Ruth Fielding at the War Front; or, The Hunt for the Lost Soldier
Chapter 12
Cita-cita kami yang lain adalah untuk memberikan kesempatan kerja bagi orang dengan skizofrenia (ODS). Bagaimanapun kemandirian secara finansial bagi orang dengan skizorenia adalah ciri bahwa kami juga bisa berdaya. Juga kelak, suatu hari, kami akan mendirikan Day Center, tempat semua orang dengan masalah kejiwaan melakukan hal bermanfaat yang disukainya, misalnya belajar komputer, atau berkebun, tanpa harus dirawat di rumah sakit dulu yang proses masuk dan konsekuensinya dapat menguras keuangan dan energi mental keluarga.
Kiranya, bersama Perhimpunan Jiwa Sehat, aku berusaha menyebarluaskan empati terhadap orang dengan masalah kesehatan jiwa. Sambil seringkali menyampaikan bahwa mereka sebenarnya punya banyak hak untuk diperoleh, misalnya hak bahwa mereka sebenarnya punya jatah kuota pekerjaan di berbagai perusahaan dan institusi negara sesuai dengan Undang-Undang Penyandang Cacat No. 4 Tahun 1997.
Boleh kukatakan aku bahagia bisa berbagi. Walaupun kukatakan dengan jujur di sini, kadang-kadang aku merasa ada yang rumpang dalam kemampuanku kini. Aku punya keterbatasan dalam stamina dan gairah untuk berbicara. Aku memang seringkali berbicara dengan fasih tentang semua hal yang aku ketahui. Namun aku juga kadangkala merasa gagal dengan apa yang kusampaikan jika perasaanku tak nyaman. Aku harus bersyukur dengan apa yang ada pada diriku. Karena walaupun aku tak sebaik yang kuangankan, namun aku turut menyumbang dalam perjuangan panjang dan tak mudah dalam pembelaan terhadap orang dengan masalah kejiwaan.
Bersama dengan kedua kawanku, Suhari Bunadi dan Hady Sucarsa, kami merintis kelompok swa-bantu (self-help group) lintas organisasi konsumen, yang kami namai Semesta Jiwa. Namanya menyiratkan bahwa jiwa adalah sesuatu yang infinit, tanpa batas. Di kelompok itu kami saling bercerita tentang apa yang sukar untuk diungkap atau tak pernah dibahas dalam pertemuan-pertemuan lain. Misalnya, kami membahas waham Satria Piningit-ku atau bayangan-bayangan untuk bunuh diri yang muncul dalam diri Suhari.
Karena gajiku di Perhimpunan Jiwa Sehat tidak banyak, aku kini menjadi seorang doktor,sebuah istilah yang kupinjam dari ketuaku, Yeni Rosa Damayanti, yang kepanjangannya adalah mondok di kantor. Kantor kami tidaklah besar, apalagi megah. Tapi kami harus bersyukur karena perkembangan pencapaian kami cukup baik, bahkan pada perayaan Hari Kesehatan Jiwa pada bulan Oktober 2011 kami menerima penghargaan dari Menteri Kesehatan untuk usaha kami dalam advokasi kesehatan jiwa.
Seiring dengan hal-hal positif yang muncul dalam hidupku akhir-akhir ini, hubungan dengan kakak-kakakku mencair dan membaik. Aku sesekali mengunjungi mereka dan mereka juga sesekali mengunjungiku. Walaupun bagiku kini merupakan masih hal yang sulit untuk berlama-lama di rumah kakakku yang penuh dengan kenangan kelabu.
Bagaimanapun, aku bersyukur semuanya menjadi lebih membahagiakan untuk kami. Akhirnya hati yang saling bersimpang jalan dan sukar untuk saling memahami itu akhirnya mulai selaras. Aku bersyukur karena aku telah bertemu dengan orang-orang yang luar biasa, para aktivis Perhimpunan Jiwa Sehat, yang telah membuatku seolah lepas dari jeratan skizofrenia. Aku berharap ada banyak penderita, di masa kini dan di masa datang, yang juga merasa seperti aku.
"Makna dalam derita": Sebuah epilog
Kita tidak akan pernah belajar menjadi berani dan sabar jika yang kita temukan hanyalah sukacita.
(Hellen Keller) 2 April 2010. Pukul 12.47.
Aku berada dalam rak berdebu ketika Anta bangun pada suatu dini hari dan merenungi hidupnya. Ia ingin membuat sesuatu yang keluar dari hatinya, karena ia sedang tak bergairah untuk mengedit kamusnya yang tak kunjung selesai. Aku kemudian diambil dari rak dan disingkirkan dari debu. Denganku, ia menjelajah ulang hidupnya, mencari benang merah yang melandasi hidupnya. Saripati dari segala hal yang telah berlalu bersama waktu, yang tertulis pada diriku atau yang hanya terlukis dalam kenangan. Maka kali itu ia menyalakan komputer untuk menuliskan sesuatu yang lain: pantulan diriku dan cermin jiwanya, psikomemoarnya.
Berbulan-bulan ia menuliskan kisah hidupnya dalam cerita yang runtut. Seringkali ia harus lama berhenti, karena rasanya tidak mudah dan menyakitkan. Juga kadang-kadang ia tak mampu menemukan asosiasi kata yang tepat, terbata-bata, macet-kalimat. Namun ia tahu apa yang ditulisnya mungkin akan sangat berguna bagi yang mencarinya. Maka ia menulisnya terus. Ia meminta pendapat pada beberapa orang kawannya, dan semuanya menanggapi positif dan mendorongnya agar terus menuliskan kisahnya; dengan satu catatan: hati-hati menuliskan keburukan dari sistem kesehatan jiwa kita, karena dirinya dapat dituntut.
Maka ia pun menghapus 3 paragraf dan satu kalimat penting dalam psikomemoarnya, yaitu kisah kekerasan dalam perawatan yang disaksikannya sendiri. Ia ingin menceritakan segala sesuatunya dengan apa adanya, namun ia pikir nasehat temannya itu ada benarnya. Semula, di awal penulisan ia tak percaya bahwa Tuhan itu Maha Pengasih, sebab hidupnya memang menyakitkan. Tak tertahankan, tanpa bisa dicegah, terludahkan ironi tentang-Nya, seperti misalnya dalam kisah Ibunya: Ia [Ibunya] berdoa memohon kepada Tuhan agar Ia menurunkan pertolongan-Nya untuk membantunya keluar dari penderitaan. Dan Tuhan menjawab dengan siksaan Ayah yang tak kunjung berhenti (Bab “Ibu, Jiwaku”).
Namun ia menemukan sesuatu setelah menulis puluhan halaman; pasti ada sesuatu yang positif dalam segala yang dialaminya: pasti ada makna dalam derita. Akan tetapi dari manakah datangnya kesadaran itu? Bisikan dalam pikiran? Hal dari bawah sadar yang menyeruak? Ia merasa bahagia menyadarinya karena itu artinya ia tidak hanya jadi memiliki pandangan positif dalam hidup, akan tetapi juga telah menemukan inti yang dicarinya selama ini. Kiranya tanpa dinyana, ia telah menemukan intan berkilauan dalam penyelesaian penulisan kisah jiwanya.
Ia bercerita kepadaku:
Aku jadi teringat pada bukuku yang dipinjam kawan dan tak pernah kembali; judulnya “Men’s Search for Meaning” karya Viktor E. Frankl, dokter saraf dan jiwa yang pernah tinggal dalam kamp konsentrasi Dachau, Maidanek, Treblinka, dan Auschwitz. Dalam kamp konsentrasi, ia menemukan bahwa ada dua golongan orang: yang bertingkah laku seperti “nabi” dan yang bertingkah laku seperti “babi”. Ia menyelidiki apa penyebabnya dan ia berkesimpulan bahwa perbedaan dua golongan itu adalah pada pandangannya tentang hidupnya saat itu. Yang bertingkah laku seperti nabi, yakin bahwa hidup masih berguna dan mereka yakin akan melakukan sesuatu yang bermanfaat di masa depan.
Hidupnya bukan hanya saat itu. Mereka bersikap empatik terhadap orang lain dan tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu seperti mereka yang seperti “babi”. Frankl menamai apa yang ada dalam diri orang-orang baik itu sebagai “makna hidup”; yang kemudian mengilhaminya untuk mendirikan mazhab psikologi “logoterapi” (dengan etimologi Bahasa Yunani ‘logos’ yang berarti ‘makna’). Menurutnya, manusia dalam hidupnya punya kehendak untuk bermakna (the will to meaning).
Aku teringat kalimatnya dalam buku itu, yang berbunyi kira-kira seperti ini: “Manusia tidak sepenuhnya dikondisikan dan ditentukan oleh lingkungannya, namun dirinyalah yang lebih menentukan apa yang akan dilakukan terhadap berbagai kondisi itu. Dengan kata lain manusialah yang menentukan dirinya sendiri.” Frankl menganggap bahwa makna hidup itu bersifat uunik, spesifik, personal, sehingga masing-masing orang memiliki makna hidup yang khas dan istimewa serta cara penghayatan yang berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya.
Frankl juga menentang pendapat Sigmund Freud yang mengatakan bahwa tujuan dari manusia adalah untuk memuaskan diri (the will to pleasure) dan pendapat Alfred Adler yang berpendapat bahwa tujuan dari manusia adalah untuk berkuasa (the will to power Mengenai kedua pendapat tersebut Frankl berpendapat bahwa kesenangan bukanlah semata-mata tujuan hidup manusia, melainkan akibat sampingan dari sebuah tujuan itu sendiri. Begitu juga dengan kekuasaan yang hanya menjadi sarana untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri, karena kesenangan (pleasure) dan kekuasaan (power) sebenarnya sudah tercakup dalam kehendak untuk bermakna.
Frankl juga mengakui keagungan agama, walaupun ia berpendapat bahwa agama itu berasal dari ajaran sosial-budaya. Spiritualitas adalah salah satu pilar yang penting dalam Logoterapi. Lalu, ia tak sepaham dengan berbagai pemikiran yang menganggap manusia itu sebagai ‘sub-human’, ‘mirip komputer’, dan sebagainya.
Usiaku saat psikomemoar ini pertama kali selesai dituliskan adalah 7 tahun. Usia yang masih sangat pendek. Namun dalam tahun itu, Anta menjangkau titik nadir dan sekaligus titik puncak serta menemukan hal berharga dalam penderitaannya. Bahwasanya Tuhan ternyata melakukan segalanya (atau membiarkan segalanya terjadi) karena menghendaki kebaikan di masa depan hidupnya.
Akhirnya setelah menyimpanku dalam rak berdebu di kamarnya, ia ternyata menemukan sesuatu dalam catatan-catatanku. Bahwa tak ada kesia-siaan dalam hidup ini. Apa yang dialaminya selama ini adalah pelajaran berharga dari Tuhan. Segala siksa melalui deritanya adalah sebuah “cara” untuk membuatnya tahan terhadap kekejian kehidupan, sehingga ia tak pernah lagi merasa kalah dan mudah menyerah.
Derita diciptakan Tuhan bukan untuk membuat manusia terpuruk tapi untuk membuatnya bangkit dan punya semangat yang baru untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Tuhan mengajar melalui derita yang dialami manusia. Seperti Muhammad yang menemukan kemandirian setelah ditinggal wafat ayah-ibunya. Seperti Yusuf yang menjadi petinggi Mesir dan menolong keluarganya setelah dibuang oleh saudara kandungnya.
Anta berkata, Tuhan adalah Zat yang Misterius, membawa kebaikan dengan cara yang tidak terduga. Dalam derita yang luar biasa perih, banyak manusia menyerah, dan memilih mengakhiri hidupnya atau berpaling dari-Nya. Tapi, seperti yang dialami oleh sebagian manusia, Ia menyelusup ke dalam relung jiwa, mengembalikan manusia kepada Sang Maha Makna.
Anta sebenarnya tidak benar-benar bebas dari gejala skizofrenia -- ia kini masih mendengar suara dan mengalami waham. Namun ia menemukan filosofi baru yang mungkin tidak pernah dijumpai oleh orang yang sehat: derita bukanlah bencana akan tetapi merupakan pengalaman bermakna.
Aku, Dinten, sang buku harian, turut bahagia karena mengantarkan seorang manusia menemukan makna hidupnya. Apakah Anda seperti itu juga dengan buku harian Anda?
Dinten, buku harian Anta Samsara
Tentang penulis
Paragraf-paragraf akhir bagian "Tentang penulis" ini telah dimutakhirkan dan tidak sama dengan yang termuat pada edisi Jagat Jiwa yang dipublikasikan pada tahun 2018.
Anta Samsara (nama samaran; dari Bahasa Sansekerta artinya “akhir derita”) lahir di Jakarta, 2 April 1979. Ia sejak Desember 2008 hingga akhir Mei 2012 bekerja sebagai aktivis yang memperjuangkan hak-hak orang dengan masalah kejiwaan yang bernaung di bawah organisasi konsumen, Perhimpunan Jiwa Sehat.
Ia tercatat pernah memberikan testimoni di berbagai acara termasuk di program Sore-Sore (iRadio, 2009), Buka Rahasia (B Channnel, 2010), Apa Kabar Indonesia (tvOne, 2010), Coffee Break (tvOne, 2011), Guru Kita (KBR 68H, 2011), Ruang Keluarga (Daai TV, 2012), Sunting (ANTV, 2012) serta di berbagai pertemuan dan seminar termasuk dalam Seminar “Keberpihakan hukum dan Etik terhadap Penderita Gangguan Jiwa” yang diselenggarakan oleh Universitas Atmajaya (2008) dan “Seminar Nasional Kesehatan Jiwa” di Hotel Horison, Bekasi (2009).
Pria yang sempat menjalani pendidikan English for Translation di Universitas Terbuka ini, mulai aktif menulis sejak tulisannya “Melawan Stigma lewat Bahasa” dimuat di majalah Mitra Skizofrenia edisi ke-6 (Januari-Maret 2003). Sepanjang tahun 2009, ia menulis dan menjadi editor bagi e-Newsletter yang bernama Newsmail Jiwa Sehat, yang merupakan media informasi dan edukasi Perhimpunan Jiwa Sehat. Anta Samsara adalah juga pemain utama dalam film tentang hak politik kelompok rentan yang berjudul Forgotten Voices (Suara-Suara yang Terlupakan), produksi Komnas HAM dan School for Broadcasting Media.
Ia adalah satu-satunya perwakilan konsumen kesehatan jiwa dalam Gugus Tugas Nasional Pembangunan Kesehatan Jiwa di Indonesia (National Taskforce on Mental Health System Development in Indonesia) untuk masa kerja 2008-2010. Selain itu ia juga pernah mengikuti berbagai pelatihan yang terkait dengan kesehatan jiwa, antara lain International Mental Health Leadership Program (iMHLP, Melbourne, 2009) yang disokong oleh AusAID serta Pelatihan Pendukung Sesama (Peer Support) yang diselenggarakan atas kerjasama Perhimpunan Jiwa Sehat dan Mind, Australia (Jakarta, 2010).
Sejak akhir Mei 2012 ia memutuskan untuk bergabung dengan Komunitas Sehat Jiwa di Cianjur untuk menjadi aktivis tim penjangkauan (outreach) yang mendatangi berbagai konsumen kesehatan jiwa dari rumah ke rumah untuk mengupayakan medikasi dan edukasi bagi mereka, termasuk untuk mengupayakan pembebasan bagi mereka yang dipasung.
Setelah itu Anta menjadi pembina di Yayasan Cahaya Jiwa, untuk dua periode kepengurusan yaitu 2012-2017 dan 2017-2022, yang merupakan organisasi konsumen kesehatan jiwa yang didirikan dengan tujuan sosial-kemanusiaan untuk membantu meringankan beban baik edukasi kesehatan jiwa maupun kemandirian ekonomi bagi orang dengan gangguan jiwa dan keluarganya.
Anta banyak menerjemahkan materi kesehatan jiwa, yang sebagian besar diambilnya dari situs web NIMH (https://www.nimh.nih.gov/) yang berada dalam ranah publik sehingga bebas dibagikan oleh siapa saja kepada siapa saja. Mulai pertengahan tahun 2020, ia memulai suatu proyek penulisan yang menyederhanakan dan menyaripatikan apa yang telah diltulisnya selama ini. Beberapa di antaranya dirilis dalam bentuk PDF yang diletakkan pada kandar (drive) daring (online) yang terbagikan secara publik. Peta daring dari proyek penulisan kesehatan jiwa tersebut dapat diakses di sini, sementara proyek penulisan Wikibukunya dapat dilihat secara agak menyeluruh di sini.
Catatan Akhir