Ruth Fielding at the War Front; or, The Hunt for the Lost Soldier

Chapter 6

Chapter 63,450 wordsPublic domain

Sebelum kuceritakan mengenai perkara Yayan ini lebih lanjut, aku ingin mengatakan mengapa aku menceritakan semua itu. Yayan adalah kakak yang paling dekat usianya denganku dan kami juga tinggal bersama lebih lama dibandingkan dengan kakakku yang manapun. Apabila ada sesuatu yang terjadi, kami saling mengetahui, baik dari gerak-laku ataupun karena saling berbicara. Karena itu, ketika aku menderita gangguan jiwa, selain Ibu, Yayan adalah orang yang paling sudi mendengarkan omonganku. Meskipun ia adalah orang yang berangasan, namun ia sering memberikan nasehat yang jujur dan apa adanya. Hal inilah yang menjadi sesuatu hal berharga yang terus kukenang bahkan setelah ia pergi jauh.

Sayang sekali peristiwa di bawah ini terjadi. Aku seringkali mereka-reka dalam angan-angan, apa yang akan kami alami seandainya persitiwa di bawah ini tidak terjadi. Mungkin kondisiku akan lebih baik jika memiliki seorang kakak lelaki yang dekat di hati.

Waktu itu tahun 2003, aku sedang dirawat di RS Marzoeki Mahdi . Yayan sedang berada di rumah kakak ketigaku di Cibitung, Bekasi. Entah bagaimana semuanya berawal, tapi terjadi pertengkaran hebat antara Yayan dan kakak ketigaku. Pertengkaran ini mencapai puncaknya dan Yayan kali ini sudah tidak tahan. Kali ini ia memilih untuk pergi saja dari rumah itu. Saat itu rumah orang tua kami sudah dijual, sehingga selama berhari-hari kami tidak tahu ke mana Yayan pergi. Kabarnya baru kami ketahui setelah ia datang ke rumah kakak pertama kami di Tangerang dan menceritakan segalanya. Ia kini mengaku tinggal di perumahan tempat tinggal kami dulu di Kecamatan Babelan, Bekasi, bersama kawan-kawan setianya. Karena kawan-kawannya itu adalah teman dalam kehidupan sehari-hari di masa silam, maka ia tak punya kesulitan untuk beradaptasi dan bergabung lagi dengan mereka.

Tapi kepada kakak pertamaku Yayan mengungkapkan niat baiknya. Ia tidak mau lagi bergantung kepada kakak-kakaknya dan Ayah. Ia ingin memulai usaha yang mandiri. Ia meminta modal berdagang kepada kakak pertama kami dan ia memberikannya.

Ketika aku telah keluar dari RS Marzoeki Mahdi, kami mengunjunginya di perumahan itu dan memang warung itu benar-benar ada. Menurutnya dagangannya cukup laris, walaupun satu warung besar tidak suka ia berdagang di situ karena merasa tersaingi. Yayan pada waktu kami datang mengeluh karena kakinya bengkak. Namun ia tetap melanjutkan berdagang karena menurutnya itu adalah penyakit biasa saja. Mungkin karena ia tidak tidur di dalam rumah. Yayan merasa malu kepada orang tua kawannya jika ia menginap di dalam rumah. Maka ia hanya tidur di kursi panjang yang terletak di teras di salah satu rumah kawannya.

Pada bulan puasa tahun itu tiba-tiba saja Yayan datang ke rumah dan mengeluh dadanya sesak. Kami membelikannya Digoxin, obat yang pernah diresepkan oleh dokter di mana ia pernah berobat. Namun keadaannya semakin parah. Pada hari Lebaran tahun itu ia tak bisa bangkit dari tempat tidurnya. Kami kemudian membawanya ke seorang dokter di daerah Pademangan, Jakarta Utara. Yayan menyatakan tidak kuat tinggal di Bekasi karena udaranya terlampau panas. Maka ia pun dibawa ke Tangerang, ke rumah kakak pertamaku.

Kondisinya stagnan. Ia tidak semakin sehat ataupun memburuk. Dokter di Pademangan itu melarang Yayan untuk makanan yang dimasak dengan menggunakan garam. Namun Yayan membandel. Katanya masakannya tidak enak jika tak pakai garam. Aku selalu melarangnya melakukan hal itu. Akan tetapi ia tetap saja melakukannya. Karena aku tidak minum obat selama menunggui Yayan (antipsikotik menyebabkan kantuk sehingga apabila aku meminumnya, aku tak dapat menjaga kakakku itu) maka aku hanya tidur satu atau dua jam saja selama sehari semalam.

Pada suatu dini hari yang sepi, aku terbangun pukul tiga dan duduk di kursi untuk menunggu pagi. Semua orang masih terlelap dalam tidurnya masing-masing. Aku memandang Yayan, ia tidur menyamping, seperti biasanya. Waktu pun berjalan merambat hingga akhirnya pagi datang jua. Kakak pertamaku secara tiba-tiba meminta agar Yayan dibangunkan. Aku membangunkannya dengan menepuk pundaknya. Tapi ia tak bangun. Kutepuk sekali lagi, namun ia tak bangun juga. Kakak pertamaku menghampiri dengan tiba-tiba dan mengguncang-guncangkan tubuhnya secara perlahan namun ia tetap tak bangun juga. Ia membalikkan tubuh Yayan. Alangkah kagetnya kami karena tangan dan kakinya terlihat kaku. Ia memanggil namanya. Namun ia tak jua bangun. Maka sadarlah kami bahwa ia telah tiada.

Kakak pertamaku menjerit pilu. Ia menangis keras-keras. Tangisnya didengar oleh para tetangga sekitar rumah. Mereka masuk ke rumah kami dan berkerumun di sekitar Yayan. Salah satu tetangga memeriksa nadinya dan berkata bahwa tak ada denyutnya. Ia meraba telapak kakinya, masih hangat. Ia belum lama pergi.

Seorang tetangga yang lain memanggil ustadz setempat untuk memastikan keadaannya. Setelah memeriksa ia memastikan bahwa Yayan memang sudah tiada. Kakak pertamaku menangis histeris. Ia tak percaya adiknya yang satu itu telah pergi jauh meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Aku terguncang. Aku pernah ada di samping Ibu ketika ia sakaratul maut. Dan nafasnya dapat kudengar sangat jelas. Aku ada di samping Yayan dalam saat-saat terakhirnya. Namun tak kudengar nafas yang memburu seperti pada Ibu. Yayan meninggal dalam tidurnya. Aku hampir-hampir tak percaya. Ia yang begitu keras dan kasar, telah wafat dengan demikian tenangnya, hingga tak mengeluarkan keluhan sedikit pun.

Hatiku bertambah kelabu. Baru setahun aku kehilangan Ibu, kini aku harus kehilangan kakak lelaki yang paling dekat denganku. Sungguh, aku tak menyangka. Kepergian Yayan masih tergambar jelas di dalam angan-anganku. Hingga saat ini aku masih sering membayangkan sosoknya, gaya bicaranya, dan sikapnya yang kadang kasar namun menunjukkan kejujuran seorang kakak yang mengasihi adiknya yang sedang sakit. Segala kata-katanya—di antaranya adalah, “Jangan menunggu bergaul hingga usia tua, bergaullah sekarang”—akan kuingat selalu. Seburuk apapun kelakuannya ia akan senantiasa kukenang dan tak akan pernah kulupakan.

Yayan dikuburkan di komplek pemakaman dekat rumah kakak pertamaku. Sama seperti Ibu.

Bekerja untuk pertama kalinya - 2005

Dua tahun setelah Yayan meninggal, kesunyian hati dan riuh halusinasi masih saja menyelubungi hidupku. Telingaku hanya berhenti mendengar ejekan jika aku sedang tidur. Selebihnya adalah siksaan. Terlebih-lebih di rumah, aku tak punya kawan bicara. Kakakku terlalu sibuk bekerja. Semua keponakanku, kecuali yang paling kecil, kerapkali mengataiku ‘gila’. Mereka tak pernah mau berbicara panjang-panjang denganku. Aku pikir aku harus punya jalan keluar, dan kebetulan kakakku memiliki solusinya.

Salah satu kantor pemerintahan membutuhkan office boy untuk posisi yang lowong karena seorang pegawai yang lama telah mengundurkan diri. Aku melamar ke sana dan aku langsung diterima karena seorang tetanggaku merekomendasikanku. Pada hari itu juga aku mulai bekerja. Ofice boy di kantor itu kebanyakan bekerja bersih-bersih pada malam hari, saat para karyawan staf sudah pulang, dan juga pada pagi hari saat para pekerja kantor belum datang. Kebanyakan ofice boy di sana menginap di kantor itu untuk menghemat ongkos. Gajinya demikian minim, sehingga bagi yang berkeluarga, gaji itu tidak berarti apa-apa. Untuk mencari penghasilan tambahan mereka tak bisa, sebab mereka harus bekerja secara penuh di kantor itu. Aku belum berkeluarga, bagiku gaji tak masalah, asalkan aku mendapatkan terapi dukungan (supportive therapy) dari lingkungan kerjaku. Aku ingin meluaskan sisi sosialku.

Aku ditempatkan di Gedung A-1 tempat Deputi, para Asisten Deputi dan karyawan lainnya bekerja untuk masalah politik dalam negeri. Kebetulan, ruang office boy-ku adalah juga kantin di gedung itu. Kantin itu dimiliki oleh pasangan kerjaku yang bernama Muji. Maka selain bersih-bersih, pekerjaanku juga melayani para pembeli di kantin itu. Kantin itu sebenarnya kecil. Namun karena kantin itu posisinya strategis, maka setiap harinya ramai dikunjungi orang. Secara perlahan-lahan aku mulai mengenal banyak orang. Hatiku senang sekali memiliki banyak kawan. Para satpam, supir, dan ofice boy lain menjadi kawanku.

Kami berbicara apa saja mulai dari agama hingga seks bebas. Karena tekanan kawan-kawanku di sana, aku merokok. Walaupun bagiku rokok itu hambar rasanya, aku tetap melakukannya. Persahabatan jauh lebih tinggi nilainya daripada sebatang rokok. Persahabatan harus dipertahankan walaupun ada sesuatu yang “terpaksa” dilakukan. Aku ingat Yayan yang tuberkolosis. Namun bukankah lebih baik tuberkolosis tetapi punya banyak kawan daripada tidak merokok tapi hanya mengenal segelintir orang yang menyebalkan?

Aku bekerja serajin mungkin. Beberapa orang bahkan berkomentar bahwa aku “terlalu rajin”. Aku ingin menjadi pekerja yang baik. Lantai di semua ruangan di Lantai A-1 harus bersih dan tak bersisa kotoran. Aku mengepelnya tiap ada jejak sepatu yang membekas di lantai. Aku menghabiskan tenagaku untuk menjaga kebersihan di lantai itu. Belum lagi aku harus melayani para pelanggan yang membeli di kantin. Mereka memesan mie instan, kopi atau hanya sekedar membeli rokok. Lama-kelamaan tenagaku habis terkuras untuk pekerjaan semacam itu. Aku mulai jenuh. Jujur saja, ketika aku bekerja, aku iri pada para staf di sana. Mereka dapat duduk dengan tenang, mengobrol, mengetik atau mencari referensi di internet. Sedangkan aku tiap hari harus berpeluh.

Belum lagi sesaat kemudian musim penghujan datang dan lantai penuh dengan jejak kotoran dari sepatu. Aku menyediakan kardus sebagai keset agar jejak sepatu tidak membercak hingga ke dalam. Usahaku itu kadang-kadang tidak berhasil karena orang-orang yang masuk ke lantai dasar itu seringkali tidak kesetan terlebih dahulu.

Sore hari aku menyapu semua ruangan dan mengepel lantainya. Juga tidak lupa mengelap meja. Pasangan kerjaku (Muji) sibuk mengurusi kantin miliknya pada sore hari. Oleh karena itu, pada sore hingga malam aku bekerja sendirian. Aku merasa sangat letih, apalagi aku masih harus meminum Haloperidol tiga kali sehari dan Chlorpromazine sehari sekali. Tenagaku habis terkuras oleh antipsikotik dan pekerjaan.

Lantai A-1 pada malam hari lebih sepi. Aku menyukainya. Ini adalah kesukaan yang salah, aku menyadarinya. Namun naluri skizofreniaku yang menarik diri dari pergaulan mulai kambuh lagi. Kini aku benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapinya. Aku juga punya masalah dengan waktu tidur. Jika aku minum Chlorpromazine 100 mg, aku tertidur 12 jam sehari. Aku berkonsultasi dengan dokter di RS Marzoeki Mahdi pada hari Sabtu (ketika libur) dan ia membolehkanku untuk hanya mengonsumsi setengah saja, yaitu 50 mg.

Setelah meminum obat pada waktu magrib, rasa kantuk mulai menyerangku segera setelah aku selesai bekerja. Semua pekerjaanku selesai pada pukul sembilan atau sepuluh malam. Aku langsung menyelonjorkan diri di sofa dan langsung pulas tertidur, karena Chlorpromazine. Aku tidur lekas-lekas agar aku bangun lekas-lekas pula. Aku harus bangun pada pukul lima subuh, dengan aktivitas awal memasak air dan menyeduh teh serta kopi untuk disuguhkan kepada para staf di lantai itu.

Walaupun sebagian besar orang di situ ramah-ramah aku tetap saja mulai sering menghindar jika mereka sedang berkerumun. Aku teringat pada kata-kata psikiaterku di Bekasi, dr. Baringin yang mendiagnosa bahwa selain paranoid aku juga menderita sosiofobia. Aku juga teringat pada kata-kata Ibu Leila Ch. Budiman saat menjawab keluhanku di rubrik psikologi Kompas yang juga mendiagnosisku dengan masalah ketakutan yang sama. Aku kecewa kepada diriku sendiri. Aku telah berupaya melawan setiap sisi penyakit jiwaku .Namun entah karena apa, ada sesuatu dalam diriku, yang selalu menggagalkannya.

Aku semakin sering menyendiri. Dan semakin lama sifat menyendiriku itu semakin jadi. Sampai pada suatu saat aku berlari ke Monas (kantorku terletak tepat di depan Monas) untuk menghindari kerumunan orang di kantin. Aku duduk dan menyendiri di taman pada jam kantor. Aku berpikir keras akan apa yang harus kulakukan untuk menghindar dari semua ini. Akhirnya aku berhasil mendapatkan jawabannya. Aku harus berpura-pura bahwa ayahku sakit keras sehingga aku mungkin dapat beristirahat sementara untuk menenangkan diri. Aku mengatakan seperti itu di hadapan kawan-kawan kerjaku. Aku pun pamit pulang.

Aku telah mendapatkan solusi. Solusi sementara. * *

Ke Bagian Kerumahtanggaan aku izin selama dua hari, akan tetapi aku tidak masuk selama seminggu. Kepada kedua kakakku aku berdusta bahwa halusinasiku telah menyerangku dengan hebat, padahal gejala negatiflah yang kualami. Kakakku akhirnya menganjurkan agar aku berhenti bekerja saja. Bagiku, itu sama artinya dengan kembali kepada kesendirian yang menjenuhkan.

Namun setelah kutimbang-timbang, pendapat itu ada benarnya juga, aku belum mampu untuk bekerja. Akhirnya aku mengundurkan diri dengan berdusta. Aku mengatakan kepada Muji dan kawan-kawanku yang lain bahwa aku mengundurkan diri karena harus merawat ayahku yang sakit keras. Sementara kepada tetangga yang memasukkan aku bekerja aku mengatakan apa adanya. Ia dapat memahami, karena ternyata kakaknya adalah juga penderita skizofrenia juga. Namun Muji, pasangan kerjaku, nampak kecewa atas keputusanku itu. Tapi ia tak dapat mencegahku. Mengundurkan diri dari pekerjaan adalah hak seseorang dan itu tak dapat dihalangi. Ia hanya dapat menghela nafas panjang dan berkata: “Sekali-kali datanglah bermain ke sini.” Aku mengangguk. Tapi aku pulang dengan keragu-raguan: Apakah aku telah mengambil keputusan yang benar? Apakah kondisiku akan membaik dengan kebulatan pendapatku itu?

Aku pulang dengan beban yang masih menggayut di hati.

Dua paranormal yang terakhir - 2006

Setelah keluar dari pekerjaan, aku habiskan sisa tahun 2005 dengan ketersiksaan. Karena aku menyendiri lagi, halusinasiku parah lagi. Aku sering mendengar para tetangga membicarakan keburukanku di jalanan di muka rumah tempat kami tinggal. Aku sering mendengarnya saat di kamarku, di lantai atas. Ketika aku melakukan aktivitas yang mengeluarkan bunyi, suara-suara tetanggaku itu semakin keras meledekku:

“Dasar gila!”

“Sakit!”

“Sinting, luh!”

Aku tidak tahu harus melakukan apa. Usahaku agar masuk ke RS Marzoeki Mahdi dan Bangsal Psikiatri RSCM gagal, karena katanya masih banyak yang lebih membutuhkan.

Jika telah mendengar suara-suara itu maka aku duduk merapatkan diri di kursi merah yang ada di kamarku. Walkman-ku kusetel keras-keras, namun itu hanya menghambat sebagian suara-suara itu. Volumenya kusetel lebih keras, dan kadang-kadang penambahan volume itu berhasil. Walaupun akibatnya adalah gendang telingaku menjadi berdenging. Aku diam tak bergerak, karena jika aku bergerak, suara-suara itu akan lebih gaduh. Aku bahkan tak berani batuk, karena batuk itu mengeluarkan bunyi yang dapat memicu suara-suara. Aku makan dengan tangan, tak berani dengan sendok, aku tak mau mengeluarkan bunyi apapun. Sendok akan berdenting di piring beling (keluarga kami tak punya piring plastik besar) dan aku tak bernyali untuk melakukannya. Karena hal itu akan menimbulkan suara-suara yang lebih keras lagi.

Kakakku mulai menegurku: Mengapakah aku tak pernah lagi menonton televisi bersama-sama? Mengapakah aku hanya berkurung diri di dalam kamar seharian? Aku menceritakan apa adanya dan kakakku mengeluh, ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Sampai akhirnya pada suatu hari bibiku yang di Ciamis menelepon kakak pertamaku, bahwa ia kenal seorang ulama yang telah menyembuhkan anak besannya (saudara tiri dari menantunya). Semula pemuda yang mengalami gangguan jiwa itu memiliki gejala-gejala yang amat parah. Ia sering mengancam dan melempari orang lain dengan batu. Amarahnya begitu kuat. Oleh orang tuanya, anaknya itu dibawa ke kota Cilacap di Pesantren R. Kini pemuda itu telah pulih seperti sediakala dan bahkan telah bekerja. Bibiku berjanji akan mengantarkan kami ke Kyai pimpinan pondok pesantren itu dan kali ini ia yakin bahwa aku akan berhasil disembuhkan.

Aku sudah muak dengan paranormal. Aku tak mau lagi berobat ke orang semacam itu. Pengalamanku mengajarkan bahwa paranormal hanya akan menyembuhkan sementara saja. Kemudian gejala akan kembali dan bahkan semakin parah. Bukannya aku menyepelekan agama. Tapi menurutku gangguanku ini tak ada hubungannya dengan ruh, jin atau yang semacamnya. Gangguan jiwaku bukanlah gangguan gaib, akan tetapi kelainan dalam otak. Aku tak dapat memahami jalan pikiran keluargaku yang walaupun telah bertahun-tahun gagal di dalam pengobatan agamawi namun masih tetap saja percaya bahwa gangguan kejiwaanku dapat disembuhkan dengan tirakat yang dijalankan atas saran paranormal. Aku tak percaya. Aku tak bisa percaya lagi.

Akan tetapi kakakku adalah orang yang mudah untuk dipengaruhi. Lagipula dia sudah bosan dengan penyakitku. Ia memang tak punya uang untuk ke Cilacap kali ini. Ia kini menelepon kakak keduaku yang di Jambi, dan kakakku itu, karena merasa bertahun-tahun tidak ikut merasakan betapa sulitnya pengobatan penyakitku, langsung mengirimkan uang. Posisiku jadi terjepit. Aku tak berani melawan kehendak kakak pertamaku itu, karena selama ini aku telah banyak menyusahkannya. Aku takut dibilang sebagai anak yang sukar diatur. Aku bukanlah anak yang suka membantah. Sedari kecil aku adalah anak yang penurut. Walaupun rencana kali ini bertentangan dengan hatiku, akhirnya dengan berat hati aku ikut juga ke Cilacap untuk diobati (26 Februari 2006).

Aku tiba dengan rasa ngeri. Aku melihat bagaimana pasien-pasien bergeletakan begitu saja di lantai mesjid. Kulihat atap mesjid itu: Pesantren R. Kami diterima oleh asisten Pak Kyai, dan karena Pak Kyai sedang ke Semarang, maka kami dipersilakan untuk menginap di ruang samping rumahnya hingga ada keputusan dari Pak Kyai. Lagipula kami adalah pasien terjauh: dari Tangerang.

Malam itu aku tidak boleh minum CPZ-ku dan aku tak dapat tidur sekejap pun, bahkan setelah 24 jam berlalu. Kakak dan bibiku tertidur pulas karena kelelahan. Untuk menghilangkan kejenuhan, aku mulai menulis buku harianku. Kali ini aku membawa buku baru yang biasa (bukan agenda seperti buku harianku terdahulu) karena kuperkirakan aku takkan lama di sini. Anak dari besan bibiku hanya dua minggu di sini. Begitu pula aku.

Pak Kyai pulang pada tengah malam. Ia tak langsung berbicara dengan kami. Aku tak tahu mengapa. Padahal kami telah jauh-jauh untuk datang ke sini. Kami baru diajak berbicara pada keesokan harinya. Nama ulama itu Kyai H. Ia menjelaskan bahwa aku harus menginap di dalam mesjid karena ia telah menempatkan ribuan jin di sana untuk mengusir jin yang ada di dalam tubuh orang yang menderita gangguan jiwa yang dirawat di sana. Aku menentang teorinya; di dalam hati.

Aku tak kuasa melawan. Aku mencoba menjelaskan diagnosa dokter. Namun nampaknya ia tidak suka akan penjelasanku itu. Ia hanya mau didengar dan dituruti. Lain tidak. * *

Kakakku pulang hari itu juga. Sementara aku dan bibiku tinggal. Namun seminggu kemudian bibiku pun pulang ke rumahnya di Ciamis. Aku tidak bermasalah dengan orang yang menderita gangguan jiwa. Karena di Rumah Sakit Jiwa pun aku telah terbiasa dengan orang yang semacam itu. Yang menjadi masalah adalah aku tidak boleh meminum obatku. Aku tahu penyakitku akan kambuh. Beberapa hari kemudian obat itu dipinta oleh Pak Kyai dan maksudku untuk sembunyi-sembunyi meminum obat gagal sudah. Aku takkan lagi punya harapan ke depan. Aku akan terjatuh ke dalam lubang skizofrenia yang semakin parah.

Aku jalani hari demi hari di pesantren itu dengan perasaan jenuh. Aku bosan karena pasien-pasien di sini sama sekali tak diberi kegiatan. Dua pengobatan rutin yang dijalankan adalah mandi di sumur keramat dan meminum jamu yang terbuat dari kunir.

Halaman pesantren itu cukup luas untuk berjalan-jalan menghilangkan pegal kaki. Namun tidak cukup luas untuk menghilangkan kebosanan dari aktivitas yang itu-itu saja. Aku ingin pulang. Walaupun begitu, karena aku terpaksa tinggal, aku berkawan baik dengan beberapa orang yang juga berobat di sini. Kami mengobrol tentang segala masalah untuk membunuh waktu.

Fuad adalah sahabat terbaikku. Ia mengaku punya “penyakit bisikan” dan selama beberapa lama pernah dirawat di RSJ Lawang. Ia lebih pendiam dari diriku, tapi ia seorang penggemar sepak bola. Dengan wajah minim ekspresi ia menuturkan setiap pertandingan sepak bola yang pernah disaksikannya. Ia menyayangkan, di sini tak boleh menonton televisi. Ia jadi tak dapat memuaskan kesenangannya itu. Sebagai penawar rasa dahaganya akan sepak bola, ia pun menyaksikan anak-anak sekitar pesantren itu yang bermain sepak bola setiap sorenya.

Andi adalah sahabat baikku juga. Ia sedang kuliah PGSD di Universitas Terbuka. Ia telah mengajar di sebuah Sekolah Dasar di kampungnya. Namun tiba-tiba neneknya memaksanya untuk masuk rumah sakit jiwa. Ia tak tahu apa alasannya. Di RSJ ia meminum obat yang membuatnya kaku. Ia tak tahu obat apa itu. Menurut penilaianku, Andi adalah penderita yang punya tilik diri (insight) yang buruk. Ia bahkan tak mengetahui kenapa keluarganya menempatkan ia di pesantren itu. Di luar semua itu, ia adalah seorang yang cerdas. Ia fasih berbahasa Inggris dan mampu menjelaskan teori tata bahasanya dengan baik.

Jabbar masih kelas 6 SD. Walaupun ia masih kanak-kanak, ia adalah seorang yang kasar, yang ia lampiaskan lewat bahasa maupun kekerasan fisik. Ia nampaknya kesulitan untuk bertutur kata secara halus. Konon ia dibawa ke sini karena di rumah mengamuk terus. Hal itu menyulitkan orang tuanya. Kebetulan, kakaknya, yang akan lebih banyak kuceritakan kemudian, nyantri di sini. Ia akan ujian kelulusan dalam dua bulan lagi. Tapi nampaknya harapan untuk pulang masih jauh di awang-awang. Ia masih bersikap kasar, bahkan terhadap sesama pasien.

Misman semula ditunggui oleh ibunya saat dirawat di sini. Namun karena ia bersikap kasar pada orang tuanya itu, ibunya menjadi takut dan akhirnya pulang dengan diam-diam dan meninggalkan Misman sendirian setelah menitipkannya kepada Pak Kyai. Misman tadinya adalah anak yang baik hati dan rajin (sisa-sisa kerajinannya itu masih terlihat ketika ia dirawat di sini, misalnya dengan setiap hari menyapu halaman mesjid) tapi tiba-tiba di masa pra-dewasanya ia berubah menjadi galak dan sering menyerang orang lain atau memecahkan barang-barang. Misman merasa sistem perawatan di pesantren itu terlampau kasar. Ia sering dimarahi oleh santri di sana karena tingkahnya yang dianggap sulit diatur. Misman kemudian kabur dari pesantren R, dan kembali hanya untuk bayar utang di kantin.

Taryono adalah penderita skizofrenia sengkarut (disorganized schizophrenia) yang berasal dari Desa Sumpyuh. Ia tak mampu untuk menjelaskan di mana Desa Sumpyuh itu. Wicaranya kadang-kadang tak logis walaupun kebanyakan masih dapat dimengerti. Ia mengaku sakit "karena cewek” saat bekerja di Malaysia. Ia bekerja di sana selama dua tahun. Ia pulang dalam keadaan yang sudah sakit. Menurut Pak Kyai, dua saudaranya juga penderita gangguan jiwa dan kemudian menghilang tak tentu rimbanya. Hanya ia yang masih bertahan tinggal. Itu pun jarang dikunjungi oleh keluarganya. Taryono mengaku bahwa keluarganya adalah petani yang apa adanya dan hidup sederhana, bahkan seringkali kekurangan. Keluarganya tak mampu membiayai sekolahnya di sebuah STM. Dan ia terpaksa pergi ke Malaysia untuk membantu keluarganya.

Sedangkan Khamid adalah pasien terparah yang dirawat di sini. Ia sama sekali tak bisa berkomunikasi. Bahkan makan pun harus diambilkan. Ia adalah murid pesantren dari kecamatan lain di Cilacap. Menurut salah seorang kawannya, ia menjadi sakit ingatan karena niatnya ingin hafidz (hafal) Quran, sementara dirinya belum sanggup untuk melakukan hal itu. Seorang kakaknya -- yang bernama Yahya -- yang sabar dan penyayang menungguinya dengan setia.