "punt" dari Revolusi kita ini?
Sebagai Pemimpin Besar Revolusi saya menarohkan minat yang besar kepada "punt" ekonomi ini. Tetapi terus-terang: Saya bukan ahli ekonomi, saya bukan ahli dalam tekniknya ekonomi, saya bukan ahli dalam teknik perdagangan. Saya revolusioner, dan saya sekadar "ekonomis revolusioner".
Perasaan dan fikiran saya mengenai persoalan ekonomi adalah sederhana, amat sederhana sekali. Boleh dirumuskan sebagai berikut: "Kalau bangsa-bangsa yang hidup di padang pasir yang kering dan tandus bisa memecahkan persoalan ekonominya, kenapa kita tidak?"
Kenapa kita tidak? Coba fikirkan!
Satu! Kekayaan alam kita, yang sudah digali dan yang belum digali, adalah melimpah-limpah.
Dua! Tenaga-kerjapun melimpah-limpah, di mana kita berjiwa 100.000.000 manusia!
Tiga! Rakyat Indonesia sangat rajin, dan memiliki ketrampilan yang sangat besar; ini diakui oleh semua orang luar negeri.
Empat! Rakyat Indonesia memiliki jiwa Gotong-royong, dan ini dapat dipakai sebagai dasar untuk mengumpulkan segala funds and forces.
Lima! Ambisi daya-cipta Bangsa Indonesia sangat tinggi, – di bidang politik tinggi, di bidang sosial tinggi, di bidang kebudayaan tinggi -, tentunya juga di bidang ekonomi dan perdagangan.
Enam! Tradisi Bangsa Indonesia bukan tradisi "tempe". Kita di zaman purba pernah menguasai perdagangan di seluruh Asia Tenggara, pernah mengarungi lautan untuk berdagang sampai ke Arabia atau Afrika atau Tiongkok.
Maka mau apa lagi!, demikianlah kesederhanaan fikiran saya. Jikalau semua sifat-sifat baik dan modal-modal baik yang saya sebutkan tadi itu kita exploatir secara efektif, maka niscaya soal sandang-pangan (meskipun sederhana) adalah satu soal yang mudah dipecahkan di waktu yang pendek. Rakyat padang pasir bisa hidup, – masa kita tidak bisa hidup! Rakyat Mongolia (padang pasir juga) bisa hidup, – masa kita tidak bisa membangun satu masyarakat adil dan makmur, gemah-ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, di mana si Dulluh cukup sandang cukup pangan, si Sarinem cukup sandang cukup pangan? Kalau kita tidak bisa menyelenggarakan sandang-pangan di tanah air kita yang kaya ini, maka sebenarnya kita sendiri yang tolol, kita sendirilah yang maha-tolol!
Malah dalam kesederhanaan fikiran saya itu, saya gembira, bahwa bangsa kita bukanlah satu Bangsa yang "sudah terlanjur salah terbentuk", bukan satu bangsa yang sudah terlanjur "salah kedadén", – bukan satu Bangsa yang sukar dirubah lagi susunan masyarakatnya.
Untuk memecahkan persoalan-persoalan ekonomi pada bangsa-bangsa yang sudah "jadi", apalagi pada bangsa-bangsa yang dinamakan "nations arriveés", barangkali diperlukan orang-orang yang mahir dalam routine ekonomi, diperlukan pengetahuan ilmu ekonomi yang amat njlimet, diperlukan pengetahuan ekonomi yang amat teknis, amat "ahli", amat "expert".
Tetapi Alhamdulillah, saya mengetahui bahwa persoalan ekonomi kita tidak harus dipecahkan secara routine. Persoalan ekonomi kita adalah persoalan ekonominya Revolusi. Kita memang Bangsa dalam Revolusi, dan Revolusi bukan routine, segala persoalan-persoalannya bukan routine, ekonominyapun bukan routine.
Kita adalah satu Bangsa dalam keadaan Revolusi Multicomplex, yang antara lain meliputi revolusi ekonomis. Dus: Masalah ekonomi adalah bagian daripada Revolusi kita itu. Dus: Masalah ekonomi harus kita hantir sebagai bagian daripada Revolusi kita! Dus: Masalah ekonomi harus kita hantir sebagai alat Revolusi. Dus: Masalah ekonomi tak dapat dan tak boleh kita tanggulangi secara routine. Saya kira, ini terang, ini gamblang. Anak kecil bisa mengerti.
Dengan back-ground (latar-belakang) kesederhanaan fikiran itulah, maka tahun yang lalu saya mengatakan bahwa persoalan sandang-pangan bisa kita atasi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sekarang sudah satu tahun berlalu. Bagaimana perkataan saya sekarang? Masih saja berkata: Insya Allah, persoalan sandang-pangan akan kita pecahkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dalam pada itu, tetap sebagai tahun yang lalu, saya, mengenai sandang-pangan yang belum bérés ini, berkata: "silahkan, silahkan saudara-saudara marahi saya, silahkan menunjukkan jari kepada saya, silahkan hujankan keberangan saudara kepada saya, – dan saya akan terima semua itu dengan hati yang tenang".
Apa yang bisa saya katakan, daripada meminta kesabaran saudara lagi sejurus waktu? Saya telah mengeluarkan Deklarasi Ekonomi yang terkenal dengan nama Dekon, dan 14 peraturan Pemerintahpun sudah keluar. Saya sekarang hanya berkata: sabar sejurus waktu lagi, sabar, – wait and see!
Apa itu Dekon sebenarnya?
Dengarkan!
Manakala Manipol menyatakan "stop" kepada penyeléwéngan-penyeléwéngan di bidang politik, maka Dekon menyatakan "stop" kepada penyeléwéngan-penyeléwéngan di bidang ekonomi. Dengan singkat saya bisa berkata, bahwa Dekon adalah Manipolnya Ekonomi.
Dengan adanya Dekon, orang tidak diperkenankan lagi mengkisruhkan dua tahapan Revolusi.
Di satu fihak, tidak dibenarkan pendapat yang menyangkal bahwa hari-depan kita adalah sosialisme. Dus: tidak ditolerir konsepsi-konsepsi, keinginan-keinginan dan tindakan-tindakan yang serba menuju kepada kapitalisme.
Di fihak lain, tidak ditolerir pendapat, bahwa sosialisme bisa diselenggarakan "satu kali pukul", – yaitu: dari keadaan sekarang een-twee-drie melompat kepada sosialisme, sebagai orang een-twee-drie melompati satu selokan -, tanpa menyelesaikan lebih dahulu perjuangan nasional-demokratis, yaitu tanpa menghabis-habiskan lebih dahulu sisa-sisa imperialisme dan feodalisme.
Dekon mengatakan hal ini dengan jelas dan tegas! Karena itu saya pun sering sekali menandaskan bahwa kita sekarang ini belum, belum, belum, belum berada dalam alam sosialisme.
Dan berhubung keharusan mengutamakan kenaikan produksi, saya tegaskan di sini buat kesekian kali banyaknya pula, bahwa tenaga-tenaga yang paling produktif adalah buruh dan tani. Buruh dan tani adalah soko-guru-soko-gurunya Revolusi! Oleh karena itu maka usaha menaikkan produksi tidak saja harus secara negatif "tidak boleh memusuhi buruh dan tani", tetapi secara positif harus mengembangkan tenaga-produktif daripada buruh dan tani. Tanpa tenaga buruh dan tani, tidak mungkin menaikkan produksi!
Kecuali itu, kita sekarang juga mempergunakan tenaganya Angkatan Bersenjata untuk menaikkan produksi itu. Angkatan Bersenjata sekarang sedang diperintahkan untuk juga menjalankan apa yang dinamakan "civic missions". Mengenai Civic Missions ini adalah laporan baik dari Wampa KASAB Jenderal Nasution di tangan saya, tetapi berhubung dengan waktu, tidak dapatlah laporan itu saya bacakan di sini. Laporan itu akan saya lampirkan saja sebagai Lampiran yang menyusul.
Demikian pula laporan yang diberikan kepada saya oleh Menteri Jenderal Sambas.
Saya sekarang sedang memberikan perhatian penuh kepada suara-suara Rakyat mengenai pelaksanaan daripada Dekon. Sudah sering kali saya katakan, – malahan di Manila pun saya katakan -, bahwa saya ini sekedar peyambung lidahnya Rakyat. Setelah nanti aku yakin seyakin-yakinnya akan suara-sejati dari Rakyat-jelata, maka Insya Allah lidahku sendiri akan menyuarakan suara-hati dari Rakyat-jelata itu.
Aku gembira sekali, bahwa akhir-akhir ini makin santer kehendak untuk membangun ekonomi nasional kita di atas kaki kita sendiri. Inilah yang saya namakan patriotisme ekonomi, dan saya gembira sekali atas hal itu. Sesuatu bangsa hanyalah bisa menjadi kuat, kalau patriotismenya juga meliputi patriotisme ekonomi. Ini memang jalan yang benar ke arah kekuatan bangsa, jalan yang jitu, jalan yang tepat. Dalam Konferensi Rencana Kolombo di Jogyakarta beberapa tahun yang lalu, saya telah katakan kepada utusan-utusan konperensi itu:
"Ekonomi Indonesia akan bersifat Indonesia; sistem politik kami akan bersifat Indonesia; masyarakat kami akan bersifat Indonesia, – dan semuanya itu akan didasarkan kokoh-kuat atas warisan kulturil dan spirituil bangsa kami sendira. Warisan itu dapat dipupuk dengan bantuan dari luar, dari seberang lautan, akan tetapi buah dan bunganya akan memiliki sifat-sifat kami sendiri. Maka janganlah tuan-tuan mengharapkan, bahwa setiap bentuk bantuan yang tuan berikan akan menghasilkan cerminan dari tuan-tuan sendiri"
Demikianlah patriotisme yang saya lukiskan dalam pidato saya di Konferensi Rencana Kolombo di Jogya. Ya, dunia sekarang memang dunia yang tidak bisa hidup tanpa bantu-membantu, Tetapi kita tidak mau dan tidak akan mengemis bantuan dari siapapun. Kita Bangsa Besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan meminta-minta, apalagi jika bantuan itu diémbél-émbéli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplék tetapi merdeka, daripada makan bestik tetapi budak.
Satu punt lagi, saudara-saudara, dari Panca Program Front Nasional: yaitu punt yang menyebutkan "meneruskan perjuangan melawan imperialisme dan neo-kolonialisme dengan memperkuat kegotong-royongan nasional revolusioner".
Sebetulnya ini sudah jelas. Hanya hal neo-kolonialisme itu saja nanti perlu saya teropong sedikit. Hal "kegotong-royongan nasional revolusioner" sebetulnya sudah gamblang segamblang-gamblangnya. Namun masih ada saja orang yang kena penyakit phobi, yang pura-pura tidak mengerti akan perlunya kegotong-royongan nasional revolusioner dalam perjuangan anti imperialisme itu. Jelasnya saja, masih ada orang-orang yang menderita Komunisto-phobi. Karena berkomunisto-phobi, maka mereka ber-nasakomo-phobi! Padahal beratus-ratus kali saya telah terangkan, bahwa kegotong-royongan nasional revolusioner tak mungkin terselenggara tanpa berporoskan Nasakom, – Nas – A – Kom, – tiga penggolongan obyektif daripada kesadaran politik Rakyat Indonesia, Pun sering sudah saya terangkan, bahwa anti-nasakom sama dengan anti Undang-Undang-Dasar '45, sama dengan anti Pancasila, sama dengan anti pemusatan tenaga, sama dengan anti "samenbundeling van alle revolutionnaire krachten", sama dengan … kepala sinting!
Kita sekarang ini nyata "menang mapan" terhadap kepada imperialisme. Makanya kita menang dalam perjuangan kita melawan imperialisme di beberapa bidang. Misalnya kita menang dalam perjuangan merebut kembali Irian Barat. Di mana letaknya "menang mapan" kita terhadap kepada imperialisme itu?
Imperialisme dunia itu, di satu fihak mempunyai persatuan atau persekutuan tetapi di lain fihak mempunyai juga perpecahan, percekcokan, innerlijke conflicten. Kita, sebaliknya, tidak perlu mempunyai perpecahan, dan kalau ada perpecahan, kita harus "mempersatukan" perpecahan itu. Di sinilah sendinya, maka saya dalam perjuangan melawan imperialisme itu selalu berikhtiar menggembléng kegotong-royongan nasional revolusioner, menggembléng samenbundeling van alle revolutionnair krachten in de natie, menggembléng persatuan revolusioner berporoskan Nasakom, – jangan phobi-phobian, jangan nasionalisto-phobi, jangan Islamo-phobi, jangan komunisto-phobi, jangan nasakom-phobi, jangan tani-phobi, jangan buruh-phobi, jangan rakyat-phobi, jangan lain-lain phobi lagi yang mengakibatkan kekurangkompakan. Sebab kekurangkompakan nasional revolusioner berarti "kalah mapan" terhadap kepada imperialisme, dan ini berarti menangnya imperialisme, dan menangnya imperialisme berarti gagalnya kitapunya Revolusi, dan gagalnya kitapunya Revolusi berarti kita menjadi bangsa témpé. Nauzubillahi minasyaitonirrojim!
Kecuali itu, kesatuan dan persatuan yang saya maksudkan itu adalah satu tuntutan daripada Nation building dan Character building. Dapatkah Nation terbentuk jikalau di kalangan Nation itu sengaja dipupuk phobi-phobian antara kita dengan kita? Saya telah membentuk L.P.K.B., – Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa -, untuk mempercepat Nation building dan Character building itu, dan pimpinannya hari-hari saya serahkan kepada Saudara Wampa Roeslan Abdulgani. Salah satu pesanan saya kepada Saudara Roeslan ialah, untuk memberikan pengertian tentang salahnya phobi-phobian itu.
Sekarang sedikit tentang neo-kolonialisme. Punt Panca Program Front Nasional itu juga menyebutkan "perjuangan menentang neo-kolonialisme".
Apakah neo-kolonialisme itu? Neo-kolonialisme adalah kolonialisme "model baru". Di depan hakim kolonial di Bandung, tatkala atas nama bangsa Indonesia aku menelanjangi kolonialisme, aku berkata sebagai berikut:
"Imperialisme bukan saja sistim atau nafsu menaklukkan negeri dan bangsa lain, tapi imperialisme bisa juga hanya nafsu atau sistim mempengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain. Ia tak usah dijalankan dengan pedang atau bedil atau meriam atau kapal perang, tak usah berupa pengluasan daerah negeri dengan kekerasan senjata sebagai yang diartikan oleh van Kol, – tetapi ia bisa juga berjalan hanya dengan "putar lidah" atau cara "halus-halusan"saja, bisa juga berjalan dengan cara "penetration pacifique".
Demikian kataku di Bandung. Aku tahu bahwa sekarang ini kaum yang tidak suka Republik berdiri tegak laksana batukarang ditengah-tengah hamuknya pergolakan dunia. Tetapi ini memang sudah logikanya dan dialektikanya sejarah! Aku tahu, bahwa mereka yang tidak suka kepada kita mengadakan bermacam-macam usaha untuk melemahkan kita, mulai dari "penetration pacifique" sampai kepada usaha pengepungan militer terhadap kepada Republik.
Tetapi ini bukan yang pertama kalinya bahwa kita menghadapi cobaan seperti ini. Ketika kita di Jogya, ketika itu wilayah kita ibarat hanya "sedaun kelor", kitapun digertak, dikepung, digasak, dihujani api, – tetapi kita tidak mau menjual kitapunja kepala, oleh karena kita mau hidup. Apalagi sekarang, di mana wilayah kita bukan sedaun kelor lagi, melainkan utuh dari Sabang sampai Meruke, – apalagi sekarang, – maka yang mengharapkan kita akan menyerah adalah sama dengan orang yang mengharapkan matahari terbit di sebelah Barat
Insya Allah kita selalu akan "survive"! Apa rahasianya survival? Seorang jurnalis wanita yang sudah aku kagumi sejak aku mahasiswa, Anna Louis Strong, pernah menulis: "The first essential to survival is to believe that you can survive". (Syarat pertama untuk survival ialah kepercayaan bahwa kila bisa survive).
Maka, kepercayaan itu ada pada kita! Insya Allah, kita akan survive! Insya Allah, kita akan terus berdiri. Insya Allah, kita tidak akan tenggelam!
Cukup sekian saja mengenai Panca Program Front Nasional.
Marilah saya sekarang menceritakan sedikit tentang Irian Barat.
Saudara-saudara!
Tepat pada tanggal 1 Mei 1963 Irian Barat masuk kembali dalam wilayah kekuasaan Republik. Dengan demikian, maka Revolusi Nasional kita geografis telah selesai: seluruh tanah air kita, dari Sabang sampai Merauke, sejak 1 Mei 1963 itu telah bernaung di bawah Sang Saka Merah Putih. Terimakasih saya ucapkan kepada semua pejuang yang telah menyumbang kepada suksesnya perjuangan pembebasan Irian Barat ini – do'a saya, saya panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata'ala semoga Allah memberi tempat yang baik kepada arwah pejuang-pejuang kita yang telah gugur.
Irian Barat! Astaga, saudara-saudara, astaga, keadaan di sana! Apa yang kita warisi dari Belanda di Irian Barat itu, samasekali tidak bisa dipakai sebagai modal untuk membangun Irian Barat. Rakyat di sana oleh Belanda samasekali tidak diajar untuk memprodusir barang-barang yang paling sederhana pun! Misalnya kesed (voetenveger) mereka import dari Nederland, sapu, sapu mereka import dari Nederland, areng, ya masya Allah, areng mereka import dari entah mana lagi. In elk geval, arengpun barang import, bukan bikinan Rakyat Irian Barat sendiri. Apalagi bir kalengan! Itu import besar. Dat hoort er zo bij!
Akan tetapi apa boleh buat! Bagi kita, semua itu malah menjadi satu challenge, satu tantangan! Seperti sudah saya serukan tempohari, dengan pemasukan Irian Barat dalam wilayah kekuasaan Republik, maka Trikora belum selesai! Teruskan Trikora itu! Jangan berhenti Trikora itu! Saya tegaskan di sini, bahwa pembangunan pun termasuk dalam Trikora itu, langsung di bawah saya, sedangkan pimpinan sehari-hari saya serahkan kepada Wampa Urusan Irian Barat Saudara Dr. Subandrio.
Camkan! Pembangunan Irian Barat bukan masuk dalam persoalan lokal Irian Barat saja, bukan sekedar persoalan orang Irian Barat sahaja, melainkan adalah persoalan seluruh Bangsa Indonesia, malahan adalah satu tantangan, satu challenge terhadap kepada Revolusi kita seluruhnya! Pembangunan Irian Barat adalah juga persoalanmu, persoalanku, persoalanmu, persoalanku, persoalan kita semuanya, persoalan seluruh Revolusi Indonesia, – persoalan seluruh Bangsa Indonesia! Hayo kita bangun Irian Barat bersama-sama, hayo kita bercancut-taliwanda bersama-sama membuat Irian Barat itu satu zamrud yang indah dalam sabuk Indonesia yang melingkari katulistiwa ini! – Indonesia, die zich daar slingert om den evenaar als een gordel van smaragd!
Saudara-saudara! Dalam tahun yang lalu Indonesia beberapa kali berada dalam fokusnya perhatian luar negeri, fokusnya perhatian internasional. Kongres P.A.T.A. terjadi di Indonesia dengan sukses, Konferensi Wartawan A.-A. terjadi di Indonesia, Sidang Komite Eksekutif Konferensi Pengarang A.-A. terjadi di Indonesia, Asian Games terjadi di Indonesia, – tahun muka mungkin Konferensi Buruh A.-A., Konferensi Pengarang A.-A. yang ke-III, Festival Film A.-A., Konferensi A.-A. yang ke-II. Dan Insya Allah bulan November ini nanti – Games of the New Emerging Forces, – Ganefo akan terjadi di Indonesia.
Makin lama makin jelas kedudukan Indonesia dalam Revolution of Mankind ini. Malahan ia ikut berdiri dalam barisan yang depan! Bukan membuntut, tetapi berdiri di barisan yang depan! Hubungan Indonesia dengan dunia internasional tidak semata-mata didasarkan atas keuntungan materiil belaka, tidak, melainkan juga menyangkut hubungan Revolusi Indonesia dengan Revolusi Umat Manusia.
Dalam hubungan ini kita bergabung dalam apa yang saya namakan "New Emerging Forces", – kita adalah satu anggota yang dinamis dan militan dalam gabungan New Emerging Forces itu. Apa yang saya namakan New Emerging Forces itu? New Emerging Forces adalah satu kekuatan raksasa yang terdiri dari bangsa-bangsa dan golongan-golongan progesif yang hendak membangun satu Dunia Baru yang penuh dengan keadilan dan persahabatan antar-bangsa, satu Dunia Baru yang penuh perdamaian dan kesejahteraan, – satu Dunia Baru tanpa imperialisme dan kolonialisme dan exploitation de l'homme par l'homme et de nation par nation.
New Emerging Forces terdiri dari bangsa-bangsa yang tertindas dan bangsa-bangsa yang progresif. New Emerging Forces terdiri dari bangsa-bangsa Asia, bangsa-bangsa Afrika, bangsa-bangsa Amerika Latin, bangsa-bangsa negara-negara sosialis, golongan-golongan yang progresif dalam negara-negara kapitalis. New Emerging Forces sedikitnya terdiri dari 2.000.000.000 manusia. Tidakkah ia satu tenaga raksasa, asal secara efektif tersusun dan terhimpun? Saya gandrung kepada Konferensi A.A. yang ke-II, saya gandrung kepada Konferensi A.A.A. yang pertama, saya gandrung kepada Konferensi New Emerging Forces yang pertama, di Indonesia!
Ganefo kita adakan, – yaitu Games of the New Emerging Forces.
Insya Allah, marilah kemudian daripada itu kita adakan.
Conefo, Conference of the New Emerging Forces! Di Indonesia saudara-saudara.
Conefo di Indonesia, tidaklah dengan itu Indonesia akan makin tampak lagi berdiri paling depan di dalam barisan daripada New Emerging Forces ini?
Biar kekuatan Umat Progresif lekas terhimpun! Biar Old Established Forces menjadi gemetar! Biar Old Established Order lekas ambruk samasekali!