Ruth Fielding at the War Front; or, The Hunt for the Lost Soldier
Chapter 2
Lalu ia terbangun dan bertanya-tanya pertanda apakah gerangan mimpinya itu. Ia bukanlah dukun beranak biasa. Ia adalah seorang yang waskita. Ia tahu bahwa satu hal buruk akan terjadi pada esok hari. * *
Yayan yang masih berusia delapan tahun bertanya kepada Ayah: “Ayah untuk apa Ayah memanggil taksi? Ayah mau pergi ke mana?”
Namun Ayah tak memedulikannya dan melewatinya. Ia pergi ke kamar depan dan memapah Ibu yang sedang meringis kesakitan. Ia memayang Ibu ke dalam taksi dan menyuruh Yayan masuk ke mobil. Anak-anak yang lain telah mengerti apa yang terjadi karena mereka sudah cukup dewasa. Dan mereka tinggal di rumah. Hanya Yayan yang ikut.
Di dalam perjalanan, pandangan Yayan berganti-ganti antara melihat Ibu dan menikmati pemandangan di perjalanan. Ia tak tahu mengapa Ibu meringis kesakitan. Namun ia cukup senang, karena itulah untuk pertama kalinya ia naik taksi untuk pergi ke suatu tempat.
Ayah, Yayan dan Ibu tiba di tempat tujuan, yaitu di rumah Ibu Seh. Ibu segera dibaringkan di tempat tidur. Ayah segera membayar taksi dan sesegera itu pula taksi itu pergi. Yayan memandang hingga taksi itu menghilang di kelokan. Sebagai seorang anak ia begitu sedih karena hanya dapat menikmati kenyamanan taksi untuk beberapa menit saja. Namun kini perhatian beralih ke ibunya. Ibu Seh, sang dukun beranak itu, menyuruh Ayah dan Yayan menunggu di luar. Ia menutup pintu rapat-rapat bagi mereka, karena mereka adalah lelaki, dan ini adalah urusan perempuan.
Ibu Seh adalah dukun anak yang berpengalaman. Ia sudah hapal benar tata cara membantu kelahiran anak dari seorang ibu. Maka sang bayi pun lahir dengan selamat. Sang orok menangis keras-keras. Semua termasuk Ayah yang ada di luar tertawa senang. “Ia lelaki dan sehat”, kata Ibu Seh kepada Ayah. Ibu Seh lebih gembira lagi, sebab mimpinya tidak terbukti, itu hanyalah bunga tidur belaka.
Akan tetapi tunggu dulu, bayinya selamat, namun ari-arinya menyangkut di liang peranakan. Muka Ibu Seh pucat pasi. Ia mengusahakan segala cara agar ari-ari itu keluar. Namun ia tetap gagal.
Pendarahan Ibu sangat parah, dan tindakan lain harus dilakukan. Ia mengambil berbagai keris pusaka yang dimilikinya. Ia berdoa kepada Yang Maha Kuasa, agar Tuhan menyelamatkan nyawa sang ibu. Ia merapalkan jampi-jampi kesaktiannya. Ia memohon kepada Tuhan agar memakbulkan permintaannya. Ia memohon agar semua makhluk jahat menyingkir dari tempatnya. Lalu berseru, “Ke marilah mendekat, hai semua malaikat!”
Dan setelah berkutat selama beberapa puluh menit, akhirnya semua dapat bernafas lega, karena Ibu selamat, walaupun ia mengalami pendarahan yang hebat. Inilah kiranya arti dari mimpinya itu.
Pada tanggal 2 April 1979, aku lahir ke dunia. Dalam kandungan aku adalah anak yang tak diinginkan. Namun bagaimana setelah aku lahir? Apakah ibu akan menolak aku dan memberikannya kepada orang lain?
Korek api dan sahabatku - 1984-1998
Masa kanak-kanak dan remajaku adalah masa yang sarat paradoks. Ketika berumur 5 tahun, keluarga kami, yang tadinya tinggal di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, pindah ke Daerah Sunter, Jakarta Utara. Mengontrak di Perumahan Sekretariat Negara.
Masih tertanam jelas dalam ingatanku, bagaimana perikehidupan kami di sana. Rumah kami terletak di tengah deretan rumah lainnya dengan cat berwarna kuning gading. Tidak seperti kebanyakan rumah sekarang, rumah kami memiliki bak penampungan air di depan rumah (bagian belakang rumah kami hanya dipakai untuk menjemur pakaian). Ada banyak kursi di muka rumah, sebab anggota keluarga kami bertambah.
Ayah kami gajinya membaik karena ia kini juga menjadi kepala sekolah sebuah SMP swasta selain mengajar di sebuah SMP negeri pada siang hingga sore harinya. Orang tua kami memutuskan untuk menyekolahkan anak-anak paman kami yang lebih tidak mampu dan seorang anak angkat yang konon mengalami penyiksaan oleh adik orang tuanya (paman dan bibinya) setelah orang tuanya meninggal dunia.
Masih segar dalam ingatanku, gang panjang berbatu yang memintas di muka rumah kami yang membujur dari timur ke barat. Gang yang menjadi tempat kami, aku dan para anak tetangga, berlari berkejar-kejaran atau main galasin.
Di tepi perumahan itu ada jalan aspal yang luas dan bagus, tempat kami dapat bersepeda dengan leluasa. Kendaraan bermotor yang melintasi jalan itu pada waktu itu tidaklah terlampau banyak. Kadang-kadang kami pergi menonton sepak bola yang dimainkan oleh para remaja, termasuk juga kakak-kakakku, di lapangan di muka komplek kami. Kami juga biasa mengadu layang-layang di lapangan itu pada pagi atau siang hari; atau asyik menyerok ikan yang hidup di parit di sekeliling komplek. Sehabis magrib, kami tak bisa bermain, sebab kami mengaji dengan bimbingan ustadz setempat. Setelah itu kami menonton televisi di rumah masing-masing. Walaupun aku selalu saja jatuh tertidur sebelum acara berakhir. Karena aku terlalu penat dan selalu menolak tidur siang.
Pada tahun 1985 aku dimasukkan ke sebuah taman kanak-kanak yang bernama Taman Nyiur yang berada di dekat komplek. Di sana ada banyak kawan juga. Walaupun guruku sering melaporkan keganjilan perilakuku kepada ibuku: aku tak pernah berkerumun di sekitar bola seperti anak-anak lain ketika bermain sepakbola. Dan aku tak pernah merebut mainan anak lain walaupun aku menginginkannya. Aku juga anak yang suka menghindar jika ada anak-anak yang berkelahi. Meskipun demikian dari Buku Laporan Pendidikan yang kubaca ketika telah remaja jelas tertulis bahwa ada kemajuan dalam sikapku selama mengikuti pendidikan di TK itu. Yaitu semula dari pendiam menjadi aktif, semula pemalu menjadi pemberani.
Guru-guru tidak pernah meragukan kecerdasanku, karena katanya aku cepat sekali menyerap pelajaran. Bahkan aku sudah membaca koran Pos Kota bagian karikatural (Koran Doyok) semenjak TK. Karena hasil lukisanku cukup baik, maka aku sering diikutsertakan dalam perlombaan di luar sekolah, walaupun aku tak pernah menang . Pada akhir tahun, aku, dengan dibantu seorang guru, membuat kerajinan dari karton dan kertas manila untuk dipamerkan kepada orang tua siswa pada akhir tahun ajaran.
Pada waktu SD Kelas 1 Caturwulan 2, kami sekeluarga pindah lagi ke Bekasi karena Ayah menginginkan rumah milik sendiri dan bukan rumah kontrakan. Kami tinggal di Kecamatan Babelan, di sebuah perumahan. Orang tua kami harus mencicil kredit rumah setiap bulannya. Untuk menutupi kekurangan uang keluarga, ibuku berjualan gado-gado.
Aku tetap bermain dengan anak-anak tetangga walaupun aku adalah anak yang paling pendiam. Dan pada suatu hari terjadilah suatu peristiwa, yang tadinya tak kusangka, akan mengubah hidupku selamanya.
Waktu itu rumah tipe 21 belum berpenghuni dan baru saja selesai dibangun. Aku dan dua anak tetangga yang bernama Rahmat dan Ading bermain korek api. Kami masing-masing menyalakan korek api, lalu dibuang ke peturasan. Menyalakan lagi sebatang korek api lalu dibuang lagi. Begitu seterusnya.
Ketika sedang asyiknya bermain, tiba-tiba ibuku datang dan memanggilku, “Hei, Anta, jangan bermain korek api! Kemarikan koreknya!” Ia merebut korek api itu dari tanganku, lalu berkata lagi, “Ayo sekarang pulang ke rumah!”
Aku percaya ibuku adalah seorang yang baik, dan aku menurutinya. Namun, sesampainya di rumah, ayah dan ibuku memarahiku habis-habisan karena ternyata sebagai seorang anak sekolah, aku tak tahu akan bahaya kebakaran.
“Sudah, mulai besok, tidak perlu lagi bermain dengan anak tetangga! Semuanya nakal-nakal!”, begitu kata ayahku.
Aku adalah anak yang penurut dan tak banyak bicara. Maka aku pun mematuhi kata-kata mereka. Sejak saat itu aku berdiam di dalam rumah. Aku hanya keluar rumah jika ke sekolah atau disuruh membeli sesuatu di warung.
Dengan kekuatan imajinasiku, aku pun mengubah segala bentuk benda menjadi permainanku. Sapu lidi kubuat menjadi kuda-kudaan; kasur yang sedang tak dipakai kubuat menjadi bergelung dan aku tinggal menjadi manusia gua di dalamnya; wadah permen dari kaleng kuberi busa di dalamnya, dan kubuat menjadi koper tempat penyimpan benda-benda, aku membayangkan diriku adalah agen rahasia yang membawa senjata dalam koper ke manapun aku pergi.
Ayah-ibuku memujiku: aku adalah anak yang mudah diatur. Sangat penurut dan tidak menyusahkan orang tua. Orang tuaku makin menyayangiku. Oleh karena itu, aku makin betah di rumah. Bagi orang lain, rumah itu sumpek dan membosankan. Tapi bagiku, rumah adalah dunia imajinasi luas yang tak terperikan.
Perlahan-lahan aku mulai melupakan tetangga-tetanggaku. Mereka pudar bersama waktu... * *
Tahun demi tahun berlalu. Aku menjadi terbiasa berkurung diri di dalam rumah. Di sekolah aku punya banyak teman. Tapi di rumah, temanku hanyalah imajinasiku. Masih segar dalam ingatanku, bagaimana imajinasi begitu menguasaiku sehingga setiap berbaring di kamar, aku melakonkan imajinasi itu. Jika mereka tertawa aku ikut bergembira, jika mereka bersedih aku ikut menangis. Imajinasiku adalah hidupku. Kami tak dapat terpisahkan lagi. Walaupun mungkin tak ada yang tahu bahwa aku bertingkah begitu, karena pelakonan itu kulakukan saat aku sendirian.
Salah satu orang yang mengritikku adalah ibu dari teman sekelasku waktu SMP (anaknya itu bernama Sahil). Ia sering berteriak di jalanan di samping rumahku, menyuruh agar aku pergi ke luar rumah dan bermain bersama anak-anak lain. Namun imajinasi adalah kawan setiaku. Mereka tak pernah menyakiti hati seperti halnya manusia; kami tak pernah berkelahi. Kami menjalani segalanya bersama-sama.
Aku takkan keluar dan berteman dengan manusia dan meninggalkan mereka. Itu tindakan bodoh. Aku takkan pernah menghianati mereka. Tidak. Tidak mungkin. Aku jarang belajar, dalam arti mempelajari apa yang diajarkan di sekolah. Namun aku tak mengerti mengapa nilai-nilai raporku demikian baik. Bahkan hingga kelas 3 SMP aku adalah juara kelas yang tak pernah terkalahkan. Dua hal rajin yang harus kuakui adalah aku banyak membaca sembarang buku dan menonton berita di televisi.
Harta karun pertama yang tiada tara nilainya yang kutemui di rumahku adalah Ensiklopedi Indonesia suntingan Hassan Shadily milik ayahku. Sayang sekali bukunya hilang dua jilid (volume 4 dan 5). Melalui buku itu antara lain aku mengetahui ada penulis yang bernama Pramoedya Ananta Toer (dalam lema “Bukan Pasar Malam” dan “Keluarga Gerilya”), yang kusadari ketika aku Kelas 2 SMP (tahun 1993), satu nama yang tak pernah disebut dalam pelajaran sastra Indonesia di sekolahku pada waktu itu. Ternyata dengan membaca buku non-pelajaran sekolah, aku menemukan hal baru.
Maka aku pun makin asyik. Dan itu artinya aku semakin khusyuk diam di rumah. Krisis tingkah laku Yayan, yang merupakan kakak keempatku, ketika aku duduk di bangku SMP, membuat berkurung diri menjadi sebuah pembenaran. Yayan terjerat dalam lingkungan pergaulan yang akrab dengan alkohol, ganja dan obat-obatan terlarang. Orang tuaku ingin agar aku tak seperti Yayan, yang pemabuk dan sulit diatur, sehingga ia tak pernah lulus dari Sekolah Lanjutan Tingkat Atas yang ia masuki. Ia bergadang tiap malam dan seringkali pulang dalam keadaan terhuyung-huyung. Ayah-Ibuku ingin agar aku diam di rumah sehingga tidak terpengaruh oleh lingkungan.
Pertentangan tajam antara Ayah dan Ibu di satu pihak dengan Yayan di pihak lain adalah hal yang menjadi makanan sehari-hari. Bayangan akan tindakan Ayah yang keras (yang salah satunya adalah dengan melempar gelas dan menampar) untuk mendisiplinkan anaknya itu terjadi hampir tiap hari. Sebagai seorang yang baru beranjak remaja aku tak bisa apa-apa. Hanya bisa terpekur menyesali kehidupan keluargaku yang tiba-tiba menjadikan rumah bukan sebagai tempat yang nyaman untuk ditinggali.
Walaupun kelak, bertahun-tahun kemudian, Yayan mengatakan amat menyesali perbuatan yang ia lakukan waktu itu, namun tak pelak lagi masa itu adalah masa pembenaran terhadap tindakan berkurung diri di dalam rumah, yang mematri kepribadianku sehingga menjadi sesuatu yang ajek, tak dapat dirubah lagi. Aku yang pendiam dan penyendiri adalah sesuatu yang telah menjadi kokoh dan tak teruntuhkan lagi, yang berlanjut hingga masa dewasa.
Anehnya, dalam pergaulan di sekolah aku adalah anak yang disukai. Bahkan aku aktif dalam beberapa ekstrakurikuler, seperti Pramuka, Pencak Silat, dan juga menjadi Pengurus OSIS sewaktu di SMP (dan juga kemudian di SMU). Dua dunia yang demikian berbeda itu kadang-kadang sangat membingungkan aku. Namun aku lebih sering tak peduli. Buat apa dipersoalkan?
Aku banyak membuang waktu dengan mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh sekolah. Sebagai anggota Pramuka, aku menjadi seorang anggota yang rajin mewakili sekolah untuk mengikuti kegiatan perlombaan berupa perkemahan dan lain sebagainya. Dalam ekstrakurikuler Pencak Silat, aku, bersama kawan-kawan sekolahku sering mengadakan pertunjukan jika ada acara di daerah kami, termasuk di hadapan Bupati Bekasi waktu itu.
Namun pada akhir tahun Kelas 2 SMP aku mengundurkan diri dari kegiatan Kepramukaan; dan akhirnya juga dari kegiatan Pencak Silat. Karena perasaanku yang tertekan di rumah telah menyebabkan diriku mudah jatuh sakit. Aku saat itu adalah seorang remaja yang lemah secara fisik dan labil secara mental.
Anak-anak tetangga di sekitar rumahku semakin menganggap diriku aneh karena tidak mau bergaul seperti halnya anak-anak sebaya di lingkungan itu. Bagi mereka, walau begitu buruknya lingkungan bukan menjadi alasan bagi seorang anak untuk menghadapi dunia sosial yang luas dan tanpa batas. Namun aku tak mau orang tuaku menjadi semakin susah. Aku tetap berkurung diri di dalam rumah, karena aku ingin melihat senyuman yang menghiasi wajah orang tuaku. Aku ingin orang tuaku bahagia. Bukankah tidak ada tindakan yang paling mulia di dunia ini selain membahagiakan kedua orang tua?
Seorang anak yang memperhatikan diriku secara seksama mulai menggelariku dengan sebutan anak ganjil, karena perilakuku yang aneh; tak mau keluar rumah dan berkawan dengan tetangga. * *
Pada tahun 1995 aku lulus SMP dan mendaftar di sebuah SMU di Sumedang karena ayahku telah pensiun dan ingin beristirahat di perkampungan. Tindakan itu juga digunakan Ayah untuk menghindarkan Yayan dari lingkungan yang berpengaruh buruk terhadap dirinya.
Aku mendaftar di SMU dengan dipuji, karena NEM(Nilai Ebtanas Murni)-ku 47, jauh di atas syarat penerimaan siswa baru di sekolah itu yang Cuma 39,5. Aku tak merasa tersanjung, karena nilai itu lebih kuanggap akibat mukjizat daripada hasil belajar kerasku. Hingga kelas 3 SMP aku masih saja seorang yang enggan mempelajari pelajaran di sekolah. Yang banyak kubaca justru buku-buku yang tidak jelas kaitannya dengan pelajaran di sekolah.
Namun SMU adalah dunia baru. Lagipula ini Sumedang, daerah Priangan yang indah dan bukan Jabotabek yang liar. Di sini aku terkesan dengan keramahan orang-orangnya. Sama sekali lain dengan perikehidupan di Jabotabek yang hidup masing-masing dan saling tak peduli. Aku menyadari kesalahanku. Aku mulai ingin berubah. Terlebih-lebih aku kini memiliki seorang sahabat yang ramah dan amat menyenangkan.
Namanya Wahyudin. Kami satu kelas, walau ia lebih tua satu tahun. Wahyudin adalah seorang yang petah (talkative). Berbicara apa saja dengannya amatlah menyenangkan. Aku sering mengunjungi kost-annya, yang walaupun sempit, namun punya atmosfer emosi yang membuat kita ingin selalu menjalani hidup dengan penuh semangat.
Ia bukanlah seorang murid yang pandai dan juga tidak bodoh. Secara intelektual ia adalah anak yang biasa-biasa saja dan bukan seorang yang istimewa. Namun kemampuannya untuk menggugah emosi orang lain tiada bandingannya. Ia pandai menyenangkan hati orang lain. Ia bagiku adalah seseorang yang menyelamatkanku dari jurang isolasi sosial. Lagipula ia adalah seorang yang bertingkah laku baik dan taat beragama, orang tuaku senang jika aku bergaul dengannya.
Ia menyukai politik dan karenanya tema itulah yang banyak kami perbincangkan ketika kami sedang mengobrol akrab. Di kamar kost-annya terdapat sebuah perpustakaan keluarga milik bapak semangnya. Dua di antaranya adalah biografi Sukarno hasil tulisan Cindy Adams (Penjambung Lidah Rakjat) dan Di Bawah Bendera Revolusi jilid yang pertama. Ia bukanlah seorang gemar membaca. Namun ia punya metode canggih untuk mengetahui isi buku. Ia pinjamkan bukunya kepadaku yang suka membaca. Lalu setelah selesai dibaca, ia akan bertanya dengan penasaran: “Apa isi buku itu?”. Maka sang pembaca pun menjawabnya dengan antusias.
Namun sayangnya ia tidak disukai oleh beberapa orang guru. Karena Bahasa Sundanya yang tak mengenal undak-usuk dianggap sebagai tindakan yang kurang ajar. Walaupun sebenarnya ketika kutanya, ia mengaku bahwa itu hanyalah kebiasaan berbicara semata, ia tak bermaksud kasar.
Sikapnya yang sering mendahulukan ekstrakurikuler ketimbang belajar di kelas kelak kemudian menjadi ganjalan yang lain lagi baginya. Walaupun ia adalah orang yang mudah akrab, namun sejumlah guru itu tetap tidak menyukainya. Kecerdasan sosialnya mandul saat berhadapan dengan guru yang punya prinsip lain. Aku masih teringat akan kata-katanya ketika menanggapi hal ini: bahwa ia dan mereka adalah orang-orang yang tidak “satu ideologi”.
Apapun kekurangannya, Wahyudin adalah sahabat akrab pertama yang kukenal ketika aku memasuki SMU. Bahkan persahabatan itu berlanjut hingga tahun 2006 setelah aku beberapa tahun menderita skizofrenia. Ia adalah kawanku yang pertama kali tahu kalau aku menderita gangguan kejiwaan. Ia tak pernah mengejek atau menolak aku. Sebaliknya ia malah memberi aku semangat agar aku terus maju dan pantang mundur, jangan putus asa.
Persahabatan kami terputus ketika aku terpaksa untuk yang kesekian kalinya tinggal di daerah Jabotabek. Jauhnya jarak telah memisahkan kami. Sialnya lagi, buku alamat yang mencantumkan nomor telepon kakaknya, kontak satu-satunya untuk menghubunginya, hilang tak berbekas. * *
Seperti yang sudah kukatakan semula, hidupku sarat paradoks. Pada saat duduk di bangku Kelas 1 SMU Caturwulan 2, aku menderita penyakit kehilangan minat. Aku enggan bersekolah dan hanya mau tinggal di rumah. Aku jadi kesulitan untuk hadir secara penuh pada saat bersekolah; dan masalah kehadiran ini sudah mencapai tahap kronis, karena dalam satu caturwulan, aku bisa berminggu-minggu tidak sekolah. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.
Ibuku sangat khawatir, ia membawaku ke berbagai dokter dan tabib di daerah sekitar Sumedang. Namun mereka mengatakan bahwa aku sehat wal afiat. Lama kelamaan ibuku menjadi jengkel. Ia menyebut diriku sama dengan Yayan yang gagal bersekolah hingga tamat. Aku jadi amat murung. Aku sendiri tidak mengerti apa yang terjadi pada diriku, apalagi ibuku.
Akhirnya ibuku menelepon ke kakak pertamaku yang tinggal di Tangerang, dan kakakku itu menawarkan solusi agar aku dibawa ke paranormal. Pada waktu yang berlainan aku dibawa ke dua paranormal. Dan keduanya berkesimpulan sama: bahwa ada teluh yang ditujukan kepada ayahku. Namun karena aku yang lemah, maka akulah yang kena. Konon menurut kedua paranormal itu, teluh itu dikirim oleh salah seorang bibiku yang tidak menyukai sikap ayahku ketika menghadapi sebuah permasalahan keluarga. Apa masalah itu tidak relevan untuk dibicarakan di sini.
Salah satu dari paranormal itu melarangku untuk lekas-lekas kembali ke Sumedang dan bersekolah lagi. Karena katanya, “Bila kembali ke sana sekarang, kamu akan kena [teluh] lagi.” Maka aku pun diharuskan tinggal di luar Sumedang hingga teluh itu dicabut oleh dukun yang mengirimnya. Aku memilih tinggal di rumah kakakku yang pertama (di Tangerang) dan yang ketiga (di Bekasi). Keduanya perempuan yang telah menikah.
Aku menunggu dan menunggu, hingga pada suatu malam, aku dan ibuku secara bersamaan bermimpi bahwa ada ular belang yang merayap cepat ke luar rumah, turun ke selokan, lalu pergi lekas-lekas tanpa berhasil kami tangkap. Paranormal yang di Bekasi menyatakan bahwa teluhnya telah dicabut dan aku boleh kembali bersekolah di Sumedang lagi.
Bukanlah perkara yang menyenangkan masuk sekolah setelah 3 bulan absen. Aku merasa amat malu untuk bertemu kawan-kawan lagi. Aku mulai membayangkan bagaimana kawan-kawanku akan mengejek dan mencibir kepada diriku. Semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa tertekan. Wajah-wajah benci kawan-kawanku senantiasa melintas dalam otakku.
Aku berupaya untuk meyakinkan diriku agar tetap tegar, namun gagal. Akhirnya aku memutuskan untuk bertindak lain. Tindakan yang tak pernah kuceritakan kepada orang lain hingga bertahun-tahun kemudian. Pada malam yang sepi, saat semua orang telah terlelap, kukeluarkan satu kaplet Refagan dan kuminum satu-persatu. Waktu itu nenekku sedang sakit dan ia punya satu bungkus obat jantung. Aku pun meminum semuanya. Plastik pembungkusnya kugunting-gunting dan kucemplungkan ke dalam peturasan, lalu kusiram agar tak meninggalkan jejak. Lalu aku pun kembali ke tempat tidur. Untuk menantikan reaksinya.
Pada waktu dini hari aku bangun dan muntah-muntah. Kepalaku pusing tujuh keliling. Aku pergi ke kamar mandi dan muntah lebih banyak di sana. Aku diam terduduk di dekat bak. Dapat kurasakan jantungku berdegup dengan sangat cepat. Darah sangat jelas terasa peredarannya. Jemari kaki dan tanganku terasa kebas dan tak dapat merasakan apa yang kusentuh, walaupun aku menekannya kuat-kuat. Aku menerawang, pikiranku tak bisa diam. Dengan otakku aku meraba-raba: masa depan apa yang aku punya.
Mungkin Ibu benar, aku sama saja dengan Yayan. Aku seorang yang pemalas dan tak mampu menghadapi pelajaran di sekolah. Aku akan jadi pengangguran yang tidak tahu harus mengerjakan apa kelak jika aku dewasa nanti. Aku akan jadi seorang yang tidak berguna. Aku takkan jadi apa-apa. Aku hanya akan jadi parasit bagi keluarga. Tindakanku untuk membunuh diriku sudah pada arah yang benar. Hanya saja kali ini aku tidak berhasil. Mungkin aku akan mencobanya pada kali yang lain.
Namun pada sisi lain ada optimisme yang menyeruak dalam batinku. Yang semakin lama semakin bertambah kuat di dalam hatiku. Aku anak yang pintar, begitu kata hatiku. Aku dapat menjadi apapun yang aku mau. Karena orang lain kesulitan untuk menyaingiku walaupun mereka belajar keras. Batinku berkata lagi; Aku adalah anak yang unik dan bukan “anak ganjil” seperti yang dikatakan oleh tetanggaku dulu. Suara batin itu semakin kuat: Aku akan mampu menjadi pahlawan seperti yang sering kulakonkan bersama imajinasiku. Dan akhirnya, Aku akan berhasil dalam dua dunia: dunia imajinasi dan dunia nyata.
Mungkin Tuhanlah yang telah menyelamatkan aku. Esok harinya aku memang beristirahat karena memang aku tak dapat mengontrol gerakan motorikku. Namun beberapa hari setelah kejadian itu aku mulai masuk sekolah kembali. Apa yang tergambar dalam angan-anganku ternyata tidak benar. Kawan-kawanku ternyata menyambut secara antusias kembalinya diriku. Mereka dengan ramahnya bertanya: “Apa kabar?” mereka menyalamiku. Lalu kami pun bercanda dan tertawa bersama.
Aku senang sekali, gambaran batinku tidak terbukti. Aku telah kembali bersekolah dan siap berprestasi lagi. Sama halnya seperti ketika di TK, SD dan SMP. “Aku akan jadi juara kelas,” begitu ucap batinku.
Kehidupan sosialku dengan para tetangga membaik. Karena di daerah Sumedang orang saling mengunjungi. Lagipula aku sangat terbantu dengan kemampuan ayahku dalam mencari sahabat, walaupun kadang-kadang aku tak selalu setuju dengan caranya. Ayahku gemar bermain kartu, dan dengan cara itulah ia mencari sahabat. Meski ayahku sudah tak dapat dibilang muda lagi. Namun ia tetap kuat bergadang semalam suntuk hanya untuk bermain kartu bersama para sahabat-sahabatnya. Aku yakin, orang yang mengenal ayahku sewaktu pertama kali pindah ke Sumedang lebih banyak daripada orang yang mengenal Yayan.
Aku ingin menjadi seperti ayahku, punya banyak kawan.Walaupun aku tidak suka bermain kartu. Aku tidak ingin menjadi pendiam lagi. Aku ingin aktif secara sosial. Jika ada tetangga yang datang ke rumah, aku menyapanya dengan ramah. Kami pun mengobrol dengan akrab tentang segala hal, mulai dari kehidupan sehari-hari hingga masalah kenegaraan.