Ruth Fielding at the War Front; or, The Hunt for the Lost Soldier

Chapter 5

Chapter 53,369 wordsPublic domain

Bayangan akan gedung-gedung yang menghitam tak jua lekang dari ingatanku selama bertahun-tahun. Kiranya hal itu menjadi semacam bayangan visual yang kerapkali meneror ketika aku sendiri. Bangsa sedang menyentuh titik nadir tepat di saat aku sedang membentuk diriku. Hitam. Terbakar. Kerusuhan. Apa yang bisa kupetik dari semua itu?

Aku menjadi semakin penyendiri di lingkungan baruku di Bekasi. Kawanku hanya radio dan majalah serta koran yang dibeli oleh Ayah. Aku gagal untuk bersosialisasi dengan lingkunganku. Aku tak lagi punya tenaga untuk melawan sifat asosialku. Akibatnya aku punya semangat yang semakin ganjil, yakni menyendiri setiap hari.

Pada suatu hari, aku membaca sebuah artikel di majalah yang dibeli oleh Ayah. Artikel yang mungkin tidak akurat namun mempengaruhiku sepanjang waktu di kala itu. Artikel itu berisi pertemuan antara Prabu Jayabaya dengan seorang begawan. Di waktu Sang Prabu Jayabaya sedang berbincang-bincang dengan patihnya, pembantu sang begawan menyuguhkan persembahan kepada Sang Prabu. Prabu Jayabaya terkejut melihat persembahan itu. Persembahan itu menyinggung perasaan Sang Prabu. Prabu Jayabaya menyuruh para pengawal dan patihnya untuk mencari dan membunuh sang begawan. Para pengawal berlarian mengejar, namun sang begawan nampaknya telah pergi jauh.

Sang patih bertanya, mengapakah Sang Prabu begitu berang? Prabu Jayabaya menjawab bahwa sang begawan telah bertindak kurang ajar. Persembahan itu adalah seloka dari suatu kurun waktu di masa depan. Masa setelah melalui zaman terbalik, yang salah dipuja, yang benar dicerca. Lalu muncullah seorang yang pinandita. Persembahan itu menyiratkan bahwa suatu hari kekuasaan Tanah Jawa akan jatuh ke tangan kalangan brahmana dan tidak akan lagi dikuasai oleh kasta ksatria. Kasta ksatria hanya akan jadi kasta kedua.

Aku terdiam dan termangu, dalam gelombang suara yang menyerbu turut datang perasaan yang aneh. Bahwa akulah yang dimaksud oleh Prabu Jayabaya dalam artikel tadi. Aku adalah sang Ratu Adil yang akan datang, Sang Satria Piningit. Aku merasa bahwa gangguan jiwaku adalah satu keburukan yang menjadi pertanda bahwa akulah yang dimaksud dalam ramalan itu. Dalam sebuah acara televisi Permadi, paranormal kondang Indonesia berkata bahwa sekarang ini Sang Satria sedang dalam keadaan penuh dengan kehinaan. Cocok sekali dengan keadaan diriku.

Aku merasa bahwa derita jiwaku hanyalah pengajaran dari Tuhan agar aku siap memimpin Indonesia di suatu saat kelak. Kehinaan akan berubah menjadi kemuliaan. Seperti intan dalam tanah berlumpur yang kemudian menjadi binar permata perhiasan. Kejatuhan yang membawa kepada pencerahan. Tak salah lagi, aku adalah Satria Piningit, yang akan menjadi Mesias bagi bangsa Indonesia. Semakin hari perasaan itu kian kuat.

Bahkan aku punya tafsiran sendiri tentang kata piningit. Kebanyakan orang menafsirkan kata piningit sebagai tersembunyi atau yang disembunyikan (hidden), dalam artian identitasnya ditutupi oleh Tuhan, tak mungkin diketahui oleh orang yang paling sakti sekalipun. Namun aku menafsirkannya sebagai “autistik” sesuai dari kata dasar dari kata tersebut yaitu pingit. Ini cocok sekali dengan masa kecilku yang cenderung tertutup.

Namun nampaknya antipsikotik telah membuatku mulai meragukan akan keyakinan itu. Aku mulai kerap didera keraguan yang membuatku bisa berlama-lama merenungkannya. Diriku jadi seperti pendulum yang berayun di antara dua sisi. Satu sisi adalah kenyataan dan di sisi lain adalah bukan kenyataan. Kadang-kadang perasaan itu begitu kuatnya sehingga menampik semua realitas. Namun di kali lain aku menyadari bahwa semua itu hanyalah pikiran yang datang sebagai subsidi silang dari keadaanku yang sedang akut. Di satu waktu aku adalah Satria Piningit dan di sisi lain aku adalah bukan Satria Piningit. Aku tak dapat membedakan lagi yang mana diriku yang sebenarnya. Memikirkan hal itu membuatku jatuh dalam kelelahan dan membikinku untuk beralih saja melihat kenyataan lain dalam hidup ini, yang tak memicu wahamku untuk timbul.

Bagaimanapun, aku tak dapat menguasai diriku sepenuhnya. Aku masih penasaran dengan keyakinanku tersebut. Ayah seringkali membaca majalah keparanormalan yang banyak menampilkan hal itu. Aku ikut terpengaruh oleh bacaan yang kupinjam dari Ayah. Namun waktu itu aku tak pernah mendiskusikan keyakinanku kepada siapa pun juga. Aku teringat ketika kecil aku pernah pula mengalami keyakinan semacam itu. Aku merasa bahwa aku adalah pusat semesta. Aku merasa bahwa Tuhan menciptakan dunia karena aku. Aku adalah makhluk terpenting di jagat raya ini. Tak ada yang berkedudukan setara denganku. Aku pada waktu itu selalu membayangkan planet-planet berputar mengitariku yang jadi poros segala pergerakan di semesta ini.

Aku dan Tuhan, punya hubungan khusus, hubungan yang tak pernah dan tak akan disamai oleh yang lain. Bagaimanapun, pengajaran agama Islam seringkali membuatku untuk mengkritik diriku. Karena dalam agama Islam, manusia terpenting adalah Nabi Muhammad. Anehnya, aku tak pernah merasa bersalah atas semua itu. Saat itu aku berpikir bahwa itu adalah hal yang wajar dalam diriku. Seseorang boleh saja punya pemikiran semacam itu.

Setelah belasan tahun berlalu, perasaan kebesaran semacam itu muncul lagi. Namun kali ini merupakan bagian dari skizofreniaku. Dengan demikian dalam perjalanan derita jiwaku, satu saat aku terpuruk dan terperosok dalam kecurigaan dan halusinasi, dan kali lain aku melangit, merasa menjadi manusia terhebat di Tanah Indonesia.

Aku masih mengalami waham itu, kawan. Jika dalam edisi perdana buku ini aku mengatakan telah pulih dari semua itu, aku salah. Bersama dengan keadaan Indonesia yang tak pernah berhenti diluluh-lantakkan oleh ulah pejabat dan malapetaka alam, waham itu menguat lagi. Aku memang mencintai bangsa ini karena kehormatan bangsa ini memang harus dipertahankan. Tapi jika orang lain mencintai bangsanya dengan alasan sama sekali di luar delusi, maka aku tidak begitu. Waham yang kumiliki, tak dapat dibantah lagi, telah memperkuat kecintaanku akan bangsa dan negeri ini. Dan terkadang aku menganggap bahwa urusan mengenai bangsa ini adalah urusan pribadiku juga. Dengan kata lain, delusilah yang membuatku menganggap bahwa tak ada jarak antara aku dan Indonesia. Aku dan Indonesia adalah dua entitas yang hanya berbeda wujud.

Dalam kepalaku seringkali muncul kilasan-kilasan kejadian yang akan terjadi di masa depan. Aku seringkali mendiskusikannya dengan kawan-kawanku yang sama-sama mengalami skizofrenia, karena aku tahu psikiater tak punya banyak waktu untuk membahasnya secara mendetail. Lagipula aku merasa lebih nyaman dan cocok jika hal itu dibicarakan dengan sesama yang mengalami masalah kesehatan jiwa. Bahkan di saat-saat terakhir aku mengedit buku terbitan pertamaku ini, di tahun 2012, aku kerapkali dihadang pemikiran, mungkinkah waham adalah visi akan masa depan yang diberitahukan oleh alam lain? Mungkinkah itu bukanlah sebuah waham akan tetapi merupakan sesuatu yang coba diberitahukan oleh makhluk adikodrati?

Aku lelah memikirkannya, dan bagiku, adalah lebih baik jika aku pergi ke luar dan berjalan-jalan melihat dunia yang kasat mata, dunia sehari-hari yang tak diragukan kenyataannya. Seringkali melihat Metro Mini yang hampir menyerempet Bajaj, atau pengemis yang tertatih-tatih di lampu merah tanpa ada yang memberi sepeser pun, jauh lebih bisa menyadarkanku akan realitas daripada berita-berita di televisi yang membuatku berpikir melayang jauh meninggalkan pijakanku akan realitas sehari-hari.

"Aku bukan siapa-siapa, kataku dalam hati, aku hanyalah seorang dengan skizofrenia, tidak lebih." Itulah yang kukatakan dalam hatiku, setiap kali waham itu muncul.

Di Kota Hujan - 2003

Kiranya kenanganku akan RS Marzoeki Mahdi, Bogor, takkan pernah hilang dari ingatan. Gedung-gedungnya yang berciri khas dari zaman Belanda, halaman-halamannya yang luas dan salazar berkanopinya yang panjang mengitari sekitar komplek rumah sakit masih jelas tergambar dalam pikiranku. Di sinilah untuk pertama kalinya aku meminum Haloperidol (HLP), Chlorpromazine (CPZ), dan Trihexyphenidyl (THP).

Aku masuk rumah sakit ini pada tanggal 14 Juli 2003, setelah keluar dari perawatan di sebuah pengajian di Jakarta Selatan, pengajian yang membuatku kumat lagi. Rupanya aku tak dapat mempertahankan kesehatan mentalku jika tak meminum obat. Aku keluar baik-baik dari pengajian itu dengan janji di hati bahwa aku takkan kembali lagi. Sebab aku sangat gelisah di sana. Pengajian itu bukanlah tempat berlindung yang nyaman bagi yang menderita skizofrenia seperti diriku. Karena ada sebagian pengurusnya dan penghuninya yang melontarkan celaan yang tidak semestinya kepadaku. Mereka melecehkanku.

Prosedur di RS Marzoeki Mahdi mengharuskan pasien tinggal selama beberapa lama di barak akut yang bernama Ruang Kresna, untuk diawasi apakah ia termasuk pasien yang dapat tenang atau pasien yang terus-menerus gaduh-gelisah. Aku tak tahan berada di sana. Walaupun perawatnya ramah-ramah, namun pasiennya kebanyakan adalah pasien yang kronis. Mereka seringkali marah-marah atau meninju tanpa sebab yang jelas. Aku kehilangan beberapa pakaianku di sini. Oleh karena itu, aku amat hati-hati. Aku tak pernah mengeluarkan Dinten yang kubawa dalam tasku, yang kutitipkan di ruang perawat, selama aku tinggal di sana.

Aku dirawat di RS Marzoeki Mahdi sebanyak tiga kali. Selama proses perawatan itu aku hanya pernah menulis sekali dalam Dinten. Aku tak mau kehilangan buku yang berisikan banyak catatan penting itu. Lebih baik jika semua kejadian yang kualami di sini kuingat-ingat saja tanpa menuliskannya dalam Dinten.

Di Kresna ada mahasiswi Akper berjilbab yang bernama Ainun. Dari gaya bicaranya kelihatan bahwa ia adalah seorang yang cerdas. Ia bertugas membuat asuhan keperawatan diriku. Ia tidak pernah mendikteku harus bagaimana dan lebih banyak melakukan wawancara eksploratif dengan diriku. Di tengah-tengah proses perawatan, ia menyerahkan artikel keagamaan yang diambilnya dari internet. Isinya cukup bagus. Aku menyimpannya di bawah matras di ranjangku. Tapi ketika aku kembali dari kegiatan wawancara, artikel itu telah koyak-moyak. Rupanya ada yang merobeknya (Pasien di RS Marzoeki Mahdi memanfaatkan segala macam kertas untuk melinting tembakau yang diambil dari puntung rokok). Aku amat menyesal telah teledor meninggalkannya. Namun karena saking asyiknya mengobrol dengan mahasiswa-mahasiswi Akper Universitas Indonesia yang sedang bertugas di sana, maka peristiwa itu terlupakan begitu saja.

Beberapa waktu setelah itu, Suster Ainun mengucapkan selamat karena aku akan dipindah ke barak tenang (Ruang Nakula) setelah aku tinggal di Kresna selama seminggu lebih. Pasien-pasien lain memerlukan waktu yang lebih lama. Suster Ainun mengatakan akan ke rumahku untuk mengunjungi keluargaku (dalam rangka home visit). Namun baru dua minggu aku tinggal di bangsal Nakula aku sakit fisik dan terpaksa pulang ke rumah terlebih dahulu untuk berobat ke dokter spesialis.

Catatan dalam Dinten menerangkan hal itu ketika aku masuk kembali ke RS Marzoeki Mahdi (dan inilah satu-satunya catatan dalam buku harianku yang kutulis di rumah sakit itu):

Hari ini, Senin tanggal 11 Agustus 2003, saya masuk kembali ke bangsal perawatan Rumah Sakit Marzoeki Mahdi (Bogor) setelah sebelumnya pulang terlebih dahulu karena bibir saya bernanah dan diobati di rumah selama seminggu. Kakak saya menyangka bahwa saya dapat langsung kembali ke Ruang Nakula (Barak Tenang), namun ternyata tidak dapat dan harus masuk kembali ke Ruang Kresna (Barak Akut) terlebih dahulu, sama seperti ketika mulai perawatan pada tanggal 14 Juli yang lalu....

Ketika aku masuk kembali ke Ruang Kresna, aku dibimbing oleh seorang mahasiswa Akper, juga dari Universitas Indonesia, kawan dari Suster Ainun. Namanya Nirwan. Ia berjanji memberitahu cara meredam gejolak penyakitku, walaupun sebenarnya keadaanku jauh lebih tenang dibandingkan di pengajian di Jakarta Selatan itu. Ia memberikan sugesti yang positif kepada diriku. Ia mengatakan bahwa kekurangan manusia akan tertutupi oleh kelebihan yang harus digali oleh manusia itu sendiri. Ia memberiku semacam PR untuk memandang potensi positif yang lebih banyak lagi dalam diriku.

Kali ini dalam waktu seminggu aku telah dipindah ke Ruang Nakula, ruang yang lebih menyenangkan, walaupun aku pernah kehilangan uangku di sini. Ruang Nakula berada di bagian paling belakang RS Marzoeki Mahdi. Pintu gerbang yang ada di dekat situ selalu terbuka dan tidak pernah dikunci. Mungkin maksudnya agar para pasien terbiasa menghadapi masyarakat sekitar yang lalu-lalang di jalan di dekat situ.

Kami, para pasien, dapat bergerak dengan lebih leluasa, dan dapat berjalan-jalan keluar komplek rumah sakit jika pagi telah tiba. Terbukanya gerbang belakang itu telah menyebabkan banyak pasien yang kabur dengan mudahnya. Namun rupanya Bidang Perawatan di rumah sakit itu tidak mengubah kebijakan mereka pada waktu itu, mungkin dengan alasan agar para pasien mendapatkan terapi sosial dari masyarakat sekitar. Para penduduk sekitar rumah sakit itu tidak pernah meledek kami, para pesakit jiwa, dan nampaknya bersikap biasa-biasa saja terhadap kami. Anak-anak mereka pada pagi hari berjalan kaki atau naik sepeda melewati kami, para pasien, yang melewatkan waktu senggang kami dengan menyaksikan mereka yang berangkat ke sekolah melalui jalan di luar gerbang .

Kadang-kadang para pasien meminta rokok yang sedang diisap oleh anak sekolah itu, dan mereka seringkali memberikannya. Anak-anak mereka pada hari menjelang senja banyak yang masuk ke komplek rumah sakit untuk bermain sepak bola, karena memang rumah sakit kami itu punya lapangan sepak bola yang cukup luas dan berumput hijau. Nyaman untuk dipakai berolahraga.

Di Ruang Nakula aku berkenalan dengan Pak Wayan, kepala ruangan, yang sikap tenangnya memancarkan kharisma sebagai pimpinan di ruang itu. Kami sering dinasehati olehnya. Ia jarang bercanda seperti para perawat-perawat lainnya, namun jiwa kami terasa terlindungi jika berada di dekatnya. Ia menyelesaikan segala permasalahan dengan tindakannya yang arif dan bijaksana. Ia tak pernah main kasar. Walaupun ia orang Bali, namun nampaknya ia telah menghayati betul budaya tempat ia bekerja, yaitu budaya Sunda, yang mengharuskan orang-orang saling menghormati dan menghargai, terhadap sesama dan orang yang lebih tinggi, ataupun terhadap yang lebih muda. Namun Pak Wayan tak segan-segan untuk menegur jika salah satu dari kami berbuat kesalahan, misalnya ketika kami dengan sengaja menghindari kegiatan senam pagi atau mangkir minum obat. Ia adalah orang yang berkepribadian tenang namun tegas.

Bawahannya, yang bernama Pak Samuel, orangnya baik juga, namun agak sedikit galak. Ia lebih tegas dari Pak Wayan. Mungkin karena tugas mendisiplinkan juga yang mengharuskannya begitu. Pendidikannya pada waktu aku dirawat di sana barulah D3, namun ia telah sanggup membimbing mahasiswa yang datang untuk berpraktek di Ruang Nakula. Dari pembicaraan dan kritikan-kritikannya terhadap naskah asuhan keperawatan mahasiswa memancar dengan jelas akan pengetahuannya di bidang keperawatan jiwa .

Sementara itu Pak Didin adalah orang yang senantiasa menebarkan senyuman. Ia orangnya tak pernah marah. Selalu suka membagikan ilmunya baik kepada pasien maupun calon psikolog, calon terapis atau calon suster. Ia adalah tempat bertanya yang memadai bagi orang yang haus akan ilmu keperawatan. Namun ia ada kekurangannya juga yaitu orangnya tak bisa tegas, maksudku dalam mendisplinkan pasien. Kukira pasien tidak ada yang takut kepadanya, mereka hanya kagum karena keramahannya .

Yang dianggap sebagai kepala pasien di Ruang Nakula waktu itu adalah Acung (Kim Ni Cung) seorang peranakan Tionghoa namun telah mendarah daging sebagai orang Indonesia asli. Konon ia telah enam tahun berada di RS Marzoeki Mahdi. Bukan karena penyakitnya parah, melainkan ayahnya menikah lagi tanpa persetujuannya, setelah ibu kandungnya meninggal. Ia mengaku sering bertengkar dengan ibu tirinya. Ia mengaku tak cocok dengan ibu barunya itu.

Ia lebih merasa tenang berada di rumah sakit jiwa. Hal itu juga katanya dapat menghindari keterlibatannya dalam penggunaan obat-obatan terlarang yang digunakannya karena pengaruh lingkungan. Ia merasa jika di rumah sakit jiwa hatinya menjadi bersih, karena bergaul dengan orang-orang yang polos jiwanya. Ia tak pernah berniat untuk pulang lagi ke rumah. Ia akan berada di sana sampai suatu ketika ia sanggup untuk mandiri. Dan memang itu dibuktikannya kemudian.

Sahabat terdekatku pada waktu dirawat pada tahun 2003 itu adalah Agus, seorang penderita skizofrenia paranoid yang berasal dari Cilacap. Ia nampaknya amat kesulitan untuk membedakan mana halusinasi dan mana yang bukan. Ia kadang-kadang mengeluh kepadaku bahwa ada yang mencemoohnya, ia gambarkan ciri-ciri orangnya. Namun aku yang tiap hari ada di ruangan itu tak pernah menemukan orang yang digambarkannya. Maka kita dapat beranggapan bahwa apa yang dialaminya adalah halusinasi.

Pada suatu malam pada saat aku belum tidur, ada yang memberitahukanku bahwa Agus terjatuh. Aku segera berlari untuk menolongnya karena aku curiga ada sesuatu yang tidak beres. Aku membalikan badannya dan ia kelihatan lemas sekali, bahkan ia tak bisa menggerakkan tangannya. Namun ia masih bisa menjawab pertanyaan. Saat kutanya kenapa ia bisa demikian lemas. Ia menjawab bahwa ia telah menelan sembilan Chlorpromazine (CPZ) 100 miligram. Namun ia tak menjawab apa alasannya sehingga ia berbuat senekat itu.

Kebetulan pada waktu itu pintu ruang tempat tidur belum dikunci, aku segera menghambur ke ruangan depan dan memberitahukan beberapa mantri yang ada di situ bahwa Agus terjatuh dan tak bisa bangun lagi. Pak Samuel dan beberapa orang segera memeriksa kondisi Agus. Pak Samuel kemudian mengambil tensi dan mengukur tekanan darah Agus. Ia juga memeriksa frekuensi respirasi Agus. Aku tak ingat berapa tensinya namun yang kuingat adalah respirasinya 28. Ambulans dengan sirinenya yang khas kemudian datang. Agus pun ditandu ke dalam ambulans. Aku menatap lalunya ambulans itu hingga ia pergi menjauh.

Sejak saat itu Agus tak pernah lagi tidur di ranjang di samping tempat tidurku. Statusnya sebagai pasien barak tenang telah dicabut. Ia kemudian dirawat di Subadra, dan setelah itu ia dimasukkan ke bangsal akut yang bernama Ruang Gatotkaca. Namun kami masih bisa bertemu, karena aku, sebagai pasien Ruang Nakula, memiliki kebebasan untuk pergi ke setiap sudut rumah sakit. Pada saat kami mengobrol di Ruang Gatotkaca, Agus mengatakan bahwa ada yang mengatainya bahwa ia crazy (gila). Yang mengatainya adalah seorang polisi. Aku bingung. Sudah sebulan lebih aku di situ tapi tak pernah kujumpai polisi satu pun. Saat kuminta ia untuk menggambarkan ciri-ciri orangnya. Ia mengatakan bahwa orangnya adalah “yang ganteng”. Setiap hari setelah itu aku mengecek kebenaran ceritanya, namun tidak ada polisi yang pernah berkunjung ke Ruang Nakula. Agus hanyalah berhalusinasi.

Agus dinyatakan menderita halusinasi yang parah. Menurut kepala Ruang Kresna ia akan diperbolehkan pulang pada tahun 2008, yaitu 5 tahun setelah ia dirawat di rumah sakit itu. Asal Anda tahu saja, berada di rumah sakit jiwa selama beberapa bulan saja telah amat menjemukan karena Anda tak bisa menonton televisi dengan bebas dan tidak bisa pergi tamasya ke tempat hiburan atau pusat perbelanjaan. Dan itu terjadi padaku di Ruang Nakula, Ruang paling bebas di rumah sakit itu, apalagi jika berada di Ruang Gatotkaca yang bahkan untuk keluar dari pintu pun tidak diperbolehkan.

Dalam hati aku bertanya-tanya apa jadinya Agus jika telah pulang nantinya. Apakah kondisinya akan semakin baik atau semakin buruk?

Tentang Yayan, kakak keempatku - 1987 -2003

Pertentangan antara Ayah dengan Yayan timbul ketika ia mulai masuk STM. Yayan ingin agar ia masuk SMA saja karena ia memiliki fisik yang tidak kuat layaknya calon siswa STM lain yang tegap dan sehat. Namun Ayah menginginkan agar Yayan masuk STM agar ia mudah mencari kerja. Pertentangan itu terus meruncing dan konflik rupanya telah berkembang sehingga pertengkaran tak terhindarkan lagi. Yayan mulai malas-malasan masuk sekolah dan karena pergaulan ia mulai berkenalan dengan zat terlarang seperti alkohol dan ganja. Ayah semakin hebat memojokkan Yayan, dan semakin ia dimarahi semakin sering pula ia mabuk di luar rumah. Akhirnya Yayan putus sekolah sama sekali.

Walaupun pernah setelah bertahun-tahun ia putus sekolah, Yayan melanjutkan sekolahnya di sebuah SMA di Ciamis. Namun Yayan kemudian kembali ke Bekasi, ke lingkungan yang membuatnya mabuk, hanya dalam jangka waktu beberapa bulan setelah ia mulai bersekolah lagi. Yayan akhirnya tidak pernah lulus SLTA.

Ketidaklulusan dan kebengalannya itu seringkali menjadi bahan perbincangan di antara keluarga dan saudara-saudara kami. Yayan merasa semakin dipojokkan karena hal itu. Pada selembar kertas yang kutemukan ketika aku masih SMP, Yayan menulis sepenggal puisi dengan penekanan pada kata-kata semua orang menghina. Yayan bukanlah orang yang menyukai karya sastra apalagi membaca buku-buku di bidang itu. Adalah hal yang sangat mengejutkan jika ia mengungkapkan perasaannya dalam bentuk sebuah puisi.

Namun semenjak kami pindah dari Bekasi ke Sumedang pada tahun 1995, intensitas kebengalan Yayan berkurang, walaupun ia sesekali masih menenggak alkohol dan menghisap ganja secara sembunyi-sembunyi. Menurut pengakuannya ketika ketahuan, hal itu dilakukannya karena ia tidak tahan sebab sudah kecanduan. Walaupun demikian, ia tidak pernah lagi minum alkohol atau menghisap ganja hingga mabuk seperti dulu.

Ketika keluarga kami pindah lagi ke Bekasi untuk yang kedua kalinya pada tahun 1999 (keluarga kami pindah ke Bekasi sebanyak dua kali dan pindah ke Sumedang sebanyak dua kali pula), Yayan pun melamar sebagai anggota Kamra . Walaupun hasil tes fisiknya kurang bagus namun ia tetap diterima karena waktu itu pemerintah Indonesia membutuhkan banyak anggota keamanan untuk meredam aksi anarki dan unjuk rasa.

Setelah beberapa bulan ia bekerja sebagai Kamra, ia diterima bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan swasta di daerah Jakarta Barat. Pekerjaan sebagai seorang satpam yang tugasnya hanya duduk berjaga jelas lebih ringan daripada pekerjaan seorang Kamra yang harus berhadapan dengan pelaku tindak pidana dan pengunjuk rasa. Oleh karena itu, ia pindah pekerjaan menjadi seorang satpam dan bekerja selama setahun lebih.

Akan tetapi apa yang ia lakukan dahulu mulai menunjukkan akibatnya. Ia terserang pembengkakan jantung karena terlampau banyak mengkonsumsi alkohol. Dan ia pun terserang tuberkolosis karena tak bisa berhenti merokok. Ia kemudian sakit parah di rumah selama dua minggu lebih. Dokter menyatakan bahwa ia harus dirawat di rumah sakit. Namun pada waktu itu kami tidak punya biaya dan kami hanya menebus obatnya untuk dirawat di rumah.

Kami gembira karena ia berhasil pulih dan mampu beraktivitas seperti sediakala, walaupun ia sudah terlanjur menelepon ke perusahaannya bahwa ia menyatakan mengundurkan diri dari pekerjaannya (satpam di tempatnya bekarja hanya sedikit, karena itu jika seorang satpam saja tidak masuk maka satpam yang lainnya harus lembur untuk menggantikannya).

Berbulan-bulan kemudian Yayan menyatakan menyesal telah mengundurkan diri dari pekerjaannya karena hal itu mengembalikannya pada kondisi tiadanya uang dan aktivitas yang berarti. Yayan kembali menjadi bahan perbincangan yang tiada habisnya di lingkungan keluarga dan kerabat kami. Pada usia dewasanya ia tetap tidak menikah.