Ruth Fielding at the War Front; or, The Hunt for the Lost Soldier

Chapter 8

Chapter 83,488 wordsPublic domain

Saya menunggu dan beberapa saat kemudian seorang pemuda tinggi kurus berkulit gelap melintas. Saya pun bertanya dan ia menjawab bahwa rumah Pak J berada di jalan yang dilalui oleh perempuan berambut panjang tadi. Ia menambahkan bahwa rumahnya ada di belakang musala.

Beberapa saat kemudian saya pun tiba di kediaman Pak J.

Itulah pembuka dalam Dinten keempatku, yang ditulis pada tanggal 3 April 2006, sehari setelah aku merayakan hari ulang tahun ke-27-ku. Sungguh sangat memilukan, merayakan hari ulang tahun dengan melarikan diri dari sebuah Pesantren yang menyiksa batin.

Dinten yang pertama ada di rumah kakakku di Tangerang. Buku kedua -- yang menceritakan pelarianku ke Ciamis -- disembunyikan di bawah kasur di kamar depan di Ciamis, di rumah bibiku, tempat aku kabur untuk pertama kalinya. Sementara Dinten ketiga -- yang menyimpan catatan di Pesantren R -- raib entah ke mana setelah dipinjam oleh Andi (kami adalah sahabat baik, sehingga wajar jika kami saling pinjam-meminjam barang, lagi pula ia juga sering menunjukkan tulisan-tulisannya kepadaku).

Di musala -- tempat yang ditunjukkan oleh pemuda tinggi kurus itu -- aku bertemu dengan tangan kanan Pak J, namanya Achmad. Olehnya aku disuruh menunggu di ruang tamu. Tak berapa lama kemudian Pak J datang dan kami pun berbincang-bincang sejenak. Ia cukup ramah dan aku menyambutnya dengan suka cita.

Perlakuan di Pesantren R takkan terulang di sini. Aku diantar ke dipan yang akan menjadi tempat tidurku. Ia menunjukkan di mana aku bisa mengambil air wudu dan mandi. Ia dengan bangga menunjukkan dua sapi peliharaannya yang gemuk-gemuk. Aku berjalan-jalan hingga ke ujung halaman belakang rumahnya, yang waktu itu belum berpagar. Di sana terletak hamparan persawahan yang luas. Di dekat kaki tempat aku berpijak mengalir sebuah parit yang deras aliran airnya.

Aku melihat dua orang pasien lelaki sedang membersihkan kolam pemandian. Kutanya siapa namanya, asisten Pak J yang lain -- yang kemudian kukenal bernama Eko -- menjawab bahwa namanya Chan-Chan dan Ikhsan. Mereka begitu serius bekerja sehingga tak malihat ke arahku. Aku menawarkan bantuanku, tapi kata sang asisten itu: “Tidak usah, istirahat saja”.

“ Rumah kamu di mana?”, tanyanya.

“ Di Tangerang,” jawabku.

“Jauh sekali. Dengan siapa kamu ke sini?”

“Sendirian,” timpalku.

Ia nampak tak percaya, dan aku merasa sulit untuk menjelaskannya pada kali pertama. Akhirnya kubiarkan kesalahpahaman itu mengambang. Nanti juga ia akan tahu, begitu pikirku.

Petirahan Pak J punya 4 kurungan berjeruji besi yang -- karena kecilnya -- lebih mirip kandang binatang daripada tempat tidur untuk manusia. Di kandang itu, tinggal Ikhsan, Siti, Rohmah, dan yang datang kemudian, Fajar. Aku berkenalan dengan mereka berempat, termasuk dengan Fajar yang tangannya dikerangkeng karena sebelum di bawa ke sini, ia mengamuk di rumah.

Ikhsan kondisinya paling baik daripada tiga pasien lainnya. namun orangnya sangat sulit diajak bicara. Ia amat pendiam. Aku lebih banyak berbicara dengan Siti yang lebih punya daya sosial yang lebih baik. Sedangkan Chan-Chan adalah pasien yang istimewa. Ia dibiarkan di luar kurungan. Ia tidur seruangan denganku di atas dipan yang berbeda. Chan-Chan hanya menjawab singkat-singkat ketika kutanya. Badannya tidak terlalu besar namun ia tegap, konon karena ia rajin bekerja membantu-bantu Pak J dan tetangganya yang ada di sekitar situ. Kulitnya putih kekuningan karena ia memang seorang Tionghoa. Ia seorang muslim, walaupun karena penyakitnya ia tak pernah salat. Kita harus menghargai orang bagaimanapun penyakitnya, itulah kata hatiku.

“Sudah setahun ia di sini,” begitu kata Riswan.

Riswan adalah mantan pasien di petirahan ini, yang kini sudah sembuh. Ia kemudian menjadi sahabatku yang paling dekat di Petirahan Pak J. Ia menceritakan segala permasalahannya kepadaku: Ia adalah seorang pengangguran. Istrinya minta cerai karena ia tak pernah menafkahi keluarganya. Riswan menjadi pening memikirkannya. Ia adalah seorang tukang bangunan, yang bekerja jika ada order. Sejak ia sakit parah hingga telanjang bulat dan berkelana di jalan-jalan, Riswan tak pernah ada lagi yang mengajaknya bekerja. Kini ia sudah sembuh. Sudah cukup baik untuk dapat bekerja seperti dulu. Tapi tak ada lagi yang mau mempekerjakan dia. “Mantan orang gila,” demikianlah orang-orang kampung menggunjingnya. Kini kerjanya hanya lontang-lantung tak keruan juntrungan. Rumahnya dekat, karena itu ia datang tiap hari ke kediaman Pak J.

“Saya rindu kasih sayang istri saya,“ demikian dambanya.

Aku tak bisa menolong. Hanya mencoba menjadi pendengar setia semua keluhannya.

Tanpa terasa hari beranjak senja. Lalu datang malam. Kami semua tidur hanya dengan diterangi lampu 5 watt. Suara katak dan burung malam saling bersahut-sahutan. Aku terbangun dua kali, keluar, dan melihat malam yang tak berbintang. Kiranya hal itu adalah pertanda bahwa di sini aku akan menghadapi tantangan baru. * *

Rabu, 5 April 2006. Pukul 04.03 WIB. Di dipan Chan-Chan.

Saya terbangun pukul 02.35 dini hari karena mendengar ratapan Siti. Ia marah-marah lalu menangis keras-keras. Marah-marah lagi dan menangis lagi. Ia berbicara dalam Bahasa Jawa. Saya tidak memahami kata-per kata namun saya dapat menangkap maksudnya secara keseluruhan. Ia mengeluh kalau ia selalu dibuang oleh keluarganya. Ia telah tiga kali ditinggalkan di Banyumas (maksudnya Bangsal Psikiatri RS Banyumas). Ia juga tidak mengerti mengapa ia dibawa ke sini (ke rumah Pak J).

Saya mendengarkan terus namun keluhannya berhenti saat saya mendengar ada suara siraman air dari ember ke tubuh Siti. Lalu terdengar suara Pak J: “Setan!” Seketika itu juga Siti berhenti menangis. Ia diam membisu dan sepertinya ketakutan.

Stigma ada di mana-mana. Kini saya tahu itu. Di Internet pernah saya baca sebuah peringatan: Stigma will follow you everywhere. Namun saya sudah lupa siapa yang mengatakannya. Perlakuan terhadap Siti memang tidak manusiawi, untunglah [di sini] saya tidak mengalaminya.

Hari Senin malam lalu (3/4) saya memberinya selimut dan bantal agar ia bisa tidur lebih nyaman. Saya memberinya losion anti nyamuk .... Saya juga memberinya roti berisi meises dan kue rasa strawberry. Namun apa mau dikata, saat saya tidur, Pak J mengambil paksa selimut dan bantalnya.

Esok harinya Pak J menanyakan apakah saya memberikan selimut dan bantal kepadanya. Saya mengiyakan. Ia mengatakan agar jangan memberikannya selimut dan bantal lagi. Ia berujar, “Semalam juga saya siram, biar basah” (dengan demikian ia telah disiram dua kali, hari Senin malam dan Rabu dini hari). Saya tidak mengerti apakah perlakuan demikian dapat menyembuhkan. Seperti yang sudah saya tulis di Pesantren R (dalam Dinten ketiga), perlakuan buruk malah akan memperparah penyakit dan bukan menyembuhkannya. Itulah sebabnya saya lari dari Pesantren R .

“Siti, sabar ya, Tuhan menginginkan agar aku dan engkau menjadi orang yang tabah dan tahan uji”.

Karena halaman rumah Pak J cukup luas dan tiap pagi penuh dengan guguran daun-daun maka aku memutuskan kegiatan rutinku di sini adalah menyapu halaman, walaupun tidak ada yang menyuruhnya.Kulakukan tugasku dengan senang hati sebagai balasan keramahan Pak J kepadaku, meski aku tetap khawatir akan kondisi perawatan di sini.

Terus terang perlakuan terhadap pasien-pasien yang “dipenjarakan” membuatku pilu hati. Aku tak dapat membayangkan tinggal di dalam ruangan 1X2 meter dengan kebebasan yang sangat terbatas dan dengan cacian di pagi harinya jika pada malam harinya mengoceh. Mengapa pasien yang aktif berbicara tidak dibiarkan saja? Itu adalah bagian dari penyakitnya. Mereka perlu diperingatkan dengan kata-kata santun jika memang hal itu tidak berkenan di hati para pengobat di sini. Bukannya dengan memaki.

Nampaknya jarang sekali orang yang menganggap bahwa perkara semacam “pemenjaraan” dan “kata-kata kasar” terhadap orang dengan gangguan jiwa adalah pelanggaran hak asasi manusia. Mereka berhak akan tempat dan perlakuan yang layak. Mereka adalah manusia juga yang mendambakan welas-asih. Aku melawan secara halus. Aku tetap mengajak para pasien-pasien yang “dipenjara” itu mengobrol meski hal itu ditabukan oleh Pak J dan para asistennya. Mereka juga punya unek-unek yang takkan pernah terungkapkan jika tak ada yang bisa mereka ajak bicara. Sedikit demi sedikit mereka mengutarakan mengapa mereka bisa sampai dirawat di rumah Pak J.

Siti adalah lulusan Aliyah. Ia mulai menderita gangguan kejiwaan setelah adiknya tewas tenggelam di sungai. Keluarganya adalah dari golongan orang miskin. Di tengah himpitan ekonomi keluarga ia terpaksa bekerja sebagai pembantu rumah tangga di daerah Bekasi. Ia mengalami penyiksaan. Ia tak tahan, lalu berhenti bekerja begitu saja. Sejak saat itu penyakitnya semakin parah dan akhirnya sering berbicara kepada suara-suara yang tidak jelas wujudnya. Ia tidak mengerti, tiba-tiba ibunya membawanya ke Bangsal Psikiatri RS Banyumas padahal ia hanya mengungkapkan penderitaannya kepada yang mengajaknya berbicara. Ia punya luka batin yang perlu dibagi dengan orang lain. Apa mau dikata, ibunya tak mau tahu. Setelah tiga kali bolak-balik ke RS Banyumas, ia dibawa pulang; dan setelah di rumah beberapa lama, ia dibawa ke kediaman Pak J dan langsung dikurung serta hanya sesekali dikeluarkan.

Rohmah adalah seorang ibu yang memiliki banyak anak. Ia terlalu sibuk mengurusi anaknya sehingga ia lupa bahwa ia juga punya kebutuhan. Hingga pada suatu waktu, karena letih mengurusi anak-anaknya, maka ia pun menghibur dirinya dengan berjalan-jalan ke kampung-kampung terdekat. Suaminya tidak suka ia meninggalkan anak-anak mereka begitu saja, ia memarahi istrinya itu. Namun Rohmah tetap bersikukuh bahwa ia juga butuh hiburan. Suaminya tetap ngotot, ia memarahinya lebih keras. Rohmah tetap pada pendiriannya. Suaminya kali ini bertindak biadab, ia memukulinya.

Pemukulan itu berlangsung tiap kali Rohmah melawan suaminya, hingga tak terhitung jumlahnya. Rohmah merasa batinnya sangat letih. Akhirnya ia sering duduk melamun sendirian, mulai berbicara kepada suara-suara yang mendatanginya. Suaminya tak juga menghentikan kekerasannya bahkan setelah Rohmah berubah menjadi seorang yang depresif.

Rohmah mulai mengabaikan anak-anaknya dan sibuk dengan suara-suara yang mendatanginya itu. Maka aksi pemukulan pun bertambah hebat, dan gangguan kejiwaannya bertambah parah. Hingga akhirnya saudara-saudaranya memutuskan untuk membawanya ke rumah Pak J untuk diobati. Ketika suaminya datang menjenguknya, ia tak berbicara sepatah kata pun terhadapnya. Padaku, setelah suaminya pulang, ia mengatakan bahwa gigi depannya yang patah adalah tanda bahwa memang benar ia dipukuli suaminya.

Perlulah kiranya aku mengatakan hal ini: bahwasanya jika kita bersedia dengan tulus untuk mendengarkan, penderita gangguan jiwa yang sedang akut pun dapat menuturkan apa yang mereka alami walaupun untuk mengetahui hal itu kita perlu mengajaknya berbicara secara lebih intens, karena bagi mereka sendiri derita yang mereka alami telah meluap melebihi kemampuan bahasa yang mereka punya. Tetapi jika kita mau, kita dapat menggali apa yang pernah mereka alami sebelumnya karena di belakang “keterbatasan” atau bahkan “penyimpangan” bahasa itu terdapat juga kisah hidup yang runtut. Di balik kekacauan terdapat keteraturan.

Saya tidak menyukai sikap Pak J yang menolak untuk mengajak berbicara pasien-pasien itu hanya karena penyakit mereka lebih parah dariku. Walhasil, para pasien yang dikurung itu -- termasuk Chan-Chan, Fajar dan Ikhsan yang lebih sulit ditanya -- tak pernah tersembuhkan dan pengobatan penyakitnya tak pernah mengalami kemajuan. Sekali lagi, pada saat itu dan pada saat aku menuliskan kalimat ini pada tahun 2008, aku mendambakan adanya perpaduan antara pengobatan medis yang sangat menganjurkan psikoterapi dengan pengobatan agamawi yang merekontruksi kembali sisi spiritual sang pasien. Sayangnya pengobatan seperti itu sangat langka ditemui, bahkan hampir-hampir tidak ada. Saya sangat menyesalkan hal itu.

Asisten-asisten Pak J, Achmad dan Eko, juga sering menegurku jika aku berbicara dengan pasien-pasien yang dikurung itu. Aku bergeming. Aku tak peduli dan tetap melakukannya di lain waktu di kala mereka tidak menyaksikanku. Setiap orang dengan masalah kejiwaan punya hak untuk berbicara mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara bebas, apalagi jika hal itu membantu kesembuhan mereka.

Dunia ini tak bisa menghargai keberadaan orang lain, orang-orang yang dihargai hanyalah mereka yang punya jabatan tinggi atau harta yang banyak. Lalu siapakah aku, manusia berpenyakit mental yang hina- dina, miskin dan dianggap berada di luar lingkaran garis batas apa yang disebut dengan ‘dunia yang normal’. Aku bukanlah siapa-siapa, oleh karena itu aku selalu saja diperlakukan tidak adil, walaupun di tempat petirahan.

Demikianlah, maka setelah beberapa lama aku tinggal di Petirahan Pak J, aku mulai dikata-katai ‘gila’, ‘sinting’ dan ‘saraf’. Mereka tetap menggunakan kata-kata dan model hinaan yang digunakan oleh orang Jakarta. Satu hal yang kelak kusimpulkan dalam Dinten (April 2006) tentang Sindrom Jakarta, yaitu kebiasaan buruk yang mengarah ke psikopatologi masyarakat yang bertindak menghina orang lain dengan kata-kata seperti yang diucapkan oleh orang Jakarta. Posisi Jakarta yang terlampau penting dalam segala urusan membuat sindrom tersebut menyebar hingga ke luar daerah ibukota Indonesia itu. Sejauh ini aku telah bepergian ke empat provinsi di Jawa dan kata-kata itu masih tetap saja ada. Aku juga pernah mendengar kata-kata itu dari kakak ipar perempuanku yang datang dari Jambi, padahal Jambi ada di Sumatra; ternyata psikopatologi tak mengenal batas geografis. Maka pada tanggal 17 April 2006 pun aku mencatat:

Saya merasa dunia ini runtuh, dan saya hampir pingsan. Tidak ada hal lain yang dapat saya lakukan selain berlari menghindarkan diri untuk menghilangkan pedih di hati. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan orang-orang di zaman ini. Mereka tak dapat lagi menghargai keberadaan dan perasaan orang lain.

Demikianlah, saya mengalami perlakuan yang sama seperti di Pesantren R. Meraka mencemooh saya dan sama sekali tidak menghargai kebaikan saya. Mereka sama sekali tidak tahu bahkan tidak mengerti bahwasanya saya gagal sembuh selama tujuh tahun karena perlakuan yang semacam itu....

Jika saja earphone saya tidak ada yang merusak dan baterai Walkman saya tidak lemah, mungkin saya bisa lebih bertahan. Dengan terpaksa hati saya terluka karena harus mendengar kata-kata kasar sepanjang siang dan malam. Termasuk di kebun bambu ini.

Saya bersumpah, jika saya gagal sembuh kali ini, akan saya teror orang-orang yang menjadi penghalang semua ini. Agar mereka turut merasakan bahwa hidup yang gaduh gelisah adalah hidup yang dekat dengan kegilaan.

May God crush this hell apart apiece. * *

Dan akhirnya setelah bertahan selama lebih dari sepuluh hari, aku memutuskan hal di bawah ini:

Saya minggat dari Petirahan Pak J pada hari Jumat pukul 02.40 dini hari, setelah sebelumnya menginap di Mesjid YaBAKII. Saat saya kembali ke runmah Pak J untuk mengambil tas, saya mendengar Bu J mencemooh,”Pih, gila!” (inilah cemoohan yang membuat saya kabur dari Pesantren R).

Di dipan saya ada orang yang sedang tidur. Keadaan gelap, karena lampu dimatikan, saya tak bisa melihat wajahnya. Dari bentuk kakinya yang gempal, tampaknya itu Riswan. Saat saya mulai mengangkat tas, ia terbangun; mengambil selimut di sampingnya, mengemuli tubuhnya.

Saya menghentikan aksi saya. Saya beranjak ke dipan Chan-Chan, menunggu beberapa lama. Sementara itu Bu J terus melontarkan cemoohannya. Terdengar pintu pemisah antara ruang makan dan dapur dibuka. Saya menghindar dengan pergi ke luar, karena tahu siapa pun itu akan berjalan ke kamar mandi atau ke dapur, sseraya menghina. Achmad yang menginap di rumah Mbah [orang tua Pak J, yang rumahnya terletak di sebelah rumah Pak J] tampaknya juga terbangun, demikian pula adik Pak J (anak Mbah yang bungsu). Mereka mengucapkan cemoohan seperti biasanya.

Di teras samping, saya mengintip melalui lubang kusen jendela. Bu J tampak berjalan ke kamar mandi, lalu kembali. Saat kembali, ia mengucapkan uan “Gila!” Kemudian Eko terlihat ke kamar mandi; dari suaranya ia nampaknya berwudu. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Saya kembali masuk dan ke dipan saya. Riswan, atau siapapun itu, sudah tertidur kembali. Demikian pula Chan-Chan, yang tadinya terbangun, karena -- atas ulah sengaja seseorang -- menyimpan ember bekas cat yang besar di belakang pintu. Sehingga ketika pintu dibuka dari luar, suaranya akan berisik dan membuat orang yang dekat dengannya terjaga (dipan Chan-Chan adalah dipan yang terdekat dengan pintu).

Saya mengangkat tas, berhasil! Ia tidak terbangun. Lalu agar tidak berisik, saya menjinjing sendal plastik Bata saya. Saya berjalan hati-hati sekali agar tidak menimbulkan bunyi. Lontaran cemoohan dari Bu J dan Achmad dan adik bungsu Pak J masih terdengar. Saya melintasi sisi halaman luas rumah Mbah. Namun ketika berjalan di tanah berumput Jepang di samping musala, langkah saya terdengar juga.

Hujan masih jatuh rimis. Saya melintasi samping rumah Pak Warno dengan perlahan sebab tanahnya lembek dan becek. Saya berjalan terus melintasi gang tanah yang berada di antara rumah-rumah sederhana. Langkah saya tujukan ke musala yang sedang dibangun. Di sana saya mencuci kaki dan menautkan resleting tas saya yang masih terbuka. Saya tak khawatir untuk berisik di sini. Ketakutan saya di sini lebih minim.

Saya berjalan lagi. Sambil berjalan saya berpikir, apa yang harus saya katakan jika orang-orang di terminal atau stasiun bertanya mengapa saya tak punya ongkos? (Waktu itu saya belum memutuskan apakah saya akan naik bus atau kereta). Saya akan menjawab bahwa saya ditodong. Kemudian di perempatan jalan yang tiangnya berlampu, saya menyembunyikan dompet saya. Agar ketika diperiksa, dompet itu tak akan mereka temukan, sebagai tanda bahwa saya memang telah kecurian.

Namun sambil berjalan saya berpikir lagi, bahwa kecurian adalah hal yang terlampau umum dan akan dengan mudah dianggap sebagai dusta. Saya kira, yang paling tepat adalah bahwa saya datang berkunjung ke rumah saudara dan saya diusir. Ini lebih mudah terterima. Mengenai alasan pengusiran itu, saya akan mengatakan bahwa itu stigma akibat saya sakit jiwa. Alasan ini lebih masuk akal dan lebih kuat.

Tanpa dinyana, saya bertemu dua petugas jaga malam di jembatan yang sungainya mengarah ke Pesantren R. Petugas yang gemuk bertanya dalam Bahasa Jawa, saya tidak mengerti. Ia lalu mengganti pertanyaannya dengan Bahasa Indonesia. Lalu saya menjawab dengan dusta: bahwa saya harus kembali lekas-lekas ke Jakarta karena ayah saya meninggal. Saya bertanya apakah bus Sinar JJaya yang ke Jakarta ada yang berangkat pagi-pagi. Ia mmendahak (saya tersinggung sekali) lalu ia menjawab tidak ada. Ia menyarankan untuk pergi ke Purwokerto karena di sana adalah terminal besar yang memiliki bus ke segala jurusan.

Saya bertanya lagi, bagaimana dengan Wangon? Ia menjawab jangan ke sana, di sana busnya jarang. Sementara pembicaraan itu berlangsung, terbetik dalam pikiran saya, saya akan naik kereta saja, karena Purwokerto terlalu jauh.

Entah jam berapa saya tiba di tepi jalan bes ar. Saya menunggu di depan warung beberapa lama. Coca-Cola Sprite, Fanta yang terlihat di warung mie di depan warung itu telah hampir meruntuhkan iman saya. Saya lapar dan sangat dahaga. Namun gembok yang mengunci pintunya telah membuyarkan hasrat mencuri itu.

Aku pergi ke Maos dengan naik bus, tanpa membayar, aku mengaku kehabisan uang. Dari Maos aku naik kereta tapi menuju Bekasi. Di dalam kereta, dengan perjalanan seharian, aku tersiksa sekali. Selain rasa dahaga yang amat sangat, aku juga sangat lapar; aku tak makan dan minum semenjak kemarin siang. Aku berharap ada yang berbaik hati memberikan makanan atau minumannya kepadaku, namun itu tak terjadi. Untuk meminta secara terus-terang, aku terlalu malu. Lagipula, orang-orang di sekitarku, yang menghinaku di sepanjang perjalanan itu akan lebih keras lagi menyerangku, jika aku mengemis makanan atau minuman kepada orang lain.

Aku tak tahu jam berapa saat tiba di Bekasi, aku tak peduli. Jam tanganku telah ditukarkan dengan karcis kereta ketika di Maos. Karena petugas di sana yang melakukan pemeriksaan, mengancam bahwa aku akan diturunkan di tengah jalan jika tak punya karcis. Aku terpaksa merelakan jam tanganku satu-satunya.

Akhirnya aku tiba di rumah kakak ketigaku setelah aku mengaku kecopetan pada supir angkot. Aku sama sekali tak punya uang untuk pulang ke Tangerang. Untuk sementara ini, aku akan tinggal di Bekasi hingga aku diberi uang oleh keluargaku. Ayahku menyambutku, namun tidak kakak ketiga dan kakak iparku, mereka nampak sebal sekali memandangku. Kakak iparku mencibirkan mulut saat aku menceritakan kisah pelarianku. Aku ingin meninju mukanya namun untungnya hawa nafsuku itu masih dapat kutahan. Tak ada empati hari itu, selain dari Ayah yang berbicara seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Ia meminta maaf, uang pensiunnya sudah habis. Aku tak bisa pulang ke Tangerang dengan segera. Aku masih harus menunggu hingga awal bulan. Para tetangga ramai mengata-ngataiku. Bila sudah begitu, aku diam tak bergerak. Aku berusaha meredamnya dengan cara menyetel radio dengan earphone yang kebetulan tergeletak di samping radio itu. Tapi apa mau dikata, suara mereka tetap dapat menembus dan melewati speaker earphone yang kupasang lekat-lekat di telingaku.

Cahaya yang datang sekilas - 2006

Setelah aku diberi uang oleh Ayah pada awal bulan, aku kembali ke Tangerang. Dan ketika aku tiba di Tangerang, orang-orang di sekelilingku semakin gencar mengataiku ‘gila’. Tetangga di depan rumahku bahkan berteriak keras-keras untuk menghukumku karena telah berani kabur dari sebuah tempat petirahan yang seharusnya aku turuti aturannya, bagaimanapun buruknya.

Beberapa hari kemudian (30 Mei 2006) datanglah telepon yang mengabarkan musibah, mertua kakakku meninggal setelah terserang gangguan jantung. Aku tinggal di rumah sendirian menahankan derita yang tak tertanggungkan lagi. Aku harus mencari jalan, pikirku, aku harus sembuh, dan kukira ada baiknya jika aku meminta saran dari ahlinya.

Aku menelepon dr. Ferdi pada malam hari setelah semua orang pergi ke Karawang, ke rumah mertua kakak pertamaku. Ia menyarankan agar datang menemuinya di RSCM pada keesokan harinya. Aku merasa bahagia akan dapat bertemu dokterku yang dulu, yang tahu sejarah diriku. Maka aku pun dengan antusias berangkat ke rumah sakit itu pada saat subuh keesokan harinya (31 Mei 2006).

Aku bercerita panjang lebar, dr. Ferdi mendengarkanku dengan penuh perhatian. Lalu ia membuat kesimpulan: pertama, obatku harus diganti dari Haloperidol menjadi Risperidone; kedua, aku sangat dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit dengan segera jika tak ingin terjatuh ke jurang penyakit yang semakin dalam; ketiga, gunakanlah Kartu Sehat yang kupunya untuk mengurus perawatan, karena keluargaku telah keluar banyak uang untuk membiayai perawatanku.

“Uruslah surat-suratnya sendiri jika keluarga menolak untuk mengurusnya,“ demikian dr. Ferdi. Ia memberikan semacam surat yang isinya menyatakan bahwa aku perlu perawatan segera untuk meyakinkan keluarga dan memperlancar pengurusan surat-suratku. Aku berterima kasih padanya karena ia masih saja santun dan baik hati. Aku merasa beruntung punya dokter sebaik itu.

Dua hari kemudian (2 Juni 2006) aku masuk ke perawatan bangsal Psikiatri RSCM untuk yang kedua kalinya. Suster Reni yang sedang bertugas masih mengenaliku. Pak Suryana yang baik juga menyambutku. Aku merasa gembira diperlakukan sebagai manusia, walaupun sebenarnya aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah orang berpenyakit kronis yang sukar sembuh. Para perawat di sana, terutama Suster Diah, menasehatiku agar aku jangan berputus asa: harapan masih terbentang luas di depan, masa depan masih terbuka lebar.