Genta Suara Revolusi Indonesia
Part 4
Ada orang yang berkata: buat apa toh ambil pusing Old Established Order itu. Wat kan you die Old Established Order schelen! mBok biar dia hidup! Leven en laten leven!! Live and let live!!
Tolol orang ini! Dia tidak tahu bahwa keselamatan dunia selalu terancam oleh Old Established Order itu. Dia tidak tahu bahwa keselamatan bangsanya sendiri selalu terancam oleh Old Established Order itu. Dia apakah juga tidak tahu, bahwa bangsanya sendiri 350 tahun terjajah, 350 tahun terkungkung dan terhina, 350 tahun tertindas dan terhisap, 350 tahun diingkel-ingkel menjadi satu bangsa lung-lit oleh Old Established Order itu?
O, ya, tentu melawan Old Established Order adalah membawa bahaya, menghimpun New Emerging Forces-pun adalah membawa bahaya. Tetapi di manakah ada satu perjuangan, yang benar-benar perjuangan, tidak membawa bahaya? Na kita-ini satu bangsa yang berjuang apa tidak? Kita-ini satu "fighting nation" apa tidak? Kita-ini satu bangsa tempe, ataukah satu Bangsa Banteng? Kalau kita satu bangsa yang berjuang, kalau kita satu fighting nation, kalau kita satu Bangsa Banteng, dan bukan satu bangsa tempe, – marilah kita berani nyrempet-nyrempet bahaya, berani ber-Vivere Pericoloso! Asal jangan kita Vivere Pericoloso terhadap kepada Tuhan! Hiduplah ber-vivere pericoloso di atas jalan yang dikehendaki oleh Tuhan dan diridhoi oleh Tuhan!
Kecuali satu kewajiban melawan ketamaan-ketamaannya dan segala kejahatannya Old Established Order itu, maka penentangan itu adalah satu "tindakan" sejarah. Revolusi Indonesia adalah satu "tindakan sejarah", Revlusi Umat Manusiapun adalah satu "tindakan sejarah". Di Manila saya berkata: "One cannot escape History", – tidak bisa kita menghindarkan diri dari sejarah. Tidak ada seorang-pun dapat mengelakkan Revolusi Indonesia, tidak ada seorang Malaikatpun dari langit dapat mengelakkan Revolusi Umat Manusia yang maha-dahsyat ini. Dalam menjalankan kodrat sejarah itu, kita harus berkonsultasi dengan kawan, tetapi sebaliknya: kita harus berkonfrontasi dengan lawan. Konsultasi dan konfrontasi adalah pada hakekatnya dialektika jalannya manusia atau bangsa dalam sejarah yang juga selalu berjalan, menurut hukum panta rei.
Dalam hubungan ini baiklah saya uraikan perjuangan kita menentang Malaysia.
Mengapa kita menentang Malaysia?, Apakah kita menghalangi sesuatu daerah menggabungkan diri kepada daerah lain? Apakah kita takut pada kekuatan rakyat Malaysia yang hanya berjumlah 10.000.000 itu?
Pertanyaan ini saya ajukan, oleh karena sebagian dari dunia luaran masih saja belum mengerti duduknya perkara, atau tidak mau mengerti duduknya perkara. Masih saja saya disebut "trouble-maker", malah masih saja ada orang yang menyebutkan saya ini "expansionist".
Saudara-saudara! Pada permulaan pidato saya, dan pada tiap-tiap pidato 17 Agustus, saya selalu mengatakan bahwa Revolusi kita ini banyak musuhnya, – baik musuh dari dalam, maupun musuh dari luar. Malah tahun yang lalu saya mengatakan, bahwa tiap Revolusi mempunyai musuh. Ingat perkataan saya tentang garis antara kawan dan lawan? Kawan harus dirangkul, tetapi lawan harus dihantam. Hantam sampai dia hancur lebur. Apalagi buat kita!
Sebab kita-ini sungguh-sungguh ber-Revolusi. Revolusi kataku selalu, adalah satu "kiprah penjebolan dan pembangunan, satu kiprah simultan yang destruktif dan konstruktif. Di satu pihak membina, di lain pihak mengantam, menggempur, membinasakan".
Ya, kalau kita-ini umpamanya tidak ber-Revolusi betul-betulan, cuma Revolusi main-mainan, – barangkali tidak kita harus "kiprah dua jurusan" itu. Barangkali tidak kita-ini selalu harus menghantam, menggempur, membinasakan saja, di samping membangun. Barangkali kita tidak mempunyai musuh, barangkali kita tidak mempunyai lawan. Kalau kita-ini umpamanya mau menjadi satu bangsa satelit, atau satu negara satelit, – yaitu satu bangsa bébék atau satu negara bébék -, yang selalu wék wék wék membébék saja -, barangkali kita tidak mempunyai musuh. Tetapi, – kita tidak mau menjadi satu bangsa satelit, tidak mau menjadi satu bangsa bébék, tidak mau menjadi satu bangsa kambing. Kita mau menjadi satu Bangsa Besar yang bebas-merdeka, berdaulat penuh, bermasyarakat adil dan makmur, – satu Bangsa Besar yang Hanyakrawati Hambaudenda, gemah-ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, otot- kawat-balung-wesi, ora tedas tapak paluné pandé, ora tedas sisané gurindo!
Kita satu bangsa yang benar-benar ber-Revolusi, – karena itu maka kita kena hukumnya Revolusi, yaitu mempunyai kawan dan mempunyai lawan. Kalau kita bangsa satelit, kalau kita berjiwa budak, kalau kita berjiwa kambing, kalau kita berjiwa bébék, – yah, niscaya kita tidak mempunyai lawan, niscaya kita tidak akan dirongrong, niscaya kita tidak akan disubversi, tetapi sebaliknya, kita akan diinjak-injak sebagai sedia kala, diingkel-ingkel sebagai sedia kala, disumbat dan ditaléni hidung kita sebagai sedia kala, didikté, disuruh nurut saja seperti sedia kala.
Tetapi, sekali lagi saya katakan, kita ini bukan bangsa model begitu! Karena itu kita dirongrong, karena itu kita disubversi, karena itu kita dihintai, karena itu kita digerogoti dengan segala macam jalan.
Masih segar dalam ingatan kita subversi-subversi dari luar di waktu pemberontakan P.R.R.I. dan Permesta. Mereka beroperasi dari pangkalan-pangkalan di luar negeri di sekeliling kita! Ada yang dari Malaya, ada yang dari Singapore, ada yang dari Taiwan, ada yang dari Korea Selatan, ada yang dari basis asing di Philipina! Pendek-kata, seluruh pangkalan asing di sekitar Indonesia dipakai sebagai pangkalan-pangkalan subversi terhadap Indonesia, Apakah, dengan fakta-fakta yang demikian itu, tidak beralasan, jika kita waspada terhadap penggabungan-penggabungan beberapa negeri sekeliling kita, apalagi jika kita tahu bahwa penggabungan-penggabungan itu adalah proyek asing, artinya: pada asalnya bukan proyek dari rakyat negeri-negeri itu sendiri?
Malahan, apalagi jika daerah-daerah yang akan digabung itu mempunyai tapal-batas-darat-bersama dengan Indonesia? Apalagi jikalau suara Indonesia tidak digubris, – dianggap … hm hm, seolah-olah Indonesia tidak mempunyai hak untuk menilai sesuatu kejadian yang akan terjadi di muka pintu-rumahnya sendiri? Dikatakan kepada kita: "Hands off Malaysia!", dan selanjutnya Basta! Lho, seolah-olah-kita-ini anak-kecil, seolah-olah kita-ini anak yang masih umbelen!
Memang tadinya kita tahan saja segala perasaan di dalam kitapunya dada. Tetapi akhirnya uneg-uneg kita, kita tidak tahan lagi. Tetapi akhirnya kita mengambil sikap yang tegas dan jelas yaitu: Kita tidak mau menjadi penonton saja daripada segala perubahan-perubahan statusquo di sekitar kita. Kita tidak mau bersikap pasif sebagai satu bangsa yang duduk tenguk-tenguk memeluk sikut melihat kejadian di sebelah pagar.
Kita merasa tanggungjawab atas keselamatan kita sendiri. Dan untuk mempertahankan keselamatan kita itu, untuk mempertahankan integritas kita itu, kita tidak akan segan mengambil risiko apapun juga. Kita tidak akan takut bledék, tidak akan takut petir. Gunung jugrug akan kita tandangi, segara asat akan kita ladeni!
Tetapi Indonesia tidak tidak-mengutamakan penyelesaian secara damai. Indonesia tidak emoh kepada perundingan. Apalagi persoalan ini adalah persoalan antara tetangga dengan tetangga. Apalagi persoalan ini adalah persoalan "bangsa Melayu" dengan "bangsa Melayu" sendiri. Karena itu saya tempohari pergi ke Tokyo. Karena itu saya tempohari juga pergi ke Manila. Karena itu di Tokyo saya mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Tengku Abdulrakhman Putra, dan di Manila saya mengadakan perundingan dengan Presiden Macapagal dan Perdana Menteri Tengku Abdulrakhman Putra. Malah saya kirim Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio ke Manila lebih dulu, untuk mengadakan pembicaraan antara tiga menteri luar negeri kita, di kota itu. Semua itu satu bukti, bahwa Indonesia mengutamakan jalan damai, mengutamakan perundingan, untuk mempertahankan kepentingannya.
Saudara-saudara sudah mengetahui hasil K.T.T. Manila. Mengenai persoalan Malaysia, hasilnya adalah sebagai berikut:
Satu. Malaysia tidak akan dibentuk, sebelum hak penentuan nasib sendiri dari Rakyat Kalimantan Utara (Sabah dan Serawak) dilaksanakan.
Dua. Sekjen P.B.B. mengambil tindakan baru dalam penentuan hak self-determination ini sesuai dengan resolusi P.B.B. 1541 pasal 9.
Tiga. Hasil dari pemilihan yang sudah (yaitu yang diadakan oleh Inggeris tempohari) menjadi bahan-pertimbangan, sesudah mendapat penyelidikan yang saksama oleh Sekretaris – Jenderal P.B.B. mengenai segala segi.
Empat. Tawanan-tawanan, dan penduduk Sabah/Sarawak yang mengungsi ke daerah luar Kalimantan Utara harus diberi hak pula untuk mengeluarkan suara dalam penentuan selfdetermination ini.
Lima. P.B.B. akan mengirimkan team-team-pekerja untuk melaksanakan self-determination ini, sedangkan Indonesia, Malaya, dan Philipina diperbolehkan mengirim peninjau-peninjau ke Kalimantan Utara pada waktu berjalannya hak self-determination itu.
Demikianlah lima pokok hasil K.T.T. Manila mengenai Malaysia.
Apapun juga akan terjadi di Kalimantan Utara nanti, dua hal menjadilah jelas:
1. Indonesia tidak lagi diperlakukan sebagai bangsa Togog yang hanya boleh menonton saja perubahan-perubahan statusquo di daerah sekitarnya, khususnya jika perubahan itu menyangkut keselamatannya;
2. Indonesia diakui mempunyai hak dan kewajiban utama untuk menjaga keselamatan dan perdamaian di daerah itu, bersama-sama dengan negara-negara-tetangganya Philipina dan Malaya.
Demikianlah hasil K.T.T. Manila mengenai pembentukan Malaysia itu. Alhamdulillah, Indonesia ternyata bukan negeri-témpé yang mudah ditémpékan orang!
Bagaimana hasil K.T.T. itu mengenai "Maphilindo"? Sebagai berikut, saudara-saudara:
Dibentuklah "Musyawarah Maphilindo", di mana Kepala-pemerintahan, atau para Menteri, atau para petugas lainnya, dari ketiga Negara ini akan bertemu secara berkala untuk membicarakan kepentingan bersama dalam rangkaian prinsip-prinsip Bandung dan Asia-Afrika,- khususnya untuk memperhebat perjuangan menentang imperialisme dan kolonialisme.
Musyawarah Maphilindo tidak berarti bahwa Indonesia meninggalkan politiknya yang bebas dan aktif, sekali lagi saya katakan Musyawarah Maphilindo, – samasekali tidak! – malahan sebaliknya, Musyawarah Maphilindo dianggap sebagai sesuatu kekuatan daripada New Emerging Forces!
Berkat do'a saudara-saudara, K.T.T. Manila itu bolehlah dikatakan satu sukses bagi perjuangan yang progresif!
Saudara-saudara!
Sebagaimana tiap-tiap Revolusi besar, maka sejarah Revolusi Indonesia menggambar-kanlah gelombang pasang-surut dan pasang-naik yang maha-dahsyat. Kadang-kadang gelombang Revolusi itu adalah gelombang yang mengerikan, gelombang yang "nggegirisi", – gelombang yang meminta korbanan-korbanan yang amat pedih, penggempaan semangat yang tiada tara, penggolakan tekad yang menyala-nyala, penguletan jiwa yang melebihi uletnya baja. Jika saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi meminta pengabdian kepada tanah air dan pengorbanan-pengorbanan yang tak putus-putusnya kepada saudara-saudara, itu karena diharuskan oleh jalannya Sejarah.
Terutama sekali sejarahnya Abad ke XX.
Sejarah yang pernah saya namakan sejarah "bangkitnya budi-nurani manusia", sejarah yang oleh Mao Tse Tung dinamakan "Sejarah meniupnya angin Timur".
Sejarah Manusia dalam abad ke XX. Dalam abad ke XX ini Indonesia naik, Asia naik, Afrika naik, Amerika Latin naik, negara-negara sosialis naik. Ada yang menamakan abad ke XX ini Asian Century, yaitu abadnya Asia. Ada yang menamakannya African Century, ada yang menamakannya Latin American Century, ada yang menamakannya Socialist century. Semuanya adalah benar. Malah kita menamakannya juga "the Century of the New Emerging Forces". Dan – terutama sekali bagi kita – ya bagi kita -, abad ini adalah abad kita. Abad yang kita naik. Abad yang kita merdeka. Abad yang kita ber-Revolusi. Abad yang kita kembali lagi menjadi satu Bangsa otot-kawat-balung-wesi.
Itu semuanya adalah Sejarah. Tetapi Sejarah adalah buatan manusia. Kita tidak bisa menghindari Sejarah, tetapi Sejarah itu adalah buatan kita juga. Kita tidak bisa menghindari badan kita, tetapi badan kita itupun adalah buatan kita sendiri.
Karena itu, hai Bangsa Indonesia, bangkitlah terus, berjuanglah terus, gemblénglah dirimu terus-menerus.
Fajar telah menyingsing. Matahari akan terbit.
Gemblénglah dirimu terus-menerus, dadarlah tubuhmu terus-menerus, agar supaya tubuh-mu itu nanti tahan menerima sinarnya Sang Surya yang Maha-sakti!
Dalam pidato Tahun Kemenangan sudah saya jelaskan, bahwa kemenangan kita tahun yang lalu itu barulah "permulaan Kemenangan". Apa gunanja satu permulaan kalau tidak dilanjutkan? Bahkan sebenarnya, "Kemenangan terakhir" pun tidak ada! Juga jikalau kita sudah memasuki tamansarinya masyarakat adil dan makmur, kita masih harus melanjutkan perjuangan. Sebab yang adil masih harus diusahakan menjadi lebih adil, yang makmur masih harus diperjuangkan menjadi lebih makmur! Lebih adil, lebih makmur, lebih luhur, lebih indah, lebih bahagia, – tiada hentinya rantai perjuangan sesuatu bangsa yang benar-benar Bangsa yang berjuang! Dan hanya Bangsa yang berjuanglah, bisa menjadi bangsa yang Besar. Apalagi Revolusi kita-ini selalu minta lebih-ini lebih-itu saja. Revolusi kita adalah satu "revolution of rising demands", malah juga boleh disebut "revolution of exploding demands". Tuntutan-tuntutannya Revolusi kita selalu bertambah, tuntutan-tuntutannya Revolusi kita selalu meledak! Karena itu berjuanglah terus hai Bangsa Indonesia! Terus-menerus tanpa berhenti, sebagai satu Gerojogan yang maha-sakti! Sang surya akan terbit, sambutlah Sang Surya itu sebagai satu bangsa yang Berjuang!!
Terima kasih!
Civic Missions
1. Di bidang pertahanan/keamanan telah kita capai hasil-hasil yang baik dalam rangka pemulihan keamanan dari Sabang-Merauke, dan dalam rangka rangka pembebasan Irian Barat. Sekali lagi saya menyatakan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh Angkatan Bersenjata kita, yang dengan dukungan rakyat kita telah mengsukseskan tugas-tugasnya yang maha-penting.
Untuk pertama kalinya sejak Proklamasi '45 tidak ada lagi operasi-operasi militer diatas bumi Indonesia. Namun ini tidak berarti, bahwa prajurit kita sudah dapat istirahat sepenuhnya, tidak bararti bahwa perawatan dan kesejahteraannya sudah pula dapat dinormalisasikan.
Justru sekarang kita mulai menyingsingkan lengan baju untuk menanggulangi kesulitan ekonomi dengan lebih leluasa, yang berarti berjuang dan berkorban terus. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Negara dan Masyarakat, maka juga Angkatan Bersenjata dengan keluarganya tidak bisa terlepas dari serba kekurangan dan kesulitan Negara masyarakat yang sedang berjuang menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi itu. Bahkan dari itu Angkatan Bersenjata dan keluarganya harus aktif pula memanfaatkan diri ikut dalam penanggulangan-penanggulangan kesulitan-kesulitan itu.
Di tahun 1962 anggaran routine Angkatan Bersenjata memakan 53% dari seluruh anggaran penerimaan Negara, dan bersama anggaran pembangunan dan trikora menjadi 83% dari anggaran penerimaan seluruhnya.
Dalam taraf pelaksanaan Dekon ini, dengan mengutamakan program sandang-pangan, untuk routine Angkatan Bersenjata kita sediakan dalam tahun '63 dan '64 sebanyak 22,1% dari seluruh anggaran routine dan untuk routine + pembangunan sebanyak 22,8% dari seluruh anggaran routine + pembangunan Negara.
Ini sesuai dengan yang saya amanatkan dalam Ambeg Parama Arta, yakni mendahulukan apa yang penting, sesuai dengan taraf revolusi kita.
2. Dan mengenai kelanjutan tugas-tugas Angkatan Bersenjata kita sebagai alat keamanan, sebagai alat revolusi, saya telah tegaskan dalam order harian Hari Angkatan Perang tahun yang lalu, bahwa kita masih terus diancam oleh kolonialisme/imperialisme, dan karena itu kita harus terus waspada dan menggenggam senjata. Dan konfrontasi terhadap neo-kolonialisme Malaysia, proyek Inggeris, telah membuktikan bahwa kita tak boleh lengah.
Bahkan saya telah nyatakan baru-baru ini didepan SESKOAD, bahwa revolusi berarti konfrontasi terus-menerus. Ini berarti bagi Angkatan Bersenjata kita dengan seluruh rakyat konfrontasi terus terhadap imperialisme/kolonialisme dan terhadap kontra-revolusi, dengan kekompakan dan kesiagaan yang teguh baik fisik maupun mental.
Pada hari Kepolisian yang lalu saya telah amanatkan, bahwa yang harus kita amankan terus ialah revolusi kita, berarti dasar, tujuan dan haluan revolusi kita itu terhadap semua bahaya baik dari dalam maupun dari luar.
3. Di samping tugas pokok di bidang keamanan nasional itu, dalam Manipol telah ditegaskan pula, bahwa Angkatan Bersenjata dimanfaatkan juga dibidang-bidang produksi, distribusi dan kesejahteraan rakyat. Dalam order harian saya pada Hari Angkatan Perang tahun 1961 saya telah tegaskan, bahwa kerja Angkatan Bersenjata kita terus manfaatkan di segala bidang kenegaraan dan kemasyarakatan, dimana ada manfaatnya.
Maka dari itulah Angkatan Bersenjata diberikan pula tugas-tugas dalam Dekon, yakni yang disebut civic missions yang sekarang sudah digiatkan di berbagai sektor pembangunan dan rehabilitasi.
Prajurit kita tidak boleh hanya mahir memanggul bedil, tapi juga harus mahir memanggul pacul. Demikianlah prajurit yang sesuai sebagai alat revolusi.
Dan saya menyatakan penghargaan atas hasil-hasil kerja Angkatan Bersenjata kita dalam berbagai rehabilitasi daerah yang tak sedikit nilainya dan dalam hal berbagai proyek pembangunan yang sedang kita laksanakan.
4. Dalam pada itu tak boleh pula kita berhenti dalam menyempurnakan Angkatan Bersenjata kita, sebagai kekuatan yang efisien di wilayah Asia-Tenggara ini untuk menjamin kestabilan wilayah ini guna perdamaian dunia umumnya dan guna pengamanan revolusi kita khususnya.
Pada taraf program jangka pendek Dekon ini, dan dalam tahapan ke I pembangunan semesta, kita sedang membangun pula infrastruktur bagi pertahanan/keamanan kita, sambil terus meningkatkan mutu kwalitatif dari Angkatan Bersenjata kita itu.
Adapun fasilitas-fasilitas pemeliharaan sendiri dengan sekadar perindustrian yang minimal untuk itu adalah syarat yang mutlak untuk pembinaan kekuatan pertahanan kita itu.
5. Dan di bidang perorangan, sesuai dengan perundang-undangan kita yang telah ada dan terus dilengkapkan kita terus membina Pertahanan Rakyat Semesta yang berlandaskan potensi rakyat semesta, sebagaimana ditentukan dalam Ketetapan MPRS Di samping penyempurnaan kemampuan Angkatan Bersenjata sendiri, kita terus membina pertahanan dan ketahanan rakyat kita, baik dalam hal pertahanan yang aktif maupun dalam hal yang pasif atau pertahanan sipil.
Dan perlu saya tekankan, bahwa kita tidak mengadakan demobilisasi sebagaimana lazim diartikan. Yang penting ialah membuat Angkatan Bersenjata kita juga produktif melalui tugas-tugas civic atau mengalihkan kegiatan-kegiatan ke bidang-bidang produktif.
Dan para Veteran serta para demobilisasi jangan sampai mempunyai sikap sebagai bekas pejuang, jangan, bahkan justru sebagai alat revolusi, harus terus berjuang di mana revolusi kita memerlukannya, yang dalam taraf ini berarti bergiat dan bermanfaat di bidang sosial-ekonomi.
Kategori:Pidato Soekarno