Réflexions sur le sort des Noirs dans nos colonies

Chapter 2

Chapter 23,112 wordsPublic domain

Bukan oleh karena kompromis yang kita adakan itu adalah kompromis politis. Bukan pula oleh karena kita mengadakan kompromis ekonomis. Bukan! Kompromis politis dan kompromi ekonomi, dengan taktik perjuangan yang jitu, dapat diatasi dan dilenyapkan dalam waktu yang pendek. Tetapi celakanya ialah, bahwa kita pada waktu itu mengadakan kompromis dalam hal yang lebih fundamentil. Kita mengadakan kompromis mental. Ha itu yang celaka saudara-saudara. Kita mengira bahwa kita dapat melaksanakan dan menyelesaikan Revolusi Indonesia dengan Hollands denken, melaksanakan dan menyelesaikan Revolusi dengan alam-berfikir cekokan Belanda. Kita memakai sistim liberal, kita memakai demokrasi parlementer untuk melancarkan Revolusi. Kita ngglenggem dan menganggut-anggutkan kitapunya kepala, kalau orang berkata bahwa partijensysteem adalah perlu untuk menjalankan demokrasi. Kita menerima multiparty system sebagai satu kesenangan. Kita malahan sampai menganggap partai-kecil-kecil, partai-gurem partai-gurem, sebagai "Mouth-pieces of democracy", – corong-corongnya demokrasi, katanya.

Semua itu, katanya, "demi Revolusi". Semua itu, katanya, "untuk kepentingan Revolusi".

Revolusi apa! Ya, Revolusi apa? Revolusinya kaum yang keblinger oleh buku-bukunya Thorbecke dan Kranenburg dan van Kan dan entah siapa lagi!

Mereka ini, mereka yang saya namakan keblinger ini, mungkin sekali gagah-berani dalam mengusir secara phisik kaum kolonialis, tetapi mereka adalah penuh dengan minderwaardigheids-complexen dalam menghadapi konfrontasi mental dengan dunia Barat atau dengan dunia imperialis-kolonialis. Oleh pengaruh mereka itulah Revolusi kita hampir-hampir saja ikut keblinger. Oleh pengaruh mereka itulah Revolusi kita hampir-hampir saja kehilangan Revolusi. Oleh pengaruh mereka itulah Revolusi kita hampir-hampir saja musnah samasekali sebagai Revolusi dari muka bumi. Oleh pengaruh mereka itulah Revolusi kita disebutkan oleh seorang penulis Belanda "een revolutie op drift", – satu revolusi kléyar-kléyor, satu revolusi tanpa arah.

Oleh kompromis mental itulah kita lantas mengalami segala macam gangguan dalam periode 1950-1962. Kompromis politik yang tadinya mungkin dapat diatasi dengan taktik yang jitu, menjadilah satu celaka, menjadilah fatal, karena berlandaskan kompromis mental. Kompromis finansiil-ekonomis menjadi satu celaka yang fatal, karena berlandaskan kompromis mental, Divide et impera Belanda dapat berjalan terus, karena kompromis politik itu berlandasan kompromis mental; penggarukan Finansiil-ekonomis kekayaan Indonesia oleh Belanda berjalan terus, karena kompromis finansiil-ekonomis itu berlandaskan kompromis mental.

Coba saudara-saudara, tahukah saudara-saudara, bahwa misalnya keuntungan bersih yang dibuat oleh Belanda dari Indonesia antara tahun 1952 da tahun 1956 adalah melebihi banyaknya keuntungan bersih dalam empat tahun sebelum perang?

Ini celakanya kompromis mental, saudara-saudara.

Tetapi Alhamdulillah: Tuhan menolong!

Lalu kita bangkit! Lalu kita menggelédékkan kitapunya "stop!" kepada segala penyeléwéngan mental itu! Lalu kita suruh buang, buang, buang jauh-jauh segala alam-fikiran liberalisme. Lalu kita dengungkan semboyan-baru yaitu Demokrasi Terpimpin. Lalu kita kocok habis-habisan multiparty system. Lalu kita canangkan Manifesto Politik. Lalu kita telorkan pemerasan Manipol yaitu U.S.D.E.K. Lalu kita camkan kepada rakyat perlunya "Revolusi – Sosialisme – Pemimpin Nasional yang satu", yaitu Resopim. Lalu…. lalu…. lalu…. Alhamdulillah, …. ya lalu kita bisa mencapai Tahun Kemenangan! ….

Penemuan-kembali Revolusi kita itu adalah salah satu Rahmat Tuhan yang besar kepada kita, mungkin salah satu Rahmat Tuhan yang terbesar kepada kita. Coba bayangkan: jikalau kita umpamanya tidak menemukan kembali jiwa Revolusi kita itu, jikalau kita umpamanya masih saja hidup dalam alam kompromis mental, jikalau umpamanya kita masih saja dihinggapi oleh mentale minderwaardigheids-complexen seperti dalam periode yang lalu, – tidak berani mencipta sendiri, tidak berani mengkonsepsi sendiri, tidak berani melepéhkan kembali segala cekokan-cekokan Belanda dan cekokan Barat, – bagaimana kiranya keadaan kita sekarang ini? Barangkali kita makin lama makin jauh "op drift", makin lama makin kléyar-kléyor, makin lama makin tanpa arah, bahkan makin lama makin masuk lagi ke dalam lumpurnya muara "exploitation de l'homme par l'homme" en "exploitation de l'homme par nation". Dan sejarah akan menulis: di sana, antara benua Asia dan benua Australia, antara Lautan Teduh dan Lautan Indonesia, adalah hidup satu Bangsa yang mula-mula mencoba untuk hidup-kembali sebagai Bangsa, tetapi akhirnya kembali menjadi satu kuli di antara bangsa-bangsa,- "een natie van koelies, en een koelie onder de naties".

Maha-Besarlah Tuhan yang membuat kita sadar-kembali, sebelum kasip!

Sekarang Roda Revolusi sudah berputar kembali atas dasar Hukum-Hukum klassik daripada semua Revolusi. Apa Hukum-Hukum klasik daripada Semua Revolusi itu?

Satu: Tiada Revolusi jikalau ia tidak menjalankan konfrontasi terus-menerus, – confrontation de tous les jours.

Dua: Tiada Revolusi jikalau ia tidak berupa satu disiplin yang hidup, disiplin di bawah satu pimpinan.

Revolusi Indonesia sekarang sudah menjalankan dua hal itu: Konfrontasi terus-menerus, disiplin di bawah satu pimpinan. Tetapi lebih pula daripada itu! Revolusi Indonesia ya menjalankan Konfrontasi terus-menerus, ya menjalankan disiplin di bawah satu pimpinan nasional, ya mempunyai ideologi nasional-progresif yang kuat dan gamblang, ya berpegang teguh kepada kepribadian nasional. Ia minum dari sumber, sumber Indonesia sendiri. Ia minum dari sumber sendiri, tidak minum air import dari luaran! Justru inilah yang membuat Revolusi Indonesia itu satu Revolusi yang unik, satu Revolusi yang dikagumi oleh seluruh bangsa yang progresif, satu Revolusi yang dipandang tinggi oleh semua anggota daripada New Emerging Forces. Bahkan di kalangan Old Established Forces-pun banyak orang yang mulai "memandang" kepada Revolusi Indonesia itu, dan mengakui Revolusi Indonesia itu sebagai satu Kenyataan yang amat kuat, satu "living reality yang tak dapat diabaikan".

Saudara-saudara!

Tadi saya katakan, bahwa Revolusi Indonesia kini sudah menginjak pada suatu Phase Baru, dan bahwa ia sudah mulai "menuju kepada sasarannya".

Tahun yang lalu, dalam pidato "Tahun Kemenangan", sudah saya singgung bahwa "Revolusi Indonesia sudah menaik kepada tingkat "self-propelling growth": kita maju atas dasar kemajuan, kita mekar atas dasar kemekaran".

Ya, Revolusi kita sekarang ini tidak lagi dalam keadaan defensif, yaitu tidak lagi hanya repot mempertahankan diri saja terhadap kepada serangannya Kontra-revolusi, serangannya subversi asing, atau serangannya fihak liberal. Revolusi kita sekarang ini sudah tidak lagi hanya "fight to survive". Revolusi kita sekarang ini sudah berjuang untuk mencapai kemajuan-kemajuan secara positif, kemajuan-kemajuan yang bisa menjadi modal dan batu loncatan untuk kemajuan-kemajuan bagi hari yang berikut. Inilah arti "selfpropelling growth". Inilah arti "selfgenerating growth". Inilah arti maju atas dasar kemajuan. Inilah arti mekar atas dasar kemekaran.

Landasan-landasan Revolusi, – jaitu a. konfrontasi terus-menerus, b. disiplin di bawah satu pimpinan, c. ideologi nasional-progresif, d. kepribadian nasional, – landasan-landasan itu tidak perlu kita perjuangkan lagi. Landasan-landasan itu sudah berada mendukung tubuh kita, landasan-landasan itu sudah menjadi milik perjuangan kita. Di atas landasan-landasan itu kita berjalan, di atas landasan-landasan itu kita bisa berderap ke muka secara positif menuju kepada sasaran Revolusi yang sesungguhnya: yaitu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Tidak lagi seperti dulu, waktu kita tidak berderap maju, melainkan hari-hari kita cuma mengobat-abitkan saja pedang ke sekeliling kita saja secara defensif, untuk mempertahankan diri kita terhadap serangan musuh. Tidak lagi seperti dulu, tatkala kitapunya kegiatan sehari-hari melulu hanyalah "fight a life-and-death struggle", – "to survive"!

To survive! Physically and mentally! To survive! Agar tetap hidup! Secara badaniah dan mental!

Sekarang "struggle to survive" itu sudah lampau. Sekarang kita sudah masuk phase baru. Revolusi kita sudah masuk phase baru. Kita masih dalam Revolusi itu, hanya saja Revolusi-nya sudah berada dalam phase baru. Kalau Revolusi sudah keluar dari periode survival, itu tidak berarti bahwa kita keluar dari Revolusi. Tidak! Kita keluar dari sesuatu periode Revolusi, tetapi kita tidak keluar dari Revolusi. Sebagaimana tertulis di atas pintu Museum Mexico City bahwa "History is a continuity" (sejarah adalah satu kelanjutan), maka kita juga berkata bahwa "Revolution is a continuity", – Revolusi adalah satu kelanjutan.

Orang tidak bisa meninggalkan Sejarah; Orang juga tidak bisa meninggalkan Revolusi. You cannot leave History; You also cannot leave a Revolution!

Nah, saudara-saudara, engkau tetap dalam Revolusi! Merasakah engkau, bahwa engkau tetap dalam Revolusi?

Misalnya, unsur pertama dari Revolusi ialah Konfrontasi terus-menerus, kataku. Merasakah engkau Konfrontasi terus-menerus itu? Dan ikut sertakah engkau dalam konfrontasi terus-menerus itu?

Revolusi adalah satu rentetan-panjang dari satu konfrontasi ke lain konfrontasi. Konfrontasi yang satu selesai, konfrontasi yang lain muncul hendak menerkam. Satu selesai, satu lagi muncul! Malahan kadang-kadang konfrontasi-konfrontasi itu datangnya secara simultan, secara berbarengan, secara "mengkeroyok", – dari muka, dari belakang, dari kiri, dari kanan, dari bawah, dari atas. Itulah hamuk-tabula-rasanya konfrontasi dalam sesuatu Revolusi! Aku menanya, sudahkah engkau merasakan hal itu, dan ikut serta menghadapi semua konfrontasi itu?

Barangkali lantas kau menanya: Konfrontasi-konfrontasi apa?

Coba saya perincikan sedikit:

Konfrontasi terhadap segala rintangan-rintangan yang menghalang-halangi jalannya Revolusi, sampai kepada konfrontsi terhadap kepada bom dan meriam dan dinamit.

Konfrontasi terhadap kontra-revolusi.

Konfrontasi terhadap kapada subversi, baik dari dalam, maupun dari luar.

Konfrontasi terhadap kepada apa yang dinamakan "vested interests", yaitu golongan-golongan yang tidak menghendaki perubahan-perubahan, karena merasa terancam perutnja yang gendut.

Konfrontasi dalam menyusun konsepsi-konsepsi baru, yaitu merubah konservatisme mental.

Konfrontasi dalam memperjuangkan konsepsi-konsepsi baru itu dalam masyarakat sendiri, dan dalam dunia internasional.

Ini semua merupakan satu réntétan, satu rantai yang sambung-menyambung, satu proses konfrontasi. Baru jika kita sudah melampaui proses konfrontasi semacam ini, maka kitapunya Revolusi meningkat kepada tingkat "selfpropelling growth". Tetapi juga dalam tingkat selfpropelling growth itu kita masih dihadapkan kepada konfrontasi-konfrontasi. Tetapi konfrontasi lain macam! Yaitu konfrontasi terhadap diri kita sendiri. Konfrontasi "positif". Konfrontasi yang juga dinamakan "tantangan". Konfrontasi yang dinamakan "challenge-challenge"-nya perjuangan. Konfrontasi terhadap pada persoalan-persoalan pembangunan. Konfrontasi terhadap kita sendiri: bisakah atau tidak kita-ini membangun Sosialisme?

Sekarang tergantung dari kita sendirilah, apakah kita ini sanggup menjalankan konfrontasi-konfrontasi macam baru itu, ataukah tidak?

Sekarang, sebab banyak hal yang sudah, saudara-saudara.

Survival? Sudah!!

Diakui oleh dunia luaran sebagai satu realitas yang nyata, – sebagai satu "living reality", sebagai satu "established fact" yang tak dapat dibantah dan diabaikan? Sudah!!

Dianggap oleh banyak bangsa New Emerging Forces sebagai "Bangsa Pelopor" dalam Revolusi Umat Manusia? Sudah!!

Sudah! Semuanya sudah! Malahan hal-hal lain daripada Revolusi kita ini sudah dianggap oleh dunia sebagai "living realities" pula, satu realitas yang hidup, bahkan satu contoh yang baik. Demokrasi Terpimpin misalnya tidak lagi dikatakan satu diktator, atau satu "rubber stamp-democracy", tetapi satu realitas Indonesia yang hidup, dan oleh banyak bangsa dianggap sebagai satu contoh yang baik. Manipol dianggap oleh banyak bangsa progresif sebagai satu contoh yang baik. U.S.D.E.K. dianggap sebagai satu contoh yang baik. Resopim dianggap sebagai satu contoh yang baik. Kepribadian Nasional, yang dulu dianggap sebagai satu kecongkakan nasional, dianggap sebagai satu contoh yang baik. Gotong Royong, Musyawarah, Mufakat, soko-guru-soko-gurunya Revolusi kita, dianggap sebagai satu contoh yang baik.

Gengsi-Revolusi Indonesia di luar negeri membubung setinggi langit!!

Banyak orang di luar negeri sekarang ini menganggap Revolusi Indonesia itu, – sesuai dengan anggapan kita sendiri -, sebagai salah satu Revolusi yang terbesar di kalangan Umat Manusia sepanjang masa, satu Revolusi yang paling modern dalam arti progresivitas yang dinamis dan dialektis, dalam gegap-gempitanya dunia modern zaman sekarang.

Nah, dengan itu semua, cukuplah alasan untuk berbesar hati. Cukuplah alasan untuk tidak mundur setapakpun menghadapi konfrontasi-konfrontasi macam baru yang saya maksudkan tadi. Cukuplah alasan untuk berderap terus ke arah Fajar Sosialisme yang telah menyingsing di cakrawala Indonesia. Ya, kita Insya Allah menang! Menang! Sekali lagi Insya Allah MENANG! Ini bukan kesombongan! Ini bukan zelfgenoeg-zaamheid! Ini bukan kecongkakan, melainkan sekedar kepercayaan kepada diri kita sendiri, sekedar kesadaran tentang potensi-potensi dan kemampuan-kemampuan yang nyata dari bangsa Indonesia sendiri, juga jika dibandingkan dengan potensi dan kemampuan dari bangsa-bangsa yang lain. Dan adakah sesuatu bangsa yang dapat meneruskan Revolusinya dan menyelesaikan Revolusinya, jika ia tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri, tidak mempunyai kesadaran tentang kemampuan-kemampuan diri sendiri? Sesuatu bangsa yang tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri, tidak dapat berdiri langsung.

"A Nation without faith cannot stand". Nah, dengan isi-jiwa yang penuh dengan kepercayaan akan kemampuan diri sendiri itulah, kita kini memasuki Phase Baru dalam Revolusi kita. Kita kataku, memasuki "selfpropelling growth". Kita menuju kepada sasaran. Kita menuju kepada Fajar Sosialisme Indonesia. Ini berarti bahwa dengan Sosialisme Indonesia itu, – kerangka ke-II daripada Revolusi Indonesia -, sudah besok pagi atau besok lusa akan tercapai. Tidak! Samasekali tidak! Sosialisme Indonesia baru sedang berfajar! Mataharinya akan terbit menyinari tanah air kita, bukan besok pagi atau besok lusa, – yakinilah ini! – tetapi sesudah kita berderap secara ulet, membanting tulang setiap hari, memeras tenaga terus-terusan, menjalankan konfrontasi macam baru tanpa putusnya. Pendek-kata kita masih harus terus ber-Revolusi!

Syarat-syarat dan alat-alat untuk melanjutkan Revolusi gaya-baru ini sudah kita adakan.

Apa syarat-syarat dan alat-alat itu?

Di lapangan politik kita sudah menjalankan Demokrasi Terpimpin. MPRS, DPRGR., DPA., rapat-rapat-gabungnn antara Pemerintah dan M.P.N., Depertan, M.P.P.R., KOTOE, KOTI, dan lain sebagainya, – itu semua adalah pengeja-wantahan daripada Demokrasi Terpimpin, sehingga demokrasi Terpimpin itu benar-benar adalah satu "living democracy" dan bukan satu "Rubberstamp-democracy" sebagai yang musuh-musuh kita katakan. Saya tidak mengatakan, bahwa Demokrasi Terpimpin sebagai yang kita jalankan sampai sekarang ini sudah sempurna sebagai alat Revolusi, sudah perfect sebagai alat Revolusi, tetapi tak boleh dibantah bahwa demokrasi parlementer liberal tidak bisa dipakai dalam Revolusi Indonesia yang menuju kepada Sosialisme, dan bahwa qua sistim Demokrasi Terpimpin adalah satu-satunya Demokrasi yang tepat bagi bangsa Indonesia dengan segala kepribadiannya dalam menuju kepada Sosialisme Indonesia. Dan manakala Demokrasi Terpimpin yang kita jalankan sampai sekarang ini belum sempurna, belum perfect, maka kewajiban kita ialah menyempurna-kan Demokrasi Terpimpin itu. Bergandengan dengan usaha penyempurnaan inilah tepatnya anjuran saya untuk selalu "think and rethink", "shape and reshape", – think and rethink, shape and reshape, dan tidak ngglenggem saja dalam textbook-thinking, ngglenggem saja dalam menelan segala cekokan dari luar, ngglenggem saja dalam alamnya Hollands denken.

Juga dalam hal perikehidupan politik kita harus ber-"selfpropelling growth". Pikirkan sendiri, janganlah menjiplak saja; pelajarilah pengalaman sendiri, pelajarilah pengalaman bersama! Mendakilah terus atas pendakian sendiri, majulah terus atas kemajuan sendiri, mekarlah terus atas kemekaran sendiri! Dan mendakilah bersama! Majulah bersama! Mekarlah bersama! Think and rethink, shape and reshape, bukanlah tugas dari Pemimpin Besar Revolusi sendiri saja, tidak!, melainkan adalah tugas kolektif dari semua pemimpin, semua tokoh politik, semua politieke denkers deer natie, bahkan tugas kolektif dari seluruh Rakyat Indonesia.

Kemarin saya katakan di Gedung Pola:

Apa yang saya perbuat tempohari mengenai perikehidupan politik itu? Saya tempohari sebagai Presiden Republik Indonesia sekedar mencetuskan Demokrasi Terpimpin sebagai hasil penggalian daripada kekayaan rakyat Indonesia, yang terpendam selama penjajahan asing beratus-ratus tahun. Tetapi pertumbuhannya selanjutnya ke arah konsolidasi, pertumbuhan, pertumbuhan selanjutnya ke arah perfeksi, hingga menjadi tradisi baru dan alat yang efektif dalam Revolusi Indonesia, itu adalah tugas dari seluruh Rakyat Indonesia sendiri.

Jangan Rakyat Indonesia dan para tokoh-tokoh-politiknya hanya menjadi penonton saja dalam mempertumbuhkan Demokrasi Terpimpin itu, sambil menyerahkan segala sesuatunya kepada Pemimpin Besar Revolusi. Jangan Rakyat Indonesia dan para tokoh-politiknya hanya menunggu "follow-up" nya saja dari mulutnya Pemimpin Besar Revolusi, – menyerahkan segala pemerasan otak kepada Pemimpin Besar Revolusi.

Sungguh, Domokrasi Terpimpin bukan "pemberian" saya, Bukan "pemberian" saya. Demokrasi Terpimpin adalah milik dari Bangsa Indonesia, tidak hanya untuk sekarang, tetapi juga untuk generasi-generasi yang akan datang. Sebab ia adalah hasil penggalian dari bumi sendiri. Karena itu maka kita semua harus memeras otak dan memeras energi untuk menyempurnakan Demokrasi Terpimpin itu sebagai alat Revolusi.

Ingat apa yang saya katakan dalam rapat raksasa Front Nasional di Senayan tempohari? Waktu itu saya berkata: "Jikalau umpamanya sekarang turun satu Malaikat dari langit, dan berkata kepada saya: "Hai Sukarno, akan aku beri kemu'jizatan kepadamu, untuk memberi satu masyarakat adil dan makmur kepada Rakyat Indonesia sebagai hadiah, sebagai "persenan", sebagai cadeau – maka saya akan menjawab: "Saya tidak mau diberi mu’jizat yang demikian itu, saya menghendaki yang masyarakat adil dan makmur itu adalah hasil perjuangan daripada Rakyat Indonesia sendiri!"

Demikian pula maka saya menghendaki penyempurnaan dari Demokrasi Terpimpin itu sebagai hasil pemikiran kolektif daripada seluruh Rakyat Indonesia.

Alat yang lain untuk menyelesaikan Revolusi kita ialah Kader. Ingat pidato saya 15 tahun yang lalu yang intinya bukan "machines decide everything", tetapi "cadres decide everything"? Bukan mesin menentukan segala tetapi Kader menentukan segala hal?

Dalam Revolusi yang sudah terutama sekali bersifat Revolusi Pembangunan, – bukan terutama sekali Revolusi yang masih "struggle to survive" -, maka Kader adalah perlu maha-perlu. Bukan puluhan. Bukan ratusan. Bukan ribuan. Tetapi puluhan ribu Kader di segala lapangan. Kader yang mengerti Revolusi. Kader yang mengerti segala landasan-landasan Revolusi. Kader yang merasakan dirinya alat Revolusi. Kader yang mengerti kerangka-kerangka Revolusi. Kader yang gandrung Sosialisme Indonesia. Kader yang berjiwa Manipol-U.S.D.E.K. Kader yang mati-matian. Kader Resopim. Kader yang suka bekerja. Kader yang suka membanting tulang, – Kader Revolusi! – bukan kader yang hanya perténtang-perténténg saja jual bagus.

Alat lain ialah Front Nasional.

Adakah Front Nasional satu alat Revolusi?

Front Nasional adalah satu alat Revolusi, oleh karena Front Nasional harus menampung segala kegiatan politik daripada massa. Baik yang tergabung dalam organisasi-organisasi politik, maupun yang tergabung dalam organisasi-organisasi Karya, agar supaya menjadi satu kegiatan simultan pembantu Revolusi. Iapun harus menyusun Kader-kader baru, menyusun golongan-golongan baru, agar semua funds and forces dapat ikut serta dalam kegiatan politik guna kelancaran Revolusi. Dan ia harus menggembleng semua tenaga politik, semua tenaga Karya, semua tenaga-tenaga lain-lain, agar supaya mereka menjadi satu gelombang yang mahasakti daripada aktivitas Demokrasi Terpimpin meladéni Revolusi.

Front Nasional, pendek-kata, diwajibkan untuk membentuk satu "insan politik baru", – politiek-wezen yang baru, satu "insan politik" yang selalu mengabdi kepada Revolusi Indonesia, kepada kepribadian Indonesia, kepada alam-fikiran Indonesia, kepada sumber-sumber Indonesia, – satu "insan politik baru" sebagai dimaksud oleh Manipol/U.S.D.E.K. dan Resospim. Seluruh warga Indonesia, seluruh ibu-bapa-putera-puteri Indonesia, althans sebagian besar daripadanya, harus digembléng oleh Front Nasional itu menjadi apa yang saya namakan "patriot komplit"!

Di zaman penjajahan, gerak dalam lapangan politik dianggap tabu, oleh karena dapat merongrong kekuasaan kolonial.

Di zaman demokrasi liberal, gerak dalam lapangan politik sering dianggap kotor, oleh karena "politik" di zaman liberal itu berupa politik rongrong-merongrong, rebut-merebut, jegal-menjegal, fitnah-memfitnah, maki-memaki.

Tetapi di alam Revolusi sekarang ini, di alam Demokrasi Terpimpin, diharap bahwa semua warga menjadi insan politik. Tidak cukup bahwa warga Indonesia hanya mengenal lagu Indonesia Raya saja, atau mampu menyanyikan lagu "Dari Barat sampai ke Timur" saja, atau lagu "Rayuan Pulau Kelapa".

Memang bagi patriotnya Revolusi, politik bukanlah perebutan kekuasaaan bagi partainya masing-masing. Politik bukanlah persaingan untuk menonjolkan ideologi sendiri-sendiri. Politik bukan penjualan jamu di pasar Tanah Abang atau di Pasar Senen, politik bukan penjualan kecap. Politik ialah mengabdi Revolusi, mempertumbuhkan Manipol, mem-perkembangkan U.S.D.E.K., menghidup-hidupkan Resopim di kalangan Rakyat. Politik ialah menyelamatkan dan menyelesaikan Revolusi Indonesia, menyelamatkan Revolusi Dunia.

Demikianlah tugas Front Nasional. Tugas pokok dari Front Nasional! Tugas-pokok lni harus dikerjakan dengan seluruh kegiatan, seluruh energi Revolusioner yang menyala-nyala. Dan Panca Program Front Nasional saya anggap tidak menyimpang dari tugas-pokok Front Nasional itu, bahkan membantu kepada realisasi tugas-pokok itu, dan memang berada di atas Rilnya Revolusi. Karena itu maka saya menyatakan menerima Panca Program itu, dan mengkomandokan agar supaya Panca Program Front Nasional itu dijalankan oleh seluruh anggota Front Nasional yang 20.000.000, bahkan oleh segenap Bangsa Indonesia dari Barat sampai ke Timur. Saya terima dan komandokan itu, karena kataku tadi, Panca Program adalah berada di atas Rilnya Revolusi, dan – oleh karena penyelenggaraan Panca Program itu adalah satu revolutionnaire gymnastiek yang baik, satu revolutionnaire gymnastiek yang efektif sekali untuk menggémbléng dan menguletkan perjuangan massa, – satu revolutionnaire gymnastiek untuk menempa tenaga massa, mendadar tenaga massa, membajakan kemauan massa, mengapikan semangatnya massa.

Revolusi tidak dapat berjalan tanpa massa yang bersemangat api, tak dapat bernama Revolusi tanpa massa yang bergerak, berusaha, berkemauan laksana baja, berjuang dan sekali lagi berjuang, berjiwa geledek, bernyawa petir, – seperti yang saya katakan dalam pidato Maulid Nabi tempohari. Itulah sebabnya saya tidak mau terima, kalau umpamanya ada malaikat memberikan mu’jizat kepada saya untuk mengcadeaukan, menghadiahkan, memersenkan Masyarakat Adil dan Makmur kepada Rakyat tanpa Rakyat itu sendiri berjuang!

Panca Program Nasional! Apakah Panca Program itu?